Maaf, baru bisa update. Selamat membaca ^-^

Disclaimer : Naruto belong Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance, Friendship, Youth, School, Family

Warning : Gender switch, OOC, OC, typos

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Here We Go...

14 Days With Mr. Stranger

Chapter 4 : Piggyback

By : Fuyutsuki Hikari

Sore ini hujan lebat kembali turun di langit Tokyo, memaksa Kimimaro untuk mencari tempat berlindung. Dia memutuskan masuk ke dalam sebuah cafe. Dia berdiri beberapa saat di depan pintu masuk, matanya berkeliling, mencari meja yang masih kosong.

Cafe milik Obito memang selalu ramai, tempat favorite remaja untuk bersantai. Cafe ini terkenal karena ketampanan pelayannya, jadi jangan heran jika sebagian besar pengunjung cafe merupakan remaja wanita.

Kimimaro tidak menduga jika dia akan mendapat kejutan yang tidak terduga di sana. Gadis berambut merah yang dikenalnya juga ada di dalam cafe ini. Pandangan mata mereka sempat bertemu untuk sesaat, sebelum gadis itu memalingkan muka dan kembali menatap teman bicaranya, seorang laki-laki berambut merah menyala.

Kimimaro beranjak, berjalan menuju sudut ruangan dekat jendela, duduk di meja kosong yang tersisa. Dia memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi serta sepotong tiramisu. Selepas kepergian pelayan, Kimimaro mengeluarkan laptop dari dalam tas punggungnya dan mengerjakan pekerjaan kantor untuk membuatnya sibuk.

Ia menatap datar layar laptopnya, kopi hitamnya sudah lama dingin, nyaris tak tersentuh, begitu juga dengan sepotong tiramisu yang dengan asal dia pesan, masih utuh di atas piring saji.

Seorang gadis muda mengenakan celana jeans dan kaos berwarna merah berjalan santai menghampiri meja Kimimaro. Wajahnya terlihat datar tanpa emosi saat dia bertanya pada pria muda di depannya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Kyuubi lalu duduk di sebuah kursi kosong di depan Kimimaro.

Kimimaro menutup laptop, tangan kanannya meraih cangkir kopinya yang dingin dan menyesapnya nikmat. "Baik," jawabnya singkat lalu meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja pelan. "Bagaimana kabarmu, juga kabar ibu dan nenekmu?" dia balik bertanya.

"Kaa-san sehat tapi baa-san masuk rumah sakit beberapa hari yang lalu. Penyakit jantungnya kambuh," jawab Kyuubi. Gadis itu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja untuk menutupi kegugupannya. Keduanya lalu terdiam, hanya saling menatap dengan ekspresi datar.

"Apa kalian berdua hanya akan saling menatap seperti itu?" Sasori menginterupsi, mengabaikan aura suram dari kedua orang itu. "Apa kabar senpai?" sapa Sasori ramah.

"Baik, bagaimana denganmu?"

"Aku juga baik," sahut Sasori. "Ngomong-ngomong apakah anda tidak akan memakan tiramisu itu?" tanya Sasori lancang. Telunjuknya menunjuk pada piring saji.

"Ambil saja," sahut Kimimaro menyodorkan tiramisu miliknya pada Sasori.

"Arigatou," tukas Sasori berbinar gembira. Ia tidak ambil peduli akan tatapan sinis Kyuubi padanya. Sasori mengambil piring berisi sepotong tiramisu milik Kimimaro dan kembali beranjak ke mejanya.

"Apa?" tanya Kimimaro saat Kyuubi menatapnya sinis. Ia kembali memasukkan laptopnya ke dalam tas.

"Jangan bersikap manis pada teman-temanku," desis Kyuubi merasa terganggu.

Kimimaro menghela napas berat dan menjawab datar. "Dia juga adik kelasku, bukan hanya temanmu. Aku kakak senior kalian, ingat?"

"Ck," Kyuubi berdecak keras dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan mengambil perhatian teman-temanku, aku tidak suka." Katanya kesal. "Kamu sudah mengambil tou-san dariku, apa kamu mau mencuri perhatian teman-temanku juga?"

Seketika gigi Kimimaro gemertuk keras menahan marah, matanya menyipit menatap tajam Kyuubi yang dengan berani balas melotot ke arahnya. "Andai saja ibumu tidak keras kepala, mungkin keluarga kita tetap utuh dan bahagia." Balasnya pedas.

Kyuubi tertawa mengejek lalu mendengus kasar. "Wanita mana yang mau menerima anak dari selingkuhan suaminya? Katakan padaku!"

Kimimaro mengepalkan tangan hingga memutih. Mulutnya terkatup rapat, menahannya untuk tidak berkata kasar pada adik tirinya ini. Pria muda itu menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan, mencoba untuk mengendalikan emosinya yang berkecamuk. "Apa yang kamu inginkan?"

"Kembalikan tou-san pada kami!" ujar Kyuubi pedas.

"Tou-san sudah meminta maaf pada ibumu, aku bahkan tidak mampu lagi untuk menghitung, berapa kali beliau meminta maaf. Tapi hati ibumu seperti batu, keras bagai karang. Seharusnya kamu bisa membujuk ibumu agar mau memaafkan tou-san."

"Kaa-san tidak mungkin menerima tou-san jika kamu masih bersamanya."

Kimimaro mendengus pelan dan menjawab santai. "Jadi, jika aku pergi, ibumu akan memaafkan tou-san dan menerimanya kembali?"

Kyuubi mengangkat bahu, "entahlah."

Kimimaro membungkukkan badan ke arahnya dan menjawab tepat di depan wajah Kyuubi. "Kamu harus pastikan hal itu terlebih dahulu. Jika kepergianku bisa membuat keluarga kita bahagia, maka aku akan pergi."

Mata Kyuubi berkilat mendengar ucapan Kimimaro, emosinya naik cepat, mulutnya terkatup rapat. Matanya terus menatap tajam, mengawasi gerak-gerik Kimimaro yang sekarang beranjak pergi setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar makanan yang dipesannya.

"Kalian bertengkar lagi?" tanya Sasori dengan mulut penuh. Matanya menatap punggung Kimimaro lewat kaca jendela. Kimimaro berlari di bawah guyuran hujan, menjauh pergi dari cafe. Sasori lalu duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Kimimaro.

"Begitulah." Kyuubi mengangkat bahu.

"Kenapa kamu selalu berkata ketus padanya?"

Kyuubi mengangkat bahu dan mengerjap melawan air mata yang tidak diundang. "Aku juga tidak tahu," jawabnya sedikit tercekat. "Pada awalnya aku ingin menyapanya ramah, tapi mulutku selalu berkata ketus dan akhirnya kami bertengkar."

Sasori berdeham, diletakkannya kembali tiramisu yang hendak dilahapnya ke atas piring. "Kimimaro senpai bukan orang yang jahat." Katanya memberikan jeda sesaat. "Setidaknya itu menurutku," Sasori memilih kata dengan hati-hati. "Bagaimana pun, kalian bersaudara. Bukan begitu?"

Kyuubi mengangguk pelan. Dirinya mengakui kebenaran ucapan Sasori. Memang benar, darah lebih kental dari air. Suka atau tidak, Kimimaro adalah kakak tirinya.

"Seharusnya kalian bekerja sama agar keluarga kalian kembali utuh."

Kyuubi menghela napas, dan tersenyum pahit. "Entahlah." Katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak yakin," lanjutnya. "Dulu, ibuku sedang hamil tua saat tahu tou-san memiliki putra dari wanita lain sebelum menikahinya. Dia begitu terpukul, stres, dan sering mengurung diri di dalam kamar. Dia sangat membenci tou-san, dan kecelakaan itupun terjadi. Kaa-san harus kehilangan bayinya. Aku kehilangan adik bayiku karena kecelakaan itu, dan kebencian kaa-san pada tou-san pun semakin berlipat-lipat." Terang Kyuubi panjang lebar.

"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal ini padaku?" tanya Itachi.

Kyuubi mendongak menatap Itachi yang berdiri menjulang di sampingnya. "Sejak kapan kamu berdiri di situ?"

