Disclaimer : Naruto belongs to Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance, Youth, School

Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, thema pasaran, mudah ditebak, typo(s), gender switch (again), and etc

Here We Go...

14 Days With Mr. Stranger

Chapter 2 : Journey

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Pikirannya menerawang jauh, ia mengutuk si tua Danzo yang dengan berani telah menipunya. Dia melepas napas panjang setelahnya. "Tapi, aku benar-benar beruntung," gumam Naruto kemudian. Tangannya memencet tombol remote tv, mengganti saluran tv yang satu dengan yang lainnya. "Mungkin aku harus tidur di jalan jika si Teme tidak berbaik hati." Katanya dengan helaan napas panjang untuk kesekian kalinya dan melempar remote ke atas meja. Naruto melipat kedua tangannya di belakang kepala, menatap lurus ke langit-langit kamar saat perutnya berbunyi keras, membuatnya bangkit dan bergerak, menyeret kakinya menuju dapur.

Dibukanya pintu lemari pendingin, keningnya mengernyit saat mendapati hanya ada tomat yang menumpuk di dalamnya. "Apa dia hanya makan tomat?" gumam Naruto kecewa dan kembali menutup pintu lemari es. Tangannya mengelus pelan perutnya yang kembali berbunyi sementara matanya melihat ke seluruh penjuru hingga ke lemari barang yang ada di atas kepalanya. Naruto berjinjit untuk melihat isi lemari yang cukup tinggi, senyumnya seketika merekah, matanya berbinar senang saat melihat ada beberapa ramen instan di dalamnya. "Ternyata dia juga manusia," kekehnya senang dan mengambil satu buah ramen dari dalam lemari tersebut.

Naruto memanaskan air menggunakan ceret, menunggu beberapa saat hingga ceret itu berbunyi menandakan jika air itu sudah mendidih. Naruto bersenandung riang, tangannya membuka penutup ramen instan dan memasukkan air panas ke dalamnya lalu ia membawa ramen tersebut ke ruang tengah dan dengan sabar kembali menunggu hingga mienya matang.

.

.

Dilain tempat, Sasuke kembali memijit keningnya yang berkedut sakit, teriakan para fans girlsnya yang memenuhi cafe malam ini benar-benar membuatnya pusing. "Untuk apa mereka datang kesini tiap hari?" keluhnya sebal. Pemuda itu menekuk wajahnya dan menghela napas lelah setelah melihat jam yang melingkar di tangan kirinya masih menunjukkan pukul delapan malam.

"Dua porsi ice green tea," kata Sasuke dengan ekspresi datar andalannya ia membacakan pesanan baru untuk koki yang ada dibalik counter.

"Roger," teriak Juugo dari balik counter.

"Sas, sepertinya pengagummu semakin bertambah banyak setiap harinya." Obito berjalan menghampiri Sasuke yang berdiri bersandar ke meja counter. Pemilik cafe yang juga paman dari Sasuke itu kini berdiri santai di samping keponakannya. "Gadis jaman sekarang benar-benar berani." Tambahnya sambil menggelengkan kepala. "Tapi mendatangkan keuntungan berlipat untukku," kekehnya puas.

"Hn." Jawab Sasuke cuek.

"Sejak kamu bekerja disini, cafe ini tidak pernah sepi pelanggan." Kata Obito kembali tersenyum penuh arti.

Sasuke mendelik dan mendengus kasar. "Kalau begitu, paman harus menaikkan gaji ku dua kali lipat."

"Ck, apa upah yang aku berikan masih kurang cukup?" tanya Obito sambil menyesap rokok di tangannya lama dan menghembuskan asapnya dengan nikmat.

Sasuke menatap kosong. "Aku harus menabung untuk kuliah," katanya. "Karena itu berbaik hatilah." Tambahnya dengan nada datar.

Obito tersenyum, dan mematikan rokok di tangannya. "Kamu masih tidak mau pulang?"

"Jangan mulai paman!" Sasuke berdesis, memberi peringatan.

Obito mengangkat bahunya acuh. "Kamu tidak perlu kerja keras jika tinggal di rumah besar." Katanya santai. "Kamu hanya perlu patuh pada tou-san mu."

"Persetan!" umpat Sasuke kasar. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi kiri dan kanan tubuhnya.

"Jaga bicaramu, Sas!" tegur Obito. "Ibumu bisa menangis darah di dalam kuburnya jika mendengar ucapanmu."

"Jangan membawa kaa-san dalam pembicaraan kita." Kata Sasuke dengan nada dingin. "Dan jangan membahas tentang tou-san lagi!"

"Baiklah," sahut Obito mengalah, percuma membahas hal ini dengan Sasuke yang memiliki ego tinggi. "Lagipula, aku tidak mau kehilangan pegawai dan keponakan favorite ku. "Katanya sambil menepuk-nepuk punggung Sasuke dan tersenyum lebar. Sementara Sasuke mengatupkan mulutnya rapat, malas untuk menjawab.

Teriakan Juugo dari balik counter menghentikan percakapan keduanya. Dengan sigap, Sasuke membawa sebuah baki berisi dua porsi ice green tea menuju meja pelanggan, menulikan pendengarannya saat gadis-gadis itu kembali memanggil-manggil namanya.

