Rencana awalnya mau menamatkan fict ini dichap ke-5. Tapi setelah menimang-nimang, alurnya akan terlalu cepat jika dipaksakan selesai dichapter ini. Jadi ke depannya, saya akan membuat chapter tambahan.

Btw, thank you untuk reviewnya. Benar-benar menyuntikkan semangat ^-^

Mifta, quote akhir dari Kimimaro itu diambil dari film K3G, bukan Mohabbatein :D

Ok, selamat membaca.

Disclaimers : Naruto belong Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance, Friendship, Youth, School, Family

Warning : Gender switch, OOC, OC, typos

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Here We Go...

14 Days With Mr. Stranger

Chapter 5 : A Truth

By : Fuyutsuki Hikari

Dengkuran halus Mito memberitahu Kushina jika wanita tua itu tengah tertidur lelap. Kushina masuk sepelan mungkin, lalu duduk menyamankan diri pada sebuah kursi di samping tempat tidur Mito.

Kushina menyeka air matanya yang jatuh tanpa permisi. Dia mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa berat. Wanita itu menggeleng kecil, mencoba untuk tegar namun nihil. Ucapan Kimimaro beberapa saat yang lalu masih terngiang-ngiang di telinganya. Wanita itu kembali mencoba untuk mengenyahkannya, namun usahanya kembali sia-sia. Hati kecilnya membenarkan ucapan putra tirinya itu, namun harga dirinya yang terlalu tinggi menolaknya keras. Tanpa dia sadari, tangannya mengelus perutnya yang rata, dan wajah manis Naruto terbayang di pelupuk matanya. 'Sekarang kamu ada dimana?' tanyanya dalam hati.

"Apa yang kamu pikirkan?"

Pertanyaan Mito mengembalikan Kushina dari lamunannya. Wanita itu tersenyum lemah sambil menggeleng pelan. "Tidak ada," katanya sangat tidak meyakinkan. Kushina tidak tahu sejak kapan ibunya itu terbangun.

Mito menyempitkan mata, jelas tidak percaya. "Kamu tidak pernah bisa membohongiku, Kushina." Katanya tegas, namun masih dengan suara mengantuk. "Apa dokter mengatakan sesuatu yang buruk mengenai kesehatanku?"

"Tidak, justru sebaliknya. Perkembangan kesehatan kaa-san sangat bagus," lapor Kushina, ia menautkan jari-jarinya di atas pangkuan, lagi-lagi tersenyum lemah.

"Lalu, apa yang kamu pikirkan?" tanya Mito lagi. Wanita tua itu terlalu berpengalaman dan pintar untuk dikelabui. Kushina memutar otak, mencari alasan lain yang masuk akal untuk mengelabui ibunya.

"Aku hanya rindu pada Kyuubi," Kushina menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kebohongannya bisa dengan mudah diketahui oleh Mito dari sorot matanya. Karena itu dia tidak menatap langsung wajah ibunya yang masih terlihat pucat.

Mito menghela napas panjang, "sudah kukatakan berulang kali, kamu harus lebih tegas pada Kyuubi. Bagaimana bisa kamu dengan mudah mengijinkannya untuk liburan, padahal dia baru saja pulang. Seharusnya dia belajar dengan giat selama liburan."

"Dia sudah dewasa." Kata Kushina ."Lagipula, Itachi bersamanya."

"Hah," dengus Mito. "Itu dia! Bagaimana bisa kamu mempercayai pria muda dengan libido tinggi untuk menjaga seorang gadis muda?" Mito melirik Kushina, menatapnya dengan tatapan mencemooh.

"Itachi anak yang baik, Kaa-san." Sahut Kushina. "Hubungan mereka hanya sebatas sahabat."

"Tidak ada yang namanya sahabat, jika itu melibatkan seorang pria dan wanita." Sahut Mito, tatapannya menerawang. "Salah satu di antara mereka, pasti memiliki perasaan cinta."

"Jika memang begitu, aku akan mendukung mereka sepenuhnya." Kushina tersenyum lembut. Senyum pertama yang menyentuh hingga matanya.

"Terserah," ujar Mito menyerah. "Kalau begitu, berhenti memikirkannya. Sekarang, sebaiknya kamu pulang, aku baik-baik saja."

"Kaa-san yakin?"

"Hmmm..." Mito menyahut, matanya kembali terpejam. Obat yang diminumnya membuatnya sangat mengatuk padahal dia sudah tertidur selama satu jam tadi.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang." Kushina mengecup lembut kening ibunya, membetulkan letak selimut, dan berbalik pergi untuk pulang.

.

.

.

Di tempat lain, Naruto mengernyit heran saat melihat Kimimaro membelokkan mobilnya ke arah berlawanan dengan kawasan apartemen Sasuke. "Maaf, Kimi-nii, anda salah jalan."

"Aku tidak salah jalan," Kimimaro sekilas melirik Naruto sebelum kembali fokus menatap jalan di depannya. "Aku akan mentraktirmu makan dulu," tambahnya sedikit geli melihat raut kaget Naruto. "Kenapa? Kamu kira aku akan menculikmu?" tanyanya dengan tawa renyah setelahnya.

"Bukan begitu," sahut Naruto mengerucutkan bibir. Gadis itu yakin jika Kimimaro bukan orang jahat, ia bisa melihatnya dari sorot mata lelaki itu. "Saya hanya heran, bagaimana anda tahu jika saya lapar?"

"Perutmu berbunyi keras," jawab Kimimaro ringan. "Kamu pikir aku tidak mendengarnya?" pria itu kembali tertawa, tawa yang begitu lepas.

Naruto tersenyum malu, tangannya memeluk perutnya erat. "Begitu?"

"Kamu suka ramen tidak?" Kimimaro kembali bertanya setelah terdiam singkat.

"Suka, benar-benar suka," jawab Naruto antusias. "Sasuke pernah membawaku ke sebuah kedai ramen," lapor Naruto, ia mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Ah, Ichiraku Ramen." Serunya.

"Woah, aku juga akan membawamu kesana."

"Benarkah?" tanyanya terkejut dengan mata terbelalak. "Ternyata anda memiliki selera makan bagus juga."