"Cukup lama hingga aku tahu alasan kenapa kamu begitu membenci Kimimaro senpai." Jawab Itachi, ia berjalan pelan lalu duduk di samping Sasori.

Kyuubi mengambil cangkir kopi milik Kimimaro dan menyesapnya pelan. Pahit, air kopi itu terasa begitu pahit di lidahnya yang mendadak kelu. "Aku tidak membencinya." Jawabnya setelah terdiam beberapa saat.

Itachi mengangkat sebelah alisnya sementara Sasori menutup mulutnya rapat. "Sikapmu mengatakan hal sebaliknya." Tukas Itachi tajam.

Kyuubi mengernyitkan dahi dalam. "Aku terlalu keras kepala untuk menerimanya." Katanya dengan helaan napas panjang.

"Jangan sampai kamu menyesal, Kyuu." Ujar Itachi pelan, pandangannya menerawang jauh. "Dulu aku pun bersikap bodoh, dan hal itu pada akhirnya menjauhkanku dari Sasuke. Aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama denganku. Bagaimana pun juga dia kakakmu."

Kyuubi merenung dalam, hatinya kembali membenarkan perkataan Itachi dan Sasori. Tapi otaknya yang keras kepala masih menolak mengibarkan bendera putih untuk gencatan senjata. "Lalu, kenapa wajahmu begitu kusut?" tanya Kyuubi mengalihkan pembicaraan.

"Paman Obito bilang jika adikku sakit," jawab Itachi dengan pandangan kosong. Tatapannya melihat jauh keluar jendela.

"Kalau begitu, sebaiknya kamu pergi untuk melihat keadaannya." Kyuubi memberikan saran. Jarinya bermain-main di atas bibir cangkir kopi.

Itachi tersenyum kecil, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Aku takut," jawabnya lirih. "Aku takut jika Sasuke menolakku."

"Hah, kamu sama saja dengan Kyuubi." Sasori mendengus kasar. "Kamu sudah menyerah sebelum memulai. Kalian benar-benar pasangan aneh." Tambah Sasori berhasil menutup rapat mulut kedua temannya.

.

.

.

Langit sudah gelap saat Naruto dan Sasuke kembali ke apartemen dalam keadaan basah kuyup. Di luar hujan terus turun semakin deras tanpa permisi, membuat trotoar sepi suara pejalan kaki. Sasuke memaksa Naruto untuk mandi terlebih dahulu. "Kamu bisa demam," katanya pada gadis itu. Sementara Naruto mandi, Sasuke mengeringkan tubuhnya dengan haduk. Pemuda itu bersin beberapa kali, "hanya orang bodoh yang terkena flu karena hujan-hujanan." Ujarnya datar.

"Aku sudah selesai, cepat mandi." Kata Naruto yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian di dalam kamar mandi. "Kamu bisa terkena flu." Katanya lagi, dia mengambil tumpukan pakaian kotor miliknya dari dalam keranjang pakaian kotor.

Sasuke bangkit dari tempat tidur dan berjalan lunglai melewati Naruto, lalu masuk ke dalam kamar mandi. "Sasuke, kamu baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir saat mendengar suara bersin hingga beberapa kali dari dalam kamar mandi. "Sasuke?" panggil Naruto lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi, namun Sasuke masih tidak menjawabnya. "Jangan-jangan dia benar terkena flu?" Naruto menggigit bibir bawahnya dan mengernyit cemas. "Sebaiknya aku membuatkan sup untuknya." Gadis itu segera berbalik keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam dengan pakaian kotor menumpuk di tangannya.

Satu jam sudah berlalu sejak Sasuke masuk ke dalam kamar mandi. Dia sudah selesai masak dan mencuci. Naruto melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Apa Sasuke baik-baik saja?" gumam Naruto semakin khawatir.

Sup jamur yang dibuatnya mengepul di dalam mangkok, Naruto meletakkannya di atas meja dan beranjak menuju kamar tidur. "Sasuke?" ia mengetuk pintu kamar hingga beberapa kali. Hening. "Sasuke?" panggilnya lagi namun masih tidak ada jawaban.

Naruto memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar. Ternyata Sasuke sudah tertidur di atas tempat tidur. Gadis itu tersenyum kecil dan berjalan ke arahnya. "Kamu pasti sangat lelah," bisiknya lembut.

Gadis itu menarik selimut hingga sebatas dada Sasuke. Jemarinya menyentuh pipi pemuda yang tertidur itu. "Eh, badannya panas sekali." Naruto segera berlari pergi ke dapur untuk mengambil baskom berisi air untuk mengkompres Sasuke.

Ia lalu meletakkan baskom berisi air dingin itu di atas meja dan duduk di samping tempat tidur milik Sasuke. "Kamu membuatku panik," kata Naruto pelan. Tangannya memeras kain kompres itu dan meletakkannya di atas kening Sasuke. Ia terus melakukannya hingga demam Sasuke turun, dan malam pun semakin larut.

Keringat dingin terus mengucur dari tubuh Sasuke. Ia terlihat gelisah dalam tidurnya. "Sasuke?" panggil Naruto pelan. Gadis itu kembali meletakkan kompres di atas dahi Sasuke. "Maaf, seharusnya aku tidak memaksamu untuk hujan-hujanan." Ujarnya lirih. Gadis itu menyesali perbuatannya sore tadi yang menyeret Sasuke untuk bermain hujan. Ia tidak berpikir jika pemuda itu bisa terkena flu akibat sifat kekanakannya. "Maaf..." Naruto kembali berbisik pelan.

Sasuke mengerang, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Naruto melepas kompres dan meletakkan tangannya di atas dahi pria muda itu. "Panasnya sudah turun, tapi kenapa keringatnya banyak sekali?" ia kembali bergumam cemas. Naruto kembali mengelap keringat di wajah serta leher pemuda itu dengan menggunakan lap basah bekas kompres.

"Sasuke?" panggilnya lagi. Namun panggilannya masih tidak mampu membangunkan Sasuke. "Apa yang kamu takutkan? Mimpi buruk apa yang mampu membuatmu gelisah seperti ini? Bangunlah, semua pasti akan baik-baik saja." Katanya berupa bisikan lembut.

.

.

Gelap, itu yang dilihat oleh Sasuke saat ini. Lorong di depannya begitu panjang dan gelap. Dia tidak menyukai tempat ini. Bulu kuduknya meremang saat udara dingin bertiup kencang ke arahnya. Ia lalu berlari, cepat dan semakin cepat untuk mencari jalan keluar, namun lorong itu seolah tak berujung.

Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Kini ia merasakan sesak, napasnya semakin berat saat ini. Pasokan oksigen di dadanya seolah disedot paksa untuk keluar. Sasuke mulai kepayahan, kepalanya berdenyut sakit, dan dunia di sekelilingnya mulai berputar semakin cepat.

Lorong gelap itu berubah menjadi terang seketika, dia bahkan harus menutup mata saat cahaya di depannya terasa menusuk indera penglihatannya. Perlahan ia mulai membiasakan diri, berdiri tegak dan melihat ke sekelilingnya.

Mata Sasuke terbelalak saat melihat dirinya dalam versi mini, berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini. Bocah itu berdiri seorang diri, tangannya terkepal kuat di sisi kanan kiri tubuhnya, kepalanya sedikit menunduk dan mulutnya bergetar, dia terisak pilu.

Sasuke melangkah maju, lalu berjongkok, mensejajarkan diri dengan bocah versi mini dirinya. Sasuke mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala bocah itu. Tangan pucatnya berhenti di udara, saat melihat seorang anak laki-laki lain berjalan tergesa ke arahnya.

"Apa yang kamu tangisi?" tanya anak laki-laki itu setelah berdiri di samping Sasuke mini. Dia adalah versi mini dari Itachi.

"Kaa-san, kenapa dia pergi?" Sasuke kecil mendongak menatap kakaknya meminta penjelasan.

"Tidak ada manusia yang abadi, baka otouto!"

