Love Of Onlineshop

Chapter 3


Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku

Rate : T

Genre: Romance, Humor, sedikit Hurt

Disclaimmer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning:

OOc banget, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, UPDATE Tak Tentu! Pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^


Summary:

Penipu online yang menipu Sakura ternyata bukanlah Sasuke, lalu siapa? Tenang, Sasuke akan membantu Sakura untuk menyelidikinya, kok. Tapi keesokan harinya, tiba-tiba Sakura menangis tanpa sebab. Apakah yang terjadi? Baca di chap ini, ya!

2 Chapter terakhir!


Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'

Uye! \(o.o)/

Balasan riview, ada di bawah, ya!

Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!

Jangan Lupa RnR-nya, ya!

So, Enjoy It!


Cerita Sebelumnya:

Sakura jadi korban penipuan sebuah toko online yang bernama 'Chicken Butt Shop'. Yang akhirnya Sakura harus menemui si penipu tersebut yang tinggalnya tidak dekat dengan kotanya sekarang. Dan lebih parahnya, sang penipu tidak mengakui perbuatannya.

Dan karena cowok penipu online tersebut, Sakura harus mengalami banyak hal. Tapi ternyata yang menipu Sakura bukan orang yang bernama Sasuke yang memiliki akun 'pangeran hn'.

Sasuke berjanji akan menemukan orang yang telah meipu Sakura, tapi tiba-tiba keesokan harinya Sakura menangis tanpa sebab. Apakah yang terjadi?


LOO Chapter 3:

"Hiks! Hiks!"

Suara tangisan tersebut semakin jelas tertangkap indera pendengaran Sasuke. Ia pun bangun dari sofanya yang semalam menjadi ranjangnya. Wajah Sasuke sempat terkejut saat melihat seorang gadis yang tidur di lantai samping sofa dengan memeluk lututnya sendiri yang ditekuk. Gadis pink tersebut juga mengeluarkan suara isakan. "Hey, kau kenapa?" tanya Sasuke yang mendekati Sakura.

Sakura mendongakkan kepalanya untuk melihat Sasuke. Air matanya sudah membasahi wajahnya serta dagunya, bahkan matanya sudah sembab. "Hiks! Hiks! Hwwuaaaaa!" Bukannya menjawab, Sakura justru menambah volume tangisnya.

Sasuke semakin bingung saja saat Sakura menambah volume tangisnya. Jujur saja, Sasuke sebelumnya belum pernah mehangdapi cewek nangis dan bagaimana cara menenangkannya.

Kriiiinggg…..

Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Sakura pun langsung menghentikan tangisnya. Ternyata yang berbunyi adalah ponsel Sakura. Sakura segera meraih ponsel yang ada di dalam ranselnya. "Oh, my God!" pekiknya begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Sasuke benar-benar bingung. Rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri karena ia baru saja berpikir bagaimana cara untuk menenangkan Sakura yang menangis, tapi sekarang Sakura malah bisa merubah suasana hatinya dengan mudahnya begitu mendapat telpon dari seseorang. Padahal sebelumnya ia tak pernah memerdulikan seorang gadis. Tapi tunggu dulu! Siapa yang menelpon Sakura sehingga bisa membuat Sakura diam dari tangisnya? Sekarang pertanyaan itulah yang ada di benak Sasuke.

Sakura segera berdiri dan merapikan penampilannya seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan orang yang menghubunginya tersebut. Sakura mengelap air matanya yang sudah membasahi seluruh wajah dan dagunya. "Ehem!" Bahkan ia mengetes suaranya sebelum menekan tombol hijau untuk menjawab panggilannya. "Iya, Kaa-san. Ada apa menelponku?" tanya Sakura pada ibunya yang ada di seberang telpon.

"Tidak, aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja," jawab Ibu Sakura.

"Aku di sini baik-baik saja, kok," jawab Sakura.

"Lalu, bagaimana dengan sekolahmu di sana?" ibu Sakura kembali bertanya.

"Aaa… ini aku sedang ada pelajaran tambahan pagi. Jadi aku tidak bisa lama-lama," jawab Sakura berbisik-bisik seolah sedang mengikuti pelajaran. "Sakura! apa yang kau lakukan? Perhatikan pelajarannya!" Sakura berseru menirukan suara gurunya, seolah ia sedang ditegur guru karena tidak memerhatikan pelajaran. "Iya, Kurenai-sensei!" seru Sakura seolah menyahuti sang guru.

"Tuh, kan! Aku sudah ditegur Kurenai-sensei, Kaa-san. Lain kali kita sambung lagi, ya. Sekarang Sakura mau beajar dulu. Daagh, Kaa-san!" buru-buru Sakura mematikan sambungan telponnya sebelum ibunya menyela kalimatnya dan bertanya macam-macam. Apalagi ibu Sakura sangat peka terhadap sesuatu yang berbau tidak beres. "Hah~ aman," helanya lega setelah meletakkan kembali ponselnya ke dalam ranselnya.

Sedangkan Sasuke? Ia sempat tersenyum geli karena melihat tingkah konyol Sakura saat membohongi ibunya. Apalagi saat bagian Sakura menirukan suara gurunya dan menjawab gurunya. Seperti orang gila, bertanya sendiri dan dijawab sendiri. Ya begitulah.

"Kenapa?" tanya Sakura saat melihat Sasuke menatapnya dengan aneh.

"Kau sedang apa? Membohongi ibumu?" ejek Sasuke.

"Uh, bukan urusanmu!" sinis Sakura.

Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena bingung. Ia benar-benar bingung dengan gadis pink yang ada di depannya ini. beberapa detik yang lalu, gadis itu menangis terisak tanpa sebab. Lalu ia tiba-tiba terlihat biasa. Lalu berikutnya, mood-nya berubah jadi sinis saat Sasuke menatapnya. "Ohya, tadi kenapa kau meangis?" tanya Sasuke melanjutkan pertannyanya yang tadi sempat tertunda.

"Ha?" sahut Sakura bingung. Ia berpikir sejenak. Lalu… "Huwaaa…. Saskey…!" jerit Sakura kembali menangis dengan kerasnya sambil menyebut nama Sasuke dengan tidak benar.

Sasuke harus menghela nafas karena penyebutan namanya yang tidak tepat. "Sasuke, S-A-S-U-K-E!" koreksi Sasuke dengan mengeja namanya.

"Huwaaaa…!" tidak ada tanggapan dari Sakura. Malah Sakura terus menangis.

"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Sasuke yang tidak lagi mempermasalahkan namanya.

"Hiks!" dengan masih terisak, Sakura berjalan ke sofa dan duduk di sana. "Semalam… aku terbangun… lalu…" Sakura pun mulai bercerita. "Begitu aku bangun dari tidurku, aku sudah ada di ranjangmu. Jelaskan! Kenapa bisa seperti itu?" tanya Sakura menatap Sasuke.

"Hn, aku yang memindahkanmu," jawab Sasuke seperlunya.

"Oh. Kau benar-benar baik, ya," ucap Sakura dengan melempar senyum. Suasana hatinya sepertinya mulai membaik.

"Lalu apa masalahmu?" tanya Sasuke yang tidak menangkap penyebab Sakura menangis.

"Ha? Tidak ada masalah," jawab Sakura dengan innocent-nya.

Sasuke memijit pelipisnya pelan. "Hah! Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Sasuke mencoba bersabar.

"Ah iya!" seru Sakura begitu teringat sesuatu. "Itu gara-gara semalam aku bangun lalu melihat netbook-ku. Kau tahu kan, kalau aku semalam merecovery memoriku?" tanya Sakura.

"Hn." Sasuke hanya menanggapi sekedarnya.

"Setelah menunggu lama, prosesnya selesai. Lalu aku mau save itu data, tapi…" Sakura pun mulai bercerita.

Flashback On

Begitu bangu, Sakura langsung lari ke netbooknya yang sudah ia nyalakan semalam demi untuk merecovery data memorinya. "Wah, akhirnya sudah selesai juga!" pekik Sakura senang begitu proses recovery sudah complate. Lalu ia mengklik kata 'next' pada kotak dialog program recovery tersebut.

"Eh, tadi kayaknya ada tulisan sesuatu," gumam Sakura sambil mengerutkan keningnya. Dan karena penasaran, Sakura akhirnya mengklik 'back' hanya untuk melihat halaman sebelumnya tanpa menyimpan hasil data yang sudah direcovery.

"Oh," gumam Sakura pelan begitu terobati rasa penasarannya. Kemudian Sakura kembali mengklik 'next' untuk kembali ke hasil recovery. Tapi begitu ia masuk ke step berikutnya, bukanlah hasil recovery yang terpampang, melainkan proses awal recovery file.

"Lho? Mana hasil recovery-ku tadi?" tanya Sakura panik. "Ya ampun! Hasil recovery-ku tadi belum sempat aku save. Astaga!" Ia kembali mencoba mengklik beberapa tombol agar ia bisa kembali ke hasil recovery tadi, tapi sama sekali Sakura tak menemukan hasilnya.

