Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Romance, Family, Friendship
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Ok, selamat membaca!
14 Days With Mr. Stranger
Chapter 6 : Keluarga?
By : Fuyutsuki Hikari
Waktu berlalu. Sepanjang sore, Kushina terus menangis dalam pelukan Minato. Amarah, cemburu, dan rasa kecewa yang menggerogoti hatinya selama hampir tujuh belas tahun kini menguap tak tersisa. Saat ini yang dibutuhkan oleh dirinya adalah keluarga.
Minato dan Kushina harus memiliki rasa percaya, saling menghibur dan saling menguatkan. Mereka harus bekerjasama demi putri bungsu mereka. Mereka harus memulai segalanya dari nol.
Di luar, awan mendung menggulung di langit Konoha. Burung-burung bergerombol, terbang untuk kembali ke peraduan. Ah, sepertinya hujan akan kembali mengguyur kota ini tidak lama lagi.
Di dalam ruangan, keduanya kembali beradu pendapat. "Aku tidak mau pulang ke rumah," tegas Kushina pada Minato, sangat keras kepala.
"Bagaimana jika Kyuubi khawatir?" tanya Minato. Dia memang ingin Kushina terus disisinya, tapi ia juga mengkhawatirkan Kyuubi. Bagaimana jika putri mereka cemas karenanya?
Kushina terdiam untuk sesaat, tidak menjawab cepat. "Kyuubi sedang berlibur," jawabnya kemudian dengan nada datar. Matanya masih terlihat kosong sementara tangannya meremas erat rok sutra selututnya hingga kusut.
Minato mengambil napas, mengangguk kecil, mengerti. "Aku akan membawamu pulang ke rumah kita." Katanya dengan nada yang terdengar sedikit aneh. Minato tersenyum pahit, setelah belasan tahun, akhirnya dia bisa kembali mengatakan 'rumah kita'.
Diam, Kushina hanya terdiam, namun dia pun tidak menolak. Pikirannya kacau, tubuhnya lelah, hatinya sangat sakit. Benar-benar satu formula sempurna untuk merubuhkan sifat egois dan keras kepalanya.
Minato memapah Kushina untuk keluar dari ruang kerjanya. Ia memberi isyarat tanpa kata pada Kimimaro saat ia bertemu putra sulungnya yang menunggu di depan ruang kerjanya. Isyarat jika ia akan menjelaskan semuanya nanti. Pemuda itu seolah paham, menahan diri dan menekan rasa penasarannya. Ia melirik ke arah Kushina, wanita itu tertunduk, berdiri dalam dekapan Minato, terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.
Kimimaro hanya berdiri tegak di sana, menatap punggung kedua orang tuanya yang terus berjalan pelan menuju lift untuk turun ke lobby kantor.
Sore itu juga Minato membawa istrinya pulang ke rumah keluarga Namikaze. Rumah yang hampir tujuh belas tahun ditinggalkan oleh Kushina. Minato tidak pernah berharap banyak, Kushina mau berbicara dengannya saja sudah disyukuri pria itu. Dan sekarang istrinya itu bersedia untuk pulang bersamanya, walau alasannya karena Kushina enggan pulang ke rumah keluarga Uzumaki. Yah, setidaknya Kushina tidak menolak ikut bersamanya.
Minato membawa kendaraannya dengan kecepatan rata-rata. Menembus jalanan Kota Konoha yang tidak terlalu padat. Kushina yang duduk di sampingnya tidak bersuara sama sekali, membuat pria itu semakin cemas. "Kita pasti menemukannya." Ujar Minato sangat yakin, memecah keheningan panjang diantara keduanya. Minato ingin sekali menggenggam tangan Kushina yang gemetar, namun hal itu diurungkannya. Minato masih takut ditolak.
Kushina melirik sekilas ke arahnya, bibir bawahnya kembali bergetar menahan tangis. Tangannya meremas tisu di tangannya yang sudah tak berbentuk. Hatinya kembali terasa sakit saat mengingatnya. Ia lalu memejamkan mata. Putri keduanya masih hidup, di suatu tempat. Dia baik-baik saja. Dia pasti bahagia. Rapal Kushina di dalam hati, mencoba menghibur diri.
Mobil sedan yang dikendarai Minato itu berbelok, menuju arah kediaman keluarga Namikaze. Minato menghentikan kendaraannya tepat di depan teras rumah bergaya Amerika. Dia membukakan pintu penumpang, dan kembali menuntun Kushina untuk masuk ke dalam rumah. Rumah mereka.
Kushina masih tidak bersuara saat Minato membawanya ke dalam kamar. Wanita itu terlihat sangat lelah saat berbaring di atas tempat tidur. Minato menarik selimut hingga sebatas dada Kushina, lalu berdiri mematung, tanpa sanggup melepaskan tatapannya dari wajah istrinya. "Tidurlah!" bisiknya pelan. Minato membungkuk, dengan lembut ia mengecup rambut istrinya sebelum berbalik pergi meninggalkan Kushina seorang diri di dalam kamar.
