Past or Present, Which One You Will Choose ?

Disclaimer : the casts belong to Masashi Kishimoto but this story belongs to me

Warning ! This is YAOI story

.

.

Ketika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih ? Sesuatu yang ada dalam genggamanmu tapi masih kau ragukan atau ... sesuatu yang dulu pernah ada dalam genggamanmu, sempat terlepas, tetapi ingin kembali pulang ?

.

.

.

Disini kuitinggalkan keping-keping kenangan yang takkan kuingat lagi.

Semua cerita yang takkan terulang kembali.

Sejumput kepahitan yang takkan pernah kureguk lagi.

Detik ini, disini, aku melihat dan merasakan semua itu untuk terakhir kali.

Saat kuputuskan untuk melangkah, aku takkan menoleh ke belakang.

Berharap bayang-bayang kelam masa lalu terhapus mengiringi 1000 langkahku.

.

.

.

"Nii-chan, okaa-san sudah menunggumu di luar sejak tadi. Kau malah melamun disini"

"Hn"

"Ayo kita berangkat, nii-chan"

"Hn"

'Selamat tinggal, Osaka. Selamat tinggal, hime'

.

Sasuke menoleh ke belakang, menatap rumah yang penuh memori untuk terakhir kalinya. Berat baginya meninggalkan Osaka, terlebih lagi meninggalkan 'dia'. Namun, inilah jalan yang dipilih Sasuke, ia tak ingin terus berada dalam pusaran masa lalu yang menyakitkan baginya. Suara okaa-sannya membuyarkan lamunannya, ia berjalan mendekati okaa-sannya.

"Daijobu desu ka, Suke-chan ?"

"Daijobu, kaa-san tak perlu mengkhawatirkanku"

"Kita batalkan saja kepindahan kita ne ?"

"Iie kaa-san, ini jalan yang kupilih"

"Ayo berangkat kaa-san" sahut Sai

.

Sasuke, Sai, dan Mikoto memasuki taxi yang akan membawa mereka menuju stasiun kereta. Mereka sampai di stasiun beberapa menit sebelum kereta datang. Ketiganya menaiki kereta dan tenggelam dalam keheningan. Mikoto tak tahan dengan suasana seperti ini.

"Suke-chan, kau yakin akan meninggalkannya ?"

"Kaa-san, jangan bahas ini lagi" ucap Sasuke

"Baiklah, kau harus bisa beradaptasi di sekolah barumu nanti, ne ?"

"Ne kaa-san"

.

Sasuke tak bisa tidur selama perjalanan. Ia memandang ke arah jendela, menikmati pemandangan diiringi alunan musik lembut dari smartphonenya. Ia menghela nafas kasar, ia benci hari itu. Hari dimana ia.. Ah, sudahlah ia tak ingin mengingatnya lagi. Ia tenggelam dalam alunan musik hingga kereta yang membawa mereka berhenti. Tokyo, ya ia memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya di Tokyo, mencoba menata hatinya yang telah hancur tak berbentuk. Ia, Sai, dan Mikoto mencari taxi yang akan mengantarkan mereka ke rumah yang akan mereka tempati selama di Tokyo. Lagi-lagi Sasuke menatap keluar jendela, yang seakan menjadi hobinya barunya saat ini. Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah baru mereka. Sasuke menghirup nafas dalam, menikmati udara di Tokyo.

'Tak buruk juga' batin Sasuke

"Ayo kita masuk, nii-chan" panggil Sai lembut

"Hn"

.

Sasuke dan Sai membantu Mikoto membereskan perabotan rumah hingga waktu menujukkan pukul 7 malam.

"Kaa-san akan membuat makan malam. Kalian mandilah dulu"

Keduanya mengangguk lalu naik ke kamar mereka yang berada di lantai 2. Sasuke menyalakan shower, menikmati sensasi dingin yang menerpa tubuhnya. Ia mematikan shower dan memakai kaos serta celana pendek. Ia keluar dari kamar dan disambut oleh aroma menggoda dari masakan kaa-sannya. Ia duduk di hadapan kaa-sannya. Mereka menikmati makan malam dengan penuh kebahagaian. Sai melontarkan lelucon yang berhasil membuat kaa-sannya terkikik geli.

