Love Of Onlineshop

Chapter 4

Pairing : SasuSaku

Rate : T

Genre: Romance, Humor, sedikit Hurt

Disclaimmer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning:

OOc banget, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, UPDATE Tak Tentu! Pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^

Summary:

Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'

Uye! \(o.o)/

Balasan riview, ada di bawah, ya!

Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!

Jangan Lupa RnR-nya, ya!

So, Enjoy It!

Cerita Sebelumnya:

Sakura jadi korban penipuan sebuah toko online yang bernama 'Chicken Butt Shop'. Tapi setelah diselidiki, identitas penipu tidak terselidiki.

Awalnya Sakura yang menggap Sasuke adalah penipunya, semakin dekat ia malah semakin menyukai Sasuke. Tapi ternyata Sasuke masih mempunyai perasaan pada tunangan kakaknya. Entah terlalu baik atau terlalu bodoh, Sakura menyarankan Sasuke untuk merebut tunangan kakaknya. Pada akhirnya, yang tersakiti adalah diri Sakura sendiri.

Naruto yang peka terhadap perasaan Sakura menyalahkan Sasuke karena sudah memilih tunangan kakaknya. Ini seperti de javu. Naruto dan Sasuke kembali ke tempat dimana Sakura ditinggalkan, tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Lalu dimana Sakura?

LOO Chapter 4:

Beberapa kali Sasuke mencoba menghubungi ponsel Sakura, tapi selalu saja mail box. "Bodoh!" umpatnya sambil menggenggam erat ponselnya. Sasuke kemudian kembali menekan tombol-tombol pada ponselnya utuk menghubungi Naruto, tapi ponsel Naruto juga tidak bisa dihubungi. "Sial!" umpat Sasuke lagi untuk yang kesekian kali. Hatinya benar-benar kalut kali ini. Ia kemudian melangkah pergi kembali mencari Sakura.

_LOO_

Sudah 1 jam Sasuke hampir memutari seluruh sekolah, tapi ia belum juga menemukan Sakura. Apa mungkin Sakura… "Tidak, tidak mungkin," gumam Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin Sakura berfikiran pendek seperti itu," gumamnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi bukannya jalan pikiran perempuan sama? Seperti Hinata yang… Oh, ya ampun, apa yang kupikirkan!"

Sasuke mencoba membuang jauh pikiran buruknya tentang Sakura dan kembali melangkahkan kakinya untuk mencari. Tapi tiba-tiba langkah Sasuke terhenti kala matanya menangkap sebuah siluet pink. Ia pun berlari untuk mendekatinya. "Itu…" gumamnya tak percaya saat mendapati Sakura sedang memanjat sebuah tembok pembatas. "Apa Sakura akan bunuh diri?" tanyanya pada diri sendiri. Mungkin saja yang dipikirkan Sasuke benar. Mengingat lantai 2 ini cukup tinggi dan bisa membuat orang kehilangan nyawanya jika mereka terjun bebas ke bawah tanpa alat pengaman.

"Sakura, jangan!" seru Sasuke kemudian berlari dengan cepat ke arah Sakura, sebelum Sakura sempat memanjat lebih tinggi.

Drap drap drap

Buug! Bruk!

Sasuke mennbrukkan dirinya ke tubuh Sakura dengan mantap.

Krék!

"Ahks!" pekik Sakura kesakitan. Sakura merasa seluruh badannya remuk, terutama tangan kanannya. "Astaga, bunyi apa tadi?!" gumamnya panik begitu ia mendengar suara seperti ranting patah.

"Apa kau sudah gila?!" seru Sasuke menggenggam kedua bahu Sakura dengan erat. "Kau mau mati, ha!?"

Beberapa menit sebelumnya…

Sakura berjalan menelusuri lorong kelas dengan santai. Perasaannya sudah sedikit membaik. Sakura sudah kembali mengenakan baju satu-satunya yang ia bawa dari Suna. Tidak lupa ia juga mengenakan kacamata hitam kebanggaannya. "Kenapa seragamnya kukembalikan? Padahal keren banget. Bodohnya aku!" rutuk Sakura yang menyessali tindakannya sendiri yang telah mengembalikan seragam KHS dari Sasuke. "Tapi Sasuke juga tidak bilang kalau seragamnya untukku atau tidak. Hah~ kenapa aku malah memikirkan hal yang tidak penting?" gumamnya lagi.

"Tapi seharusnya aku tidak perlu mengembalikan sepatunya," gumam Sakura yang memandangi kaki telanjangnya.

