Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Romance, Family, Friendship
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Ok. Selamat membaca!
14 Days With Mr. Stranger
Chapter 7 : Cemburu, Huh?
By : Fuyutsuki Hikari
Itachi menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Sesekali dia melirik kearah Kimimaro yang duduk di kursi pengemudi. Diam, sulung keluarga Namikaze di sampingnya itu memilih untuk menutup rapat mulutnya sejak lima belas menit yang lalu. Hal serupa juga dilakukan oleh Kyuubi yang duduk di kursi belakang. Gadis itu memilih untuk menatap keluar jendela dan diam membisu.
Canggung.
Kenapa suasana di dalam mobil ini terasa mencekik? Batin Itachi berlebihan. Itachi menekuri jari-jari tangannya yang mendadak terlihat lebih menarik setelah merasa bosan menatap keluar jendela. Ck, andai dia tahu jika suasananya akan secanggung ini, dia pasti memilih untuk menggunakan taksi atau menghubungi supir pribadi untuk menjemputnya di cafe. Dan andai saja Sasuke tidak mengusirnya secara paksa dari cafe, tentu dia tidak akan terjebak dalam suasana canggung seperti sekarang ini. Itachi menghela napas keras.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
"Bisakah kau berhenti menghela napas keras?" tegur Kyuubi dengan menyempitkan mata. Gadis itu merasa terganggu rupanya.
Itachi bersyukur di dalam hati. Setidaknya ada bahan pembicaraan yang bisa dia angkat sekarang. Pria itu menoleh ke belakang, tersenyum simpul membalas delikan tajam Kyuubi. "Kyuu, kenapa kau tidak mengajak Naruto serta?" tanya Itachi basa-basi.
Kyuubi melotot dan menjawab dengan suara keras. "Karena adik jelekmu itu melarang Naruto pulang! Kau tahu itu." Kyuubi kembali kesal saat teringat Sasuke meminta Naruto untuk tetap tinggal di cafe. Apa haknya melakukan hal itu? Gerutu Kyuubi dalam hati.
Itachi mengangkat kedua alisnya, tidak mengerti dan tidak menyangka jika reaksi Kyuubi akan sangat berlebihan seperti saat ini. Apa aku salah bicara? Batin Itachi tidak mengerti. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Pikir Itachi mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Kenapa Naruto harus menurut akan apa yang dikatakan oleh Sasuke?" giliran Kimimaro yang menyahut dengan nada suara dingin. Jemari tangannya mencengkram erat kemudi mobilnya, sementara matanya menatap lurus jalan aspal di depannya. "Memangnya siapa Sasuke hingga dia berani mengatur-ngatur Naruto?"
Eh, apa lagi ini? Tanya Itachi di dalam hati. Dia mengawasi gerak tubuh Kimimaro lewat sudut matanya. Kenapa Kimimaro juga bersikap berlebihan? Itachi semakin bingung karenanya.
"Benar. Kenapa Naruto harus menuruti perkataan Si Jelek itu?" tambah Kyuubi. Kepalanya mengangguk cepat, menyetujui.
Itachi menelan air ludahnya dengan susah payah. Kenapa dia merasa dipojokkan saat ini. "Memang apa salahnya jika Naruto menuruti ucapan Sasuke?" dia balik bertanya dengan nada satu oktaf lebih rendah. Ah, sepertinya Itachi telah salah mengangkat topik pembicaraan.
Kimimaro dan Kyuubi mendesis, tidak suka akan lontaran pertanyaan Itachi. "Sasuke tidak berhak mengatur Naruto!" bentak Kimimaro.
Tubuh Itachi membeku, dalam hati mengumpat karena kendaraan yang ditumpanginya harus berhenti karena lampu merah. Kenapa Kimimaro harus semarah ini. Bukankah aku hanya mengutarakan pendapatku? Sasuke bahkan sangat baik hati, dia rela memberikan kamarnya untuk ditempati Naruto sementara dia sendiri tidur di sofa. Kurang baik apalagi adiknya itu? Batinnya miris. Itachi kemudian mengangkat bahu canggung. Tersenyum kaku saat Kimimaro menatap sinis ke arahnya. "Lampunya sudah hijau," ujarnya mengingatkan, masih dengan senyum dipaksakan. Suara klakson dari kendaraan di belakang mereka pun terdengar nyaring karena Kimimaro tidak juga menjalankan kendaraannya.
Kimimaro mendengus, kembali mengalihkan pandangannya ke depan, sementara kakinya menginjak pedal gas. Kimimaro membawa kendaraannya kencang, membelah jalanan kota Tokyo yang sepi sore ini. Itachi berdoa di dalam hati. Semoga dia selamat sampai ke rumah. Semoga jantungnya tetap sehat dalam perjalanan ini.
