Don't Lie To Me

Cast: Oh Sehun, Kai, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Byun Baekhyun

Genre: Drama, Romance, Hurt/Comfort

Rated: T

Author: Ohorat

.

.

.

.

Pagi ini Sehun bersiap-siap dan berpenampilan seperti biasa; jaket kulit dan jeans robek dibagian lutut. Jari-jari lentiknya menari di atas layar ponselnya sebelum panggilan tersambung.

"Halo, Kai. Hari ini aku ke rumahmu, ya?" Sehun menahan suaranya agar tidak bergetar.

Terdengar nada gugup disana, "Oh, a-ada apa, sayang? Apa kau sendirian lagi di rumah?"

"Iya, aku bosan. Tapi sepertinya kau akan pergi. Baiklah, lebih baik aku di rumah saja."

"T-tidak sayang. Aku tidak akan kemana-mana. Bagaimana kalau ku jemput?"

"Ah, tidak perlu. Aku naik taksi saja. Baiklah, aku akan segera kesana."

Panggilan pun terputus. Sehun segera pamit pada Ibunya dan sesaat selama perjalanan ia terus berdoa dalam hati agar semua dugaan negatifnya tentang Kai itu tidaklah benar.

.

.

.

Kai memeluk Sehun saat kekasihnya itu sampai. Ia tersenyum walau sebenarnya sedikit gugup dan Sehun menyadari itu. Sehun sudah hafal benar bagaimana Kai ketika ia sedang gugup.

"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Sehun saat mereka sampai di kamar Kai.

"Eum, ya, aku sudah baikan." Jawab Kai masih dengan senyum gugupnya.

Sehun hanya mengangguk, dan tatapannya tertuju pada celana jeans yang tengah di kenakan Kai. Dahinya pun berkerut heran.

"Kau yakin tidak akan pergi hari ini?"

Dahi Kai ikut berkerut, "Pergi kemana?"

"Tidak biasanya kau memakai jeans saat di rumah." Kata Sehun menyelidik dan sedikit menyebabkan perubahan ekspresi pada kekasihnya.

Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "O-oh, aku memakainya karena kau akan datang. Apa kau tidak suka?"

Sehun menggeleng pelan, ia pun duduk di atas sofa di susul dengan Kai yang terlihat menghembuskan napasnya lega.

"Kai,"

"Ya?"

Tatapan mata Sehun terhenti pada anting hitam berbentuk segitiga di bagian telinga kiri Kai. Ia kembali mengerutkan keningnya, lalu menyentuh anting itu.

"Sejak kapan kau mengganti antingmu? Kukira kemarin bentuknya bulat."

Kai gelagapan atas pertanyaan Sehun, ia melepas tangan Sehun secara perlahan, "A-ah, aku lupa memberitahumu kalau aku mengoleksi banyak anting. Jika kau mau, aku akan menunjukkannya."

"Tidak, tidak perlu." Jawab Sehun datar. Ia segera mengalihkan pandangannya.

"Oh ya, kau mau minum apa? Akan kuambilkan."

"Air putih saja."

"Baiklah, tunggu disini sebentar."

Kai pun menghilang setelah pintu kamarnya di tutup. Sehun memijat pelipisnya yang terasa sakit sekarang. Bukan hanya pelipisnya, tapi, hatinya juga. Ia kembali merasa ragu dengan sikap aneh Kai akhir-akhir ini. Kai jadi sering terlihat gugup saat Sehun bertanya sesuatu. Dan ia yakin, kekasihnya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

Drrr...

Drrr...

Drrr...

Suara getaran di atas meja nakas menjadi pusat perhatian Sehun sekarang. Benda tipis berwarna hitam metalik yang tak lain adalah ponsel milik Kai itu bergetar dengan lampu yang menyala-meredup setiap detiknya. Sehun bangkit, ia segera mengambil benda itu dan terkejut saat melihat nama Kyungsoo tertera di layar. Ponsel itu terus bergetar bersamaan Sehun yang terus menatap pintu kamar di depannya. Jika ia mengangkat panggilan Kyungsoo, mungkin ia akan segera mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya.

