Haizaki tidak pernah bermimpi jika dia akan mati semudah ini, mati karena kehabisan nafas. Konyol memang, bisa-bisanya dia berpikiran tentang hal seperti itu ketika nyawanya sudah diujung tanduk. Haizuki kampret itu pasti akan menertawakan dirinya.
"Emhh-"
"Sssttt, pencuri nakal harus diam." Haizaki bisa mendengar jelas suara seseorang yang sedang membekap mulutnya, yang pasti dia laki-laki.
"Ne, tuan pencuri harus dihukum."
Lagi.
Laki-laki yang membekap mulut Haizaki berbisik ditelinganya, Haizaki memejamkan matanya, percuma saja membuka mata jika matamu hanya bisa memandang dinding, terlebih di malam hari.
"Wha-t-ahh-" Lelaki tadi menghisap lehernya kuat-kuat yang membuat Haizaki mendesah sekaligus bergidik ngeri.
"Arrgghh." Lelaki yang membekap Haizaki berteriak kesakitan, dan setelahnya ia bisa merasakan bekapan dimulutnya terlepas, reflek Haizaki mencoba maraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Penasaran, Haizaki berbalik dan mendongak keatas, Lelaki atau sebut saja pemuda setelah Haizaki melihat dengan jelas sedang berusaha melepaskan tangan yang mencekik lehernya hingga membuat tubuh pemuda tersebut mengambang diudara.
Haizaki menelan ludahnya susah payah.
Lelaki yang mencekik leher pemuda tersebut sedikit melirik kearahnya, sudut bibirnya membentuk sebuah seringai jahat kearahnya sebelum mengalihkan pandangannya ke pemuda yang ada dalam cekikannya.
"Kabur lagi eh Hanamiya." kata lelaki pencekik tersebut.
Pemuda yang dipanggil Hanamiya hanya memandang datar, seolah-olah teriakan yang Haizaki dengar pertama kali dari mulutnya tadi bukanlah suaranya.
Tak ada rasa takut disana, Jika ini bukan suasana yang serius, Haizaki akan memberi A+ karena ekspresi pemuda tersebut yang tampak tenang dan terkesan meremehkan lelaki di hadapannya.
"Bukan urusanmu Nijimura-senpai." kata Hanamiya dengan nada mencemooh, menanggapi lelaki pencekik lehernya yang ia panggil Nijimura.
Muak Nijimura melempar tubuh Hanamiya hingga menubruk dinding lorong, menimbulkan bunyi kedebum keras.
Haizaki meringis melihat hal itu, tubuhnya yang masih duduk di lantai beringsut mundur. Persis seperti sus-Haizaki ngesot.
Butir-butir keringat mulai berjatuhan di dahi Haizaki. Nijimura yang masih berdiri menjulang beberapa meter didepannya, sedikit tersenyum licik kemudian berjalan dengann gaya sok-sok an di slow motion-in kearah Haizaki.
Haizaki panic bukan main. Posisinya sekarang persis seperti Jerry yang tertangkap basah mencuri keju dari Tom.
Haizaki memandang horror ketika Nijimura sudah berjongkok didepannya.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan padamu?" tanyanya pada diri sendiri, suara baritone-nya menggema di lorong ini. Tangan kanannya menepuk-nepuk pipi Haizaki.
Haizaki meneguk ludahnya paksa.
.
.
.
Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
Take off - Rangga Sengak
.
WARNING : HOMO, M/M, GAJE, TYPO, OOC, OC.
[NijiHai] [AkaFuri] and Other.
.
.
.
Furihata dengan kaos tipis bergambar cihuahuanya tengah duduk bersandar pada salah satu sofa diruang tamu milik klien bosnya yang katanya juga sohibnya pas kuliah dulu.
Tangannya memencet-mencet remote TV yang ada didepannya, matanya sudah membentuk lingkaran panda tapi satu hal-
Furihata tidak bisa tidur.
Sungguh terlalu.
Salahkan kebiasaannya yang Home complex, yang jika tidak tidur dirumahnya sendiri ia tidak akan bisa tidur nyenyak, seperti malam ini.
Bosan, Furihata mendongakkan kepalanya keatas. Matanya mengamati beberapa desain interior di langit-langit mansion ini. Desain yang unik dan terkesan misterius, yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.
Sesuatu bewarna merah menyembul di langit-langit itu, Furihara menyengrit heran. Antara aneh dan tak masuk akal, sesuatu yang menyembul itu makin membentuk sebuah wajah, itu wajah Akashi-orang yang mengamatinya sejak siang tadi.
Furihata terkejut bukan main, badannya yang tengah bersandar dan kepalanya yang mendongak reflek akan berdiri tegak jika tidak terhalang tubuh Akashi yang ternyata tadi sudah berdiri membungkuk mendekati wajah Furihata. Memerangkap tubuhnya.
"Ap-" belum selesai Furihata berbicara, Akashi sudah memegang kedua bahunya erat. Makin terjepitlah tubuh Furihata.
'Apa-apaan ini.' pikir Furihata panic.
Tubuhnya sudah bergetar bak vibrator.
"Ssshh… rileks, aku tidak akan menyakitimu." bisik Akashi meyakinkan.
Furihata terdiam cukup lama, berusaha menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat.
Setelah melihat Furihata tenang Akashi melepaskan pegangannya pada bahu Furihata.
"Sudah tenang?" Tanya Akashi yang di jawab anggukan dari Furihata.
Akashi tersenyum tipis, tipis banget. Furihata yang didepannya bahkan tidak bisa melihat senyuman langka tersebut..
