Naruto Masashi Kishimoto

summary: Petualangan terbaru Naruto beserta keluarganya di dimensi shinobi yang sama tapi berbeda di saat bersamaan. Summary baru,, gak tahu bagus atau jeleknya.

Warning: ahh,, gak perlu dikasih tahu udah pada ngertikan!?...

A/N: Ucapan terima kasih kepada kk* yang sudah dengan suka rela menuntun saya. Buat kk Rizky dan kk rifqi nih, makasih ya sebenarnya ada alasan Naruto saya buat gak bisa pake rasengan, alasan itu adalah jutsu-jutsu yang ia kuasai telah berganti dengan jutsu-jutsu mokuton, semuanya tanpa terkecuali. Dan jika Naruto ingin ia harus kembali berlatih, tapi saya memutuskan untuk menuntun Naruto agar melatih Riuuka aja, dan Naruto gak akan lagi pake rasengan untuk menghormati pertukaran. Kalau salah maafkan saya, maklum otak saya hanya memikirkan hal itu sebagai alasan...

Dan khusus untuk fic selingan,, haha,,, makasih atas penilaian anda sekalian, berkat penilaian anda saya mendapat beberapa poin yang akan saya kembangkan dan tingkatkan di fic selanjutnya... Untuk kk yang pake quest di fic selingan,, heh,, saya kemarin sengaja mengalah kk,, itu sih 10% kekuatan saya,, kalau saya mau Naruto udah saya kasih mampus diawal,, hahahaha...

W

W

W

Dua tahun telah berlalu, kini Riuuka telah resmi menjadi Genin Konoha diusianya yang masuk 7 tahun. Awalnya ia hanya membutuhkan satu tahun di akademi, tapi karena kedua temannya yang menolak menjadi genin tahun lalu. Maka terjadilah, ia juga ikut-ikutan.

Selama dua tahun itu dimanfaat untuk melatih tubuh dan menyempurnakan jutsu hirashin warisan kakeknya. Berkat gulunggan-gulungan yang mereka bawa dari dunia mereka dan juga arahan dari ayahnya membuat Riuuka mampu menyempurnakan fuin hiraishin, ia kemudian menanamkannya disebelah mata kanannya. Hingga ia mampu menggunakan hiraishin selama tempat yang menjadi target perpindahannya masih berada dalam jarak pandangannya. Namun, semua jutsu pasti memiliki kelemahan, bukan begitu ? Ya, hal itu juga berpengaruh pada teknik hiraishin miliknya. Dan kelemahan itu adalah ia tidak bisa memindahkan sesuatu atau sebuah serangan ke tempat jauh, dengan kata lain tekniknya ini hanya mampu berpindah dengan melalui media penglihatan selebihnya tidak akan bisa.

Ia juga menguasai beberapa fuin yang terdapat di dalam gulungan kakeknya, tapi semua itu hanya diketahui oleh keluarganya saja. Tak ada orang luar yang mengetahui tentang kemampuannya, termasuk kedua sahabatnya, Itachi dan Shisui.

Tahun ini, mereka bertiga lulus dari akademi dan menjadi satu tim Genin. Dan saat ini mereka tengah menunggu Jounin pembimbing mereka di atap akademi.

Riuuka saat ini menggunakan kaos putih bergaris hijau seperti zebra, celana abu-abu pendek selutut dan sandal ninja berwarna merah. Sedangkan Itachi sedang memakai pakaian serba hitam mulai dari kaos hitam polos berlambang kipas Uchiha dipunggungnya sampai celana pendek selutut dan sepatu ninja yang berwarna sama. Sementara Shisui lebih menyukai kaos hitam sama seperti Itachi berlambang Uchiha dipunggungnya, tapi ia menggunakan celana panjang berwarna abu-abu. Tak ketinggalan sebuah pelindung kepala berlambang Konoha yang terikat di dahi mereka masing-masing, yang menandakan bahwa mereka merupakan shinobi baru desa Konohagakure.

Sudah satu jam mereka menunggu hingga membuat mereka bertiga nampak bosan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka, ketiganya memilih mencari kegiatan lain.

Misalnya Shisui yang berbaring menatap langit cerah sambil bergumam tak jelas, Itachi yang lebih memilih diam sambil melihat pemandangan desa, dan Riuuka yang sedang membaca buku tentang perjuangan shinobi tapi tak mengurangi kewaspadaannya.

Hingga sebuah chakra asing yang mendekat, dan benar saja beberapa detik berikutnya muncul sebuah kepulan asap didepan mereka.

"Apakah kalian tim Genin yang baru?" tanya sosok itu yang baru muncul dari balik kepulan asap tersebut, dan ketika asap putih tersebut menghilang nampaklah seorang pria berambut emo panjang sampai punggungnya. Ia mengenakan pakaian jaring-jaring berwarna hitam yang dibalut rompi khas Jounin Kohoha, sebuah celana hitam panjang dan sepasang sepatu hitam yang membalut kedua kakinya, tak lupa juga pelindung kepala berlambang daun.

