Surai kecoklatan itu berkilau basah oleh air laut yang terus menerjang tubuhnya yang tengah terbaring, kaos putih tanpa lengan yang melekat ditubuhnya tampak transparan, celana pendeknya sedikit tersingkap, beberapa pasir putih bahkan menempel disana.

Mata kecoklatannya mengintip dibalik batu besar di pinggir laut, suasana yang sepi membuatnya tak terlihat, ditangannya memegang sebuah senapan dengan selaras yang cukup panjang bewarna hitam, mata kecoklatannya kembali membidik targetnya.

Disana dari jarak 1 km dari tempatnya membidik, target bidikan tengah berdiri memandang ke pantai biru didepannya, surai merahnya bergerak mengikuti tiupan angin. Ia bisa menganalisa targetnya berusia sama dengannya. Lucu sekali, ia dibayar untuk membunuh bocah usia 10 tahun yang sama dengannya.

1, 2, 3…

Ia urungkan menarik pelatuk senapannya ketika mendapati dua orang dewasa menghampiri targetnya, sejenak targetnya terlihat tak suka dengan kata-kata yang dua orang dewasa itu katakan. Beberapa menit kemudian percakapan mereka semakin terlihat serius dan membuat targetnya marah bukan main. Wajahnya memerah marah seperti rambutnya membuat mimik tak suka.

Mimik itu sama dengan miliknya dulu, ketika iblis itu—ia tak sudi memanggil mereka dengan sebutan 'orang tua angkat'—menyerahkannya pada mantan penembak jitu yang sebenarnya alibi untuk membuatnya menjadi seorang pembunuh bayaran diusianya yang masih bocah ini.

Tolol.

Gara-gara mereka ia menjadi bocah yang tertutup dan cenderung bermuka dua. Sudah dua tahun ia bebas dari para iblis-iblis itu dengan menghabisinya satu persatu dengan senapan kesayangannya.

Dua tahun sudah ia tinggal dipanti asuhan, dan tololnya ia menjadi ketergantungan dengan pekerjaannya ini.

Mengesampingkan pikirannya yang mulai emosi, mata kecoklatannya beralih dari senapannya ke targetnya yang kini sedang direngkuh oleh dua orang dewasa yang menghampirinnya tadi.

Ia mendecih sesaat, orang dewasa memang munafik. Didepan sok baik padahal dibelakang targetnya mereka menyewannya untuk membunuh bocah yang berusia sama dengannya itu.

Tak tahan dengan sandiwara didepannya, ia segera menarik pelatuknya.

Dor

Dor

Dua tembakan cukup membuat dua orang dewasa tersebut ambruk ditempat dengan tembakan dikepalannya.

Ia tersenyum miring melihat orang yang menyewanya sudah tak bernyawa. Jangan salahkan dirinya, salahkan mereka yang menyewa bocah labil untuk membunuh.

Ia kemudian mengemasi barangnya dan memasukkanya ke dalam tas dan berdiri, membiarkan pasir-pasir putih itu tetap menempel ditubuhnya, ia mulai beranjak pergi.

Dan untuk terakhir kalinya, mata kecoklatannya melihat bocah bersurai merah yang menyeringai ganjil kearahnya. ia tak bisa memungkiri bocah itu cukup pintar untuk mengetahui keberadaannya secepat ini. Seperti ia membuat keputusan salah.

Bocah bersuarai merah itu..

Mungkinkah..

Sama seperti dirinya?

Pertanyaanya adalah dirinya yang mana?

.

.

.

Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi

Take off - Rangga Sengak

.

WARNING : HOMO, M/M, GAJE, TYPO, OOC, OC.

[NijiHai] [AkaFuri] [AoZaki] and Other.

.

Haizaki = 19 tahun

Nijimura-Haizuki-Aomine = 23 tahun

Akashi-Furihata = 22 tahun

Ivan = 24 tahun

Hanamiya = 17 tahun

.

.

.

Haizaki tak suka dimanipulasi, apalagi dijadikan mainan. Cukup pengalamannya dengan Aomine saja tidak untuk yang lain. Dan orang yang barusan mengecup pipi kanannya persis seperti ular yang sudah berhasil melilitnya.

Apa yang sedang terjadi?

Dia tidak bodoh jika tak menyadari ada sesuatu yang aneh, kejadian yang menimpa dirinya sudah memperjelas itu semua.

"Sebenarnya siapa kau?" tanyanya pada Nijimura.

Nijimura mendengus kemudian berjalan menjauhi Haizaki.