Dan tanpa berpikir panjang lagi, Sehun menggeser tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel itu dengan telinga kanannya.

"Halo, Kai? Kau dimana sekarang? Apa hari ini kita jadi bertemu? Jangan mengingkari janji, aku tunggu kau di cafe sekarang. Kai? Halo? Kenapa kau diam saja?"

Tangan Sehun gemetar setelah mendengar suara Kyungsoo di sebrang telpon. Matanya menatap datar pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar Kai dengan membawa satu gelas air putih. Berbeda dengan Sehun, Kai terlihat begitu terkejut saat melihat mata kekasihnya yang berkaca-kaca. Ditambah dengan suara Kyungsoo yang samar-samar terdengar dari ponsel yang masih di genggam Sehun.

"Kai? Apa terjadi sesuatu? Jawab aku!"

"Se-Sehun-"

Sehun tersenyum pedih, ia memperlihatkan panggilan Kyungsoo pada Kai yang semakin terkejut, "Jadi, selama ini kau membohongiku?"

"T-tidak Sehun. Ini tidak seperti yang kau-"

"Cukup. Aku tidak ingin mendengarnya. Seharusnya aku sadar saat kau bilang aku hanya orang bodoh yang ingin kau peluk." Potong Sehun dengan nada bergetar, hatinya terasa begitu sakit sekarang.

Kai melangkah maju, ia berusaha menggengam tangan kekasihnya, "Sehun, kumohon jangan seperti ini."

"Tidak. Kau sudah terlalu banyak membohongiku. Celana itu, anting itu, dan tadi malam saat kau bertemu dengan Kyungsoo," genangan air mata Sehun akhirnya terjatuh, "Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"

Kai menggeleng, ingin sekali ia memeluk Sehun yang mulai menangis karenanya. Tapi ia tak bisa, karena Sehun terus berontak saat ia menyentuhnya.

"Sehun, dengarkan aku-"

"Bahkan aku tak pernah berniat untuk menyakitimu," Sehun menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya, "Selamat tinggal."

"Tidak, Sehun-ah. Jangan pergi, kumohon dengarkan aku!"

Pintu kamar itu pun tertutup, meninggalkan Kai dengan kemarahannya yang memuncak. Ia membanting gelas berisi air putih yang tadinya akan ia berikan pada Sehun. Kini, bukan kamarnya saja yang hancur bak kapal pecah. Tapi, hati dan pikirannya pun sama. Kai terus mengumpat dan mengacak-acak rambutnya sampai tak berbentuk.

.

.

.

"Sehun, kau sudah pulang?" sang Ibu menyapa dengan kening berkerut heran saat melihat anaknya memasuki rumah sambil menunduk.

"Sayang, kau kenapa, nak? Ya Tuhan, kenapa kau menangis, apa yang terjadi padamu?" ia memperhatikan mata sembab Sehun sebelum kemudian namja kurus itu memeluknya erat.

"Ibu... aku tidak apa-apa... aku tidak apa-apa..." jawab Sehun dengan sesenggukan membuat Ibunya ikut menangis dan refleks mengelus punggungnya.

"Apa yang terjadi, nak? Kenapa kau menangis?"

"Dia membohongiku, Bu... Apa salahku..."

"Ssh, jangan menangis, nak..."

.

.

.

Tubuh kurus itu memperhatikan dirinya di depan cermin. Mata sembab dan hidung yang memerah karena seharian ini menangis membuat wajahnya sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Perlahan, kedua tangannya terangkat, melepas anting yang sudah ia pakai setelah mengenal Kai. Namja yang sudah tega mengkhianatinya.

"Ya Tuhan, kenapa kau nekat, Kai? Bukankah wahana itu sangat berbahaya untukmu? Aku yakin, kepalamu terasa sakit sekarang."

"Kau datang sendiri?"

"Um, dia- dia temanku saat SMA."

"Aku kira kau tak datang."