Kimimaro hanya menyeringai lebar dan menghentikan mobilnya, memarkirnya di samping kedai. Kimimaro membukakan pintu mobil untuk Naruto, dan mengendongnya masuk ke dalam kedai. Kedai Ichiraku terlihat sepi sore ini, hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat asyik menikmati makanannya.

Kimimaro memilih meja paling pojok, dekat jendela, tempat favorite Kimimaro jika datang makan bersama Minato. Pesanan keduanya tiba sepuluh menit setelah mereka memesan, diantar dengan senyum profesional. "Kamu tahu apa yang paling aku suka di sini?"

"Tentu saja makanannya." Jawab Naruto sok tahu.

"Aku juga suka pelayanan cepat mereka," sahut Kimimaro sebagai pujian tidak langsung untuk pelayanan kedai ini. "Jadi, dimana kakakmu sekarang?" tanya Kimimaro setelahnya sambil mengaduk ramen miliknya.

Naruto mengunyah makanannya, menelan sebelum menjawab pertanyaan pria itu. "Entahlah," katanya mengangkat bahu. "Saat ini mungkin dia ada di gurun Sahara, di hutan Amazon atau berkayak di Grand Canyon."

"Kakakmu suka berpetualang?" tanya Kimimaro sambil meniup pelan kuah panas ramennya.

"Sangat suka," jawab Naruto. Dia menghela napas pendek dan tersenyum miris. "Sudah tiga tahun dia tidak pulang ke rumah demi hobinya itu."

Kimimaro menyeruput kuah ramen dengan bunyi keras, dia merasa jika dia tidak perlu bersikap formal di depan Neruto. "Dia tidak kuliah?" tanyanya lagi. Butir keringat mulai muncul di pelipisnya akibat rasa pedas kuah ramen.

Naruto mengibaskan tangan dan tersenyum bangga. "Dia sudah lulus, bahkan dengan IPK tertinggi pada usia tujuh belas tahun. Bekerja untuk pemerintah selama tiga tahun, sebelum akhirnya bosan dan memilih untuk keliling dunia."

"Dia bekerja dimana?" tanya Kimimaro tertarik. Pria itu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan keningnya yang berkeringat.

"Badan Nuklir US," jawab Naruto begitu ringan. Seolah hal itu merupakan sesuatu yang biasa.

Mulut Kimimaro terbuka lebar mendengarnya. "Wow, itu luar biasa." Ujarnya dengan ekspresi kekaguman yang nyata.

"Biasa saja," sahut Naruto, lagi-lagi mengangkat bahu ringan. "Akan menjadi luar biasa jika pekerjaan itu bisa menahan Dei-nii untuk menetap tinggal."

"Kamu jelas merindukannya," ujar Kimimaro. Dia tahu betul perasaan Naruto, karena dia pun sangat merindukan ibu kadungnya yang telah tiada, Kyuubi, juga Kushina yang hingga kini masih menolak keberadaannya.

"Sangat," Naruto tersenyum kecil. "Aku sangat merindukannya."

Kimimaro menepuk pelan tangan Naruto yang diletakkan di atas meja, ia menampilkan senyuman terbaiknya untuk gadis itu. "Kakakmu pasti pulang," katanya lembut. "Aku yakin, dia juga pasti sangat merindukanmu."

Naruto membalas senyuman itu, senyum penuh rasa terima kasih. Naruto juga tahu, Deidara pun pasti sangat merindukan dirinya dan Tsunade. Keduanya kembali menikmati ramen masing-masing hingga kemudian telepon genggam Naruto bergetar di dalam tas punggungnya, gadis itu merogoh dan mengambilnya cepat.

"Ada apa?" tanya Kimimaro penasaran melihat kerutan dalam di kening Naruto. Gadis itu memperlihatkan layar telepon genggamnya. "Nomornya tidak dikenal? Kalau begitu jangan dijawab." Ujar Kimimaro.

Naruto menggeleng keras, mendadak tersenyum lebar dan menjawab panggilan telepon itu. "Nii-san?" serunya begitu gembira. Deidara selalu menelepon menggunakan telepon hotel atau telepon umum lainnya, jadi nomornya selalu berganti.

"Kamu dimana, Naruto?" bentak Deidara marah tanpa menjawab sapaan adiknya.

"Aku juga merindukanmu," balas Naruto dengan decakan sebal.

"Ah, aku juga merindukanmu." Sahut Deidara dengan nada lebih rendah. "Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku," seru Deidara kembali meninggi. "Hanya mesin penjawab telepon rumah yang menjawab panggilanku," dia terdengar gusar sekaligus cemas. "Kamu sekarang ada dimana? Dan dimana nenek nyentrik itu? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?"

Naruto berdeham, begitu gugup. Dia bergerak gelisah, perutnya mendadak kenyang karena pertanyaan beruntun Deidara. "Aku ada di Jepang." Jawab Naruto lambat, ia meletakkan sumpit di atas mangkuk ramennya.

"Dengan baa-san?" tanya Deidara.

"Sen-diri." Jawab Naruto terbata.

"Hah?" Deidara kembali berteriak kencang. "Kenapa bisa? Lalu dimana nenek tua itu?"

"Baa-san? Beliau di Addis Ababa." Jawab Naruto lemah. Tatapannya bertemu dengan pandangan Kimimaro yang ikut curi dengar pembicaraannya.

"Yang benar saja," ujar Deidara nyaris tak percaya. "Apa yang dilakukannya di sana?"

"Beliau menjadi dokter relawan, Dei-nii." Jawab Naruto meremas kaosnya karena gugup.

"Dan membiarkanmu ke Jepang seorang diri?" Deidara berkata masam.

Naruto menggigit bibir bawahnya dan mendesah pelan. Bagaimana pun dia harus bicara jujur. "Aku tidak meminta ijin pada baa-san." Katanya setelah jeda lama.

"Bagus! Benar-benar nakal!" ujar Deidara nampak tidak terkejut. Naruto benar-benar membuatnya kesal hari ini.

"Tapi sekarang beliau sudah tahu," kata Naruto cepat. "Lagipula, aku bisa menjaga diri."

"Jangan bercanda Naruto." Cibir Deidara dengan nada semanis mungkin. "Kamu bisa menjaga diri?" dia menggelengkan kepala, lalu mendengus keras. "Masih ingat saat kamu tersesat sampai Nevada?"