Riuuka dan kedua rekannya segera berkumpul dan dengan kompaknya mereka bertiga mengangguk. Sang Jounin kemudian menyuruh mereka untuk duduk dan dirinya juga duduk di pembatas atap.

"Baik, untuk pertemuan pertama kita. Bagaimana kalau dimulai dari perkenalan dulu!?" ucap jounin itu yang hanya dibalas dengan anggukan ketiga genin tersebut. "Baiklah, akan ku mulai dari diriku sendiri. Namaku Uchiha..." ketiga genin tersebut membulatkan mata mereka, apakah mereka salah dengar jounin mereka seorang Uchiha, batin mereka.

"... Hore." sambung sosok tersebut yang ternyata Hore Uchiha, sontak ketiga atau lebih tepatnya dua diantara ketiganya Genin kembali bertambah syok.

"EEHHH... Bu-bukankah Sen-sei...?" belum sempat Shisui menyelesaikan pertanyaannya sosok Hore tadi segera memotongnya.

"Kalian mengira aku sudah mati?" kedua Uchiha muda sontak mengangguk mengiyakan pertanyaan pria yang ternyata merupakan salah satu sosok pahlawan perang dunia yang sekaligus mantan rekan setim dari Yondaime Hokage, sang legenda yang sama seperti Uchiha Madara, yaitu Uchiha Hore. Sementara Riuuka yang memang tak tahu apa-apa hanya diam menyimak perbincangan ketiga orang di depannya.

"Hahaha... Kalian tahu apa yang dimiliki seorang Uchiha?" ketiganya mengangguk dan menjawab secara serentak.

"Sharingan."

Hore mengangguk, "Ya, seorang Uchiha memang mempunyai sepasang Sharingan, tapi hanya segelintir Uchiha yang memiliki..." Hore dengan sengaja menghentikan ucapannya dan secara tidak langsung ia melanjutkan ucapannya dengan mengubah kedua iris hitamnya menjadi merah dengan corak shuriken yang membentuk huruf 'X' dengan sebuah lubang kecil ditengahnya yang memang mirip seperti shuriken.

Itachi, maupun Shihui hanya bisa memasang wajah penuh tanya. Tapi tidak dengan Riuuka yang memang telah mengetahui tentang bentuk selanjutnya dari Sharingan.

"Mangekyou?" gumam Riuuka tanpa sadar, tapi masih bisa didengar oleh ketiga orang yang berada didekatnya dan membuat si jounin menjadi sedikit curiga.

"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Hore penuh kecurigaan, dan seakan kembali kedunia nyata Riuuka segera memikirkan alasannya.

"Ehh... A-aku... Aku diberitahu oleh ayahku, Senju Naruto." jawab Riuuka sambil menjaga agar suaranya terdengar biasa, dan berhasil. Wajah Senseinya kembali berubah biasa.

"Ohh, kau Riuuka Senju, bukan?" tanya Hore kembali dan dijawab anggukan oleh Riuuka. "Hm... Pantas saja kau begitu mirip dengannya." lanjut Hore membuat Riuuka kembali terkejut.

"Jangan memasang wajah seperti itu, aku sudah bertemu dengan ayahmu dan sekarang kami bisa dibilang telah berteman cukup baik." ucap Hore yang seakan mengerti arti dari keterkejutan Riuuka.

"Oke, kurasa itu saja yang harus kalian ketahui dari Jounin kalian ini. Selanjutnya adalah giliran kalian, sebutkan nama kegemaran dan cita-cita kalian! Dimulai dari Senju!" merasa dipanggil Riuuka segera bersiap, menarik nafas sesaat sebelum akhirnya memulai acara perkenalannya.

"Ha'i, Sensei. Nama saya Senju Riuuka, kegemaran saya adalah berkumpul bersama keluarga saya dan cita-cita saya yaitu membahagiakan keluarga dan membuat mereka bangga dengan saya." ujar Riuuka dengan semangat namun masih tetap tenang, sedangkan Jounin Hore hanya mengangguk sebagai respon dan langsung mengalihkan perhatiannya kepada Shisui.

"Nama saya Uchiha Shisui, kegemaran yaitu berlatih dan cita-cita saya adalah menjaga kedamaian desa Konoha."

"Ohh... Cukup mengesankan bagi seorang Uchiha. Baiklah yang terakhir!" balas Hore sambil memandang Itachi.

"Hn, nama saya Uchiha Itachi. Kegemaran berlatih dan bertambah kuat, cita-cita sama seperti Shisui yaitu menjaga desa dari serangan luar maupun dalam."

"Baiklah, aku rasa pertemuan pertama kita cukup sampai disini. Besok kalian harus datang ke training ground sebelah selatan desa, aku akan menguji kemampuan kalian disana. Ada pertanyaan?" Shisui mengangkat tangannya tanda ingin bertanya dan dipersilahkan oleh sang guru.