"Dulu, Kai begitu mencintai Kyungsoo sejak ia masuk SMA."

"Kai begitu mencintai Kyungsoo..."

"Kai begitu mencintai Kyungsoo..."

Ia tersenyum sedih, mengingat semua perlakuan aneh Kai setelah bertemu dengan Kyungsoo, mantan kekasihnya. Air mata itu menetes lagi saat ia menyadari bahwa namja yang begitu ia cintai telah membodohinya, membohonginya.

"Bahkan dia lebih tau apa yang membahayakan untuk Kai."

.

.

.

Liburan musim panas berakhir dan ini hari pertama sekolah dimulai, juga hari pertama Sehun tanpa Kai. Ia sudah sampai sekolah beberapa menit yang lalu dan kini ia tengah terlelap karena kelas masih terlihat sepi. Sebenarnya tidak terlelap –hanya membaringkan kepalanya diatas meja dengan pikiran melayang entah kemana. Sampai-sampai ia tak menyadari jika sahabatnya yang sudah pulang berlibur dari Jeju pun kini sudah duduk disampingnya.

"Sehun, kau baik-baik saja?" namja bername tag Byun Baekhyun itu menepuk bahu Sehun yang tidak bergerak sama sekali.

"Hm." Hanya itu yang keluar dari bibir tipis Sehun, membuat kening Baekhyun berkerut heran.

"Apa kau sakit?"

Sehun menggeleng dalam posisinya.

"Lalu? Kenapa kau melamun? Ah ya, bagaimana liburanmu?"

Kali ini namja bermarga Oh itu menatap sahabatnya sebelum kemudian tersenyum kecil, "Biasa saja. Bagaimana denganmu? Pasti menyenangkan."

Baekhyun terdiam untuk beberapa saat sambil menatap sahabatnya yang terlihat murung, "Aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja, Sehun."

.

.

.

"Apa yang kau katakan padanya?!" Kai menarik kerah baju Chanyeol dan mendorong namja itu ke dinding kamarnya. Matanya berkilat merah saat ini, membuat Chanyeol sedikit ketakutan.

"A-apa maksudmu?"

"Kau pasti mengatakan sesuatu tentang Kyungsoo pada Sehun. Benar, kan?!" Kai sedikit berteriak di akhir kalimatnya tepat di wajah Chanyeol.

"Aku terpaksa, Kai. Malam itu dia begitu terluka dan aku tidak tahu harus bagaimana,"

"Arrgghh!" Kai melepas cengkraman di kerah Chanyeol lalu mengacak rambutnya sampai tak berbentuk.

"Aku hanya mengatakan, bahwa kau mantan kekasihnya saat SMA. Dan aku yakin itu cukup membuat Sehun terluka, aku sangat merasa bersalah." Chanyeol menatap sayu pada temannya.

"Sekarang apa yang harus kulakukan? Dia pasti membenciku, dan ini salahmu!"

Chanyeol terkekeh ringan, ia berdiri mendekati pintu kamar Kai, "Salahku? Seharusnya kau tidak menemui Kyungsoo jika kau benar-benar mencintai Sehun. Atau mungkin... kau masih mengharapkan Kyungsoo?"

Kai tak menjawab, ia tertegun mendengar ucapan Chanyeol yang lebih mirip seperti sindiran. Apa ia benar-benar mengharapkan Kyungsoo kembali?

"Pikirkan kembali siapa yang benar-benar kau cintai, Kim Jongin." Namja tinggi itu menghilang di balik pintu setelah mengatakan kalimat yang cukup membuat Kai sedikit merasa menyesal atas tindakannya tadi.

Namja berambut merah gelap itu mencoba memikirkan saran Chanyeol, namun yang ada hanya kepalanya yang semakin pusing. Ia kembali berteriak dan membanting benda apapun yang berada di dekatnya.

"Aku tidak bisa!" ucap Kai sebelum meraih jaket kulitnya lalu pergi meninggalkan kamarnya yang kembali hancur bak kapal pecah.

.

.

.

"Aku tidak bisa."

