Hello, thank you untuk semua readers dan juga yang sudah menyempatkan untuk review. Nggak nyangka jika bakal dapat respon positif seperti itu. Maaf Fuyu tidak balas satu persatu. Tapi untuk yang PM sudah Fuyu balas yah ^-^

Beberapa readers ada yang bertanya tentang keluarga asli Naruto. Di chap ini ada sedikit petunjuk tentang hal itu dan petunjuk lainnya akan Fuyu ceritakan di chap depan.

Well, selamat membaca (:

Disclaimer : Naruto belongs to Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance, Youth, School, Family

Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, thema pasaran, mudah ditebak, typo(s), gender bender (again), and etc

Here We Go...

14 Days With Mr. Stranger

Chapter 3 : Heart Beats

By : Fuyutsuki Hikari

Sasuke membaringkan tubuh Naruto di atas tempat tidur, kemudian menarik selimut hingga sebatas dada gadis itu. Jari-jari panjangnya menyibak poni yang menutupi kening Naruto. Tipis, namun senyum itu ada saat ia memperhatikan wajah lelap orang asing di depannya. Bulu mata gadis itu lentik dan panjang, hidungnya mancung, dan ia memiliki bibir berbentuk hati berwarna pink. "Kamu lebih manis saat tidur," bisik Sasuke. "Mulutmu sangat berbahaya saat kamu terjaga." Tambahnya lagi dengan dengusan halus.

Mata pemuda itu membulat, lalu ia menggelengkan kepala dan memijit tengkuknya pelan. "Aku perlu mandi air dingin," katanya serak. "Si Dobe ini benar-benar menguji ketahanan mentalku."

Sasuke beranjak menuju kamar mandi setelah mengambil sebuah handuk bersih serta baju ganti dari dalam lemari. Sasuke mandi begitu lama, tubuhnya terasa panas, ia perlu mendinginkan libidonya. "Ck, menyusahkan." Gumamnya di tengah guyuran air dingin malam itu.

Selesai mandi dan berganti pakaian, pemuda itu mengambil tas sekolahnya yang diletakkan di atas kursi belajar. Ia baru saja akan keluar kamar saat telinganya menangkap isakan kecil dari arah tempat tidur. Sasuke berjalan mendekati Naruto, dan berjongkok di samping tempat tidur.

Gadis itu menitikkan air mata dalam tidurnya dengan diiringi isakan kecil yang lolos dari mulutnya. Pelan, Sasuke menghapus air mata itu. Ia menggoyangkan tubuh gadis itu lembut. "Naruto?" panggilnya setengah berbisik. "Naruto?" panggilnya lagi.

Perlahan gadis itu membuka mata, masih setengah sadar dia melirik ke arah Sasuke yang sedang menatapnya khawatir. "Ada apa?" tanya Sasuke berbisik.

"Mereka tidak menginginkanku," jawab Naruto begitu pelan.

Sasuke mengelus rambut pirang Naruto dan kembali bertanya, "siapa?"

"Orang tuaku," jawab Naruto lagi. "Mereka tidak mencintaiku, mereka membuangku." Katanya dalam gumaman kurang jelas namun masih bisa ditangkap dengan baik oleh pendengaran Sasuke.

"Tidurlah, jangan banyak berpikir." Balas Sasuke lembut. "Semua pasti ada alasannya."

Naruto mengangguk kecil, ia kembali menutup matanya walau isakan kecil sesekali masih terdengar dari mulutnya hingga beberapa saat kemudian dan akhirnya gadis itu pun kembali terlelap tidur. Sasuke menarik napas panjang, mengacak rambut pirang Naruto pelan lalu bergerak untuk mematikan lampu meja dan keluar dari dalam kamar dengan tas sekolah berada di tangan kanannya.

Sasuke kembali melirik ke arah pintu kamar yang tertutup setelah ia duduk di atas sofa. "Jadi dia yatim piatu? Dia dibuang orang tuanya?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri. "Tapi, kemarin dia bilang jika dia masih memiliki nenek." Sasuke melepas napas pendek dan mengerang. "Siapa sangka, jika gadis seceria dia pun memiliki masalah yang tidak ringan." Tambahnya pahit. Sasuke membuka buku pelajarannya, mulai mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Hah, malam ini sepertinya dia harus kembali tidur larut malam.

.

.

.

Keesokan harinya, Sasuke hanya bisa tersenyum sendiri melihat tingkah polos Naruto. Ia memperhatikan gerakan gadis itu yang bergerak lincah di dapurnya sementara dia hanya duduk manis di meja makan menunggu sarapan siap untuk dihidangkan. Harus Sasuke akui, gadis ini menawan walau terkesan lugu. Tapi hal itu justru menjadi nilai tambah tersendiri baginya.

Naruto juga tidak bersikap berlebihan, ia bersikap apa adanya dan walau kadang membuat Sasuke merasa terganggu, pemuda itu sama sekali tidak membencinya.

"Sampai kapan kamu mau melamun, Teme?" tanya Naruto sambil menjentikkan jarinya beberapa kali tepat di depan hidung Sasuke. Ia sudah kembali ceria, seolah kejadian tadi malam hanya sebatas mimpi.

"Hn," kata Sasuke.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Naruto lagi sambil menyodorkan sarapan milik Sasuke.

Sasuke menerima mangkuk berisi sup kentang itu dan segera melahapnya. Sejenak ia terdiam, menikmati rasa gurih sup tersebut di mulutnya.

"Enak kan?" kata Naruto dengan nada bangga.

"Hn, oishi." Sahut Sasuke jujur.

Mulut Naruto menganga lebar mendengar pengakuan jujur pemuda keras kepala di depannya itu. "Aku tidak menyangka jika kamu akan mengakui kehebatanku dalam memasak," katanya cepat membuat Sasuke mendongak dari mangkuknya dan menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

"Kukira kamu akan mengatakan, "lumayan'." Jelas Naruto kini tersenyum lebar.

"Hn, Dobe."

"Kamu benar-benar sulit ditebak, Teme." Ujar Naruto sebal. "Sebentar baik, sebentar lagi menyebalkan. Apa kamu berkepribadian ganda?" tanya Naruto dengan mata menyipit.

"Jangan sembarangan bicara," kata Sasuke balik menatap tajam membuat Naruto kikuk dibuatnya.

Gadis itu kembali duduk tegak dan menyuapkan satu sendok penuh sup ke dalam mulutnya. Matanya menatap lurus pada Sasuke yang duduk di hadapannya. Meneliti wajah pemuda itu dengan seksama.