.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Sasuke menutup dan mengunci pintu cafe. Setelah mematikan lampu, dengan langkah tergesa dia menuju ruang karyawan untuk berganti pakaian.

Sasuke menolak halus tawaran Obito yang menawarinya tumpangan untuk pulang. Ia juga menolak tawaran serupa dari Juugo.

Ia berjalan dengan langkah cepat, mampir ke sebuah mini market dua puluh empat jam untuk membeli bahan makanan. Dia membeli susu, sereal, telur, roti dan beberapa makanan ringan lainnya. Merasa cukup, ia pun membawa barang belanjaannya ke meja kasir. Pikiran Sasuke kembali menerawang, ia dibuat bingung oleh kelakuannya sendiri. Pertama, dia mengijinkan orang asing untuk tinggal di apartemennya. Kedua, dia bahkan membelikan wanita asing itu makanan. Ketiga, dia bahkan tidak tahu nama wanita asing itu. "Aku pasti sudah gila," gumam Sasuke dengan kening berkerut tanpa sadar jika sedari tadi kasir wanita yang melayaninya melempar tatapan genit kearahnya.

"Semuanya jadi dua ribu yen," kata wanita itu dengan nada suara manja yang dibuat-buat.

Sasuke mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet, dan segera berlalu pergi setelah membayar barang belanjaannya.

"Bagaimana jika ternyata dia seorang penjahat? Psikopat? Pembunuh berdarah dingin?" gumam Sasuke ngeri. "Atau mungkin orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa?" katanya lagi. "Shit! Sepertinya aku benar-benar sudah gila." Sasuke terus bergumam, merutuki kebodohannya sepanjang perjalanan, hingga tanpa terasa ia pun sampai di apartemen miliknya.

Sasuke membuka pintu apartemen dan menutupnya pelan. Lampu apartemennya masih menyala dan ia juga masih mendengar suara dari televisi saat ini. "Kamu belum tidur?" tanya Sasuke saat melihat Naruto masih terjaga di depan televisi. Pemuda itu beranjak ke dapur untuk meletakkan belanjaan di tangannya dan merapihkannya ke dalam lemari penyimpanan dan lemari es.

"Kamu sudah pulang?" Naruto melirik sekilas pada Sasuke dan kembali fokus menonton televisi. "Selamat datang," sambut Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.

Sejenak pemuda itu tertegun, hatinya terasa hangat saat mendengar ucapan Naruto. Sudah lama dia tidak mendengar ucapan selamat datang jika dia pulang ke rumah. Kembali dia menggelengkan kepala, entah kenapa dia merasa terlalu sentimentil."Sudah makan?" tanya Sasuke sambil membuka jas sekolahnya.

Naruto kembali melirik Sasuke. "Sudah. Maaf, tadi sore aku mengambil persediaan ramenmu tanpa ijin." Katanya dengan senyum kecil, merasa bersalah.

"Hn." Jawab Sasuke datar.

"Kamu sudah makan malam?" kini Naruto balik bertanya. "Mau kubuatkan sesuatu?" tawarnya. "Ah, tapi di kulkas hanya ada tomat saja."

"Tidak perlu, aku sudah makan di cafe." Jawab Sasuke. "Aku baru membeli makanan, ambil saja kalau kamu lapar."

"Hontou?" tanya Naruto dengan mata berbinar. "Arigatou, kamu benar-benar baik, Teme."

Sasuke berdeham dan memalingkan wajah saat melihat senyum lembut Naruto. 'Kenapa jantungku berdebar kencang?' kata Sasuke di dalam hati. Tangannya berada di depan dada, mencoba meredakan debaran jantungnya yang semakin cepat. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Sasuke saat jamtungnya sudah kembali berdetak normal.

"Eh?" Naruto menatap lurus, membuat Sasuke kembali salah tingkah dibuatnya.

"Aneh jika kita tidak tahu nama masing-masing, bukan begitu?" dalih Sasuke.

Naruto mengangguk setuju. "Benar juga," katanya. "Naruto, Senju Naruto." Gadis itu berjalan mendekat dan mengulurkan tangan kanannya pada Sasuke.

"Uchiha Sasuke," balasnya menyambut uluran tangan Naruto. "Mulai sekarang, berhenti memanggilku 'Teme'. Mengerti?"

"Ha'i, wakatta." Sahut Naruto datar sambil memutar kedua bola matamya. "Kamu juga harus berhenti memanggilku 'Dobe'."

"Kenapa?" tanya Sasuke kini melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini rumahku, peraturanku yang berlaku disini. Ingat, kamu hanya menumpang disini." Katanya mengingatkan.

Gigi Naruto gemertak menahan emosi, sepertinya dia harus menarik kembali pikirannya mengenai Sasuke yang baik hati.

"Tidak terima, Dobe?" ejek Sasuke. "Kamu boleh keluar kapan saja dari rumahku jika kamu tidak suka," tambahnya dengan senyum mengejek membuat Naruto mati kutu. "Aku mau mandi dulu dan jangan coba-coba untuk mengintip!" Sasuke mendesis dengan mata menyipit membuat Naruto menggigit bibir bawahnya agar tidak membalas ucapan arogan Sasuke.