"Aaa…" Sakura benar-benar syok. Bahkan mulutnya hanya bisa menganga tak mampu mengeluarkan satu katapun. "Hiks!" Tiba-tiba Sakura terisak dengan bentuk bibir yang menjadi abstrak. "Hiks! Masa aku harus mulai dari awal, sih!? Kan lama! Hiks!" seru Sakura frustasi sambil terisak dan menjambak rambut pink-nya.

Flashback Off

"Huwaaaa…!" Sakura kembali menangis begitu selesai dengan ceritanya.

Ya, begitulah. Sakura berniat mengembalikan semua data memorinya yang hilang dengan program recovery. Dan semalam ia menunggu sampai ia rela menyalakan netbooknya semalam suntuk hingga proses complete.

Hanya satu kesalahan yang dibuat Sakura. Tanpa berjaga-jaga menyimpan file yang sudah ditemukan terlebih dahulu, ia mengklik step sebelumnya yang artinya ia kembali ke langkah awal sebelum proses recovery. Begitu Sakura ingin kembali ke step dimana hasil penemuan filenya, program tersebut malah mengulangi proses mencari file dan hasil file yang ditemukannya tadi hilang begitu saja. Sia-sia sudah penantian Sakura semalam.

Sasuke menatap Sakura dengan pandangan bingung. "Jadi… kau menangis hanya karena kehilangan file yang lupa kau simpan?" tanyanya tak percaya. Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Ternyata yang membuat Sakura menangis adalah hal yang sangat sepele.

"Kau bilang 'hanya'?" tanya Sakura tak terima. "Coba bayangkan jika kau download puluhan anime, episode demi episone kau kumpulkan. Lalu memori yang kau gunakan untuk menyimpan semua itu rusak sehingga semua datanya hilang, termasuk puluhan anime itu. Lalu apa yang akan kau lakukan saat itu terjadi padamu?" tanya Sakura menggebu-nggebu sambil menatap Sasuke. "Kau pasti frustasi dan ingin semua data itu kembali, kan? Kau pasti akan berusaha untuk memperbaikinya, kan? Lalu setelah semua kembali, tapi kau lupa menyimpan semua data itu dan semua hilang kembali. Apa kau akan baik-baik saja setelah itu, ha!?" tanyanya lagi dengan sedikit menaikkan nadanya. Sakura sedikit kesal dengan komentar Sasuke barusan. Yang mengucapkan 'hanya' bagi sesuatu yang sangat berarti untuk Sakura. Wajar saja jika Sakura merasa sedih sekali. Sakura kembali menangis sambil menundukkan kepalanya.

Sasuke hanya diam. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Tapi entah mengapa dalam hatinya ia sedikit merasa bersalah pada Sakura. Oh, ya ampun. Sebelumnya Sasuke tidak pernah merasa bersalah seperti ini. Ia selalu cuek bebek pada semua gadis, bahkan kadang Sasuke juga bersikap kasar pada mereka, tapi kenapa begitu ia mengucapkan satu kata saja yang menyinggung Sakura, ia jadi merasa bersalah saat melihat air mata gadis ini? Sasuke mengulurkan tangannya hendak meraih kepala pink Sakura, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Seketika ia pun menarik kembali tangannya.

Sasuke beranjak dari tempatnya kemudian mengambil ponselnya. "Ya, Genma-san!" sahutnya. "Sudah ketemu?" tanya Sasuke meyakinkan.

Sontak Sakura yang mendengar pembicaraan Sasuke pun menghentikan tangisnya dan mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. "Ada apa?" tanyanya begitu Sasuke menutup telponnya.

"Penipu itu sudah ketemu," jawab Sasuke meletakkan ponselnya.

Seketika sebuah senyum terukir jelas di bibir Sakura. "Benarkah?" tanyanya girang setengah tak percaya. Suasana hatinya benar-benar mudah sekali berubah. Padahal beberapa detik yang lalu ia merengek dan menangis kencang seperti seorang bocah yang terpisah dari orang tuanya di Mall. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya berubah berseri dan menampilkan sebuah senyuman tanpa menyisakan kesedihannya sedikitpun.

"Hn," jawab Sasuke singkat dan sedikit bingung. Ia bingung dengan perubahan suasana hati Sakura yang begitu cepat. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis tersebut. "Kau mandilah dulu, lalu kita akan menemuinya," perintahnya.

Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Kita? Tidak perlu. Cukup aku sendiri saja yang menemuinya. Kau kan harus sekolah," ucap Sakura. Sakura sudah banyak merepotkan Sasuke, jadi ia tidak mau lebih merepotkannya lagi.

"Penipu itu satu sekolah denganku. Dan dia adalah orang yang tidak menyukaiku," sahut Sasuke menyiapkan peralatan sekolahnya.

Sakura tersenyum geli. "Ternyata ada juga yang tidak suka padamu, ya? Aku kira semua orang di sekolahmu itu menyukaimu," ucap Sakura sedikit mengejek.

"Tuhan saja ada yang tidak suka. Apalagi aku yang hanya manusia," balas Sasuke.

"Ooh… ternyata kau bijak juga," ucap Sakura sedikit tertawa. "Maka dari itu, kau jangan suka menyombongkan diri," nasehatnya.

Sasuke menaikkan sebelah alis. Ia merasa selama hidupnya ini tidak pernah merasa menyombongkan diri. "Kapan aku sombong?" tanyanya tanpa dosa.

"Itu salah satunya. Orang sombong tidak pernah mengakui bahwa dirinya sombog. Lalu, kau selalu menyebut dirimu ini tampan dan sebagainya. Kalau bukan sombong, lalu apa namanya?" sergah Sakura.

"Kenyataan," jawab Sasuke singkat. Sakura mengerutkan keningnya. "Aku mengatakan bahwa diriku tampan karena itulah kenyataannya. Semua orang tahu itu," terang Sasuke lalu tersenyum dengan gaya coolnya.

Sakura mengaggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum geli. "Aku kira orang yang tidak waras di dunia ini hanya aku saja. Ternyata…" Sakura menatap Sasuke lalu tertawa. Seketika Sasuke langsung menatap Sakura dengan tajam. "Hehe… aku mandi dulu, ya!" pamit Sakura sambil nyengir lalu kabur ke kamar mandi.

_LOO_

"Bajumu ada di meja," kata Sasuke begitu Sakura keluar dari kamar mandi dengan baju yang sama.

Saat mereka berpapasan, Sasuke bisa mencium aroma sabun yang biasa dipakainya dari tubuh Sakura. Sasuke pun menghirup aroma sekitar Sakura dengan dalam. Sensasi sabun yang menguar dari tubuh Sakura dengan tubuhnya sangat berbeda. Rasanya Sasuke ingin sekali memeluk gadis di sampingnya ini hanya sekedar merasakan aroma sabunnya yang melekat pada tubuh Sakura. Tapi untung saja logikanya masih mengambil alih tubuhnya sehingga ia tak melakukan hal yang konyol. Apa itu artinya Sasuke lebih suka dengan aroma tubuh Sakura? Entahlah. Kemudian Sasuke pun masuk ke kamar mandi. "Kalian para perempuan, apa memang selalu lama saat mandi?" sindir Sasuke sebelum ia menutup pintu.

"Bagaimana aku bisa bergerak bebas jika satu tanganku patah!" seru Sakura kesal sedikit menyindir Sasuke.

Sakura langsung menghampiri meja belajar Sasuke. Di sana ada 2 pasang baju yang terbungkus plastik dengan rapi. Yang satu bajunya sendiri dan yang satunya seragam sekolah, mungkin seragam Sasuke. "Wah, hotel rampok ini hebat juga, ya?" kekehnya sambil menyentuh bajunya yang sudah bersih.

"Jangan pakai bajumu!" seru Sasuke dari dalam kamar mandi.

"Ha?" Sakura menghampiri kamar mandi Sasuke dengan cepat lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan kesal. "Apa kau mau ngajak berantem lagi, ha?!" tanyanya emosi.

"Maksudku, kau pakai seragam yang sudah kupersiapkan di meja," jawab Sasuke.

"Hah, kau ini. kalau bicara itu yang jelas! Jangan setengah-setengah! Bikin salah paham saja!" gumam Sakura. "Terus, kenapa aku harus pakai seragam itu?" tanyanya.

"Sekolahku itu tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang," jawab Sasuke.

Sakura mengangguk. Apa yang dikatakan Sasuke memang benar. Sakura masuk ke sekolah itu kemarin saja susahnya minta ampun. Tanpa protes lagi, Sakura pun berganti baju dengan seragam sekolah Konoha High School.

Beberapa menit hanya ada keheningan di kamar Sasuke yang lumayan luas tersebut. Kemudian keheningan tersebut terpecahkan oleh seruan Sakura yang baru saja keluar dari balik bilik. "Wow, ini keren!" serunya girang.