"Bukankah kami sudah mendapat ujian di akademi, Sensei?"

"Hal itu tidak menjamin kalian sudah pantas menjadi seorang shinobi, oleh karena itu setiap Jounin pembimbing harus menguji setiap anak didiknya yang baru lulus dari akademi." ketiga Genin baru tersebut hanya manggut-manggut mendengar penjelasan sang guru tanda bahwa mereka sudah mengerti.

"Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan lagi kalian boleh pulang!" setelah mengatakan hal itu sang Jounin langsung menghilang menggunakan kepulan asap, dan tak lama setelahnya tiga sekawan itu juga pergi dari atap akademi dan pulang ke rumah masing-masing.

W

w

w

*Kediaman Senju*

Dua tahun sudah Naruto beserta keluarganya tinggal bersama salah satu legenda Sennin Konoha, Tsunade Senju. Karena dianggap keluarga oleh Tsunade, ia lebih memilih tinggal di Konoha bersama Naruto dan Ino. Oleh sebab itu Naruto membuat sebuah rumah yang lumayan besar dari teknik mokutonnya dengan sebuah gerbang berlambang Senju sebagai gerbang masuknya.

Rumah berukuran cukup besar itu sekarang dijaga oleh dua orang shinobi berpangkat Chuunin, atas rekomendasi dari Hokage yang memerintahkan agar rumah tersebut dijaga supaya tidak ada penyusup yang masuk dan mencelakai anggota terakhir klan Senju.

Dan saat ini, Naruto sang kepala keluarga tengah berbincang dengan kedua Chuunin yang menjaga gerbang rumahnya. Ya, supaya lebih akrab dengan keduanya yang diketahui bernama Rikimaru dan Tasume.

"Ne, Rikimaru, Tasume. Bagaimana kalau kalian ambil cuti saja? Lumayan untuk mengurangi rasa bosan kalian yang tiap hari menjaga gerbang." ucap Naruto kepada dua Chuunin tersebut.

"Tapi, Naruto-sama. Bagaimana dengan Hokage-sama, bila beliau mengetahuinya kami pasti dihukum!?" jawab pemuda berambut coklat dengan sebuah luka miring di pipi kanannya yang menggunaka rompi Chuunin standar dan celana hitam panjang bernama Tasume.

"Kalian tenang saja, aku akan membuat mokubunshin dan henge agar kalian tidak mendapat hukuman. Bagaimana?" tanya Naruto lagi yang kali ini dijawab oleh Rikimaru.

"Tapi, Senju-sama. Tetap saja wajah kami diketahui oleh beberapa shinobi Konoha, kalau mereka mengenal kami dan melaporkan kami bagaimana?" tanya balik Rikimaru, pemuda berambut abu-abu gelap dengan wajah yang lumayan tampan dan mengenakan seragam sama seperti rekannya itu.

"Hal itu cukup mudah, kalian tinggal menggunakan henge saat keluar rumah dan kembali ke wujud semula saat berada didalam rumah." jawab Naruto dengan tangan kiri memegang pinggul.

"Baiklah, jika itu keputusan anda. Arigatou, telah mengijinkan kami beristirahat." ucap Rikimaru yang kemudian membungkuk dan diikuti oleh rekannya, Tasume.

Keduanya kemudian menghilang dengan shunshin meninggalkan Naruto yang sedang membuat segel tangan, dan tak lama setelahnya keluar dua buah patung kayu dipunggung Naruto yang langsung melesat dan mendarat didepan si pemanggil.

Mengerti akan alasan mereka dipanggil kedua mokubunshin tersebut merapal segel tangan dan langsung berubah menggunakan henge menjadi dua Chuunin yang tadi disuruh pulang oleh Naruto.

'Kasihan juga bila mereka terus menjaga gerbang.' ucap Naruto dalam hati yang kemudian berjalan masuk kedalam rumahnya.

Berselang beberapa menit Riuuka pulang dan ia merasa sedikit heran melihat dua Chuunin yang menjaga gerbang rumahnya. Tapi ia langsung masuk tak menghiraukan kedua Chuunin tersebut.

"Tadaima." ucap Riuuka begitu masuk kedalam rumah, beberapa saat kemudian terdengar jawaban di dapur dan ruang tengah.

"Okaeri."

"Riuuka, sebaiknya kamu mandi dulu!" ujar seseorang yang baru keluar dari dapur, lengkap dengan apron dan sendok sayur digenggamannya.

"Ha'i, Kaa-san." tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya Riuuka langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada.

Sementara sang nyonya Senju kembali ke dapur dan melanjutkan kegiatan masak memasaknya dengan kakak sepupu atau begitulah pendapat orang lain. Berbeda dengan kedua nyonya Senju, Ino dan Tsunade, berbeda pula dengan Naruto. Sang kepala keluarga itu tampak serius membaca sebuah laporan yang berada ditangan kanannya.