Tangis wanita itu kembali pecah saat Minato pergi. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ibunya begitu tega melakukan hal sekejam itu? Mengapa Mito tega memisahkan seorang anak dari ibunya? Mengapa dia tega membuang cucunya sendiri? Bagaimana bisa dia bertahan hidup dalam kebohongan besar itu? Pernahkah dia berpikir untuk mengatakan kebenaran itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Membuat dadanya semakin sesak, membuat hatinya semakin terasa sakit.
.
.
.
Di luar, langit sudah lama gelap. Kushina masih menangis di atas tempat tidurnya. Wanita itu meringkuk di dalam selimut, menekuk lututnya. Lampu kamar masih belum dinyalakan, dia terlalu lelah untuk melakukannya atau mungkin dia menyukai kegelapan yang mencerminkan hatinya saat ini. Entahlah.
"Kushina?" suara berat itu terdengar dari luar pintu kamar. "Kushina?" panggil Minato lagi sambil mengetuk daun pintu hingga beberapa kali, namun hanya keheningan yang menjawab panggilan paraunya. "Kushina, boleh aku masuk?" tanya Minato, dia mengernyit cemas. Apa mungkin dia masih tidur? Tanya Minato dalam hati.
Perlahan, Minato memutar pegangan pintu kamar. Membukanya sedikit untuk melihat ke dalam kamar. Pria paruh baya itu mengacak rambutnya. Ayolah, kenapa ia harus merasa canggung sekarang? Kushina itu masih istri sahnya. Dan ini kamarnya juga. "Jangan bertingkah seperti remaja tanggung, Minato." Bisiknya pelan, menegur dirinya sendiri.
Dengan helaan napas panjang ia masuk ke dalam kamar. Langkahnya pelan dan hati-hati, takut membangunkan wanita yang paling dicintainya. Lampu kamar dinyalakannya, Minato tercekat melihat Kushina yang bergelung di atas tempat tidur dengan tubuh bergetar, namun wanita itu tidak mengeluarkan suara apapun.
Minato merengkuh Kushina ke dalam pelukannya. Mulut pria itu terus menggumamkan kata 'maaf'. Kushina membenamkan wajahnya pada bahu bidang suaminya. Tangisnya kembali meledak setelah terdiam cukup lama. Mereka terus berpelukan, saling menghibur, saling memaafkan. Dan untuk kali pertama dalam waktu hampir delapan belas tahun, mereka kembali tidur di atas satu tempat tidur yang sama.
Sementara itu, di tempat lain, Sasuke pulang ke apartemen kecilnya tepat pukul sepuluh malam. Keningnya berkerut saat telinganya mendengar suara dari dapur. "Kau belum tidur?"
Naruto menoleh, melirik lewat bahunya. Gadis remaja itu tersenyum kecil, "kau sudah pulang." Dia terdengar gembira, sebuah spatula teracung, di genggam erat oleh tangan kanannya. "Lapar?" Naruto bertanya, tangannya kembali sibuk mengambil piring dan meletakkannya di atas meja makan.
"Lumayan," jawab Sasuke ringan.
Naruto mendelik, matanya menyipit saat mendengar bunyi keras perut Sasuke. "Perutmu jelas berkata lain," cibirnya, sementara Sasuke hanya mengangkat bahunya ringan.
"Mataku akan mengantuk jika perutku terisi penuh," jawab Sasuke. "Masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan malam ini." Sasuke membuka lemari pendingin, mengeluarkan sebuah botol air mineral dari dalamnya dan menenggak isinya dengan cepat.
Naruto menghela napas dan meletakkan telur orak-arik, bacon, serta beberapa potong sosis di atas piring milik Sasuke. "Kau harus banyak makan, Sasuke! Berhenti minum air dingin!" Naruto mengingatkan dengan suara melengking. "Aktifitasmu sangat banyak, ditambah pekerjaan sampinganmu, kau bisa sakit jika tidak bisa menjaga diri!"
Mulut Sasuke ditekuk ke atas mendengarnya, dengan lahap dia mulai menyantap makanan yang tersaji di atas piring. "Menu seperti ini tidak akan membuat perut kenyang," Sasuke terdengar mengeluh.
Naruto mengernyit, menekuk wajahnya. "Coba dengar siapa yang mengeluh sekarang?" katanya dengan nada sinis. "Masih ada sup kentang dipanci jika kau mau." Tawar Naruto setelah mendesah berat.
"Tentu," sahut Sasuke antusias. Dengan cekatan, Naruto menyajikan sup kentang untuk Sasuke. Gadis remaja itu tersenyum puas melihat pemuda di depannya makan dengan lahap. Seharusnya kau tidak tinggal seorang diri, Sasuke, pikir Naruto sedih. Hatinya mendadak merasa khawatir, bagaimana jika Sasuke sakit? Siapa yang akan merawat Sasuke jika itu terjadi dan Naruto tidak berada di tempat ini. "Sasuke?"
"Hn." Jawabnya berupa gumaman tidak jelas. Sasuke menatap lurus mangkuk supnya.
"Kau harus bisa menjaga diri, ok?" ucap Naruto tiba-tiba.
Sasuke mendongak dari mangkuk supnya untuk menatap Naruto yang beraut cemas. Jantungnya berdetak semakin cepat saat mendengarnya walau wajahnya masih berekspresi datar seperti biasa. Sasuke tidak tahu kapan terakhir kali ada seseorang yang mengkhawatirkannya seperti saat ini.