"Meong~"

"Eh?" indera pendengaran Sakura menangkap sebuah suara, sepertinya suara kucing. Ia mengerutkan keningnya. "Seperti suara kucing." Sakura kemudian menajamkan pendnegarannya dan mengikuti arah datang suara kucing tersebut.

Ia melihat seekor kucing oranye kecil tersangkut di atap dekat tembok pembatas. "Aduh, kasian banget sih kamu," ujar Sakura mencoba meraih kucing tersebut, tapi tangannya yang pendek tidak bisa meraihnya. Sakura kemudian mencoba memanjat tembok pembatas yang tingginya hanya 1,5 meter tersebut untuk menolong kucing oranye tersebut. Berhubung tangan Sakura yang kanan masih cidera, ia harus ekstra hati-hati jika ia tidak ingin kedua tangannya hilang fungsi.

"Puss, sini puss! Jangan takut!" gumam Sakura mencoba memanggil sang kucing agar lebih mendekat.

"Sakura, jangan!" reflek Sakura menolehkan kepalanya ke arah suara yang menyerukan namanya tersebut. dilihatnya seorang pemuda raven tampan berlari ke arahnya dengan kencang.

Drap drap drap

Buuk! Bruk!

Krék!

"Aks!"

_LOO_

Kembali ke waktu semula…

"Awh, lepas!" Sakura menepis tangan Sasuke. "Kau yang sudah gila! Kau yang mau membunuhku dengan menubrukku dengan badanmu yang besar itu, ha!?" maki Sakura emosi.

Sasuke menautkan kedua alisnya. "Bukankah kau yang mau bunuh diri? Kenapa kau lakukan itu?" tanyanya.

"Ha?" Sakura hanya menganga bingung. Sakura pun berdiri diikuti oleh Sasuke.

Dug!

"Aks!"

"Rasakan!" geram Sakura yang baru saja menendang tulang kering Sasuke. "Siapa yang mau bunuh diri? Dasar bodoh!"

Sasuke tersentak. "Maksudmu?" tanyanya bingung. "Lalu kenapa kau memanjat tembok itu?" tanya Sasuke menunjuk tembok yang tadi dipanjat Sakura.

"Makanya jangan sok tahu!" geram Sakura kemudian berjalan kembali ke tombok pembatas tadi dengan diikuti oleh Sasuke. "Kau lihat? Ada kucing tersangkut, aku ingin menolongnya," ujar Sakura menunjuk anak kucing yang masih ditempatnya semula. "Lagipula, kenapa aku harus bunuh diri? Tidak ada alasan bagus untuk melakukannya. Kalau pun ada, aku tidak akan berbuat bodoh seperti itu," terangnya.

"Itu… ah, sudahlah. Ayo kita bicara!" Sasuke meraih lengan Sakura hendak membawanya pergi.

"Tunggu dulu!" cegah Sakura yang tak bergeming dari tempatnya. "Aku belum menolong kucingnya," ujarnya menunjuk kucing yang masih tersangkut.

"Kau tunggu di sini!" kata Sasuke kemudian mendekati tembok pembatas. Ia memanjat tembok tersebut kemudian menggendong anak kucing berbulu oranye dan melepaskannya di lorong. "Ayo, kita harus bicara!" ajak Sasuke kemudian menarik lembut tangan Sakura. Sakura hanya patuh saat tangan kirinya digandeng Sasuke untuk mengikutinya.

_LOO_

"Moshi-moshi, Konan-san. Sepertinya rencana sedikit melenceng. Masalahnya Sasuke malah memilihmu daripada Sakura-chan seperti waktu itu, tapi untung saja kejadian 'itu' tidak terulang lagi. Aku kira Sasuke akan menyatakan cintanya pada Sakura-chan, tapi… hah~ dan sekarang Sakura-chan menghilang," ujar Naruto panjang lebar pada Konan yang ada di seberang telpon.

"Kau tenang saja, Naruto. Aku yakin bahwa Sasuke menyukai gadis itu. Dan aku yakin sekali jika rencanaku dan rencana itachi-kun akan berhasil. Kau tinggal mengamati keadaan dan laporkan padaku. Kau tak perlu khawatir pada Sakura-chan," ucap Konan mengarahkan tugas Naruto dan mencoba menenangkan Naruto.

"Baik," jawab aruto lalu mengakhiri sambungannya. Naruto mengedarkan penglihatannya ke penjuru lorong. "Sakura-chan pergi kemana, ya?" gumamnya cemas.

Saat Naruto hendak melangkahkan kakinya, ia melihat Sakura dan Sasuke melintas tak jauh dari tempatnya berdiri. "Itu…" Tak perlu berpikir lagi, Naruto langsung berlari mengikuti Sakura dan Sasuke.