Laporan itu didapatnya dari seorang ANBU yang memang ditugaskan untuk memberikan sebuah informasi kepada semua ketua klan di Konoha. Laporan tersebut adalah berita tentang permintaan dari desa tetangga yang tengah berada dalam situasi perang, lebih tepatnya permintaan dari pasukan rebellion yang menentang perintah Mizukage mereka dan membuat perang saudara terjadi.

Hal itulah yang membuat laporan tersebut kini dipegang olehnya dan semua ketua klan lainnya, masalah untuk menentukan apakah mereka akan menerima permintaan tersebut atau justru menolaknya karena keadaan Konoha yang masih dalam tahap pemulihan.

Saking seriusnya berpikir hingga ia tidak menyadari bahwa putranya telah duduk di depannya dengan pakaian yang telah terganti yaitu sebuah baju santai dengan celana pendek berwarna coklat. Naruto yang masih melamun akhirnya tersadar begitu mendengar suara Tsunade yang memberitahukan bahwa makanan untuk makan malam sebentar lagi akan siap, dan begitu ia melihat putranya itu membuat sebuah ide muncul di otak jeniusnya.

"Riuuka, bagaimana dengan tim Geninmu?" tanya Naruto untuk sekedar basa-basi. Riuuka yang mendengar pertanyaan ayahnya segera menoleh dan menjawab.

"Rekan setimku cukup menarik, Itachi dan Shisui sudah bisa diajak kerja sama..." Naruto tersenyum mendengar penuturan anaknya itu, setidaknya Riuuka telah mendapatkan dua orang yang bisa dibilang sahabat. "Tapi, yang membuatku bingung adalah Sensei pembimbingku. Apakah Tou-san mengenal Jounin bernama Uchiha Hore?" sambung Riuuka.

"Hm... Memang ayah mengenalnya, walau belum lama. Memangnya ada apa dengan Senseimu?" tanya balik Naruto.

"Aku hanya heran saja, siapa dia sebenarnya? Maksudku dia tidak ada di dalam buku sejarah Konoha, kedua temanku mengatakan bahwa dia merupakan salah satu pahlawan dan bahkan ia juga mantan rekan setim ojii-san. Tapi, kenapa ia tidak masuk ke dalam buku sejarah? Apakah buku sejarah di dimensi kita itu salah?" mendapat pertanyaan yang memang benar adanya itu membuat Naruto kembali berpikir. Di Konoha atau di dimensinya sejarah tentang Uchiha Hore itu tidak ada, tapi kenapa disini ada?.

"Hm... Hanya ada dua kemungkinan. Pertama dia memang berasal dari di dimensi ini saja, dan yang kedua semua informasi tentang dirinya hilang hingga tidak ada dalam sejarah. Bukankah informasi tentangnya tak ditemukan setelah dicari? Bahkan sejarah keluarga Uchiha." Riuuka mengangguk membenarkan jawaban ayahnya.

"Ya, itu memang mungkin terjadi." jawab Riuuka membuat keduanya kembali terdiam, "Tapi, Tou-san. Ada juga yang membuatku heran padanya?" lanjut Riuuka.

"Hm?"

"Aku tidak bisa membaca pikirannya seperti orang lain, aku tidak tahu apa yang dilakukan olehnya supaya aku tidak dapat membaca pikirannya. Apa Tou-san memberitahukan tentang kemampanku padanya?" tanya Riuuka sambil mencondongkan tubuh bagian atasnya mendekat ke Naruto.

"Hm, tidak. Mana mungkin Tou-san akan memberitahukannya." Jawab Naruto yang kemudian mengambil posisi berpikir, begitu pula dengan Riuuka.

"Apa yang kalian bicarakan, makan malam sudah siap. Ayo makan!" sebuah suara memecah pikiran ayah dan anak itu, membuat keduanya menoleh guna melihat siapa yang telah mengintrupsi mereka.

"Ahh, Ino. Baiklah, ayo kita makan!" balas Naruto yang kemudian bangkit dan berjalan kearah wanita yang telah mengintrupsinya tadi, diikuti oleh Riuuka yang berjalan di belakangnya.

W

w

w

Keesokan harinya sesuai dengan perjanjian kemarin Riuuka, Itachi, dan Shisui telah berada di training ground yang akan menjadi tempat tes mereka diselenggarakan. Matahari telah agak meninggi membuat tiga sekawan yang tengah duduk di bawah sebuah pohon sedikit kepanasan.

Tak lama kemudian muncullah Sensei mereka yang diiringi kepulan asap putih dan beberapa daun yang terbang. Jounin berambut emo panjang itu terlihat tersenyum walau begitu tipis, ia menatap ketiga Genin baru tersebut satu persatu sebelum akhirnya membuka suaranya.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya sang Jounin yang diketahui bernama Uchiha Hore dan dibalas anggukan dari ketiga calon muridnya.