"Aku hanya seseorang yang berusaha untuk mendapatkan keinginannya.." jawabnya yang menimbulkan kerutan di dahi Haizaki.

"Maksudmu?" tanyannya lagi tak mengerti yang dibalas tawa kecil dari Nijimura.

"Aku menginginkanmu Haizaki, apa kurang jelas." jawab Nijimura yang semakin tersenyum lebar ketika mendapati wajah Haizaki menampakkan kebingungan.

"Iya itu yang tak kumengerti."

"Aku bahkan tidak mengenalmu, kenapa?" lanjut Haizaki.

"Menurutmu?" Tanya Nijimura balik. Haizaki menggeram, rasa sakit disekujur tubuhnya ia abaikan sesaat dan bangit dari tempat tidur kemudian berjalan kearah Nijimura yang tengah berdiri didepan jendela. Tangannya mengepal dan meninju perut Nijimura, sedang Nijimura hanya diam, pukulan orang yang tengah sakit tak berpengaruh padanya.

Haizaki terus memukulnya hingga ia merasakan sekujur tubuhnya mulai dingin dan membuat tubuhnya oleng sesaat. Tangannya reflek menarik kemeja Nijimura yang ada didepannya. Kepalanya menunduk dalam, menahan rasa pusing dikepalanya, semakin lama ia semakin menyandarkan kepalanya ketubuh Nijimura.

Yang tidak Haizaki tangkap, bibir Nijimura sedikit tertarik keatas, merasa menang. Kedua tangannya kemudian menarik tubuh Haizaki untuk merapat ketubuhnya.

.

.

.

"Aku menemukanmu." bisiknya ditelinga Furihata.

"Menemukan apa Akashi-san?" tanyannya tak mengerti. Akashi melepas pelukannya dan memandang Furihata tak mengerti juga "Kau tidak ingat padaku?"

"Bukannya kita baru bertemu, aku tidak mengerti." Akashi memandang Furihata kecewa, ia sudah mencarinya selama 12 tahun dan orang yang dicarinya tidak mengingatnya.

"Kau sungguh tidak ingat padaku?" tanyanya lagi yang dibalas gelengan dari Furihata.

"Apa yang terjadi padamu Furihata?" tanyanya dalam hati.

"Luka ini, bisa ceritakan padaku." kata Akashi parau.

"Luka ini kudapat ketika ibu tidak sengaja menggoreskan gunting padaku." katanya tak mengeri, Akashi tersenyum kecut. Ia jelas ingat betul, luka itu jelas-jelas ia yang membuatnya. Kenapa Furihata bisa lupa padanya? Tidak mungkin ia salah mengenali orang?

"Apa kau pernah tinggal dipanti asuhan?" tanyanya memastikan lagi.

"Tidak, kenapa aku harus tinggal disana? Orang tuaku masih ada." katanya kebingungan sembari memakai kembali celananya.

"Apa ada teman Akashi-san yang mirip denganku?" lanjutnya. Akashi memandanginya sejenak kemudian mengangguk. "Dia oranng yang berarti bagiku."

"Bagaimana kalian bisa berpisah?" Tanya Furihata penasaran.

"Aku menyakitinya." jawabnya lirih. Furihata memandang prihatin Akashi.

"Semoga Akashi-san cepat bertemu dengannya."

.

.

.

"Ivan, dimana dia?" Tanya Haizuki pada Hanamiya yang tengah santai duduk di ruangan milik Ivan. Hanamiya menyeringai angkuh.

"Dia pergi." dua kata dari Hanamiya cukup membuatnya naik pitam, bagaimana tidak orang brengsek yang membuat adiknya menjadi taruhan tiba-tiba menghilang begitu saja.

"Brengsek." geramnya, mata kelabu gelapnya memandang Hanamiya tajam. "Aku peringatkan, jauhi adikku."

"Cepat sekali terbongkarnya,"

"Ngomong-ngomong yang harusnya kau waspadai itu Nijimura, Haizuki-senpai." lanjutnya sembari telapak tangannya mengepal dan membukanya persis seperti membuat ledakan, dibibirnya keluar kata-kata 'boom', yang membuat Haizuki mendengus keras.

"Aku bukan orang dungu Hanamiya, aku kenal watak keluarga kalian masing-masing. Dan orang sepertimu juga pantas diberi perhatian khusus." katanya.

"Aku merasa terhormat." timpal Hanamiya.

Haizuki mendengus kembali kemudian berlalu.

.

.

.

Tbc Strike Again

.

Maaf pendek bgt TT_TT

Gw lagi gak ada fell buat mereka semua :(

.

.

[Update : 09/05/2015]