"Aku... Tak akan membiarkanmu... bahagia, UZUMAKI..." teriak Madara diakhir kalimatnya, dengan cepat kedua matanya berubah menjadi EMS dan langsung melakukan segel tangan.
"Kinjutsu: jigen no opunrain"
Naruto yang masih berusaha berdiri itu memandang penasaran ke arah Madara, 'Jutsu apa yang akan digunakannya?' pikir Naruto. Namun tak sempat Naruto berdiri tiba-tiba saja sebuah lubang cacing muncul disampingnya dan menghisap tubuh Naruto.
"Apa ini? UWAAA..."
W
W
W
Naruto masashi kishimoto
Summary: Saat perang shinobi hampir berakhir, Madara yang saat itu telah terperangkap jutsu penyegel dari Naruto mengeluarkan sebuah jutsu yang membuat Naruto terlempar ke dimensi lain. Namun, dengan usaha terakhirnya ia bisa menemani kekasih tercinta sebentar sebelum akhirnya ia harus jujur tentang hal tersebut.
Warning: OC, OOC, typo, gaje, pasaran, dll… mokuton!naruto/ not jinchuriki!naruto/strong and smart!naruto/dll.
Pair: Nanti dulu.
Sebelum membaca saya mau menyampaikan terima kasih atas saran dan dukungan dari minna semua, dan untuk beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab akan saya jawab sekarang: 1. masalah tempat Naruto terlempar mungkin akan terjawab dichapter ini, jadi silahkan dibaca saja. 2. masalah Ino, apakah akan ikut atau tidak akan diberi gambarannya dichapter ini. mungkin hanya itu saja untuk sekarang..
Selamat menikmati...
W
W
W
Semua shinobi menatap waspada lubang yang diciptakan oleh Madara. Namun, kewaspadaan semuanya segera terganti dengan raut wajah tak percaya melihat lubang dimensi tersebut secara cepat menghisap Naruto.
"NARUTO..."
Para aliansi seakan tersadar begitu mendengar teriakan dari seorang gadis bersurai pirang pucat yang telah melompat ke arah lubang dimensi tersebut.
Gadis bermarga Yamanaka tersebut terus saja melompati batuan-batuan akibat dari berbagai serangan jutsu. Tapi, secara tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya. Dan saat ia menoleh bisa dilihatnya bahwa orang itu adalah Sasuke, sahabat dari kekasihnya.
"Kenapa kau menghalangiku Sasuke? Naruto sekarang dalam bahaya." ujarnya setengah membentak, tapi tak ditanggapi oleh pemuda Uchiha tersebut.
"Lepaskan, Sasuke!" teriaknya lagi sambil terus mencoba melepaskan pegangan kedua tangan pemuda itu dibahunya.
Setelah begitu banyak perlawanan yang dilakukan Ino hingga akhirnya ia berhenti dan mulai terisak, Sasuke yang mengetahui hal tersebut segera melepaskannya dan membiarkan Ino terduduk sambil menangis lumayan kencang.
Tak lama kemudian Sakura datang dan langsung memeluk sahabat sedari kecilnya itu untuk menenangkannya. Sementara Sasuke hanya menatap lubang dimensi itu dengan datar, tapi batinnya saat ini mulai tak tenang memikirkan sahabat pirangnya yang entah akan selamat atau tidak. Tak berbeda dari ketiganya itu, semua aliansi mulai khawatir terutama Minato, Hiruzen, dan Tsunade yang memang dekat dengan Naruto. Mereka kini mulai berharap semoga Naruto dapat mengatasinya.
W
w
w
Sementara didalam lubang dimensi, kini Naruto tampak berpikir keras untuk mencari cara agar dapat keluar. Tapi, sepertinya ia tidak menemukan satu pun cara yang efektif untuk keluar dari lubang dimensi tersebut. Tak ada, kecuali...
'Tidak ada cara lain.' dengan kecepatan tangannya ia melakukan segel tangan hingga sebuah patung mirip dirinya yang terbuat dari kayu muncul dari balik punggungnya.
"Mokuton: mokubunshin no jutsu"
Patung kayu yang tadi masih menyatu dengan punggungnya segera melesat keluar dari lubang dimensi tersebut meninggalkan Naruto yang tengah tersenyum lembut seraya membatin.
'Gomen, Ino. Aku harus meninggalkanmu, mungkin kita akan bertemu dilain tempat.'
Dengan perlahan ditutupnya kedua iris matanya yang telah kembali menjadi biru shappire, dan dengan tersenyum ia perlahan menghilang ditelan cahaya yang begitu menyilaukan.
W
w
w
Seluruh shinobi aliansi yang masih menundukkan kepalanya tiba-tiba dikagetkan dengan teriakan seseorang yang kini menunjuk ke arah tepat dilubang dimensi yang menelan Naruto.
"LIHAT ITU!"
Semua yang mendengar teriakkan tersebut sontak menoleh dan begitu terkejutnya mereka begitu melihat sesosok pemuda pirang melesat keluar dari lubang dimensi yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang.
Begitu pemuda pirang itu mendarat, ia langsung mendapat sebuah serangan berupa pelukan dari seorang gadis yang sama pirangnya tapi sedikit pucat.
"Ba-baka... a-aku mengira... Hiks... Ka-kau tak akan... Hiks... Kembali...hiks..." Naruto tak bisa menahan diri agar tak tersenyum begitu melihat Ino yang kini rewel sambil memukul pelan dadanya dan menahan tangis.
"Gomen, apa aku membuatmu khawatir?"tanya Naruto walau ia sudah mengetahui jawaban yang akan diterimanya, tapi ia hanya ingin memastikannya saja.