"Baiklah, ujian kalian sangat mudah. Kalian cukup mengalahkanku atau setidaknya membuatku terpojok. Apabila kalian berhasil maka kalian akan lulus tes, tapi apabila kalian gagal..." dengan sengaja Hore menghentikan ucapannya untuk membuat efek menyeramkan di wajah ketiga muridnya. Namun, hal tersebut tak berhasil dikarenakan ketiganya telah dilatih untuk mengontrol emosi. Maklum saja, dua bocah Uchiha yang pasti memiliki tampang datar dan seorang bocah Senju yang dididik secara langsung oleh ayahnya, Naruto Senju Uzumaki.

Melihat ekspresi ketiga Genin tersebut sedikit membuat sang Jounin kesal, dan dengan malasnya ia menyambung kembali perkataannya yang tadi ia hentikan. "Hahh... Kalau kalian gagal dalam tes ini, kalian akan kembali ke akademi." ucapnya malas.

"Hn." jawab ketiganya serempak.

"Baiklah, tes kelayakan Genin Konoha... DIMULAI!" sesaat setelah perkataan tersebut ketiga Genin itu langsung menghilang menggunakan shunshin bermaksud menyembunyikan diri, tapi walaupun bersembunyi sang Jounin Hore masih dapat merasakan tekanan chakra mereka walau samar.

'Hm... Menarik, mereka dapat menekan chakra mereka sampai level terendah. Tapi... Senju Riuuka?' batin Hore tersenyum tapi senyuman tersebut segera luntur tak kala mengingat salah satu murid Geninnya.

Setelah berpikir sejenak ia kemudian dengan santainya berjalan guna mencari keberadaan murid-muridnya, menengok ke kanan dan ke kiri sambil menggenggam sebuah kunai tajam di tangan kanannya.

Suyt

Suyt

Dua buah kunai melesat entah dari mana, namun berkat pengalamannya sang Jounin spesial itu mampu menahan bahkan mampu menghentikan laju kedua kunai tersebut dengan sangat mudah. Tak berhenti sampai disana, Hore yang telah mengetahui asal kunai tersebut kemudian ia melemparkan kunai yang berada di genggamannya sebagai serangan balasan.

Tap

Keluarlah sosok kecil Itachi yang juga menggenggam sebuah kunai di tangannya. Itachi pun berlari menuju sang Sensei bermaksud menyerang menggunakan taijutsu. Namun lagi-lagi dapat ditahan dengan gerakan-gerakan kecil, hal itu membuat Itachi mendecih tak suka kemudian melemparkan kunainya ke arah Hore.

Trank

"Hm... Cara pengalih perhatian yang bagus, Itachi." ucap Hore yang entah pada siapa karena sosok Itachi yang tadi dilawannya telah menghilang, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda.

W

w

w

Sementara Itachi yang baru saja menghadapi Jounin spesial itu kembali berkumpul bersama kedua rekan yang sekaligus sahabatnya. Mereka berkumpul di sebuah pohon yang mereka rasa aman untuk membuat strategi.

"Bagaimana, Itachi?" tanya Riuuka sesaat setela Itachi mendarat di depannya.

"Sesuai rumor, dia memang sangat kuat. Aku bahkan tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun." jawab Itachi sembari menatap kedua temannya secara bergantian.

"Tidak Ada cara lain, kita harus menyerangnya dengan bekerja sama!" kini giliran Shisui yang mengeluarkan pendapatnya yang kemudian ditanggapi dengan anggukan kedua rekannya yang lain.

"Bagaimana kalau begini..." ujar Riuuka yang kemudian memberitahukan kepada kedua rekannya tentang buah pikirnya.

"Bagaimana?" tanya Riuuka kembali setelah memberitahukan idenya kepada Itachi dan Shisui.

"Patut dicoba!" jawab Sishui.

"Hn."

Ketiganya pun menghilang dengan shunshin dan bersembunyi guna mengamati Sensei mereka yang ternyata tengah berdiri santai. Tak ada gerakan yang berarti dari Hore hingga beberapa menit kemudian membuat ketiga Genin baru itu tampak bosan.

'Mungkin sekaranglah saatnya' batin Riuuka yang kemudian keluar dari tempatnya bersembunyi.

Suyt

Sebuah kunai melayang kearah Hore yang hanya dihindari dengan menggerakkan kepalanya sedikit kebelakang membuat kunai tadi lewat begitu saja dihadapan kedua irisnya. Tak berhenti sampai disitu, dua kunai lain kembali melesat ke arah Hore membuatnya mengeluarkan sebuah kunai untuk menahan serangan tersebut.

Trankk

Trankk

Bunyi kedua kunai yang ditahan oleh Hore dan berakhir menancap di tanah. Hore kemudian melompat mundur dan segera memasang kuda-kuda khas bertarung. Tak lama setelahnya Itachi dan Shisui keluar dari persembunyian dan berdiri disamping Riuuka.

"Bagaimana, Sensei?" tanya Riuuka mengawali pembicaraan.