Naruto tertawa kering dan menjawab dengan nada riang dipaksakan. "Setidaknya aku bisa pulang." Dia perlu membela diri, bukan salahnya jika dia terpisah dari rombongannya saat tour empat tahun yang lalu.

"Ya, pulang dengan bantuan satu kompi petugas kepolisian." Deidara memutar kedua bola matanya. "Jadi, berapa lama kamu di sana?

"Rencananya tiga minggu," jawab Naruto. "Aku sudah lima hari di sini."

Deidara menghela napas panjang. "Nii-san akan menjemputmu ke sana." Katanya mutlak.

"Dei-nii mau menjemputku?" Naruto bertanya nyaris tak percaya. "Kapan?" tanyanya lagi terdengar antusias. Lagipula, Naruto sudah tidak punya urusan apapun di Jepang.

"Sepuluh hari dari sekarang," ujar Deidara. "Beberapa hari ke depan mungkin aku akan sulit untuk menghubungimu lagi."

"Dei-nii mau kemana lagi?" semangat Naruto kembali menurun dengan cepat. Baru saja Deidara menghubunginya, dan besok dia akan kembali menghilang.

"Pedalaman Peru," sahut Deidara. "Jangan khawatir, ok! Emailkan alamat tempatmu tinggal, sekarang juga. Mengerti?"

"Ha'i, wakatta." Sahut Naruto pelan.

"Jaga dirimu, jaga kesehatan. Jangan lupa sarapan dan makan malam. Kamu paling sering mengabaikannya. Karbohidrat bagus untuk pertumbuhanmu, dan jangan bicara dengan orang asing. Kudengar di Jepang banyak orang mesum." Deidara bicara panjang lebar dengan nada begitu serius.

Naruto melirik Kimimaro, pria di depannya ini orang asing, dan dia malah makan bersamanya. Deidara bisa mengomel lebih panjang jika tahu. "Aku mengerti. Dei-nii, kau juga harus hati-hati, dan segera jemput aku di sini." Suara Naruto tercekat, kerinduannya menyerbu hatinya. Gadis itu sekarang menangis, menangis karena bahagia dan juga sedih secara bersamaan. Bahagia karena dia akan bertemu kakaknya, dan sedih karena dia masih harus menunggu. "Jaa ne." Tutup Naruto.

"Pakai ini," Kimimaro mengulurkan sebuah sapu tangan linen putih yang terlipat rapih pada Naruto.

"Arigatou."

"Jadi, kakakmu akan menjemputmu?" tanya Kimimaro, ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Seharusnya kamu senang, kenapa menangis?"

Naruto meremas sapu tangan itu, melirik Kimimaro dari balik bulu mata lentiknya. "Karena aku harus kembali menunggu untuk bertemu Dei-nii."

"Setidaknya dia akan pulang," ujar Kimimaro mencoba untuk menghibur. "Ngomong-ngomong, jadi kamu tidak tinggal di Jepang?"

"Saya tinggal di New York."

"Jangan terlalu formal denganku, Naruto." Kata Kimimaro. "Lalu, jika nenekmu di Addis Ababa dan kakakmu lebih suka berpetualang, itu artinya kamu akan sendiri di rumah?"

"Ya dan tidak." Jawab Naruto membingungkan.

"Maksudnya?"

"Aku akan tinggal di asrama," jelasnya singkat menanggalkan keformalannya. Bagaimana pun, pria di depannya jauh lebih tua darinya jadi otomatis dia harus bersikap sopan. Tapi, karena Kimimaro yang meminta, Naruto memutuskan untuk bicara dengan bahasa yang lebih santai. Naruto kembali melirik teleponnya yang bergetar. 'Sasuke?' ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya di dalam hati. "Moshi-moshi?"

"Kamu ada dimana?"

Naruto memutar kedua bola matanya, dalam hati menggerutu karena pertanyaan Sasuke sama dengan apa yang ditanyakan oleh Deidara tadi. "Aku sedang makan sore," Naruto membalas dengan nada humor.

"Dimana?"

"Ichiraku."

"Tetap di sana, aku akan menjemputmu."

Naruto menatap galak pada telepon genggamnya, sedikit kasar dia melempar benda tidak bersalah itu ke dalam tas punggungnya.

"Ada masalah lagi?" tanya Kimimaro menatap wajah masam Naruto

"Sasuke akan menjemputku," lapor Naruto cemberut.

"Pacar?"

"Teman," ralat Naruto terlalu cepat.

"Aku akan tahu saat melihatnya," ujar Kimimaro dengan seringai lebar. "Habiskan makananmu."

Keduanya sedang mengobrol ringan saat Sasuke datang. Pemuda itu melotot melihat kening dan tangan Naruto yang diperban. "Ada apa denganmu?" tanya Sasuke cemas. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi. Tangannya menyentuh lembut perban yang menempel di kening Naruto.

"Aku menabraknya," tukas Kimimaro berhasil menyedot perhatian Sasuke kepadanya.

"Kau?" desis Sasuke marah. Matanya melotot, rahangnya mengeras. Sasuke ingin sekali meninju wajah pria yang duduk di depan Naruto.

"Aku yang salah," kata Naruto sambil menarik-narik seragam sekolah Sasuke, merasa tidak enak karena ketegangan di antara dua pria itu. "Aku asyik dengan telepon genggamku hingga tidak memperhatikan jalan."

"Kamu bisa saja terluka parah, Naruto." Desis Sasuke terdengar seperti teguran. "Kenapa kamu begitu ceroboh?"

"Maaf," sahut Naruto menundukkan kepala.

Sasuke menghela napas, matanya kembali melembut saat menyentuh puncak kepala Naruto pelan. "Syukurlah, kamu hanya terluka kecil. Maaf, aku terlalu berlebihan."

Naruto tersenyum manis, menatap lurus pemuda di depanya. "Terima kasih, sudah mengkhawatirkanku."

"Sekarang aku yakin," timpal Kimimaro memutus nuansa aneh dua remaja itu. Sasuke mendelik ke arahnya, tidak suka. Kimimaro hanya menyeringai dan mengangkat sebelah alisnya. "Aku yakin seratus persen jika kalian pacaran."