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu dan aku butuh izin darimu." lanjut Akashi memandang serius kearah Furihata. Furihata yang dipandangi begitu sedikit tersipu malu.
"Aku mengizinkan." kata Furihata ragu. Akashi sempat menyeringai tadi sebelum mengucapkan kata-kata nista ini.
"Kalau begitu buka celanamu."
Mata kecoklatan Furihata terbelalak lebar, mulutnya menganga mendengar perkataan tak masuk akal dari Akashi.
Hah?
.
.
.
Aomine menghembuskan asap rokok yang ia hisap ke sembarang arah, tubuhnya bersandar pada dinding samping jendela. Disisi lain Ivan, lelaki berambut pirang kotor itu tengah duduk di kursi kerjanya, tangannya tengah meracik dua cangkir kopi untuk mereka minum nanti.
"Tenang saja, aku sudah menyerahkan semua pada Nijimura." kata Ivan, tangannya kini menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir yang telah ia siapkan.
"Setidaknya dia lebih baik dibanding denganmu." kata Aomine sinis. Ivan tertawa keras mendengar perkataan dari sahabatnya ini.
Aomine mendengus dan menghisap kembali rokoknya.
"Gula?" Tanya Ivan tangan kanannya sudah menyendok gula, tinggal menunggu persetujuan Aomine untuk menuangkan gula tersebut ke dalam cangkir.
"Tidak." jawab Aomine, tangan kanannya membuat gerakan tak suka, menolak tawaran Ivan.
Tangan kanan Ivan yang memegang sesendok gula mengurungkan niatnya dan mengembalikan gula tersebut ke wadahnya.
"Soal adiknya Haizuki, apa kau masih bersamanya?" Tanya Ivan, kini tangannya ganti memegang sebuah termos kecil dan menuangkan air panas yang ada di dalamnya ke dua cangkir yang telah terisi dengan bubuk kopi, uap panas mengepul dari sana.
Aomine sedikit melirik kearah Ivan, kemudian menarik sudut bibirnya sedikit.
"Tidak." jawabnya sedikit tak suka dengan jawabannya sendiri.
"Sayang sekali."
"Tapi dia lebih menarik dibanding dengan foto yang kau pamerkan padaku, Nijimura, dan Hanamiya dulu." goda Ivan, tangannya ganti mengaduk dua cangkir kopi dihadapannya.
"Dia memang menarik." Kata Aomine, matanya menerawang ke masa lalu.
"Kau tahu dengan mengajaknya kesini, berarti kau juga tahu konsekuensinya." Ivan menghentikan kegiatannya sejenak, matanya ganti menatap Aomine yang masih bersandar pada dinding di dekat jendela.
"Aku tahu." jawabnya mantap, asap rokok kembali Aomine hembuskan dari bibirnya.
"Haha… jadi kau juga mengajak Haizuki karena ini."
"Pintar sekali." Ivan sedikit menyeringai kearahnya. "Kau jelas tahu bagaimana kelakuan Nijimura maupun Hanamiya."
"Dan sepertinya mereka juga sudah tahu tentang ini." seringai Ivan semakin lebar, ia tak tahan untuk tertawa keras menikmati semua ini.
Aomine mendecih kemudian menimpali "Haizuki, dia tidak akan tinggal diam."
"Kita lihat nanti, aku menunggumu kalah Aomine."
Aomine mematikan rokoknya, kemudian menginjaknya kesal. Aomine sedikit melirik kearah Ivan yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Kita lihat siapa yang akan turun tangan duluan." Aomine berjalan meninggalkan Ivan yang tengah menyesap kopinya dalam kesendirian.
.
.
.
Haizuki mencoba menghubungi adiknya lewat Handphonenya, berkali-kali menghubungi tidak ada tanda-tanda akan diangkat oleh Haizaki. Yang ada malah balasan kotak suara si adik dodol 'Orang cakep lagi sibuk, tinggalkan pesan.'
Kampret.
Kemana adiknya yang tembem, imut dan unyu-unyu yang Haizuki nistakan dulu. Dasar, perasaan teman premannya Haizaki dulu sudah ia bantai sampai keakar-akarnya. Tetapi kenapa adiknya nggak balik kayak dulu.
Ah, nasib!
Kemana perginya panggilan 'Oni-chan' untuknya.
Kemana?
Jika bisa, Haizuki ingin memutar waktu ke masa lalu.
Khawatir. Haizuki segera bergegas menuju kamar sang adik tersayang.
"Senpai?" Aomine memanggil Haizuki yang setengah berlari di lorong lantai 3. Haizuki berhenti sejenak, tepat didepan kamar Haizaki. Raut wajahnya seperti orang kebingungan.
"Ada apa?" Tanya Aomine setelah berada di hadapnnya ikut-ikutan khawatir.
"Haizaki tidak mengangkat HP-nya." jawab Haizuki khawatir. Raut wajah Aomine berubah panic luar biasa, jika ada apa-apa dengan Haizaki, itu berarti adalah salahnya.
Brakk
Dengan tak sabaran Haizuki mendobrak pintu kamar Haizaki.
Haizuki dan Aomine berdiri mematung didepan pintu melihat kondisi adiknya.
Disana Haizaki tengah terikat di atas ranjang. Dengan baju yang sudah tak karuan bentuknya, kusut, rambut berantakan, darah disana-sini dan luka lebam di wajahnya.
"Z-zaki."
.
.
.
Tbc Strike Again
.
Terima kasih untuk yang sudah fav/follow.
Dan terima kasih juga untuk Review-nya.
Maaf, lagi-lagi pendek bgt.
Kampret bgt kan.
.
[Update : 25/04/2015]