"Baka! Menyebalkan, dasar iblis berbentuk manusia!" Naruto terus mengumpat setelah Sasuke masuk ke dalam kamar. "Hanya tiga minggu, dan aku akan terbebas dari iblis itu. Bertahan, Naruto. Ganbatte!" katanya menyemangati dirinya sendiri.

.

Satu jam kemudian, Sasuke kembali keluar dari dalam kamar dengan mengenakan celana boxer dan kaos putih polos. Rambutnya masih basah, Naruto bahkan bersumpah jika pemuda itu terlihat sangat seksi malam ini. "Masih belum tidur?" tanya Sasuke.

"Belum ngantuk," sahut Naruto pendek.

Sasuke berjalan ke dapur dan menuangkan susu ke dalam gelas. Sebelah alisnya terangkat saat mendapati Naruto kini berdiri di depan pintu kamarnya. "Minggir, Dobe! Aku mau tidur."

Naruto menunduk, tidak mampu melihat langsung wajah Sasuke yang berdiri di hadapannya. "Ano..." katanya ragu.

"Cepat bicara!" ujar Sasuke tidak sabar.

"Mungkin ini sedikit keterlaluan," kata Naruto masih menundukkan kepala. Kedua tangannya saling bertaut, matanya terlihat gelisah. "Sasuke, boleh aku tidur di kamarmu?" tanya Naruto sambil menggigit bibir bawahnya.

Sasuke terbatuk mendengar permintaan Naruto. 'Gadis ini gila!' katanya dalam hati. 'Jangan-jangan, sebenarnya dia salah satu fans gilaku.' Pikir Sasuke lagi.

"Teme?" panggil Naruto agak keras, mengembalikan Sasuke ke alam nyata. Mata biru itu kini menatap langsung mata oniks milik Sasuke.

"Kamu mau tidur denganku?" kata Sasuke masih tak percaya dengan pendengarannya tadi. "Untuk gadis yang terlihat lugu, ternyata kamu sangat berani." Katanya dengan nada sinis. "Kamu benar-benar membuatku terkejut."

"Siapa yang meminta tidur denganmu?" balas Naruto sengit. "Aku hanya bilang, jika aku mau tidur di kamarmu." Tambahnya cepat. "Bisa kamu bedakan arti dari kalimat keduanya?"

"Dan itu berarti kamu ingin tidur denganku!" Sasuke mengangkat kedua tangannya ke udara. Tak percaya jika hingga tengah malam dia masih harus beradu argumen dengan gadis asing di hadapannya.

Naruto mendengus dan menjawab cepat. "Itu berarti kamu tidur di sofa," kata Naruto.

"Apa?" teriak Sasuke. "Kenapa aku harus tidur di sofa?" tanyanya bingung.

"Karena aku mau tidur di kamar," tukas Naruto tidak sabar dan kembali memutar kedua bola matanya.

"Tidak," balas Sasuke dingin. "Kamu tidur di sofa, titik!" perintahnya sambil menunjuk sofa dengan dagunya, begitu angkuh.

"Aku tidak bisa tidur di sofa," sahut Naruto dengan suara bergetar. "Tidak nyaman," katanya lirih kembali menunduk.

Mata Sasuke menyipit, suaranya terdengar sinis saat membalas ucapan gadis itu. "Dan kamu pikir aku nyaman tidur di sofa?"

"Tolonglah," mohon Naruto mengeluarkan jurus memelasnya.

"Aku tidak akan terpengaruh air matamu lagi," dengus Sasuke menyembunyikan rasa ibanya.

"Please..." mohon Naruto lagi. "Please..."

"Ok, terserah." Kata Sasuke kemudian. "Kamu boleh menguasai kamarku, kuasai saja semuanya. Aku tidak apa-apa, aku bisa bertahan. Hanya tiga minggu, hanya tiga minggu saja."

"Banzai!" teriak Naruto keras. "Arigatou, Sasuke." Katanya senang, dengan berani dia mengecup pipi kanan Sasuke sebelum beranjak masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar pelan, meninggalkan Sasuke yang untuk beberapa saat berdiri mematung disana. Rona merah mewarnai pipinya, perlahan ia menyentuh pipi kanannya yang terasa hangat. "Wanita ini benar-benar biang masalah," ujarnya lelah.

Sasuke memijit tengkuknya dan menatap sofa yang ada beberapa meter di depannya dengan tatapan tidak percaya. "Aku tidur di sofa?" bisiknya. "Kuso," umpatnya pelan. Sasuke berbalik dan mengetuk pintu kamar keras. Terus mengetuk hingga Naruto membuka sedikit pintu kamar itu.

"Apa?" Naruto mengeluarkan kepalanya lewat celah pintu, menatap Sasuke dengan mata menyipit. "Jangan katakan jika kamu berubah pikiran!"

"Aku perlu bantal dan selimut," sahut Sasuke. Ia terlalu malas untuk berdebat saat ini, dia sudah benar-benar mengantuk. "Tolong ambilkan selimut di lemari," pinta Sasuke.