Belum rasa takutnyaa hilang, Itachi kembali dibuat kaget saat Kyuubi memukul keras kepalanya dengan koran yang dilipat-lipat. Itachi mengaduh keras, sementara tangannya mengelus-ngelus pelan kepalanya yang berdenyut sakit. "Kenapa kau memukulku?" protenya keras. Sementara itu Kimimaro memberikan satu jempol pada Kyuubi dan tersenyum puas. Sepertinya Kimimaro dan Kyuubi hanya kompak jika menyangkut Naruto. Pikir Itachi sedikit sebal.
"Sasuke bukan pacar Naruto." Jawab Kyuubi terdengar keki. "Kenapa dia harus mengatur-ngatur Naruto? Dia juga bukan ayah, kakak, atau keluarganya. Dia tidak boleh memerintah Naruto ini-itu!"
Kapan Sasuke memerintah Naruto? Itachi tidak habis pikir. Kenapa kedua orang Namikaze ini bersikap seperti kakak yang terlalu protektif terhadap adiknya. Bukankah mereka hanya tiga orang asing yang bari saling mengenal?
"Benar!" Kimimaro menimpali dengan semangat. "Untuk apa Sasuke menahannya di cafe? Seharusnya Naruto pulang dan istirahat di rumah."
Itachi mengernyit, semakin bingung. Kenapa Kimimaro dan Kyuubi harus repot mengurusi Naruto? "Mungkin Naruto bosan di rumah." Itachi menjawab dengan nada senormal mungkin. Padahal batinnya takut setengah mati saat ini.
"Kalau memang seperti itu, bukankah lebih baik dia ikut bersama kami, jadi kami bisa membawanya berkeliling." Sahut Kyuubi berapi-api. "Memang pada dasarnya adikmu itu ingin memonopoli kehidupan Naruto."
"Adikku tidak seperti itu," sahut Itachi cepat, tidak terima. Kenapa juga Sasuke harus disalahkan hanya karena Naruto tidak ikut bersama mereka saat ini? Bukankah itu konyol? Pikir Itachi sebal. Apa mereka tidak berpikir jika Naruto memang masih ingin tetap tinggal di cafe karena keinginannya sendiri, bukan murni hanya karena permintaan Sasuke saja.
"Adikmu itu jelas menyukai Naruto." Kimimaro kembali angkat bicara setelah ketiganya terdiam cukup lama. Suasana di dalam mobil itu terasa sedikit panas saat ini. AC mobil bahkan tidak membantu banyak dalam mendinginkan suasana.
Itachi mengangkat kedua tangannya ke udara. "Lalu apa masalahnya?" tanyanya semakin tidak mengerti. Kedua bahunya merosot, lelah. Mungkin seharusnya dia tidak mengawali pembicaraan ini. Atau mungkin seharusnya dia tidak berada di dalam kendaraan milik Kimimaro ini. Ah, Itachi benar-benar menyesal sekarang. "Adikku pria baik, tipe setia. Dan yang kulihat, Naruto juga nyaman di dekat Sasuke. Mereka pasangan cocok." Jelasnya dengan senyum mengembang. Ah, sepertinya Itachi benar-benar salah langkah saat ini.
"Berhenti di sini!" pinta Kyuubi cukup keras.
Kimimaro mengangkat sebelah alisnya, namun tanpa banyak bicara dengan lihai dia menepikan dan menghentikan kendaraannya. Kyuubi segera keluar dari dalam mobil, berjalan menuju bagasi dan mengeluarkan koper milik Itachi dari dalamnya. "Turun!" perintahnya dari samping mobil.
"Hah?" Itachi hanya bisa menatap Kyuubi tak percaya.
"Turun!" perintah Kyuubi lagi dengan nada lebih tegas saat ini.
Itachi melirik ke arah Kimimaro yang hanya mengangkat bahu acuh. Putra sulung keluarga Uchiha itu menghela napas panjang, berdebat dengan Kyuubi yang sedang dalam mood tidak bersahabat bukan pilihan bijak. Itachi membuka sabuk pengaman yang dikenakannya, membuka pintu penumpang dan akhirnya keluar dari dalam mobil, sementara Kyuubi merangsak masuk menempati tempat duduk yang ditinggalkan Itachi.
"Kalian marah karena aku membela adikku?" Itachi mencondongkan badan hingga kepalanya sejajar dengan jendela kaca mobil. Ya ampun, kenapa mulutnya harus begitu gatal hingga dia kembali melempar pertanyaan tabu. Kyuubi melipat kedua tanganmya di depan dada, mendelik tajam sebagai jawaban dari pertanyaan Itachi. "Kalian yakin tidak memiliki hubungan darah dengan Naruto? Karena sikap kalian terlalu berlebihan untuk seorang asing."
