THE DIARY


Aku tak tahu, apakah aku harus bersyukur atau tidak; disaat dirimu hadir dikehidupanku. Aku akui jika pesonamu mampu menembus dinginnya hati dan perasaanku.

Namun, tahukah dirimu disaat aku harus mengagumi sosok rupawanmu dalam diam dan keheningan?

Dan semua – tentangmu – yang aku tuangkan begitu saja di sebuah buku harian, mengundang berbagai konflik yang menderaku...


THE DIARY

© Shouda Shikaku^^

Genre : AU, Hurt/Comfort, Romance

Recommended Song : Boyce Avenue – F*ckin' Perfect (Acoustic Cover)


Chapter 4 : Discovery – END

Apgeujong, October 6, 2014; 01.23 P.M. (SKT)

Direktur Han menghela nafas perlahan. Ia memperhatikan sekelilingnya, sebelum akhirnya ia mengerutkan kening karena sosok Asisten-nya belum menampakan diri. Sebenarnya ia merasa ada yang aneh dengan tingkah Baekhyun seharian ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tak ingin terlalu mencolok dalam memperhatikan namja mungil itu.

Ia menggerakan jemarinya dengan lincah di smartphone yang tadinya dengan manis tergeletak di meja. Ia mengetikan pesan singkat dan langsung mengirimkannya pada seseorang yang sangat ia percaya di perusahaan untuk mengawasi semua orang yang menjadi tanggung jawabnya. Ya, Lim Jeong Yi, Fotografer yang terkenal dengan raut wajahnya yang selalu datar. Bukannya ia tak mempercayai Kepala Staff atau siapapun – termasuk Yoon Hee – , tentu ada alasan tersendiri bukan?

"Sajangnim, Nona Choi menghubungi anda.." Seruan Daniel membuat Han Sajangnim tersentak.

"Ada apa?"

"Eum, ada masalah di bagian produk.."

"..."

Han Sajangnim hanya menatap tajam ponsel Daniel yang disodorkan padanya. Well, ia sudah bisa menebak masalah apa yang muncul di bagian produk. Siapa lagi jika bukan Hae Yeon yang merecok seenak perut.

Daniel menelan salivanya kasar. Keringat dingin perlahan meluncur di pelipisnya.

"Katakan padanya untuk mempersiapkan surat skorsing juga surat perintah mutasi pegawai." Ujarnya

"Algeusemnida, Sajangnim" Daniel mengangguk, dan beralih pada ponselnya.

Han Sajangnim meremukan jemarinya menahan amarah. Ia mengalihkan pandangannya pada jendela besar disampingnya. Hah, ia merasa pusing menyerang ubun-ubunnya.

"Jeosonghamnida, Sajangnim. Nona Choi bertanya, atas nama siapa surat tersebut?"

"No Hae Yeon. Serahkan surat itu padanya dua hari mendatang. Sertakan bukti bahwa dia menyalahgunakan wewenang sekaligus lari dari pertanggungjawaban yang ada di meja Asisten Byun. Satu lagi, ia akan di mutasi di bagian finishing, bukan produksi."

Ucapan dingin Han Sajangnim membuat beberapa karyawan bergidik ngeri. Kini, mereka tahu bahwa peribahasa 'Air tenang jangan disangka tidak berbuaya' benar adanya. Contohnya saja sudah ada didepan mata. Huh, mereka sih setuju saja atas keputusan Han Sajangnim. Jujur, meskipun mereka kurang menyukai Byun Baekhyun tetap saja mereka pun benci atas tindakan Hae Yeon yang semena-mena pada siapa pun.

"Dan ini peringatan untuk kalian semua. Jangan pernah meremehkan orang lain, apalagi hanya karena penampilannya yang jauh dari kata modis."

Pesan Han Sajangnim terdengar sadis bagi mereka. Eheum, sebenarnya mereka merasa tertampar telak atas peringatan sang atasan. Sekali lagi, 'Air tenang jangan disangka tidak berbuaya'.

Baik, lupakan masalah peribahasa itu dan kembali ke topik permasalahan. Han Sajangnim menghempaskan dengan keras sebuah map merah yang tadi sibuk ia pelajari. Dengan terburu, diraihnya coat hitam yang tersampir di punggung kursi yang ia tempati.

Rahangnya mengeras, dengan geraham yang beradu. Daniel yang sedari tadi memperhatikannya hanya mampu menahan nafas. Sejujurnya, baru kali ini ia mendapati ekspresi keras Han Sajangnim selama hampir 5 tahun eksistensinya bekerja di Bright & Shine Co Ltd.