"Kau tidak boleh terus memaksakan diri. Jangan terjaga hingga larut malam, jangan bekerja terlalu keras. Mengerti?" Naruto berbicara dengan suara rendah, sedikit bergetar. Gadis itu sangat cemas jika mengingat Sasuke akan kembali seorang diri setelah Naruto pulang ke Amerika. "Siapa yang akan merawatmu jika kau sakit dan aku sudah pulang ke Amerika?"
Sasuke terdiam, kepalanya kembali menunduk sementara tangannya sibuk mengaduk-aduk sup kental di dalam mangkuk dengan sendok. Ah, nafsu makannya mendadak hilang sekarang. Kenapa Naruto harus mengungkit jika dia akan segera pulang.
Hening.
"Kalau begitu, tetaplah tinggal disini!" katanya setengah berbisik, begitu jujur dan penuh pengharapan. Harapan yang Sasuke tahu tidak mungkin terjadi. Naruto memiliki kehidupannya sendiri, dan itu tidak disini.
"Apa?" tanya Naruto mendekatkan diri, suara Sasuke terlalu pelan untuk di dengarnya.
"Kau juga akan sendirian setelah pulang ke Amerika. Seharusnya kau mencemaskan dirimu sendiri." Kata Sasuke cepat, terlalu malu dan gengsi untuk mengulangi apa yang dikatakannya tadi.
Naruto merengut, hembusan napasnya terdengar keras. "Ck, aku akan segera tinggal di asrama. Banyak guru dan teman yang bisa menjagaku. Lagipula, kakakku akan menemaniku untuk sementara waktu sebelum aku masuk asrama. Cemaskan dirimu sendiri, jangan mencemaskanku!"
Sasuke mengulum senyum tipis, dipaksakan. "Habiskan makananmu dan pergilah tidur!" ujarnya, mengalihkan pembicaraan.
"Lalu kau?" Naruto balik bertanya dengan sebelah alisnya terangkat.
"Masih ada pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan," jawab Sasuke datar.
Naruto berdecak, sebal. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Kau juga harus tidur, istirahat! Lagipula, besok hari Minggu. Kau bisa mengerjakan semua tugas sekolah besok." Usulnya.
Sasuke merapihkan peralatan makannya, lalu bergerak untuk berdiri dan berjalan menuju bak cuci piring. "Besok masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."
Naruto terdiam beberapa saat, matanya menatap lurus punggung Sasuke yang masih berkutat di bak cuci piring.
"Taruh piring kotormu di sana, aku akan membereskannya sekalian." Kata Sasuke lagi, tak terbantahkan.
"Besok kau bekerja lembur?" tanya Naruto mulai merapihkan peralatan makannya.
Sasuke menjawab cepat. "Besok aku bekerja dari jam sepuluh pagi." Piring-piring yang sudah dicuci, dilapnya hingga kering.
"Begitu?" Naruto mengangguk kecil mendengarnya. "Baiklah," katanya lagi setelah terdiam untuk beberapa saat. "Selamat malam, Sasuke!"
"Hn... Selamat malam!" balas pemuda itu tanpa melihat ke belakang.
Sasuke menghela napas panjang setelah Naruto pergi. Benar, sebentar lagi Naruto akan pulang. Dia harus mulai membiasakan diri lagi untuk hidup seorang diri. Ini yang terbaik, pikir Sasuke. Semakin cepat Naruto pergi, berarti semakin sedikit kenangan yang harus diingatnya dan itu berarti semakin mudah bagi Sasuke untuk melupakannya. Tapi, benarkah akan semudah itu? Ck, Sasuke sendiri tidak merasa yakin.
.
.
.
Ruang makan keluarga Namikaze terlihat berbeda pagi ini. Tidak ada pelayan yang berlalu-lalang untuk melayani sarapan. Hanya ada Kushina yang terlihat sibuk menyiapkan sarapan komplit ala Jepang.
Kimimaro berdiri di depan pintu, terlalu bingung. Kakinya seolah terpaku pada lantai marmer berwarna putih di bawahnya. Kenapa terasa berbeda? Tanyanya dalam hati. Dia bisa mendengar jelas pembicaraan ringan antara Minato dan Kushina dari tempatnya berdiri saat ini. Apa ini mimpi? Dia kembali bertanya dalam hati.
"Sampai kapan kau mau berdiri di sana, Kimimaro?" suara Kushina membuyarkan lamunan pria muda itu. "Ayo duduk! Kaa-san sudah menyiapkan sarapan milikmu." Kushina tersenyum kecil, meletakkan piring dan mangkun berisi makanan untuk Kimimaro di atas meja makan.
Kimimaro mengerjapkan mata, otaknya seolah membeku. Ya, mungkin ini mimpi. Tegasnya dalam hati. Tapi tidak ada salahnya aku menikmati semua ini, walau untuk sesaat. Tambahnya lagi pada dirinya sendiri.
Minato melempar senyuman pada putra sulungnya. Pria paruh baya itu melipat koran di tangannya, menaruhnya di atas meja lalu menyesap kopi hitamnya dengan nikmat, sementara sarapannya sudah lama habis.