"Tidak!" kata Naruto cepat. Wajahnya memerah malu.

"Bukan urusanmu," kata Sasuke dingin.

"Kamu masih kecil Naruto, fokus pada sekolah. Kamu baru boleh pacaran jika sudah berumur dua puluh lima tahun." Kimimaro sendiri merasa aneh, kenapa dia mengatakan hal ini, toh dia bukan kakak ataupun saudara gadis yang ditabraknya ini.

"Ayo pulang," Sasuke masih menatap tidak suka pada Kimimaro. Sedangkan pria yang lebih tua itu balas menatapnya dengan menantang. Memangnya siapa dia sampai berani memberikan nasihat pada Narutonya.

"Sebaiknya aku yang mengantar kalian pulang," tukas Kimimaro tenang. "Mobilku ada di samping."

"Tidak perlu," jawab Sasuke datar. "Kami bisa pulang sendiri."

"Kaki Naruto terkilir," lapor Kimimaro.

Sasuke melirik ke arah Naruto yang mengangguk kecil seolah meminta maaf. "Aku bisa menggendongnya." Sasuke langsung jongkok di depan Naruto. "Naik!" katanya tegas.

Tanpa banyak bicara, gadis itu segera naik ke atas punggung Sasuke. "Maaf sudah merepotkan, Kimimaro-nii."

"Aku yang seharusnya meminta maaf," sahut Kimimaro yang sedikit tidak rela karena harus berpisah. "Kamu yakin bisa membawanya?" tanya Kimimaro lagi pada Sasuke berharap jika pemuda itu berubah pikiran dan mau diantar olehnya. Ya Tuhan, Kimimaro hanya ingin lebih lama bersama Naruto. Dia sendiri tahu jika hal itu tidak masuk akal, Naruto hanya gadis asing yang baru dikenalnya, namun hatinya berkata lain.

"Hn."

"Jaa..." Naruto melambaikan tangan.

"Jaa, Naruto." Sahut Kimimaro tidak jelas. Raut wajahnya jelas mengatakan tidak rela.

.

.

.

Sasuke terus berjalan dengan Naruto di atas punggungnya. "Kulihat kalian berdua sangat akrab," Sasuke membuka suara setelah terdiam cukup lama.

"Apa terlihat seperti itu?" tanya Naruto polos.

"Hn. Dia bahkan memanggil nama kecilmu." Ada nada tidak suka pada suara Sasuke saat ini.

"Memangnya kenapa jika dia memanggil nama kecilku?" Naruto balik bertanya. "Di tempatku, aku selalu dipanggil dengan nama kecil."

"Ini Jepang, bukan Amerika." Kata Sasuke sebal. "Disini, hanya orang terdekat yang bisa memanggil seseorang dengan nama kecil. Jangan katakan karena kamu besar di Amerika, kamu lupa akan hal itu." Sasuke mendengus.

"Apa itu berarti aku harus memanggilmu 'Uchiha'?"

"Bukan itu maksudku," Sasuke sewot, benar-benar kesal. Kenapa Naruto tidak mengerti juga?

"Lalu apa?" Naruto memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Kamu juga memanggilku dengan panggilan 'Naruto', padahal kita juga baru saling mengenal." Ok, Naruto mulai berargumen dan membuat Sasuke semakin kesal.

"Sudahlah, anggap saja aku tidak mengatakan apapun." Sasuke memutuskan untuk mengakhiri perdebatan mereka. Tidak lucu jika mereka bertengkar hanya karena masalah panggilan nama. Walau sebenarnya itu merupakan hal penting untuknya.

Sesampainya di rumah, Sasuke memerintahkan Naruto untuk tidur dan beristirahat. Pemuda itu bahkan memasak makan malam untuk Naruto dan meletakkannya di dalam kamar sebelum dia pergi bekerja. "Makan jika kamu lapar, aku pulang larut malam hari ini."

"Maaf, padahal aku sudah janji untuk memasak makan malam." Sahut Naruto berbaring nyaman di atas tempat tidur. Sasuke memberikan bantalan di bawah kaki Naruto yang terkilir agar gadis itu merasa nyaman.

"Tidak masalah, yang penting sekarang kamu istirahat." Ujar Sasuke tenang. "Tidurlah, hubungi aku jika ada apa-apa. Mengerti?"

"Ha'i, wakatta." Gadis itu kembali tersenyum. Senyuman yang langsung menular karena Sasuke balas tersenyum padanya, walau hanya segaris tipis.

"Aku pergi dulu."

"Hati-hati di jalan, Sasuke."

"Hn," sahut Sasuke sambil menutup pintu kamar. Meninggalkan Naruto yang kemudian tertidur beberapa saat setelah dia pergi.

.

.

.

"Kamu baru pulang?" Minato bertanya dari balik kertas pekerjaannya yang menumpuk.

"Tou-san sudah pulang?" Kimimaro balik bertanya, dia melirik jam tangannya, tidak percaya karena Minato sudah berada di rumah padahal masih jam empat sore.

Minato menurunkan kertas kerjanya dan melirik ke arah Kimimaro melalui kaca mata bacanya. "Bagaimana keadaan anak yang kamu tabrak?"

Kimimaro memijat tengkuknya dan duduk di sebuah sofa berwarna hitam, tepat di depan Minato. "Dia baik-baik saja, hanya beberapa lecet di kening, kaki dan tangan." Lapornya.

"Lalu, kenapa wajahmu ditekuk?" tanya Minato dengan sebelah alis terangkat.

"Pacarnya menjemput, padahal kami sedang makan dan asyik mengobrol." Dengus Kimimaro kesal.

"Kenapa kamu harus kesal?" tanya Minato. "Kamu menyukainya?" selidiknya tajam.

Kimimaro mendelik pada ayahnya, tubuhnya merosot di atas sofa. "Naruto masih terlalu kecil untuk punya pacar."

"Naruto?" tanya Minato dengan ekspresi aneh.

"Namanya Naruto," kata Kimimaro lebih santai. "Nama yang aneh untuk seorang anak perempuan, bukan?"

Minato tersenyum pahit mendengarnya. Kimimaro mengernyit melihat perubahan ekspresi ayahnya. "Kenapa?"