"Terpesona?" kata Sasuke tiba-tiba, menyeringai sombong.

Mata Naruto mengerjap. "Hah?"

Naruto bersumpah jika ia melihat pemuda itu tersenyum tipis ke arahnya tadi, well memang hanya sekilas dan mungkin itu hanya imajinasinya saja. "Kamu terpesona padaku, Dobe!" ejek Sasuke kembali menyeringai puas.

Naruto memutar kedua bola matanya dan kembali menyuapkan satu sendok penuh sup ke dalam mulutnya. Dia memilih untuk tidak menjawab perkataan Sasuke tadi. Tidak penting, pikirnya kesal.

Sasuke yang sudah menghabiskan sarapannya kemudian membawa piring kotor ke dalam bak cuci. "Biarkan saja," kata Naruto. "Aku akan mencucinya nanti." Tambahnya lagi, ia bicara dengan mulut penuh.

"Jangan bicara dalam keadaan mulut penuh!" tegur Sasuke. "Kamu bukan anak kecil," katanya lagi dengan senyum mengejek.

"Terserah," balas Naruto cuek.

"Aku pergi," pamit Sasuke sambil memakai sepatu.

Naruto melambaikan satu tangannya di udara. "Hati-hati!"

"Hn." Balas Sasuke beranjak pergi.

Naruto menghela napas pendek, menatap kursi kosong di depannya dengan tatapan kosong. Ia kemudian menggelengkan kepalanya, "sekilas aku memang terpesona." Akunya jujur. "Apa yang kupikirkan?" katanya syok dengan gelengan kepala cepat.

Ia dengan cekatan membereskan peralatan makan kotor di atas meja dan segera mencucinya. Mata Naruto kemudian beralih ke atas kulkas. "Oh my God, kenapa aku bisa lupa memberikan bekal makan siang pada Sasuke?" keluhnya tak percaya sambil membenturkan kepalanya pelan pada pintu kulkas di depannya.

Naruto melirik jam dinding di seberang ruangan, Sasuke pasti sudah naik bis, pikirnya. Namun gadis itu kembali tersenyum ceria saat sebuah ide melintas di kepalanya. "Kalau begitu, biar aku sendiri saja yang mengantar bekal makan siang ini untuk Sasuke."

Gadis itu bergerak cepat, dengan cekatan dia membereskan rumah dan membersihkan diri setelahnya. Dia mematut dirinya lama di epan cermin. Ia mengenakan dress di atas lutus berwarna kuning lembut tanpa lengan. Naruto mengikat rambutnya tinggi di puncak kepala. Flat shoes melengkapi penampilannya pagi ini, dan dengan make up sederhana ia pun berangkat menuju sekolah Sasuke.

"Konoha International High School," Naruto mengangguk-ngangguk serius, membaca peta rute bis di tangannya dengan teliti. "Syukurlah, aku hanya perlu naik bis satu kali." Desahnya lega dan melipat kembali peta di tangannya lalu dimasukkannya ke dalam tas.

"Si Teme psiko itu bisa mencekikku jika aku tersesat lagi," katanya dengan erangan frustasi. Kini ia sudah berada di dalam bis dan duduk di kursi barisan paling akhir. Naruto mulai merinding ngeri membayangkan hal itu terjadi padanya. 'Tidak, aku pasti sampai ke tujuan dengan selamat.' Pikirnya penuh keyakinan. Dan perjalanan Naruto pun dimulai.

Gadis itu bersenandung kecil sepanjang perjalanan, matanya melihat jauh keluar jendela bis. Ia terlalu asyik menikmati pemandangan yang ia lihat hingga akhirnya hal yang ditakutkannya kembali terjadi. Dia kembali tersesat. "Damn!" ujar Naruto pelan dengan suara dan wajah datar.

"Kenapa aku selalu melamun atau tertidur dalam perjalanan?" keluhnya dengan dengusan pendek.

Ia seharusnya turun di halte ketiga, tapi saat ini dia malah turun di halte ketujuh. Daerah ini sudah berada di luar kota Tokyo. Naruto mengetuk-ngetukkan kakinya ke atas aspal dengan mulut mengerucut imut.

Ia akhirnya hanya bisa pasrah akan nasibnya saat ini. Naruto melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku tidak mungkin mengganggu Sasuke saat ini, dia pasti sedang ada kelas." Naruto kembali menunduk, kepalanya terkulai lemas. "Ah... Mungkin tidak ada salahnya jika aku berkeliling di kota ini," kata Naruto dengan senyum mengembang melupakan niat awalnya yang hendak memberikan bekal makan siang untuk Sasuke dan melupakan fakta jika dia sedang tersesat saat ini.

Jika di barat Kyoto memiliki kota tua Nara, maka di bagian timur memiliki Kamakura sebagai kota tua. Kamakura masuk ke dalam perfektur Kanagawa, satu jam perjalanan dari Tokyo bila menggunakan kereta api. Naruto melangkah penuh semangat, menapaki jalan beranak tangga Dankazura untuk menuju tempat suci bagi umat Shinto, Hachiman-Gu.

Sepanjang kanan-kiri jalan beranak tangga itu ditumbuhi oleh deretan pohon sakura yang akan terlihat sangat indah bila musim semi tiba. Naruto berhenti sejenak untuk istirahat. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru. Suasana tempat ini seolah menarik dirinya untuk kembali masuk ke jaman Kamakura Bakufu, jaman para samurai.

Setelah merasa istirahatnya cukup, ia pun kembali melangkahkan kaki menuju kuil. Dia baru saja hendak masuk ke dalam kuil saat sebuah tepukan pelan mendarat di bahu kanannya.

Naruto berbalik menatap wanita berumur sekitar hampir lima puluh tahunan yang sedang menatapnya lurus. "Kamu mau masuk ke dalam kuil?" tanya wanita berambut merah itu. Suaranya terdengar merdu di telinga Naruto.

"Ha'i," Naruto menjawab sambil mengangguk kecil.

Wanita itu tersenyum, lalu kembali bicara dengan sebelah alis terangkat. "Kamu sudah melakukan Temizu?"

"Temizu?" beo Naruto. Ia mengernyit tidak mengerti. "Temizu itu apa?" tanyanya.

"Sudah kuduga sebelumnya, kamu pasti besar di luar negeri. Benar, tidak?" tebak wanita itu tepat membuat Naruto kembali mengangguk singkat. "Temizu itu ritual sebelum masuk kuil suci," jelasnya.