Kimimaro menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, sejenak menundukkan kepala untuk berdoa. "Selamat makan," katanya terdengar parau sebelum nasi putih yang masih mengepul itu masuk ke dalam mulutnya.
Hening. Kushina dan Minato saling melempar senyum mengamati Kimimaro.
"Ini bukan mimpi, Kimimaro." Kata Minato tenang, dengan tepat dia bisa menebak isi pikiran putra pertamanya.
Kimimaro mendongak, wajahnya berekspresi lucu.
"Ini bukan mimpi, jadi berhentilah berpikir yang tidak perlu. Kau bisa menikmati sarapanmu dengan santai, tidak perlu tegang seperti itu." Kata Minato lagi panjang lebar dengan senyum mengembang.
Kimimaro hanya mengerjapkan mata, sekilas melirik ke arah Kushina yang tersenyum tulus. Ya, Tuhan. Jika benar ini mimpi, aku rela untuk tetap tertidur. Batin Kimimaro senang, sementra Minato dan Kushina saling melempar pandang penuh arti.
"Ah, Kimimaro. Nanti sore, tolong jemput adikmu di bandara." Pinta Minato memutus lamunan putranya.
"Eh, maksud Tou-san apa?" Kimimaro mendongak, menatap ayahnya dengan ekspresi kaget. Dia dan Kyuubi tidak pernah akur, dan orang tuanya meminta dirinya untuk menjemput adik tirinya itu? Yang benar saja! Kimimaro yakin jika dirinya dan Kyuubi akan terus bertengkar, saling adu argumen selama perjalanan, memikirkannya saja sudah membuatnya pusing.
"Kyuubi sedang liburan saat ini, tapi kami memintanya untuk pulang lebih cepat," jelas Kushina menjawab pertanyaan Kimimaro. Ia kembali menyodorkan semangkuk sup miso pada Kimimaro. "Ada yang ingin kami bicarakan pada kalian berdua, karena itu kami meminta Kyuubi pulang," terangnya lagi, sedangkan Kimimaro hanya mengangguk, mencoba untuk mengerti.
"Coba supnya, sup buatan kaa-san mu paling enak." Ujar Minato, memutuskan keheningan dan juga rasa canggung yang kembali tercipta di ruangan itu.
Kimimaro lagi-lagi mengangguk kecil, hatinya tetasa hangat, matanya mulai terasa panas. Ia mengambil sebuah sendok, lalu menyendok satu sendok penuh sup miso dari dalam mangkuk. "Enak, benar-benar enak." Kata Kimimaro serak setelah menelan sup buatan Kushina. Dia menggigit bibir dalamnya, menahan diri untuk tidak menangis. Ah, aku terlalu sentimentil. Kimimaro kembali bicara dalam hati.
Apa yang dilakukan Kushina setelahnya benar-benar diluar dugaan. Wanita paruh baya itu memeluk Kimimaro dari belakang, sesaat meletakkan dagunya di atas puncak kepala putranya yang menunduk. "Maaf karena Kaa-san menyakitimu selama ini. Tolong maafkan Kaa-san." Kushina berkata lembut nyaris berupa bisikan.
Dan tangis Kimimaro pun pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Mulutnya hanya mampu mengeluarkan isakan yang sedari tadi ditahannya. Mulutnya tidak mampu untuk bicara. Kini dia merasa takut, takut jika semua ini benar-benar hanya sebuah mimpi yang akan hilang saat dia terbangun nanti.
"Maafkan Kaa-san." Suara Kushina kembali terdengar di telinga Kimimaro.
Putra sulung keluarga Namikaze itu pun bergerak dari kursinya, berdiri dan memeluk tubuh ibunya erat. Ia meluapkan tangis yang selama hampir delapan belas tahun ini ditahannya. Ia menangis di atas bahu Kushina yang terlihat sama sedihnya.
"Maafkan aku juga, Kaa-san!" kata Kimimaro setelah mampu untuk bicara. "Karena aku membuat keuarga kita terpisah. Maafkan aku. Tolong maafkan aku," katanya berulang-ulang.
"Sudah, berhenti menangis!" ujar Kushina. Ia menghapus jejak air mata di kedua pipi putranya begitu lembut. "Habiskan sarapanmu, buat kaa-san senang."
"Tentu!" sahut Kimimaro serak. "Aku akan menghabiskannya," katanya lagi dengan senyum lebar.
.
.
.
Matahari bersinar hampir tepat di atas kepala, Naruto duduk di sofa ruang tamu mungil yang juga berfungsi sebagai ruang nonton di apartemen Sasuke. Mulutnya sibuk mengunyah potongan pizza, sementara tangan kanannya membolak-balik halaman majalah gosip sebelum akhirnya memilih untuk meletakkannya di atas meja.
Naruto menghela napas kasar, bosan, dia sangat bosan. Acara televisi siang ini juga tidak membuatnya tertarik. Gadis itu menyedot minuman bersoda miliknya pelan, sementara matanya menatap lurus layar televisi di depannya datar. Dia sudah menukar-nukar saluran hingga lima kali, menarik napas dan akhirnya memilih untuk mematikan televisi. Apa yang harus dilakukannya agar tidak bosan? pikirnya sambil mencari posisi lebih enak di atas sofa empuk, melipat kedua tangannya di depan dada dan menekuk wajahnya semakin dalam.
