Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: gak usah dah...

warning: sama seperti yang kemarin.

A/N: saya mau memperjelas beberapa hal saja. Yang pertama, bisa dibilang alurnya mengikuti canon dengan beberapa rombakan cerita. Yang kedua, cerita ini mengandung unsur beda dimensi beda waktu dan chapter kemarin itu di skip sampai 6 tahun di dimensi awal/asal Naruto dan 6 hari di dimensi tujuan, itu berarti perbedaan waktunya 1 tahun di dimensi awal sama dengan 1 hari di dimensi tujuan. Dan yang terakhir, terima kasih atas dukungan berupa saran-saran terbaik yang sudah reader berikan, walau saya tidak bisa menyempurnakannya tapi saya akan berusaha membuatnya lebih baik. Mungkin itu saja...

W

w

w

Di hutan barat daya Konoha terdapat sebuah gubuk yang terlihat telah hancur, dan di depan gubuk tersebut secara tiba-tiba muncul seorang lelaki pirang yang dikenal sebagai Yondaime Hokage, Minato Namikaze.

Kemunculan Minato yang selalu didahului oleh sebuah kilatan cahaya kuning membuat semua orang juga mengenalnya dengan julukan Kiiroi senko, sama seperti saat ini. Namun, sepertinya telah terjadi beberapa hal yang membuat pria pirang ini tidak mampu mendarat dengan sempurna.

Berusaha bangkit kembali ia lantas segera mengeluarkan kunai khasnya yang memiliki tiga buah cabang saat melihat sebuah pusaran udara yang tak jauh di depannya. Dan dari pusaran tersebut sesosok pria lain muncul dan berdiri sempurna.

Pria itu memakai sebuah topeng bercorak berwarna kuning dan mengenakan jubah hitam polos, dibalik jubah tersebut dapat terlihat sebuah kaos hitam dan celana panjang berwarna senada serta tak lupa sebuah sepatu ninja berwarna hitam juga.

Cukup lama mereka terdiam, saling mengamati pergerakan setiap inci tubuh musuhnya. Hingga Minato yang tak mau membuang waktunya segera mengambil tindakan dengan melempar kunainya ke sebuah batang pohon yang berada di sisi kanan dirinya dan kembali mengeluarkan sebuah kunai yang sama.

Dilemparnya kunai tersebut ke arah sosok misterius bertopeng itu. Namun, sosok musuh di depannya tidak bergerak sedikitpun. Ia hanya diam dan dengan santainya kunai yang dilempar Minato melesat menembus tubuhnya.

'Apa. Tubuhnya kembali tembus seperti sebelumnya, siapa sebenarnya orang ini?' pikir Minato dalam batinnya sembari tetap menatap waspada ke pria misterius tersebut.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Minato dengan lantang setelah sebelumnya masih berkutat dengan pikirannya. Sedangkat sang musuh hanya terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Minato.

"Yondaime Hokage, kau tidak perlu tahu siapa aku! Yang perlu kau tahu adalah aku akan menghancurkan Konoha sekarang." jawab sosok itu santai, Minato kembali menggunakan otaknya untuk berpikir tapi masih tetap tak menemukan jawaban apapun, kecuali...

'Menurut sejarah, orang yang mampu mengendalikan Kyuubi dimasa lalu adalah Madara Uchiha. Tapi, hal itu tidak mungkin terjadi saat ini. Mungkinkah...' batin Minato kembali merenung.

"Apakah kau Uchiha Madara? Tidak, Uchiha Madara sudah mati bertahun-tahun lalu." tanya Minato namun kembali disanggah olehnya sendiri sebab masih meragukan fakta yang ada. Sementara orang yang dimaksud hanya terkekeh melihat Minato tampak kebingungan.

"Kenapa tidak, Yondaime? Bukankah kau mengetahui tidak ada yang mampu mengendalikan Kyuubi selain Uchiha, hal itu menandakan bahwa Kyuubi memang peliharaan Uchiha. Dan orang yang pertama kali mengendalikannya adalah Uchiha Madara, dan kali ini aku kembali mengendalikan Kyuubi sama seperti dulu." balas pria tersebut dengan nada datarnya.

Duarr

Secara tiba-tiba sebuah cahaya seperti ledakan terlihat dari arah Konoha, tepatnya dari tempat Monumen Hokage berada. Akibat suara tersebut, kedua sosok yang tadi serius dengan pembicaraan mereka langsung mengalihkan perhatiannya ke asal suara itu.

'Arahnya dari Monumen Hokage, mungkinkah...' batin Minato kembali bersuara, seketika itu wajah Minato berubah panik tapi sekuat tenaga ia tahan perasaan itu dan meyakinkan dalam hati bahwa Hiruzen dan yang lainnya pasti bisa mengatasi Kyuubi.

"Ahh, sepertinya Kyuubi sangat bersemangat, Yondaime!" suara sosok tersebut kembali menyadarkan Minato dari hayalannya, ia harus cepat mengalahkan orang itu, ucap Minato dalam hati.

