Part 11
Kini semua orang sudah berada di ruang tamu apartement kami setelah mereka dari rumah sakit untuk memeriksa keadaan di sana dan kebetulan sekali Ryu dan Hyebin datang kesana karena tadi tidak sengaja bertemu di Rumah Sakit, Hyebin ternyata juga seorang dokter oncology dan akan dipindah tugaskan juga ke rumah sakit milik appa di seoul.
"Oppa, Joongie eonni pucat." Kata Junsu begitu mobil melaju.
"Iya oppa. Wajahnya terlihat sangat letih." Tambah Hyebin.
Yunho diam. Dia tidak menanggapi ucapan Hyungnya itu baginya yang penting sekarang Jaejoong bersamanya, tidak jauh darinya.
Yoochun mendecak. "Yunho-ah, sudah berapa kali ku bilang, biarkan istrimu istrirahat. Jangan terlalu mengekangnya." Yunho menghela nafas panjang. Tanpa melepas pelukannya ditubuh Jaejoong, Yunho meraih tasnya yang diletakkan didekat kaki Jaejoong. Tangannya pun membuka tas itu dan mengeluarkan… " igeon."
"Surat? Banyak sekali." Tukas Ryu.
Yoochun yang duduk disampingnya mengambil surat surat itu.
"Baca yang paling atas." Ucap Yunho.
Yoochun pun kemudian membuka surat yang dimaksud Yunho. matanya bergerak menelusuri setiap kata yang tertera didalam surat itu. Surat itu kemudian berpindah, bergiliran dari tangan ke tangan semua member, hingga surat itu kembali ke tangan Yoochun. Mata Yoochun memandang tumpukan surat ditangannya. "Ini… "
"Iya." Jawab Yunho cepat. Dia mengerti arah pikiran Yoochun dan semua membernya. Ditatapnya semua orang di ruangan itu bergantian kemudian menghela nafas panjang. "Orang itu masih mengirimi Jaejoong surat." Ucap Yunho pelan.
Wajah semua orang di ruangan itu tampak tegang sekaligus cemas. Mereka tidak menyangka selama ini ternyata orang misterius yang pernah mengirimi Jaejoong surat ternyata masih mengikuti Jaejoong dan terus saja mengiriminya surat.
"Apa Jaejoong tau?" tanya Ryu menyelidik.
Yunho menggeleng. "Dia tidak tau, karena surat itu selalu lebih dulu aku temukan sebelum Joongie menyadarinya." Yunho kembli menghembuskan nafasnya dengan berat. Ditatapnya wajah Jaejoong yang tertidur didalam pelukannya. Dibelainya pipi gadis itu dengan lembut seraya berbisik, "Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi aku tidak kan pernah melepasmu. Bahkan jika aku harus kehilangan nyawaku sendiri, aku akan tetap melindungimu."
Semua orang dapat mendengar bisikan itu. Mereka terharu sekaligus takjub dengan kekuatan cinta yang mengalir diantara pasangan itu. 'Mereka benar benar malaikat, malaikat yang ditakdirkan tuhan untuk selalu bersama.' Batin mereka semua menatap Yunho dan Jaejoong bergantian.
"Ryu, sepertinya aku kenal tulisan ini." Bisik Hyebin padaku.
"Ne, dari tadi aku juga berpikir seperti itu honey, tapi sebaiknya kita selidiki dulu jangan sampai mereka tahu sebelum kita temukan bukti kebenarannya." Kataku ketelinga Hyebin.
Pandangan Ryu kembali tertunduk. Ditatapnya surat yang sedari tadi masih terkambang. Sekali lagi dibacanya tulisan itu dan sepertinya dia curiga dengan seseorang dari masalalu mereka setelah Hyebin membisikkan sesuatu.
"Jung Yunho-shi. Jaga istrimu baik-baik. Atau kau akan menyesal."
Setelah kejadian itu kami putuskan untuk segera kembali ke Seoul karena tidak ingin terjadi sesuatu lagi dengan istrinya. Kini mereka semua sudah bersiap-siap untuk pulang ke seoul, kali ini mereka tidak hanya berempat tapi berenam karena Ryu dan Hyebin juga ikut sekalian. Dan mulai sejak ini Ryu dan hyebin juga bagian dari anggota keluarganya seperti Yoochun hyung dan Junsu.