"Tidak," Minato mengelengkan kepala pelan. "Hanya saja, itu adalah nama yang akan aku dan ibumu Kushina berikan pada anak bungsu kami. Naruto, ya, Naruto." Sahutnya menerawang jauh.

"Benarkah?"

"Ya, dan kamu tahu kelanjutan ceritanya." Minato nampak lelah saat mengatakannya. Binar matanya meredup, Kimimaro tahu betul jika ayahnya masih menyalahkan dirinya sendiri atas kematian adik bungsunya.

"Itu bukan salahmu," hibur Kimimaro.

"Andai saja aku tidak bertengkar dengan Kushina hari itu," Minato kembali melamun. "Sudahlah," kata Minato kemudian. "Jadi kamu merasa jika Naruto terlalu kecil untuk memiliki kekasih?"

Kimimaro cemberut, "tentu saja." Katanya keras kepala. "Dia masih tujuh belas tahun. Terlalu muda."

"Itu haknya, Kimimaro." Minato membiarkan dirnya tergelak bebas. Tidak biasanya putra sulungnya tertarik pada kehidupan orang lain, dan bersikap aneh seperti sekarang. Benar-benar sangat menghibur.

"Masalahnya, aku tidak suka pacarnya." Adu Kimimaro sinting. "Pemuda itu minim ekspresi, wajahnya datar. Aku tidak tahu apa yang Naruto lihat darinya. Jika Naruto adikku, aku tidak akan mengijinkannya untuk pacaran dengan pemuda emo itu."

Minato tertawa renyah mendengar penuturan Kimimaro. Kepalanya menggeleng, ia lalu melepas kacamata baca dan meletakkannya di atas meja. "Kamu seperti seorang kakak yang marah karena adiknya memiliki kekasih."

"Aku tidak seperti itu," dengus Kimimaro tidak terima.

"Tapi terdengar seperti itu," Minato terkekeh geli. "Aku jadi ingin bertemu dengan anak kecil ini," Minato memberikan penekanan pada kata 'anak kecil'. "Bisa kamu mempertemukan kami?"

Kimimaro mengelus dagunya, berpikir. "Aku akan menghubunginya nanti. Tapi, mungkin hari Jumat depan. Lagipula, bukankah besok tou-san akan pergi keluar kota untuk beberapa hari?"

"Benar juga, kenapa aku bisa lupa." Katanya tak percaya. "Baiklah, tapi pertemukan kami hari jumat nanti."

"Siap," Kimimaro bangkit dan memberi hormat secara berlebihan. Pria itu berbalik pergi meninggalkan Minato seorang diri dengan tumpukan pekerjaannya yang masih belum berkurang sejak kedatangan putra sulungnya.

.

.

.

Hari-hari berlalu cepat setelah hari itu. Dengan telaten Sasuke merawat luka Naruto, membuat gadis itu merasa tidak enak juga bersalah pada waktu bersamaan. "Sasuke, maaf aku banyak merepotkanmu." Kata Naruto pelan.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "sudah kukatakan berapa kali, aku tidak keberatan."

"Tapi-"

"Berhenti bicara dan selesaikan sarapanmu."

Naruto kembali mengunyah pelan sarapannya, roti panggang berselai kacang terasa begitu enak di mulutnya. Gadis itu menyesap sedikit susu tawarnya sebelum kembali bicara. "Sasuke?"

"Hn." Sahut Sasuke tanpa menoleh ke arah Naruto.

"Aku lupa mengatakan dua hal yang penting padamu."

"Hal penting?" Sasuke menatap lurus pada Naruto.

Naruto mengangguk pelan. "Yang pertama, Jumat besok, Kimimaro-nii akan datang berkunjung."

"Untuk apa?" tanya Sasuke dengan mata menyipit. Dia benar-benar merasa terganggu oleh pria asing itu. Dia tidak suka jika Naruto dekat dengan pria asing itu. Entah kenapa, Sasuke merasa terancam.

"Dia bilang, ayahnya ingin bertemu dan meminta maaf secara pribadi." Sahut Naruto, karena memang itu yang dikatakan Kimimaro padanya tadi pagi lewat telepon.

"Ck, Sasuke berdecak sebal. "Alasan," katanya dingin. "Aku berani bertaruh, dia akan datang seorang diri. Dia hanya mengarang alasan untuk menemuimu."

"Tidak mungkin," bela Naruto membuat Sasuke melotot ke arahnya. "Satu lagi, kakakku akan datang menjemputku."

"Kapan?" tanya Sasuke serak namun pemuda itu bersikap tenang seolah tidak terganggu. Padahal, pada kenyataannya, berita ini lebih mengganggu dari berita yang pertama.

Gadis itu mulai menghitung dalam hati, terakhir kali kakaknya menelepon hari Senin kemarin, dan sekarang sudah hari Kamis. "Tujuh hari dari sekarang," katanya membuat Sasuke tersedak rotinya.

"Secepat itu?" Sasuke mendorong piringnya. Makanannya mendadak terasa begitu keras dan hambar. "Bukankah kamu akan di Jepang selama tiga minggu?"

"Rencana awalnya memang seperti itu," kata Naruto tenang, kemudian memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya. "Aku tidak tahu jika Dei-nii akan datang menjemputku." Katanya dengan senyum kecil. "Aku akan mengenalkannya padamu."

"Itu berarti kamu akan segera pulang?" Sasuke bertanya dengan nada tidak rela.

"Jika Dei-nii mau menemaiku, aku akan tetap pada rencana awal. Tapi jika tidak, mungkin aku akan pulang lebih awal."

"Begitu?" Sasuke mendorong kursinya ke belakang, berdiri dan membawa piring serta gelas jus bersamanya. Ia membuang potongan roti yang masih tersisa ke dalam tempat sampah dan membuang sisa jus jeruknya ke dalam bak cuci piring. "Aku pergi," katanya datar, ia mengambil tas sekolahnya dari atas meja dapur.

"Tumben kamu berangkat pagi," sahut Naruto, melirik ke jam dinding yang tergantung.

"Hn," jawab Sasuke singkat tanpa menoleh ke belakang.

Naruto merenung setelah kepergian Sasuke, bertanya pada dirinya sendiri, kenapa mood pemuda itu berubah dengan cepat. Ia mengangkat bahu, memikirkannya pun rasanya percuma. Sasuke terlalu sulit untuk ditebak jalan pikirannya.