Dengan cepat ia melesat ke arah pria bertopeng itu dengan sebuah kunai digenggaman tangan kanannya. Tapi, sosok misterius itu tak bereaksi, ia malah dengan santainya mengeluarkan sebuah rantai dari lengan baju kanannya dan menghubungkannya dengan lengan baju sebelah kiri.

Saat Minato telah sampai di depan musuhnya dengan sekuat tenaga ia mengayunkan kunainya berniat menebas dada pria misterius tersebut. Tapi, sama seperti sebelumnya. Serangan Minato hanya menembus dan melewati tubuh sosok itu laksana menebas udara kosong.

Dengan cepat lengan kanan pria bertopeng itu bergerak berniat menggenggam lengan kanan Minato setelah serangan lelaki berpangkat Hokage itu telah melewatinya secara sempurna. Namun, dengan teknik hiraishin miliknya Minato segera menghilang dengan kilatan kuning dan muncul di dekat pohon tempat kunai pertama yang dilemparnya menancap.

"Kau memang cepat seperti julukanmu, Yondaime. Tak salah mereka menjulukimu sebagai shinobi tercepat." ucapan sosok itu tak digubris sama sekali oleh Minato, ia hanya terdiam menganalisa tentang kemampuan musuhnya yang mengaku sebagai Uchiha Madara, meski ia masih meragukan hal tersebut.

Minato kembali menyiagakan tubuhnya sembari berfikir, 'tubuhnya akan kembali tertembus jika terkena serangan, tapi ia akan memadat kembali setelah serangan yang mengenainya telah melewati tubuhnya. Pasti jutsu itu mempunyai batas waktu penggunaan, itu berarti...' untuk sesaat matanya melebar sebelum kembali seperti semula tapi dengan sorot yang lebih tajam dan menyiratkan akan sebuah tekad.

Melihat sorot mata Minato yang berbeda dari sebelumnya, orang yang mengaku sebagai 'Madara Uchiha itu hanya terdiam sambil menatap datar. Tapi, didalam hatinya ia berkata bahwa pria pirang tersebut telah menemukan cara agar dapat mengalahkannya, dan hal itu tidak boleh terjadi, batinnya.

Minato kembali mengeluarkan sebuah kunai khasnya dan tanpa aba-aba ia langsung melemparkannya ke arah 'Madara'. Ditangan kanannya telah terbentuk sebuah bola chakra seukuran bola basket dan langsung melesat maju. 'Madara' yang melihat hal tersebut lantas tak tinggal diam, ia segera melesat ke arah Minato dengan rantai yang saling berhubungan di kedua pergelangan tangannya.

Kedua shinobi tersebut saling melesat maju ke arah berlawanan. Dengan gerakan slowmotion, kunai yang tadi dilempar Minato mulai menembus tepat dikening 'Madara'. Sementara tangan kanan 'Madara' telah mendekati tubuh bagian tengah Minato. Hingga sampai dimana kunai khusus hiraishin milik Minato telah keluar dari kepala 'Madara' secara perlahan dan tangan 'Madara' telah satu centi di depan perut Minato.

Dengan gerakan cepat Minato menghilang membuat tangan kanan 'Madara' yang telah siap bersentuhan dengan perutnya tidak mendapat apa-apa, melainkan sebaliknya. Minato kembali muncul tepat diatas 'Madara' dengan tangan kirinya yang telah menggenggam kunai hiraishin yang sepenuhnya keluar dari kepala 'Madara'. Dan dengan sentuhan akhir, Minato mengayunkan kedua lengannya membuat kunai yang digenggamnya kembali menembus tubuh 'Madara'. Tapi, tak berhenti sampai disitu. Karena secara bersamaan dengan sayatan kunai itu sebuah Rasengan yang memang telah diciptakannya terlebih dahulu telah mengenai dengan telak bagian punggung 'Madara' menyebabkan dirinya tersungkur ditanah.

"Rasengan."

Duarr

Dengan cepat Minato keluar dari kepulan debu hasil ledakan jutsu original buatannya, tapi tak berselang beberapa menit sosok yang diyakininya sebagai musuh telah berhasil melompat keluar dari kepulan debu itu.

Sosok 'Madara' kini mendarat dengan sempurna disebuah batu yang berada di tempat itu. Namun, keadaannya saat ini tak bisa dikatakan baik bagi manusia biasa. Dengan tangan kiri yang kini menggenggam lengan kanannya yang seperti meleleh dan secara perlahan jatuh ke atas batu.

"Mengesankan, Yondaime. Kau adalah orang pertama yang mampu mendaratkan sebuah serangan langsung kepadaku, tak hanya cepat tapi kau juga kuat. Mungkin itulah mengapa mereka menjadikanmu sebagai Hoka..."

Deg...

Sebuah sensasi asing tiba-tiba dirasakan oleh sosok yang mengaku sebagai sang legenda Uchiha tersebut, membuat perkataannya terpotong dan perhatiannya teralihkan. Ia memandang ke arah desa Konoha dengan sorot mata kesal dan marah.