Jam dikamar kami sudah menunjukkan hampir pukul 3 pagi tapi entah kenapa aku masih belum mengantuk sedikitpun. Objek yang sekarang berada didalam pelukanku terlalu menarik dan terlalu berharga sehingga membuat mataku betah untuk memandanginya terus menerus. Untuk kesekian kalinya kupandangi wajah Jaejoong yang tertidur lelap didalam pelukanku. Tangan kananku menjadi bantal bagi kepalanya, sedangkan tangan kiriku mengusap punggungnya dengan gerakan ringan. Suasana malam ini begitu hening. Hanya suara hembusan nafasnya yang terdengar begitu lembut ditelingaku. Dadanya naik turun dengan teratur seiring setiap hembusan nafasnya. Aku bahkan dengan jelas dapat merasakan detak jantungnya yang berdetak beriringan dengan detak jantungku.
Kutelusuri sekeliling garis wajahnya dengan jari telunjukku. Kurapikan poninya yang sedikit berantakan dan basah karena keringat. Kusentuh alisnya yang tersusun rapi dan tebal. Kutarik garis lurus mengikuti batang hidungnya yang mancung hingga turun terus kebibirnya yang mungil. Dengan hati hati kusentuh bibirnya yang sedikit pucat tapi walaupun begitu tetap saja lembut dan terasa begitu hangat. Bibir ini, bibir yang selalu membuatku merasa kehausan setiap kali menyentuhnya dengan bibirku, bibir yang selalu ingin membuatku menjelajahinya hingga begitu dalam. Bibir ini, hanya bibir ini yang selalu memberikan kehangatan padaku setiap kali aku menyentuhnya.
Kehembuskan nafasku dengan pelan. Ku belai pipinya yang lembut dan bersemu merah. Sekali lagi Kupandangi wajahnya baik- baik. Wajah yang beberapa hari ini selalu ada dalam jarak pandang terdekatku, hampir 24 jam. Wajah yang dengan begitu jelas dapat kulihat keletihan dan kelelahan didalamnya.
"Mianhe yeobo-ya. Aku tau aku selalu membuatmu letih. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk melindungimu. Kau tau aku tak kan pernah membiarkanmu disakiti siapapun termasuk diriku sendiri. Aku akan selalu melindungimu. Meskipun untuk melindungimu aku harus mengorbankan nyawaku, maka akan aku lakukan."
Rasa bersalah kembali menghinggapiku. Tidurnya yang begitu lelap justru memperjelas keletihan yang selama ini disembunyikannya dariku. Keletihan karena tak lain dan tak bukan hanya karena keegoisanku. Aku tau ini tidak baik baginya, tapi apa dayaku? apa yang bisa aku lakukan untuk menjaganya kalau bukan dengan ini? Sudah lebih dari 1 minggu ini setiap hari Jaejoong harus mengikuti semua jadwalku. Setiap hari Jaejoong harus menemaniku melalukan kegiatan- kegiatan diluar rumah. Setiap hari Jaejoong harus selalu menemaniku memantau rumah sakit-rumah sakit yang di seoul. Dan setiap malam pula Jaejoong akan tertidur lelap di ruanganku, menungguku selesai memeriksa pasien. Aku tau aku egois dengan memintanya terus terusan menemaniku melakukan semua aktifitasku, tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk meyakinkan diriku sendiri kalau dia aman bersamaku.
Meninggalkan Jaejoong di rumah sama saja dengan meninggalkan nyawaku bersamanya. Tubuhku memang bekerja tapi tidak dengan pikiranku. Dan itu sangat menyiksa pikiran dan hatiku. Aku takkan bisa memusatkan perhatianku pada apapun hanya karena terlalu cemas memikirkannya. Berbagai pertanyaan bermain di otakku, apakah dia baik baik saja? Apakah dia aman- aman saja di rumah sendirian? Apakah ada orang yang mengikutinya? Apakah ada orang yang sembunyi-sembunyi memperhatikannya?
Mengingat semua itu membuatku tersiksa. Membuatku sebagai suami merasa begitu lemah dan tak punya kekuatan apapun bahkan untuk melindungi istriku sendiri. Orang misterius itu, si pengirim surat misterius yang sampai sekarang masih belum ku ketahui entah siapa masih saja terus mengikutiku dan Jaejoong, dan tak henti mengirimi ku dan Jaejoong surat- surat yang berisikan pesan- pesan singkat. Awalnya hanya memang Jaejoong, semua pesannya berisikan pesan penuh perhatian kepada Jaejoong. Tapi semua itu berubah. Isi surat yang ditujukan kepadaku cenderung memperingatkanku untuk menjaga Jaejoong dengan baik, kalau tidak aku akan menyesal.