"Tentu saja, baka. Kau... Walau pun segelnya dilepas kau masih tetap baka." jawab Ino setengah membentak membuat Naruto tertawa kecil melihatnya.
Semua shinobi mendekat dan mengelilingi mereka berdua, tak ingin mengganggu moment keduanya yang seperti melupakan mereka. Seakan dunia ini hanya diisi oleh mereka berdua.
"Ehemz..."
Seakan tersadar Ino langsung melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, dihadapan semua orang ia berpelukan dengan Naruto. Ya, walaupun mereka sudah pernah melakukannya sesaat setelah invasi Pain berhasil digagalkan tapi itukan hanya shinobi Konoha saja yang melihat. Namun, sekarang seluruh shinobi kelima desa besar tengah menatapnya dengan pandangan yang seolah melihat sebuah pertunjukan, dan itu membuatnya marah sekaligus malu karena yang menjadi pertunjukan itu adalah dirinya.
Saat ia menoleh ke arah pemuda yang tadi dipeluknya ia kembali tersulut emosi melihat pemuda itu hanya tersenyum tak berdosa. Oke, memang setelah segel dipikirannya dibuka kekasihnya itu memang jarang atau malah tak pernah menyengir seperti biasa, ia hanya akan tersenyum sebagai ganti dari cengirannya itu dan hal itu memang membuatnya jadi sedikit lebih keren dimatanya. Tak dapat ia pungkiri bahwa Naruto yang sekarang lebih keren dibandingkan sebelumnya dan mungkin ia akan kerja ekstra untuk menjaga agar kekasihnya itu tak diambil orang. Apalagi sekarang ia telah menjadi pahlawan besar setelah berhasil menyegel Madara, bisa saja gadis-gadis di Konoha atau diseluruh nagara yang ada didunia shinobi ini terpikat padanya.
"Naruto, bisa berbicara sebentar!" lamunan cantik seorang Ino Yamanaka segera kandas begitu mendengar suara yang berasal dari Nidaime Hokage yang telah memasang wajah yang sangat serius.
Sementara Naruto menjawab dengan anggukan, dan keduanya yang diikuti oleh Sandaime dan Yondaime segera menjauh dari kerumunan. Sempat ia melihat Naruto yang juga memasang wajah serius hingga membuatnya agak cemas karena baru kali ini ia melihat raut wajah Naruto seserius itu. Berharap tak terjadi apa-apa Ino segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir segala pikiran buruk yang sempat hinggap di otaknya dan lebih memilih berpikir positif.
'Mungkin hanya ingin mengucapkan selamat.' pikirnya.
W
w
w
Naruto dan para kage edo tensei berhenti saat merasa mereka sudah lumayan jauh dari tempat aliansi, mereka berempat kini berdiri saling berhadapan dan memasang wajah serius. Keheningan tercipta untuk sesaat, tapi segera dipecahkan oleh Naruto yang sejak awal memang telah memikirkan apa yang akan dibicarakan para kage dengannya.
"Baiklah, aku memang bukan yang asli." ucapnya jujur yang membuat para kage kecuali Nidaime menunduk sedih, kecurigaan mereka ternyata benar.
"Dan menurut perkiraanku, kau hanya mendapat 85% dari seluruh cakra yang dimilikinya saat ini. Apa aku benar?" tanya Nidaime datar sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Sementara Naruto hanya mengangguk sebagai balasan dan jangan lupa senyuman yang masih tercetak diwajahnya walau terkesan sedikit memaksa.
"Naruto yang asli berharap dengan cakra yang diberikannya aku bisa menemukan cara untuk bisa membuatnya kembali ke dimensi ini, walau aku pun tak yakin dengan hal itu." para kage mengangguk sebagai respon mendengar penuturan Naruto barusan.
"Aku yakin kau belum mengetahui tentang elemen mokuton secara penuh? Dan jika begitu, kau bisa mempelajari gulungan yang ditinggalkan Hashirama-nii dikantor Hokage. Gulungan itu terdapat di samping kanan kantor ketika kau masuk, tepatnya berada dibalik lukisan fuin yang terpajang disana. Semoga itu bisa membantumu." jelas Nidaime yang hanya dibalas anggukan oleh Naruto dan dua kage lainnya.
"Sebaiknya kita kembali, sudah saatnya kita pergi." ucap Yondaime yang seakan menyadarkan mereka yang tadinya sempat mengalami keheningan.
"Apa itu artinya aku tidak bisa melihat Tou-san lagi?" Minato tersenyum mengdengar pertanyaan yang diajukan oleh putranya itu.
"Kita akan bertemu lagi, anakku. Dan saat itu tiba kita akan kembali menjadi keluarga yang utuh." jawab Minato yang mencoba menenangkan dan sepertinya berhasil karena Naruto kembali menciptakan senyuman lembut.
Setelah itu mereka kembali ke tempat aliansi untuk berkumpul. Dan saat mereka tiba, semua shinobi tampak kembali sibuk. Semua shinobi kecuali kage kelima desa dan Orochimaru, tampak lalu lalang mencari korban jiwa atau pun korban yang terluka untuk disembuhkan atau dimakamkan.
"Baiklah, Orochimaru. Sekarang kau bisa melepas jutsu ini!" ujar Sandaime Hokage atau lebih tepatnya perintahnya kepada Orochimaru. Tanpa membalas Orochimaru segera membuat segel tangan dan mengucapkan nama jutsunya.