'Siapa yang mampu memutuskan kontrak Kyuubi, Sandaime kah? Tidak, itu tidak mungkin. Sandaime Hokage tidak mungkin dapat memutuskan kontrak mata sharingan. Orang ini pasti kuat.' batinnya berbicara, ia terdiam selama beberapa saat hingga sebuah sentuhan membuatnya tersadar bahwa kini Minato telah melakukan kontak fisik dengannya.

Setelah memberikan fuin pemutus kontrak Minato segera melompat ketempatnya semula, "Kau tidak akan bisa mengendalikan Kyuubi lagi, aku telah menanamkan fuin padamu." ucap Minato yang hanya ditanggapi kekehan oleh sang lawan, seperti hal itu tidaklah jadi masalah.

"Aku akui bahwa aku kalah, Yondaime. Tapi, saat kita bertemu kembali akan kupastikan bahwa Kyuubi akan kudapatkan dan Konoha akan kuhancurkan! Ingatlah itu, Yondaime!" dan dengan berakhirnya ucapan tersebut, sebuah portal berupa pusaran kembali muncul dan menelan tubuh 'Madara' hingga menghilang meninggalkan Minato yang sedikit terengah.

"Aku harus kembali, Kyuubi pasti telah menghancurkan setengah desa." dan Minato pun menghilang dengan kilatan kuning meninggalkan tempat pertarungan yang lumayan hancur dengan sebuah kawah berukuran sedang.

W

w

w

Minato kembali muncul di atas kantor Hokage, dan sesaat setelah kemunculannya ia langsung dikagetkan dengan pemandangan di depannya. Bukan pemandangan desa yang hancur, melainkan pemandangan berupa sosok bijuu berekor sembilan dengan julukan Kyuubi telah berhasil dilumpuhkan dan sekarang telah tertidur di tengah desa.

"Minato!" sebuah suara menyebabkan segala pertanyaan dikepala Minato harus tertunda.

Dapat dilihatnya sosok tua Sandaime Hokage yang masih mengenakan pakaian tempurnya tengah melompat dengan beberapa ANBU mendekat ke arahnya.

"Ahh,, Sandaime-sama. Sepertinya anda berhasil melumpuhkan Kyuubi." ucap Minato yang kemudian dijawab oleh Hiruzen dengan sebuah gelengan, hal itu semakin membuat Minato kebingungan.

"Bukan, yang mengalahkan Kyuubi bukan aku ataupun ninja Konoha! Melainkan..." Hiruzen menghentikan ucapannya dan dilanjutkan dengan mengalihkan pandangannya kepada Kyuubi yang masih tertidur atau lebih tepatnya kepada seorang lelaki yang tampak sedang duduk bersila di atas kepala Kyuubi. Dan seakan mengerti Minato turut mengalihkan pandangannya dan menemukan seseorang yang pernah dilihatnya tengah duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya tampak seperti orang yang sedang bertapa.

"Tapi, bukankah dia sedang koma di rumah sakit?" tanya Minato yang seolah masih meraguka info yang diberikan Hiruzen.

"Aku juga berpikir demikian. Tapi, setelah melihatnya aku agak terkejut karena secara tiba-tiba dia muncul tanpa kusadari. Dan yang lebih mengejutkan lagi dia mampu menggunakan..." Hiruzen kembai menghentikan perkataannya dan memilih kembali menatap Minato yang juga tengah menatap dirinya.

"Mokuton." lanjut Hiruzen yang membuat Minato terlonjak dengan mata membulat dan mulut sedikit terbuka.

"A-apa?"

w

w

w

Sementara orang yang dibicarakan masih tampak tenang dengan acaranya, sedangkan semua shinobi Konoha masih menatap dirinya curiga. Seolah pria pirang yang tampak mirip dengan Hokage mereka itu mempunyai niat tersembunyi.

Dan kecurigaan mereka semakin bertambah saat dua buah kepulan asap tiba-tiba muncul disamping pria misterius tersebut membuat pria itu membuka matanya secara perlahan menampilkan iris biru kecoklatan miliknya.

"Kau terlalu memaksakan diri, Tou-san!" ucap salah satu sosok yang muncul dari kepulan tersebut yang sedikit mengejutkan para shinobi Konoha karena ternyata yang muncul adalah seorang wanita cantik bersurai pirang pucat yang mengenakan kimono dan seorang bocah.

'Bocah!' batin semua shinobi termasuk Hokage dan mantan Hokage.

Sedangkan pria yang dipanggil ayah tersebut cuman mendengus, "Jaga ucapanmu, Riuuka. Aku ini Tou-sanmu!" jawabnya dan dijawab oleh si bocah dengan gumaman. Naruto, nama pria pirang yang dipanggil ayah oleh Riuuka itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada wanita pirang pucat yang tengah membawa sesuatu.

"Ahh, Ino. Aku bahagia, ternyata kau mau bersamaku." ucap Naruto yang kemudian berdiri dan berniat memeluk Ino. Tapi, hal itu hanya sebatas niat. Karena Ino dengan cepat melempar sesuatu yang dibawanya dan tepat mengenai wajah Naruto.

"Ganti dulu bajumu, Baka!" balas Ino yang sedikit berteriak.