Ia mendapati tablet yang tadi ada digenggaman Han Sajangnim tergeletak begitu saja. Di tumbuhi rasa penasaran yang teramat sangat, ia akhirnya memberanikan diri untuk meng-cross check tablet tersebut, yang ternyata menampilkan sebuah e-mail masuk.

Seketika matanya terbelalak sempurna setelah ia membaca apa yang ditampilkan screen. Sederet teks yang nyaris membuat jantungnya melompat dari rongga dadanya.


| From : YJL89

Subject : Report

Sajangnim. Hae Yeon baru saja menjambak Baekhyun-ssi dan Kyungsoo-ssi, serta menghancurkan pesanan Nona Ryu di meja anda. |


"Gila!" umpat Daniel mengundang perhatian karyawan lain.

"Ada apa Daniel-ssi?" tanya seorang wanita berambut sebahu yang ternyata bernama Hyosung.

"Hae Yeon-ssi ingin mati di tangan sajangnim."

Para karyawan hanya menghela nafas pasrah.

Other Side...

Chanyeol merapikan sisa makan siangnya. Makan siang? Sebentar lagi malam dan dia baru makan siang? Okay, lupakan pertanyaan itu. Ini sebenarnya disebabkan oleh tingkahnya sendiri. Terdiam seharian dengan memandang sendu serpihan buku yang secara tragis terjatuh begitu saja di atap mobilnya.

Ah iya. Buku itu telah selesai ia 'perbaiki', dan hatinya berdenyut nyeri setelah satu pemikiran negatif menghinggapinya. Mungkinkah pemilik buku ini bukan Hae Yeon? Dan kenapa Chanyeol jadi memikirkan si mungil bermata cantik itu?

"Yeol-a~ kau sudah menghabiskan makananmu?" suara lembut kakak sepupunya menggema di sudut ruangan.

"Hmm. Wae?"

"Hufftt. Noona pergi dulu sebentar. Noona akan mengambil pesanan gaun noona~"

Sera merapikan tas kecilnya. Sesekali jemari lentiknya bergerak random, menyelipkan helai anak rambutnya yang menjuntai menutupi matanya di belakang telinga. Wajah campuran Korea-Kanada yang membuatnya terkadang diragukan bahwa pekerjaannya hanya manager artis nampak dipenuhi tanda tanya.

"Noona.."

"Heung?"

"Noona bermaksud akan pergi ke kantor Ji Hyun hyung?"

"Ne, waegeure?"

"..."

Sera masih sibuk dengan aktifitasnya. Ia bahkan tak menyadari ekspresi Chanyeol saat ini. Pemuda jangkung tersebut justru menundukan wajahnya, sebelum akhirnya jemari panjangnya bergerak untuk mencengkram surai kelamnya. Benar, entah kenapa ia merasa teramat kalut.

Sera meraih tas tangan favoritnya, dan menyambar kunci mobil yang tergeletak dengan manis di sisi sebuah buku yang nampak asing baginya. Matanya menyipit, dengan dahi yang berkerut. Di otaknya mulai bermunculan berbagai sepekulasi yang justru membuat kepalanya nyaris meledak.

"Yeol-a~ noona berangkat sekarang."

Chanyeol mengangguk kecil. Ia benar-benar merasa merana.

"Huh, aku jadi kurang mood untuk menghadiri acara besok. Tapi, Ji Hyun hyung bisa kecewa padaku. Dan a~ aku bisa saja tahu siapa pemilik asli buku itu, kan?"

Baiklah semoga harapanmu terkabul, Park Chanyeol.

.

.

.

Apartement Area, Gangnam, Seoul October 6, 2014; 08.00 P.M. (SKT)

Sesosok namja mungil nampak sibuk dengan beberapa tumpuk katalog khusus yang tersusun rapi di ruang tengah apartement milik sahabatnya. Mata bulatnya bergerak kesana kemari guna memastikan apakah apa yang dilihatnya benar-benar sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Ck, kau berlebihan Do Kyungsoo – batinnya sendiri –

Suara berisik dari salah satu ruangan yang memang dekat dengan ruang tengah – ruang baca sekaligus ruang kerja – membuat Kyungsoo menggeleng. Ia menghela nafas mengingat perlakuan Hae Yeon sore tadi. Perlahan ia meringis tatkala pusing kembali mendera. Hey, jambakan Hae Yeon tidak bisa dibilang main-main. Ia menatap iba punggung ringkih Baekhyun yang terlihat dari celah pintu yang terbuka. Ia ingat betul, Baekhyun juga dijambak, selain itu namja manis itu mendapat cakaran di leher-nya. Dan err, dia jadi bergidik mengingat suara keras penuh emosi Han Sajangnim.

