Separah-parahnya Aomine, ia tidak pernah merasa bersalah sebesar ini. Apalagi masalah itu dibuat olehnya karena rencana busuknya dengan Ivan, mengingat si pirang kotor itu, Aomine jadi ingin meninjunya.
Tapi-
Nasi sudah menjadi bubur.
Parahnya baru permulaan sudah begini kejadiannya.
Haizaki terluka karena dirinya.
Aomine mengepalkan tangannya, matanya menatap nanar ke tubuh Haizaki yang terbaring di ranjang miliknya—mengingat kamar Aomine lah yang terdekat untuk memindahkan tubuh Haizaki—mata keabuan yang sering Aomine kagumi keindahannya kini tertutupi oleh kelopak mata Haizaki. Nafasnya naik turun teratur. Pakaiannya sudah berganti dengan kimono keabuan.
Persis seperti putri tidur plus plus, karena ditambah wajahnya yang lebam sana-sini.
Haizaki…
"Maaf."
.
.
3 years ago.
.
.
"Hoi ada razia cepat kabur."
Haizaki dengan seragam SMA-nya segera berlari, teman-teman se-tawurannya sudah lari seribu, alias menghilang dengan kecepatan tingkat dewa. Bahkan lawan tawurannya juga sudah lari terbirit-birit entah kemana.
Bingung, Haizaki yang melihat polisi celingak-celinguk beberapa meter darinya tanpa pikir panjang segera menaiki pagar dinding entah apa itu, bodo amat pikirnya kepepet.
"Turun bocah nakal." Haizaki mendecak ketika dua orang polisi sudah berada dibawahnya. "Tangkap nih sepatu."
Haizaki ketawa ngakak ketika sebelah sepatunya mengenai muka salah satu petugas polisi yang ada dibawahnya.
"Bocah sialan."
"Arggghhh, wajah gantengku kena sepatut butut."
"Najis."
Haizaki memeletkan lidahnya, kemudian melompat kebawah ke sisi lain tempat ia berpijak.
Empuk adalah yang ia rasakan pertama kali ketika mendarat di tanah, seingatnya tanah itu keras, lah ini kok empuk kebangetan.
Penasaran dengan tanah empuk, Haizaki menunduk dan mangap melihat kakiknya yang separuh bersepatu dan separuh berkaus kaki dengan indahnya mendarat di atas sebongkah tubuh manusia yang tengah tiduran dengan telungkup di atas tanah.
"Bukan tanah ternyata." katanya kecewa, mengabaikan orang yang berada di bawah kakinya tengah berteriak kesakitan.
Sadar woi.
Orang yang diinjak tubuhnya dengan semena-mena oleh Haizaki yang sudah kesakitan tingkat mampos, berguling ke kiri sehingga menyebabkan tubuh Haizaki kehilangan keseimbangan dan ganti jatuh ke tanah.
"Kampret." teriaknya kesakitan.
Orang yang diinjak olehnya berdiri sembari membersihkan kemejanya yang kotor terkena injakan Haizaki. Haizaki sedikit ngakak ketika mendapati T-shirt orang yang diinjaknya yang ternyata seorang pemuda yang kira-kira berusia 3 tahun diatasnya tercetak sebuah cap telapak sepatunya.
Pemuda tersebut sedikit mendengus, kemudian mata biru gelap miliknya menatap tajam kearahnya.
"Apa yang dilakukan pelajar SMA di Universitas eh?" katanya mengintograsi.
Haizaki cuek kampret sembari berdiri dan menepuk-nepuk seragam SMA-nya yang kotor sedangkan pemuda 'korbannya' menaikkan sebelah alisnya keatas, menunggu permintaan maaf darinya.
Satu menit.
Lima menit.
Urat kesabaran pemuda korban terinjak-injaknya nampaknya sudah habis, ia kemudian mendorong tubuh Haizaki ke belakang, merapat pada pagar dinding dibelakangnya.
Haizaki kaget, kemudian balas mendorong tubuh pemuda didepannya, aksi dorong-mendorong itu terus berlanjut hingga Haizaki merasakan sebuah tangan mengrepe pantat seksinya.