Aku tak ingin Jaejoong mengetahui kekuatiranku. Selama ini aku bersusah payah menyembunyikan semua ini darinya. Jaejoong tak boleh tau, sedikitpun. Dia memang pernah berpesan padaku agar tidak terlalu memikirkan semua ini. Awalnya memang begitu, aku berusaha rileks dan tidak mempedulikan surat-surat itu. Tapi semua menjadi berbeda semenjak aku mendapati seseorang memperhatikan Jaejoong dengan sangat intens ketika aku mengajaknya ke acara pernikahan rekan kerjaku.
Awalnya aku kira dia sedang memperhatikan Ryu atau Yoochun, tapi begitu aku tersadar kalau orang itu menatap Jaejoong lekat lekat, seketika dia menghilang entah kemana. Perasaan cemas, kuatir, tidak nyaman, semua bercampur menjadi satu menyelimuti pikiran dan jiwaku. Sekali lagi kubelai pipinya dengan lembut dan penuh perasaan seraya berbisik, "Apa yang harus aku lakukan yeobo?"
Jaejoong bergerak didalam pelukanku. Refleks kuusap-usap punggungnya agar dia merasa nyaman dan tidak terbangun. Tapi terlambat.
"Oppa…" panggilnya pelan. Matanya membuka sedikit demi sedikit. Tangan kanannya yang sedari tadi bersandar didadaku terangkat mengucek ngucek matanya yang masih membuka setengah. "Kenapa oppa belum tidur?"
Aku melayangkan senyuman terindah yang bisa aku lengkungkan dibibirku. "Kau terlalu indah untuk kubiarkan begitu saja."
Pujianku membuat senyuman indah juga ikut mengambang dibibir Jaejoong. Matanya seperti biasa juga ikut tersenyum. Ditangkupnya wajahku dengan kedua telapak tangannya kemudian mengangkat kepalanya agar dapat melayangkan ciuman singkat dibibirku.
"Sejak kapan Yunnieku pintar menggombal?" ujarnya pelan saat kepalanya kembali bersandar dilenganku.
"Apa selama ini aku tidak pernah memuji kecantikanmu?" Aku terkekeh pelan.
"Hmmm…" matanya berputar putar seperti sedang berpikir. Tak lama kemudian matanya kembali menatapku, "Tidak pernah." Ucapnya sambil menggeleng- geleng.
"Apa kau lupa perkataanku saat malam itu meskipun telat?" tanyaku menyelidik.
Jaejoong kaget. Matanya terbuka sempurna. "M-malam i-itu?" tanyanya tergagap.
Aku mengangguk. "Mmm… malam saat kita merayakan kehamilanmu. Malam itu aku mengatakan bahwa kau cantik, sangat cantik."
"Oppa mengingat semuanya?" ada nada tidak percaya dari pertanyaannya.
"Aku mengingat dengan detail setiap perlakuanku padamu." Jawabku dengan setengah berbisik. Mata kami bertemu. Kutatap matanya dalam dalam. Kuresapi perasaanku padanya seraya berkata dengan ucapan lambat dan sedikit menggoda, "Miss simple… Yeppo."
Dalam hitungan sepersekian detik pipi Jaejoong langsung bersemu merah. matanya menunduk, tidak berani menatap mataku. Tangannya mencegkram erat dada ku yang telanjang. Jantungnya bahkan berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Hahaha… kau benar-benar membuatku gemas yeobo." Tawaku begitu menyadari bahwa sekarang istriku itu sedang malu karena ucapanku.
"Oppa hentikan. Jangan menggodaku terus." Pintanya tidak tahan mendengar tawaku. Disembunyikannya wajahnya leherku.
Mulutku masih tertawa pelan ketika kupererat pelukanku ditubuhnya dan Jaejoong pun merapat ketubuhku. Kulitnya yang lembut dan licin bagai porcelen melekat padaku. Kuusap usap punggungnya dengan lembut.