Ia tersenyum lebar saat ide itu muncul di kepalanya. Kenapa dia tidak memikirkannya sedari tadi? Ya, Naruto akan mengunjungi cafe tempat Sasuke bekerja. Itu bukan ide yang buruk, kan? Setidaknya dia bisa melihat pemuda itu bekerja dan tidak merasa kesepian dan bosan seperti saat ini. "Jalan-jalan sebentar lalu pergi ke cafe sepertinya menyenangkan." Tukas Naruto senang dan segera bersiap.
.
.
.
Tepat pukul dua belas siang pesawat yang membawa Kyuubi dari Kyoto mendarat mulus di bandara Narita. Siapa pun yang melihat raut wajah gadis itu pasti tahu jika dia dalam mood buruk saat ini.
"Kau yakin tidak akan jadi masalah, Kyuu?" tanya Itachi saat keduanya berjalan santai dari pintu kedatangan dalam negeri.
"Kenapa harus jadi masalah?" tanya Kyuubi dengan cueknya. Kenapa juga Itachi harus bersikeras menemaninya pulang hari ini? Seharusnya Itachi tetap tinggal di Kyoto, menghabiskan sisa liburan dengan yang lainnya. Jika bukan karena desakan ibunya, Kyuubi pasti akan menolak untuk pulang, apalagi saat Kushina memberitahu jika Kimimaro yang akan menjemput Kyuubi di bandara.
Itachi menghela napas berat sebelum menjawab, "kau tidak memberitahu keluargamu jika kau mengganti penerbangan ke siang, bukan sore. Kau bilang jika penerbanganmu pukul tiga sore, iya-kan?"
"Kau menguping pembicaraanku?" Kyuubi menghentikan langkahnya, memicingkan mata dan menatap sinis Itachi yang tersenyum kering.
"Bukan menguping," ujar Itachi cepat, membela diri. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu," tambahnya cepat. Kyuubi mendengus kasar dan kembali berjalan dengan langkah panjang, meninggalkan Itachi yang berusaha mengejar di belakangnya. "Kau mau kemana sekarang, Kyuu? Bukankah seharusnya kau menunggu kakakmu datang?" Itachi kembali bertanya setelah berhasil mengejar langkah Kyuubi.
Kyuubi menghentikan sebuah taksi, memasukkan koper ke dalam bagasi dan menjawab pertanyaan Itachi sinis. "Bukan urusanmu, dan jangan mengikutiku!"
Itachi menggelengkan kepala pelan saat taksi yang membawa Kyuubi meluncur cepat menembus padatnya jalan raya kota Tokyo. Itachi pun melakukan hal yang sama, menghentikan sebuah taksi untuk mengikuti Kyuubi. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan masalah tadi pada Kyuubi, hah, menghadapi Kyuubi yang sedang dalam mood buruk memang sangat merepotkan, pikir Itachi lelah.
Lima belas menit kemudian taksi yang ditumpangi Kyuubi sampai di cafe milik Obito dan diikuti oleh Itachi beberapa saat kemudian. Gadis berambut merah itu mendelik saat bertatap muka dengan Itachi yang melempar senyum dipaksakan. "Kenapa kau mengikutiku?" Kyuubi mendesis, tidak suka. "Aku sudah bilang jangan mengikutiku!"
"Aku mau menemui adikku," jawab Itachi, berkilah. Itachi kembali menyeret koper miliknya, berjalan mendahului Kyuubi dan masuk ke dalam cafe.
Café sangat ramai siang ini. Mungkin karena hari libur, hingga banyak sekali remaja yang datang untuk berkumpul, menghabiskan waktu disana.
"Hai, Paman!" sapa Itachi saat berpapasan dengan Obito yang berdiri di belakang meja kasir.
"Kau darimana?" tanya Obito, matanya tertuju lurus pada koper yang dibawa oleh keponakannya itu.
Itachi melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil menjawab cuek, "pulang liburan."
"Kenapa tidak langsung pulang ke rumah?" tanya Obito lagi sambil menyempitkan mata. "Jangan bilang kau datang untuk mengganggu adikmu, Tachi!"
Itachi mengerutkan dahi dan balas menatap galak pamannya. "Apa aku tidak boleh menemui adikku sendiri?" protesnya tidak terima.
Obito menggelengkan kepala pelan, "bukan itu maksudku."
"Lalu apa?" tantang Itachi dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menuntut penjelasan.
"Karena kau mengganggu pemandangan!" timpal Sasuke cepat dengan nada sinis.
Itachi menoleh, melirik lewat bahunya dan tersenyum lebar melihat adiknya yang berdiri di belakangnya. "Aku juga merindukanmu, Ototou!" balasnya, sama sekali tidak nyambung. "Kemari, peluk kakakmu ini!" kata Itachi lagi sambil merentangkan kedua tangannya lebar, penuh harap.