"Tapi kenapa harus secepat ini?" tanya Sasuke tidak mengerti. "Kenapa harus kaa-san?" Sasuke tidak mengerti kenapa harus ibunya yang meninggal dalam kecelakaan mobil itu. Kenapa Sasuke yang ikut di dalamnya tidak ikut meninggal juga? Kenapa dia hanya menderita luka ringan saja? Kenapa? Kenapa harus ibunya? Batinnya terus saja bertanya.

"Takdir," jawab Itachi cepat. "Hentikan tangisanmu! Percuma kamu menangis, karena air matamu tidak akan membuat kaa-san kembali hidup." Lanjutnya dengan ekspresi dingin dan nada suara datar. "Laki-laki itu harus kuat, laki-laki tidak boleh cengeng. Ingat itu!"

Dunia di atas Sasuke kembali berputar cepat setelahnya, menyedotnya serta menghempaskannya kembali ke alam nyata. Sasuke terbangun dari mimpinya dengan napas putus-putus.

"Kamu mimpi buruk?" tanya Naruto setengah berbisik tanpa dijawab Sasuke.

Pemuda raven itu bisa menangkap nada khawatir pada suara familiar di telinganya. Dia masih belum sadar sepenuhnya, tatapannya terlihat kosong, dadanya masih naik turun dengan napas pendek-pendek.

Gadis itu merengkuh tubuh Sasuke ke dalam pelukannya dan berbisik tepat di telinga kanan Uchiha bungsu. "Tenang, Sasuke. Semua akan baik-baik saja." Suaranya terdengar lembut, merdu dan menenangkan. Naruto terus berkata jika semua akan baik-baik saja, ia menepuk-nepuk pelan punggung pemuda itu hingga keadaannya lebih baik.

"Kenapa aku ada di sini?" tanya Sasuke setelah sadar sepenuhnya dan menyadari jika saat ini dia berada di kamar yang ditempati oleh Naruto.

Gadis itu melepaskan pelukannya, tersenyum setelah melepas napas lega. Ia mengambil dua butir obat serta segelas air putih dari atas meja di sampingnya. "Kamu demam dan langsung tertidur setelah selesai mandi." Jelas Naruto. "Ini, minumlah!" Naruto memberikan obat dan gelas itu pada Sasuke. Tanpa banyak tanya Sasuke segera meminum obat yang disodorkan oleh Naruto dalam satu tegukan.

"Sebaiknya aku pindah ke sofa," kata Sasuke mencoba bangkit dari tempat tidur namun tangan Naruto menghalanginya.

"Tidak, kamu tidur di sini saja. Biar aku tidur di sofa."

"Yakin?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat, suaranya terdengar berat.

Naruto mengangkat bahu cuek dan tersenyum kecil. "Hanya untuk malam ini, kamu boleh memakai kamarku. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena aku menyeretmu hujan-hujanan."

"Hn." Sahut Sasuke sambil membalikkan badan memunggungi Naruto. "Memangnya dia pikir siapa pemilik kamar ini?" Sasuke menggerutu pelan agar tidak terdengar oleh Naruto.

Gadis itu kembali menarik selimut berwarna biru tua hingga sebatas dada Sasuke lalu berbalik dan berjalan untuk mematikan lampu kamar. "Oyasuminasai, Sasuke." Bisiknya sebelum menutup pintu kamar.

Dilain tempat, Kimimaro merenung di dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak bisa menutup mata, pertemuannya dengan Kyuubi sore tadi mengusik pikirannya. Kimimaro mengerang dan berguling di atas tempat tidurnya. Ia mencoba untuk rileks dan memejamkan mata. Satu. Dua. Tiga. Matanya kembali terbuka.

Kimimaro bangkit dari tempat tidur dan beranjak turun. Ia keluar kamar, menyeret kakinya menuju dapur di lantai satu. Lorong lantai dua begitu temaram, hanya beberapa lampu yang menempel di tembok saja yang dibiarkan menyala.

Sepi, hanya terdengar derak lantai kayu yang dilewatinya. Lantai kayu terus berderak hingga dia sampai di dapur. Ia menuangkan susu ke dalam teko lalu meletakkannya di atas kompor listrik. Melamun, dia kembali melamun memikirkan ucapan Kyuubi hingga tidak mendengar bunyi nyaring teko, menandakan jika air susunya sudah mendidih.

"Ada apa denganmu?" tanya Minato tiba-tiba. Pria paruh baya itu menepuk pelan bahu putranya lalu mematikan kompor. "Tidak biasanya kamu melamun," kata Minato. "Ada apa?" tanya Minato lagi.

Kimimaro tersenyum gugup dan menuangkan susu panas ke dalam gelas tinggi. "Aku sedikit stres," jawab Kimimaro. Ia menarik kursi meja makan dan duduk senyaman mungkin dengan gelas di tangannya. "Besok presentasi pertamaku," Kimimaro beralasan.

"Tou-san yakin kamu mampu mengatasinya," ujar Minato yakin.

"Tou-san percaya padaku?" Kimimaro balik bertanya. Ia menunduk, menggenggam gelas di tangannya semakin erat tanpa mampu menatap wajah ayahnya.

"Aku sangat percaya padamu," jawab Minato mantap.

"Arigatou," Kimimaro berkata pelan.

"Habiskan susumu dan pergilah tidur, kamu memerlukan stamina untuk pekerjaanmu besok. Oyasuminasai."

"Oyasuminasai," jawab Kimimaro. "Maaf, aku membohongimu, tou-san." Dia berkata lirih setelah kepergian Minato. Cukup lama dia berada di dapur untuk menenangkan diri. Susunya kembali dingin, dan pada akhirnya berakhir di bak cuci piring. Lalu ia pun berbalik, berjalan kembali ke kamarnya setelah mematikan lampu dapur.

.

.

.

Harum masakan menggelitik indera penciuman Sasuke pagi ini. Ia menggeliat malas dan memaksa matanya agar terbuka lebar. Diabaikannya rasa kantuk yang masih bergelayut di matanya. Sasuke menyibak selimut, bergerak untuk bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.

Pusing di kepalanya sudah membaik, mungkin efek obat yang diberikan oleh Naruto, pikirnya. Ia mandi dengan cepat tanpa mencuci rambut dan kembali ke dalam kamar hanya dengan handuk yang melilit di pinggang. Kedua alisnya terangkat ke atas saat melihat tempat tidurnya sudah kembali rapih.

Sasuke segera berganti pakaian dan mematut diri di depan kaca, memastikan penampilannya terlihat rapih. Setelah puas, ia beranjak ke meja belajar untuk mengambil tas sekolahnya.

"Ohayou," sapa Sasuke saat melihat Naruto yang sedang sibuk di dapur.

"Oha-" Naruto tidak melanjutkan ucapannya, matanya menyipit saat melihat penampilan Sasuke. "Kamu mau sekolah?" raut wajah Naruto terlihat khawatir. "Kamu sudah lebih baik?" tanyanya lagi beruntun.

"Hn," jawab Sasuke datar, menjawab kedua pertanyaan Naruto sekaligus.

Naruto menghentikan aktifitasnya dan berjalan ke arah Sasuke. Ia meletakkan tangan kanannya di atas kening Sasuke. "Suhu badanmu sudah kembali normal," kata Naruto kemudian meletakkan punggung tangannya di leher pemuda itu.

"Aku baik-baik saja," kata Sasuke tanpa menolak sentuhan Naruto. Padahal biasanya dia selalu menepis tangan fangirls yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuhnya.

"Syukurlah," Naruto bernapas lega lalu kembali ke posisinya semula. "Jika tahu kamu akan masuk sekolah, aku pasti akan membuatkan bekal makan siang untukmu."

"Jangan repot-repot," sahut Sasuke datar walau sorot matanya terlihat gembira menatap sarapan komplit ala Jepang tersaji di atas meja makan pagi ini. "Itadakashimasu!" seru Sasuke sambil menempelkan kedua tangannya di depan dada.

"Itadakashimasu," sahut Naruto pelan setelah melepas celemek dan duduk di kursi makan yang berhadapan dengan Sasuke.

.

.

.