"Souka?" sahut Naruto. "Jadi apa yang harus saya lakukan?"

"Kemari!" kata wanita itu membawa Naruto ke sebuah penampungan air sederhana. "Basuh telapak tangan kirimu dengan air lalu telapak tangan kanan. Setelah itu basuh mulutmu dengan tangan kiri dan berkumurlah."

"Itu saja?"

"Itu saja," sahut wanita itu.

"Ok," tukas Naruto yang dengan segera melakukan apa yang diperintahkan wanita asing di sampingnya. "Selesai," kata Naruto riang setelah selesai melakukan ritual. Wanita di sampingnya tersenyum lau mencubit kedua pipi Naruto dengan gemas.

"Sakit, Nyonya!" protes Naruto kesakitan.

"Gomen," seru wanita itu yang dengan segera melepas cubitannya. "Kamu benar-benar menggemaskan," ia menutup mulutnya dengan tangan kanan untuk menutupi kekehannya. "Ngomong-ngomong, namaku Uzumaki Kushina. Siapa namamu?" tanyanya sambil menyodorkan tangan kanannya.

Naruto menyambut uluran tangan itu dan menjawab sopan. "Senju Naruto desu."

"Na-Naruto?" beo Kushina tergagap. Tubuhnya membeku seketika saat nama itu keluar dari mulut anak gadis di hadapannya.

Naruto berdecak, salah mengerti akan reaksi Kushina. "Saya tahu jika nama saya terdengar aneh," katanya. "Tapi, ekspresi anda terlalu berlebihan Uzumaki-san." Kata Naruto protes.

"Gomen," kata Kushina sedikit kikuk. "Aku sama sekali tidak menyangka jika gadis semanis dirimu memiliki nama yang cukup unik." Lanjutnya dengan senyum sedih.

"Lebih tepat jika dikatakan aneh," sahut Naruto merengut sebal tanpa sadar akan perubahan raut wajah Kushina.

Wanita itu menggeleng lemah. "Tidak, namamu tidak aneh." Kushina menatap sendu, suaranya terdengar bergetar sementara tangannya mengusap rambut pirang Naruto dengan rasa sayang. "Namamu, mengingatkanku pada puteraku. "

"Benarkah?" tanya Naruto dengan mata berbinar. "Putera nyonya memiliki nama yang sama denganku?"

"Ya," jawab Kushina pendek.

"Woah, kebetulan sekali." Ujar Naruto senang. "Apa sekarang dia ikut? Saya ingin tahu bagaimana perasaanya karena memiliki nama Naruto."

"Dia tidak ikut," sahut Kushina pelan. "Puteraku meninggal dunia saat dilahirkan."

Naruto terkesiap kaget mendengarnya, senyumnya hilang seketika. Ia menatap lurus kedua bola mata Kushina yang terlihat sedih, tidak ada kebohongan di dalamnya. "Gomen," kata Naruto lirih simpati.

"Tidak apa-apa," kata Kushina kembali bersikap riang walau terlihat sekali jika dipaksakan. "Ayo kita ke kuil, disana kamu bisa menuliskan permohonanmu pada Ema-"

"Saya tahu apa itu," potong Naruto. "Bukankah itu papan kayu untuk menuliskan permohonan."

"Benar," kata Kushina lembut. Kushina membawa Naruto kembali ke arah kuil. Mereka mengatupkan kedua telapak tangan dan mulai berdoa di dalamnya. Setelah selesai, mereka pun menuliskan permohonan lain pada ema.

"Mengharap mendapat jodoh, huh?" goda Kushina membuat tangan Naruto yang sedang menulis terhenti di udara.

"Bu-bukan, saya tidak akan meminta itu. Saya masih terlalu muda untuk itu." Sanggah Naruto cepat dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya. Kepalanya tertunduk dalam saat dia kembali menuliskan permohonannya, setelah selesai ia pun menggantung ema miliknya.

"Semoga baa-chan, baka nii-chan dan si Teme selalu bahagia, sehat dan panjang umur?" kata Kushina membaca permohonan Naruto. "Hanya itu saja keinginanmu? Lalu bagaimana denganmu?" tanya Kushina.

Naruto tersenyum menatap ema miliknya. "Mereka adalah orang-orang yang berarti untukku, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku."

"Lalu, bagaimana dengan orang tuamu? Kamu tidak mendoakan mereka juga?"

"Saya yatim piatu," jawab Naruto parau namun wajahnya masih terlihat ceria.

"Begitu," kata Kushina mengangguk mengerti. Ia kembali memperhatikan gadis di sampingnya. Hatinya terasa hangat saat dia berada di dekatnya. Seolah-olah gadis ini merupakan bagian dari dirinya yang telah lama hilang dan kembali pulang. 'Ada apa denganku?' pikir Kushina tidak mengerti.

"Nyonya, anda melamun lagi." Keluh Naruto. "Anda akan cepat tua jika terlalu banyak melamun." Kata Naruto dengan mimik serius membuat Kushina tergelak dibuatnya.

"Benarkah?" tanya Kushina tak percaya.

"Tsunade baa-chan yang mengatakannya padaku, jadi pasti benar." Ujar Naruto berapi-api.

Kushina tergelak, tertawa melihat ekspresi wajah Naruto yang ekspresif. "Wakatta, wakatta." Katanya berulang dengan tawa renyah. "Kalau begitu aku tidak akan banyak melamun lagi. Bisa bahaya jika keriput di wajahku bertambah banyak," lanjutnya dengan mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Ngomong-ngomong, jangan memanggilku 'Nyonya'. Panggil saja aku 'Ba-san', mengerti?"

"Ok, ok..." seru Naruto cempreng masih dengan cengiran lebar.

"Jadi, setelah ini kamu mau kemana?" tanya Kushina setelah tawanya berhenti.

Naruto mengangkat bahu. "Tidak tahu, mungkin pulang." Jawabnya tidak bersemangat.

"Sayang sekali, padahal kalau kamu mau, ba-san bisa mengantarmu untuk berkeliling."

"Benarkah?" tanya Naruto menggenggam tangan Kushina erat. "Anda benar bersedia mengantarku?" tanyanya lagi sementara Kushina mengangguk. "Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita pergi." Serunya sambil mengacungkan sebelah tangannya ke udara. Kushina mengacak poni gadis itu hingga kusut, Naruto bahkan tidak protes karenanya. Ia malah mengalungkan tangannya pada tangan kanan Kushina, bergelayut manja. Kushina pun sama sekali tidak keberatan, wanita itu tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia, hari ini dia benar-benar merasa hidup.