"Oppa jebal, jangan tertawa terus. Kau membuat jantungku melompat lompat tidak karuan."
Aku pun menghentikan tawaku. "Kenapa kau masih pemalu?" tanyaku pelan ditelinganya.
"Molla." Gumamnya di leherku.
Ku kecup sekilas pelipisnya dengan lembut. Kusandarkan daguku dipuncak kepalanya. Kembali kuhirup aroma favoritku, wangi tubuhnya. Ku hirup dalam dalam, sehingga memenuhi semua rongga di paru paruku. Untuk sesaat aku berpikir inilah oksigenku, oksigen istimewa untukku. Hanya untukku. "Kau tau, aku suka sekali wangi tubuhmu. Terutama seperti sekarang ini."
Jaejoong menengadahkan wajahnya, matanya menatap mataku. "Waeyo?" tanyanya.
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Tapi aku merasa setiap kali kita selesai bercinta wangi tubuhmu menjadi lebih wangi dari biasanya. Seperti sekarang, aromamu jauh lebih wangi dari sebelumnya."
"Apa itu mengganggu?"
"Anieyo.. justru aku sangat menyukainya."
"Jongmal?"
"Ne, jongmalyo."
Jaejoong kembali membenamkan wajahnya dileherku. "Aku juga menyukai wangimu." Bisiknya.
Aku tersenyum simpul. "Tidurlah, pagi ini kita masih ada kegiatan. Kita harus menyiapkan tenaga. Apa kau masih sanggup menemaniku?"
"Asalkan oppa disisiku, apapun pasti sanggup aku lakukan."
Pagi hari
"Yeoboooo…" paggilku dengan suara sedikit kencang dari ruangan tempat lemari.
"Ne oppaa.." sahut Jaejoong dari luar.
"Kesini sebentar."
"Camkhamanyo." Balas Jaejoong. Dan beberapa detik kemudian dia muncul dari balik pintu. "waeyo?" tanyanya begitu masuk kedalam ruangan dan melangkah menghampiriku.
Kuperhatikan dia sudah rapi, dan sudah siap berangkat. Sedangkan aku? Aku masih belum selesai. Dari tadi aku sibuk gonta ganti baju, memilih milih apa yang akan aku pakai hari ini. Aku frustasi tidak bisa memutuskan memakai baju yang mana, "Aku pakai baju apa?" tanyaku manja sambil memajukan mulutku.
Jaejoong tergelak kecil. Dia kemudian mencubit pipiku dengan gemas. "Dasar dokter manja, selalu saja aku yang milihin baju." Jaejoong bergerak membuka lemari. Ia pun kemudian mulai memilih baju apa yang akan kupakai hari ini.
"Karena kau tau persis seleraku."
Kupeluk Jaejoong dari belakang, kusandarkan daguku dibahunya. Aaah, aku suka sekali memeluknya seperti ini. Kukecup lehernya dengan mesra berkali- kali, membuat Jaejoong mendesah tertahan.
"Aigo oppaaa…" ucapnya bersusah payah. "jangan bilang kau mau lagi?" tanyanya sambil menoleh menatapku tajam sehingga dengan sendirinya aku berhenti mengecup lehernya.
"Hehe…" aku nyengir dan menjauhkan sedikit wajahku dari wajahnya. "Salahmu juga."
"Salahku? Apa semalam masih kurang?" ujarnya tidak terima.
"Bukan itu." Sahutku cepat.
"Terus?"
"Salahmu sendiri kenapa kau bertambah sexy. Aku heran, dari yang biasa kulihat wanita hamil itu akan kelihatan gemuk dan tidak menarik. Tapi kau berbeda. Justru saat kau hamil kau malah bertambah manis dan sexy. Aku bahkan tidak tahan jika tidak menyentuhmu satu detik saja."
Jaejoong menyentuh daguku. "Kalau begitu sekarang cobalah berhenti menyentuhku sebentar. Kalau oppa seperti ini terus aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada ntar oppa malah terlambat."
Aku manyun. "Waeeee?" tanyaku sedikit merengek. Tapi belum sempat Jaejoong menjawab, ide baru kembali muncul diotakku. "Aa.. aku menyentuh anakku saja." Jaejoong terkekeh geli dan membiarkan tanganku berpindah dari melingkar di pinggangnya menjadi mengelus perutnya dengan lembut. Jaejoong sendiri kembali memilih baju dari dalam lemari. "Good morning baby. Daddy miss you so much. Do you miss me too?"