Sedangkan pemuda tersebut memandang ganjil kearahnya.
"Dapat."
Haizaki terperangah ketika mendapati pemuda tersebut mengambil dompetnya, dan mengeluarkan sebuah kartu yang sakral bagi seorang pelajar, yaitu kartu pelajarnya.
"Haizaki Shougo eh." bacanya.
"Aku Aomine Daiki-"
"Jika ingin kartu ini kembali, jadilah pacarku."
.
.
.
Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
Take off - Rangga Sengak
.
WARNING : HOMO, M/M, GAJE, TYPO, OOC, OC.
[NijiHai] [AkaFuri] [AoZaki] and Other.
.
Haizaki = 19 tahun
Nijimura-Haizuki-Aomine = 23 tahun
Furihata-Akashi = 22 tahun
Ivan = 24 tahun
Hanamiya = 17 tahun
.
.
.
Nijimura menarik sudut bibirnya, ketika Ivan sedikit menceramahinya. Bosan, ia menguap lebar, diliriknya Hanamiya yang sedang merengut mengerjakan pekerjaannya, wajahnya terlihat babak belur akibat ia kabur dari sekolahnya.
"Hoi, kau dengar perkataanku atau tidak" Ivan berkacak pinggang didepannya, ck.. saudara beda ibunya ini memang sungguh cerewet.
Nijimura mengalihkan pandangannya ke lelaki bersurai pirang kotor didepannya. Kakinya ia silangkan di tempat duduk, sebelah tangan ia gunakan untuk memegang sebuah gelas berisi cairan entah apa itu.
"Apa?"
"Kau keterlaluan padanya Niji." tunjuk Ivan pada Nijimura, mata kucingnya menyala tajam padanya, ia sudah memperkirakan reaksi Ivan dan penghuni yang berada di mansion ini. Bibirnya tertarik keatas "Ini masih pembukaan Ivan."
Bibirnya ganti meneguk minuman di tangannya "Dan bagian utamanya akan lebih menarik dari ini." Ivan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan saudara beda ibu didepannya "Aomine salah, kau lebih buruk dariku."
"Thank you."
"Oi, itu bukan pujian." protes Ivan, tangannya meremas surai pirang kotornya.
"Bagaimana aku bisa pergi jika seperti ini." keluhnya.
"Tua bangka itu akan membunuhmu jika kau tidak segera pergi." Nijimura menimpali. "See you brother, see you..."
Ivan mendengus jijik, mata kucingnya bergantian melirik kearah Nijimura dan Hanamiya.
"Kalian jangan terlalu berlebihan."
"Sebesar rasa tertarik kalian padanya, jangan sampai membunuhnya." peringatnya yang dibalas seringai dari Nijimura dan senyuman lebar dari Hanamiya sang adik angkat.
"Tergantung-" kata Nijimura menggantungkan kalimatnya, matanya sedikit melirik tajam kearah Hanamiya yang juga kebetulan melirik kearahnya mengabaikan pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Rasanya." lanjutnya sembari menjilat bibirnya.
"Dasar sinting." Ivan sedikit menarik sudut bibirnya. "Aomine, dia pasti akan menyesal."
Ketiganya tertawa bersamaan, seolah-olah kata-kata yang Ivan lontarkan barusan adalah sesuatu yang lucu.
Sungguh keluarga aneh.
.
.
.
Haizuki ingat betul ekspresi kesakitan adiknya ketika ia membukakan ikatan di tangan dan kakiknya, ekspresi yang tidak ingin ia lihat lagi tertampang diwajah Haizaki.
Selalu saja seperti ini, adiknya selalu terlibat masalah. Semua masalah seakan mengikutinya kemanapun ia pergi, adiknya itu tanpa melakukan apapun masalah selalu datang mengganggu.
Satu hal yang membuatnya panik adalah adanya darah disana-sini di tubuh Haizaki, yang untungnya ketika ia merengkuh tubuh Haizaki lebih dekat itu bukanlah darah melainkan cairan bewarna merah yang tercium seperti bau anggur.