_LOO_

"Sebenarnya kau ingin membawaku kemana, sih?" tanya Sakura yang mulai tidak nyaman dengan sikap Sasuke padanya. Ia juga berusaha melepaskan genggaman tangan Sasuke dari tangannya. Ia tidak mau menaruh harapan kosong pada Sasuke yang jelas-jelas suka pada Konan. "Lepaskan tanganku, Sasuke," pintanya. Tapi Sasuke tak menggubris permintaannya. Malah Sasuke semakin memperkuat genggamannya. Sakura menghentikan langkahnya yang juga membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"Woa! Sakura-chan!" seru sebuah suara bariton.

Sontak Sasuke dan Sakura pun mneoleh ke sumber suara. Sakura seribu kali merutuki kedatangan pemuda merah yang sekaran berjalan ke arahnya. Satu masalah saja belum selesai, sekarang tambah satu lagi masalah.

Greb!

Sakura tersentak saat ada tangan lain yang menggenggam tangannya.

"Lepaskan Sakura-chan! Aku ada urusan dengannya," perintah sasori menatap tajam ke arah Sasuke. Ia menggenggam tangan Sakura yang juga digenggam Sasuke dan meminta Sasuke untuk melepaskan Sakura. "Lepaskan, kubilang!" geram sasori begitu Sasuke tak kunjung melapaskan tangan Sakura. bahkan sengkraman Sasuke semakin erat saat sasori hendak menarik tangan Sakura.

Sakura merasa tangannya semakin sakit saat kedua pemuda yang ada diantaranya semakin erat menggenggam tangannya. Jika saja tangan kanannya tak cidera, Sakura pasti sudah menghajar kedua pemuda tersebut sekali pukul. "Kalian berdua, lepaskan tanganku!" geram Sakura menahan emosinya.

Tak ada satu pun yang bergeming antara Sasuke dan sasori. Bahkan mereka malah asik melempat tatapan tajam satu sama lain. Sakura menghela napas untuk yang kesekian kali. "Kubilang lepaskan!" teriak Sakura.

"Lepaskan, ayam jelek!" perintah sasori yang malah menyuruh Sasuke, tapi dirinya tak ingin melepas tangan Sakura.

"Kau saja!" jawab Sasuke dingin yang masih kukuh menggenggam tangan Sakura semakin erat.

Sudah cukup Sakura menahan emosinya. Ia muak dengan tingkah kedua pemuda yang mengapitnya tersebut.

Kress!

"Aks!" pekik Sasuke yang tiba-tiba kakinya diinjak oleh Sakura dengan kencang. Tentu saja cengkramannya lepas dari tangan Sakura. Sasori yang melihatnya hanya menyeriangai penuh dengan kemenangan.

Duk!

"Aw!" pekik sasori kala Sakura menendang tulang betisnya. Rasanya benar-benar sakit luar biasa. Cengkramannya juga lepas dari tangan Sakura.

"Kalian berdua memang pantas mendapatkannya," gumam Sakura kesal. "Kalian berdua sama-sama egois. Apa kalian tidak memikirkan perasaanku?! Kalian pikir tanganku tidak sakit merasakan kuku kalian yang menancap di kulitku?!" seru Sakura dengan emosi.

Sasori dan sasuk sontak beralih ke tangan Sakura yang memerah karena cengkraman kuat dari mereka.

"Tanganmu sakit? Ayo kita ke UKS untuk mengobatinya!" sasori hendak meraih tangan Sakura kembali, tapi dengan cepat Sakura menepis tangan sasori.

"Tidak perlu!" tolak Sakura kasar. "Aku sudah berulang kali bilang padamu, sasori. Aku tidak akan pernah kembali padamu. Kau dengan aku? TIDAK AKAN PERNAH!" ujarnya penuh dengan penekanan.

"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf," ucap sasori menyesal.

"Aku tidak pernah butuh kata maaf darimu, yang kubutuhkan adalah waktu. Aku tidak mau melihatmu. Kau pikir rasa sakit di sini akan hilang begitu saja dengan mengucapkan kata 'maaf'?!" seru Sakura sambil menunjuk dadanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sasuke yang tak tahu tentang pembicaraan sasori dengan Sakura pun hanya diam. Sasori tak berkutik, ia tak tahu harus bagaimana lagi.

Sakura beralih pada Sasuke. "Dan kau Sasuke, aku mohon padamu. Jangan beri aku perhatian lebih. Aku bisa salah paham," ujarnya. Sakura kemudian melangkahkan kakinya.

"Tunggu!" cegah Sasuke menahan tangan Sakura. "Kau salah paham." Ujarnya.