"Sekarang kita akan menuju kuil Hasedera," kata Kushina. "Disana kita bisa melihat pemandangan laut dan kota Kamakura dari atas bukit." Jelasnya lagi dengan langkah ringan.

Naruto berbalik menghadap Kushina dan berjalan mundur. "Apa disana kita bisa membeli cindera mata?"

"Kamu mau membeli oleh-oleh?" tanya Kushina melirik sekilas ke Naruto yang sudah kembali berjalan di sampingnya.

"Ha'i, saya ingin membelikan oleh-oleh untuk orang rumah." Terang Naruto.

"Di Hasedera banyak toko oleh-oleh dan toko cemilan," terang Kushina. "Di sana kita juga bisa menikmati cemilan gratis," Kushina mengedipkan sebelah matanya penuh arti, membuat Naruto tersenyum senang.

"Aku suka makanan gratis," sahutnya antusias dengan wajah berbinar gembira.

Kushina tidak mengerti kenapa dirinya seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata dari gadis pirang ini. Sejak matanya menangkap sosok Naruto, secara otomatis tubuhnya bergerak dan ingin berinteraksi dengan gadis pirang ini. 'Tidak biasanya aku seperti ini,' pikir Kushina. Ia menyukai senyum, suara dan segala sesuatu dari gadis ini. Ingin rasanya ia memeluk erat Naruto, 'mungkin karena nama gadis ini sama dengan puteraku.' Putus Kushina kemudian di dalam hati, mengakhiri pertanyaan-pertanyaan dihatinya saat ini.

.

.

Sementara itu, suasana kelas Sasuke sudah agak sepi siang ini. Karena sebagian besar murid sudah meluncur ke kantin sekolah untuk makan siang. Hanya beberapa murid saja yang masih bertahan disana, termasuk Sasuke cs.

Sasuke menatap datar layar telepon genggamnya yang dia letakkan begitu saja di atas meja. Sudah hampir sepuluh menit yang lalu dia mengirim email pada Naruto, tapi gadis itu masih belum juga membalasnya. Ia juga beberapa kali menghubunginya, namun tidak ada jawaban juga.

'Kemana dia? Apa dia tidur siang?' tanya Sasuke dalam hati mulai tidak sabar. Sasuke kembali memfokuskan diri pada buku di genggamannya. Walau sesekali matanya masih melirik ke arah telepon genggamnya.

"Kamu menunggu telepon dari seseorang?" tanya Gaara yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik temannya itu.

"Hn," sahut Sasuke pendek.

Gaara mengernyit, dalam hati bertanya siapa orang yang sedang ditunggu oleh Sasuke ini. "Wanita?" pancing Gaara tenang.

"Hn," Sasuke kembali menjawab tanpa sadar jika dia sudah masuk ke dalam jebakan Gaara.

"Cantik?" pancing Gaara lagi. Shikamaru, Neji dan Kiba yang ikut curi dengar nampak tertarik akan jawaban Sasuke setelahnya.

"Hn," jawab Sasuke lagi datar. Kedua bola mata Kiba membulat sempurna karenanya. Ia kemudian melirik ke arah Neji dan Shikamaru yang juga ternyata berekspresi sama dengannya.

"Hanya teman biasa," kata Sasuke pada Gaara setelah sadar akan apa yang tadi dikatakannya.

Gaara mengangkat bahunya cuek dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku tidak tanya hubungan kalian," kata Gaara santai. Sasuke mengumpat dalam hati, maksud hati ingin terbebas dari jebakan namun yang terjadi malah sebaliknya.

"Kalian tidak lapar?" tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan. Dia menutup buku ditangannya dan menyimpannya ke dalam tas. "Ke kantin?" katanya lagi yang langsung beranjak pergi.

"Dia mengalihkan pembicaraan," ujar Kiba kecewa setelah Sasuke pergi. "Aku penasaran pada wanita itu."

"Kamu pikir hanya kamu yang begitu? Kita juga penasaran gila." Sahut Neji menggerutu. "Sayangnya kita tidak akan bisa memaksa Sasuke untuk bicara jujur."

"Cepat atau lambat kita pasti tahu juga," kata Shikamaru. "Dia tidak akan bisa menyembunyikan identitas wanita itu selamanya, bukan begitu?" katanya lagi tersenyun misterius.

"Yah," Gaara mengangguk setuju. "Ayo ke kantin, aku juga lapar." Ia berdiri dan menyeret Shikamaru serta bersamanya.

"Aku juga lapar," tukas Kiba mengelus perutnya.

Neji berdecak dan mengerlingkan mata. "Kamu baru saja menghabiskan tiga buah kotak bento milik Sasuke dan kamu masih lapar?" tanyanya tak percaya.

"Bento itu dibuat untuk Sasuke, bukan untukku." Jelas Kiba. "Jika bento itu dibuat sepenuh hati untukku, pasti aku sudah merasa kenyang saat ini."

"Alasan yang tidak masuk akal," kata Neji dengan menyipit tajam pada Kiba. Sedangkan yang ditatap hanya tertawa lebar dan beranjak pergi.

Di kantin, Sasuke mengunyah pelan makanannya. Tangan kirinya masih menggenggam telepon genggam miliknya. Sasuke meletakkan sumpit yang dipegangnya di atas mangkuk saat telepon genggamnya bergetar menandakan ada telepon masuk.

"Hn," balas Sasuke datar berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini. "Kamu tahu berapa kali aku meneleponmu?" tanyanya masih dengan nada datar.

"Gomen, Sasuke." Sahut Naruto pendek. "Ada apa?" tanyanya polos.

Sasuke mengernyit saat mendengar suara ramai di belakang Naruto. "Kamu dimana?" tanyanya kini penuh penekanan.

"Hasedera," jawab Naruto. Sasuke bisa mendengar saat gadis itu tertawa pelan di seberang sana.

"Hasedera?" beo Sasuke dengan nada satu oktaf lebih tinggi membuat tiga buah kepala lain mendongak ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan di Hasadera?" tanya Sasuke lagi gemas.

"Tidur," jawab Naruto dengan cueknya. Kedua bola matanya diputar kesal, Sasuke bahkan bisa mendengar dengusan gadis itu.

"Naruto?"