Sasuke hanya mendengus kecil menanggapinya dan berlalu meninggalkan Itachi yang menunduk dalam, kecewa. "Kau sangat kekanakkan!" seru Obito pelan.
"Adikku tidak merindukanku, Paman." Adu Itachi dengan sikap berlebihan. "Sasuke menolakku, Kyuu." Itachi kembali mengadu pada Kyuubi yang kini berdiri di sampingnya, memutar kedua bola matanya.
"Kau masih sangat beruntung, karena aku akan menghajarmu jika kau melakukan hal memalukan itu padaku," tukas Kyuubi masih dengan nada sinis yang sama. Gadis remaja itu mulai mencari meja kosong untuk ditempatinya.
"Apanya yang memalukan?" Itachi kembali berjalan sambil menyeret kopernya serta, mengikuti Kyuubi. Dia kemudian duduk di salah satu kursi kosong, di depan Kyuubi. "Apa meminta sebuah pelukan dari adikmu sendiri sangat memalukan?"
"Berhenti merengek atau aku akan benar-benar menghajarmu!" desis Kyuubi terdengar berbahaya.
Itachi pun pada akhirnya memilih untuk menutup rapat mulutnya, membuka buku menu dan berpura-pura sibuk memilih menu yang akan dipesannya.
Kyuubi memesan segelas jus dan sepotong pie apel untuknya sendiri, sementara Itachi memesan secangkir cappuccino dan sepotong tiramisu.
"Ada lagi?" tanya Sasuke datar, sementara tangannya sibuk menulis pesanan Kyuubi dan Itachi. Kyuubi menggeleng pelan menjawabnya.
"Aku ada," sahut Itachi cepat.
"Apa lagi yang mau anda pesan?" tanya Sasuke dengan sikap formal.
"Aku memesan Uchiha Sasuke untuk dibawa pulang," jawab Itachi yang hanya dibalas tatapan mematikan dari Sasuke. "Hah, dia masih tidak mau pulang, Kyuu." Keluh Itachi setelah Sasuke pergi.
"Ayahmu tidak pernah mencarinya?" tanya Kyuubi tanpa mengalihkan pandangannya dari telepon genggam layar sentuhnya.
"Tidak," jawab Itachi dengan nada serius. "Dia tidak pernah berusaha membujuk Sasuke untuk pulang."
"Sasuke pasti pulang, Tachi."
"Kapan?" tanya Itachi menatap lurus pada Kyuubi.
Kyuubi menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuubi.
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat.
Itachi menghela napas berat, dan menatap ke udara. "Kau sudah mengabari keluargamu jika kau sudah sampai di Tokyo?" tanyanya kemudian, mengganti topik pembicaraan.
"Begitulah," jawab Kyuubi datar, terdengar cuek. "Dia akan menyusulku kemari," tambahnya lagi, ringan.
.
.
.
"Demi Tuhan," kata Kimimaro sambil memijat dahinya yang berkedut sakit. Dia dan Kyuubi belum bertatap muka tapi adiknya itu memilih untuk menabuh genderang perang lebih awal. "Lupa? Ck, yang benar saja!" cibir Kimimaro sambil menyambar kunci mobilnya dari atas meja, lalu setengah berlari menuju garasi rumahnya.
"Kemana?" tanya Minato yang baru saja pulang bersama Kushina.
"Kyuubi sudah sampai di Tokyo. Aku akan menjemputnya," sahut Kimimaro, memperlambat langkahnya lalu mengecup ringan pipi Kushina. "Selamat datang!" sambutnya sopan.
Kushina tersenyum lembut mendapat sambutan hangat dari putra tirinya. "Bukankah Kyuubi naik pesawst dengan penerbangan sore?"
"Dia mengganti penerbangannya dan lupa memberitahuku. Sekarang aku akan menjemputnya ke Tokyo," jelas Kimimaro cepat.
"Hati-hati di jalan, dan cepat kembali!" timpal Minato. Kimimaro membungkuk kecil sebelum kembali berbalik menuju garasi.
"Bagaimana bisa Kyuubi lupa memberitahu perubahan jam penerbangannya?" Kushina menghela napas panjang, melirik ke arah Minato yang balas menatapnya dengan tatapan teduh.
"Mungkin Kyuubi kaget karena kau menyuruhnya untuk pulang," jawab Minato tenang. "Dan dia lupa memberitahumu karena hal itu."
"Aku harap begitu," sahut Kushina pelan.
Kimimaro menyetir sambil menggerutu. Lupa? Seoranh Kyuubi bisa lupa mengatakan jadwal keberangkatannya? Dan sekarang dengan seenaknya dia mengirim email, meminta, ah, lebih tepatnya memerintah Kimimaro untuk segera menjemputnya di cafe biasa.
"Ck, dia pikir aku supirnya?" Kimimaro memukul stir mobilnya keras saat untuk kesekian kalinya dia terjebak lampu merah. "Bahkan lampu merah pun tidak bersahabat denganku hari ini," gerutunya semakin kesal.