"Aku tahu aku salah paham. Karena itu, jangan dekati aku lagi!" pinta Sakura kemudian menghela tangannya sendiri. Begitu lepas, Sakura kembali melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan menggendongnya dengan bridal style tanpa ijin. "Hey! Apa yang kau lakukan?" protes Sakura.

"Aku bilang kau salah paham. Aku harus bilang berapa kali padamu!" ujar Sasuke penuh denga penekanan.

"Aku tahu aku salah paham. Karena itu, turunkan aku sebelum aku lebih salah paham lagi!" perintah Sakura. Perintahnya tak digubris oleh Sasuke. Sasuke hanya diam dan membawa Sakura pergi.

Sedangkan sasori yang melihat Sakura digendong oleh Sasuke pun hanya tersenyum. "Ya, mungkin orang yang membuat kau bahagia bukanlah aku," ujarnya pelan.

"Hey, Teme!" seru Naruto yang baru saja muncul. "Kalian mau kemana? Tunggu aku!" tanya Naruto kemudian berlari menyusul Sakura dan Sasuke tanpa menghiraukan sasori.

_LOO_

Sasuke, Sakura serta Naruto sudah ada di parkiran sekarang dan berdiri di samping sebuah motor ninja orangye. "Kau mau membawaku kemana?" tanya Sakura curiga.

"Kau susah sekali ditangkap kalau sudah menghilang," jawab Sasuke yang tak dimengerti Sakura. "Dobe, kuncimu!" Sasuke menengadahkan tangannya begitu ia menurunkan Sakura dari gendongannya.

"Tunggu! Kau mau apakan kyuubi?" tanya Naruto ragu. Kyuubi, nama motor Naruto.

"Nanti kau ambil saja di hotelku! Sekarang kemarikan kuncinya!" titah Sasuke.

"Kau tega sekali, teme~" keluh Naruto.

"Cepat!" paksa Sasuke.

Naruto hanya memanyunkan bibirnya kemudian menyerahkan kunci motornya pada Sasuke. "Hati-hati membawa kyuubi!" pesannya.

Sasuke pun mengambil kunci Naruto tanpa mengucapkan terima kasih. "Pakai!" perintahnya sambil menyodorkan sebuah helm standart pada Sakura. Tapi helm-nya tak kunjung diterima Sakura. Sasuke melihat Sakura. Ia lupa bahwa tangannya sedang tidak sehat. "Ck! Merepotkan!" Sasuke akhirnya yang memakaikan helm Sakura.

Sasuke naik, Sakura juga. "Pegangan!" perintah Sasuke. Tanpa protes, Sakura pun meremas seragam Sasuke bagian samping. "Kau sudah bosan hidup?" tanya Sasuke dingin. "Pegangan yang benar!" Sasuke lalu menarik tangan kiri Sakura agar melingkar di pinggangnya. Dan secara otomatis tubuh Sakura tertarik kedepan sehingga merapat ke tubuh Sasuke.

Deg!

Debaran jantung Sakura mendadak berdetak cepat. 'Kenapa perasaan ini datang lagi?,' tanyanya dalam hati.

"Kalian hati-hati!" pesan Naruto begitu Sasuke menyalakan motor Naruto.

Burmm burmm…

"Kyaa!" jerit Sakura reflek begitu Sasuke tancap gas meninggalkan Naruto. "Hah~ kalian membuatku iri saja," gumam Naruto. "Hinata, tunggu aku, ya," gumamnya lagi sambil tersenyum.

_LOO_

"Hey, buka matamu! Kita sudah sampai," kata Sasuke begitu mereka sudah sampai di depan Uchiha's Hotel.

Perlahan Sakura membuka matanya. Ia menghela napas lega karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Selama perjalanan ia hanya bisa memejamkan mata sambil memeluk Sasuke dengan erat. Ia bernar-benar takut saat Sasuke mengendarai motornya dengan super kencang. Bahkan Sakura jantungnya hampir copot dan terbang terbawa angin. Sakura kemudian turun dari atas motor.

"Kau ternyata takut naik motor, ya?" tanya Sasuke dengan seringai yang melekat di bibirnya. Ia juga turun dari motor dan meminta petugas hotel untuk memarkirkan motornya.

Duak!

"Aks!"

Untuk yang entah keberapa kali, Sakura menendang tulang kering Sasuke. "Kalau mau mati, mati saja sendiri. Jangan ajak-ajak aku!" kesal Sakura. "Lagipula, kenapa harus ke hotel ini lagi, sih?" gumamnya pelan.