Sasuke juga baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia melihat Sakura yang sudah mengenakan seragam sekolahnya. Dari bawah ke atas, dari atas ke bawah. Menurutnya, Sakura sangat cocok memakainya. Apalagi rok yang pendeknya 15 cm di atas lutut itu, begitu indah terpasang di kaki mulus nan putih milik Sakura.

Sakura melihat ke arah Sasuke yang terlanjang dada. Sepertinya Sakura mulai terbiasa dengan ketelanjangan dada Sasuke. "Rok di sekolahku hanya boleh 10 cm di atas lulut. Bagaimana menurutmu? Cocok tidak?" tanya Sakura meminta pendapat Sasuke.

"Tidak!" tegas Sasuke kemudian pergi ke bilik untuk memakai seragamnya juga.

Sakura merengutkan bibirnya. "Uh~ tidak bisakah kau sedikit berbohong hanya sekedar menyenangkan hati seorang wanita? Dasar!" kata Sakura yang kemudian membereskan barang-barangnya.

_LOO_

Semua sudah beres. Sakura sudah mengenakan sepatu yang juga sudah disediakan oleh Sasuke. Ia juga sedikit menata rambut pinknya. Sekarang penampilan lebih feminim dan anggun.

Begitu pula dengan Sasuke yang sudah mengenakan seragam, tas, dan sepatunya. Seperti biasa, penampilannya sangat menawan dan keren. Setiap ia muncul, pasti akan terdengar suara teriakan para gadis yang meneriaki namanya.

Saat melangkah keluar, Sakura sedikt ragu. Lalu ia lari kembali masuk ke dalam untuk mengambil bolpoin Sasuke yang ada di meja belajar Sasuke. "Aku pinjam, ya!" itu bukan sebuah permintaan tapi pemaksaan. Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, Sakura lalu menggulung rambutnya dan menancapkan bolpoin berwarna biru dongker itu ke rambutnya. Ohya, Sakura juga mengeluarkan kacamata hitamnya kemudian memakainya.

"Kenapa harus memakai itu segala?" tanya Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Aku ini sudah jadi buronan di sini. Jadi, aku harus menyembunyikan rambut pinkku yang mencolok ini," jawab Sakura. Ternyata Sakura sendiri juga mengakui kalau rambut pinknya tersebut mencolok. "Ohya, kita keluar sendiri-sendiri saja. Lalu kita ketemu lagi di jalan depan hotel, oke?" Sakura mengacungkan jempolnya, tapi tak ada balasan dari Sasuke. Sasuke hanya cuek. "Hah~ tinggal ngacungin jempol gini aja susah!" katanya sambil mengatur tangan Sasuke agar mengacungkan jempolnya. "Baiklah, sampai ketemu lagi, Sasuke!" ucap Sakura kemudian berlari mendahului Sasuke. "Ohya! Namaku Sakura!" seru Sakura kemudian sebelum ia berbelok. Sasuke hanya tersenyum tipis saat Sakura sudah tak terlihat lagi.

_LOO_

Sakura dan Sasuke sekarang sudah sampai di depan gerbang sekolah. Tapi mereka masih belum keluar dari taksi. Sakura melempar senyum anehnya pada Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya mengerutkan keningnya, curiga dengan perilaku aneh Sakura tersebut. Sepertinya tinggal semalam dengan Sakura membuat Sasuke sedikit mengenali sifat Sakura. "Hehe… termakasih atas tumpagannya!" seru Sakura kemudian dengan cepat keluar dari taksi sebelum Sasuke menyurhnya untuk membayar taksi.

"Selamat pagi, Pak satpam yang tampan!" sapa Sakura begitu melewati satpam sekolah yang kemarin ia temui. Sakura bisa masuk ke dalam tanpa halangan. Sebelum ia menyelesaikan masalahnya, Sakura ingin sekali melihat lihat-lihat keliling sekolah. Kemarin ia terlalu stres sehingga belum sempat menimati keindahan Konoha High School ini.

Rambut Sakura yang indah terhampar di bahunya begitu ia melepas bolpoin Sasuke dari rambutnya. Ia juga menyematkan jepit rambut kecil untuk memperindah penampilannya.

Sakura menelusuri lorong kelas yang sepertinya tidak begitu ramai. "Kenapa sepi? Ini kan sudah mau bell masuk," gumamnya bingung.

Greb!

Tiba-tiba ada tangan kekar yang menahan lengan kanan Sakura. "Aw!" pekiknya begitu ia merasakan nyeri. Sakura segera menoleh ke belakang untuk melihat orang yang sudah membuatnya kesakitan. "Apa—" Sakura tersentak kala melihat seorang laki-laki berambut merah dengan mata hezelnya. "Sasori…" gumamnya pelan.

"Ternyata benar. Waktu itu kau, Sakura," ucap laki-laki yang dipanggil Sakura dengan Sasori. Sasori sempat kaget dan terpesona dengan perubahan Sakura semenjak terakhir mereka bertemu 1 tahun yang lalu. Sangat berbeda.

"Eh, sakit!" Sakura berusaha melepas cengkraman Sasori. Setelah saori melepas tangannya, Sakura berbalik menghadap Sasori. Ia memasang senyum sengitnya. "Jadi, ada perlu apa?" tanyanya to the point.

"Aku tidak menyangka kau jadi cantik seperti ini," ucap Sasori memperhatikan penampilan Sakura.

"Jadi maksudmu, dulu aku tidak cantik, begitu?" tanya Sakura kesal. Karena kesal, Sakura lalu menginjak kaki Sasori dengan keras, sangat keras. "Rasakan!"

"Aw!" pekik Sasori kesakitan. "Ka-kau masih ganas seperti dulu," ucapnya menahan rasa sakit.

"Ya, sekarang bahkan aku lebih ganas," jawab Sakura dengan seringai. "Jadi, jangan macam-macam denganku! Dasar playboy!"

Sasori menatap Sakura dengan inten. "Tapi, aku suka," katanya dengan menarik sudut bibirnya. Sakura hanya diam tak menanggapi. "Jadi, kau berubah karena aku?" tanya Sasori dengan percaya dirinya.

Sakura menaikkan sudut bibirnya. "Sorry sorry to say, ya! Aku berubah karena aku sendiri, dan demi diriku sendiri," tegasnya.

"Lalu, kenapa kau ada di sekolah ini? Kau mencariku?" tanya Sasori lagi.

"Iiihh… PD banget, sih! Aku ke sini yang jelas bukan mencarimu atau apa, tapi aku ke sini memang sedang ada urusan," jawab Sakura.

Sasori mendekat ke arah Sakura. Otomatis Sakura pun memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak dinding. 'Sial! Kenapa jantungku masih berdebar-debar?' rutuk Sakura dalam hati.

"Aku tahu, kau masih menyukaiku," bisik Sasori kemudian meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Sakura. begitu pula tubuh Sasori semakin menghimpit tubuh Sakura yang kecil.

"Kau… cepat menyingkir dariku!" ucap Sakura memperingatkan. Ia hanya bisa menahan dada Sasori yang semakin menghimpitnya dengan tangan kirinya saja.

Lorong begitu sepi sehingga Sasori bisa berbuat semaunnya tanpa takut. Sakura tidak bisa menggerakkan badannya. Apa benar yang dikatakan Sasori bahwa ia masih menyukai Sasori? Wajah Sasori semakin dekat dengan wajah Sakura. Karena takut, Sakura memejamkan matanya rapat-rapat.

Tap tap tap

Bruk

Cup

Sakura mendengar suara gaduh dan ia merasa tubuhnya semakin terhimpit. Dan karena penasaran, Sakura pun segera membuka matanya. Seketika matanya membelalak begitu melihatnya seorang pemuda tinggi yang sangat ia kenali berdiri membelakanginya. "Sas-Sasuke…"

Kejadiannya begitu cepat sehingga tidak bisa dihindari. Sasuke yang melihat Sakura dalam keadaan terancam dengan cepat berjalan mendekati Sakura dan Sasori. Tanpa pikir panjang, Sasuke langsung menyasak ke tengah-tengah Sakura dan Sasori hingga tak bisa dielakkan lagi bibir Sasori yang sudah siap menyerang Sakura. Karena kedatangan Sasuke lah, sehingga bibir Sasori malah nyasar mendarat di leher kiri Sasuke.

"Bweeh! Bweehh!" Sasori beberapa kali mengelap lidahnya jijik.

"Sial!" Hanya umpatan itulah yang keluar dari bibir Sasuke setelah leher perjakanya dikecup oleh Sasori. Beberapa kali juga ia mencoba mengelap lehernya dengan tangannya untuk menghilangkan bekas, aroma dan segala perasaan geli Sasuke dari bibir Sasori.