"Ah, chotto matte kudasai." Kata Naruto, dengan cepat dia memgambil sebuah bantal dan selimut untuk Sasuke. "Oyasuminasai, Sasuke." Katanya sambil menyerahkan barang yang diminta bungsu Uchiha.

"Hn... Oyasuminasai, Dobe." Balas Sasuke, dengan mata mengantuk.

.

.

.

"Ohayou," sapa Neji. Kedua alisnya terangkat saat melihat bukan hanya Shikamaru yang tertidur pagi ini tapi juga Sasuke. "Ada apa dengannya?" tanyanya sambil meletakkan tas sekolahnya di atas meja.

Gaara mengangkat bahu. "Entahlah, moodnya tidak baik. Jangan diganggu!"

"Souka?" Neji mengangguk mengerti. "Kiba?"

"Dia dipanggil Asuma-sensei ke kantor guru," jelas Gaara. Matanya kembali melirik ke arah Sasuke yag masih bergeming, terlelap di meja tempatnya tidur.

"Ada masalah apa?" tanya Neji lagi. Lalu dia merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu di dalamnya. "Ini dia," kata Neji senang saat berhasil menemukan buku catatan kecil yang dicarinya.

"Entahlah," Gaara kembali mengangkat bahu. "Kamu masih mencatat semua kegiatanmu?" tanya Gaara saat Neji mencatat jadwal kgiatannya untuk satu minggu ke depan.

"Seperti yang kamu lihat," sahut Neji. Sejenak ia mendongak dan tersenyum simpul pada Gaara. "Sasuke terlihat sangat lelah. Apa cafe begitu sibuk? Atau dia punya pekerjaan lain selain di cafe?"

"Aku belum sempat tanya," Gaara mendesah. "Dia sudah tidur saat aku datang."

Sasuke menggeliat, sedikit terganggu dengan percakapan kedua sahabatnya. Matanya mengerjap beberapa kai sebelum akhirnya dia sadar sepenuhnya. "Sudah bel masuk?"

Neji menggeleng, "sepuluh menit lagi." Jawabnya. "Kamu terlihat lelah, ada masalah?" Neji kembali bertanya dengan nada khawatir.

"Aku hanya kurang tidur." Jawab Sasuke. 'Salahkan saja makhluk berambut kuning itu,' tambah Sasuke dalam hati. Semalam dia sulit tidur karena harus tidur di sofa. Namun seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya saat dia ingat kejadian pagi ini. Naruto menyiapkan sarapan sederhana untuk keduanya. Walau hanya roti bakar, omlet dan segelas susu, entah kenapa hal itu kembali membuat hati Sasuke hangat. Ia juga kembali melakukan hal gila pagi ini, dia memberikan nomor telepon genggamnya pada Naruto. Tabu bagi Sasuke untuk memberikan nomor telepon pribadinya pada orang lain, karena hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu nomor pribadinya. Lalu, kenapa dengan Naruto berbeda? Sasuke sendiri merasa bingung.

Suara teriakan para gadis menginterupsi pembicaraan ketiganya. Ketiga kepala itu kini beralih menatap pintu masuk kelas yang kini ramai oleh para siswi yang saling berebut untuk masuk. "Jangan menghalangi jalanku, pig!" teriak Sakura tepat di depan wajah Ino yang merah padam karena marah.

"Kamu yang menghalangi jalanku," balas Ino keras. Mereka saling melempar tatapan tajam, mendesis dan memasang kuda-kuda untuk membela diri.

"Sasuke-kun," rengek Sakura. "Tolong aku," katanya dengan nada dibuat-buat. Sasuke hanya menatap gadis itu dengan waja datar sebelum memalingkan wajah. Ino tertawa keraa melihatnya, puas melihat perubahan wajah Sakura yang kini merengut kesal.

"Dia bahkan tidak peduli padamu," kata Ino sing a song.

"Dan kau pikir dia peduli padamu?" tantang Sakura sebal membuat Ino kembali mendesis ke arahnya dengan mata menyipit.

"Sebaiknya kalian kembali ke kelas kalian masing-masing, " ujar Kiba yang datang menyerobot masuk. "Bel masuk sudah berbunyi," tambahnya mengingatkan membuat para siswi yang bergerombol di depan pintu kelas itu membubarkan diri satu persatu.

"Kalian tidak pergi?" tanya Kiba saat melihat Sakura dan Ino masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Keduanya masih melempar tatapan bermusuhan. Kiba menggaruk kepala dan mengangkat bahu. "Terserah kalian," katanya menyerah dan berbalik menuju kursinya.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tegur Iruka. Guru itu menarik napas dalam-dalam saat kedua muridnya sama sekali tidak meggubris perkataannya. "Kembali ke kelas kalian," kata Iruka lagi lambat-lambat. Kening Iruka berkedut, kesal karena lagi-lagi ucapanya diabaikan.

"Arghhhh..." teriak keduanya saat merasakan telinga mereka dijewer begitu keras oleh Iruka. Keduanya menatap horor pada Iruka yang mengeluarka aura menyeramkan. "Gomen, sensei." Kata keduanya kompak. Keadaan kelas yag tenang berubah ramai oleh tawa para murid yang menyaksikan peristiwa langka ini.