"Hahaha… dokter manjaku babo! ini, pakai bajumu." Ujarnya.
Jaejoong membantuku memasang baju kemudian merapikannya. Tak lama kemudian kami berdua pun siap dan berangkat menuju rumah sakit.
—o0o—
Aku menunggu Yunho oppa memeriksa pasiennya, aku sangat bosan di sini terus akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu Yunho oppa selesai melakukan tugasnya. Setelah beberapa jam aku berjalan-jalan ke taman rumah sakit aku langsung kembali ke ruangan Yunho oppa untuk menemuinya. Sampai didepan ruangannya aku mendengar ada banyak suara bahkan aku seperti mendengar suara Ryu, Hyebin, Yoochun oppa sama Junsu, aku langsung membuka knop pintu itu dan aku melihat mereka semua ada diruangan Yunho oppa.
"Yeobo." Yunho oppa berdiri dan langsung menghambur dan menarikku kedalam pelukannya. Gerakannya yang sedikit tergesa gesa membuatku kaget, dan bingung harus bereaksi bagaimana.
"Oppa, kau kenapa?" tanyaku bingung. Aku merasa pelukan Yunho oppa sangat berbeda. Tangan Yunho mengelus kepalaku dengan gerakan lambat sehingga aku dapat merasakan tangan itu gemetar.
"Kau baik baik saja?" Tanya Yunho oppa pelan. Pelukannya masih seperti semula, erat dan tidak mengendur sedikitpun. Bahkan mungkin sedikit keras dan kasar.
Aku terdiam. Dia merasakan ada kecemasan yang sangat dalam dari suara itu. 'kau kenapa oppa, kenapa kau terlihat begitu cemas?' batinku. Diangkatnya tangannya dan melingkarkan di pinggang Yunho. Dibalasnya pelukan Yunho dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Tubuhnya yang sedari tadi kaku karena pelukan dadakan itu mulai rileks. Disandarkannya kepalanya di bahu kekar suaminya.
"Kenapa diam saja? Kau baik baik saja kan?" Tanya Yunho oppa lagi. Suaranya mendesak meminta penjelasan.
Jaejoong tersenyum simpul seraya mengeratkan pelukannya. Ia pun kemudian bergumam pelan, "Aku baik-baik saja suamiku."
Jaejoong bisa merasakan hembusan nafas lega dari mulut Yunho. Pelukannya pun menjadi lebih ringan tidak sekeras sebelumnya. Belaian tangan Yunho pun berubah menjadi lebih lembut dan tenang. 'ketenangan itu kembali' batin Jaejoong. Tapi Jaejoong bertanya tanya, ada apa dengan suaminya? kenapa dia terlihat begitu cemas? Kenapa pelukannya kembali bergetar? Kenapa kenyamanan dalam pelukannya tidak seperti biasanya?
'oppa, kau kenapa? Aku mohon jangan menyiksa dirimu seperti ini? Itu sama saja kau juga menyiksaku.' Jaejoong tak berhenti bertanya tanya didalam hatinya. Lidahnya kelu, mulutnya tak mampu berucap, hanya belaian lembut tangannya yang terus bergerak dipunggung Yunho berusaha membuatnya nyaman dan tenang, menandakan kekawatirannya terhadap suaminya.
"Ehm.. ehmm.. baru juga tidak ketemu beberapa jam tapi pelukannya dah berabad- abad." Sindir Yoochun dibelakang mereka berdua. Jaejoong terkekeh.
"Kau akan merasakan sendiri hyung kalau nanti kau menikah dengan Junsu." Balas Yunho tanpa melepas pelukannya. Kali ini nada suaranya terdengar lebih riang tidak setegang tadi. Dia bahkan ikut tertawa ringan bersama Jaejoong. "Aigooo, jongmal bogoshippo yeobo…" Yunho oppa mengeratkan pelukannya di pinggang Jaejoong.
"Aww, oppa.. kau menekan perutku." Jaejoong meringis merasakan tekanan tangan Yunho dipinggangnya yang begitu keras, sehingga membuat perut Yunho menekan perutnya.