Hari ini merupakan hari pertama pekan olahraga di KHS. Setiap kelas akan mengirimkan perwakilannya untuk bertanding di setiap cabang olahraga yang dipertandingkan. Di lapang atletik sedang berlangsung pertandingan lari estafet saat ini, sedangkan di dalam gedung olahraga akan berlangsung pertandingan basket.

"Kamu yakin baik-baik saja?" Neji bertanya khawatir melihat Sasuke yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Hatchi," Sasuke kembali bersin untuk kesekian kalinya. Ia melempar tissue yang baru saja dipakainya ke dalam keranjang sampah.

"Ini," Shikamaru menyodorkan obat dan sebotol air mineral pada Sasuke. "Jika tidak kuat, sebaiknya kamu duduk di pinggir lapangan saja. Jangan memaksakan diri."

Sasuke menerima obat dan botol air mineral dari tangan Shikamaru, ia lalu menelannya cepat. "Aku baik-baik saja," katanya yakin.

"Kelas kita pasti bisa bertahan walau tanpamu, Sas. Aku yakin bisa menahan gerakan kelas olahraga," Kiba berseru percaya diri.

"Hn," sahut Sasuke kembali meletakkan botol air mineral di atas kursi kosong di sampingnya.

"Penggemarmu berisik sekali," keluh Neji kesal mendengar teriakan para siswi yang mengelu-elukan nama Sasuke dari bangku penonton.

"Kelas kita tidak akan terlalu malu jika kalah di cabang basket, setidaknya Lee berhasil mengalahkan kelas olahraga di cabang atletik." Ujar Shikamaru menguap lebar.

"Tidak," Kiba menggelengkan kepala tidak setuju. "Kita harus menang di cabang ini dan cabang lainnya, kelas olahraga selalu menganggap remeh kita. Mengatakan jika kita populer hanya karena wajah, padahal kelas kita populer karena prestasi."

"Kelas kita selalu dicap sebagai kelas spesial, karena itu kelas seni dan kelas olahraga tidak begitu menyukai kelas A." Jelas Neji.

"Bukan salah kita jika kita masuk kelas A," protes Kiba berang. "Aku tidak mengerti mengapa mereka bersikap menyebalkan pada kita dan berpikir jika kita pasti kalah."

"Karena kelas kita tidak pernah serius jika ada pekan olahraga seperti sekarang," sahut Shikamaru tenang.

"Karena itu, tahun ini kita harus menang," timpal Sasuke. "Tunjukan pada mereka, jika kelas A juga bisa kompak."

"Aku setuju," Gaara berdiri dan mengulurkan tangan. "Ganbatte!" uluran tangannya disambut oleh keempat teman lainnya. Dengan keras dan kompak mereka berkata, "ganbatte!"

Beberapa menit kemudian pluit tanda pertandingan dibunyikan, memerintahkan pemain untuk masuk ke lapangan. Teriakan para pendukung kembali menggema, memberi dukungan pada tim yang diunggulkannya.

Siswa dari kelas olahraga menatap sinis, meremehkan kemampuan Sasuke cs. "Sebaiknya kalian menyerah," desis kapten dari kelas olahraga. "Menyerahlah sebelum kami membuat kalian malu!"

"Talk to my hand!" balas Sasuke datar. Ia melompat, meraih bola basket yang melayang di udara dan mengopernya cepat ke arah Neji yang berdiri jauh di depannya. Dan pertandingan pun dimulai.

Pertandingan basket antara kelas prestasi dan kelas olahraga berlangsung seru. Masing-masing tim sama kuat dan memiliki motivasi tinggi untuk menang. Kelas olahraga akan sangat malu jika sampai kalah dari kelas A atau kelas prestasi. Sedangkan kelas prestasi, mereka ingin menunjukkan jika mereka pun bisa unggul di bidang yang bukan keahliannya.

Suara teriakan penonton semakin keras, nilai di papan skor digital terus berubah dengan cepat. Sasuke sebagai kapten tim kelas prestasi memegang posisi center. Ia terus bergerak, merebut dan memberikan bola yang berhasil dicurinya dari lawan pada rekan setimnya. Sedangkan Kiba, ia bergerak lincah menutup pergerakan lawan.

Gaara yang handal mencetak three point cukup menyulitkan tim kelas olahraga. Mereka bahkan acap kali melakukan pelanggaran untuk menghentikan pergerakan Gaara. Neji dan Shikamaru yang mengerti betul akan kondisi kesehatan Sasuke banyak berperan ganda. Bertahan dan menyerang, mereka meringankan tugas Sasuke hingga dia bisa menghemat tenaganya.

Sementara itu, Naruto sudah berdiri di depan gerbang sekolah KHS siang ini. Ia melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit. Masih ada waktu setengah jam sebelum makan siang. 'Bagaimana caraku untuk masuk ke dalam?' pikirnya bingung. Naruto menatap horor tembok sekolah yang menjulang tinggi. 'Aku tidak mungkin memanjatnya,' batinnya lagi.

"Apa yang kamu lakukan di sana?" tegur penjaga sekolah yang memperhatikan gerak gerik Naruto sedari tadi. Naruto terdiam, dia sama sekali tidak menjawab. "Kamu murid baru?" pria itu kembali bertanya dari balik gerbang sekolah. "Kamu mau menyerahkan aplikasi pendaftaran?" tanyanya lagi.

Naruto mengangguk pelan, dia menelan air ludahnya cepat karena gugup.

"Harusnya kamu bilang dari tadi," kata penjaga itu sambil menggeleng pelan dan membuka gerbang sekolah. "Masuklah, ruang guru ada di lantai tiga, di sayap kanan bangunan." Terangnya.

"Ha'i, arigatou gozaimasu." Naruto membungkuk dalam sebelum berlari ke arah yang ditunjuk oleh pria itu. Jantung Naruto berdetak begitu cepat, dia takut jika kebohongannya terbongkar.

Dia sama sekali tidak menyangka jika pagar sekolah di sini ditutup selama proses belajar berlangsung. Karena di New York, tempatnya sekolah, gerbang sekolah tidak pernah tertutup di siang hari. Gerbang akan ditutup hanya jika sudah tidak ada kegiatan di dalam sekolah.

Naruto terus berlari tanpa memperhatikan arah, berlari hingga dia merasa aman. Dan pada akhirnya dia kembali tersesat. Sekarang ia berada jauh di belakang gedung sekolah. Tempat itu sangat ramai siang ini oleh teriakan semangat yang saling bersahutan dari pinggir lapangan pertandingan.

Ia menembus barisan penonton yang merupakan siswa dan siswi dari sekolah ini. Naruto merangsak maju ke depan untuk ikut menonton pertandingan lari jarak jauh. Kedua bola matanya membulat, mulutnya terbuka, ia terbius saat melihat antusiasme penonton. Tanpa dia sadari, tangannya bertepuk keras mengikuti gema sorak penonton yang terus bersahutan. Mulutnya ikut berteriak memberi semangat, walau entah ditujukan pada siapa.

Naruto terlalu terpesona hingga tidak sadar jika saat ini dia menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, hanya dia yang mengenakan pakaian kasual di sini, sementara lainnya mengenakan pakaian olahraga KHS.

"Siapa dia?" bisik seorang siswi melirik tidak suka ke arahnya.

"Entahlah," jawab siswi lainnya sinis.

Naruto yang baru sadar jika kini dia menjadi pusat perhatian, tertawa canggung, ia berjalan mundur dengan perlahan, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan lapangan atletik.

Gadis itu berhenti tepat di depan gedung olahraga indoor. "Murid-murid di sini sangat menakutkan, kenapa mereka menatapku begitu sinis? Benar-benar tidak bersahabat," gerutunya heran. "Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Naruto kembali berdecak tidak mengerti.

Siang ini dia mengenakan kaos putih polos tanpa lengan, dipadankan dengan celana pendek berwarna hitam serta sepatu flat berwarna kuning lemon. Dia juga mengenakan tas selendang berwarna senada dengan sepatunya untuk membawa makan siang milik Sasuke. Rambut pirang panjangnya dia sanggul melingkar di atas kepala, memberi kesan anggun pada wajahnya yang rupawan.