"Kuchiyose: edo tensei: kai"
Cahaya kemudian menyinari ketiga kage terdahulu, Minato kini menoleh menatap Naruto yang sedang menahan tangis.
"Jangan bersedih,Naruto!" tak ada jawaban membuat Minato memasang senyum kecut, "Satu hal yang selalu ingin kuucapkan padamu, Naruto..." dengan sengaja ia menggantung ucapannya agar dapat melihat reaksi Naruto yang akhirnya menatap dirinya. "Selamat ulang tahun, anakku." lanjutnya membuat Naruto tidak bisa menahan tangisnya lebih lama, setetes air mata mengalir dipipinya.
"Arigatou, Tou-san." ucapnya lirih tapi masih bisa didengar semua yang ada didekatnya, para penonton pun seperti tersentuh hanya tersenyum melihat hal tersebut, bahkan Orochimaru pun tengah tersenyum amat tipis hingga samar-samar tak terlihat.
"Akan ku ceritakan pada ibumu bahwa kau sudah besar dan sepertinya akan memiliki pendamping." ucap Minato kembali dengan sedikit menggoda Naruto sambil melirik seorang gadis pirang pucat yang tengah berlalu lalang membantu teman-temannya yang lain, Naruto cemberut mendengar ucapan menggoda dari Minato. Namun, hal itu tidak lama. Karena dengan cepat ekspresinya berubah menjadi tersenyum.
"Ya, katakan pada Kaa-san. Aku telah tumbuh menjadi pemuda tampan seperti Tou-san, aku tidak lagi memilih-milih makanan dan tidak hanya memakan ramen, aku selalu mandi untuk menyegarkan badanku dan tidak pernah mengonsupsi alkohol... Atau pernah sekali mencobanya saat perayaan keberhasilan mengalahkan Pain. Dan soal gadis..." Naruto menggantung kalimatnya dan memilih melihat gadis pirang pucat yang sekarang baru disadarinya telah menjadi kekasihnya. "Sepertinya aku telah memilih gadis yang tepat menurutku." lanjutnya mengakhiri kalimatnya.
Minato tersenyum melihat putranya, dengan tubuh yang menghilang perlahan ia masih memandang putranya dan memberikan cengiran yang kemungkinan ia turunkan pada putranya.
"Akan kusampaikan semua itu pada Kaa-san mu, pasti ia akan sangat gembira mendengar anaknya telah tumbuh besar..." itulah ucapan terakhir yang didengar oleh Naruto karena tubuh ayahnya yang telah sepenuhnya menghilang, begitu pula dengan dua kage lain.
Naruto masih setia dengan senyumannya kamudian semakin mendekat ke arah para kage kelima desa. Raikage tersenyum memandangnya, hal itu juga diberikan oleh Mizukage, Kazekage, dan Tsuchikage. Tapi, berbeda dengan Hokage, Tsunade. Ia langsung mendapat jitakan keras dikepalanya dan ditambah dengan bentakan.
"Kenapa kau minum sake, umurmu baru tujuh belas tahun sekarang dan itu berarti kau masih belum cukup umur untuk mengkonsumsi sake, bocah." itulah ceramahan Tsunade yang hanya ditanggapi dengan tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya.
"Hehehe... Aku tidak tahu akan hal itu, Baa-chan." balas Naruto masih dengan tawa garingnya membuat kage lain terkekeh geli.
"Ne, Baa-chan. Aku ingin menemui para bijuu dulu!" ucap Naruto lagi dan mendapat anggukan dari Tsunade dan kage lainnya.
Dengan segera Naruto melompat ke arah sembilan bijuu yang saat itu tengah mengobrol ria.
"Wooii... kurama..." teriak Naruto mengalihkan perhatian semua bijuu kepadanya.
"Ahh... Naruto, perkenalkan saudara sesama bijuu yaa... Walau kau sudah mengenal mereka. Baiklah dimulai dari ekor satu Shukaku, ekor dua Matatabi, ekor tiga Isobu, ekor empat Son Goku, ekor lima Kokuou, ekor enam Saiken, ekor tujuh Choumei, ekor delapan Gyuuki, dan aku akan memperkenalkan diriku lagi. Aku ekor sembilan Kurama." seru Kurama memperkenalkan kedelapan bijuu lainnya yang berdiri mengitari Naruto.
"Baiklah, aku juga akan memperkenalkan diriku. Namaku Uzumaki Naruto, aku patner Kurama. Salam kenal." Naruto membungkuk kepada semua bijuu diakhir perkenalannya, " Dan maksudku mendatangi kalian adalah untuk membicarakan tentang masa depan kalian. Aku akan memberi tugas pada kalian sesuai dengan tujuan kalian didunia ini, aku akan menyebarkan kalian disetiap negara dan mungkin tidak semua. Oke yang pertama Shukaku, kau akan ku tempatkan di Sunagakure. Apa kau keberatan?"
"Hahh... Tidak, terima kasih." Naruto mengangguk mendengar jawaban Shukaku, selanjutnya ia menoleh kepada Matatabi.
"Yang kedua Matatabi, kau akan kutempatkan di Kusagakure. Apa kau keberatan?" Matatabi hanya menggeleng sebagai balasan dan membuat Naruto kembali mengangguk.
"Yang ketiga Isobu, kau akan kutempatkan di Kirigakure. Apa kau keberatan?" sama seperti Matatabi, Isobu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Yang keempat Son Goku, kau akan kutempatkan di Iwagakure. Apa kau keberatan?" Son Goku menggeleng seperti bijuu sebelumnya.