"Tidak buruk. Kalian bertiga sepertinya sudah saling mengenal, ya?" ucap Hore sekaligus bertanya, 'Mereka bertiga tak pantas menjadi Genin.' Lanjut Hore dalam hati tanpa menyadari bahwa Riuuka mendengar perkataan tersebut, sama seperti sebelumnya.

"Ya, begitulah." Jawab Shisui singkat.

"Sebaiknya kita segera melanjutkan pertarungan ini, waktu kita tidak banyak!" kini giliran Itachi yang mengeluarkan suaranya dan dijawab anggukan oleh kedua rekannya.

Ketiga Genin tersebut kemudian melesat ketiga arah berbeda. Itachi ke arah kiri, Riuuka depan, dan Shisui kanan. Dengan cepat mereka membentuk segel tangan secara bersamaan dan mengucapkan nama jutsunya juga secara bersamaan.

"Katon: Goukakyou no jutsu." Ucap Itachi.

"Katon: Hosenka no jutsu." Ucap Shisui.

"Futon: Daitoppa." ucap Riuuka.

Ketiga jutsu itu melesat ke arah Hore yang tak bisa menghindar dan akhirnya menghilang ditelan oleh ketiga jutsu yang kemudian bersatu membentuk ledakan yang cukup besar.

Duarr

Asap mengepul tinggi, semua yang berada dalam jangkauan jutsu tersebut habis terbakar. Akibat kedua jutsu elemen api yang kemudian bersatu dengan jutsu elemen anging membuat jutsu kolaborasi tersebut membesar. Ketiga Genin yang menjadi pelaku utama tampak bersiaga menunggu serangan mereka mereda, dan ketika asap hitam hasil ledakan menghilang yang mereka lihat bukanlah yang mereka harapkan. Disana yang seharusnya berada adalah Sensei mereka ternyata hanya sebongkah kayu yang telah hancur akibat ledakan.

'Kawarimi, sejak kapan?' batin Itachi dan Shisui yang terkejut dengan tindakan cepat dari Sensei mereka, tapi berbeda dengan Riuuka yang memang telah menyadarinya dari awal.

Riuuka pun memutuskan untuk menghilang menggunakan shunshin dan muncul dibalik sebuah pohon tepat berada dihadapan seorang lelaki berpangkat Jounin. Sedangkan Jounin tersebut tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Riuuka yang diikuti dengan Itachi dan Shisui beberapa saat setelah Riuuka.

'Apa, bagaimana?' pikir Hore yang kemudian berakhir dengan senyum bangga setelah ia melihat ke arah asal ledakan yang ternyata disana terdapat Itachi dan Shisui yang berubah menjadi Riuuka dan kemudian menghilang menjadi kepulan asap putih.

"Baiklah, karena kalian telah berhasil memojokkanku… kalian bertiga LULUS." Ucapan Hore hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan penuh rasa bangga dari ketiga anak didiknya. "Baik, karena tesnya telah selasai kalian boleh pulang! Sementara aku akan melaporkan hasil tes kepada Hokage." Lanjut Hore yang setelahnya menghilang menggunakan shunshin.

"Yosh. Akhirnya, kita telah resmi menjadi Genin. Hahaha… selangkah lebih maju untuk menjadi ANBU." Teriak Shisui yang penuh dengan semangat, dan tak lama setelah itu disambut dengan tawa dari kedua sahabatnya, Riuuka dan Itachi.

"Kalau begitu, kita harus berlatih lebih giat lagi untuk meraih cita-cita kita yaitu melindungi Konoha!" balas Riuuka.

"Hm." Jawab kedua rekannya yang lain.

Mereka pun segera meninggalkan tempat ujian yang saat ini telah hancur akibat tes yang mereka jalani tadi.

W

w

w

*Kantor Hokage*

Sementara di ruangan Hokage telah berada empat sosok, dua pria dan dua wanita, dan kedua pria tersebut adalah Minato sendiri yang merupakan Hokage dan Naruto yang bersama sang istri, Ino. Dan sosok terakhir adalah Tsunade Senju.

Mereka berempat tampak sedang mengobrol ringan dan sesekali tertawa bersama saat ada hal yang menurut mereka lucu. Tapi, hal tersebut terputus saat sebuah kepulan asap tiba-tiba muncul ditengah ruangan dan dari balik kepulan tersebut muncullah seorang Jounin yang telah mereka kenal.

"Hokage-sama." Sapa sosok Jounin bernama Hore Uchiha.

"ah, Hore. Bagaimana hasil tes yang kau lakukan?" Tanya Minato. Untuk beberapa saat ruangan tersebut berubah menjadi sunyi.

"Sesuai dengan dugaan kita semua, mereka bertiga merupakan prodigy yang menurut saya tak pantas menyandang status Genin, terutama Riuuka Senju." Jawab Hore sambil menatap kepada Naruto, membuat Naruto tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya karena gugup.

"Hahaha… sudahlah, bukankah hal itu bagus. Kita memiliki penerus yang akan menjaga Konoha." Semua menggangguk membenarkan ucapan Naruto, kecuali Hore yang hanya tersenyum sembari tetap memandang Naruto.