"Ramai sekali," kata Naruto lalu mengintip ke dalam gedung. Di dalam gedung olahraga sedang berlangsung pertandingan basket. Keningnya mengernyit dalam saat telinganya menangkap teriakan yang menyebut nama Sasuke.

Rasa penasaran membuatnya melangkah masuk ke dalam gedung. Di dalam, teriakan yang didominasi suara siswi itu terdengar lebih memekakan telinga. Naruto berdiri di pinggir kursi penonton deretan paling bawah. Matanya berkedip beberapa kali saat mengenali sosok yang sedang bermain di lapangan basket. "Sasuke?" katanya pelan.

Sasuke mendribble bola sendirian menuju ring lawan. Dia meloncat, sesaat bergantung di atas ring setelah berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang. Murid kelas prestasi bersorak gembira dari luar lapangan pertandingan, karena akhirnya point mereka hanya tertinggal empat angka dari kelas olahraga.

Sasuke kembali berlari cepat menuju posisinya. Tangannya diangkat ke udara lalu toast ringan dengan Shikamaru dan Neji. Matanya sempat melirik ke arah Naruto, namun dengan cepat dia memalingkan muka. 'Aku pasti berhalusinasi,' pikirnya mustahil.

Permainan kembali dimulai, Sasuke bergerak lincah di bawah ring, meloncat tinggi dan menepis bola yang melambung di atasnya. Kiba segera berlari cepat mengejar bola. Pemuda itu menangkapnya dalam satu lompatan, mendribblenya beberapa kali dan shot, tembakan itu kembali dilepaskan. Kiba mengangkat tinju tinggi setelah berhasil mencetak dua angka untuk timnya.

Mereka berusaha mengejar disisa waktu yang semakin sedikit. 90 vs 89, mereka perlu dua angka lagi untuk menang. Panasnya tensi di lapangan semakin meningkat seiring menipisnya waktu. Wasit bahkan mengeluarkan salah satu pemain kelas olahraga karena melakukan foul out. Lemparan bebas pun dihadiahkan pada tim Sasuke oleh wasit, dan dia ditunjuk sebagai sang eksekutor. Pemuda itu terlihat tenang, dia bersiap untuk melakukan tembakan bebas.

Ekor matanya melirik ke arah papan skor digital, mereka memerlukan dua angka untuk menang. Waktu yang tersisa hanya tinggal dua detik. Jika Sasuke berhasil memasukkannya, tim lawan tidak mungkin bisa mengejar angka dalam waktu sesempit itu.

Sasuke menarik napas panjang dan melepasnya perlahan. Kemenangan timnya ada di pundaknya saat ini dan hal itu membuatnya sedikit gugup. 'Tidak, aku tidak boleh gugup. Fokus, aku harus fokus!' katanya dalam hati berusaha untuk mengenyahkan kegugupannya.

Di tengah gema teriakan penonton, untuk kedua kalinya pandangan mata mereka bertemu. Sasuke bahkan tidak berkedip, seolah takut jika sosok yang dilihatnya itu akan hilang jika dia mengerjapkan mata. Namun sosok Naruto tidak hilang seperti dugaannya. Sosok gadis berambut pirang itu tetap di tempatnya, berdiri dan meneriakkan dukungan untuknya.

"Ganbatte, Sasuke!" teriak Naruto tenggelam dalam gemuruh sorak-sorai suara penonton. Sasuke tersenyum tipis, kegugupannya menguap seketika.

Suara pluit pendek dibunyikan, tanda bagi Sasuke untuk melempar tembakan bebas pertamanya.

Sasuke menekuk kedua lututnya, sebelum akhirnya meloncat pendek dan menembakkan bola di tangannya ke dalam ring. Bola basket itu melesat masuk ke dalam ring dengan sempurna. Skor berubah, 90 vs 90. 'Satu angka lagi,' batin Sasuke sambil memantulkan bola di tangannya ke lantai beberapa kali.

Dia kembali bersiap, menunggu suara pluit pendek dibunyikan untuk kedua kali. Dan akhirnya tembakan keduanya ditembakkan. Bola itu berputar pelan di atas ring, membuat penonton dan para pemain terdiam untuk sesaat hingga akhirnya sorak sorai kegembiraan itu pun kembali menggema menyambut kemenangan untuk tim Sasuke.

Anggota tim Sasuke menghambur ke arahnya, berteriak senang karena akhirnya tim mereka bisa menang dari tim kelas olahraga. Para murid kelas prestasi pun ikut larut dalam kegembiraan ini. Mereka berlarian masuk ke dalam lapangan pertandingan dan bertoast ria dengan para pemain.

Sasuke berjalan cepat, membelah kerumunan murid yang memberinya ucapan selamat. Matanya tertuju pada satu titik, titik dimana Naruto berdiri. Dia mengambil jaket olahraga miliknya yang tersampir di bangku pemain lalu berjalan menuju gadis itu. Sasuke bahkan tidak mengidahkan penggemarnya yang berteriak mengelu-elukan namanya.

"Selamat untuk kemenanganmu, Sasuke." Kata Naruto mengukir senyum bangga saat pemuda itu berdiri di hadapannya saat ini. "Aku datang karena mencemaskanmu, tapi rupanya kecemasanku tidak beralasan. Ternyata kamu sudah sehat."

"Aku masih sakit," balas Sasuke datar.

"Benarkah?" Naruto berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di kening Sasuke. "Jangan mengagetkanku, Teme!" Naruto berdesis sambil melotot. "Suhu tubuhmu sudah kembali normal. Kamu sudah sembuh."

"Sejak tadi pagi aku tidak berhenti bersin," tukas Sasuke, menolak pernyataan Naruto.

"Benarkah?" Naruto berkata cemas. "Jangan terlalu capek," lanjutnya sambil membuka tas selendangnya lalu mengeluarkan bekal makan siang untuk Sasuke. "Kamu terlalu memaksakan diri. Seharusnya kamu tidak sekolah," Naruto memasang muka serius. "Ini untukmu, habiskan, ok?"

"Hn," jawab Sasuke datar. Dia malah menyampirkan jaket olahraga miliknya di bahu Naruto. Gadis itu mengernyit dan menatap mata Sasuke lurus. "Pakaianmu terlalu minim, Dobe." Sasuke berkata datar mencermati penampilan Naruto.

Naruto berdecak dan menyerahkan kotak makan siang yang dibawanya pada Sasuke. "Ini musim panas, Teme. Lagipula, siswi di sini juga menggunakan bulma. Pakaian mereka lebih minim dariku." Naruto menyipitkan mata. "Kalau begitu lebih baik aku pulang," kata Naruto kemudian dengan helaan napas panjang.

"Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Balasnya dengan gelengan kepala pelan.

"Kamu yakin?" dengus Sasuke keras. Satu alisnya terangkat, tatapannya jelas mengatakan jika dia tak percaya.

"Tentu saja yakin," balas Naruto ketus.

Sasuke melipat lengannya di depan dada. Matanya melihat ke lantai, bahunya berguncang menahan tawa.

"Aku serius, aku bisa pulang seorang diri." Naruto merengut kesal.

"Ya, benar." Sasuke menyahut datar. "Coba aku ingat-ingat. Terakhir kali kamu pergi sendiri, kamu terdampar dimana yah? Hmmm..." ia memasang pose berpikir. "Ah, Kamakura." Katanya santai dengan seringai mengejek membuat Naruto menyipitkan mata karena kesal.

Keadaan sekeliling mereka mendadak sunyi melihat interaksi akrab keduanya. Baik Sasuke maupun Naruto tidak sadar jika saat ini mereka menjadi sorotan mata murid-murid yang berada di sana.

Naruto memalingkan muka dan terkesiap kaget. "Kenapa mereka menatapku seperti itu?" tanya Naruto merasa terganggu mendapati tatapan bermusuhan sebagian besar siswi yang terarah padanya.

"Entah," sahut Sasuke cuek. Ia lalu menggenggam tangan Naruto, menariknya pelan untuk berjalan keluar gedung olahraga. Keduanya pergi dengan bergandengan tangan.