"Jalan-jalan, Teme!" jawab Naruto cepat dengan kesal. "Berkeliling Kamakura. Sekarang aku sibuk, jaa." Tambahnya lalu memutus hubungan telepon mereka.

Sasuke menggeram dan melotot ke arah telepon genggamnya dan kembali menghubungi Naruto. "Aku belum selesai bicara!" katanya dengan nada dingin dan mengancam saat Naruto mengangkat telepon. "Jangan coba-coba menutup teleponmu!"

Suasana kantin yang ramai mendadak hening mendengar suara menakutkan Sasuke. Bahkan Ino dan Sakura yang sedang adu mulut saja berhasil dibuat bungkam karenanya. "Kamu pergi sendiri?" gigi Sasuke gemertuk menahan emosi.

"Teme, kamu marah?" tanya Naruto pelan setelah mendengar perubahan suara pada pemuda itu. "Maaf," katanya lagi berupa gumaman.

Sasuke meghela napas panjang dan memijit tengkuknya pelan. Ia mengatur napasnya untuk meredakan emosinya saat ini. "Aku tidak marah, hanya sedikit kesal." Ujar Sasuke dengan nada lembut. Suasana di kantin kembali ribut mendengar ucapan Sasuke, mereka seolah tidak percaya dengan pendengaran mereka saat ini. "Sasuke-kun?" bisik Ino dan Sakura tak percaya. Mereka kembali memasang telinganya untuk mencuri dengar percakapan Sasuke.

"Kupingku pasti bermasalah," kata Kiba pelan.

"Ssttt!" ujar Neji meletakkan telunjuk kanannya di depan mulut. Kiba mengatupkan mulutnya rapat dan mengangguk mengerti.

"Jangan khawatir," kata Naruto kemudian. "Aku ditemani ba-san baik hati saat ini. Beliau akan menemaniku berkeliling Kamakura untuk seharian ini."

"Ba-san?" Sasuke kembali mengernyit. "Kamu mengenalnya?"

"Aku baru mengenalnya tadi," jawab Naruto polos. "Jangan khawatir, dia orang baik."

"Bagaimana bisa kamu mengatakan seseorang itu baik, padahal kau baru pertama kali bertemu?" tanya Sasuke kembali menahan emosi. Mulutnya terkatup erat, sekuat tenaga mengatur nada suaranya agar terdengar senormal mungkin.

"Sinar matanya sama seperti mu, Teme." Sahut Naruto dengan senyum kecil. "Hatiku merasa aman saat aku melihat kedua matanya, sama seperti saat aku melihatmu untuk pertama kali."

Sasuke kembali melepas napasnya yang tertahan, kedua matanya tertutup rapat. "Kamu benar-benar polos, Dobe." Ucapnya pelan, ia memilih untuk mengalah saat ini. "Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Kabari aku juga jika kamu sudah pulang, mengerti?"

"Ha'i, wakatta. Aku pasti meneleponmu." Balas Naruto mantap. "Jaa matta, Sasuke."

"Jaa," sahut Sasuke lagi berupa gumaman pelan.

"Kemana?" tanya Shikamaru saat melihat Sasuke membereskan piring makannya.

"Ke kelas," jawab Sasuke pendek. Ia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri.

"Makananmu masih banyak," sahut Gaara padahal makanan yang ada di piringnya sendiri masih belum tersentuh olehnya.

"Hn," Sasuke nampak tidak ambil peduli. Ia pun berbalik dan meninggalkan ketiga temannya yang lain dibelakang.

"Cinta seringkali membuat hilang napsu makan," kata Kiba tiba-tiba. "Itu benar," katanya ngotot walau mendapat decakan dari ketiga temannya yang lain. "Aku yakin, Sasuke sedang jatuh cinta." Tambahnya membuat Neji terbatuk keras sedangkan Shikamaru tersedak karena kaget. Hanya Gaara yang masih terlihat tenang menanggapi ucapan Kiba barusan.

.

.

"Ada masalah?" tanya Kushina pada Naruto. Gadis itu menggeleng cepat dan menyunggingkan senyum lebar hingga membuat mulutnya sakit. "Kukira ada masalah," ujar Kushina. "Ayo kita ke kuil Hasedera, kita bisa kembali berdoa disana."

Tanpa sadar, Naruto bergerak maju menerima uluran tangan wanita itu. Layaknya seorang anak, dia bergelayut manja, berbagi tawa tanpa merasa canggung. Kushina yang diperlakuan seperti itu oleh Naruto nampak gembira dan merasa ada ikatan aneh yang mengikat keduanya. 'Mungkin benang takdir yang mengikat kami,' kata Kushina dalam hati.

Naruto tidak mengerti, tadi Kushina berdoa di kuil Shinto, lalu sekarang wanita ini berdoa di kuil Buddha. 'Apa tidak masalah?' pikir Naruto memiringkan kepala dan mengernyit menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya dengan mata terpejam dan kedua tangan terkatup di depan dada.

"Kamu tidak berdoa?" tanya Kushina masih dengan kedua mata terpejam.

"Sejujurnya, saya bukan penganut Shinto maupun Buddha." Jawab Naruto. Kushina mengangguk pelan dan membuka kedua matanya. Sekilas dia melirik ke arah Naruto dan tersenyum kecil. Dia mengecup kening Naruto lembut, membuat gadis itu terbelalak kaget karenanya. "Ayo, ba-san ingin menggantung harapan di papan permohonan." Kata Kushina sambil menarik pergelangan tangan kanan gadis itu.

Naruto hanya menurut dan mengikuti langkah wanita di depannya. Lalu saat Kushina sibuk menuliskan permohonannya, Naruto menggunakan kesempatan itu untuk melihat apa saja permohonan yang diinginkan oleh para pengunjung.

"Ba-san?" panggil Naruto tanpa berkedip dari salah satu papan permohonan yang sedang dibacanya.

"Hmmm..."

"Papan permohonan ini dipenuhi permohonan dalam bahasa asing," lapor Naruto.

"Kuil ini dikunjungi orang-orang dari segala penjuru dunia, jadi wajar saja jika papan permohonannya dipenuhi oleh bahasa asing." Terang Kushina. Ia ikut menggantung papan permohonannya disana.

"Ehhhh..." seru Naruto kaget dan berbalik menghadap Kushina yang masih memandang Ema miliknya. "Anda membuat permohonan untukku?"

"Kenapa, apa kamu tidak suka?"