Tanpa menjawab Naruto segera membentuk sebuah segel tangan dan tubuhnya seketika tertutupi kepulan asap putih yang tebal. Tak berselang lama kepulan asap tersebut mulai mereda dan menghilang menyisakan sosok Naruto yang telah mengenakan pakaian yang sedikit menjadi faforitnya. Yaitu sebuah kaos dan celana panjang berwarna merah yang dibalut dengan jubah putih berlambang Senju dan Uzumaki dipunggung jubahnya dan dilengkapi dengan sepasang sepatu ninja berwarna biru.

Melihat penampilan baru Naruto lagi-lagi membuat para shinobi Konoha terpana, bukan dalam artian sebenarnya. Melainkan terkejut melihat lambang Senju dibalik jubah yang dikenakan Naruto.

'Senju.'

'U-Uzumaki.' batin semua shinobi termasuk Minato dan kecuali Hiruzen yang memang sudah menduga hal tersebut begitu melihat kemampuan pria tersebut.

Riuuka yang mendengar pemikiran mereka lantas membuatnya menatap mereka balik dengan sebelah alis yang sedikit terangkat. Sedangkan Naruto sendiri sedikit risih begitu melihat semuanya menatap ke arah dirinya dan keluarga dengan pandangan seolah dirinya dewa yang turun dari langit. Namun, dengan cepat dirinya menemukan alasan yang membuat mereka menjadi seperti sekarang.

"A-apa kalian baik-baik saja?" tanya Naruto dengan canggung karena semuanya masih menatap dengan sorot mata sama. Mendengar suara si pirang membuat shinobi-shinobi Konoha tersadar kecuali mereka yang lumayan jauh darinya, seperti Minati, Hiruzen, dan lainnya.

"Ahh,, y-ya, kami baik-baik saja, Senju-sama." jawab salah satu dari mereka yang berdiri paling depan atau paling dekat dengan Naruto.

"Kalau bagitu sebaiknya kalian mulai membereskan kekacauan ini, biar aku dan keluargaku yang mengurus Kura... Maksudku biar kami yang mengurus Kyuubi!" ucap Naruto lagi yang kemudian ditanggapi dengan anggukan oleh shinobi yang berkumpul didepannya. "Ahh,, dan juga tolong satu orang memanggil Hokage kalian kemari!" lanjut Naruto.

"Ha'i." jawab mereka serempak dan mulai menyisir perumahan-perumahan Konoha yang hancur demi mencari korban selamat atau pun korban meninggal, sedangkan salah seorang dari mereka memanggil Yondaime Hokage sesuai perintah Naruto.

W

w

w

#Keesokan harinya#

Naruto pov.

Tepat saat matahari telah meninggi, di atas atap bangunan kantor Hokage telah berkumpul semua shinobi Konoha sementara penduduknya berbaris di depan gedung. Kami saat ini tengah melakukan prosesi pemakaman terakhir yaitu mengenang keluarga serta kerabat kami yang menjadi korban amukan Kyuubi atau yang lebihku kenal dengan nama Kurama.

Sementara Kurama itu sendiri telah disegel olehku. kurama ku segel dengan cara membagi chakranya menjadi dua bagian yang kemudian ditempatkan di dua tubuh berbeda.

Sisi baik Kurama tersegel ditubuh anak Yondaime sendiri atas persetujuan Dari Hokage, dan sisi buruknya tersegel ditubuh anakku sendiri, Riuuka Uzumaki atau sekarang telah berganti menjadi Riuuka Senju. Namun, walaupun disegel didua tubuh berbeda. Para penduduk hanya mengetahui bahwa Kurama terkurung ditubuh Riuuka saja, hal ini disarankan oleh diriku sendiri mengingat bahwa hidup jinchuriki sangat berat dan tak mungkin membebankan hal tersebut kepada anak Yondaime yang notabenenya berjenis kelamin perempuan.

Proses penyegelan pun tak begitu berjalan lancar, karena setelah aku bertemu ayah atau lebih tepatnya Minato-san tadi malam dan menyuruhnya membicarakan sesuatu yang ternyata tentang hal tersebut, tapi hal itu justru menimbulkan reaksi sangat keras dari kedua istri kami. Tapi, setelah mengetahui bahwa status Naruko, anak Minato dan Kushina, sebagai jinchuriki akan disembunyikan sedangkan Riuuka akan diumumkan sebagai jinchuriki, Kushina sedikit bisa tenang. Tapi, berbeda dengan Ino yang semakin keras menentang keinginan sang suami yang menyebabkan pembicaraan ditunda dan semua menenangkan Ino terutama aku yang semakin meyakinkan Ino bahwa Riuuka akan aman dalam pengawasanku, akhirnya Ino pun setuju.

Tapi tidak hanya sampai disitu, bahkan orang yang mengetahui tentang status Naruko yang sebagai jinchuriki pun hanya sedikit yang mengetahui. Hanya kedua pasang orang tua yaitu kami berempat serta Hiruzen Sarutobi sajalah yang mengetahui, karena ketika pembicaraan berlangsung aku memasang kekkai kedap suara dengan alasan agar semua aman.