.

.

.

Sasuke sama sekali tidak bisa fokus hari ini. Beruntung Lee dengan senang hati menggantikannya dalam pertandingan basket melawan kelas seni siang ini, hingga memungkinkan Sasuke untuk bersantai dan melamun di pinggir lapangan basket.

Suara teriakan itu seolah tidak mengganggu pikirannya. Dua hal yang dikatakan Naruto tadi pagi sukses membuat hatinya kalang kabut. 'Paman itu pasti punya maksud tersembunyi,' batin Sasuke begitu yakin. Dan kenapa juga kakak Naruto harus datang untuk menjemput gadis itu.

Tanpa sadar, Sasuke mengacak rambutnya frustasi. "Ada apa denganmu?" tanya Shikamaru yang juga memilih duduk di pinggir lapangan dan meminta Shino untuk menggantikannya. Pria itu terlalu malas untuk berkeringat hari ini. "Wajahmu kacau sekali." Tambahnya.

Sasuke terdiam untuk beberapa saat, dia menopangkan sebelah kakinya, dan melipat kedua tangannya di depan perut. "Naruto akan segera pulang," jawabnya begitu jujur.

"Begitu," sahut Shikamaru, pandangannya masih mengikuti pertandingan basket yang berlangsung di lapangan. "Kapan?"

"Aku tidak tahu pastinya."

Shikamaru menekuk wajah dan melirik ke arah Sasuke yang masih berwajah suram. "Kamu tidak tahu pasti?" beonya.

"Naruto bilang jika kakaknya akan datang untuk menjemputnya satu minggu lagi. Jika kakaknya menolak untuk tinggal, Naruto pasti akan segera pulang ke New York bersamanya."

Shikamaru mengangguk mengerti, "jadi itu yang mengganggumu?"

"Bukan hanya itu," sahut Sasuke kini dengan wajah kesal.

"Apa lagi yang mengganggumu?"

"Kamu tahu kan jika Naruto mengalami kecelakaan hari Senin kemarin."

"Kamu sudah menceritakannya," sahut Shikamaru datar. "Itu mengganggumu?"

"Bukan," Sasuke menggeleng pelan. "Bukan karena itu, tapi karena paman yang menabraknya akan datang menjenguknya besok."

"Lalu apa masalahnya?" tanya Shikamaru tidak mengerti. "Kamu takut bersaing dengan seorang paman?" ledek Shikamaru puas.

Sasuke menggertakan gigi dan menatap sinis ke arah Shikamaru. "Paman itu masih berusia dua puluh lima tahun."

Shikamaru mengangkat bahu, "mana aku tahu jika dia masih semuda itu. Kukira dia lebih tua karena kamu selalu memanggilnya 'paman'.

Sasuke terdiam, terlalu malas untuk menjawab ucapan Shikamaru. "Jadi dia tampan?" goda Shikamaru lagi, sukses membuat Sasuke benar-benar kesal dan memilih untuk pergi meninggalkan pemuda berambut nanas itu yang kini tergelak keras di kursinya. Shikamaru dan selera humornya yang menyedihkan sama sekali tidak membantu mengembalikan mood Sasuke yang terlanjur semakin buruk.

.

.

.

Dan benar dugaan Sasuke, keesokan sorenya, tepat pukul empat, Kimimaro datang mengunjungi Naruto seorang diri. Pria itu membawa sekeranjang besar buah-buahan mahal sebagai buah tangan.

"Kenapa dia ada di sini?" tanya Kimimaro menatap datar ke arah Sasuke yang berdiri menantang di depan pintu rumah, seolah melarang Kimimaro untuk masuk.

"Ini rumahku," jawab Sasuke sinis.

Naruto menyikut perut Sasuke keras, membuat pemuda itu meringis dan menatap tajam ke arahnya. "Jangan bicara sinis, dia tamu kita." Tegur Naruto pelan.

"Tamumu, bukan tamuku." Desis Sasuke sebal, kenapa juga Naruto harus bersikap manis pada pria asing itu? Dengus Sasuke dalam hati.

"Aku menumpang tinggal di sini," jelas Naruto kemudian, lalu mempersilahkan Kimimaro untuk masuk.

"Kenapa tidak tinggal di hotel saja?" tanya Kimimaro lagi.

"Keuanganku terbatas," sahut Naruto dengan senyum lebar.

"Aku bisa membantumu," tawar Kimimaro murah hati. Sasuke berdecak tidak suka mendengarnya, dasar tukang pamer, pikir Sasuke.

"Terima kasih, tapi aku lebih nyaman di sini." Sahut Naruto dari dapur, dia kembali dengan sebuah nampan berisi limun segar dan beberapa cemilan. Sasuke tersenyum puas mendengarnya. Seringainya terukir tipis, sedangkan Kimimaro menekuk wajah dan menyipitkan mata menatapnya.

"Kalian kenapa?" tanya Naruto merasakan aura permusuhan di antara keduanya.

"Hn," jawab Sasuke datar lalu beranjak masuk ke dalam kamar tidur. Dia sengaja tidak menutup rapat pintu agar bisa mencuri dengar pembicaraan Naruto dan Kimimaro di ruang TV yang juga merangkap sebagai ruang tamu.

"Tou-san tidak bisa datang, beliau masih di Iwa saat ini." Jelas Kimimaro menjelaskan alasan ketidakhadiran Minato.

"Tidak apa, beliau pasti sangat sibuk." Kata Naruto pengertian. Sedangkan di dalam kamar, Sasuke mengerutu, mengatakan jika alasan Kimimaro itu benar-benar klise. Sasuke menendang meja belajarnya keras saat mendengar tawa renyah Naruto menanggapi humor Kimimaro. "Kenapa dia tertawa centil seperti itu?" desis Sasuke lagi. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk membanting pintu kamarnya dengan keras.

"Kenapa dengannya?" tanya Naruto menatap pintu kamar yang tertutup rapat.

"Sepertinya ada yang cemburu," seru Kimimaro puas.

Naruto terkikik pelan dan melirik pada Kimimaro. "Sasuke, cemburu? Karena aku?" tanyanya tak percaya.