Dan seterusnya mereka ditempatkan oleh Naruto didesa yang berbeda agar dunia shinobi menjadi seimbang. Kokuou yang ditempatkan di pulau Uzu, Saiken yang ditempatkan di pulau Nagi, Choumei yang ditempatkan di Takigakure, Gyuuki yang ditempatkan di Kumogakure, dan Kurama di Konohagakure. Dan mereka semua pun setuju, akhirnya Naruto kembali berbicara mengenai persetujuan yang akan mereka lakukan dengan seluruh desa yang disebutkan tadi.
W
w
w
Sementara tak jauh dari tempat aliansi berkumpul terdapat seseorang yang memiliki dua kulit yang berbeda, sebelah kanannya manusia dan sebelah kirinya mahluk hitam legam. Dua iris matanya juga berbeda, iris kanannya merah bertomoe sedangkan iris kirinya ungu berpola riak air.
Sosok itu adalah Obito Uchiha, orang yang menyatakan perang kepada kelima negara besar. Tapi, setidaknya itu dulu. Karena sekarang ia hanya sebuah boneka yang dikendalikan oleh bawahannya sendiri, yakni... Zetsu hitam yang kini mengendalikan tubuhnya secara penuh.
"Sepertinya rencanaku telah gagal, tapi setidaknya aku akan menunggu hingga hari yang dinanti-nanti itu terjadi. Khu... Khu... Khu..." gumam Zetsu yang disertai tawa liciknya.
Memutuskan untuk melihat pasukan aliansi sebentar sebelum kemudian menghilang dengan cara yang seperti tertelan mata kanannya sendiri.
W
w
w
#Dua hari kemudian#
Setelah merewat shinobi-shinobi yang terluka dan memakamkan shinobi-shinobi yang telah meninggal, akhirnya kelima kage memutuskan untuk kembali ke masing-masing desa dan memutuskan untuk tetap menjaga aliansi dan kedamaian pun telah tercipta.
Pemuda pirang yang saat ini berdampingan dengan seorang gadis bersurai sama dengannya, yakni Ino Yamanaka. Ia tak henti-hentinya tersenyum sepanjang perjalanan begitu mendengar celotehan kekasihnya itu. Mulai dari awal perang di garis pantai hingga kekhawatirannya saat melihat pemuda itu tertelan lubang dimensi.
"Ne, Naruto-kun..." mendengar panggilan baru dari kekasihnya pemuda yang bernama Naruto tersebut segera mengalihkan perhatiannya kepada gadis Yamanaka itu.
"Apa... Apa kau akan meninggalkan 'kami'?" mendengar pertanyaan tersebut sontak membuat Naruto mengangkat sebelah alisnya pertanda bingung.
"'Kami'?" tanya Naruto memastikan. Namun, yang ditanya malah menundukkan kepalanya dengan wajah memerah. Dengan gerakan perlahan ia mengusap perutnya yang masih datar sebagai isyarat untuk Naruto, dan Naruto yang kini berubah menjadi sedikit lebih cerdas langsung mengerti maksud gadis pirang pucat tersebut dengan kedua manik shappirenya yang membulat.
"Ma-maksudmu?" ucap Naruto terbata-bata karena terkejut dengan kenyataan yang mendadak itu. Sementara Ino yang melihat Naruto mengerti maksud isyaratnya itu hanya mengangguk meng'iya'kan.
"Berapa bulan?" tanya Naruto lagi, tapi kali ini lebih keras membuat beberapa rekannya mendengar dan menoleh ke arahnya.
"Berapa bulan apanya, Naruto?" ujar Kiba yang berada disamping Hinata dan mendapat anggukan dari yang lain.
"Ti-tidak, tidak ada apa-a..." dengan cepat Sasuke memotong kalimat Naruto dengan mata sharingannya yang kini aktif.
"Jangan berbohong, dobe. Aku mendengar semuanya, dan aku juga melihat ada cakra lain didalam tubuh Yamanaka itu." seketika muka Naruto berubah pucat pasi sementara Ino merah padam begitu mendengar penuturan Uchiha terakhir itu.
Tak jauh berbeda dengan temannya yang lain, mereka semua sangat terkejut hingga Lee yang akan melompat pun tergelincir batang pohon dan terjatuh begitu mendengar bahwa Ino...
"APA..." teriak teman-teman rokie kecuali Sasuke, Naruto, dan Ino.
"Kau harus menjawab beberapa pertanyaan dari kami, Naruto." ucap Sakura sambil menyatukan kepalan tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya hingga mengeluarkan bunyi. Dan perjalanan pun dilanjutkan dengan Naruto yang mengeluarkan keringat dan Ino yang masih memerah.
W
w
w
*Di lain tempat*
Sementara itu di tengah lebatnya hutan terdapat sesosok pemuda tergeletak tak berdaya, sosok bersurai pirang itu terkapar dengan berbagai macam luka ditubuhnya. Ia hanya mengenakan sebuah celana hitam yang terkoyak sebatas lutut, tanpa mengenakan baju atasan.
Tak lama setelah itu muncullah dua orang ANBU dari dahan pohon, kedua ANBU tersebut segera mendarat saat mereka melihat tubuh tak berdaya sosok itu. Saat mereka membalikkan posisi tubuhnya yang sebelumnya tengkurap menjadi terlentang, alangkah terkejutnya mereka saat melihat wajah sang pemuda yang amat mirip dengan pemimpin mereka.
"Neko, kau laporkan ini kepada Hokage! Aku akan membawa pemuda ini ke rumah sakit." ucap salah satu dari mereka.