Dan keesokan harinya berita tentang jinchuriki Kyuubi yang baru sekaligus keluarga Senju yang telah menyelamatkan Konoha diumumkan sesaat sebelum sesi penaruhan bunga dimulai atau lebih tepatnya beberapa saat yang lalu yang dimana mendapat berbagai reaksi dari para penduduk ada yang bersorak sorai ada juga yang menatap Riuuka dengan pandangan benci yang dengan mudah diketahui oleh Riuuka yang mampu membaca pikiran mereka dan aku hanya terdiam melihat semua itu.

Dan sekarang, dimana semua penduduk telah meninggalkan kantor Hokage satu persatu dengan teratur menandakan segala sesi acara pemakaman telah selesai. Masih terlihat jelas beberapa penduduk dan shinobi yang keluar dari gerbang kantor Hokage dengan mata sembab dan berair. Termasuk aku dan keluargaku yang keluar gedung dengan langkah santai, hari ini kami berencana untuk berjalan-jalan berkeliling desa sebelum pulang ke apartemen yang menjadi rumah baru kami disini.

pov. End

W

w

w

#Beberapa hari kemudian#

Minato Namikaze, seorang Hokage desa Konoha yang telah dikenal seluruh negara di elemental nation akibat kemampuannya membantai beribu pasukan Iwagakure pada saat perang dunia shinobi ke-3, hingga mendapat sebuah julukan yang membuat seseorang menggigil begitu mendengarnya.

Namun, semua gelar yang dimiliki oleh Minato justru semakin membuatnya dihormati oleh penduduk desanya, setiap yang berjumpa dengannya pasti menyapa dan memberi hormat padanya. Seperti saat ini, dimana Minato tampak berjalan-jalan di jalan untama desa sambil melihat proses pemulihat yang dilakukan oleh semua unsur desa. Mulai dari tukang bangunan sampai para shinobi ikut membantu proses perbaikan. Dan tak sedikit orang yang menyapanya saat berpapasan dengan dirinya.

Terus berjalan hingga langkah Minato terhenti di depan sebuah bangunan yang dapat dipanggil dengan nama rumah sakit, dengan langkah ringan Minato mulai melangkah memasuki bangunan tersebut dan langsung mendapat sapaan dari para pengunjung atau pun pekerja di rumah sakit tersebut yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Minato.

Setelah berjalan beberapa menit Minato akhirnya sampai di depan sebuah pintu kayu bercat putih, dan dengan perlahan ia membuka pintu tersebut hingga menghasilkan suara decitan kecil yang membuat beberapa orang didalamnya mengalihkan perhatiannya kepada Minato.

Dan dapat dilihat oleh Minato tiga orang yang sudah dikenalnya berada didalam kamar tersebut, ketiga orang itu adalah Naruto, Ino, dan istrinya sendiri Kushina. Ia berjalan masuk dan segera mengambil sikap duduk disamping ranjang Kushina menggantikan Ino yang tadi duduk.

"Naruto, Ino. Sejak kapan kalian kemari?" tanya Minato sesaat setelah mencium kening Kushina dan menatap ke arah pasangan muda itu.

"Baru saja, Yondaime-sama." jawab Ino secara formal dan mendapat dengusan dari Kushina sebagai balasan.

"Sudah kubila, Ino-chan. Janga terlalu formal kepada kami, anggap kami adalah keluargamu. Bukankah Naruto juga berasal dari klan yang sama denganku?" ucap Kushina sembari bertanya yang kemudian dijawab oleh Naruto berupa anggukan kepala.

"Ba-baiklah, Kushina-nee." jawab Ino yang sedikit canggung karena menganggap mereka berdua, Minato dan Kushina, sebagai mertuanya.

"Ne, Kushina. Dimana Naruko-chan?" tanya Minato mengalihkan topik pembicaraan.

"Dia sedang dimandikan, mungkin sebentar lagi akan selesai." seakan kebetulan atau apa, setelah mengatakan hal tersebut pintu ruangan itu tiba-tiba diketuk seseorang dan ketika terbuka menampiklan seorang perawat yang tengah menggendong seorang bayi mungil.

"Hokage-sama, Senju-sama." sapa perawat tersebut sambil sedikit membungkuk sebelum memasuki ruangan dan memberika bayi yang digendongnya kepada Kushina yang disambut dengan antusias oleh ibu bayi itu.

"Saya permisi, Hokage-sama, Senju-sama." pamit perawat tersebut sebelum keluar dan menutup pintu pelan, meninggalkan dua keluarga tersebut yang tampak sedang bermain dengan si bayi.

W

w

w

Sore hari telah datang menghiasi desa Konoha, terlihat di jalan utama desa tengah berjalan dua orang berbeda gender, kedua orang tersebut sesekali menjawab beberapa sapaan penduduk yang ditujukan pada mereka. Ya, mereka adalah keluarga baru di desa Konoha. Keluarga yang menjadi harapan baru desa setelah mampu mengalahkan atau melumpuhkan Kyuubi yang mengamuk. Merekalah Senju Naruto dan Senju Ino.