"Pada siapa lagi?" sahut Kimimaro santai.

"Tidak mungkin," tukas Naruto yakin. Tangannya mengupas kulit apel yang dibawa oleh Kimimaro tadi. "Sasuke sangat populer, dia dikelilingi banyak gadis cantik. Dia tidak mungkin menyukaiku." Naruto menggeleng. "Tidak mungkin," ulangnya lagi.

"Kenapa kamu tidak percaya diri?" kata Kimimaro tidak suka. "Kamu sangat cantik, setiap pria pasti tertarik padamu. Tapi, kamu harus hati-hati dalam memilih, mengerti?"

Naruto kembali tertawa renyah, terlihat begitu dipaksakan. "Oh, aku sangat percaya diri." Ujarnya. "Hanya saja, untuk Sasuke, aku cukup tahu diri." Kimimaro hanya tersenyum simpul mendengarnya, ia memutuskan mengganti topik untuk mengembalikan mood Naruto.

Kimimaro berhasil mengembalikan mood Naruto dengan bertanya mengenai ballet. Dunia yang ditekuni dan sangat disukai oleh gadis itu. Mata Kimimaro bersinar, dengan serius dia mendengarkan tiap kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Kimimaro tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia merasa begitu bangga akan prestasi yang berhasil dicapai oleh Naruto. Dia begitu bangga, seolah-olah Naruto merupakan kerabat dekatnya.

Pria itu pulang tepat pukul lima sore, sebenarnya sedikit enggan. Karena Minato meminta untuk dijemput di bandara pukul enam sore, jadi, dia harus bergegas pergi untuk mengejar waktu.

"Dia sudah pergi?" tanya Sasuke dengan wajah masam.

"Dia harus menjemput ayahnya di bandara," jawab Naruto mengabaikan wajah masam Sasuke.

"Oh," balas Sasuke dingin.

"Ada apa denganmu?" tanya Naruto sambil membereskan meja.

"Apa?"

"Sikapmu pada Kimimaro-nii sangat tidak sopan," tegur Naruto.

"Aku tidak menyukainya," sahut Sasuke jujur.

Naruto memiringkan kepala ke satu sisi. "Kenapa? Dia sangat ramah, baik dan menyenangkan."

Sasuke kembali menekuk wajahnya, "aku tidak suka dia terlalu dekat denganmu. Bagaimana jika dia menyukaimu?"

Naruto tersenyum lembut dan menjawab santai. "Itu tidak mungkin, Kimimaro-nii hanya kuanggap sebagai kakak. Tidak lebih dan tidak kurang. Begitu juga sebaliknya."

"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Sasuke tidak mengerti.

"Karena hatiku mengatakan seperti itu."

"Lalu, bagaimana denganku?"

"Kamu akan terlambat bekerja jika tidak segera pergi," kata Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Sepertinya begitu," sahut Sasuke memilih untuk melupakan pembicaraan mereka sebelumnya. "Aku pergi."

"Hati-hati," sahut Naruto. Gadis itu mengantar Sasuke pergi hingga pintu, dan setelahnya kembali membereskan meja ruang tengah yang sedikit berantakan.

.

.

.

Kushina menghabiskan Sabtu paginya di rumah, baru menjelang pukul sebelas siang dia berangkat menuju rumah sakit untuk menjaga Mito hingga sore hari.

Wanita berambut merah itu terus berjalan dengan anggun menuju ruang inap Mito. Langkah kakinya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya dari kejauhan. "Nyonya Namikaze?" Kushina berputar, mencari siapa yang memanggilnya dengan sebutan itu. Rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali dia dipanggil seperti itu.

"Anda Nyonya Namikaze, bukan? tanya seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh tahun menyapanya hangat. "Anda masih mengenal saya?"

Kening Kushina berkerut, mencoba mengingat. "Ah, Dokter Chiyo?" Kushina mengulurkan tangan kananya. Wanita tua itu menyambut uluran tangan Kushina dan menjabatnya erat.

"Senang sekali bisa bertemu denganmu," Chiyo tersenyum senang. "Bagaimana kabar putrimu?"

"Kyuubi baik-baik saja, sekarang dia sudah jadi mahasiswi Todai, tingkat empat." Jawab Kushina bangga.

"Ah, lalu bagaimana kabar putri keduamu?" tanya Chiyo lagi membuat Kushina mengernyit heran. "Kalian ini benar-benar pasangan aneh, kalian menyiapkan nama umtuk anak kedua kalian tanpa mengetahui jenis kelaminnya. Apa putri keduamu sempat protes karena diberi nama 'Narito' atau 'Naruto'?"

"Naruto," jawab Kushina pelan membenarkan.

"Ah, benar namanya Naruto." Chiyo kembali tersenyum. "Sayang sekali aku tidak membantu proses kelahirannya, karena dipindah tugaskan."

"Saya melahirkannya prematur, karena kecelakaan."

"Benarkah?" Chiyo sangat terkejut. "Tapi aku yakin dia sehat, putri keduamu sangat lincah bahkan sejak dalam kandungan. Dulu aku benar-benar gatal ingin memberitahu jenis kelamin anak kalian saat tahu kalian akan memberinya nama itu."

Kushina tersenyum dipaksakan, berusaha bersikap normal. Kepalanya berdenyut, informasi ini terlalu berat untuk otaknya. Bagaimana bisa anak bungsunya berjenis kelamin perempuan? Mito mengatakan dengan jelas jika anak keduanya itu berjenis kelamin laki-laki.

"Ah, aku harus pergi." Tukas Chiyo keras, menyadarkan Kushina. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, titipkan salamku untuk keluargamu." Kushina mengangguk kecil, dan tetap berdiri di sana untuk waktu yang lama.

Kaki wanita itu bergetar hebat, dia terduduk karena terlalu lemas untuk berdiri. Kekuatan tubuhnya seolah menguap hilang. Air matanya mengalir deras, otaknya terus memutar setiap kalimat yang diucapkan Chiyo, dokter kandungannya dulu.

Kushina mencoba untuk kembali berdiri, dia menyeret kakinya menuju kamar Mito. Penampilannya sangat kacau saat tiba di sana.

Mito mengernyit dan bertanya dengan nada panik. "Ada apa denganmu?"