Gedung olahraga itu kembali ribut setelah keduanya pergi. Para murid saling melempar tanya, penasaran dengan sosok gadis yang digandeng oleh Sasuke.

"Apa gadis itu kekasih Sasuke-kun?" Sakura bertanya dengan suara bergetar. Dia tidak menyangka jika apa yang dikatakan Kiba beberapa waktu lalu bukan hanya isapan jempol belaka.

Kiba masih menatap kosong pintu masuk gedung olahraga, dia masih tidak mempercayai penglihatannya. 'Jadi, Sasuke benar-benar memiliki kekasih berambut pirang? Rasanya tidak mungkin. Dia bahkan menggandeng tangan seorang gadis? Lalu kelas kami juga menang dari kelas olahraga? Apa aku hanya bermimpi?' batinnya masih tidak percaya.

"Benar, dia kekasih Sasuke." Neji yang sudah pulih dari keterkejutannya segera menjawab pertanyaan Sakura. "Sekarang sudah terbukti, Sasuke memang sudah memiliki kekasih. Jadi sebaiknya kalian berhenti mengganggunya!"

"Itu tidak mungkin!" teriak Sakura tidak terima. "Sasuke-kun tidak mungkin memiliki kekasih. Aku tidak terima!" raungnya lagi.

"Terserah," sahut Shikamaru santai. "Hah, mendokusai!" tambahnya sebelum melenggang pergi. Neji, Gaara dan Kiba menyusul kemudian. Begitu juga dengan para murid lainnya, satu per satu mereka meninggalkan gedung olahraga. Yang tersisa di sana hanya fangirls Sasuke yang tertunduk lemas karena patah hati.

.

.

.

"Tidak perlu mengantarku," kata Naruto untuk kesekian kali. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju gerbang sekolah.

Sasuke menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, dan berbalik menatap lurus Naruto. "Ok, tapi ingat, hubungi aku jika sudah sampai rumah."

"Ha'i..." Jawab Naruto dengan desahan panjang.

"Kamu hanya perlu berjalan hingga halte di ujung jalan, dan naik bus nomor 72. Mengerti?"

"Ha'i, wakatta."

"Jangan tertidur di dalam bis, dan jangan bicara dengan orang asing!"

"Kalau melamun boleh?" goda Naruto dengan seringaian lebar.

"Tentu saja tidak," bentak Sasuke gemas.

Naruto tertawa renyah dan menepuk-nepuk pipi Sasuke pelan. "Aku tahu, jangan khawatir."

"Ingat, hubungi aku!" katanya untuk kesekian kali.

"Ok, Sasuke." Naruto memutar kedua bola matanya dan berkacak pinggang. "Kamu cerewet sekali, persis seperti kakakku."

"Hn," sahut Sasuke cuek. Keduanya terdiam untuk sesaat, menikmati semilir angin yang bertiup lembut. Sasuke menengadah, menatap langit biru di atasnya. 'Cuacanya bagus untuk pergi kencan,' pikirnya. Sasuke kembali memasang wajah datar, ia menggelengkan kepala pelan untuk mengusir pikiran anehnya.

"Ah, aku lupa bertanya. Apa hari ini kamu akan pergi bekerja?" tanya Naruto membuat Sasuke kembali ke dunia nyata.

"Hn." Jawab Sasuke sambil mengangguk kecil.

"Begitu." Naruto menunduk sebelum kembali mendongak, balas menatap Sasuke. "Jangan terlalu capek!" Naruto kembali mengingatkan untuk kedua kalinya. "Aku akan memasak makanan sehat untuk makan malammu." Dia menambahkan dengan senyum hangat.

"Ok," sahut Sasuke singkat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengar gemanya di telinganya.

Naruto melambaikan tangan ke arah Sasuke sebelum berjalan cepat keluar gerbang sekolah. Sedangkan Sasuke tetap bergeming, berdiri tegak di sana hingga sosok Naruto menghilang dari pandangannya.

Sasuke berbalik untuk kembali ke kelasnya setelah Naruto pergi. Dia tersenyum kecil melihat kotak makan siang di tangannya. Sasuke mengernyit kemudian. Tangan kanannya menyentuh dada kirinya, merasakan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. "Sepertinya jantungku bermasalah," katanya berupa bisikan.

Jantungnya pasti bermasalah, mungkin disebabkan karena flu yang sedang dideritanya saat ini. Begitu pikirnya. Pemuda itu menolak alasan lain mengenai penyebab debaran kencang jantungnya saat ini. Ya ampun, tidak mungkin dia berdebar hanya karena perhatian seorang gadis asing yang baru dikenalnya beberapa hari. Itu tidak mungkin! Ya, itu tidak mungkin.

.

.

.

Shikamaru cs menikmati santap siangnya di dalam kantin siang ini. Suasana kantin cukup ribut, para murid membicarakan hal yang sama. Beberapa kali para murid itu melempar tatapan ingin tahu ke meja yang ditempati oleh Shikamaru cs. Shikamaru menjauhkan piringnya yang sudah kosong dan menguap lebar. "Aku mau kembali ke kelas."

"Aku ikut," sahut Neji dan Gaara bersamaan.

"Makanan kalian belum habis," kata Kiba menatap prihatin dua piring yang masih berisi makanan itu.

"Aku tidak bisa makan dengan tenang jika terus dipelototi seperti sekarang," keluh Neji sebal. Ia menggeser kursinya ke belakang dan berdiri cepat. Tanpa banyak bicara lagi, keempatnya meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas.

Di dalam kelas, Sasuke menyantap makan siangnya perlahan. Dia menikmati tiap potongan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Masakan Naruto memang selalu lezat, gadis itu selalu menghidangkan makanan yang sesuai dengan selera Sasuke.

Keempat teman Sasuke masuk ke dalam kelas dengan helaan napas panjang. Sosok yang menjadi perbincangan panas malah terlihat begitu santai menikmati makan siangnya. Keempatnya duduk melingkari meja Sasuke.

"Setidaknya kamu harus membicarakan hal ini pada kami," tegur Neji. Sasuke mengangkat bahu cuek tanpa mengatakan apapun. Pemuda itu mendelik tajam pada Gaara yang tanpa seijinnya mencomot tempura udang dari kotak makan siangnya dan memakannya dalam satu suapan besar.

"Karena ulahmu aku jadi tidak bisa makan dengan tenang," Gaara menyerukan protes dengan mulut penuh.

"Jadi, siapa gadis tadi?" Shikamaru bertanya. Ia menarik kursinya agar lebih dekat dengan Sasuke.

Sasuke masih mengunyah potongan telur dadar dan menelannya sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar. "Dia kenalanku."

Kiba mengangkat sebelah alisnya dan menatapnya serius. "Kamu tidak punya kenalan gadis berambut pirang," ujarnya cepat. "Apa kamu meminta bantuan gadis asing untuk menjadi pacarmu? Kamu menemukannya dimana? Dia bahkan sama persis seperti ciri-ciri gadis yang aku katakan beberapa hari yang lalu pada fangirlsmu."

Sasuke mendengus mendengar ucapan Kiba yang bertubi-tubi. Ia meletakkan sumpitnya di atas kotak makan. "Darimana aku harus memulai?" tukasnya lalu berhenti sejenak. "Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu."

"Dan kamu memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihmu?" potong Gaara tak percaya. Suaranya terdengar keras membuat Sasuke menatap tajam ke arahnya. Beruntung kelas kosong dan hanya ada mereka berlima di sana.

"Jangan memotong ucapanku!" kata Sasuke dingin, memperingatkan. "Dan tidak, aku tidak memintanya untuk berpura-pura menjadi pacarku."

"Lalu kenapa dia bisa datang kesini?" tanya Kiba lagi begitu bersemangat.

"Dia mengantar bekal makan siangku," jawab Sasuke membuat keempat temannya semakin tertarik.

"Sepertinya dia sangat spesial," tukas Shikamaru tenang. "Bukankah kamu pernah bilang jika kamu hanya akan memakan bekal dari kekasihmu."

"Ya."

"Well, jadi dia sekolah dimana?" tanya Shikamaru lagi. "Berapa usianya?"