"Kau berhutang cerita padaku, NARUTO!" Naruto kembali tertawa mendengar balasan dari Jounin berambut emo itu dan hanya menjawab dengan anggukan saja.

"Baiklah, Hokage-sama. Berhubung saya tidak lagi dibutuhkan, saya mohon diri!" ucap Hore kembali dan setelah melihat Minato mengangguk ia pun menghilang meninggalkan kepulan asap putih.

Setelah kepergian Jounin itu ruangan Hokage pun berubah sunyi, semua tampak diam dan berkutat dengan pikiran masing-masing bahkan Tsunade yang dari tadi ingin sekali bertanya, tapi diurungkannya akibat keraguan yang masih mendominasinya untuk bertanya. Sampai akhirnya keinginan Tsunade untuk bertanya mampu mengalahkan keraguannya.

"Emm… ano… maksud Hore tentang 'cerita' itu apa, Naruto?" semua pasang mata pun beralih menatap Tsunade yang tadi berbicara, dan Naruto pun hanya menghela nafas lelah sembar menjawab.

"Hahh… nanti aku jelaskan di rumah, Nee-san!"

Setelah jawaban tersebut ruangan itu kembali hening, Ino menatap sang suami yang sepertinya Nampak berpikir keras. Seperti bertengkar dengan batinnya sendiri. Sedangkan Minato tentu sedang mengerjakan pekerjaannya yaitu bertarung dengan kertas dengan bersenjatakan sebuah ballpoint.

"ne, Minato-Nii. Sebaiknya aku pulang dulu, tidak enak mengganggu Minato-Nii bekerja." Ucap Naruto memecah keheningan di ruangan tersebut. Dan membuat Minato yang tadinya serius memandang kertas kerjanya berubah memandang pria yang lebih muda darinya itu.

"Ehh, kenapa buru-buru?" Tanya Minato balik dan mendapat jawaban berupa garukan tengkuk dari Naruto.

"Hehe… gimana ya? Soalnya ada yang harus aku kerjakan, ya kan Ino?" jawab Naruto yang kemudian beralih memandang istrinya seolah meminta bantuan dan langsung dimengerti oleh sang istri.

"Ahh, iya. Aku lupa memasak makan siang, Riuuka pasti sudah menunggu dirumah." Ujar Ino yang membuat Minato hanya mampu mengambil nafas lalu mengeluarkannya perlahan.

"Baiklah, kalian boleh pulang!"

Dengan berat hati Minato mengijinkan mereka pulang. Dan disinilah dirinya, sendiri diruangan yang menjadi impian para shinobi muda yang belum pernah merasakan susahnya menjadi seperti dirinya saat ini. Menghela nafas lelah, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Toh gak ada yang bisa dilakukan selain mencoret kertas dan gulungan di depannya itu, pikir Minato berusaha mencari poin positifnya.

W

w

w

*Kediaman Senju*

Seperti biasa, di depan gerbang utama masion Senju telah berjaga dua orang Chuunin. Setelah diberikan waktu istirahat oleh Naruto, walaupun sehari, kedua Chuunin yang bernama Rikimaru dan rekan sekaligus sahabatnya Tasume (untuk definisi tubuh dan penampilan bisa dibaca di atas!) nampak berjaga sekaligus bermain shogi untuk menghilangkan kebosanan.

Tak lama berselang, dari kejauhan tampak tiga orang yang merupakan anggota klan Senju. Ketiga orang tersebut berjalan dengan santainya dan berhenti tepat di depan gerbang guna menyapa kedua Chuunin yang sekarang tengah berdiri dan menunda permainan mereka.

"Kon'nichiwa, Rikimaru-kun, Tasume-kun." sapa Ino yang langsung mendapat delikan tajam dari suaminya dan ia lebih memilih untuk mengabaikannya.

"Kon'nichiwa, Naruto-sama, Ino-Hime, dan Tsunade-Hime." balas kedua Chuunin tersebut bersamaan.

Dan setelah menyapa Naruto dan kedua wanita dibelakangnya segera berjalan memasuki masion, dan lagi-lagi mereka disambut oleh seorang bocah pirang keturunan mereka.

"Tadaima, Riuuka-kun." ucap kedua wanita bersurai pirang pucat tersebut kepada sang bocah.

"Okaeri, Kaa-san, Ba-san." jawab Riuuka sembari tersenyum, namun segera hilang begitu melihat ke arah ayahnya.

"Abaikan dia, Riuuka! Ayo, lebih baik kita masuk!" tanpa menunggu persetujuan wanita muda itu langsung menyeret anaknya masuk kedalam diikuti oleh Tsunade dibelakangnya dan Naruto yang masih muram.