Sedangkan Sakura hanya bisa menganga tak percaya karena baru saja ia melihat sendiri Sasori mencium leher Sasuke, yang juga sesama cowok. Ia bernar-benar ikut prihatin dengan apa yang baru saja Sasuke alami. "Hamp—Huwahahaha!" Tapi tetap saja Sakura tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya. Adegan tadi membuat Sakura tidak bisa menghentikan tawanya. "Hahaha… kalian cocok sekali. Wah wah wah…" ejek Sakura yang masih terus tertawa terbahak-bahak.

Sasuke seketika menatap Sakura dengan pandangan mematikan, tapi tetap saja Sakura tidak menghentikan tawanya. Sasuke menggenggam tangan kiri Sakura dan hendak mengajaknya untuk segera pergi dari tempat tersebut.

"Eh, tunggu!" cegah Sakura. Ia melepaskan tangannya dari Sasuke kemudian berjalan mendekati Sasori.

Di sana Sasori terlihat tersenyum dengan percaya diri. "Jadi, kau mau kembali padaku?" tanyanya dengan penuh percaya diri. Sakura tersenyum sangat manis.

Bugh!

"Ahks!" Sasori seketika menunduk memegangi perutnya yang baru saja dihantam oleh tinju Sakura yang tidak pelan.

"Hadiah untukmu," ucap Sakura sambil menyeringai penuh kemenangan. "Bye bye… Week!" Sakura menjulurkan lidahnya mengejek Sasori yang kesakitan. Sakura pun kembali berjalan ke arah Sasuke, menggamit lengan kanan Sasuke. "Hehe… puasnya…" gumam sakura kemudian berlalu.

"Sial! Aku pasti akan mendapatkanmu, Sakura," gumam Sasori pelan saat melihat Sakura pergi bersama Sasuke.

_LOO_

"Bagaimana?" tanya Sakura menahan tawanya.

"Apa?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Kecupan dari Sasori. Emmmuach… Hahaha…" goda Sakura dengan tawa yang meledak kembali.

Sasuke tidak menanggapi Sakura. Ia hanya terus mengelap leher kirinya mencoba menghilangkan bekas ciuman Sasori dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih bergandengan dengan Sakura tanpa mereka sadari.

Sakura menghentikan langkahnya sehingga tangan Sasuke yang ia genggam tertarik. "Ada apa?" tanya Sasuke. Tapi Sakura tak menjawab pertanyaan Sasuke. Sakura hanya mengisyaratkan Sasuke untuk mendekat. Sasuke pun mendekat. Sekali lagi Sakura memberi isyarat pada Sasuke. Kali ini Sakura menyuruh Sasuke untuk merendahkan kepalanya.

Cup.

Dengan cepat Sakura mengecup leher Sasuke tepat di bekas ciuman Sasori. Sakura hanya tersenyum manis ke arah Sasuke yang melihatnya penuh tanya. "Bagaimana?" tanyanya.

Sasuke mengalihkan wajahnya dari Sakura. Mungkin sekarang di kedua pipinya ada sedikit rona merah. "Daripada dicium sesama laki-laki, lebih mending dicium seorang preman gadis," jawabnya.

"Uh, tidak sopan!" kata Sakura kemudian berjalan kembali dan secara otomastis tangan Sasuke yang masih digenggamnya pun tertarik sehingga mau tidak mau, Sasuke ikut jalan. Entah sadar atau tidak, yang pasti diantara Sakura dan Sasuke masih dengan erat menautkan jari-jari mereka satu sama lain. Tak ada yang ingin melepasnya. Tidak dengan Sasuke, maupun Sakura.

"Sebenarnya apa hubunganmu dengan playboy itu?" tanya Sasuke.

"Mau tahu aja, atau mau tahu banget?" goda Sakura sambil cengingisan.

"…" Tapi sayang sekali Sasuke tak menanggapi candaan Sakura.

"Ternyata kau benar-benar robot, ya?" cibir Sakura kesal. "Hah~ kau benar-benar nggak asyik!" keluhnya sambil memajukan bibirnya beberapa centi. "He! Sebenarnya kau ini niat tanya nggak, sih?" kesal Sakura seraya menyenggol lengan kanan Sasuke dengan lengan kirinya.

"Jawab saja pertanyaanku!" titah Sasuke tanpa memandang Sakura.

"Ya. Sebenarnya Sasori itu, err… bisa dibilang dia itu mantan pacarku," jawab Sakura dengan senyum garing.

"Kau bisa pacaran dengan playboy itu?" tanya Sasuke tak percaya. Bagaimana bisa Sakura yang seperti preman ini termakan rayuan basi Sasori?

"Ya memang sulit dipercaya jika kau melihat diriku yang sekarang. Tapi waktu itu aku yang dulu bukan aku yang sekarang. Kau sendiri juga pernah bilang kalau aku ini orang yang mudah percaya dengan orang lain. Sebenarnya itu benar. Ya begitulah. Ahh, sudahlah! Aku tidak mau membahasnya lagi!" Sakura malah menjadi kesal sendiri. "Ohya, dari tadi aku keliling lorong sekolah kelihatan sepi. Semua orang kemana?" tanya Sakura sambil celingak celinguk ke sekeliling dan juga mengganti topik pembicaraan.

"Setiap 3 minggu di akhir pekan, sekolah kami mengadakan pensi dan kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Jadi semua orang sekarang ada di aula," jawab Sasuke.

"Wow, keren! Kita ke sana, yuk!" ajak Sakura antusias sambil menarik tangan Sasuke. Tapi Sasuke sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Sakura menaikkan sebelah alisnya lalu melihat Sasuke.

"Bukankah kau kesini untuk mencari orang yang telah menipumu?" tanya Sasuke.

"Iya, tapi setidaknya sebelum aku pergi, aku ingin senang-senang dulu di sini," jawab Sakura. "Ayolah, Sasuke. Hari ini aku harus pulang, sehari saja kau turuti aku. Aku sangat ingin sekali melihat pensi di sekolah ini. Pasti keren. Ya ya ya?" bujuk Sakura.

"Ya… terserah kau sajalah," jawab Sasuke malas.

"Yess!" Seru Sakura girang.

Saat Sakura dan Sasuke hendak berbelok, mereka berpapasan dengan seorang pemuda berambut kuning jabrik. Sasuke dan pemuda itu bertemu pandang. Terlihat seklali bahwa mereka berdua sangat terkejut. Dan terlihat juga dari mata si pemuda jabrik, bahwa ia terlihat ketakutan saat melihat Sasuke dan Sakura. Matanya melihat Sakura dan Sasuke secara bergantian dengan cemas. Dan tanpa ba bi bu, pemuda itu langsung mengambil langkah seribu untuk menghindar.

"Hey!" seru Sasuke yang mencoba memanggil pemuda itu. Tapi tetap saja pemuda jabrik itu tidak mau berhenti. "Cepat kau kejar orang tadi! Aku akan memotong jalannya lewat jalan lain!" perintah Sasuke.

Sebenarnya Sakura bingung buat apa Sasuke menyuruhnya untuk menanggkap orang tadi? Tapi akhirnya Sakura pun mengangguk patuh dan segera mengejar pemuda jabrik tadi. Sakura masih terdiam. 'Bukankah orang tadi itu Naruto?' tanyanya dalam hati. 'Lalu kenapa Sasuke menyuruhku untuk mengejarnya?' tanya Sakura lagi dalam hati. Ia benar-benar tidak mengerti.

"Hey, kau dengar aku tidak?!" seru Sasuke kesal dengan Sakura yang malah melamun.

"Aa… tap—"

"Cepat kejar!" potong Sasuke dengan nada tinggi lalu ia berbalik arah untuk mencari jalan pintas.

"I-iya!" jawab Sakura kaget. Sakura memanyunkan bibirnya kesal. "'Cepat kejar!' dia bilang? Memang siapa dia? Main perintah seenak jidatnya," dumel Sakura yang masih belum bergerak dari tempatnya.

"Sudah kuduga."

"Aarrg!" pekik Sakura kaget karena tiba-tiba terdengar suara di belakangnya. Keringat Sakura mulai keluar kala dilihatnya Sasuke berdiri tepat di belakangnya.

"Kau tadi bilang apa?" tanya Sasuke dengan tampang horrornya.

Sakura memasang cengiran kudanya. "Hehehe… tadi aku bilang 'aku akan segera menangkapnya!' ya, begitu," jawab Sakura bohong masih memasang cengirannya.

"Tunggu apa lagi? Cepat cari!" perintah Sasuke.

"Iya iya! Aku cari!" jawab Sakura kesal menahan emosi.

Duk!

"Aks! Hey!" seru Sasuke setelah Sakura menendang betisnya dengan keras.

"Rasakan!" seru Sakura yang sudah melarikan diri. Tapi sebelum jauh, ia membalikkan badanya ke arah Sasuke. "Enak saja menyuruhku! Cari saja sendiri! Week!" serunya lalu mnejulurkan lidahnya mengejek Sasuke yang masih kesakitan.

"Sial!" umpat Sasuke.