Butuh waktu hampir satu jam untuk Kimimato sampai di cafe yang disebutkan oleh Kyuubi dalam emailnya. Untungnya cafe ini juga cafe langganannya di saat senggang, jadi dia tidak perlu banyak waktu untuk mencarinya. Dengan cekatan Kimimaro memarkir mobil sedannya di tempat parkir, lalu mematikan mesin mobil sebelum keluar dan menutup pintu keras. Suara bip terdengar saat dia mengunci mobil dan bergerak, berjalan menuju café.
Kyuubi masih bisa bersikap tenang, menyeruput jus apelnya nikmat saat Kimimaro berdiri menjulang di sampingnya dengan wajah tak bersahabat. "Ayo pulang!" desis Kimimaro dengan mulut terkatup rapat setelahnya.
Itachi berdeham, sedikit tidak nyaman saat merasakan aura bermusuhan dari dua orang di depannya itu.
"Duduk dan pesanlah sesuatu, apa kau tidak lapar?" tanya Kyuubi dengan nada manis dibuat-buat. "Karena aku masih lelah dan sangat lapar," dustanya.
Gigi Kimimaro gemertuk, sebal melihat sikap manis adiknya yang terlihat palsu. "Kita tidak punya waktu untuk main-main, ayo pulang!"
"Aku masih lapar!" seru Kyuubi lagi dengan cueknya. "Lagipula aku berjanji sampai ke rumah sore ini, jadi kita masih memiliki waktu." Gadis itu beralasan sambil melambaikan tangan kanannya ke udara, memanggil seorang pelayan dan kembali memesan pesanan yang sama seperti pesanan awalnya. "Mau kupesankan makanan?" tawar Kyuubi manis.
Kimimaro mendesah lelah, mendaratkan pantatnya di kursi kosong di samping Itachi dan menjawab pelan, mengalah, "terserah."
"Hei, bukankah dia gadis yang dicari oleh Sasori?" Itachi menunjuk ke arah Naruto yang berdiri di depan pintu cafe. "Iya-kan?" tanyanya pada Kyuubi, tidak yakin.
Kyuubi mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Itachi. Baru saja dia akan memanggil Naruto, namun sudah didahului oleh Kimimaro. "Naruto," panggil Kimimaro terdengar senang. Pria muda itu bergerak, berjalan menghampiri Naruto yang masih berdiri di depan pintu café.
"Kakakmu mengenal gadis itu?" tanya Itachi keheranan, Kyuubi pun hanya mengangkat bahu, tidak tahu, walau hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa kakaknya mengenal gadis itu.
Naruto mengalihkan pandangannya, mencari sumber suara yang memanggil namanya. Gadis remaja itu tersenyum hangat saat mellihat sosok yang dikenalnya, "Kimimaro-nii?" ujarnya tak percaya. "Nii-san sedang apa disini?" gadis itu bertanya saat Kimimaro berdiri begitu dekat.
"Menjemput adikku," jawab Kimimaro sambil menunjuk ke arah Kyuubi dengan dagunya. Naruto mengangguk, sedikit terkejut saat mengenali wanita muda yang ditunjuk oleh Kimimaro. "Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Kimimaro lagi.
"Jalan-jalan," jawab Naruto. Kimimaro membawa Naruto ke meja yang ditempatinya bersama Kyuubi dan Itachi.
"Kenalkan, ini adikku, namanya Kyuubi." Kimimaro memperkenalkan keduanya.
"Kami pernah bertemu," sahut Naruto dengan senyum kecil.
"Benarkah?" Kimimaro terlihat terkejut mendengarnya.
"Ya," Naruto mengangguk dan menatap lurus Kyuubi. "Apa anda masih ingat saya?" tanyanya pada Kyuubi. "Kita pernah bertemu di pantai tempo hari. Nama saya Naruto," dia memperkenalkan diri.
"Tentu saja ingat," potong Itachi cepat. "Temanku yang bernama Sasori bahkan terus berusaha mencarimu hingga saat ini."
"Eh, kenapa?" tanya Naruto kaget. "Apa aku membuat salah pada teman anda?"
Itachi mengibaskan tangan di depan wajahnya dan menjawab, "bukan begitu. Temanku ingin menjadikanmu sebagai model fotonya-"
"Tidak boleh!" Sasuke menimpal cepat dari belakang Naruto. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Dobe?" Kenapa Naruto harus bertemu dengan Kimimaro disini? gerutunya dalam hati.
"Jalan-jalan," jawab Naruto ringan, dengan mulut ditekuk ke atas.
Sasuke menghela napas berat dan menatap tajam ke arah Naruto. "Bukankah aku sudah bilang jika kau tidak boleh pergi keluar sendiri?" katanya mengingatkan, membuat Naruto mendengus, sebal.
"Memangnya kau siapa?" Kyuubi menyahut ketus. "Kenapa kau melarangnya pergi keluar?"
Aura tegang kembali tercipta di meja itu. Kyuubi menatap Sasuke dengan tatapan bermusuhan, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak suka jika Sasuke melarang gadis remaja yang baru saja ditemuinya sebanyak dua kali itu. Kyuubi sendiri tahu jika ini bukam urusannya, tapi tetap saja dia ingin ikut campur.
"Dia selalu tersesat setiap keluar rumah," jawab Sasuke dingin. Tatapannya sama menusuknya seperti Kyuubi. "Aku melarangnya karena aku peduli."