"Kau ini cerewet sekali," gumam Sasuke. "Memangnya kita harus kemana lagi? Tempat tinggal hanya di sini," jawab Sasuke.

"Tidak punya kah kau rmah aslimu? Apa rumah aslimu jelek, sehingga kau harus tinggal di hotel?" ejek Sakura.

"Untung saja kau perempuan," gumam Sasuke kesal.

"Memang kenapa kalau perempuan. Mau memukulku? Siapa takut!" tantang Sakura dengan beraninya.

"Kau ini sudah cidera seperti itu masih berani menantangku. Sombong sekali," ujar Sasuke sambil menyeringai. "Ayo kita masuk! Kita selesaikan di dalam!" kata Sasuke kemudian menarik Sakura memasuki uchiha's hotel.

_LOO_

"Aneh, tadi mereka tidak mengejarku seperti kemarin-kemarin," ucap Sakura heran begitu ia dan Sasuke masuk kamar Sasuke. Sakura pun meletakkan ranselnya yang berat tersebut di sofa.

Bruk!

Sakura menjatuhkan dirinya ke atas ranjang empuk Sasuke dengan santainya. Ia memejamkan matanya sejenak. "Hah~ hari ini badanku terasa lelah sekali," gumamnya.

Dcit!

Terdengar suara decitan ranjang kala Sasuke naik ke atasnya. Sontak Sakura membuka matanya saat merasa ada yang naik ke ranjang. "K-kau mau apa?" tanya Sakura gugup saat melihat Sasuke merangkak di atas ranjang mendekatinya.

"Katanya kau tidak takut melawanku. Ayo kita buktikan siapa yang akan menang di pertempuran ini," jawab Sasuke dengan seringai.

Sakura merangkak mundur, tapi terhalang oleh kepala ranjang. Ia mulai panik kala Sasuke semakin dekat. "Ja-jangan macam-macam, ayam! Aku peringatkan! Cepat menjauh!" seru Sakura walau sedikit terbata-bata.

Sasuke tak menggubris perintah Sakura. malah ia gencar mendekati Sakura yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Hingga akhirnya Sasuke berada di atas Sakura. Kedua tangannya ia taruh di samping kanan kiri kepala Sakura untuk menguncinya.

Sakura mencoba mendorong dada bidang Sasuke agar tidak terlalu menindihnya. "Ce-cepat me-mejauh!" perintah Sakura. kalimat Sakura semakin tidak terkontrol. Tidak hanya itu, detak jantung Sakura juga mulai berdetak cepat.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. semakin dekat dan dekat. Reflek Sakura memejamkan matanya. 'Uh! Kenapa aku malah menutup mataku? Dasar bodoh!' rutuk Sakura dalam hati. Tapi sudah bebera detik Sakura menutup matanya tidak ada sesuatu yang terjadi. Sakura buru-buru membuka matanya, diilhatnya Sasuke memandanginya dengan sneyum kemenangan.

"Kau sedang mengharapkan apa?" tanya Sasuke memasang seringainya. "Ciuman dariku, eh?"

'Sial! Aku dikerjai!' umpat Sakura dalam hati. Entah kenapa bagian dari hati Sakura terasa sakit saat mengetahui Sasuke hanya mengerjainya. 'Ternyata aku memang mengharapkannya. Bodoh sekali aku!' Sakura hanya merutuki dirinya sediri dalam hati. Sakura memalingkan wajahnya ke samping. "Siapa yang mengharapkan ciumanmu?" elak Sakura.

Sasuke menyeringai. Tanpa di sadari Sakura, Sasuke mulai mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Sakura. Begitu Sakura kembali melihat ke arah Sasuke, jarah wajah mereka pun sudah semakin sempit. 'A-apa dia sungguhan?' tanya Sakura dalm hati penuh bimbang. Jarak wajah mereka pun semakin tereliminasi hingga kurang beberapa mili lagi dan…

Brak!

"Teme!" seru sebuah suara cempreng begitu ia membuka pintu kamar Sasuke tanpa permisi. "Eh? Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya bingung begitu melihat Sakura tiduran di ranjang Sasuke, sedangkan Sasuke sendiri tersungkur di lantai dengan tidak elitnya.

Karena kaget saat Naruto membuka pintu tanpa permisi, reflek Sakura mendorong Sasuke yang masih ada di atasnya dengan kuat sehingga Sasuke terjungkal jatuh ke lantai. Ckckck. Malang sekali nasip Sasuke.

Sasuke hanya merintih sambil memegangi punggungnya yang sepertinya remuk. Dalam hati ia tak henti merutuki Naruto. "Kalau masuk ke kamar orang, ketuk pintu dulu!" dengus Sasuke.