_LOO_

Sakura celingak-celinguk sendiri di lorong kelas. Walaupun ia kesal, tapi ia masih mau berbaik hati mebantu Sasuke untuk mencari Naruto. "Aha! Mungkin saja ia ada di Aula!" seru Sakura mengacungkan telunjuk kirinya seolah baru saja ada sebuah bolam yang menyala di atas kepalanya. Tapi kemudian wajahnya berubah kusut. "Tapi aku kan tidak tahu letak Aula dimana," gumamnya menunduk lemas.

"Biar kuantar." Terdengar sebuah suara bariton dari depan Sakura.

Sepertinya Sakura kenal suara itu. Sakura lalu menegakkan kepalanya untuk melihat si pemilik suara tersebut. Dan benar dugaannya, suara itu milik Sasori. "Sebenarnya kau ini mau apa, sih?" tanya Sakura memutar bola matanya malas.

"Hanya ingin mengantarmu ke Aula," jawab Sasori memasang senyum manis tapi palsu.

"Tidak perlu!" tolak Sakura kasar kemudian melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu, tapi jalannya dihalangi Sasori. Sakura mencoba bersabar dan mengambil sisi jalan yang lain, tapi lagi-lagi Sasori menghalangi jalannya. Sakura menengadahkan kepalannya untuk menatap Sasori yang lebih tinggi darinya. "Apa kau masih belum puas dengan 'hadiahku' tadi, ha?" tanyanya dengan sengit.

"Aku tidak akan puas sebelum kau kembali ke sisiku lagi," jawab Sasori dengan senyumnya yang lagi-lagi membuat Sakura muak.

Sakura berdecih. "Dalam mimpimu!" seru Sakura kembali melayangkan tinju kirinya untuk yang kedua kalinya pada Sasori.

Puk.

Tapi sayang, tangan Sakura justru ditangkap Sasori. Sakura hendak menarik tangannya, tapi tidak bisa. Sasori menggenggam kepalan tangannya dengan kuat. "Lepaskan!" perintah Sakura dengan menatap tajam Sasori. Tapi Sasori justru menyeringai. "Kyaa!" pekik Sakura saat tiba-tiba tangannya yang masih dalam genggaman Sasori ditarik oleh Sasori sehingga punggung Sakura menubruk dada Sasori dan tangan Sasori melingkar di leher Sakura.

"Aaks!" Sakura juga terpekik pelan saat tangan kanannya yang cidera ditekuk Sasori ke punggungnya. Sakura tak sanggup membayangkan keadaan tangan kanannya yang sekarang. Rasanya sakit sekali. Bahkan Sakura sampai menggingit bibir bawahnya untuk menahan sakit. "Lepaskan!" Sakura masih mencoba memberontak, tapi kekuatan Sasori jauh lebih kuat darinya.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi," bisik Sasori tepat di depan telinga Sakura.

"Kyaa! Sasori-kun!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari segerombolan gadis yang baru saja muncul dan melihat Sasori.

"Gawat!" gumam Sasori yang mulai cemas.

Drap drap drap.

"Sasori-kunnn! I love you!" Sontak gerombolan gadis-gadis tersebut berlari ke arah Sasori. Sasori pun melepaskan cengkraman pada Sakura dan mengambil langkah seribu, mencoba menghindar dari fansgirlsnya.

Akhirnya Sakura dapat bernapas lega setelah Sasori serta fansgirlsnya itu pergi. "Hah~" helanya.

Bruk!

Tiba-tiba kaki Sakura lemas hingga ia jatuh berlutut. "Hey, kau tidak apa-apa?" Muncullah seorang pemuda berambut kuning jabrik menghampiri Sakura.

Sakura menegakkan kepalanya. "Naruto…" gumamnya lemas.

Naruto yang cemas dengan keadaan Sakura pun mencoba membantu Sakura. "Kau kenapa?" tanyanya.

"Hey! Kau apakan dia?!" Tiba-tiba datang lagi seorang pemuda putih berambut style ala ayam—Sasuke. Ia kemudian berlari mendekati Sakura. "Hey, apa kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke yang terlihat khawatir.

Sakura hanya diam dan terlihat sedang menahan sakit. "Aa…" Ia mulai mengatakan sesuatu.

"Apa?/Apa!" tanya Naruto dan Sasuke serempak.

Sakura memandang kedua pemuda yang ada di depannya ini dengan bergantian. "A-aku… La…" Sasuke dan Naruto masih setia menunggu kelanjutan kalimat yang akan dikeluarkan Sakura dengan was-was. "Aku… la… par! Lapar." Akhirnya kata terakhir Sakura keluar juga dan berhasil membuat kedua pemuda tampan di kedua sampingnya sweatdrops.

"Bodoh!" Sakura menyentil jidat lebar Sakura pelan tapi terasa sakit.

"Aw!" pekik Sakura memegangi jidatnya. "Aku kan belum makan sejak kemarin malam," ucap Sakura melakukan pembelaan.

Sasuke kemudian berdiri. "Hah, baiklah. Kita makan dulu," ujarnya tanpa melihat Sakura. "Apa?" tanyanya saat Sakura menarik ujung kemeja seragamnya.

Sakura mengulurkan kedua tangannya ke arah Sasuke. "Gendong~" gumamnya manja.

Sasuke mendesah pelan kemudian melepas ransel Sakura dan menyerahkannya pada Naruto untuk membawakannya. Ia menyelipkan tangannya di bawah kak dan di balik punggung Sakura, Sasuke menggendong Sakura dengan bridal style.

"Hey, maksudku gendong di punggung!" protes Sakura sebelum Sasuke berjalan.

"Dengan rok sependek itu, kau bisa mengundang nafsu laki-laki," jawab Sasuke datar.

Naruto sebenarnya bingung, perannya di scence ini sebagai siap—ah, lebih tepatnya sebagai apa? Dan akhirnya ia pun berjalan mengikuti Sasuke dan Sakura dengan memanyunkan bibirnya. Dan ia juga bingung dengan hubungan Sasuke dengan Sakura. Apa benar mereka pacaran? Sepertinya iya, tapi kayaknya tidak. "Teme, gadis ini… pacarmu?" Akhirnya Naruto menanyakannya juga.

Mendengar pertanyaan Naruto, sontak pipi Sakura menjadi merah. Ia pun menyembunyikan wajahnya dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sasuke.

"Bukan," jawab Sasuke singkat.

Mendengar jawaban Sasuke, otomatis ekspresi wajah Sakura berubah kesal.

"Lalu, kenapa kalian begitu akrab dan mesra? Bahkan kau mau repot menggendongnya," kata Naruto ingin tahu.

Bruk!

"Kyaa!" pekik Sakura kaget kala Sasuke melepaskannya secara tiba-tiba sehingga pantatnya mencium lantai dengan kerasnya. "Aduh, Ayam! Kau tega sekali, sih!" seru Sakura setengah merengek sambil mengelusi pantatnya yang sakit.

"Kau jalan sendiri!" perintah Sasuke kemudian kembali berjalan tanpa memerdulikan Sakura.

Naruto bingung dengan kondisi ini. Ia melihat Sakura yang masih duduk di lantai. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas lalu berjongkok.

"Naruto-kun, boleh aku minta bantuan?" tanya Sakura dengan wajah memelas dan ditambah dengan puppy eyes-nya membuat Naruto tidak tega menolak permintaan Sakura.

"Tentu saja err…" sepertinya Naruto kebingungan saat akan memanggil Sakura karena ia belum mengetahui nama Sakura.

"Panggil saja aku Sakura!" sahut Sakura dengan senyum manisnya.

"Baik, Sakura-chan," jawab Naruto juga dengan senyum. "Jadi, ada yang bisa kubantu, Sakura-chan?" tanyanya.

"Aku benar-benar lemas. Jadi, bisa kau gendong aku?" tanya Sakura penuh harap.

"Tentu saja, Sakura-chan," jawab Naruto dengan senyum. Naruto kemudian meletakkan ransel Sakura sebentar. Sakura sudah bersiap mengulurkan kedua tangannya ke arah Naruto. Naruto pun menggendong Sakura juga dengan bridal style. Dengan senang hati, Naruto membawa ransel milik Sakura serta menggendong Sakura menuju kantin.

_LOO_

Sambil menggendong Sakura, Naruto memasuki kantin dan mengedarkan penglihatannya untuk mencari Sasuke. Begitu matanya menangkap kepala ayam di pojok ruangan, a pun ke sana dengan menggendong Sakura.

Sasuke yang melihat 2 orang yang mendekat ke mejanya seketika wajahnya mengeras. Apalagi saat melihat gadis yang ada di gendongan Naruto. Diam-diam Sakura menjulurkan lidahnya lalu menyeringai penuh dengan kemenangan saat Sasuke melihat ke arahnya.

"Cih!" dengus Sasuke lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain.

Naruto menaruh ransel Sakura di kursi dan secara perlahan ia menurunkan Sakura dari gendongannya. "Makasih, Naruto-kun," ucap Sakura lembut dan melemparkan senyum termanisnya pada Naruto.