"Kembali ke kelas kalian!"

"Ha'i," sahut keduanya yang kembali kompak. Iruka akhirnya melepaskan jewerannya walau sedikit tidak rela, membuat kedua siswi itu membungkuk hormat sebelum berlari dengan kecepatan kilat menuju kelas mereka masing-masing.

"Berhenti tertawa dan buka buku kalian!" tukas Iruka tegas, memulai pelajaran pagi ini.

.

Sementara itu di apartemen Sasuke, Naruto baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dia mengangguk dan tersenyum bangga melihat hasil kerjanya. Apartement itu terlihat lebih rapih dari saat dia datang kesana. "Anggap saja ini balasan untuk kebaikanmu, Teme." Kata Naruto sambil menyimpan vacum cleaner dan lap pel ke dalam lemari penyimpanan yang ada di samping ruang cuci. Gadis itu juga mencuci pakaian kotor milik Sasuke, dan mencuci semua peralatan makan kotor yang menumpuk di bak cuci.

Setelah merasa pekerjaannya selesai, Naruto segera mandi dan berdandan rapih. Dia berniat mengunjungi panti asuhan tempat pertama kali dia dititipkan dulu. Naruto menulis sebuah catatan kecil dan menempelnya di lemari pendingin. Berjaga-jaga jika Sasuke pulang terlebih dahulu dari dirinya.

Gadis itu kembali mempelajari map kota ditangannya. Sesekali mengernyit bingung saat dia harus membaca tulisan kanji di map tersebut. "Aku hanya perlu naik bis no tujuh puluh dua, lalu berjalan sepuluh menit ke utara." Gumamnya pelan. Ia melipat kembali map ditangannya dan memasukkannya ke dalam tas.

Butuh waktu hampir lima belas menit hingga bus yang ditunggu Naruto datang. Perjalan itu sendiri memakan waktu dua puluh menit. Ia segera turun di halte berikutnya. Sayangnya hanya kekecewaan yang didapatnya kini. Bangunan itu sudah tidak ada, berganti sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. "Apa aku salah alamat?" Naruto mengeluarkan peta di dalam tasnya dan kembali merogoh tasnya untuk mencari buku alamat. "Tapi, panti asuhan matahari memang beralamat disini." Kata Naruto. "Apa aku salah jalan?" Naruto melihat ke sekelilingnya. Helaan napas panjang terdengar dari mulut gadis itu yang sedikit bergetar.

Naruto berjalan memasukki gedung perkantoran itu, sedikit ragu saat langkahnya mencapai meja resepsionis. "Konichiwa," sapa Naruto pelan membuat sang resepsionis mendongak dan menatapnya dengan senyum ramah.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.

"Maaf, kalau boleh tahu sejak kapan gedung perkantoran ini berdiri?" tanya Naruto membuat resepsionis wanita itu mengernyit ke arahnya.

"Untuk apa kamu bertanya mengenai hal itu?"

"Setahuku, tempat ini dulunya panti asuhan matahari." Terangnya tenang.

Resepsionis itu mengangguk paham. "Tempat ini dulu memang sebuah panti asuhan. Tapi, panti asuhan itu terbakar habis hampir delapan tahun yang lalu."

"Begitu," Naruto menyahut lemah. "Apa anda tahu dimana panti asuhan itu sekarang?"

"Sayang sekali, aku tidak tahu."

"Souka?" Naruto akhirnya membungkuk hormat, berterima kasih sebelum melenggang pergi.

"Siapa?" tanya seorang pria berambut pirang berjalan mendekat ke arah mejq resepsionis.

Resepsionis itu membungkuk memberi hormat. "Gadis itu bertanya tentang panti asuhan matahari, Namikaze-san. "

Minato mengangkat sebelah alisnya dan menatap punggung Naruto yang berjalan semakin menjauh. "Dia hanya bertanya mengenai hal itu?"

"Ha'i."

"Aneh sekali," gumam Minato.

"Mungkin gadis itu dulunya anak asuh di panti asuhan matahari."

"Kamu mungkin benar," Minato mengangguk setuju, sebelum akhirnya melenggang pergi untuk kembali ke ruangannya di lantai dua puluh.

Di luar, Naruto berjalan dengan lunglai. Hilang sudah harapannya untuk mencari tahu informasi mengenai asal usul keluarganya. Dia sudah menghubungi panti asuhan yang dulu pernah menjadi rumah tinggalnya untuk sementara. Namun semua arsip mengenai dirinya berada di panti asuhan matahari sebagai rumah pertama yang mengasuhnya dan rumah singgah terakhir yang menyerahkannya untuk diadopsi oleh Tsunade.

"Nasibku benar-benar kurang baik," keluh Naruto. Matahari semakin meninggi, hawa panas membuat gadis itu berkeringat gerah. Ia mengibaskan tangannya di depan muka, berharap bisa mengenyahkan hawa panas yang menyengat. Naruto tenggelam dalam pikirannya hingga tidak sadar jika saat ini dia menaiki bis yang salah. Kepalanya menyandar lesu pada punggung kursi, tatapannya kosong. Ia terus melamun hingga akhirnya disadarkan oleh supir bus.