Ia tidak bisa menghela nafas lega karena hal itu, wajah adiknya yang lebam dan tubuhnya yang lecet disana-sini, ditambah bajunya yang tak karuan bentuknya membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adiknya dengan baik, dia kakak yang gagal untuk kesekian kalinya.
Haizuki bahkan tak sadar, jika Aomine ternyata juga merengkuh tubuh Haizaki, mata biru gelapnya terpancar penyesalan yang dalam.
"Senpai, ayo pindahkan Zaki kekamarku." Haizuki mengangangguk dan menggendong adiknya menuju lantai dua-kamar Aomine. Aomine mengekor di belakangnya.
Setelah itu ia dan Aomine membersihkan luka lebam di tubuh Haizaki kemudian mengganti pakaiannya dengan kimono keabuan milik Aomine.
Yang diingatnya dengan jelas adalah suara rintihan kesakitan Haizaki ditelinganya.
Betapa ia ingin menggantikan posisi Haizaki, sungguh ia tak tega melihat adiknya lemah tak berdaya seperti ini.
Mengingat hal itu, semakin membuatnya panas, siapa yang berani mengganggu adiknya.
"Senpai, ada yang ingin kubicarakan." kata Aomine yang berdiri dihadapannya dengan tampang super serius,
"Ini soal Haizaki." lanjutnya yang membuat Haizuki langsung berdiri dari duduknya, sedikit melirik kearah Haizaki yang masih terbaring ditempat tidur kemudian mengangguk kearah Aomine.
.
.
.
Furihata tidak mengerti dengan orang yang sedang memandangnnya dengan serius didepannya.
Orang ini-gila.
Titik.
Orang mana coba yang baru bertemu denganmu tadi siang dan terus memandangmu intens, kemudian malam harinya tiba-tiba muncul dihadapanmu, meminta izin dan menyuruhmu untuk membuka celanamu. Sinting benar.
"Untuk a-apa?" cicitnya, tubuhnya yang dari tadi sudah lepas dari kungkungan Akashi kini sedikit menjauh darinya, menjaga jarak.
"Ingin memastikan sesuatu." jawabnya dengan seringai yang kini bisa Furihata lihat dengan jelas.
"T-tapi ke-kena-pa c-e-l-a-n-a." Kata Furihata gagap sembari menunjuk celananya sendiri dengan polosnya.
"Karena yang ingin ku pastikan ada dibalik celana itu." terang Akashi panjang lebar, sepasang mata berbeda warna itu terus menatap intens kearah-celananya-kali ini.
"A-ku malu." Furihata ingin jatuh kejurang saat ini juga, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, seperti gadis yang mau diajak ehem ehem oleh pacarnya, kampret banget pikirannya.
"Aku cuma mau melihat itu."
Ya tuhan, Furihata kok merasa percakapan mereka sangatlah mesum, buka-bukaan lagi.
"Z-zaki."
Furihata dan Akashi saling berpandangan, melupakan soal acara buka-bukaan mereka, Furihata segera naik kelantai atas diikuti Akashi yang mengekor diibelakangnya dengan dahi sedikit mengkerut mengikuti sumber suara yang tadi berteriak kencang.
"Aomine-san, Haizuki-san." Panggilnya khawatir ketika mendapati Haizuki dan Aomine tengah merengkuh tubuh Haizaki bebarengan. Sungguh kondisi yang memilukan untuk dilihat.
Akashi yang mengerti akan keterkejutan Furihata langsung menariknya kedalam pelukannya dan membimbingnya menuju kamarnya yag berada di lantai satu yang bersebelahan dengan kamar Haizuki dan dirinya.
"Minum dulu." Furihata menerima segelas air putih yang diberikan oleh Akashi padanya.
"Ta-di Haiza-"
"Ssshhh- kita tunggu sampai besok untuk bertanya pada Aomine dan lainnya." potong Akashi, mata berbeda warna itu berkilat memandang Furihata.