"Anda bercanda?" kata Naruto dengan mulut menganga lebar, tak percaya. "Saya sangat senang, benar-benar senang." Katanya dengan raut wajah begitu gembira. Naruto kembali berbalik menghadap papan permohonan dan untuk kesekian kalinya ia membaca tulisan pada ema milik Kushina. 'Semoga Senju Naruto selalu bahagia.'

.

.

Menjelang malam Naruto tiba di rumah. Perasaannya mendadak hampa, kegembiraan yang dirasakannya nanti seolah menguap. 'Aku tidak akan bertemu ba-san lagi,' pikirnya sedih. Ia merutuki kebodohan dirinya yang tidak meminta nomor telepon genggam wanita itu. Naruto meraih telepon genggam miliknya, membuka folder photo yag menyimpan hasil jepretannya siang tadi. Mata Naruto nanar saat melihat satu-satunya photo dirinya dan Kushina disana.

Ia melempar telepon genggamnya ke samping tempat tidur. Mendadak tangisnya pecah. Ia menagis karena setelah hari ini ia tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi. Ia menangis karena ia mulai merindukan wanita itu. Ia menangis karena ingin memeluk wanita itu. Damn... ia menangis karena ia ingin menangis sekarang. Naruto terus menangis hingga air mataya kering dan akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang datang menyerangnya.

Dilain tempat, Kushina berjalan tergesa menuju salah satu ruang VVIP di Rumah Sakit Konoha. Ia mendapat telepon dari rumah sakit jika ibunya terkena serangan jantung sore tadi. Ia membuka pintu kamar inap Mito dan perlahan masuk ke dalamnya. "Kaa-san?" panggil Kushina pelan, bergerak menuju tempat tidur Mito.

"Kamu datang?" tanya Mito lemah.

"Bagaimana keadaan kaa-san?" tanya Kushina lagi menggenggam lembut tangan keriput Mito.

Mito menelan ludah dengan susah payah dan menjawab pelan. "Aku baik-baik saja," katanya. "Darimana?"

"Jalan-jalan," jawab Kushina pendek.

"Jangan pergi seorang diri," tegur Mito dengan sorot mata khawatir.

Kushina menggelengkan kepala pelan dan menjawab dengan suara rapuh. "Aku tidak gila, kaa-san. Pengkhianatan Minato dan kematian puteraku tidak akan membuatku gila. Aku harus kuat demi Kyuu, kaa-san tahu itu."

Mito memalingkan wajah mendengar jawaban Kushina. Sesaat sorot matanya terlihat sedih, ia mengerjapkan mata, menahan air mata yang menganak sungai di pelupuk matanya.

Kushina menatap kosong keluar jendela kamar saat Mito sudah tertidur. Ia memukul pelan dadanya yang mendadak sesak saat bayangan Naruto melintas di pikirannya. "Kenapa sesak sekali?" tanya Kushina pedih. Sore tadi karena gugup mendengar kabar mengenai Mito, Kushina akhirnya berpisah dengan Naruto tanpa sempat bertanya dimana gadis itu tinggal dan berapa nomor telepon genggamnya. Hal itu menjadi penyesalannya terbesarnya saat ini.

Dia kembali memejamkan mata, teringat saat Naruto menarik tangannya ke sebuah cafe modern yang pada saat itu memutar sebuah lagu yang berjudul 'Nella Fantasia'. Gadis itu hanya berdiri disana, bergeming meresapi alunan lagu yang sedang dimainkan.

"Saya sangat menyukai lagu ini," kata Naruto masih dengan mata terpejam. Samar, Kushina bisa mendengar gadis itu bernyanyi lirih.

Nella fantasia io vedo un mondo giusto,

Lì tutti vivono in pace e in onestà.

Io sogno d'anime che sono sempre libere,

Come le nuvole che volano,

Pien' d'umanità in fondo all'anima.

"Mengapa kamu menyukai lagu ini?" tanya Kushina. Beberapa kali dia pernah mendengar lagu ini namun tidak benar-benar menghayatinya karena ia tidak pernah tahu apa arti dari lagu berbahasa Italia itu.

Naruto membuka mata dan melirik ke arah Kushina, menatap langsung mata wanita itu. "Lagu ini menceritakan tentang impian mendapat kehangatan, kedamaian dan kebahagiaan hidup." Terang Naruto begitu tenang, Kushina sendiri kaget saat melihat raut wajah polos Naruto berubah menjadi terlihat dewasa saat ini dan gadis itu pun kembali memejamkan mata, menikmati alunan lagu hingga melodi terakhir.

Setelah itu mereka kembali berjalan, sedkit berbincang mengenai kehidupan gadis itu. Kushina hanya tahu jika gadis itu ingin menjadi penari ballet professional karenanya ia tidak memiliki banyak teman. Nenek gadis itu berprofesi sebagai dokter sedangkan kakak sepupu laki-lakinya senang keliling dunia untuk berpetualang. "Kenapa aku tidak bertanya hal yang lebih bersifa pribadi lagi?" keluhnya. "Seharusnya aku tanya dimana dia sekolah, dimana dia tinggal, apakah dia ke Jepang untuk liburan atau untuk menetap tinggal? Kenapa aku bodoh sekali?" bisik Kushina kesal akan kebodohannya.

Kushina mengambil napas panjang setelahnya. Kemudian ia menatap sedih langit malam musim panas yang gelap. Bintang-bintang tidak terlihat, mungkin sinarnya berhasil dikalahkan oleh gemerlap lampu kota ini. Telinganya mendengar sayup suara ambulance di kejauhan lalu kemudian kembali hilang. Suasana kembali sunyi sepi layaknya perasaan Kushina saat ini.

.

.

Sasuke meletakkan kasar piring-piring serta barang lain yang baru saja di cucinya ke dalam mesin pengering. Sudah hampir tiga jam dia bekerja di belakang layar. Jangan salahkan Obito yang denga tega memindahkannya ke belakang malam ini. Aura gelap yang dikeluarkan Sasuke sudah tidak bisa ditolerir. Bahkan beberapa pelanggan wanita ada yang kabur melihatnya.

"Ada apa denganmu?" tanya Obito pada akhirnya. Dia berkewajiban untuk mencari tahu masalah yang mengganggu keponakan sekaligus pekerjanya ini. "Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini," katanya lagi tenang dengan kedua tangan dilipat di depan dada.

Sasuke membuka sarung tangan untuk mencuci yang dipakainya dan berbalik menghadap Obito. Tubuhnya menyandar santai pada meja dibelakangnya. "Maaf, aku agak stres." Jawab Sasuke kaku.