Itachi bahkan tidak mampu berkata-kata setelah mendengar penuturan adiknya itu. Sasuke, peduli? Oh, yang benar saja. Sejak kapan adiknya itu peduli pada orang lain? Sasuke bahkan tidak memperdulikannya, batinnya miris.
"Naruto sudah cukup dewasa untuk keluar seorang diri," kini giliran Kimimaro yang angkat bicara. Pria muda itu memilih untuk melakukan gencatan senjata dengan Kyuubi dan bersengkongkol untuk menyerang Sasuke saat ini. "Kau bukan ayahnya, kau bukan kakaknya!"
Sasuke melipat kedua tantannya di depan dada dan menjawab datar. "Lepaskan tanganmu dari Naruto!" Sasuke berkata pelan namun terdengar tajam dan berbahaya.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya?" tantang Kimimaro, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan intimidasi yang dilayangkan oleh Sasuke. "Dia juga bukan pacarmu," tambahnya dengan seringai puas. Sementara Naruto hanya menatap keduanya bergantian, tidak mengerti.
Sasuke mengumpat di dalam hati. Itachi pasti akan terus mengoloknya jika dia meladeni Kimimaro dan memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya saat ini. Naruto mungkin akan telat menyadarinya, tapi ketiga orang di depannya pasti akan menangkap sinyal sekecil apapun dengan cepat. Bahaya, pikir Sasuke. "Terakhir kali dia pergi keluar seorang diri kau menabraknya," Sasuke kembali bicara, mengganti topik. Pemuda itu menyunggingkan senyum tipis, penuh kemenangan saat melihat ekspresi Kimimaro yang kembali merasa bersalah.
Kyuubi melempar tatapan membunuh pada kakaknya, menuntut penjelasan. Kimimaro pernah menabrak Naruto? Pantas saja dia mengenalnya, batin Kyuubi kesal.
"Itu salahku, Sasuke." Kata Naruto mencoba mendinginkan suasana. "Semuanya sudah terjadi dan aku baik-baik saj-"
"Kau menabraknya?" desis Kyuubi marah, memotong ucapan Naruto.
"Aku tidak sengaja," jawab Kimimaro pelan.
"Itu salahku," Naruto kembali bicara dan memilih untuk berdiri di antara Kimimaro dan Kyuubi, menengahi. "Aku asyik dengan telepon genggamku hingga tidak fokus. Itu bukan kesalaham Kimimaro-nii."
Dan Sasuke pun kembali kesal karena Naruto membela pria lain. "Aku melarangnya karena dia baru disini," kata Sasuke lagi, menekan perasaan aneh yang berkutat di hatinya saat ini. "Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya." Sekarang giliran Sasuke yang tidak mengerti kenapa dia harus menjelaskan titik persoalan pada Kimimaro dan Kyuubi. "Kau harus memberitahuku jika mau pergi keluar, aku bisa mengantarmu." Sasuke menepuk pelan kepala Naruto, memperlakukannya seperti anak kecil.
"Kau juga bisa menghubungiku," timpal Kimimaro. "Aku bisa mengantarmu berkeliling Tokyo."
"Hubungi aku saja!" Kyuubi tidak kalah antusias. "Pergi dengan sesama wanita akan terasa lebih menyenangkan. Kita bisa belanja dan mengobrol. Aku akan memberikan nomor telepon genggamku, kau bisa menghubungiku kapan saja."
"Aku juga tidak keberatan," kata Itachi buka suara, menawarkan diri.
"Tidak perlu!" tolak Sasuke, Kimimaro dan Kyuubi secara bersamaa. Itachi memutar kedua bola matanya, jengah karena ketiganya bisa kompak hanya untuk menjatuhkannya.
Naruto tersenyum manis mendengarnya, "terima kasih, kalian sangat baik. Aku jadi terharu."
"Mirip, sangat mirip," kata Itachi setelah terdiam sesaat, seraya menganggukkan kepala. Pemuda itu memperhatikan dengan seksama interaksi ketiganya. "Benarkan, Ototou?" tanyanya pada Sasuke tanpa melepaskan pandangannya pada tiga orang lainnya yang menatapnya tak mengerti.
Sasuke mengernyit, mencoba memahami apa maksud dari Itachi. Dia pun ikut memperhatikan fisik ketiga orang di depannya. Memang sedikit ada kemiripan, pikir Sasuke menyetujui.
"Apanya yang mirip?" tanya Kyuubi tidak mengerti.
Itachi menunjuk ke arah Kyuubi, Naruto dan Kimimaro secara bergantian. "Kalian bertiga," katanya. "Aku tahu, wajar jika kau dan Kimimaro-san mirip karena kalian bersaudara."
Saudara? beo Sasuke dalam hati. Cukup terkejut akan informasi yang baru diketahuinya.
"Tapi, kalian bertiga sangat mirip, seperti sebuah keluarga." Lanjut Itachi, penuh keyakinan. "Kalian yakin tidak memiliki hubungan dengan Naruto?" tanya Itachi, membuat keempat orang di depannya kembali terdiam.
.
.
.
TBC
Hai...! Terima kasih untuk semua yang masih bersedia menunggu, dan sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