Mereka berdua nampak berjalan santai dengan beberapa bungkus belanjaan yang menandakan mereka baru selesai berbelanja dan sekarang tengah berjalan menuju akademi ninja Konoha.

Tapi, sesuatu sepertinya tampak mengganggu Ino. Dilihat dari wajahnya yang tak bersahabat, semua itu karena pembicaraannya dengan sang suami.

"Ayolah, Ino. Aku kan sudah minta maaf. Itu pun aku lakukan agar dirimu tidak terlalu sedih." itulah kata yang selalu Naruto ucapkan setelah mereka mulai membahas tentang kebohongan Naruto yang menutup-nutupi bahwa dirinya yang selama enam tahun bersama Ino hanyalah sebuah bunshin. Namun, hal itu tak ditanggapi oleh Ino. Wanita itu terus berjalan dengan diam bahkan sesekali berjalan cepat meninggalkan Naruto walau akhirnya kembali dikejar oleh lelaki tersebut. Sampai akhirnya Naruto menyerah dan mulai memikirkan cara agar Ino dapat memaafkannya.

"Baiklah, bagaimana kalau aku akan mengabulkan satu permintaanmu? Apapun itu." ucap Naruto yang telah menyerah berkata maaf dan langsung mendapat respon dari wanita yang kini mengalihkan pandangan dan menatapnya.

"Apapun?" tanyanya seolah meyakinkan dan dibalas anggukan oleh Naruto.

"Ya, asalkan kau mau memaafkanku!" Ino menyeringai yang membuat Naruto entah mengapa menjadi merinding, baru kali ini ia melihat Ino menyeringai seperti itu, batinnya.

"Tentu saja, tapi aku akan memintanya nanti malam. Sekarang ayo kita harus menjemput Riuuka-kun di akademi!" balas Ino yang langsung menggandeng tangan Naruto dan menyeretnya, tak dihiraukannya tubuh Naruto yang tidak bisa berhenti merinding dan pandangan heran dari penduduk desa melihat Naruto yang diseret.

Tepat sesampainya mereka di akademi telihat anak-anak yang menjadi murid telah berhamburan keluar dari gerbang akademi, dan salah satunya adalah seorang bocah pirang yang tampak berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana pendek yang dikenakannya (pakaiannya sama kayak Sasuke waktu masih di akademi kecuali lambang Uchiha dipunggungnya hilang diganti simbol Senju dikedua kerah bajunya).

"Kaa-san, Tou-san." sapa Riuuka setelah sampai didepan kedua orang tuanya.

"Riuuka-kun, bagaimana harimu di akademi?" tanya Ino sambil melangkah pulang dengan kedua lelaki berbeda usia yang mengapitnya.

"Seperti biasa, Kaa-san. Teriakan siswi perempuan, tatapan iri siswa laki-laki, dan lainnya." Naruto tertawa mendengar jawaban anaknya apalagi dengan nada malasnya yang seperti mengingatkannya akan teman setimnya dulu, sementara Ino hanya menanggapi dengan kekehan kecil begitu mengingat dirinya dulu saat masih di akademi.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalan menuju apartemen mereka walau apartemen tersebut merupakan pemberian dari penduduk desa sebagai rasa terima kasih atas sajanya mengalahkan Kyuubi. Disepanjang jalan dihabiskan dengan canda dan tawa dari keluarga tersebut membuat siapapun yang melihat mereka pasti terkagum dengan keharmonisan keluarga tersebut.

W

w

w

#Malam hari#

Sunyinya malam hari di desa Konoha, hembusan angin malam yang menerpa kulit tak mereka hiraukan. Kedua ayah dan anak itu tampak serius, atau lebih tepatnya sang anak tampak serius menciptakan sebuah jutsu di telapak tangan kanannya sedangkan sang ayah terus memberi arah serta semangat kepadanya.

Belasa bahkan puluhan kali bocah berusia lima tahun itu menciptakan sebuah gumpalan chakra di telapak tangannya, dan belasan kali pula gumpalan chakra tersebut meledak dan menghilang.

"Ayolah, Riuuka. Kau harus memfokuskan titik chakranya di tengah-tengah telapak tanganmu dan memadatkannya secara perlahan-lahan!" Naruto tak lagi mampu menahan senyumnya disaat ia lagi dan lagi menerangkan pada anaknya bagaimana menciptakan jutsu 'Rasengan', sebuah jutsu warisan ayahnya dulu yang tak lagi dapat digunakan olehnya akibat chakra elemennya telah tertukar.

Berbekal gulungan jutsu sang kakek dan arahan dari ayahnya, Riuuka dengan semangatnya terus mencoba membuat sebuah rasengan di telapak tangan kanannya walau terus meledak dan sedikit melukai tangannya.

"Susah, Tou-san." rengek Riuuka membalas perkataan ayahnya yang tadi. Mendengar rengekan Riuuka lagi-lagi Naruto tak dapat menahan agar tidak tersenyum, mungkin inilah kebahagiaan seorang ayah saat mengajarkan anaknya, batin Naruto.