"Stres?" beo Obito sambil mengerutkan dahi.

"Hn," jawab Sasuke tidak jelas. Mustahil jika dia mengatakan alasan yang sebenarnya pada pamannya ini. Penyebab sikapnya saat ini adalah Naruto. Hingga saat ini gadis itu masih belum memberinya kabar, telepon genggamnya pun tidak aktif. Ia sudah menghubungi telepon rumah tapi hasilnya nihil, tidak ada yang menjawab panggilannya. Jadi bagaimana Sasuke tidak cemas karenanya? Gadis itu sangat polos dan lugu, dia sangat mudah untuk dibodohi. Contoh nyatanya, Danzo tua itu berhasil menipunya mentah-mentah.

"Sasuke? Sasuke?" panggil Obito agak keras. "Kau dengar apa yang paman katakan tadi?"

"Hn, aku dengar." Jawab Sasuke bohong, bagaimana dia bisa mendengar apa yang dikatakan Obito jika sedari tadi dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Wajahmu itu seperti awan gelap," omel Obito. "Kau dengar? Seperti awan gelap. Jika terus seperti ini, aku tidak bisa menempatkanmu dibagian pelayanan."

Sasuke memindahkan tangannya ke kening, ia memijit keningnya yang berkedut sakit. "Maaf, tidak akan terjadi lagi."

Obito menaikkan kedua alisnya, tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh Sasuke, namun Sasuke segera menepisnya dengan cepat. "Kamu sakit?"

"Hn."

"Kalau begitu lebih baik kamu pulang," kata Obito. "Ayo, aku antar kamu pulang." Tawar Obito, wajahnya terlihat cemas.

"Aku bisa pulang sendiri," ujar Sasuke. "Jangan katakan pada siapapun tentang keadaanku!"

"Setidaknya aku harus memberitahu kondisimu pada ayahmu, Sas." kata Obito.

"Tidak," kata Sasuke tegas. "Aku hanya perlu istirahat, itu saja."

"Baiklah," balasnya dengan helaan napas pendek. "Setidaknya ambil uang ini," Obito mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet dan menyerahkannya pada Sasuke. "Naik taksi, dan istirahatlah. Besok kamu tidak perlu bekerja jika masih tidak enak badan." Tambahnya pengertian.

Sasuke mengulurkan tangan, menerima pemberian itu. Ia mengangguk sambil membuka celemek berwarna hitam yang masih dikenakannya. "Arigatou," katanya pelan.

"Hati-hati dijalan," balas Obito masih dengan raut cemas.

.

.

Udara dingin dari Ac mobil nampaknya mampu menenangkan emosi Sasuke untuk sementara. Ia mengikuti saran Obito,ia menggunakan taksi ke rumah. Selain lebih cepat, tph dia tidak perlu merogoh sakunya sendiri karena Obito sudah memberinya ongkos pulang.

Dengan langkah panjang dia menuju apartemennya. Suasana sepi menyambutnya malam ini. Dia melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul sembilan malam. Ragu, dia membuka pintu kamar tidur. Napas yang sejak tadi ditahannya akhirnya terlepas lega setelah melihat sosok Naruto meringkuk di atas tempat tidurnya saat ini.

Wajah Sasuke mengeras saat dia ingat akan perbuatan Naruto yag sudah membuatnya cemas. Dia bergerak maju, berdiri di samping tempat tidur dengan aura gelap. Tangannya sudah terulur untuk membangunkan Naruto, namun ia kembali menarik uluran tangannya saat melihat jejak air mata di wajah Naruto. "Ada apa dengannya?" tanya Sasuke berupa gumaman.

Sasuke akhirnya memutuskan untuk menginterogasi Naruto besok. Lagipula Naruto baik-baik saja, dia hatinya kembali tenang setelahnya. Sasuke melirik sekilas ke arah Naruto saat ia mendengar gadis itu terisak kecil di dalam tidurnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

.

.

.

Keesokan harinya Naruto terbangun dengan mata bengkak. Wajahnya terlihat sangat kacau. Ia mengucek matanya pelan, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya agar dia terbangun sepenuhnya, naun hal yang dilakukannya sama sekali tidak berhasil, matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Jam di atas meja belajar Sasuke menunjukkan pukul delapan pagi. Ini kali pertama dalam hidupnya dia bangun begitu terlambat.

Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Naruto menggosok gigi dengan keadaan mata setengah terpejam, perlahan ia membuka matanya. Naruto berteriak keras saat melihat pantulan dirinya di cermin. Sasuke yang mendengar teriakan itu segera berlari menuju kamar dan mencari keberadaan Naruto di dalam kamar mandi.

"Nande?" tanya Sasuke khawatir. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan napas cepat.

"Di-dia siapa?" tanya Naruto terbata sambil menunjuk ke arah pantulan dirinya di cermin.

"Maksudmu apa?" Sasuke balik bertanya dengan kedua alis diangkat.

"Siapa wanita jelek itu?" tanya Naruto lagi dengan nada sau oktaf lebih tinggi.

"Kamu," jawab Sasuke datar. Ia baru saja mengerti akan apa yang dimaksud oleh Naruto.

"Arghhhh!" teriak Naruto membuat Sasuke menutup telinga dengan kedua tangannya.

"Berisik, Dobe." Tegur Sasuke.

"Pergi! Keluar dari sini! Kamu tidak boleh melihatku seperti ini!" teriak Naruto sambil mendorong punggung Sasuke agat keluar dari dalam kamar mandi. Gadis itu membanting pintu keras setelah Sasuke keluar. Ia menjambak rambutnya sendiri sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Ya, Tuhan. Aku benar-benar kacau," keluhnya sebal. "Ini sangat memalukan!" teriaknya tertahan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Suasana meja makan begitu hening pagi ini, sesekali Naruto mencuri pandang pada Sasuke lewat bulu matanya yang lentik. Sasuke melahap sarapannya tenang, pagi ini dia menyiapkan sarapan ala Jepang komplit.

"Bagaimana jalan-jalanmu kemarin?" tanya Sasuke membuka pembicaraan. Matanya masih tidak terarah pada gadis di depannya. Dengan tenang dia mencomot daging ikan bakar dan memasukkanya ke dalam mulut lalu mengunyahnya pelan.

"Menyenangkan," jawab Naruto dengan senyum dipaksakan.

Sasuke menangkap nada suara Naruto yang bergetar, ia mendongakkan kepala dan menatap Naruto dengan sebelah alis terangkat. "Apa terjadi sesuatu?" selidiknya tajam.