Flashback On_

Kyungsoo sibuk – dengan diam-diam tentu saja, tanpa sepengetahuan atasannya – menenangkan Baekhyun yang nampak histeris di ruang produksi. Sungguh, ia tak habis pikir dengan tingkah menyebalkan sekaligus kekanakkan Hae Yeon.

"Pantas Han Sajangnim lebih mempercayaimu, Baek.." gumam Kyungsoo.

Ia mengelus lembut bahu Baekhyun. Mata bulatnya ikut memanas, membayangkan bagaimana jika seandainya ia yang berada di posisi Baekhyun. Wah, mungkin ia sudah memilih untuk mengundurkan diri jauh-jauh hari.

"Kyung, aku khawatir jika ada yang menemukan bukuku dan justru membuangnya di Tempat Pembuangan Akhir. Ya Tuhan! Bahkan itu sudah tak layak disebut buku.."

"Aigoo~ aku juga khawatir, Byun Baek. Aish~ bagaimana bisa Chanyeol-ssi salah sangka?"

"Mwo?"

`glup`

"Huh?" Kyungsoo justru bingung sendiri.

"Apa maksudmu Chanyeols-ssi salah sangka?"

"Err~ itu.. itu..."

`BRAK`

Bantingan pintu yang terdengar hingga memekakkan telinga mengalihkan perhatian keduanya. Seketika baik Baekhyun maupun Kyungsoo menegang. Apalagi disaat iris mereka menangkap wajah Hae Yeon yang memerah karena emosi.

"A-ada apa Hae Yeon-nim?" tanya Kyungsoo cemas.

"..."

Hae Yeon bungkam. Namun justru mempercepat langkahnya mendekati dua namja mungil yang membeku di sudut ruangan.

Tangannya terulur, dan kemudian..

Bergerak menarik surai kelam Baekhyun dan Kyungsoo bersamaan.

"Dasar samapah, kalian berdua!" murkanya.

Tak cukup sampai disitu, Hae Yeon menyeret Kyungsoo-Baekhyun menuju ruangan Han Sajangnim. Dia mengacak rancangan gaun yang kebetulan disetorkan oleh Yoon Hee pagi-pagi tempo hari.

Bahkan, kini jemarinya dengan ganas mencekik Baekhyun. Hingga akhirnya..

"NO HAE YEON! PERGI DARI SINI!"

Hae Yeon mematung. Dengan takut-takut ia membalikan tubuhnya dan seketika ia merasa lemas setelah mendapati sosok Han Sajangnim dengan mata yang berkilat tajam, dan aura gelap yang menguar dari tubuh tegapnya.

"Bersiaplah, pemindahanmu akan ku percepat 24 jam dari sekarang!" desisnya tajam.

Han Sajangnim menarik lengan mungil Baekhyun, dan membawanya pergi meninggalkan Hae Yeon yang menatap kosong kearah Kyungsoo.

"Dan satu lagi, Kyungsoo bukan asistenmu mulai sekarang."

Flashback End_

"Kyungie.. bagaimana?" suara Baekhyun memecah lamunan Kyungsoo.

"Well, aku tak menyangka jika design Hae Yeon-ssi selama ini menjiplak karyamu, Baek.."

"..."

Kyungsoo mengernyit karena Baekhyun justru bungkam. Ia mengedikan bahunya acuh, hingga kemudian bergerak antusias mendekati Baekhyun dengan seperangkat alat make up ditangannya.

"Ayo, saatnya kau berubah nona manis.."

"..."

Baekhyun menghentikan aktifitasnya mendengar seruan Kyungsoo. Dan ia pasrah-pasrah saja disaat sahabat baiknya itu menyeret-nya, mendekati cermin besar yang tertutup oleh design rancangan terbaru Baekhyun.

`srek`

Baekhyun tersenyum manis. Dan senyumnya kian mengembang setelah Kyungsoo melepas kacamata full frame yang selama ini ia gunakan.

"Kita lihat, apakah Chanyeol-ssi akan tetap cuek melihat penampilanmu nanti?"

.

.

.

.