"Nona, ini pemberhentian terakhir. Anda tidak turun?" tanyanya dengan suara berat.

Mata Naruto mengerjap, "eh?" ia melihat ke sekeliling. "Ini dimana? Pantai? Kok ada laut?" gumamnya pelan saat matanya melihat laut. "Saya berhenti disini saja," kata Naruto sambil melompat turun.

Naruto memutuskan untuk berjalan menuju pantai. Dia menuruni anak tangga yang cukup curam untuk sampai disana. Dia mendudukkan diri di atas pasir pantai berwarna putih. Suasana pantai masih cukup sepi, mungkin karena belum masuk masa liburan musim panas. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Naruto melihat beberapa pemuda pemudi bermain voli pantai. Teriakan kegembiraan saling menyahut dari mulut mereka. Naruto kembali memalingkan wajah, menatap air laut yang berwarna biru. Angin berhembus menerpa wajah catiknya. "Damai sekali," katanya pelan dengan senyum tipis.

"Hei anak kecil?" teriak salah satu pemudi itu pada Naruto. "Woi?" teriaknya lagi. Gadis berbikini orange itu berkacak pinggang, berdecak karena Naruto tidak menghiraukan panggilannya. "Sebentar aku ambil bolanya," katanya pada rekannya yang lain.

"Cepat ambil, Kyuu!" balas pemuda dengan tanda lahir seperti keriput di wajahnya.

Kyuubi berjalan dengan langkah panjang, ia mengambil bola voli yang terlempar ke samping tubuh Naruto. Kyuubi menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Dia melamun?" cibir Kyuubi lalu menjentikkan jarinya di depan wajah Naruto.

Naruto terlonjak kaget, ia balas menatap lurus pada Kyuubi. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

"Kenapa melamun seorang diri?" tanya Kyuubi. "Jangan bilang kamu berniat untuk bunuh diri."

"Bunuh diri?" beo Naruto. "Tidak, aku tidak ada niat untuk itu. Aku mencintai nyawaku," katanya tegas.

"Bagus," sahut Kyuubi sambil memeluk bola voli itu di dekapannya. "Mau bergabung?" tawar Kyuubi. Naruto menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih."

"Yakin?" tanya Kyuubi yang entah kenapa merasa khawatir jika harus meninggalkan gadis asing ini seorang diri.

"Sebentar lagi aku juga pulang, terima kasih untuk tawarannya."

"Baiklah, terserah." Balas Kyuubi kemudian. Kyuubi akhirnya meninggalkan Naruto seorang diri. Dia kembali berbalik untuk melihat sosok gadis itu. Kyuubi memiringkan kepala, heran karena tidak biasanya dia mencemaskan orang asing.

"Siapa, Kyuu?" tanya Itachi saat Kyuubi kembali dengan bola voli di tangannya.

"Aku tidak tahu," jawab Kyuubi sambil melempar bola itu kepada Itachi. "Aku mengajaknya untuk bergabung bersama kita, tapi dia menolak."

"Tumben kamu peduli," sindir Itachi.

"Shut up!" balas Kyuubi galak membuat Itachi terkekeh puas.

Naruto kembali memperhatikan pemuda pemudi itu yang sekarang sudah kembali bermain. 'Sepertinya mereka anak kuliahan,' pikir Naruto sambil berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang hot pantsnya. Ia membuka alas kakinya, menenteng di tangan kanan dan berjalan sepanjang bibir pantai, menikmati sapuan air laut yang terasa sejuk di kakinya.

Ia lalu meletakkan alas kakinya di pasir pantai yang kering, jauh dari jangkauan air laut. Setelah itu, dia melakukan peregangan kecil. Dia menutup mata, menajamkan pendengarannya, mendengarkan alunan musik yang dihasilkan sang alam. Debur ombak terdengar merdu di telinganya. Tanpa disadarinya, dia mulai menari. Begitu lembut, gemulai, memesona. Bibirnya mengulum senyum menawan. Dia menari disini, dengan pasir pantai sebagai panggung dan laut luas sebagai latar belakangnya. Dia terus menari untuk sang alam yang memberinya ketenangan.

"Cantik," puji Sasori yang segera berlari untuk mengambil kamera miliknya.

Kyuubi menoleh ke arah yang dimaksud oleh Sasori. Disana, gadis pirang itu menari, begitu bebas dan menawan. Sasori kembali berlari, lalu dia berhenti saat dia rasa sudah berada pada posisi yang tepat. Kameranya berbunyi klik hingga beberapa kali, ia terus mengambil gambar hingga objeknya berhenti menari. "Ck, kenapa berhenti?" Sasori memandamg Naruto penuh pertanyaan. Kakinya pun mulai melangkah menuju tempat Naruto berdiri.

"Mau kemana?" Itachi berdiri menghalangi langkah Sasori.

"Minggir, Tachi!" desis Sasori. "Aku mau meminta dia untuk menari lagi."

"Ck," Itachi berdecak. "Kamu pikir, kamu siapa? Seenaknya saja meminta orang asing untuk melakukan ini dan itu." Itachi kembali menghalangi langkah Sasori dan mengunci pergerakan pemuda itu.