Dahi Kyungsoo bertaut, ia menatap heran pada namja berambut merah gelap yang baru saja duduk di hadapannya. Di cafe yang biasa mereka kunjungi.

"Aku tidak ingin mengkhianati Sehun." ucap Kai dengan tatapan datarnya.

"Kai-"

"Kurasa selama ini aku salah. Aku hanya merindukanmu dan bukan berarti aku menginginkanmu kembali. Aku minta maaf."

Tangan Kyungsoo bergetar sambil meremas ujung jaketnya dibalik meja cafe. Mata bulatnya sedikit berair dan hatinya terasa begitu sakit sekarang. Namja yang ia harapkan untuk kembali ternyata tak bisa lagi ia miliki.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti."

Kai tersenyum kecil sebelum mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan Kyungsoo yang mulai terisak.

.

.

.

Baekhyun memutar bola matanya jengah melihat Sehun yang terus saja mengecek ponselnya lalu menyimpannya kembali. Mengecek lagi, menyimpan lagi, dan entah untuk keberapa kalinya hari ini. Namja kurus itu tengah menelungkup di atas ranjang dan Baekhyun duduk di kursi belajar Sehun.

"Hubungi saja dia, kau membuatku pusing." Kesal Baekhyun.

"Menghubungi siapa?" tanya Sehun tanpa menatap sang lawan bicara, bahkan nadanya terdengar malas membuat Baekhyun semakin geram.

"Siapa lagi kalau bukan Kai? Memangnya kau punya kekasih selain Kai?"

"Tidak. Kenapa aku harus menghubunginya?"

Baekhyun memutar bola matanya lagi, "Aku tahu kau sangat merindukannya. Sekarang kau menyesal, 'kan karena sudah mematikan ponselmu seharian kemarin?"

Sehun tak menjawab, apa yang dikatakan Baekhyun memang ada sedikit benarnya. Ia sangat merindukan Kai, walau dalam hatinya ia masih merasa kecewa dan marah. Ia sengaja mematikan ponselnya kemarin, dan saat menyalakannya kembali tadi pagi, banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Kai. Namja itu benar-benar ingin sekali menjelaskan kebenarannya pada Sehun.

"Tapi, bagaimana jika mereka kembali berpacaran?" tanya Sehun lirih, ia sudah bangkit dan duduk di pinggir ranjang.

Baekhyun menggeleng, "Tidak mungkin. Kau bilang mereka baru bertemu lagi beberapa hari kan? Lagi pula, mungkin saja Kyungsoo sudah memiliki kekasih. Siapa yang tahu?"

Sehun terdiam, lagi-lagi hatinya menyetujui apa yang dikatakan Baekhyun. Namun, saat ia ingin kembali bertanya, ponselnya berbunyi membuat tangan kanannya refleks mengambil benda tipis itu.

"Siapa? Kai?" tanya Baekhyun penasaran dan hanya di jawab Sehun dengan anggukan.

"Cepat angkat!"

"Tapi-"

"Kubilang angkat!"

Takut akan mata Baekhyun yang memelototinya, dengan gugup Sehun menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu di telinganya.

"Ha-halo," ucap Sehun gugup namun malah membuat Baekhyun diam-diam tersenyum.

.

.

.

Baekhyun melambaykan tangannya pada Sehun yang baru saja berlalu dengan taksi. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Sehun bergegas merapikan pakaiannya setelah menutup sambungannya bersama Kai. Namun ia yakin bahwa hubungan Sehun dengan Kai pasti akan membaik seperti dulu. Atau mungkin menjadi lebih baik.

Jantung Sehun berdebar selama perjalanan menuju rumah Kai, rasanya seperti akan menghadiri sebuah wawancara penting yang akan menentukan nasib hidupnya. Tapi, sepertinya ini tak kalah penting, karena ini pun menyangkut masa depannya. Apa ia dan Kai masih bisa bersama atau mungkin berakhir seperti hubungan Kai dan Kyungsoo dulu.

Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik.

.

