"Oi, Haizaki."
"Hoi, sebenarnya dimana rumahmu?" sungut Aomine, kepalanya celingak-celinguk dari dalam mobil bewarna putih miliknya.
"Gak usah sok akrab lah." balas Haizaki cuek, mata kelabunya mengamati pemandangan di sisi kirinya, mengabaikan Aomine disampingnya.
"Hah? kita itu sepasang kekasih, yang mesra kek." kata Aomine, kedua tangannya masih setia di kemudi mobil.
Haizaki sedikit meliriknya dengan pandangan jijik. "Mesra kepalamu."
"Aku berhenti disini." lanjutnya tanpa memperdulikan protes Aomine.
"Jangan seenaknya." Cegat Aomine pada Haizaki yang sudah membuka pintu mobil.
"Apa hah?"
"Katanya pengen kerumahku." lanjut Haizaki ketus.
"Eh? jadi rumah ini rumahmu?" tanyanya tampak senang karena Haizaki menunjukkan rumahnya.
"Bukan. Rumahku yang itu." tunjuk Haizaki pada rumah mungil bercat Hijau yang berada di seberang jalan.
"Ngomong kek dari tadi, tau gitu kuparkir disitu mobilku." protesnya. Haizaki mendengus kesal kemudian berjalan cepat meninggalkan Aomine "bodo."
"Oi, Haizaki... tunggu."
.
.
.
"Jadi? siapa orang bulukan ini Haizaki?" tanya Haizuki sembari berkacak pinggang didepannya. Haizaki cuek bebek sementara Aomine menahan emosinya karena dibilang buluk, sebuluk itukah dirinya?
Haizuki mengalihkan pandangannya pada Aomine.
"Perkenalkan dirimu?" perintahnya tajam, tangannya ganti bersedekap didada.
Aomine menaikkan sebelah alisnya. Kesal juga jika dirinya diperintah-perintah oleh orang yang sebelas duabelas mirip dengan bebebnya.
Haizaki pernah cerita sih, kalau dia punya kakak yang overprotektif banget sama bebebnya itu.
Jadi ini?
Kakak-kakak-an Haizaki.
cih!
Wajah incest. Yang mau memonopoli bebebnya.
"Aku Aomine Daiki, pacarnya Haizaki." jawabnya sengak sembari mengulurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman. Mata biru kelamnya menatap tajam mata kelabu gelap milik orang didepannya.
"Tungg- What? Pacar?" tanya Haizuki memastikan, walaupun dalam hati sedang komat-kamit menyumpahi kupingnya yang tiba-tiba budeg.
Aomine menyeringai penuh kemenangan kemudian mengangguk. Dengan gaya soknya dia menghampiri Haizaki yang tengah selonjoran dilantai dan menabok pantatnya. Membuat empunya, marah dan menendangnya dengan kekuatan lakinya.
Sungguh kampret, Aomine terdorong kebelakang dan jatuh dengan rintihan itai itai, persis banget di film por** yang biasa ia tonton.
Haizuki ngakak parah, sedang kakaknya merangkulnya sembari cekikikan keras.
.
.
.
"Kok nggak bilang kalo ada pacar?" tanya Haizuki serius memandang Haizaki dan Aomine bergantian yang kini duduk didepannya.
"Harus gitu?" tanya balik Haizaki.
Haizuki berdehem "Aku kakakmu Haizaki, aku tidak ingin adikku kenapa-napa."
"Kau selalu ikut campur, jangan bertingkah seperti ayah dan ibu-" Haizaki menarik nafasnya sebentar. "Aku benci itu, kau selalu saja mengintrogasi temanku, dan sekarang dia." tunjuknya pada Aomine yang kebingungan.
"Tapi teman-temanmu itu memang pantas diberi pelajar-"
"Aku tidak butuh, urusi saja urusanmu sendiri." potong Haizaki cepat.
"Sekali ini saja, biarkan aku memilih pilihanku sendiri." lanjutnya sembari menarik tangan Aomine cepat tanpa memperdulikan kakaknya yang menatapnya tajam.
"Tungg-"
"Kau oke?" tanya Aomine setelah mereka keluar dari rumah Haizaki.
"Mau menginap dirumahku?"
.
.
.
Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
Take off - Rangga Sengak
.