"Bisanya aku juga langsung masuk," sanggah Naruto.

"Kau kan bisa mengambil kuncinya di receptionis seperti biasanya," ujar Sasuke yang berjalan ke sofa.

"Ini bukan masalah Kyuubi aku datang ke kamarmu mendadak seperti ini, tapi in soal Hinata-chan," ujar Naruto.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Hinata? Ada apa dengannya?" tanya Sasuke yang terlihat peduli.

Kepedulian Sasuke terangkap jelas oleh Sakura. Sakura yakin bahwa gadis yang bernama Hinata tersebut bukanlah orang biasa, melainkan gadis yang spesial bagi Sasuke.

"Hinata-chan sudah sadar dari komanya," jawab Naruto. "Baru saja aku mendapat kabar dari Rumah Sakit," lanjutnya.

Terlihat sebuah senyum kelegaan tampak di bibir Sasuke. "Syukurlah. Kalau begitu kau kesana saja dulu! Nanti aku akan menyusulmu," katanya.

"Err?" Naruto sedikit bingung kenapa harus menyusul? Mereka bisa pergi bersama, tapi kemudian Naruto melirik Sakura yang masih ada di atas ranjang. Ah, Naruto mengerti sekarang. "Oke, aku tunggu di sana. Tapi jangan lama-lama!" ujar Naruto sambil melirik Sakura. "Aku pergi dulu ya, Sakura-chan!" pamitnya sebelum keluar dari kamar Sasuke. Sakura hanya menjawab dengan sebuah senyuman.

Sasuke beralih pada Sakura setelah Naruto pergi. Ini saatnya ia menjelaskan semuanya pada Sakura. "Kau mau kemana?" tanyanya begitu melihat Sakura sudah tidak ada di atas ranjangnya lagi, melainkan berdiri di dekatnya dan sudah menggendong ranselnya.

"Aku mau pulang," jawab Sakura singkat. "Ternyata aku memang bodoh." Gumamnya dengan senyum getir.

"Tunggu!" Sasuke menahan tangan kiri Sakura saat hendak melangkahkan kakinya.

Sakura berusaha melepas tangan Sasuke, tapi cengkramannya begitu kuat. Entah sudah berapa kali tangan kekar itu menyelimuti tangan Sakura yang kecil. Dan entah berapa kali Sakura harus salah paham dan menaruh harapan pada Sasuke karena perlakuan yang ia terima dari Sasuke. Saat harapan besar itu kita taruh pada seseorang, akan terasa sakit sekali jika harapan itu hancur. Rasanya sakit sekali. Seperti yang Sakura rasakan saat ini. Sakura merasa bodoh yang mengharapkan Sasuke, orang yang baru kemarin ia kenal. Oleh karena itu, Sakura tidak mau lagi merasa sakit karena harapannya lagi-lagi pupus. "Lepaskan!" pintanya dengan suara sedikit bergetar menahan tangis.

"Tidak, sebelum kau mendengarkan penjelasanku!" tolak Sasuke yang masih mengenggam erat pergelangan Sakura, bahkan cengkraman itu semakin kuat.

"Tolong lepaskan, Sasuke! Kumohon..." gumam Sakura. Sakura membalikkan badannya membelakangi Sasuke. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Sasuke. "Tolong jangan beri aku harapan yang tidak bisa kau penuhi, aku sudah bilang berulang kali padamu, kan? Aku bisa sa—!"

Set

Greb!

Dengan cepat Sasuke menarik lengan Sakura sehingga Sakura berputar menghadap Sasuke lalu jatuh ke pelukan Sasuke. "Sudah berapa kali juga aku bilang padamu bahwa kau salah paham," gumam Sasuke memeluk erat Sakura.

"…" Sakura hanya terdiam. Perlahan air matanya pun jatuh membasahi bahu Sasuke. "Lepaskan~" gumam Sakura dengan isakan tangisnya.

Tanpa memperdulikan ucapan Sakura, Sasuke semakin merapatkan pelukannya. "Aku menyukaimu, Sakura," bisik Sasuke yang terdengar jelas di telinga Sakura.

Di tengah tangisannya, Sakura tersentak mendengar pernyataan Sasuke. Ia menganga tak percaya. Apa benar Sasuke menyukainya? "Tidak, kau salah, Sasuke. Kau bukan menyukaiku, tapi kau menyukai Konan-san, kau sendiri yang bilang," sanggah Sakura.

Sasuke merenggangkan pelukannya dan menatap Sakura dengan intens. "Itu dulu. Kemarin saat kau menghilang, aku sangat kacau… kaulah yang kusukai bukan siapa pun. Hanya kau," jawab Sasuke.