"Err… sama-sama, Sakura-chan," jawab Naruto yang juga membalas senyum Sakura dengan sedikit canggung karena ada Sasuke. Ia pun duduk di samping Sakura.

Sasuke menautkan kedua alisnya. Ia merasa ada yang aneh antara Sakura dan Naruto. Buktinya Sakura menyebut Naruto dengan embel-embel 'kun' dan Naruto memanggil Sakura dengan embel-embel 'chan'.

" 'Naruto-kun'?" gumam Sasuke penuh tanya sambil menatap Sakura dan Naruto secara bergantian penuh curiga.

"Ya, karena Naruto sudah berbaik hati mau menggendongku," jawab Sakura dengan nada menyindir sambil melirik Sasuke.

Sasuke mendecih saat mendengar jawaban Sakura. "Cih! Ya, si Dobe memang baik sudah menipumu!" kata Sasuke dengan penuh penekanan.

"Ha!?" pekik Sakura kaget. Ia melihat ke arah Naruto yang terlihat bingung. "Jadi, kau pelakuknya?" tanyanya manatap Naruto dengan horror.

"Aa… maksudmu apa, Sakura-chan?" tanya Naruto tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?

Sasuke menyeringai penuh kemenangan begitu melihat Sakura tidak ramah lagi pada Naruto.

Set!

Sepertinya saat ia bertemu dengan Sasuke. Sekarang ia juga menarik dasi Naruto dengan tangan kirinya. Wajah mereka begitu dekat. "Jangan main-main denganku, Na-ru-to" desisnya.

Sasuke yang melihat tindakan Sakura membuatnya membulatkan kedua matanya. Masalahnya, dari sisi Sasuke, jarak wajah Sakura dengan wajah Naruto tipiss sekali. "Ah! Sudahlah, Sakura! kita bisa bicarakan ini baik-baik, kan!" Sasuke mencoba melepaskan cengkraman Sakura pada dasi Naruto dan menjauhkan tubuh mereka. Sakura pun kembali duduk.

"Bu-bukan aku. Benar! aku benar-benar tidak tahu masalah itu," bantah Naruto membela diri.

Sakura beralih pada Sasuke seolah bertanya. 'Apa benar Naruto pelakuknya?'

"Ya, memang dia," ucap Sasuke menjawab tatapan Sakura. "Orangku menemukan nomer rekening yang kemarin kau berikan mentransfer sejumlah uang ke nomer rekening Dobe. Dan nomer rekening itu hanya melakukan transaksi 1 kali, yaitu ke nomer rekening Dobe," terang Sasuke memberikan penjelasan secara rinci.

"Tap-tapi, aku benar-benar tidak tahu soal transferan itu!" bantah Naruto lagi.

"Sudahlah, Dobe! Sebaiknya kau mengaku saja!" kata Sasuke santai.

"K-kau ini apa-apaan, sih Teme! Kau tega sekali memfitnah sahabatmu sendiri!" Naruto tetap saja membantah tuduhan yang ditujukan padanya.

Sakura benar-benar pusing. Sebenarnya siapa yang benar diantara mereka? "Kau bilang dia itu tidak menyukaimu, tapi dia justru menganggapmu sahabat. Bagaimana, sih?!" pretesnya pada Sasuke.

"Faktanya, dia itu bekas temanku. Kita berteman dulu, tapi sekarang sudah tidak!" jawab Sasuke dingin dan tegas.

"Hah! Ya sudahlah!" seru Sakura mulai frustasi. "Lebih baik kita makan dulu! Aku lapar!" ujarnya kemudian memilih-milih menu. Ya mau bagaimana lagi. Jika perut Sakura kosong, ia tidak bisa berfikir. Jadi, ia butuh energi untuk menyelesaikan masalahnya ini. "Wah, ternyata ada ramen juga di sini!" gumam Sakura senang. "Aku pilih ramen saja, ah. Lalu minumnya… ehm…" Sakura memilih daftar minuman. "Ah, Es krim cherry saja," gumamnya sendiri setelah menemukan minuman yang ia sukai.

Sedangkan Sasuke dan Naruto hanya saling berpandangan bingung dengan tingkah Sakura. Ya, kadang jika sedang stress, Sakura bisa good mood lagi saat sedang akan makan atau memilih makanan yang ia sukai. Bahkan Sakura sering ke toko kue hanya sekedar menghilangkan bad moodnya. Hanya dengan melihat kue-kue yang terpajang, mood Sakura bisa kembali normal meskipun tidak membelinya.

_LOO_

Hanya Sakura di sini yang memesan makanan. Ia memesan semangkok ramen dan segelas es krim cherry sebagai penutup. Sedangkan Naruto, ia hanya memesan segelas jus jeruk, karena ia harus berhemat. Uangnya mulai menipis. Dan Sasuke? Ia memesan jus tomat. Kebetulan ia tidak lapar.

"Tanganmu masih sakit?" tanya Sasuke yang melihat Sakura berusaha memegang sumpit dengan tangan kirinya, tapi akhirnya gagal.

"Sepertinya," jawab Sakura sekenanya.

"Seharusnya hanya untuk makan saja masih bisa," kata Sasuke curiga.

"Maksudmu apa, sih?! memang tanganku masih sakit, kok. Lagipula yang membuat tanganku seperti ini kan kau!" seru Sakura menjadi kesal. Ya, sebenarnya memang harusnya bisa kalau hanya untuk makan pelan-pelan. Sakit di tangan kanan Sakura menjadi parah karena tadi Sasori entah sengaja atau tidak menekuk tangan Sakura. tapi Sakura tidak ingin memperparah keadaan dengan mengatakan yang sebenarnya pada Sasuke.

Sreeet…

Tiba-tiba sebuah kursi sudah bergeser ke samping kiri Sakura. Ia melihat Sasuke duduk di sana. "Mau bagaimana lagi. Aku yang sudah melukai tanganmu. Jika kau makan sendiri, kita bisa setahun di kantin ini hanya menunggumu makan semangkok ramen yang entah kapan habisnya," ujar Sasuke sedikit menyindir kemudian mengambil alih mangkok ramen Sakura. "Buka mulutmu!" perintah Sasuke saat ia menyodorkan suapan pertama untuk Sakura. Sakura sejenak tersneyum dan menerima suapan dari Sasuke.

_LOO_

Sakura akhirnya selesai dengan makanannya setelah menghabiskan 2 mangkok ramen. Sekali lagi Naruto dan Sasuke dibuat bingung dengan tingkah gadis di samping mereka. Dan Sasuke lah yang harus menyuapi Sakura hingga kedua mangkok ramen itu kosong. Sedangkan Naruto sedikit kesal juga karena harus menjadi kambing congek menunggu Sakura makan dengan disuapi Sasuke.

"Baiklah! Aku akan mengajukan beberapa pertanyaa padamu, Naruto!" Sakura melihat Naruto dengan mantap. "Jadi, harap jawab dengan jujur!" perintahnya seolah seorang jaksa yang sedang mengadili tersangka di pengadilan. Naruto hanya mengangguk pelan menyanggupi perintah Sakura.

"Yang pertama, apa kau menipu seseorang dengan kedok Onlineshop gadungan?" Sakura mengajukan pertanyaan pertamanya.

"Tidak. Mana mungkin aku melakukan itu!" jawab Naruto menggelengkan kepadanya dengan keras.

Sasuke hanya menonton proses introgasi Sakura dengan malas sambil sesekali menyeruput jus tomasnya.

"Yang kedua, apa benar di rekeningmu ada transferan sejumlah uang?" tanya Sakura dengan tenang.

"Ya, tapi aku tidak tahu siapa pengirimnya. Aku juga tidak mengecek pengirimnya," jawab Naruto.

"Ini yang terakhir, bukan sebuah pertanyaan, sih. Tapi lebih tepat disebut permintaan," terang Sakura sebelum melanjutkan introgasinya.

"Aa… boleh aku bertanya pada Dobe sedikit?" ijin Sasuke pada Sakura.

"Ya," jawab Sakura menyanggupi.

Sasuke beralih pada Naruto. "Lalu, kenapa kau kabur saat bertemu kami tadi?" tanya Sasuke.

"Ya, kenapa?" tambah Sakura.

"I-itu karena aku kira Sakura-chan pacar Teme. Jadi aku takut kalau Sakura-chan bilang kemarin aku menabraknya," jawab Naruto.

Sakura hanya manggut-manggut sendiri. Jawaban Sakura memang masuk akal. Awalnya memang Naruto menganggapnya pacar Sasuke. "Baiklah. Yang terakhir, sekarang tolong dengan sangat, kembalikan uang tersebut padaku!" pintanya pada Naruto sambil menengadahkan telapak tangannya.

"Err… ano…" Naruto terlihat bingung untuk menjawab permintaan Sakura. "Sebenarnya, uang itu sudah habis," lanjutnya ragu dengan memasang senyum garing.