W

w

w

#Beberapa saat setelah makan malam#

Satu keluarga Senju itu kini telah berkumpul di ruang keluarga, Tsunade yang telah diberitahukan tentang 'cerita' yang dimaksud oleh Jounin Hore di kantor Hokage tadi tampak diam. Rasanya ia masih tak mempercayai semua yang Naruto ceritakan kepadanya, tapi tak ada alasan yang membuatnya tak mempercayai hal tersebut.

"Apa Nee-san tidak mempercayainya?" tanya Ino yang duduk disamping Tsunade dan berhadapan dengan suaminya yang duduk di sofa sebrang.

"Tidak, aku percaya. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya." jawab Tsunade sambil memandang Riuuka. "Aku tahu sekarang apa yang membuat kalian berdua pulang malam. Kau melatihnya setiap malam, Naruto?" lanjut Tsunade.

"Iya, itulah mengapa ia bisa menggunakan kage bhunsin dan membuat strategi." Naruto menjawab sembari tertawa kecil, dalam hati ia merasa lega karena tadi sore Riuuka menceritakan tentang tes yang dilakukannya bersama kedua teman Uchihanya itu. Tapi, ia masih berpikir tentang satu hal.

'Kemarin Riuuka mengatakan ia tidak bisa membaca pikiran Hore, sedangkan saat tes ia bisa membaca pikirannya dengan jelas. Apa yang terjadi?' pikiran itulah yang masih mengganggunya hingga sekarang, mungkin ia akan menyelesaikan permasalahan ini nanti.

"Baiklah, Minna. Berhubung sekarang telah larut, sebaiknya kita tidur!" ucap Naruto sembari menatap semua anggota keluarganya secara bergantian dan berhenti saat ia melihat anaknya.

Setelah menjawab, satu persatu mulai meninggalkan ruangan tersebut dan masuk ke kamar masing-masing. Dan tinggallah Riuuka dan Naruto diruangan itu.

"Jadi, apa Tou-san telah mengetahuinya?" Naruto mengangguk sebagai jawaban, tapi yang perkataan Naruto berikutnya berbeda dengan anggukannya tadi.

"Bisa kau ceritakan tentang perkenalanmu kemarin dan tes yang timmu lakukan hari ini, Riuuka!" bukannya menjawab pertanyaan tadi, Naruto malah bertanya balik. Tapi, Riuuka hanya mengangguk patuh tanpa sedikitpun berniat untuk menolak.

Ia mulai menceritakan proses perkenalan tim Geninnya dengan Jounin pembimbing, dan setelahnya ia kembali menceritakan kronologi dari tes yang dilakukannya tadi pagi. Hingga saat cerita selesai Naruto langsung menepuk kedua telapak tangannya sembari berucap.

"Itu dia, kau mungkin tidak bisa membaca pikirannya sebab ia mengaktifkan sharingan. Atau mungkin kemampuanmu itu mempunyai kelemahan seperti sharingan." Riuuka tertegun mendengar perkataan ayahnya, begitu cepat sang ayah menyelesaikan permasalahannya.

"Tapi, Tou-san. Apakah hanya lemah terhadap sharingan saja, apa byakugan tidak termasuk kelemahan kemampuanku ini?" tanya Riuuka kembali membuat Naruto berpikir.

"Itu mungkin saja. Oleh karena itu, kau sebaiknya waspada begitu berhadapan dengan pengguna doujutsu. Mungkin akibat pergerakan chakra yang melewati otak saat mengaktifkan doujutsulah yang menahan kemampuanmu untuk memasukinya." jawab Naruto yang kemudian berdiri diikuti oleh Riuuka, "Sekarang sebaiknya kamu tidur. Ingat, berhati-hatilah saat kamu berhadapan dengan pengguna doujutsu!" setelah mengatakan itu Naruto kemudian meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan Riuuka yang masih berpikir, dan tak lama kemudian Riuuka ikut meninggalkan ruang keluarga tersebut dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

W

w

w

tbc

Itu dia,,, chap 5... Ahh capeknya mikirin mau dikasih apa buat kelemahan kemampuan membaca pikiran Riuuka itu,, sampai akhirnya pemikiran tentang doujutsu masuk kedalam otak saya...

Mengambil alasan 'karena chakra untuk mengaktifkan doujutsu harus melewati otak hingga membuat otak juga terselimuti chakra' ya, walau pun kurang yakin tapi ya sudahlah pakai aja...

Untuk itu,, kalau ada saran lain bisa kasih saya gak,,, mungkin bisa menjadi daya tambah kemampuan Riuuka...

Dan kalau masalah pairnya Riuuka,, aku telah menentukan gadis yang akan menjadi pairnya, tapi masih terlalu dini kalau kita membahasnya sekarang..

Dan untuk memberi gambarannya saya mau anda memilih,, pair Riuuka yang paling bagus apa seorang kunoichi atau non kunoichi... Itulah yang bisa anda sekalian pilih,, saya sih maunya yang non kunoichi,, soalnya kalo sesama ninja itu udah banyak dan terlalu mainstream..

Sekian,, sampai jumpa lagi...