"Aku tidak tahu dia sekolah dimana." Jawab Sasuke jujur.

Neji mendengus dan menyahut gemas. "Pergerakanmu lambat sekali. Seharusnya saat ini kamu sudah mengetahui latar belakang hingga hobinya."

"Naruto berumur tujuh belas tahun, yatim piatu. Tapi dia masih memiliki seorang nenek dan kakak laki-laki. Dia sangat menyukai ballet dan bercita-cita untuk menjadi ballerina profesional." Sahut Sasuke cepat. "Puas?" desisnya tajam.

"Tapi tetap saja kamu tidak tahu dia sekolah dimana." Neji menyahut tidak puas.

"Aku belum sempat bertanya," kilah Sasuke datar. "Yang jelas, dia besar di New York."

"Hah, kamu benar-benar payah." Ujar Neji menggelengkan kepalanya pelan.

"Dia bisa bertanya nanti," Shikamaru menimpali. "Setidaknya kamu tahu dimana sekarang dia tinggal, iya-kan?"

"Tentu saja," jawab Sasuke cepat dengan seringai tipis.

"Dimana dia tinggal?" Kiba bertanya penasaran.

Sasuke pun menjawab dengan santainya. "Dia tinggal bersamaku."

"Apa?" teriak keempat temannya kompak. "Bagaimana bisa?" Gaara bertanya dengan mulut terbuka lebar.

Sasuke kembali mengangkat bahu dan menjawab ringan. "Takdir," pikirannya sejenak melayang saat dia mengatakannya. Dia teringat ketika Itachi mengatakan hal itu dengan sikap dingin padanya saat pemakaman ibu mereka.

"Itu tidak menjawab pertanyaan kami," omel Neji.

Sasuke menghela napas pendek. "Danzo-san menipu Naruto. Kakek tua itu mengambil uangnya dan melarikan diri, dasar kakek tua!" Sasuke menggerutu kesal. "Dia selalu membuat masalah untukku."

"Jadi dengan kata lain, kamu menolong gadis itu dengan menawarinya untuk tinggal bersama?" Kiba menatapnya tak percaya. Sedangkan Shikamaru menyeringai penuh arti, matanya menatap lurus pemuda berambut raven di depannya.

"Bagaimana lagi, Naruto tidak punya keluarga di sini. Dia harus berhemat agar bisa pulang ke negaranya." Sahut Sasuke sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.

"Jadi, gadis itu hanya berlibur di sini?"

"Begitulah," sahut Sasuke menjawab pertanyaan Neji.

"Ngomong-ngomong, apa kamu menyukainya? Apa sesuatu terjadi di antara kalian?" Neji kembali bertanya penuh selidik.

"Terjadi apa?" Sasuke balik bertanya dengan ketus. "Tidak terjadi apa-apa di antara kami. Dia hanya gadis polos, kekanakan, cengeng dan ceroboh."

"Tidak biasanya kamu begitu perhatian dan baik hati pada seorang gadis," Gaara menyeringai penuh arti. "Jangan-jangan kamu benar menyukainya?" tambahnya dengan mata menyipit.

Sasuke mendengus kasar dan mendelik tajam. "Itu bukan urusan kalian!"

"Jika kamu tidak menyukainya, tolong kenalkan dia padaku." Neji berpura-pura memasang wajah memohon. "Karena sepertinya aku jauh cinta pada pandangan pertama." Katanya lagi membuat suara memelas yang berlebihan.

"Back off, Neji! She's mine." Sahut Sasuke dingin. Sunyi. Keempatnya terdiam seketika mendengar pernyataan Sasuke. Wajah Sasuke langsung berubah pucat saat menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Dia memalingkan muka dan salah tingkah di kursinya.

Neji tergelak keras dibuatnya, ia menepuk bahu Sasuke keras dan berkata, "ternyata kamu benar-benar menyukainya. Mudah sekali membuatmu bicara jujur, Sasuke."

Sasuke mengutuk sifatnya yang mudah sekali tersulut gurauan dan olokan teman-temannya. Benar, dia memang menyukai gadis itu. Dan gila, hal ini memang terdengar gila. Bagaimana bisa dia menyukai seseorang dalam waktu yang begitu singkat? Hah, dia sendiri tidak begitu mengerti dan masih berusaha untuk menyangkalnya.

.

.

.

Naruto berjalan dengan kepala menunduk. Matanya tertuju pada layar telepon genggam di tangannya. Dia baru saja mengirim pesan pada Sasuke, mengatakan jika dia sudah hampir sampai di rumah. Naruto hanya tinggal berjalan selama lima belas menit untuk sampai di sana.

Ia tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, mungkin karena kecerobohannya atau mungkin karena dia sedang sial saat ini. Pandangannya menjadi kabur saat tubuhnya membentur aspal dengan keras. Sayup dia masih mendengar teriakan wanita, dan setelah itu kesadarannya hilang sepenuhnya.

Kimimaro yang berada di balik kemudi mengumpat kasar dan bergegas keluar dari dalam mobilnya. Dia begitu terkejut saat melihat seorang gadis muda tak sadarkan diri di atas aspal jalan yang berdebu. "Oh, Tuhan!" serunya bertambah panik saat melihat darah segar mengalir dari kening gadis yang ditabraknya.

Pria itu bergerak cepat, membawa Naruto ke dalam pelukannya dan segera memasukkannya ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi dia membawanya ke rumah sakit terdekat. "Bertahanlah," katanya sambil melirik keadaan Naruto lewat kaca spion.

Beberapa suster dan dokter langsung memeriksa keadaan Naruto sesaat setelah Kimimaro membawanya ke unit gawat darurat. Pria itu bersikeras agar gadis yang ditabraknya diperiksa secara menyeluruh. "Tolong periksa kepalanya dengan teliti, aku takut dia gegar otak." Kata Kimimaro panik.

"Kami mengerti," sahut seorang suster menenangkan. "Sebaiknya anda menunggu di ruang tunggu. Kami akan memanggil anda jika pemeriksaan sudah selesai." Lanjutnya lalu berbalik pergi.

Kimimaro terduduk lemas di bangku terdekat. Ia menjambak rambutnya kuat karena frustasi. "Kenapa bisa begini?" tanyanya pada diri sendiri. Dia mengambil telepon genggamnya dan segera menghubungi Minato.

"Ada apa?" tanya Minato menjawab panggilan anaknya. "Apa presentasimu berjalan lancar?"

"Tou-san-"

"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Minato bisa menangkap nada gelisah dari suara putranya.

"Aku menabrak gadis kecil." Sahut Kimimaro, ia menatap lantai di bawahnya dengan pandangan kosong.

"Dimana kamu sekarang?" tanya Minato mencoba bersikap setenang mungkin.

"Di rumah sakit pusat."

"Tou-san akan segera ke sana."

"Tidak perlu, aku akan menghubungi tou-san jika sesuatu yang buruk terjadi."

"Kamu yakin?"

"Aku yakin," sahut Kimimaro. "Tolong doakan agar semua baik-baik saja."

"Semua pasti baik-baik saja, tenanglah." Hibur Minato dan pembicaraan mereka pun berakhir sampai disitu.

.

.

"Maaf, apa anda keluarga pasien yang bernama Naruto?" tanya seorang dokter.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Kimimaro panik. Dia yakin jika nama yang disebut oleh dokter di depannya ini adalah gadis yang ditabrak olehnya.

"Dia sudah sadar, tidak ada luka yang serius. Anda bisa melihatnya di dalam." Jawab dokter itu sebelum berbalik pergi.

Kimimaro segera masuk ke dalam ruang unit gawat darurat dan mencari keberadaan Naruto. Pria itu menghela napas lega saat melihat gadis yang ditabraknya sudah bisa duduk di atas tempat tidur. "Kamu baik-baik saja?" tanya Kimimaro berjalan menghampiri Naruto.

Gadis itu mendongak dan mengernyit merasakan perih dari luka di pelipis serta tangan kirinya. "Aku tidak apa-apa." Jawabnya pelan.

Kimimaro duduk di samping Naruto dan mengamatinya dengan seksama. "Kamu yakin?"