WARNING : HOMO, M/M, GAJE, TYPO, OOC, OC.
[NijiHai] [AkaFuri] [AoZaki] and Other.
.
Haizaki = 19 tahun
Nijimura-Haizuki-Aomine = 23 tahun
Furihata-Akashi = 22 tahun
Ivan = 24 tahun
Hanamiya = 17 tahun
.
.
.
"Haiz-" Mata Aomine terbelalak lebar, didepannya adalah pemandangan yang membuat hatinya panas. Disana, didepan jendela kamarnya.
Nijimura memeluk tubuh Haizaki yang bersandar padanya, ditambah tangannya yang membelai surai keabuan Haizaki.
Nijimura menarik sudut bibirnya keatas, melihat Aomine membuka pintu kamarnya dan menemukan dirinya dan Haizaki dalam posisi seperti ini pasti membuatnya syok.
Haha...
Tawanya dalam hati.
Tangannya menahan tubuh Haizaki yang mulai berontak dipelukannya. Nijimura tak akan membiarkan Haizaki memandang Aomine apalagi ketika matanya melihat bibir Haizaki yang akan memanggil Aomine.
Dengan gerakan cepat kepalanya menunduk dan meraih bibir Haizaki. Ia mulai melumat, sedang Haizaki berontak dalam ciumannya. Kedua mata kelabunya tertutup rapat tak mau melihat Nijimura yang menciumnya apalagi ada Aomine dibalik punggungnya. Ia hanya bisa mengerang ketika Nijimura menyesap lidahnya.
Nijimura menyeringai dalam ciumannya, sungguh menyenangkan melihat Aomine dengan wajah penuh murka menggebrak pintu dan meninggalkan dirinya dan Haizaki begitu saja.
Tangan Nijimura membelai pipi Haizaki, bibirnya yang tadi melumat bibir Haizaki kini turun ke leher Haizaki. Nijimura mulai menjilat disana.
"Ngghh... ahh." Haizaki menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia tak sudi mengeluarkan suara tadi.
Sungguh.
Dia ingin menangis saat ini, tubuhnya yang lemas dan sakit sana sini akibat hajaran orang yang kini menjilati lehernya, membuatnya tak berdaya.
Kemana perginya Haizaki yang pembangkang dan kuat, kenapa ia jadi menye kayak cewek begini.
Haizuki.
Haizuki.
Kak.
Haizaki pasrah dengan Nijimura.
.
.
.
Akashi ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan anak bersurai cokelat itu. Dan dia sempat meragukan penglihatannya, disana dibalik batu besar dipinggir pantai. Ia melihat seorang malaikat kecil dengan senapan berselaras panjang dipunggungnya.
Ah..
Betapa ia sangat berhalusinasi dulu, dan malah menyeringai lebar kearah anak mirip malaikat itu.
Lihat.
Anak itu sedikit berjengit heran padanya.
Akashi kecil tak peduli dengan sekumpulan orang yang kini mengerumuni dua orang dewasa yang sudah tak bernyawa dibawah kakinya.
Yang ia lakukan saat ini adalah mengikuti anak tersebut.
Dan yang Akashi kecil tahu, ia sudah berdiri didepan rumah bertuliskan panti asuhan Maria.
"Halo." Akashi kecil reflek mundur kebelakang, dilihatnya seorang wanita paruh baya tengah tersenyum lebar menatapnya.
"Apa kau tersesat nak?" tanyanya. Akashi kecil hanya menggeleng. Sedang wanita paruh baya tersebut mengangguk mengerti dan meraih tangannya.
"Ayo masuk, kau sekarang anggota baru kami." katanya riang.
Akashi kecil hanya diam dan mengikuti wanita paruh baya tersebut.
Yang dilihatnya pertama kali dalam rumah itu adalah ada beberapa anak seusia dirinya tengah bermain-main riang.
Akashi kecil mengamati sekeliling, dan mendapati anak bersurai cokelat yang tadi diikutinya tengah membaca sebuah buku di sudut ruangan.
"Anak-anak, kita dapat teman baru," Wanita paruh baya itu sedikit melirik kearahnya. "perkenalkan namamu nak." lanjutnya.
"Aku Akashi, mohon bantuannya." katanya sembari membungkuk. Anak-anak yang berada dalam ruangan itu tampak antusias pada kehadirannya.