"OMO!" Yunho merenggangkan pelukannya cepat. "Joongie, mianhe…" wajahnya cemas dan menatap Jaejoong penuh sesal. "Anakku? Bagaimana anakku?" Kali ini Yunho mulai membelai perut buncit Jaejoong. Matanya penuh kekuatiran menatap Jaejoong dan perut tempat dimana anaknya berada, bergantian.
Jaejoong menatap Yunho dengan sedikit merasa bersalah. Dia lupa kalau emosi Yunho akhir-akhir ini memang gampang sekali naik turun. Perkataan spontan yang keluar darinya barusan bisa membuat Yunho cemas mati-matian. Terlebih lagi laki-laki itu selalu mengatakan tak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya termasuk dirinya sendiri.
Jaejoong melayangkan senyum termanis yang bisa ia lakukan. Diangkatnya tangannya dan menyentuh pipi suaminya itu. "Anakmu baik-baik saja oppa. Kau tidak usah cemas. Dia merindukanmu, sama seperti kau merindukannya." Jaejoong menekankan setiap perkataanya. Berharap dengan begitu Yunho dapat lebih tenang. Jaejoong tau dan sepenuhnya mengerti kalau Yunho sekarang benar benar membutuhkan kenyamanan darinya. Ia tidak boleh berbuat salah, karena itu sama saja dia akan membunuh suaminya pelan- pelan karena mati kecemasan.
"Dia merindukanku?" tanya Yunho seperti tidak percaya. sedetik kemudian Yunho merasa sangat bodoh kenapa pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulutnya. 'Aiishh.. PABO!' rutuknya dalam hati.
Jaejoong terkekeh melihat reaksi chengo suaminya. "Tentu saja dia merindukanmu oppa. Kau appa nya, dia rindu belaianmu, dia rindu sentuhanmu." Balas Jaejoong meyakinkan Yunho.
Senyum leteuk mengambang. Dibungkukkannya tubuhnya sehingga wajahnya sejajar dengan perut Jaejoong. "Anak appa, kangen sama appa ya?" Yunho membelai perut Jaejoong dengan satu tangannya, satu tangan lagi melingkar dipinggang istrinya itu. "Appa juga kangen padamu sayang." Yunho melayangkan ciuman hangat diperut Jaejoong.
Ciuman itu sedikit lama, membuat Jaejoong merasakan dengan jelas lekuk bibir Yunho menyentuh perutnya meskipun ada benang pembatas antara kulit perutnya dengan permukaan bibir Yunho.
"OMO!" Yunho terpekik kaget begitu melepas ciumannya diperut Jaejoong. Ditegakkannya tubuhnya dengan cepat kemudian menghardik, "YA! RYOUSUKE, APA YANG KAU LAKUKAN?"
Teriakan Yunho membuat semua orang di sana menatap orang yang dimaksud. Ryousuke, alias Ryu tengah berlutut di samping Jaejoong dan Yunho. kedua telapak tangannya saling menggenggam didepan dadanya, seperti seseorang yang sedang berdoa kepada tuhannya. Sedangkan matanya… berbinar-binar penuh arti, jelas sekali kalau sekarang dia tengah memohon kepada Yunho dan Jaejoong menggunakan jurus terampuh yang ia rasa akan membuat kedua pasangan itu luluh, Puppy eyes.
"Hyung.. Jaejoong, jebaall.." pintanya berkaca kaca. Suaranya dibuat begitu berat seperti sedang melakukan pementasan musical, reaksinyapun tak jauh berbeda. "Ijinkan aku menyentuh perut Joongie, sekaliiiiiiiiii saja."
AKH! Lagi lagi permintaan yang sama. Menyentuh perut Jaejoong. Sebegitu terobsesinya kah Ryu dengan perut Jaejoong yang tengah membuncit sehingga dia rela melakukan apapun untuk bisa menyentuhnya? "Hyung, jeball." Kali ini Ryu menyuarakannya dengan penuh perasaan yang mengiba, berharap triknya ini bisa meluluh lantakkan ketegasan leadernya itu agar memberinya ijin.
"SHIREO!"
BUGH! Ryu terjatuh merana dilantai. "Teganya kau hyung." Ringisnya.
"Hahahaha.. Ryu chan, kapan syndrommu itu akan hilang?" tawa Yoochun meledek.