"Tapi, tariannya memukau. Aku memerlukannya untuk bahan pameranku nanti." Kata Sasori keras kepala. Ia terus meronta, sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari kuncian Itachi yang jauh lebih kuat darinya.

"Dia akan ketakutan jika kamu memaksanya seperti ini," sahut Kyuu menimpali. "Lagi pula, dia sudah pergi."

"Kuso!" umpat Sasori, ia mendelik ke arah Itachi yang memasang muka tak bersalah. Lalu ia mendesis ke arah Kyuubi yang menanggapinya dengan mengangkat bahu acuh.

"Sudah, ayo kita main lagi." Seru Itachi kembali menyeret tubuh Sasori yang masih tidak rela karena kehilangan objek fotonya.

Kyuubi memandang Naruto yang kini berjalan menjauh. Dia merasa dadanya begitu sesak, hatinya seolah tidak rela saat melihat gadis pirang itu berlalu pergi. 'Ada apa denganku?' pikir Kyuubi. 'Kenapa aku merasa jika dia tidak asing?'

"Kyuu?" panggil Itachi serak. "Kyuu?" panggilnya lagi. "Kamu baik-baik saja?" Itachi terlihat cemas saat melihat Kyuubi meneteskan air mata. "Ada apa denganmu? Kamu sakit?"

Kyuubi menggelengkan kepala dan menghapus air matanya cepat. "Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku juga bingung."

"Mungkin kamu terlalu lelah, sebaiknya kita kembali ke vila saja."

"Ok," sahut Kyuubi. Ia menggenggam tangan Itachi erat. Mereka bergandengan tangan hingga tiba di vila milik keluarga Sabaku yang terletak tidak jauh dari tempat mereka bermain saat ini.

.

.

"Jadi, sekarang kamu ada dimana, Dobe?" tanya Sasuke gemas. Dia sedikit cemas karena saat pulang, dia tidak mendapati sosok Naruto di apartemennya.

"Di pantai," jawab Naruto santai. Dia bisa mendengar jika Sasuke menggeram di sisi lain sambungan telepon.

"Pantai?" beo Sasuke. "Seharusnya kamu meninggalkan pesan, agar aku tidak perlu repot mencarimu. Kenapa telepon genggammu begitu sulit untuk dihubungi?"

"Aku sudah meninggalkan catatan di pintu lemari es," jawab Naruto. "Dan aku tidak tahu, kenapa ponselku sulit dihubungi, Teme." Kata Naruto panjang lebar. "Tadi aku ketiduran di dalam bus, lalu saat bangun ternyata aku sudah berada di daerah ini."

Kening Sasuke berkerut mendengar penuturan Naruto yang terdengar santai. "Jadi, kamu ada di daerah mana sekarang?"

"Aku tidak tahu," sahut Naruto. "Aku tadi naik bus nomor delapan puluh dua, dan akhirnya sampai disini."

"Kamu salah naik bis," bentak Sasuke kesal. "Kenapa kamu begitu ceroboh?" sejenak Sasuke berhenti bicara, mencoba untuk menenangkan emosinya. "Sekarang, pergi ke halte dan tunggu aku disana. Jangan coba-coba pergi sebelum aku datang, mengerti?" katanya dengan nada lebih halus.

"Aku mengerti," sahut Naruto tanpa banyak protes dan Sasuke pun memutus hubungan telepon keduanya.

Sasuke segera berlari keluar dari apartemen, ia menghubungi Obito dan mengatakan jika dia tidak bisa masuk kerja hari ini. Sasuke menunggu bis dengan tidak sabar, ia perlu naik tiga bis dengan rute berbeda untuk sampai di tempat Naruto saat ini.

Naruto mendongak, seakan mengikuti insting. Sasuke berdiri di sana, dengan wajah galaknya. Naruto tersenyum lebar, melambai penuh semangat ke arah Sasuke. Merasa senang karena dia bertemu seseorang yang dikenalnya. Mau tidak mau, Sasuke membalas lambaian tangan Naruto, wajah galaknya luluh seketika. Sepertinya dia tertular sifat Naruto yang ceria. Gadis itu bersikap seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Sasuke akhirnya mengulas senyum kilat, membalas senyum lebar yang diberikan Naruto untuknya.

"Kamu benar-benar datang?" Naruto menatapnya tak percaya.

"Hn," balas Sasuke pendek. "Ayo kita pulang!"

"Sasuke, aku lapar. Bisa kita mencari makan dulu?" Naruto kembali memasang wajah memelas.

Sasuke memalingkan wajah dan berdecak, hingga akhirnya dia memilih untuk mengalah. "Hn."

"Kamu benar-benar baik," seru Naruto girang. "Tadi aku melihat rumah makan sederhana disana, ayo kita kesana." Tukas Naruto, ia menggandeng tangan Sasuke untuk berjalan berdampingan dengannya. Dan Sasuke, ia hanya tersenyum kecil tanpa menolak genggaman tangan Naruto yang terasa begitu hangat.