"Ha'i"
ANBU Neko pun menghilang dengan shunshin setelah mendapat perintah dari ANBU seniornya yang bertopeng anjing. Sementara ANBU dengan kode nama Inu segera memapah tubuh si pemuda dan ikut menghilang meninggalkan kepulan asap putih.
Disebuah desa yang sangat damai bernama Konohagakure, desa dengan shinobi dan kunoichi tangguh. Dibawah kepemimpinan seorang Hokage, desa tersebut berkembang sedikit demi sedikit. Para penduduknya ramah-tamah dan pemimpin mereka yang bijaksana.
Sang Yondaime Hokage, Minato Namikaze. Dengan segala usahanya ia berusaha mengerjakan setumpuk demi setumpuk lembaran-lembaran yang harus diperiksa dan ditandatanganinya. Saking asiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba sebuah kepulan asap putih muncul didepannya dan perlahan terlihat seorang ANBU bertopeng kucing dari kepulan tersebut.
"Ada apa?" tanya Minato tanpa basa-basi.
"Lapor, Hokage-sama. Kami menemukan seorang pemuda dihutan dengan ciri-ciri mirip seperti anda." terang ANBU neko membuat Minato membelalak matanya.
"Maksudmu dia seorang Namikaze?" tanya Minato kembali untuk memastikan.
"Saya tidak tahu, Hokage-sama."
"Baiklah, kau boleh pergi!"
"Ha'i"
ANBU kembali menghilang dengan shunshinnya menyisakan seorang Minato yang tampak kembali bekerja sambil memikirkan tentang pemuda yang ditemukan itu.
#Sore harinya#
Dengan langkah cepat Minato menyusuri koridor rumah sakit Konoha, disampingnya tampak sang istri Kushina Uzumaki atau sekarang adalah Kushina Namikaze tampak kesulitan menyamakan lajunya dengan sang suami karena perutnya yang membuncit.
"Minato, bisakah kau pelankan langkahmu. Aku kesulitan disini" ucap Kushina sambil tetap berjalan dengan tangan kanan memegang pinggulnya.
Mendengar ucapan istri tercintanya tengah kesulitan ia pun berbalik menghadap istrinya dan tersenyum lembut.
"Gomen, Kushina. Apa kau lelah? Apa kau ingin beristirahat? Atau kau ingin pulang?" mendengar rentetan pertanyaan dari suaminya membuat Kushina memberi tanda sayang dikepala Minato, orang-orang disekeliling mereka berdigik ngeri melihat hal tersebut. Namun, beberapa diantara mereka hanya bersweatdrob melihat shinobi terkuat Konoha kalah telak dengan istrinya.
"Aku ingin pulang saja!" jawab Kushina dengan nada cuek sambil berbalik badan. Minato sendiri yang masih mengelus kepalanya pasca mendapatkan tanda sayang istrinya hanya mampu mengangguk, digenggamnya tangan kanan Kushina dan mereka menghilang dengan menyisakan kilatan kuning.
W
w
w
Sementara di Konoha seminggu setelah perang berakhir, semua penduduk tampak bekerja sama dalam hal pembangunan. Semua shinobi diliburkan dan ikut membantu perkembangan desa, tapi hal itu tak hanya berlaku bagi desa Konoha saja. Kelima desa besar dan desa-desa kecil pun juga melakukan hal yang sama.
Diatas monumen Hokage tengah berdiri seorang pemuda pirang, ia menggunakan pakaian yang sangat berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia memakai jaket berkerah tinggi berwarna oranye dan hitam, tapi kini ia hanya mengenakan kaos hitam polos berlengan panjang yang ditutupi dengan sebuah jubah merah berlambang Senju dan Uzumaki dipunggung jubah tersebut, tak lupa dengan celana panjang berwarna merah dengan garis-garis hitam disisi luarnya.
Kenapa lambang Senju dikenakan olehnya? Itu karena keputusan Hokage dan didorong dengan kekuatan yang dimilikinya adalah kekuatan Shodaime Hokage, Hashirama Senju. Dan karena kemampuan mokuton adalah milik clan Senju maka Naruto pun diangkat menjadi anggota clan. Namun, mengapa marga yang digunakan masih tetap Uzumaki? Hal itu dikarenakan Naruto masih menghargai marga yang memang telah digunakannya sedari ia terlahir, dan membuatnya sulit untuk mengganti nama marganya. Jangan lupakan bahwa ia yang sekarang adalah sebuah 'bunshin' dan tak memiliki hak untuk mencampuri urusan Naruto yang asli kecuali hal itu memang diperintahkan oleh si asli itu sendiri.
Kembali kepada Naruto yang masih setia berdiri memandang desanya. Surai pirang miliknya melambai tertiup angin dan diikuti dengan lambaian lembut jubah merahnya, ia menatap lembut pemandangan desa Konoha. Dimana semua orang kini saling membantu satu sama lain, seperti apa yang diharapkannya dari kata 'damai'.
Menengadah menatap birunya langit, ia tersenyum merasakan semuanya berakhir bahagia. Walau pengorbanan yang dilakukan tidak sedikit, tapi itu sepadan dengan hasil yang mereka peroleh.
Grebb
Pemuda itu tersenyum melihat sepasang tangan melingkar diperutnya, dan dapat dirasakan dibahu kanannya tenah ada kepala seseorang yang sangat dikenalnya. Rambut pirang pucat milik sosok itu melambai menggelitiki pipinya yang masih berlukiskan tiga pasang kumis kucing yang semakin menipis.