Mereka memutuskan untuk beristirahat setelah menyelesaikan makan malam. Sasuke membaringkan tubuhnya di kamar bernuansa dark blue dengan lukisan bintang di dindingnya. Ia terlelap beberapa menit kemudian.

.

.

.

Sinar mentari mengintip dari sela-sela tirai kamar Sasuke, ia segera bangun untuk bersiap-siap bersekolah di sekolah barunya. Ia sudah terbiasa bangun tanpa alarm. Berkat kedisiplinannya dan juga kepintarannya tak heran jika ia akan menjadi murid di Tokyo International High School. Beberapa menit kemudian ia turun menuju meja makan, seperti biasa kaa-sannya telah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Sasuke menyantap roti isinya dengan hikmat. Sesederhana apapun masakan kaa-sannya, tetap terasa lezat dilidah Sasuke. Ia dan Sai mengecup pipi Mikoto sebelum berangkat. Mereka berjalan kaki menuju Tokyo International High School karena jarak antara rumah dan sekolah mereka tak begitu jauh.

.

Suasana di sekolah barunya masih sangat lengang. Ah jelas saja belum ada murid yang datang, waktu baru menujukkan pukul 6.45 sedangkan pelajaran baru akan dimulai pada pukul 8. Tak heran jika ia mendapat predikat sebagai siswa teladan selama 1 tahun berturut-turut di sekolah lamanya. Sai menggerutu mendapati sekolahnya masih sangat sepi. Salahkan kakaknya yang terlalu rajin itu. Ia menghentakkan kakinya kesal. Sasuke yang berada di belakang Sai hanya memasang wajah datar melihat tingkah adiknya itu.

Ia memutuskan untuk berjalan-jalan tanpa memberitahu Sai. Langkah demi langkah dititinya. Ia berhenti saat telah berada di taman belakang Tokyo International High School. Manik obsidiannya mengamati setiap sudut taman. Tiba-tiba, matanya terpaku pada siswa berambut merah bata yang tengah membaca buku. Sesekali tampak kerutan di dahi siswa itu, terkadang siswa itu juga tersenyum. Tanpa sadar, Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah siswa itu.

Karena terlalu terpaku pada siswa itu, Sasuke tak sadar jika siswa itu mengangkat wajahnya dan menatap tepat pada manik obsidiannya. Mata azurenya seakan memanggil Sasuke untuk mendekat. Sasuke seakan terhipnotis, kakinya melangkah mendekati siswa itu. Siswa itu tak melepaskan tatapannya pada Sasuke hingga Sasuke berada tepat di depannya.

"Sasuke"

"Hmm ?" siswa itu menyeritkan dahinya

"Boku wa Sasuke desu. Anata wa ?"

"Gaara" jawab siswa itu seraya bangkit dan berlalu meninggalkan Sasuke

.

Sasuke sedikit tertarik pada pemuda mungil bernama Gaara itu. Baru kali ini ada yang berani mengacuhkannya. Sasuke menarik salah satu sudut bibirnya.

"Sasuke nii-chan"

"Kecilkan suaramu. Kita ini murid baru jangan membuat keributan"

"Hhh, kenapa kau berteriak seperti itu ?" lanjut Sasuke

"Kepala sekolah menyuruh kita bertemu Kurenai-sensei. Kurenai-sensei akan menunjukkan kelas kita"

"Hn"

.

Kurenai-sensei mengantar Sasuke dan Sai menuju kelas 11-1. Keduanya memasuki kelas setelah Kurenai-sensei memberi isyarat kepada mereka.

"Perhatian semua. Kalian memiliki 2 teman baru. Nah, perkenalkan diri kalian"

Keduanya mulai memperkenalkan diri.