Pertanyaan Sasuke membuat gadis itu teringat kembali akan Kushina. Hal itu tiba-tiba membuatnya kembali sedih dan muram. "Naruto?" panggil Sasuke saat gadis itu hanya menunduk, terdiam seribu bahasa. "Ada apa?" tanya Sasuke lagi dengan nada lebih lembut.

Naruto menyeka air mata yang menetes cepat di sudut matanya. "Entahlah, Sasuke. Aku juga tidak mengerti." Katanya parau. "Ba-san itu mengingatkanku akan sosok kaa-san yang tidak pernah aku miliki." Jelasnya. "Dia membuatku berpikir, mungkin ini rasanya dicintai seorang ibu. Aku benar-benar aneh," ujar Naruto tersenyum tipis. Suaranya kembali bergetar, kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuannya.

"Itu yang membuatmu menangis tadi malam?"

Naruto mengangguk. "Oh ya ampun, kamu melihatnya? Aku benar-benar aneh. Iyakan, Sasuke?"

"Tidak juga," kata Sasuke ringan. "Mau berkeliling Tokyo?" tawar Sasuke kemudian mencoba mengembalikan mood gadis itu.

"Kamu mau membawaku keliling Tokyo?" Naruto balik bertanya dengan nada tak percaya.

"Hn."

"Kapan? Apa hari ini?" tanya Naruto lagi begitu antusias.

"Hn." Sasuke menjawab pendek membuat suasana kembali hening untuk beberapa saat.

"Sasuke, kenapa kamu tiba-tiba mengajakku kencan?" tanya Naruto dengan nada datar.

"Ini tidak tiba-tiba dan ini bukan kencan," sahut Sasuke terdengar datar. "Aku memang sudah berniat untuk membawamu keliling Tokyo," kata Sasuke lagi. Andai saja Sasuke itu Pinokio, hidungnya pasti sudah begitu panjang saat ini.

"Baiklah," ujar Naruto tidak ambil pusing. "Jam berapa kita pergi?"

"Jam sebelas," kata Sasuke pendek.

"Ok," sahut Naruto, tersenyum. "Ngomong-ngomong, hari ini kamu tidak kerja?"

"Libur."

"Oh..."

"Jangan banyak bicara, cepat habiskan sarapanmu!" kata Sasuke tegas sedangkan Naruto hanya kembali mengulas senyum dan mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut dengan santai.

.

.

.

Sasuke mengenakan kaos oblong warna putih dengan celana jeans warna dark blue, sepatu kets membuatnya terlihat begitu santai siang ini. Sementara itu, Naruto pun berpakaian casual dengan mengenakan kaos tipis tanpa lengan berwarna soft yellow dan celana pendek diatas lutut dengan flat shoes berwarna senada dengan warna kaosnya. Rambutnya dia ikat ekor kuda, lagi-lagi dia hanya mengenakan make up tipis siang ini.

Tempat pertama yang didatangi mereka adalah Asakusa. Mereka hanya berkeliling sebentar, terlalu banyak orang, kata Sasuke. Namanya juga tempat wisata, keluh Naruto namun gadis itu hanya menurut dan mengikuti langkah Sasuke.

Sasuke membelikan taiyaki alias roti ikan untuk Naruto di Nakamise Street. Tempat ini merupakan pusat oleh-oleh. Naruto lalu menarik tangan Sasuke untuk membeli oleh-oleh. "Kawai," seru Naruto sambil berjongkok di salah satu stand penjual oleh-oleh. "Ini lucu sekali," katanya lagi tanpa berkedip menatap gantungan kunci berbentuk rubah dan kucing di tangannya. "Ji-san, saya beli ini. Berapa harganya?"

"Delapan ratus yen," kata pedagang itu. Naruto segera mengeluarkan uang dari dalam dompet dan membayar pedagang itu lalu dengan bangga memamerkannya pada Sasuke.

"Kamu membayarnya terlalu mahal," kata Sasuke setelah keduanya pergi dari stand itu.

"Benarkah?" tanya Naruto dengan wajah terkejut.

"Dengan harga segitu kita bisa berkeliling menggunakan becak."

Naruto mengerutkan dahi dan memukul pelan tangan Sasuke. "Kenapa tidak bilang dari awal?"

"Kamu tidak tanya," sahut Sasuke cuek membuat Naruto menggembungkan pipi dan melirik pemuda itu tajam.

Setelah dari sana, mereka pun menuju Shibuya. Naruto mengenggam tangan Sasuke saat keduanya ikut dalam lautan manusia untuk menyebrang. Jantung Sasuke berdebar kencang, hingga ia bisa mendengar gemanya di telinganya. Genggaman tangan Naruto semakin erat saat keduanya berjalan bersama ribuan orang lainnya untuk menyebrang jalan.

Naruto tidak habis pikir, walau semua orang berjalan dengan tergesa namun tidak ada yang menubruk satu sama lain. Mengagumkan, pikir Naruto.

Sasuke harus merasakan kecewa saat Naruto melepas genggaman tangannya. Langit berubah mendung dan hujan pun turun tiba-tiba dengan derasnya. Pemuda itu kini menggenggam tangan Naruto dan membawanya berlari ditengah guyuran hujan untuk mencari tempat berteduh.

"Sudah aku bilang untuk membawa payung," desis Sasuke sambil mengelap tetesan air hujan di wajah Naruto dengan sapu tangan miliknya.

"Cuacanya sangat cerah, mana aku tahu jika akan turun hujan." Ujar Naruto membela diri. Ia mengibaskan tangannya yang basah dan merengut sebal.

Mereka berdua berdiri berdampingan, menatap air hujan yang turun semakin deras. "Sasuke?" panggil Naruto memecah kesunyian diantara keduanya.

"Hn."

"Kamu pernah melakukan hal gila tidak?" tanya Naruto masih menatap tetesan air hujan di depannya.

"Hal gila apa?" Sasuke balik bertanya dengan nada datar.

"Hal gila seperti ini," ujar Naruto menarik tangan Sasuke ke tengah guyuran air hujan. Naruto memutar tubuhnya dengan kedua tangan terbuka lebar. Kepalanya menengadah, menikmati tetesan air hujan yang mengguyur tubuhnya.

Sasuke tersenyum melihat tingkah Naruto. Gadis itu menari di bawah guyuran air hujan. Dan lagi untuk kesekian kali, jantungnya kembali berdebar kencang.

.

.

.

TBC

Review?