"Apa!?" jerit Sakura kaget campur emosi. Bagaimana bisa uang yang ia kumpulkan bertahun-tahun dihabiskan oleh orang lain dengan sekejap mata? Oh ya Tuhan! Rasanya Sakura ingin membakar kantin ini.

"Aa.. itu… a-aku kira ada orang kaya dermawan yang sedang bagi-bagi uang. Kebetulan saat itu, aku juga sedang butuh uang. Ja-jadi, aku langsung menggunakan semuanya," jawab Naruto dengan teori begonya. Kening Naruto penuh dengan keringat. Ia benar-benar takut dengan tatapan horor Sakura padanya.

"Na-ru-to…" geram Sakura menahan emosi. "Kau benar-benar jelek!" gumamnya emosi. "Mana ada orang seperti itu di dunia ini! Dasar!" seru sakura kesal. Jauh-jauh ia datang ke Konoha city untuk meminta uangnya kembali. Dan selama di Konoha, ia selalu mendapat kesialan. Bahkan tangan kanannya juga cidera. Semua uang chasnya juga sudah habis dirampok Uchiha's hotel. Dan sekarang, satu-satu harapannya menguap begitu saja. Yang lebih sialnya lagi, Sakura ingin pulang, tapi ia sama sekali tidak mempunyai uang. Sakura menundukkan kepalanya lemas.

"Aaargh! Ya ampun!" jerit Sakura lalu mengacak-ngacak rambutnya frustasi sehingga berantakan tak karuan.

Sasuke dan Naruto tersentak kaget. Mereka melihat iba ke arah Sakura yang frustasi meletakkan kepalanya di atas meja.

"Sasuke?" terdengar sebuah suara lembut yang membuat Sakura, Naruto serta Sasuke mendongak untuk melihat orang yang berdiri di samping mja mereka. Mata Sasuke sukses membulat kala melihat orang yang memanggilnya tersebut adalah seseorang yang pernah mengisi hatinya.

Seorang perempuan dewasa, cantik dan anggun. Berambut biru pendek. Dan ada jepit bunga yang menghiasi rambutnya sehingga menambah keangggunan perempuan tersebut.

Sakura melihat perubahan Sasuke yang awalnya sempat terkejut lalu berubah menjadi dingin. Entah kenapa, Sakura merasakan ada yang aneh dengan hubungan Sasuke dan kakak cantik ini.

"Sudah lama kita tidak bertemu, ya," ujar perempuan cantik itu dengan senyum, tapi Sasuke sama sekali tidak meliriknya. Bahkan ia malah mengacuhkannya.

Sakura yang merasa canggung dengan suasana di sini akhirnya ia memutuskan akan menyingkir. "Aa—"

"Ayo, kita selesaikan masalah tadi di tempat lain!" Tanpa ijin, Sasuke langsung menggandeng dan mengajaknya pergi setelah Sakura meraih ranselnya.

"Hey, Teme!" seru Naruto mencoba memanggil Sasuke, tapi Sasuke mengacuhkannya.

"Hey, apa kau tidak dengar? Kau dipanggil Naruto!" tegur Sakura.

"…" Tak ada tanggapan dari Sasuke sama sekali. Dalam diam dan wajahnya yang dingin, ia terus menarik Sakura entah kemana. Sakura menarik nafas jengah. Ia baru ingat kalau orang di depannya ini adalah robot.

_LOO_

"Wanita itu… orang yang spesial bagimu?" tanya Sakura mengawali perbincangan. Ia menatap gedung-gedung yang terhampar di depan matanya. Angin yang sepoi-sepoi menerpa wajahnya halus dan menerbangkan helaian rambutnya.

Di sinilah akhirnya Sasuke membawa Sakura. Mereka ke atap sekolah. Sasuke menoleh ke arah Sakura yang sedang memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Tanpa sadar bibir tipis Sasuke mebentuk sebuah lengkuangan ke atas.

"Hey! Kau dengar aku tidak, sih?" gerutu Sakura menoleh ke arah Sasuke karena Sasuke tak kunjung menjawab pertanyaanya.

Sasuke tersentak keget dan cepat-cepat mengalihkan wajahnya dari Sakura. "Itu bukan urusanmu," jawabnya dingin.

Sakura bergeser lebih dekat ke sisi Sasuke. Ia menyenggolkan lengannya dengan lengan Sasuke. "Hey, cerita sedikit, dong! Nanti aku juga akan pulang. Tidak ada ruginya cerita denganku," bujuk Sakura dengan memasang senyum modus.

"Dia adalah tunangan kakakku," ujar Sasuke tanpa menoleh ke arah Sakura.

Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Aku kira dia itu kekasihmu," ucap Sakura tak percaya. "Ah, aku tahu. Pasti dia cinta pertamamu?" tebaknya.

"Hn?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya tak percaya. Bagaimana gadis ini bisa dengan mudahnya menebaknya? "Bagaimana kau tahu?" tanya Sakura penasaran.

Sakura tertawa pelan. Tapi entah kenapa ada bagian dalam hatinya yang terasa perih. "Jadi benar? Haha… padahal aku cuma asal tebak. Kebanyakan dari drama yang kutonton seperti itu. Tapi aku tidak menyangka ternyata tebakanku benar. Hahaha…" ujar Sakura masih tertawa. Bahkan Sakura sendiri tidak menyangka bahwa tebakannya akan benar. Kadang ia berpikir sebuah drama hanyalah sebuah drama, berbeda dengan kehidupan nyata. Tapi kadang kala sebuah drama memang ada di kehidupan nyata. Hey, bukankah sebuah drama diambil dari kehidupan nyata? Ah, sudahlah.

Sasuke yang mendengar asal usul jawaban Sakura pun menjadi kesal sendiri. Ternyata kehidupannya sudah pasaran seperti drama-drama.

"Jika kau memang menyukainya, rebut saja dia dari kakakmu," ujar Sakura memberi saran. 'Oh, ya ampun! Apa yang baru saja kukatakan? Aku ini sok tahu sekali, sih!' sesalnya dalam hati.

"Hn?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya dan menatap Sakura dengan penuh tanya.

"Dari sikapmu tadi, sepertinya kau masih menyukainya," tebak Sakura.

"Entahlah," jawab Sasuke singkat. "Menurutmu, apa aku masih menyukainya?" tanya Sasuke.

"Sepertinya… masih," jawab Sakura pelan tak rela. Jauh di lubuk hatinya, ia tak rela jika Sasuke masih menyukai perempuan itu. "Oh ya ampun! Aku mulai lagi. Sebenarnya ada apa denganku?' tanya Sakura dalam hati. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.

"Menurutmu, apa aku bisa?" tanya Sasuke lagi. "Apa aku bisa merebutnya dari kakakku? Apa aku masih punya kesempatan itu?" tambahnya.

Sakura tersenyum. "Tentu saja!" jawabnya dengan semangat. "Kau pasti bisa. Dan, selama mereka belum mengikat janji, kau masih punya banyak kesempatan. Jadi, kenapa tidak kau coba?" ujar Sakura memberi semangat sambil melihat Sasuke dengan senyum pura-puranya.

"Menurutmu begitu?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk dengan masih memasang senyum yang dipaksakannya. Tapi entah kenapa hati Sakura berharap Sasuke tak mengikuit sarannya tersebut.

"Baiklah. Aku akan berusaha," ujar Sasuke dengan senyum. Ia mengelus kepala pink Sakura dengan lembut. "Terima kasih," gumamnya kemudian beranjak dari samping Sakura lalu keluar.

Dengan cepat Sakura menoleh ke belakang untuk melihat Sasuke yang pergi meninggalkannya. Tanpa sadar, air matanya mengalir. "Apa ini? Kenapa aku menangis?" gumamnya saat Sakura menyentuh air matanya sendiri.

Deg!

Sakura menyentuh dadanya bagian kanan. Tiba-tiba jantungnya terasa tertusuk. Sakit sekali. "Ada apa denganku? Kenapa dadaku terasa sakit sekali?" gumam Sakura. Sakura merasakan dadanya semakin nyeri. "Hiks!" Sakura mulai terisak dengan masih memegangi dada kanannya yang semakin nyeri. "A-apa a-aku benar-benar tidak mau kehilangan dia?" tanyanya pada diri sendiri. "Hiks! Kami-sama… kenapa rasanya sesakit ini?" isak Sakura dengan bibir yang bergetar sambil memukul-mukul dadanya, mencoba menghilangkan rasa sakit yang menghinggapi dadanya. "Hiks!"

Bruk!

Kedua kaki Sakura menjadi lemas sehingga Sakura jatuh berlutut, semua sendinya terasa terlolosi dan sakit dari dadanya terasa semakin sakit hingga rasanya Sakura tak sanggup lagi untuk menahannya. Air mata Sakura juga terus mengalir membasahi baju dan roknya.

"Hiks! Kaa-san, tolong…. Tolong Sakura, hiks!" rintih Sakura sambil mencengkram kuat seragamnya hingga kucel di bagian dada kanannya.