"Terima kasih Akashi-san." Kata Furihata dengan senyum lebar diwajahnya. Akashi sedikit tergelak ketika Furihata yang tengah duduk diranjangnya kini memeluknya.
"Aku sudah siap-"
"membuka celanaku." lanjutnya dengan wajah semerah rambut Akashi.
Akashi sedikit terkejut dengan perkataan Furihata barusan, tapi kemudian ia mengangguk. Mata berbeda warnanya mengamati tiap gerakan tubuh Furihata ketika melepas pelukannya kemudian berlanjut dengan mulai menurunkan resleting celana jeansnya. Ia bersumpah sangat menyukai ekspresi itu, lupakan soal kejadian Haizaki barusan. Dipikirannya saat ini adalah Furihata dengan wajah memerah sungguh terlihat 'enak'. Enak dalam artian sedap dipandang dan 'manis'. Ia bahkan tak sadar ketika Furihata sudah melepas celana jeans 'seluruhnya'. Kedua kaki Furihata bergetaran, pahanya tertutupi oleh boxer polos bewarna putih.
Akashi mendekat, kedua tangannya meraih kaki kanan Furihata kemudian sedikit menyingkap boxer putih itu keatas yang membuat matanya terbelalak sesaat kemudian bibirnya mengulum senyum tipis. Furihata dibuat bingung olehnya, perasaan dipahanya gak ada yang aneh, cuma terdapat bekas luka sayatan yang ia dapat sejak kecil.
Sedang Akashi masih bergantian menatap dirinya dan pahanya yang tersingkap. Ditambah posisinya yang sungguh membuat kakinya pegal. Bayangkan ia dan Akashi yang kini berdiri saling berhadapan, dengan satu kakinya ditarik keatas sehingga ia hanya berdiri dengan satu kaki saja.
Tiba-tiba Akashi melepaskan kakinya dan ganti menarik pinggangnya untuk dipeluk.
"Aku menemukanmu." bisiknya ditelinga Furihata.
.
.
.
"Ini semua salahku." Aku Aomine pada Haizuki, kepalanya menunduk dalam. Ruangan kamar milik Haizuki yang lampunya redup menambah kesan itu.
"Apa maksudmu Aomine?" tanyanya tak mengerti, mata keabuan gelap itu menatap bingung kearahnya.
"Haizaki, dia-ini semua karena ketololanku." jawabnya penuh penyesalan. "Maafkan aku."
"Bodoh, dulu aku menolakmu berhubungan dengan adikku salah satu alasanya karena ini, kau terlalu tolol." Kata Haizuki sembari mengusap wajahnya. "Harusnya aku tidak mengizinkannya berhubungan lagi denganmu walaupun itu cuma sebatas atasan dan bawahan." lanjutnya parau.
"Maaf, aku terlalu egois untuk membiarkannya pergi." kata Aomine. Haizuki ganti menatapnya tajam, kemarahan jelas terpancar dimatanya.
"Lihat apa yang kau lakukan padanya Aomine." balas Haizuki menusuk, mata biru gelap itu terbelalak.
Aomine tak pernah bertujuan untuk membuat Haizakinya terluka, ia hanya ingin sedikit bermain dengannya karena belakangan perasaannya yang menginginkannya kembali, sumpah ia tidak bermaksud menyakitinya. Ia hanya ingin perasaan itu hilang, tapi sekuat ia melakukan itu ditambah dengan kejadian yang menimpa Haizaki, ia semakin menginginkannya.
"Kau terlalu mementingkan egomu yang bertolak belakang dengan perasaanmu." lanjut Haizuki dengan nada mencemooh. "Jadi apa sebenarnya rencanamu?" tanyanya sembari menahan emosinya yang mulai menanjak naik.
"Aku membuat kesepakatan dengan Ivan." jawabnya lirih. "Kami bertaruh tentang Haizaki." lanjutnya, diliriknya Haizuki yang kini sudah mengepalkan tangannya, siap meninju dirinya kapan saja.
"Ivan? kau benar-benar tolol." nada suaranya ketus tak suka. "Dia berbahaya Aomine, kau tahu itu."