Sehun membuka gerbang rumah Kai yang tidak terkunci, lalu berjalan menuju pintu utama dan membukanya juga. Langkahnya sedikit cepat kala menaiki tangga menuju kamar Kai.

"Temui aku di tempat dimana saat aku membuatmu menangis."

Perkataan Kai masih terngiang jelas di telinganya, dan ia segera masuk ke dalam kamar Kai karena ia memang pernah dibuat Kai menangis disini. Di kamarnya, saat ia mengetahui bahwa kekasihnya itu tengah membohonginya.

Namun, tak ada siapapun disana. Tidak ada Kai. Hanya keadaan kamar yang terlihat sedikit lebih rapi dari biasanya. Sehun panik dan juga kesal, apa Kai sedang membohonginya lagi?

"Kai? Dimana kau? Jangan bercanda, ini tidak lucu!" Teriak Sehun ke seluruh ruangan rumah besar itu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan disana, kecuali beberapa ikan hias dalam aquarium di dekat pintu taman belakang.

Sehun mengerang kesal, ia meninggalkan rumah kekasihnya sambil memaki tidak jelas. Sepertinya Kai benar-benar tengah mempermainkannya, namja itu membohonginya lagi. Kaki Sehun melangkah cepat dengan rasa kesal menggerogoti hatinya, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kai.

"Kau dimana? Kenapa kau membohongiku lagi?! Apa maumu?!" bentak Sehun bersamaan air matanya yang ikut keluar membasahi pipinya. Ia benar-benar marah.

"Membohongimu? Aku tidak membohongimu," terdengar nada tenang di sebrang sana, membuat Sehun semakin geram.

"Kau menyuruhku untuk menemuimu, setelah aku sampai di rumahmu kau tidak ada disana! Pembohong!"

"Apakah aku menyuruhmu untuk ke rumahku?"

Sehun terdiam dan menghentikan langkahnya. Kai benar, ia tidak mengatakan kalau ia sedang berada di rumahnya.

"T-tapi kau menyuruhku ke tempat dimana kau membuatku menangis, dan kemarin aku menangis dikamarmu!"

Terdengar kekehan di sebrang membuat dahi Sehun bertaut. Ia bingung sekarang. Namun, ketika ia mendongak, seseorang yang tengah terkekeh itu berdiri beberapa meter dari hadapannya.

"Kau sudah datang?"

Bukannya menjawab, Sehun malah menangis lagi. Bahkan air matanya mengalir semakin deras.

"Bodoh! Pembohong!"

Dahi Kai berkerut sesaat lalu kembali tersenyum, "Kau yang bodoh, aku menyuruhmu menemuiku di tempat dimana aku membuatmu menangis. Dan lihatlah sekarang, kau menangis. Disini. Didepanku."

Kai melangkah mendekati Sehun dan berdiri dihadapannya. Ia menyimpan ponsel hitam metaliknya di kantong celana lalu menghapus jejak air mata Sehun dengan kedua ibu jarinya.

"Bodoh!" maki Sehun dengan suaranya yang masih bergetar. Kai terkekeh lagi dan selanjutnya ia menarik Sehun ke dalam pelukannya.

"Maafkan aku,"

"Bodoh! Namja bodoh!"

Bibir Kai melengkung membentuk senyuman, tangannya tetap mengelus punggung Sehun yang masih saja sesenggukan.

"Kau benar, aku memang bodoh. Jangan biarkan namja bodoh ini pergi lagi."

Tangis Sehun semakin menjadi-jadi setelah mendengarnya.

"Aku membencimu!"

"Aku juga mencintaimu, Oh Sehun."

"Bodoh!"

.

.

.

The End

.

.

.

Aaaaaa kenapa jadi lebay gini T_T gatau deh, ide lagi macet. Saya rekomendasiin buat dengerin lagunya As One – You're My Baby pas Kai ngerjain Sehun. Manis banget lagunya :")

Ayo, ayo, ayo di review dulu ^^

Thanks to all readers, rewiewers, followers and who favorites this story. I love you all /big hug/

Ohorat