Ballroom hotel kawasan Apgeujong, October 7, 2014; 06.00 P.M. (SKT)

Blitz

Blitz

Blitz

Jepretan kamera paparazzi menghiasi pesta yang sedang dilaksanakan. Di sudut sana, tampak sosok Hae Yeon dengan tuksedo merahnya tengah memainkan gelas berisi wine. Ia nampak termenung. Aksinya terbongkar sudah.

"Ini semua karena Baekhyun sialan itu.." gerutunya.

Riuh sorak-sorai tamu undangan menarik perhatiannya. Dan seketika raut wajahnya berubah ceria tepat setelah bola mata hijaunya menangkap sosok jangkung seseorang yang dikenalnya tengah mencoba menerobos kerumunan wartawan.

Sementara itu...

Chanyeol membenahi coat-nya yang melorot turun karena desakan pemburu berita yang ia coba terobos. Di depannya, sosok Sera tersenyum geli setelah ekor matanya menangkap belah bibir sensual milik Chanyeol yang mencibir kecil.

"Yeol-a~ kudengar dari Ji Hyun jika sosok Valerian B akan mempublikasikan dirinya untuk pertama kali malam ini. Bersiaplah.."

"Noona masih berniat menjodohkanku dengan Valerian B?" Chanyeol mengernyit tak suka.

"Hehe.. noona benar-benar mengharapkan kau bisa bersama Valerian B, Yeol. Daripada dengan err... siapa kemarin? Hae Yeon?" Sera bertanya dengan sinis.

"..."

Tepat setelah mereka berhasil lolos dari kepungan wartawan, Chanyeol menangkap peregerakan seseorang yang sedang menuruni anak tangga dengan terburu. Netra bulatnya kian membulat setelah tahu siapa sosok tersebut.

"Hae Yeon?" otaknya blank seketika.

Hae Yeon memperlebar langkah kakinya. Senyum menawan merekah sempurna di bibirnya. Pikiran-pikiran akan ia yang akan menjadi kekasih Chanyeol berseliweran di otaknya. Namun, fantasinya seketika buyar setelah ia menangkap ekspresi dingin Chanyeol.

"Kau ingat ini?" Chanyeol bertanya dengan tajam sembari mengeluarkan buku bersampul cokelat dari saku coatnya.

"I-itu..."

"Ck, harusnya aku tahu jika orang picik sepertimu tak mungkin memiliki hal-hal indah seperti ini."

Chanyeol meninggalkan Hae Yeon yang menunduk. Dia merasa kecewa – teramat sangat – tapi dia berani menjamin jika penyebab dirinya kecewa bukan karena Hae Yeon yang pada kenyatannya bukan pemilik buku diary itu. Tetapi ia kecewa karena ketidak pekaannya. Ia yakin jika ada orang lain yang mampu membuatnya melayag hanya karena tatapan teduh mata indahnya.

Tanpa di duga, angin besar berhembus, memporak-porandakan dekorasi pesta yang memang dilaksanakan secara outdoor. Pesta yang seharusnya menyenangkan berubah mencekam.

Chanyeol tetap bertahan diposisinya, sementara para undangan yang lain sibuk menyelamatkan diri. Sepuluh menit kemudian, hingar bingar pesta tenggelam oleh keheningan.

Secara tak sengaja, buku ditangan Chanyeol terbuka, dan pergerakan lembar-lembar kacau tersebut terhenti pada satu design. Tuksedo berwarna crimson.

Derap sepatu pantofel yang beradu dengan marmer memecah keheningan. Chanyeol mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Detik berlalu, ia terhenyak setelah ia mendapati sosok namja mungil berbalut tuksedo crimson yang berdiri dengan wajah bingung menatap lokasi pesta yang berantakan.

Ia menahan nafas, dan entah mengapa jantungnya berdetak dengan menggila. Ia memutuskan menghampiri sosok tersebut.

`tep`

Kini, keduanya berhadapan. Dan ia langsung menyodorkan buku diary yang ada digenggamannya.

"Ini milikmu bukan, Baekhyun-ssi?"

"..."

Baekhyun – sosok tersebut – dengan refleks menutup mulutnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak untuk menerima benda berharganya tersebut.

`tes`

Bulir bening tersebut menetes, membasahi sampul kulit buku yang kini ada ditangannya. Chanyeol yang mengetahuinya segera menangkup wajah ayu pemuda bermarga Byun. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit mendapati raut sendu sosok yang ternyata selama ini dicarinya. Ya, Si 'Mata Indah'.