Dalam kesunyian, Sakura terus mencengkram seragamnya sambil menangis berlutut di dekat pagar pembatas dengan sleuruh tubuh yang bergetar. Hanya Sakura sendiri di sana, tak seorang pun yang datang menolongnya.

_LOO_

"Teme!" seru Naruto begitu Sasuke memasuki kantin.

"Kemana Konan?"" tanya Sasuke begitu melihat Konan tidak bersama Naruto.

"Konan-san sudah pergi," jawab Naruto. "Lalu, kemana Sakura-chan?" tanya Naruto balik.

"Dia masih di atap sekolah," jawab Sasuke. "Apa kau tahu dimana Konan pergi?" tanya Sasuke lagi

"Buat apa kau mencari Konan-san?" tanya Naruto penasaran.

"Bukan urusanmu!" sahut Sasuke dingin.

"Tidak biasanya kau mencarinya. Bahkan kau selalu menghindarinya," ucap Naruto curiga. "K-kau mau membahas hubungan kalian?" tebaknya cemas.

"Aku bilang ini bukan urusanmu, Dobe!" bentak Sasuke.

"Tentu saja ini urusanku!" Naruto balas membentak. "Aku ini temanku!" serunya emosi. "Sakura-chan…" gumamnya begitu teringat dengan Sakura. "K-kau meninggalkan Sakura-chan sendiri hanya demi menemui perempuan yang sudah menjadi tunangan kakakmu?" tanya Naruto tak percaya.

"Dia sudah tahu semuanya. Dan dialah yang menyarankanku untuk mengejar Konan," jawab Sasuke.

Brak!

Naruto mencengkram kerah seragam Sasuke dan menabrakkan punggung Sasuke ke dinding. "Kau…" geram Naruto marah.

"Kau ini apa-apaan? Lepaskan aku, Dobe!" perintah Sasuke mencoba keluar dari cengkraman Naruto yang kuat tersebut.

"Jika sesuatu terjadi pada Sakura-chan, aku tidak akan lagi pernah memaafkanmu!" ancam Naruto mengacuhkan perintah Sasuke lalu melepaskannya dengan mendorongnya.

Naruto berlari keluar kantin. "Sial! Si Teme itu melakukannya lagi! Sial! Sial! Sial!" umpat Naruto penuh dengan emosi.

Sasuke terdiam. Ia masih belum mengerti dengan sikap Naruto yang marah padanya secara tiba-tiba. Sebelumnya bahkan Naruto tidak pernah lagi marah padanya semenjak 5 bulan yang lalu. Sasuke tersentak. "Sakura…" gumamnya begitu mengingat sesuatu. Dengan wajah cemas, Sasuke pun juga keluar kantin dengan berlari.

_LOO_

Brak!

Pintu atap dibuka secara kasar oleh Naruto. Begitu ia masuk, tidak ada siapa-siapa di sana. Naruto menangkap sebuah benda yang tergeletak dekat pagar. Sestell seragam Konoha High School dan sepasang sepatu yang tadi dikenakan Sakura. Naruto seperti tersadar sesuatu. Dengan cepat Naruto berlari mendekati pagar pembatas atap sekolah. Ia menengok bawah gedung sekolah. Di dasar sana, ia tidak menemukan Sakura. ia juga tidak melihat kerumunan orang-orang seperti waktu itu. Naruto sedikit lega karena kejadian 5 bulan yang lalu tidak terulang lagi. Tapi, kemana Sakura pergi? Naruto kemudian menyentuh seragam sekolah Sakura. Atasan seragam tersebut basah.

Drap Drap Drap!

Sasuke baru saja memasuki atap sekolah dan melihat Naruto yang tangannya menggenggam sebuah seragam milik Sakura.

Naruto mengeram sambil meremas seragam Sakura. Ia berbalik menghadap Sasuke. "Lihat! Sakura-chan menangis!" seru Naruto kemudian melemparkan seragam Sakura pada Sasuke. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sakura-chan, aku sendiri yang akan menggali liang kubur untukmu!" desis Naruto berjalan melewati Sasuke. Tapi, sebelum ia keluar, Naruto membalikkan badannya kembali. "Kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri. Cari sampai ketemu! Sebelum kejadian 5 bulan yang lalu terulang kembali!" ujarnya kemudian berlalu.

Sasuke hanya terdiam membeku. Kemudian dengan cepat ia berbalik dan keluar pintu dengan wajah cemas.

Apakah "Kejadian 5 bulan yang lalu" yang disebutkan Naruto akan terulang kembali? Dan sebenarnya ada kejadian apa antara Sasuke dan Naruto 5 bulan yang lalu? Lalu, dimana Sakura sekarang berada? Tunggu chapter selanjutnya yang akan menjadi chapter terakhir cerita ini!

_TBC_


Celoteh Author:

Huft~ akhirnya selesai juga. Maaf, tidak sampai 10+k. isi cerita hanya sampai 7+k word. Maafkan saya #nunduk

Dan maaf karena merubah pair menjadi SasuSaku saja. Soalnya saya juga memperpendek cerita ini agar nantinya tidak terlantar seperti ficq yang lainnya. Maaf.

Aku berencana akan menamatkan Loo ini segera dan kembali melanjutkan fiq yang 'Takdir Sakura' lalu ke 'Dark Devil'. Semoga cepat kelar, doakan saya, ya.

Akhir kata, terima kasih.

Dan… satu kata review dari Anda, sangat berarti untuk saya. Arigatou.


Klaten, 30 Juni 2013

BALASAN REVIEW

dheeviefornaruto19: hey, salam kenal juga iya, banyak pelajaran juga yang bisa diambil dari fic ini . Makasih udah mau baca n review…

: wah, di chapter ini belum ketauan, tapi bukan sasuke maupun naruto. Ya, mungkin Itachi. Tunggu saja last chapternya..hehehe… Makasih udah mau baca n review…

Salmonella Typhosa : walah kurang panjang ya? Kalau ini gimna? Makasih ya Yanesya atas review n sdh mau baca .

Ribby-chan : udah lanjot… Makasih udah mau baca n review…

thias : wah, yang nipu bukan naruto kok…hehehe tapi Makasih udah mau baca n review…

sakamoto-kun: makasih ya. Menurutku sedikit bertele-tele sih. Maaf ya, fic-nya kurang panjang. Cuma dapet 7+k, takutnya ntar malah kelamaan update-nya Makasih udah mau baca n review…

hanazono yuri : ini udah update, maaf gk bisa kilat…. ;'( Makasih udah mau baca n review…

Afisa UchirunoSS : salam kenal juga ya afisa :0. Iya gk pa-pa penting ninggalin jejak. Hehehe… Makasih udah mau baca n review…

Bakkchinn: gimana chap ini? Sasusakunya masih kurang, kah? Yang nipu bukan naruto ternyata, gk tahu juga siapa…hehehe… Makasih udah mau baca n review…

Silvi Ichigo: maaf ya gk update kilat ;'(Makasih udah mau baca n review…

sonedinda: hehe… makasih ya udah mau ngerti…hehehe… ini udah update. Makasih udah mau baca n review…

justkid: hehe… sasuke gitu loh… tetep keren apalagi ada sakura. Hohoho… Makasih udah mau baca n review…

AlrenaRoushe: hehe… sebenarnya salah banyak ketikannya…hahaha… Makasih udah mau baca n review…

Neko Darkblue: hehe… iya, sakura sial melulu. Makasih udah mau baca n review…

Seiya Kenshin: waduh, makasih banget ya. Hehe… maaf gk bisa update kilat. Makasih udah mau baca n review…

Ricchi: wah, makasih banget. Jalan cerita ya begitulah,,, gk tahu juga. Makasih udah mau baca n review…

R: hehehe…. Buat R, masak nulis nama cuma satu huruf tok til? Yang lengkap ya,,,hehe… ini udah aku panjangin.. Makasih udah mau baca n review…

desypramitha2: haha… ya gk segitunya kan? Sasuke kan anak baek,,,hehe… chapter atas udah tau kan? Makasih udah mau baca n review…

Pertiwivivi2: udah lanjut ni. Makasih udah mau baca n review…

sami haruchi 2: update udah. Makasih udah mau baca n review…

Hikari Matsushita:makasih banget…hehe,, n Makasih udah mau baca n review…

Nina317Elf: hehe… makasih, aku juga suka karakter sasusaku di sini :)

Raditiya: wah, maaf ya adit,pair-nya kuubah jadi SasuSaku, soalnya akumaupendekin ni fanfic,,, masih nanggung fic banya,,,, Makasih udah mau baca n review…maaf ya :'(

Ayumi: ini udah update neng…. Udah kupanjangin juga…hehehe Makasih udah mau baca n review…

Terimakasih untuk semua pembaca, pe-review, dan juga yang udah me-favo dan me-follow fanfic ini. terima kasih banya.

-KEEP SMILE -