"Baiklah, satu kali lagi tapi kamu harus benar-benar berkonsentrasi. Setelahnya kita pulang! Kaa-sanmu mungkin sudah menunggu kita di rumah." balas Naruto.

Dan dengan penuh tekad Riuuka kembali mengalirkan chakranya ke telapak tangan kanannya dan terciptalah sebuah bola chakra yang perputarannya masih terlihat kacau, Riuuka terus mempertahankan pengalirnya chakranya dan mulai memadatkan rasengan yang dibuatnya tersebut. Namun...

Bumm

Sekali lagi, rasengan tersebut meledak membuat Riuuka terjatuh kebelakang. "arkk... It-ittai." Riuuka terduduk dengan tangan kiri yang mengelus pantatnya. Melihat Riuuka yang tengah mengeluh sakit membuat Naruto tanpa sadar terkikik geli, ia jadi teringat dirinya sendiri saat baru pertama kali berlatih dengan gurunya 'sang Sennin legendaris' Jiraiya.

"Sudahlah, kita lanjutkan besok malam! Sekarang kita harus pulang dan istirahat, ayo berdiri!" ucap Naruto sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Riuuka berdiri yang dengan helaan nafas Riuuka menerima uluran tangan Naruto dan menepuk-nepuk celana bagian belakangnya guna membersihkan debu yang menempel.

"Ayo!" balas Riuuka dan mulai berjalan dengan tetap menggandeng tangan ayahnya meninggalkan tempat latihan yang sengaja dibuat oleh Naruto. Ya, aktifitas malam hari mereka yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali mereka bertiga, Naruto, Riuuka, dan Ino.

W

w

w

#Beberapa minggu kemudian#

Pagi yang cerah menyambut semua pasang mata yang terbangun oleh terpaan sinar sang raja. Semua penduduk di desa Konoha mulai bangun satu persatu hingga seuruhnya terbangun tepat saat matahari sudah akan meninggi.

Sebagian penduduk tampak berjalan di jalanan desa, sama seperti yang dilakukan pasangan suami istri itu. Suami istri yang dikenal penduduk sebagai keluarga Senju terakhir. Merekalah Naruto dan Ino, mereka tampak berjalan menuju kantor Hokage.

Sejujurnya, Naruto sendiri agak malas harus bangun pagi-pagi. Ya, karena aktivitasnya semalam bersama sang istri yang membuatnya senang sekaligus lelah. Siapa sangka bahwa permintaan istrinya seminggu yang lalu adalah... Ya, kau tahulah.

Dan disinilah ia berada, berdiri di depan gerbang kantor Hokage bersama sang istri yang berdiri tepat disampingnya.

"Ohayou, Senju-sama, Senju-hime." sapa dua orang penjaga yang berpangkat Chuunin.

"Ohayou." jawab Ino sementara Naruto hanya bergumam. Setelah mengisi daftar pengunjung yang diajukan oleh salah satu penjaga tersebut Naruto dan istrinya segera masuk kedalam gedung.

*Ruang Hokage*

Sementara di ruang Hokage yang menjadi tempat tujuan kedua suami istri Senju tadi telah berdiri tiga orang dihadapan seorang lelaki yang menjadi pemimpin desa, sedangkan di sofa tamu tampak sang mantan Hokage tengah duduk dengan tenang.

"Dimana orang yang kau sebut dari klan Senju itu, Minato?" tanya satu-satunya wanita di ruangan tersebut yang nampak kesal akibat menunggu.

"Tenanglah, Tsunade-hime. Mungkin sebentar lagi mereka datang." jawab pria pirang yang tadi dipanggil 'Minato', dan entah sebuah kebetulan atau keajaiban. Karena setelah itu pintu ruangan diketuk.

"Masuk!"

Pintu terbuka begitu Minato memberi perintah, di depan pintu berdiri tiga orang salah satu dari mereka adalah pria bersurai pirang yang identik dengan sang Yondaime.

"Hokage-sama, Senju Naruto dan Senju Ino telah datang." ucap sang sekretaris yang berdiri paling depan.

"Baiklah, kau boleh kembali." sekretaris tadi sedikit membungkuk sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan tersebut. Semua yang berada di ruangan tersebut nampak bingung menatap kedua pasangan yang masih mematung di depan pintu yang telah tertutup kembali, beberapa saat kemudian semua tersadar begitu melihat Tsunade mendekat kepada Naruto dan mencondongkan badannya menatap Naruto yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Apa kau benar-benar seorang Senju?" tanyanya membuat Naruto dan Ino sedikit menegang, dengan cepat otak Naruto segera bekerja mencari jawaban yang tepat. Hingga beberapa detik setelahnya ia mendapat sebuah alasan yang dirasanya cukup ampuh.

"Tsunade, apakah kamu tidak percaya dengan cerita Minato dan Hiruzen-Sensei. Dia itu memiliki kekkai genkai yang dimiliki oleh Shodaime Hokage yang bahkan tidak dimiliki oleh Senju yang lain." jawab rekan Tsunade yang bernama Jiraiya.

"aku hanya ingin memastikan saja, Jiraiya." balas Tsunade tanpa mengalihkan tatapannya dari Naruto yang kini telah menundukkan kepalanya. Baru saja Jiraiya ingin membalas tapi diurungkan ketika Naruto membuka suara.