"Ada apa denganmu, Naruto?" tanya sosok tersebut sesaat setelah tak merasakan respon dari orang yang dipeluknya.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya memandang pemandangan desa. Bukankah saat ini desa sangat damai?" sosok yang tadi dipanggil Naruto itu melepaskan kedua lengan yang melingkari perutnya dan berbalik menghadap sosok wanita yang kini tersenyum ke arahnya.
"Inilah impian para leluhur, Ino. Kedamaian yang sesungguhnya. Kedamaian yang diinginkan mereka yang berkorban. Semoga kedamaian seperti ini akan terus terjadi, walau aku tidak ada disini untuk menjaganya." lanjut Naruto sambil mengalihkan pandangannya kembali menatap desa Konoha dan dengan lengan kanannya yang ia lingkarkan di pinggang san terkasih. Ia tersenyum melihat satu persatu tiang berdiri kokoh, mengabaikan Ino yang kini mengerutkan keningnya memikirkan perkataan Naruto tadi yang menurutnya aneh.
Keheningan menghampiri mereka. Naruto yang sibuk menikmati pemandangan, dan Ino sibuk dengan pikirannya. Keheningan masih berlanjut sampai seseorang berpakaian ANBU dan bertopeng ular datang menghampiri mereka.
"Jadi, disini kalian berada." ucap ANBU tersebut, Naruto yang sejatinya telah mengetahui kedatangan ANBU tersebut hanya tersenyum sementara Ino terlonjak kaget mendengar perkataan ANBU tersebut yang tiba-tiba datang.
"Apa kau ingin menikmati pemandangan desa juga, Sasuke?" ucap Naruto sembari berbalik menatap ANBU yang kini melepas topengnya dan memperlihatkan wajah rupawan pemuda keturunan Uchiha.
"Hn, tidak. Aku disini untuk menyampaikan pesan Hokage. Kau disuruh menghadap sekarang, Naruto!" jawab Sasuke yang kemudian berbalik dan mengangkat tangan kanannya sembari berucap.
"Kalau begitu aku tinggal dulu, masih banyak urusan yang harus aku urus." ucap Sasuke yang kini telah menjabat sebagai ketua ANBU semenjak perang berakhir.
Sesaat setelah perang usai Sasuke segera disidang untuk menentukan hukuman apa yang pantas untuknya. Tapi berkat penjelasan dan beberapa bukti dari Naruto yang dibantu pemuda cerdas keturunan Nara, ia bisa mendapat hukuman ringan yaitu mengabdikan diri kepada desa dengan menjadi ANBU dan dipasangi segel fuin didada kirinya untuk mengantisipasi kalau ia kembali berhianat.
Naruto menggeleng kecil menghapuskan pikiran-pikiran masa lalunya, menatap Ino yang sedang menatap dirinya khawatir. Ia tersenyum sebagai balasan bahwa ia baik-baik saja dan semua akan baik-baik saja.
"Kalau bagitu, aku pergi dulu! Kalau kau mau menunggu, tunggu aku di rumah! Jaa." ucap Naruto yang kemudian hilang meninggalkan kepulan asap putih.
Ino masih menatap tempat Naruto berdiri barusan, ia penasaran 'Kenapa akhir-akhir ini Naruto sedikit mencurigakan?' batinnya.
Tak ingin memikirkan hal-hal negatif ia memutuskan pulang ke rumahnya dan Naruto. Rumah yang ditinggali mereka semenjak mereka pulang dari medan perang, sebenarnya ia yang memaksa Naruto untuk tinggal bersamanya dengan alasan ia kesepian dan Naruto pun mengiyakan begitu mendengar alasannya itu.
W
w
w
Berdiri didepan tiga orang dan dua ANBU Naruto memasang wajah serius begitu melihat wajah-wajah ketiga orang tua itu.
"Jadi?" ucapnya menghilangkan suasanan hening diruangan seluas sepuluh meter persegi itu.
"Ehemz..." dehem Tsunade membuat kecanggungan kembali menyapa mereka. "Uzumaki Naruto, kami memanggilmu untuk menyatakan bahwa kau akan menjadi Hokage selanjut..." dengan terpaksa Tsunade menghentikan ucapannya ketika melihat Naruto menggelengkan kepala dan ia pun mengerti arti isyarat tersebut.
"Kenapa?" tanya Tsunade, sementara kedua tetua yang lain masih terdiam menyimak pembicaraan Hokage.
"Aku tidak pantas menjadi Hokage. Tapi, aku bisa menyarankan Kakashi-sensei untuk menjadi Rokudaime Hokage." semua bingung mendengar perkataan Naruto. Homura, salah satu tetua desa langsung emosi mendengar penolakan pemuda pirang tersebut.
"Apa alasanmu menolak perintah Hokage?" tanyanya dengan nada dingin, namun kembali tenang begitu mendapat perintah Tsunade untuk duduk kembali.
"Aku kan sudah bilang, aku tidak pantas menjadi Hokage." jawab Naruto tenang dan kemudian menatap serius ke arah Tsunade, "Dan, Baa-chan. Bisakah aku meminjam gulungan mokuton?" lanjut Naruto membuat Homura kembali tersulut emosi.
"Untuk apa, HAH?" bentak Homura yang kembali berdiri.
"Tenang, Homura. Dan Naruto bukankah kau sudah diberikan pengetahuan tentang tehnik-tehniknya?" balas Tsunade membuat Naruto mengangguk.
"Itu memang benar. Tapi, Nidaime-sama menyarankan untuk mempelajarinya lebih lanjut, karena ada beberapa jutsu yang belum ku ketahui secara sempurna."