"Benarkah?" tanya Sakura membalas tatapan Sasuke.

"Ya," jawab Sasuke sambil mengangguk pelan.

Hati Sakura seolah terbang. Sakura pun menghapus air matanya dan tersenyum. Namun tiba-tiba wajahnya berubah, tunggu dulu! Masih ada satu nama lagi yang masih mengganggu pikiran Sakura. "Lalu siapa itu Hinata? Mantan pacarmu? Kau masih menyukainya?" tanya Sakura penuh tuntutan.

"Hinata memang menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya," jawan Sasuke.

"Lalu, kenapa kau seperti peduli sekali dengannya?" tanya Sakura penuh selidik.

"Itu karena aku mempunyai dosa yang besar padanya," jawab Sasuke menundukkan kepalanya.

Sakura menaikkan sebelah alisnya bingung. "Dosa?" tanyanya.

_LOO_

Flashback On:

Saat itu, ada 2 orang anak manusia yang berdiri di atap sekolah Konoha High School saling berhadapan dengan jarak beberapa meter. Seorang pemuda berdiri dekat pintu dan seorang gadis berdiri dekat pagar pembatas atap.

Angin begitu kencang menerpa helaian dan seragam Sasuke dan Hinata saat itu.

"Sasuke-kun, a-aku menyukaimu," ucap Hinata dengan suara pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke.

"Kau hanya kagum padaku, seperti yang lain," sanggah Sasuke dingin.

"Bukan. Aku benar-benar menyukaimu," ulang Hinata. "Aku sudah sejak lama menyukaimu, Sasuke-kun," lanjutnya.

Sasuke terdiam. Baru-baru ini hatiya memang kurang baik karena cinta pertamanya bertunangan dengan kakaknya. Ia marah sekali, entah pada siapa. Tapi Sasuke sama sekali tidak berniat untuk mencari pelampiasan, walaupun satu-satunya cara untuk mengobatinya hanyalah mencari pelampiasan. Dan ada alasan lain yang membuat Sasuke ragu menerima perasaan Hinata. Sasuke tahu bahwa Hinata adalah gadis yang selalu Naruto ceritakan padanya. "Maaf, aku tidak punya waktu untuk meladenimu," kata Sasuke lalu membalikkan badannya.

"Aku akan loncat," gumam Hinata. "Jika kau pergi, aku akan loncat ke bawah!" seru Hinata yang kemudian naik ke pembatas atap.

Sasuke sedikit melirik ke belakang. Cara ini sering sekali digunakan para gadis untuk mengancamnya. "Loncat saja jika kau berani!" kata Sasuke tak peduli. Sasuke kemudian melangkahkan kakinya hingga ia mendengar sebuah suara yang membuat langkahnya terhenti. Dengan cepat Sasuke membalikkan badannya kembali ke arah Hinata, tapi di sana sudah tidak ada sosok Hinata.

_LOO_

Naruto menyusuri lorong untuk mencari Sasuke. "Kau tahu dimana Sasuke?" tanyanya saat berpapasan dengan temannya.

"Aku tadi melihatnya di atap bersama Hinata," jawab temannya.

Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Sasuke bersama Hinata?" gumamnya penasaran. Karena tidak ingin lebih penasaran lagi, akhirnya Naruto pun berjalan ke menuju atap sekolah.

"Jika kau pergi, aku akan loncat ke bawah!" terdengar sebuah suara yang sangat Naruto kenal dari balik pintu sebelum Naruto sempat membuka pintu yang menghubungkan ke atap sekolah.

"Loncat saja jika kau berani!" sekali lagi Naruto mendengar sebuah suara, suara Sasuke. Untuk beberapa detik Naruto terdiam mencoba mencerna apa maksud dan arti dari percakapan yang ia tangkap.

Begitu Naruto sadar, ia segera membuka pintu tersebut. Tepat setelah ia membuka pintu, saat itu juga ia melihat Sasuke yang sedang membelakanginya, tanpa ada Hinata di sana.

Sasuke yang belum menyadari kehadiran Naruto pun dengan cepat berlari ke arah pagar pembatas, begitu pula dengan Naruto. Mereka mengeok ke bawah gedung, sesosok tubuh terlentang tak berdaya di atas tumpukan baju yang dibawa sebuah truk yang kebetulan lewat di sana.

"Hinata!" seru Naruto.

Sasuke menoleh pada Naruto begitu sadar Naruto ada di sampingnya. "Kau… aku tidak akan pernah memaafkanmu!" geramnya Naruto kemudian berlari keluar untuk menghampiri Hinata.