"Akashi silahkan bergabung dengan teman-temanmu."
Akashi kecil mengangguk dan tanpa pikir panjang menghampiri anak kecil bersurai cokelat.
Dia hanya berdiri mematung disana, sepasang mata merahnya hanya mengamati, bibir mungilnya kelu ketika anak bersurai cokelat itu mengalihkan pandanganya dari buku yang ia baca ke dirinya.
Anak itu memandangnya dengan penuh intimidasi.
"Ada apa?" Anak itu bertanya padanya. Akashi kecil sedikit tersentak, sedikit berdehem meniru yang biasa orang dewasa lakukan di sekitarnya.
"Ah, kau anak baru yang ibu Maria katakan tadi kan?" tanyanya antusias. Akashi kecil sedikit bingung dengan perubahan anak bersurai cokelat.
"Perkenalkan aku pemimpin disini, kau harus mengikuti aturanku anak manis." lanjutnya tanpa menunggu persetujuan dari Akashi, anak itu menyeringai lebar.
Ahh..
Akashi kecil bahkan tidak pulang kerumahnya selama beberapa minggu demi anak itu.
.
.
.
Hei..
Siapa dia?
Dia bukan siapa-siapamu bukan?
Kenapa kamu marah?
Oh, aku tahu.
Apa yang kau tahu?
Kau masih mengingatnya bukan?
Aku tidak-
Pembohong.
Aku-
Kau pembohong terburuk.
Aku bukan.
Pembohong.
Ber-henti, kumohon berhenti.
Kau yang membunuh kedua orang tuanya.
Apa maksudmu?
Sadarlah.
Hei-
Sadarlah, kau itu pembunuh.
Aku buka-
Pembunuh. Pembohong.
Berhenti.
Pembunuh. Pembohong.
Berhenti.
Berhenti.
Berhenti.
Pembunuh. Pembohong.
haha...
Argghhhhh...
Hentikan.
Hah.. hah.. hah..
Furihata terbangun dari tidurnya, peluh ia rasakan di sekujur tubuhnya. Nafasnya tak beraturan.
Kenapa dia bermimpi seperti itu?
Ada yang salah dengan dirinya.
Hei.
Kenapa suara itu terus menggema dalam kepalanya.
Hei.
Lagi, suara itu terus memanggil-manggil dirinya.
Hei.
Aku ingin berpindah tempat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika suara itu terus memanggilnya. Kepalanya berdenyut sakit, reflek kedua tangannya meremas surai kecoklatannya.
Arggggghhhhhhh...
.
.
.
Bruukk...
Haizuki meninju Nijimura yang sedang menistakan adiknya. Mata kelabu gelapnya memancarkan kemarahan dan muak.
"Zuki." panggil adiknya lemah.
"Zaki, kau tak apa?" tanyanya sembari menghampiri adiknya. Haizaki hanya menggeleng lemah.
"Kau," tunjuknya pada Nijimura.
"Peduli setan dengan taruhan yang kalian buat, jangan sekali-kali menyentuh adikku." katanya marah bukan main. "Kita pulang dik."
"Kami sudah membatalkan taruhan itu," Nijimura menimpali. "Dan sepertinya aku jatuh hati pada adikmu." lanjutnya dengan seringai yang amat memuakkan dimata Haizuki.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Haizuki frustasi.
"Jangan seenaknya mengenai adikku." lanjutnya tak suka.
Nijimura membuat gestur bersungguh-sungguh.
"Aku serius," timpal Nijimura. "Dia menarik kau tahu." lanjutnya.
"Heh." Haizuki membuat gestur meremehkan.
"Apa yang akan kau lakukan jika dia sudah tidak menarik bagimu?"
Perkataan Haizuki membuatnya terdiam cukup lama.
"Pikirkan itu sebelum kau ingin serius mengenai adikku, Nijimura." lanjut Haizuki sembari menggendong Haizaki dipunggungnya.
"Sampaikan salamku pada Aomine, kami akan kembali ke jepang,"
"Ahh, satu lagi. Haizaki keluar dari perusahaannya."
.
.
.
Tbc Strike Again.
.
Updetan sebelum puasa :3
Thanks For All.
.
.
[Update : 15/06/2015]