"Hm... Kalau memang ini permintaan Nidaime-sama, aku akan mengabulkannya. Tapi, masalahnya kami tidak mengetahui letak gulungan itu disembunyikan." ujar Tsunade dengan nada sedih dan menundukkan kepalanya.
"Mengenai hal itu kalian tenang saja, Nidaime-sama telah memberitahukan letak gulungan itu berada." semua terdiam mendengar perkataan Naruto. Kedua tetua pun tak dapat berkata apa-apa lagi, tak lama kemudian Tsunade pun menghela nafas pasrah.
"Baiklah, kalau kau mengetahui letaknya silahkan!" jawab Tsunade dan mendapat tatapan heran dari kedua tetua.
"Tsunade..." dengan cepat Tsunade memotong perkataan Koharu.
"Kalian tak tahu apa-apa, jadi diamlah!"
Setelah mendapat persetujuan Naruto kemudian membungkuk dan pergi meninggalkan ruangan menyisakan keheningan di dalam ruangan tersebut, ketiga orang yang duduk disana tampak berpikir dan sesaat kemudian ketiganya menghela nafas bersama.
W
w
w
Berjalan menyusuri lorong kantor Hokage sesekali Naruto membalas sapaan beberapa shinobi yang melewatinya, tak terasa bahwa ia telah berdiri didepan pintu ruang Hokage dan dengan satu tarikan nafas dalam dibukanya pintu tersebut.
Tak ada seorang pun didalam ruangan itu, tapi Naruto dapat merasakan beberapa cakra yang diketahuinya adalah beberapa ANBU yang memang menjaga ruangan Hokage agar tak dimasuki sembarang orang.
"Aku kesini atas persetujuan dari Hokage, kalau kalian tidak percaya kalian bisa tanyakan langsung kepada beliau." hening, tak ada yang menjawab tapi Naruto yakin dengan itu para ANBU tak akan berani mengganggu.
Segera saja ia melangkah kesisi kanannya dan memang benar, didinding itu terdapat sebuah gambar lingkaran fuin. Tak ingin membuang waktu dipindahnya gambar tersebut dan tampaklah sebuah fuin pendeteksi cakra dan hanya bisa dibuka oleh orang yang cakranya sama dengan sipencipta fuin.
Dengan menempelkan telapak tangan kanannya, Naruto langsung memfokuskan aliran cakranya ke fuin tersebut. Hingga seberkas cahaya muncul dan setelahnya fuin tadi menghilang menampilkan sebuah ruang persegi empat yang hanya sebatas empat meter persegi dan didalamnya terdapat sebuah gulungan yang diyakininya adalah gulungan peninggalan Shodaime Hokage.
Setelah mengambil gulungan tersebut ia lantas berjalan ke arah pintu, tapi sebelum melangkah keluar Naruto menyempatkan diri berhenti dipintu dan berkata tanpa menoleh.
"Terima kasih atas kerja sama kalian." dan ia pun keluar dari ruangan Hokage meninggalkan kesunyian tempat tersebut seperti sebelumnya.
Setelah keluar dari kantor Hokage, Naruto memutuskan untuk langsung pulang ke rumah Ino. Dalam perjalanan ia mendapat banyak sekali sapaan dari penduduk yang dilewatinya dan sesekali menerima pemberian mereka yang berupa sayuran atau buah-buahan.
"Tadaima." serunya begitu memasuki kediaman Yamanaka.
"Okaeri, Naruto kenapa kau lama sekali." jawab Ino yan baru keluar dari dapur. Mendengar pertanyaan itu membuat Naruto menggaruk tengkuknya sambil tertawa hambar.
"Hahaha... Etto, kan aku ada pertemuan dengan Hokage. Oh ya, apa yang kau masak hari ini? Dan ini, aku diberikan oleh beberapa orang tadi dijalan." ucap Naruto dan kemudian menyerahkan beberapa kantung berisikan sayuran dan beberapa macam buah.
Ino hanya menerima kantung tersebut tanpa menjawab apa-apa, dan segera membawa kantung belanjaan tersebut kedapur untuk dimasukkan kedalam lemari pendingin.
Sementara Naruto mengikuti dari belakang dan langsung mendudukkan diri dikursi meja makan yang telah terhidang beberapa macam makanan di atas meja.
Beberapa saat kemudian Ino menyusul Naruto dan duduk didepannya, mereka pun memulai acara makan siang mereka dengan hikmat dan tenang.
"Ino, setelah ini aku mau ketempat Kurama. Apa kau mau ikut?" tanya Naruto ditengah kegiatan menyantap makanannya yang berupa sup miso ramen. Sementara Ino yang mendengarnya segera menghentikan acara makannya secara tiba-tiba membuat Naruto was-was.
"Aku... Aku ikut." jawab Ino dengan nada imut sambil memandang Naruto dengan mata berkaca-kaca.
Naruto yang mendengar nada yang Ino gunakan hanya menelan ludah, pasalnya ia kenal nada itu. Nada yan hanya digunakan Ino ketika menginginkan sesuatu alias ngidam.
"Ba-baiklah, sekarang lanjutkan makanmu!"
Setelah perbincangan singkat mereka kembali melanjutkan acara makan siang mereka dalam kesunyian hingga mereka selesai.
W
w
w
Sesuai janji Naruto mengajak Ino untuk menemui Kurama yang berada di hutan belakang monumen Hokage. Selama perjalanan Ino tak henti-hentinya berceloteh ria tentang apa yang akan ia lakukan saat bertemu dengan Kurama nanti, dan Naruto hanya menanggapinya dengan menganggik dan tersenyum sangan miris tak lupa dengan keringat dingin yang membanjiri wajahnya begitu mendengar salah satu perkataan Ino.