Flashback Off:

_LOO_

"Hinata kemudian koma?" tanya Sakura.

"Ya, dan dokter me-vonisnya tidak akan lama bertahan. Kalaupun Hinata selamat, ia akan lumpuh seumur hidup," gumam Sasuke.

"Dan karena itulah kau bilang bahwa Naruto tidak menyukaimu?" tanya Sakura lagi.

"Kenyataannya memang begitu. Itu semua salahku," gumam Sasuke menyalahkan dirinya sendiri.

Sakura tersenyum sejenak kemudian meraih tangan besar Sasuke yang ada di sampingnya. "Kalau begitu katakan alasanmu yang sebenarnya pada Hinata kenapa kau menolaknya dan minta maaflah padanya," ujarnya.

_LOO_

"Sasuke~ kau lupa memakaikanku sepatu," rengek Sakura menunjukkan kakinya yang masih telanjang begitu ia dan Sasuke turun dari taksi di depan rumah sakit

"Aku lupa. Lagi pula siapa yang menyuruhku cepat-cepat untuk ke rumah sakit?!" Sasuke melempar kesalahan pada Sakura.

Sakura memanyunkan bibirnya kesal. "Ya sudah, kau masuk saja sana. Biar kutunggu kau di sini," kata Sakura.

"Kau tidak ikut masuk?" tanya Sasuke.

"Ini kan masalah kalian bertiga. Kenapa merepotkan aku, sih?" ucap Sakura pura-pura mengeluh.

Sasuke tersenyum. "Baiklah. Aku akan cepat kembali," ucap Sasuke kemudian masuk ke dalam rumah sakit.

Sakura mencari tempat yang pas untuk istirahat hingga saat ia akan duduk berbunyilah ponselnya. Sakura segera mengambil ponselnya yang ada di dalam ransel. "Ha?" pekiknya begitu tahu siapa yang menelponnya. Dengan sedikit ragu, Sakura pun menekan tombol hijau pada ponselnya. "Iya, Kaa-san?" sahutnya.

"Kau sedang apa, Sakura? Aku rindu padamu. Jadi aku berencana akan ke Suna. Aku sudah berkemas. Sebentar lagi aku akan berangkat," ujar Ibu Sakura di seberang telpon.

"Ha?" pekik Sakura terkejut.

"Kenapa, Sakura? Ada yang salah?" tanya Mebuki.

"Aa… tidak, Kaa-san. Hehe… kebetulan Sakura juga rindu Kaa-san," jawab Sakura sambil nyengir.

"Oh, baguslah," ujar Mebuki lega.

"N-nanti aku akan beres-beres rumah. Dan masak yang enak buat Kaa-san," kata Sakura.

"Yang benar? Wah… baiklah kalau begitu. Aku pesan tiket dulu, ya. Sampai jumpa!" Mebuki pun memutuskan sambungan teleponnya.

"Gawat! Aku harus cepat-cepat pulang!" pekik Sakura panik.

_TBC_

Celoteh Author:

Ehem,,, tes tes!

Cuma mau tes tulisan,,,haha

Ohya, chap 4 ini bagaimana? Jelek? Sudah ku duga,,,

,,,ehm sepertinya ada perubahan rencana, yang awalnya bakal tamat chap 5 mungkin akan sedikit lama lagi,,,

Semua ini karena menghilangnya kemampuan menulisku setelah vacum 2 tahun lamanya, dan chap 4 ini aku buat udah lama,,,sejak 2 tahun yang lalu,,dan semua ideku menghilang entah kemana.

Tapi aku akan berusaha aktif lagi :-) dan mengembalikan jiwa menulisku lagi,,hahaha

Makasih buat reader, silent reader, para reviewer,,,maaf tidak bisa balas satu-satu,,,,sekali lagi makasih,,, makasih udah setia menunggu Loo update walo 2 taun lamanya, hehe ok,,see u in next chap

Thank's to:

NethyTomatocherry

ikalutfi97

Sabaku no Gaa-chan

desypramitha26

indrianitia970

SunshineSunset

haruchan

Ia Hatsu

Neria Mera

Sakura Uchiha

Yu-chan

Jessica d' little angel

Dhezthy UchihAruno

Kakaru S.S

Sheiyuki

Aoi

Aui-chan

Kireina

B. Shinju

Sakumori Haruna

Runa-chan

Klaten,11 Juni 2015

Terimakasih untuk semua pembaca, pe-review, dan juga yang udah me-favo dan me-follow fanfic ini. terima kasih banyak.

-KEEP SMILE -