Naruto mengangguk lemah, tangannya masih memegang pelipis kanannya yang berdenyut sakit. Seorang suster menghampiri mereka dan meminta Kimimaro untuk menyelesaikan masalah administrasi. "Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Tukas Kimimaro yang kembali dijawab anggukan oleh Naruto.

Kimimaro menyelesaikan semua administrasi dengan cepat. Dia baru saja akan berbalik kembali ke tempat Naruto saat matanya betemu pandang dengan mata wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini. Setengah sadar dia berjalan mendekat ke arah wanita itu. Kimimaro membungkuk dalam dan menyapanya hormat. "Apa kabar, oka-sama?"

Kushina yang disapa seperti itu hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria muda yang berdiri di depannya ini adalah anak yang dulu ditolaknya keras. Anak yang menjadi alasan pertengkaran hebatnya dengan Minato.

"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu sakit?" tanya Kushina menyembunyikan rasa khawatir dalam sikapnya yang tenang.

"Tidak," Kimimaro menggelengkan kepala pelan. "Saya baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu," sahut Kushina menghela napas lega. "Aku harus pergi, nenek kalian sakit. Tengoklah dia jika ada waktu."

Kimimaro terkesiap mendengar ucapan Kushina. "Apa anda tidak keberatan jika saya menengoknya?"

"Tentu saja tidak," sahut Kushina tersenyum lembut.

"Apa itu berarti anda sudah bisa menerima saya?" tanya Kimimaro lagi. Matanya menatap Kushina penuh harap.

"Aku sudah semakin tua, Kimimaro. Setiap orang bisa berubah."

"Apa itu juga berarti jika anda sudah memaafkan tou-san?" Kimimaro kembali bertanya. Dadanya berdegup kencang menunggu jawaban dari ibu tirinya ini.

"Entahlah," sahut Kushina lirih. Dia menekuri jemarinya yang saling bertaut. Mimik wajahnya berubah pilu, terlihat begitu terluka.

"Jika aku pergi, apakah anda mau menerima tou-san kembali?" tanya Kimimaro memutus keheningan yang menggantung di antara mereka.

"Apa maksudmu?" Kushina bertanya tidak mengerti.

"Jika kepergianku bisa membuat anda kembali bersama dengan tou-san, maka aku akan dengan senang hati untuk pergi." Ujar Kimimaro pahit.

"Jangan melakukan hal bodoh!" Kushina memperingatkan. "Minato tidak mungkin bertahan jika kamu pergi, kebahagiaan kami akan terasa hambar tanpa keberadaanmu."

"Kalau begitu, tolong maafkan tou-san." Kimimaro mengenggam kedua tangan Kushina. "Dan tolong maafkan aku yang sudah merusak kebahagiaan kalian. Seharusnya aku ikut mati bersama ibu kandungku dalam kebakaran itu, agar kalian bisa hidup bahagia tanpa mengenalku."

"Jangan berkata bodoh lagi!" bentak Kushina. "Sudahlah, jangan membicarakan hal ini lagi. Jika Tuhan berkehendak, keluarga kita pasti kembali utuh. Percayalah." Kushina menghapus air mata di pipi Kimimaro dengan lembut. Wanita itu melempar senyum kecil sebelum akhirnya meninggalkan Kimimaro berdiri di sana seorang diri.

Lama Kimimaro berdiri di sana. Hidupnya selama ini tidak pernah sempurna. Rasa bersalah yang ada di hatinya memang mampu disembunyikannya dengan baik. Namun hal itu terus menggerogoti kebahagiannya. Dia adalah penyebab keretakan hubungan antara ayah dan ibu tirinya. "Maafkan aku," bisiknya lirih.

.

.

.

Kimimaro kembali ke tempat Naruto dengan sikap biasa. "Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang."

"Tidak perlu, saya baik-baik saja." Kata Naruto. "Lagipula, ini bukan kesalahan anda. Saya yang terlalu asyik dengan telepon genggam saya hingga tidak memperhatikan jalan." Tambahnya dengan senyum menenangkan.

"Tetap saja aku yang menabrakmu. Kamu sangat beruntung karena tidak ada luka serius," Kimimaro menghela napas lega. "Seharusnya aku juga lebih berhati-hati, maaf."

"Saya yang harus meminta maaf," sahut Naruto tenang. Gadis itu berusaha berdiri di atas kakinya. Namun tubuhnya terhuyung saat merasakan rasa sakit pada pergelangan kaki kirinya. Beruntung Kimimaro bisa menangkap tubuhnya cepat hingga ia tidak jatuh tersungkur.

"Saya lupa jika pergelangan kaki saya terkilir," Naruto tertawa kering.

"Kamu benar-benar ceroboh," desis Kimimaro menggelengkan kepala pelan. "Ayo, naik ke punggungku!" Kimimaro berjongkok memunggungi Naruto.

"Eh?"

"Kamu mau berjalan dengan kaki sakit seperti itu?" tanya Kimimaro melirik ke arah Naruto.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, bimbang. "Apa anda yakin? Saya cukup berat-loh."

"Cepat naik!" perintah Kimimaro lebih tegas. Akhirnya dengan sungkan Naruto naik ke atas punggung Kimimaro. "Ternyata kamu seringan kapas, gadis kecil."

"Saya bukan anak kecil, paman." Naruto mendengus tidak suka. "Oktober nanti saya akan genap berusia delapan belas tahun."

"Benarkah?" Kimimaro tak percaya. "Kamu tidak terlihat seperti gadis berusia tujuh belas tahun," dia terkekeh pelan.

"Anda benar-benar menyebalkan, persis Dei-nii dan si Teme." Ujar Naruto menggembungkan pipi.

"Kamu juga jangan memaggilku 'paman', aku terlalu muda untuk dipanggil seperti itu."

"Benarkah?" Naruto mengeratkan tangannya di sekitar bahu Kimimaro. "Berapa usia anda?"

"Dua puluh lima tahun," jawab Kimimaro.

Naruto mengangguk dan bergumam. "Hanya lebih tua dua tahun dari Dei-nii."

"Panggil aku 'nii-san' saja, lebih enak didengar."

"Ha'i, wakatta." Balas Naruto ceria.

Kimimaro terus berjalan menuju tempat kendaraannya diparkir. Keduanya terdiam cukup lama hingga Naruto memecah kesunyian di antara mereka. "Nii-san?"

"Hm."

"Bahumu sangat hangat," kata Naruto tiba-tiba.

"Hah? Apa maksudmu?"

"Bahumu hangat, seperti bahu Dei-nii dan Sasuke." Lapor Naruto.

"Siapa mereka?" tanya Kimimaro ingin tahu.

"Dei-nii? Dia kakak sepupuku. Tapi sudah seperti kakak kandungku sendiri." Jawab Naruto kembali tersenyum hangat. "Sedangkan Sasuke-"

"Siapa dia?" tanya Kimimaro setelah jeda cukup lama.

"Dia sahabatku," jawab Naruto kemudian. 'Dia sahabat pertamaku,' batinya terasa hangat. Dia menenggelamkan kepalanya pada bahu kokoh Kimimaro lalu berbisik pelan. "Wangi tubuh anda membuat saya nyaman, anda membuat saya aman. Saya merasa jika saat ini saya berada di atas punggung kakak saya sendiri, bukan di punggung orang asing. Menurut anda, apa saya aneh?"

Kimimaro tersenyum kecil dan menjawab dengan suara berat. "Tidak, kamu tidak aneh." Katanya pelan.

'Karena aku pun merasakan hal yang sama. Entah kenapa orang asing terasa seperti keluarga sendiri. Sedangkan keluarga sendiri terasa begitu asing.' Batinnya pahit.

.

.

.

TBC

Glosarium :

1. Foul out : Pemain harus keluar lapangan karena pemain tersebut telah melakukan 5 kali foul biasa (FIBA), 6 kali foul (NBA). Atau telah melakukan technical foul 2 kali dalam 1 kali pertandingan.

2. Bulma : celana super pendek untuk pakaian olahraga siswi di Jepang.

Review?