"Asyik... Aku akan bertemu Kurama. Hm... Apa yang akan aku lakukan yaa? Ahh, aku akan memintanya untuk menggelinding ditanah seperti anjing atau menyuruhnya meniup Naruto hingga terbang. Aku sudah tidak sabar. Ayo, Naruto lebih cepat jalannya!"
'Hah... Sungguh malang nasibku, Kami-sama.' ucap Naruto dalam hati selama perjalanan.
Masih asik berceloteh hingga tanpa Ino sadari mereka telah sampai diatas monumen Hokage dan dengan segera Ino berlari memasuki hutan yang berada dibelakang monumen tersebut hingga akhirnya sampai disebuah padang rumput yang sangat luas dan ditengah padang rumput itu terdapat seekor rubah raksaksa yang tengah tertidur.
"Ohayou, Kurama." sapa Ino begitu ia tiba didepan moncong Kurama, tak ada rasa takut dihatinya saat berdekatan dengan salah satu bijuu terkuat. Malah sebaliknya, saat ia tidak mendapat jawaban dari rubah itu dengan tak berprike'bijuu'an ia segera melompat naik ke moncong Kurama dan berteriak didepan daun telingan bijuu tersebut.
"KURAMA..."
Dan cara itu selalu berhasil membuat bijuu itu terbangun dan langsung menggeram.
"Grr... Bisakah kau membangunkanku dengan sedikit lebih lembut, bocah pirang?"
"Mouu... Aku sudah melakukannya, tapi kau tidak bangun-bangun. Makanya aku gunakan cara itu yang ternyata sangat ampuh" jawab Ino dengan senyum innocent, seolah hal itu tak masalah baginya.
"Go-gomen, Kurama."
Kurama menoleh saat indra pendengarannya menangkap suara lain selain gadis pirang dimoncongnya itu. Melihat seorang pemuda pirang yang sangat dikenalnya itu memandangnya dengan mata berkaca-kaca membuatnya memutar bola matanya pertanda bosan.
"Ya, dan sekarang ada apa?" tanya Kurama yang kembali memposisikan tubuhnya ke posisi tiduran.
"Ah, kau tahu Kurama. Aku sangat menginginkan kau mengelinding ditanah seperti anjing lucu!" segera saja Kurama kembali bangkit setelah mendengar perkataan gadis pirang yang masih berada dimoncongnya, dengan tajam dipandanginya gadis itu tapi si gadis hanya tersenyum seolah pandangan tajam sang bijuu seperti pandangan anjing yang meminta makan.
Melihat si gadis yang tak terpengaruh oleh tatapannya Kurama kemudian mengalihkan pandangannya kepada Naruto, dan begitu melihat pemuda tersebut Kurama seketika sweatdrob berat. Naruto yang dilihatnya kini sedang bersujut mengatupkan kedua telapak tangannya sambil bergumam memohon.
Tak punya pilihan lain Kurama pun menyetujui permintaan gadis itu, dan begitu mendapat persetujuan Ino segera melompat ke arah Naruto dan menyaksikan aksi seekor bijuu terkenal yang terkenal kekejamannya itu kini malah bergelinding ditanah seperti seekor anjing yang tengah kegirangan.
Tak ayal Ino kini tertawa sekeras-kerasnya melihat Kurama yang menahan malu karena menggelinding. Naruto, jangan ditanya. Dia saat ini hanya mampu menahan nafas dengan wajah pucat pasi, dia harus meminta maaf pada rubah itu nanti, harus. Batinnya menjerit.
Tak lama kemudian Kurama berhenti dan berjalan mendekati kedua manusia pirang yang tengah tersenyum ke arahnya. Ditundukkan moncongnya kepada Ino untuk melihat ekspresi si wanita, dan ia tak dapat menahan keterkejutannya begitu merasakan perempuan pirang itu memeluk ujung moncongnya sembari bergumam 'Terima kasih' berkali-kali.
Sementara Naruto, ia tak jauh berbeda dengan apa yang kurama rasakan. Sangat terkejut karena keberanian wanitanya itu memeluk moncong Kurama, tapi sesaat kemudian ia tersenyum saat melihat Kurama yang menarik ujung bibirnya ke atas.
"Terima kasih, Kurama. Hiks... Aku tahu... Permintaanku... Hiks... Itu memang menye... Hiks... Menyebalkan... Dan... Itu... Hiks... Itu..." secara tiba-tiba Ino menangis membuat Kurama maupun Naruto kembali terkejut. Tapi Kurama langsung memotong kalimatnya.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya lagi. Aku tahu kau tengah mengandung dan aku pernah menyaksikan tingkahmu ini saat berada di tubuh ibunya Naruto. Jadi, tak masalah."
Naruto tersenyum melihat tingkah kedua mahluk itu, ia senang Kurama tidak marah lagi dan ia lebih bahagia karena kebencian Kurama telah hilang. Dan sekarang yang harus ia pikirkan adalah cara yang bisa membuat Naruto asli kembali kedimensi ini.
W
w
w
Tbc
Tak ada kata-kata yang mampu kuucapkan kepada kalian, selain kata terima kasih atas dukungan kalian dan maaf untuk kesalahan apabila ada di fic ini.
Itu saja untuk chap ini.
Oh iya, untuk Ino. Seperti cerita di atas Ino tinggal di dimensinya dan tidak ikut dengan Naruto. tapi, saya telah merancang agar Ino bisa bertemu lagi dengan Naruto 'asli'.
Sampai jumpa di chap selanjutnya, JAA...