"Aku tidak tahu." sontak semua mata tertuju ke arah Naruto, bahkan Ino yang telah mengenal lama suaminya tidak mengerti dengan jalan pikiran Naruto saat ini.

"Apa maksudmu?" tanya Jiraiya, mantan rekan setim Tsunade yang memiliki rambut putih panjang dan berantakan. Semuanya terdiam sebentar menunggu, sampai suara Naruto kembali terdengar.

"Aku tidak tahu, Kaa-sanku seorang Uzumaki dan ia tak pernah memberitahukan kepadaku tentang siapa Tou-sanku. Sejak kecil aku terus mencari tentang siapa Tou-sanku, tapi hal itu tak pernah berhasil. Hingga aku bisa mengeluarkan elemen mokuton untuk pertama kali, sejak saat itu aku mulai berpikir mungkin aku seorang Senju. Karena menurut buku sejarah didesaku yang memiliki kemampuan yang sama denganku hanyalah Shodaime Hokage, Hashirama Senju." Naruto berhenti berkata untuk mengambil oksigen disaat ia merasa sesak pada paru-parunya, sedangkan yang lain masih serius memandang pria itu dan dengan setia mendengar ceritanya.

"Keesokkan harinya aku memberanikan diri untuk bertanya pada Kaa-san, tapi ia tidak menjawab. Hingga pada saat ajalnya datang barulah ia bercerita tentang semuanya. Tentang..." kembali ucapan Naruto terputus, namun bukan karena Naruto melainkan karena Tsunade yang tiba-tiba memeluk dirinya sembari terisak lemah.

"Cu-cukup... Cukup... Hiks... Aku... Tidak ingin mendengarnya lagi... Hiks... Aku sudah percaya padamu... Hiks..." ucap Tsunade sambil tetap memeluk Naruto dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki tersebut. Semuanya tampak sedih kecuali dua orang, Ino dan Orochimaru, rekan setim Tsunade selain Jiraiya. Kalau Ino tidak sedih karena terheran-heran dan sedikit terkagum-kagum dengan sendiwara yang dilakukan oleh suaminya itu, sementara Orochimaru juga heran, tapi bukan heran karena kagum melainkan heran karena ia tidak mengetahui tentang masalah ini. Apa yang telah ia lewatkan, pikir Orochimaru kepada dirinya sendiri.

#Beberapa menit kemudian#

Masih diruangan yang sama, terlihat enam orang yang masih setia berada disana. Namun, saat ini suasana yang memenuhi ruangan tampak berbeda dari yang tadi. Kalau tadi suasananya masih tenang cenderung menegangkan, tapi sekarang berubah menjadi suram.

Tsunade yang tangisannya belum mereda dan sekarang tengah ditenangkan oleh Senseinya, Hiruzen Sarutobi. Dan yang lainnya masih diam dengan pemikiran masing-masing.

Suasana hening yang dari tadi mendera tak dapat dirubah, tidak ada yang sanggup meredakan kesunyian yang melanda mereka setelah mendengar kelanjutan kisah Naruto yang tentu saja ia karang sedemikian rupa, termasuk pertemuan dengan sang istri tercinta dan anaknya, Riuuka Senju.

W

w

w

Sepulangnya dari kantor Hokage, Naruto dan istrinya Ino nampak sedang berjalan-jalan sembari menautkan jari jemari mereka masing-masing. Tentu saja hal tersebut menjadi tontonan warga desa begitu melihat pahlawan mereka tengah berjalan dengan istrinya dalam suasana yang romantis.

"Ne, Naruto. Bolehkah aku bertanya?" ujar Ino memulai permbicaraan mereka. Naruto mengangguk menjawab permintaan istrinya.

"Dari mana kau mendapat cerita tentang sepupu Tsunade Baa-san yang menghilang?"

"Oh, itu. Aku mendapatkannya dari ingatan bhunsinku yang sebelum dilantik menjadi Senju Baa-chan pernah bercerita tentang sepupunya yang menghilang karena ibunya dulu diusir oleh tetua klan Senju karena wanita itu tak jelas asal usulnya. Dan entah kebetulan atau apa usia sepupu Baa-chan itu sama denganku sekarang." jawab Naruto enteng. Berbeda dengan Ino yang saat ini memasang wajah tak percaya dan kemudian berteriak keras.

"APAA..."

W

W

W

TBC

Mungkin cukup untuk chap ini, di chap selanjutnya akan menampilkan Riuuka yang telah menjadi seorang Genin. Bagaimanakah kisahnya dan siapakah rekan serta Jounin pembimbing Riuuka? Makanya tunggu aja kelanjutannya, update biasa hari jum'at atau kalo lagi kebelet waktu malamnya, malam jum'at.

Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya saya minta maaf.

Wassalam...

Note: mohon maaf kepada author Kamikaze999 atas ketidak nyamanan anda karena menunggu kelanjutan fic ini. Saya akan mengusahakan untuk tidak melakukannya lagi, sekali lagi mohon maaf.