"Ini dia tempatnya," ujar Naruto. Ia kembali menarik tangan Sasuke untuk masuk ke dalam kedai ramen sederhana itu. Ia segera duduk di kursi kosong dekat meja kasir. Karena hanya disitu saja kursi kosong yang tersisa.

"Paman, aku pesan satu porsi ramen miso." Kata Naruto semangat. "Sasuke, kamu pesan apa?"

"Satu porsi ramen shoyu," jawab Sasuke datar.

"Satu ramen miso dan satu ramen shoyu segera siap," sahut paman pemilik kedai. Seorang pelayan menuangkan teh hijau untuk keduanya. Naruto dan Sasuke mengangguk, mengucapkan terima kasih. Tidak sampai sepuluh menit, pesanan mereka pun sudah tersaji di atas meja.

"Wah, kelihatannya enak." Kata Naruto dengan mata berbinar. "Selamat makan," katanya antusias dan melahap ramen dihadapannya dengan lahap. Sasuke menyesap tehnya nikmat, matanya masih mengawasi gerak-gerik gadis di sampingnya yang menurutnya begitu unik.

"Santai saja, Dobe. Aku tidak akan meminta ramen milikmu," kata Sasuke. Naruto mendelik dan menjauhkan mangkuk ramen miliknya dari jangkauan Sasuke. Pemuda itu tersenyum tipis, dan tanpa dia sadari, tangannya sudah mengacak lembut rambut pirang Naruto.

Gadis itu menunggu di luar kedai saat Sasuke membayar tagihan untuk keduanya. Sasuke menolak tegas niata Naruto yang hendak mentraktirnya makan. "Simpan uangmu, biar aku yang bayar." Kata Sasuke tegas tanpa bisa dilawan. Dan Naruto pun menunggu pemuda itu dengan sabar di depan kedai.

"Seorang diri, cantik?" beberapa pria mabuk mendatangi Naruto dan menggodanya.

Naruto berjalan mundur, menjauhi pria mabuk yang berusaha untuk menyentuhnya.

"Dia tidak sendiri," sahut Sasuke dengan nada suara berbahaya. Pemuda itu berdiri di belakang Naruto dan memeluk gadis itu dengan protektif.

"Berikan dia pada kami, jika kamu masih ingin hidup." Salah satu pria itu berdesis dengan nada mengancam. Sasuke membisikkan sesuatu di telinga Naruto. Gadis itu mengangguk kecil tanda mengerti. Sasuke menendang perut pria mabuk yang berdiri di depan Naruto. Ia lalu melayangkan tendanganten ke arah pria lainnya, membuat kefua pria mabuk itu tersungkur menghantam tanah.

Setelah melakukan itu, Sasuke menarik tangan Naruto dan membaea gadis itu untuk melarikan diri. Sasuke sadar, dia tidak mungkin melawan lima orang mabuk seorang diri. Dia harus mementingkan keselamatan Naruto, karena itu dia memilih untuk lari.

Pria mabuk itu pun berlari, berusaha mengejar Sasuke dan Naruto. Keduanya berlari semakin kencang, berbelok, menanjak dan terus berlari dengan napas memburu. Sasuke menengok ke belakang, mengumpat saat tahu jika pria-pria mabuk itu masih terus mengejar. Ia lalu melirik ke arah Naruto yang masih berlari di sampingnya. Sasuke semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Naruto. Dia terus berlari dengan sebuah senyum tulus terukir di wajah tampannya.

Nasib Sasuke dan Naruto sangat beruntung, bis yang akan mereka tumpangi baru saja tiba di halte. Keduanya segera naik, dan bis pun menyelamatkan keduanya dari kejaran pria-pria mabuk itu. "Kita beruntung," kata Naruto dengan napas tersengal.

"Hn."

"Terima kasih, Tuhan." Kata Naruto penuh syukur.

.

Setelah naik tiga buah bis, keduanya masih harus berjalan selama lima belas menit untuk sampai ke apartement. Sasuke menghentikan langkahnya, ia menengok ke arah belakang dimana Naruto berjalan jauh di belakangnya dengan langkah diseret.

"Kenapa?" tanya Sasuke saat jarak keduanya dekat.

"Aku capek," jawab Naruto lelah.

Sasuke akhirnya berjongkok membelakangi Naruto. "Naik ke punggungku," katanya dengan nada datar.

"Kamu yakin?" tanya Naruto.

"Hn."

"Tapi, kamu juga pasti lelah. " Kata Naruto merasa tidak enak hati.

"Cepat naik!" kata Sasuke lagi kali ini terdengar seperti perintah. Tanpa banyak bicara, Naruto akhirnya naik ke punggung Sasuke. Pemuda itu kembali berjalan dengan Naruto di punggungnya.

"Arigatou," kata Naruto lemah sebelum akhirnya dia tertidur pulas di punggung kokoh Sasuke.

.

.

.

TBC

Hallo, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia untuk membaca dan meninggalkan jejak di fict Fuyu. Maaf, Fuyu tidak balas satu persatu. Untuk yang PM, sudah Fuyu balas yah. BW dan UC diusahakan menyusul asap. Sekali lagi terima kasih untuk respond nya (:

See you...

Untuk yang berkenan, monggo di review :D