"Uchiha Sasuke"

"Boku wa Uchiha Sai. Aku otouto kesayangan Sasuke nii-chan. Salam kenal dan mohon bantuannya"

Senyuman Sai membuat siswi di kelas itu heboh, sepertinya mereka akan menjadi terkenal dalam waktu satu hari.

"Kalian boleh duduk" ucap Kurenai

Kurenai memulai pelajaran mengenai Sejarah Jepang. Sasuke menyimak penjelasan Kurenai dengan seksama. Pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat disukainya. Ia bahkan tidak sadar ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. 2 jam telah berlalu, Sasuke menghela nafas kecewa karena pelajaran sejarah yang sangat disukainya telah berakhir.

.

.

"Sepertinya kau sangat menikmati pelajaran Kurenai-sensei" ucap siswa dengan tato segitiga di pipinya

"Ne, sejarah adalah pelajaran favoritku" jawab Sasuke

"Hey Sasuke, orang yang menyukai pelajaran sejarah biasanya sulit lepas dari masa lalunya" lanjut siswa itu

Tubuh Sasuke menegang sesaat. Namun wajahnya kembali datar.

"Jangan hiraukan Drama King ini, Sasuke" siswa beriris lavender menepuk bahu Sasuke

"Namaku Neji, dan Drama King ini adalah Kiba. Salam kenal" ucap siswa beriris lavender itu

"Hn"

"Kita bertemu lagi" ucap Sasuke pada siswa berambut merah bata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka

"..."

"Ayo ke kantin. Aku lapar" ajak Kiba

"Bukankah masih ada pelajaran ?" tanya Sai yang sejak tadi merasa diabaikan

"Yamato-sensei tak masuk, ia hanya memberikan tugas untuk dikumpulkan minggu depan" Gaara akhirnya buka suara. Namun hal itu membuat Sasuke menyeritkan dahinya. Sasuke heran mengapa Gaara menjawab pertanyaan Sai padahal Gaara tak merespon ucapannya tadi.

Sasuke dan Sai hanya mengangguk dan mengikuti langkah teman-temannya. Mereka memilih tempat di sudut kantin setelah membeli snack dan minuman favorit mereka.

"Apa kalian saudara kembar ?" tanya Kiba

"Ne, tapi Sasuke nii-chan lahir 2 menit lebih cepat dariku"

"Kalian tidak terlalu mirip"

"Kami sama-sama tampan, kau tau ?"

"Tentu saja karena kalian adalah laki-laki, tidak ada laki-laki yang cantik" jawab Kiba kalem

"Sai mewarisi sifat okaa-san sedangkan aku mewarisi sifat otou-san. Makanya kami terlihat berbeda"

"Hmm begitu" jawab Kiba dan Neji serempak

"Lalu kenapa kalian pindah ke Tokyo ? Bukankah Osaka tempat yang menarik ?" tanya Neji

"Kami ingin mencari suasana baru" jawab Sai cepat

.

.

.

"Rumah kalian dimana ?" tanya Kiba saat mereka berada di gerbang sekolah

"Shinjuku. Kau sendiri ?"

"Kami juga tinggal di Shinjuku"

"Kebetulan yang bagus" ucap Neji

"Bagaimana kalau besok kita berangkat bersama ?" usul Kiba

"Boleh" jawab mereka serempak

Sasuke, Sai, Neji, Gaara dan Kiba berjalan menuju rumah mereka bersama-sama diiringi oleh lelucon Kiba dan cibiran dari Neji. Tanpa terasa mereka sudah berada di distrik Shinjuku. Rumah mereka ternyata berdekatan. Rumah Sasuke berada tepat di depan rumah Gaara sedangkan rumah Kiba dan Neji mengapit rumah Sasuke.

.