Irisnya bersirobok dengan bola mata sipit yang berhias eyeliner yang justru mempertegas wajah rupawan Baekhyun.

"Uljimaa.." bisik Chanyeol lembut seraya menempelkan keningnya dengan kening Baekhyun.

"Ne, gansamhanida sudah menjaga milikku yang berharga Chanyeol-ssi.." bisik Baekhyun, diikuti senyum manis yang membuat Canyeol nyaris meleleh.

Chanyeol ikut tersenyum – tanpa sadar – dan ia langsung melepas tautan kening diantara mereka, hingga akhirnya menjulurkan tangan kanannya, sementara badannya agak menunduk – pose pangeran yang mengajak sang pendamping untuk berdansa –

"So, Byun Baekhyun... Wanna dance with me?"

"Of Course Mr. Park.."

Keduanya mulai bergerak, dengan langkah kaki yang seirama. Seolah mereka memang sudah terbiasa melakukannya. Belum lagi jemari masing-masing yag bertaut lembut, saling mengisi sela-sela jari dengan pas. Seakan pula mereka memang ditakdirkan untuk bersatu.

"Baek.."

"Heung?"

"Maukah kau menjadi kekasihku?"

"M-mwo?"

Seketika Baekhyun menghentikan gerakannya. Membuat Chanyeol mengernyit tak suka.

"Kenapa?"

"A-aish.. seharusnya aku yang bertanya kenapa.."

"Fine.. I hope you want to be my lovers..."

"..."

"Because I Love You So F*cking much, B"

Chanyeol menyodorkan setangkai mawar putih. Membuat Baekhyun tersipu malu, dan mengangguk kecil setelah ia menerima mawar yang disodorkan untuknya. Yeah, mawar putih. Cinta suci. Ehem.

"I Love you, too.. Park Chanyeol.."

Chanyeol tersenyum. Ia langsung – kembali menangkup wajah Baekhyun dengan telapak tangannya yang lebar – sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya sendiri di bibir tipis Baekhyun. Melumatnya kecil dan melepaskanya tanpa melepas tautan keningnya.

Itu posisi favorit Chanyeol, ngomong-ngomong.

"Saranghae, B..."

"Nado.."

Chanyeol kembali menautkan bibirnya dengan lembut.

Oh, tanpa mereka sadari di ujung sana Sera tengah sibuk mengelap hidungnya yang kini mengeluarkan darah. Ia mimisan.


The End


Omake :

Sera bersungut karena belum bertemu dengan sosok asli Valerian B. Namun aksi cemberutnya berhenti setelah ia mendapati sosok Han Sajangnim yang tengah termenung.

"Ji Hyun-ah!"

Han Sajangnim mengalihkan fokusnya dan mendapati sosok Sera yang tersenyum anggun.

"Sedang apa kau disini?" tanya Sera.

"Hmm.. merenung, noona."

"Huh? Merenung?"

"Ya, aku patah hati."

Sera mengeryit. "Kau jatuh cinta? Dan sekarang patah hati? Hey, sosok seperti apa yang bisa mencairkan hatimu yang beku?"

"Ya, dan Ya. Sosok yang aku cintai... dia... Byun Baekhyun. Asistenku sendiri.."

Sera melotot mendengar pengakuan namja dingin yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

"Dan ini informasi yang kau minta noona."

Sera menerima amplop cokelat yang Ji Hyun sodorkan dengan ekspresi blank-nya. Ia membuka amplop yang ada ditangannya, dan membaca sebuah kertas yang terdapat sederet identitas seseorang dengan seksama.

"M-mwo? Valerian B itu Byun Baekhyun?"

"Ya, Valerian B, sosok designer yang dipuja banyak orang adalah sosok lain Byun Baekhyun yang tersembunyi oleh kacamata full frame yang kini menjalin cinta dengan adik sepupumu itu."

Sera langsung tak sadarkan diri namun dengan raut wajah penuh binar kebahagiaan.

Ck,ck.. Han Sajangnim hanya menggeleng kecil.


[A/N]

Hoi, hoi~

Aku kembali dengan chapter terakhir The Diary ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Sebelumnya aku minta maaf jika Chapter ini terkesan memaksa karena ya, tahu sendiri lah jika Writer Block menyerang.. akan sulit mengobatinya -_-

Dan efeknya tulisanku makin kacau ㅠㅠ /jambak Kim Young Min/

Wanna Review?

.

.

.

Lala Tampan(?)