"Nijimura dan Hanamiya mereka yang bermain dalam taruhan Haizaki."
Bukk
Aomine tak sempat menghindar ketika tiba-tiba Haizuki meninju wajahnya telak yang membuat sudut bibirnya berdarah, ia sedikit mendesis kesakitan. "Membuat taruhan dengan mereka sama saja membuat taruhan dengan iblis." katanya sinis. "kau telah membuat game hidup dan mati untuk adikku-"
"Maaf saja tidak cukup Aomine." lanjut Haizuki tajam sembari meninggalkan tubuh Aomine yang mendadak menggigil.
.
.
.
Haizaki memandang horror ketika Nijimura sudah berjongkok didepannya.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan padamu?" tanyanya pada diri sendiri, suara baritone-nya menggema di lorong ini. Tangan kanannya menepuk-nepuk pipi Haizaki.
Haizaki meneguk ludahnya paksa.
Tangan Nijimura yang tadi menepuk pipinya kini menarik tangannya dan menyeretnya memasuki kamar Haizaki. Haizaki sedikit kelimpungan ketika tubuhnya yang belum siap untuk berdiri sudah diseret paksa oleh orang didepannya.
Tubuhnya didorong, sehingga ia kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh kelantai untuk kesekian kali.
"Hai-za-ki." kata Nijimura dengan mengeja namanya. Haizaki yang tadi pasif mulai gerah ketika namannya mulai disebut-sebut.
"Tadinya aku ingin mengucapkan terima kasih-"
"Tapi kau sepertinya ingin mencari gara-gara denganku." balasnya sinis ketika ia sudah kembali menguasai dirinya kembali.
"Aku tidak butuh itu, dia memang pantas untuk diberi pelajaran." balasnya tak mau kalah. "Dan kau juga harus diberi pelajaran karena tidak sopan dengan orang yang lebih tua darimu."
"Silahkan, jika kau bisa." timpal Haizaki menantang, sementara Nijimura menyeringai lebar.
"Pelajaran pertama-" mulai Nijimura, tubuhnya mendekati Haizaki kemudian dengan gerakan cepat tahu-tahu tubuh Haizaki sudah terpental kebelakang dan menabrak sisi ranjang dibelakangnya. "Pandanglah orang yang lebih tua darimu dengan hormat."
Haizaki yang tak sempat berbalik, tubuhnya sudah diputar dan sebuah tinju beruntun mendarat diwajahnya, ia bisa merasakan rahangnya ngilu. Tak tinggal diam ia ganti meninju perut Nijimura dengan kedua tangannya yang bebas.
Haizaki mengumpulkan tenaganya, kakinya sudah memasang kuda-kuda untuk menendang tubuh Nijimura didepannya, dengan kekuatan penuh ia mulai menendang tapi sialnya tendangannya selalu berhasil ditepis oleh Nijimura. Sekarang malah gantian kakinya yang ditarik dan perutnya ditinju habis-habisan oleh Nijimura. Tubuhnya dilempar kebelakang hingga ia jatuh terlentang di ranjang yang kebetelutan ada dibelakangnya.
"Pelajaran kedua, jaga sikapmu." lanjutnya, tubuhnya menaiki ranjang dan memerangkap tubuh Haizaki yang berada dibawahnya, Haizaki yang merasa terancam mulai mendorong tubuh Nijimura, tapi naas malah tangannya yang dipelintir dan tubuhnya diputar hingga ia telungkup dengan Nijimura yang berada diatasnya. Kakinya ditekan oleh kaki Nijimura hingga ia tak bisa berkutik lagi.
"Pelajaran ketiga, panggil orang yang lebih tua dengan sopan." bisiknya ditelinga Haizaki. Haizaki bergidik ketika ia merasakan jilatan dikupingnya.
Sedang Nijimura mulai melepas ikat pinggangnya dan menggunakannya untuk mengikat tangan Haizaki.
"Apa-" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya tulang rusuknya dipukul oleh Nijimura yang membuatnya meringis kesakitan.