Sasuke merebahkan badannya setelah mengganti baju seragamnya. Tak salah ia memilih Tokyo sebagai tempatnya untuk melanjutkan perjalanan hidup. Banyak hal menarik disini, termasuk pemuda mungil dengan rambut merah bata dan mata yang dihiasi eyeliner bernama Gaara. Gaara adalah orang kedua yang berhasil menarik perhatian Gaara. Namun, Sasuke tak mau terburu-buru sebab ia sendiri masih bimbang akan perasaannya, perasaanya yang tertinggal di Osaka. Lagipula Sasuke dan Gaara memiliki kesamaan gender, ia tak mau Gaara menjauhinya karena masalah sepele ini.

.

.

.

"Sasuke, cepat turun. Makan malam sudah siap" teriak Uchiha Mikoto

"Ne, kaa-san"

Sasuke tersenyum tipis sembari menuruni tangga rumahnya. Hal ini membuat Mikoto heran, ia tak pernah melihat putranya begitu bersemangat seperti ini. Setahu Mikoto, Sasuke jarang menampilkan senyumnya sejak hari itu. Ia tersenyum melihat perubahan pada putranya.

"Kau terlihat begitu bersemangat, Sasuke-chan. Mau berbagi cerita pada kaa-san ?"

"Sepertinya nii-chan tertarik pada salah satu tetangga kita, kaa-san" celetuk Sai dan dibalas deathglare oleh Sasuke

Mikoto terkikik geli melihat kedua putranya itu. Sasuke mengabaikan Sai yang terus berceloteh mengenai Gaara pada kaa-sannya. Ia kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malamnya dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Yamato-sensei pagi tadi. Ia meregangkan badannya yang terasa pegal setelah mengerjakan tugas dari Yamato-sensei sebanyak 70 nomor. Sepertinya ia belum benar-benar beradaptasi. Ia mengemasi buku yang akan dibawanya esok pagi lalu merebahkan badannya di tempat tidur.

Matanya terpaku pada gantungan kunci di atas meja nakasnya. Tangannya terulur untuk meraih benda yang sangat berharga untuknya. Membaca perlahan ukiran nama pada gantungan itu. Ia merindukkan sosok itu, sosok yang melukiskan berbagai warna dalam hidupnya. Ingatannya melayang pada saat dimana sosok itu memberikan gantungan ini padanya.

.

-Flashback ON-

"Suke~"

"Nande, hime ?"

"Aku punya sesuatu untukmu"

"Tadaaah~" pemuda itu memberikan kotak kado berukuran kecil berwarna ungu

"Apa ini ?"

"Buka saja, Suke"

Sasuke membuka kotak itu perlahan dan menemukan gantungan kunci berbentuk kucing dengan ukiran nama pemuda yang dicintainya di bagian belakang. Sasuke tersenyum dan mengacak rambut pemuda itu penuh sayang.

"Suke tau tidak kenapa aku memberikan ukiran namaku di belakang gantungan itu ?"

"Iie. Nande ?"

"Aku ingin Suke selalu mengingatku" jawab pemuda itu malu-malu

-Flashback OFF-

.

'Ya, aku selalu mengingatmu hime. Bahkan setelah kau hancurkan aku, ingatan tentangmu tak bisa kuhapuskan begitu saja'

Setetes liquid bening menetes dari manik obsidiannya karena mengingat sekelebat memori bersama pemuda yang sangat dicintainya itu. Ia tertidur sambil menggenggam erat gantungan itu.

.

.

.

.

.

Chapter 1 selesai~

Gimana ceritanya minna-san ? Memuaskan ?

Tuliskan komentar, kritik, maupun saran di kotak review ne ? Supaya Aika bisa perbaiki kesalahan di chapter ini..

.

Aika mau ngucapin makasih buat YukiIcePrincess, Maple Lious, jewELF, shion-chama, arum junnie dan Ahn Ryuuki..

Makasih udah mau ngereview fic gaje nan abal punya Aika ^^

Aika boleh minta review lagi ? Makin banyak review, Aika makin semangat ngelanjutinnya..

.

Aika pamit dulu, ne ? Sampai ketemu di chapter 2..

Jaa ne~ (^.^)/