"Toolng katakan yang sejujurnya," mohon Kushina kering. "Anak keduaku, apa benar dia laki-laki?"

"Tentu saja," jawab Mito terlihat tidak nyaman. "Ada apa denganmu?"

"Kumohon, Kaa-san!" bentak Kushina dengan derai air mata. "Katakan yang sejujurnya padaku, aku berhak untuk tahu."

Mito menarik napas dalam, ada rasa bersalah di kedua matanya yang terlihat lelah. "Anak keduamu memang perempuan." Jawabnya kemudian.

"Apa?" Kushina berkata lemah, tak percaya. Dadanya terasa semakin sesak, kepalanya berdenyut semakin sakit. "Kenapa harus berbohong padaku? Kenapa?" tanya Kushina sakit hati.

"Karena aku tidak tega melihat keadaanmu, kamu begitu lemah, stres gara-gara suamimu itu. Jadi aku memutuskan untuk berbohong tentang putri keduamu." Kata Mito cepat. "Dia hanya akan mengingatkanmu pada Minato, dia sama persis seperti suamimu, rambut pirangnya, juga bola mata sapphirenya."

"Kenapa kaa-san bisa tahu jika putriku memiliki bola mata berwarna sapphire?"

Kedua bola mata Mito terbuka lebar, dia kelepasan bicara tadi.

"Kenapa kaa-san bisa tahu?" teriak Kushina. "Bukankah dia meninggal saat dilahirkan?"

Lagi-lagi Mito terdiam cukup lama. 'Mungkin aku harus mengatakan kebenarannya,' batinnya berteriak. Wanita tua itu menatap wajah putrinya yang basah oleh air mata. "Dia tidak meninggal," kata Mito pelan.

"Apa?" Kushina berkata begitu pelan.

"Dia tidak meninggal, Kushina. Putrimu selamat, sangat sehat walau kekurangan berat badan saat dilahirkan."

Kushina menutup mulutnya, menahan teriakan frustasi yang kini tercekat di tenggorokannya. "Lalu dimana dia?" tanyanya pahit. "Dimana putriku?"

"Aku tidak tahu," sahut Mito jujur.

"Bagaimana bisa kaa-san tidak tahu?" erang Kushina frustasi.

"Aku menyerahkannya pada rumah sakit, menyerahkannya untuk diadopsi dengan memalsukan tandatanganmu."

"Tidak!" teriak Kushina keras. "Kaa-san tidak mungkin melakukannya," teriaknya lagi. "Dia putriku, darah dagingku. Dia juga cucumu sendiri. Bagaimana...bagaimana bisa kaa-san setega itu?"

"Maaf, maafkan aku, Kushina. Aku hanya memikirkan kesehatanmu saat itu."

"Tidak, kaa-san tidak melakukannya untuk kebaikanku." Tolak Kushina keras. "Kaa-san, anda benar-benar jahat." Isak Kushina lalu berbalik pergi.

'Putriku masih hidup,' batin Kushina. 'Dia masih hidup,' katanya lagi terus berulang-ulang. Kushina terus berjalan tanpa tujuan, dia hanya mengikuti instingnya. Dia bahkan tidak sadar akan apa yang dia katakan pada supir pribadinya tadi.

Dan disinilah dia berdiri. Di depan gedung perkantoran milik Minato, milik suaminya. Wanita itu tidak tahu kenapa kakinya membawanya kemari.

"Kaa-san?" teriak Kimimaro kaget melihat ibu tirinya berdiri di lobby, linglung dengan wajah basah karena air mata. "Ada apa?" tanya Kimimaro prihatin.

"Ayahmu," sahut Kushina di tengah isakannya. Tangannya mencengkram tangan Kimimaro begitu kuat. "Aku perlu menemuinya, kumohon."

"Tentu, aku akan membawamu ke ruangannya." Kimimaro mendekap tubuh Kushina yang bergetar hebat. Wanita itu masih menangis, hatinya terlalu sakit mengetahui kebenaran ini.

Kimimaro meninggalkan Kushina di dalam kantor Minato dan dia memanggil ayahnya yang ada di ruang rapat. Beberapa saat kemudian, Minato berlari masuk ke dalam ruangannya. Pria itu berjongkok di depan tubuh istrinya yang duduk di sofa tamu. "Kushina?" panggilnya pelan.

Kushina mendongak, matanya menatap mata suaminya dengan sedih. "Ada apa?" Minato kembali bertanya, dia menyelipkan rambut merah istrinya ke belakang telinga.

"Kaa-san," bisik Kushina.

"Ada apa dengan beliau?" tanya Minato lembut.

Kushina kembali menangis keras, Minato begitu panik melihat keadaan istrinya. Bukan ini yang ingin dilihatnya setelah sekian lama tidak bertemu. "Dia berbohong," kata Kushina mencicit.

"Tentang apa? Tolong katakan padaku," bujuk Minato.

"Naruto." Kushina tercekat saat mengatakannya.

"Naruto?" beo Minato bingung.

"Dia, dia masih hidup."

"Apa?" Minato terduduk. Tubuhnya mendadak begitu lemas mendengar penuturan istrinya. "Jadi, putra kita masih hidup?"

"Naruto anak perempuan, anak kedua kita perempuan, bukan laki-laki." Jerit Kushina.

"Oh, Tuhan." Minato merasa dunianya berputar begitu cepat. Anak keduanya ternyata perempuan dan yang lebih penting dia masih hidup. "Lalu dimana dia? Dimana Naruto?" Minato mengguncang bahu Kushina pelan.

"Aku tidak tahu," jawab Kushina sedih. "Kaa-san memberikannya pada rumah sakit untuk diadopsi. Dia, dia memalsukan tandatanganku."

Minato memeluk erat tubuh istrinya yang menangis semakin keras. Jiwa Kushina pasti sangat terguncang. Air mata pria itu pun turun, dadanya sesak. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika Mito bisa berbuat setega itu pada keluarganya sendiri. "Kita akan mencarinya, Kushina. Dan kita pasti menemukannya." Bisik Minato pelan. Pria itu yakin jika mereka akan menemukannya, menemukan buah hatinya yang dipisahkan dari mereka oleh takdir.

.

.

.

TBC

Review?