Yang dirasakan Haizaki selanjutnya ada tangan yang menyelip di bawahnya, mulai meraba-raba kemudian melepas ikat pinggang miliknya. yang Haizaki yakini akan digunakan untuk mengikat kedua kakinya.
Tak ia hiraukan tubuh dan wajahnya yang sakit disana-sini, Haizaki akan mulai berteriak dan yang membuatnya shock adalah Nijimura merobek sebagian baju miliknya kemudian menyumpalkannya kemulut Haizaki dalam kurun waktu 5 detik sebelum ia berteriak.
Ironis.
"Pelajaran keempat, berikan kesan yang baik." tangan Nijimura mulai menelusup ke dalam celana Haizaki, dan mulai membelai barangnya. Haizaki mendesis merasakan Nijimura mulai memberikan kocokan disana. Dilepaskannya sumpalan dimulut Haizaki yang sekarang menurutnya sangat mengganggu.
"Hen-tika-an-ahh." katanya mengerang keenakan, Nijimura menjilat bibirnya. Tangannya semakin cepat mengocok barang milik Haizaki ketika dirasakannya barang tersebut mulai mengkedut ditangannya menandakan Haizaki akan mencapai klimaksnya.
Tak sampai satu menit kemudian cairan putih mulai membasahi tangannya, Nijimura melepaskan barang milik Haizaki kemudian menjilat sisa cairan yang menempel ditangannya. Bibirnya membentuk senyum lebar melihat perbuatannya pada Haizaki yang kini setengah telungkup dengan tangan dan kaki yang terikat dan wajahnya yang merah sempurna. Ditambah bajunya yang setengah sobek, dan celananya yang melorot.
Sungguh pemandangan yang menurutnya sangatlah menggoda, diambilnya segelas anggur yang ada di sudut meja kamar, kemudian menuangkanya ke baju Haizaki. Dibersihkannya cairan Haizaki dari tubuhnya, kemudian kembali membenarkan celana Haizaki yang melorot.
Dan untuk terakhir kalinya ia menjilat bibirnya kemudian meninggalkan Haizaki dalam keheningan kamar.
.
.
.
Iris keabuan milik Haizaki perlahan terbuka, kepalanya pening dan tubuhnya dirasa remuk disana-sini. Ia mulai duduk setengah berbaring diatas ranjang, sebelah tangannya memegang kepalanya yang kini berputar-putar.
"Sudah bangun?" tanya seseorang padanya yang membuatnya sedikit terkejut.
"Kau-"
"Kulihat kau sudah baikan." potong seseorang, Haizaki menggeram ketika melihat seseorang itu tengah duduk di sofa sudut ruangan, yang perlahan kini mulai berdiri dan mendekat kearahnya. Badannya menunduk tepat mensejajarkan wajahnya dengan wajah Haizaki hingga saling berhadapan, tangan kanannya meraih kepala Haizaki dan menempelkan dahi mereka.
"Tidak panas." lanjutnya lagi sembari melepas tautan dahinya dengan dahi Haizaki.
"Apa maumu?" tanya Haizaki tanpa basa-basi, jujur ia tak suka dengan aura orang didepannya.
Seseorang tersebut menyeringai "Sepertinya pelajaran yang kuberikan tidak berhasil untukmu."
Dia—Nijimura, orang brengsek yang menghajarnya habis-habisan dan melecehkannya tengah memandang ia dengan tatapan meremehkan. Tangannya kembali menepuk-nepuk pipi Haizaki, Haizaki segera menepisnya. Tak sudi disentuh oleh Nijimura.
"Apa maumu?" ulang Haizaki lagi. "Tak puas dengan yang kau lakukan padaku."
"Apa mauku?" Tanyanya balik lebih kediri sendiri kemudian Nijimura kembali menepuk-nepuk pipi Haizaki. "Tentu saja kau." lanjutnya sembari mengecup pipi kanan Haizaki.
.
.
.
Tbc Strike Again
.
Selamat membaca!
See you next week :D
.
.
[Update : 02/05/2015]