"Oppa, jangan ijinkan Ryu menyentuh Joongie. Cukup aku saja yang sering menjadi korbannya." Ujar Hyebin mengingatkan. Dia sudah cukup tersiksa karena bibirnya selalu jadi korban. Dia tidak tega kalau Jaejoong juga ikut ikutan jadi korban.
"Oppa, kasian Ryu oppa. Biarkan saja dia menyentuh perutku, sekali saja." Bisik Jaejoong pelan. Yunho sudah kembali memeluknya dan membawanya kesudut ruangan agar lebih leluasa. Dia tidak ingin siapapun mendengarkan perkataanya, karena bagaimanapun Yunho punya hak penuh terhadap dirinya.
"Andwe!" Tegas Yunho.
Jaejoong pun diam tidak ingin berkata apa apa lagi. Ucapan Yunho barusan sudah memperjelas semuanya. Yunho posesive dengan keberadaannya. Yunho mimilikinya seutuhnya. Yunho menguasainya. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Perasaan Yunho sedang tidak enak. Jaejoong lebih memilih diam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Memilih merasakan kekekaran dari pundak lebarnya. Memilih merasakan kehangatan dari pelukan yang melingkari tubuhnya.
—o0o—
A few week later
Mata Yunho menatap mata Yoochun tajam. Tubuhnya terhempas kedinding karena didorong dengan sangat kasar. Terasa ada aliran yang begitu panas, membara mengalir diantara mereka berdua. Tangan Yoochun mencengkram krah kemeja Yunho erat, seakan ingin mencekiknya.
"KAU TIDAK KASIHAN PADANYA?!" Teriak Yoochun tepat didepan wajah Yunho.
"LEPASKAN AKU PARK YOOCHUN!" bentak Yunho tidak kalah keras.
"JAWAB PERTANYAANKU JUNG YUNHO ! KAU TIDAK KASIHAN PADANYA?"
"AKU MELINDUNGINYA!"
"TAPI ITU MENYIKSANYA!"
"AKU MENCINTAINYA!"
"CINTAMU POSESIVE!"
"DIA ISTRIKU!"
"DIA ADIKKU!"
Perang perkataan itu memanas. Yunho bersusah payah mencoba melepaskan cengkraman Yoochun darinya, tapi emosi sahabatnya itu keburu naik. Pemandangan Jaejoong tertidur dengan wajah lelah dan bibir pucat diatas sofa membuat emosi Yoochun memuncak, membuatnya tidak tega. Dan sebagai pelampiasannya dia marah kepada Yunho, benar benar marah. Menurut Yoochun, Yunho menyiksa gadis itu. Gadis itu sedang hamil, dia butuh istirahat. Tapi apa yang Yunho lakukan pada Jaejoong? Yunho justru membawanya kemana-mana, membiarkan Jaejoong keletihan mengikuti aktivitasnya, membiarkan Jaejoong ketiduran karena menunggunya. Yunho seolah tidak peduli pada kelelahan yang dialami istrinya itu.
"Hanya dengan seperti ini aku bisa tenang." Lirih Yunho. Dia lebih bisa menahan emosinya. Dia sendiri sadar kalau tindakannya keterlaluan. Dia tau bagaimana Yoochun menjaga Jaejoong dengan baik setiap kali dia tidak bisa menjaganya. Dia tau Yoochun meminta tolong pada Junsu untuk menemani Jaejoong dirumah kalau dia tidak mengajak Jaejoong ikut serta bersamanya. Tapi apapun itu, cara teraman dan ternyaman menurutnya agar ia bisa bernafas dengan tenang hanyalah dengan membawa Jaejoong selalu bersamanya.
"Hyung… sudah, hentikan!" tukas Ryu dari belakang Yoochun. "Kalau Joongie tau dia pasti tidak suka melihat kalian seperti ini."
"Joongie sedang tidur. nanti kalau dia bangun karena mendengar kalian bertengkar, kasihan. Dia pasti akan shock." Ujar Junsu pelan.
"Aku tau kau mencemaskannya. Tapi jangan menyiksanya." Lirih Yoochun. Kali ini sorot matanya mulai melunak.
"Aku tau. Aku akan menjaganya dengan baik." Yunho mulai merasakan cengkraman Yoochun melonggar. Digenggamnya tangan sahabatnya itu seraya menurunkannya dari krah kemejanya. "Percaya padaku."
Yoochun menunduk, dan melepas cengkramannya.
"Oppa…"
~TBC~