"Bukan urusanmu!" jawab Kimimaro dan Kyuubi kompak sebelum melaju pergi meninggalkan Itachi yang hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan untuk beberapa saat.
"Berani sekali temanmu membela Sasuke," ujar Kimimaro tidak terima. "Jangan bergaul dengannya, Kyuu. Kau bisa cepat keriput. Lihat saja keriput di bawah matanya itu," tambahnya.
"Terkadang dia memang sangat menyebalkan," Kyuubi mendengus kasar. "Itachi akan sangat marah jika mendengat ucapanmu. Itu tanda lahir, bukan keriput." Ujarnya, membenarkan.
Kimimaro mengangkat sebelah bahunya ringan, tidak peduli. "Ngomong-ngomong, kita harus bisa mengeluarkan Naruto dari rumah Sasuke." Ujar Kimimaro kemudian. "Sangat berbahaya jika Naruto terus tinggal di rumahnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika bocah mesum itu memaksa Naruto untuk-"
"Cukup!" potong Kyuubi cepat. Dia terlalu ngeri untuk mendengar dan membayangkannya. Kyuubi sekilas melirik ke arah Kimimaro dan mengangguk pelan. "Aku setuju denganmu. Kita harus mengeluarkan Naruto dari rumah Sasuke. Hei, kenapa kita tidak menawarinya untuk tinggal bersamaku? Rumah keluarga Uzumaki sangat besar. Bukankah lebih nyaman jika dia tinggal bersamaku?" kedua bola mata Kyuubi bersinar saat mengatakannya. Kyuubi tidak tahu kenapa perasaannya mendadak bahagia saat membayangkan Naruto tinggal bersamanya.
Kimimaro mengernyit, kepalanya menggeleng cepat. "Tidak! Lebih baik dia tinggal bersamaku." Tukasnya tegas, membuat Kyuubi mengerucutkan bibir sebal. "Jika dia tinggal bersamamu, aku akan sulit menemuinya. Berbeda jika dia tinggal denganku. Kau bisa mengunjunginya kapan saja."
"Itu tidak adil!" protes Kyuubi, kesal. "Naruto membutuhkan sosok kakak perempuan sepertiku. Jangan tertawa!" Kyuubi mengacungkan telunjuk kanannya, memperingatkan Kimimaro yang tertawa keras. "Pokoknya dia harus tinggal denganku!" tukasnya mutlak.
"Tidak..." Ujarnya setelah derai tawanya berhenti. Kimimaro menggeleng tidak setuju. "Lebih baik jika dia tinggal bersamaku. Lagipula aku lebih mengenalnya daripada kau. Dia akan lebih nyaman bersamaku." Jelasnya panjang lebar.
"Itu tidak benar!" teriak Kyuubi tidak terima. Dan pertengkaran mereka pun terus berlangsung hingga keduanya sampai di rumah keluarga Namikaze.
.
.
.
Naruto tidak tahu, kenapa hatinya begitu gembira hari ini. Mungkinkah karena pertemuannya dengan Kimimaro dan Kyuubi? Dia sama sekali tidak mengerti kenapa rasanya begitu nyaman saat mereka berkumpul, bercanda dan berbagi cerita. Kenapa Naruto bisa dengan bebas bicara mengenai impiannya pada kedua orang yang bahkan baru dikenalnya. "Sasuke?" panggilnya lirih.
"Hn," jawab pemuda itu tidak jelas.
"Kakakmu sangat ramah, aku menyukainya." Sambung Naruto tulus. Ah, andai saja dia melihat kedutan di kening pemuda di sampingnya, mungkin dia akan terkejut. "Adik Kimimaro-nii juga sangat menyenangkan. Apa kau sudah lama mengenal Kyuu-nee?"
Sasuke mendengus, seolah mencemooh. "Kakakku? Ramah?" ujarnya sinis. "Kau pasti salah orang. Dia hanya pengganggu berisik yang merepotkan. Rubah galak itu juga tidak jauh berbeda." Pemuda itu memasang ekspresi serius sebelum kembali bicara dengan nada datar. "Hari ini, rubah itu bersikap lebih mengesalkan dari biasanya. Begitu pun dengan Itachi dan Kimimaro."
"Oh, yang benar saja!" keluh Naruto. "Bagaimana bisa kau tidak menyukai orang-orang ramah dan menyenangkan seperti mereka? Kakakmu sangat ramah," ujar Naruto bersikeras. "Kau juga harus sopan, mereka lebih tua!" tegurnya keras.
Dan mengesalkan, pikir Sasuke. Tapi entah kenapa apa yang diucapkan mulutnya berbeda dengan apa yang ada di hatinya. "Terserah!" sahut Sasuke sebal. Keduanya terus berjalan melewati jalan ramai Kota Shibuya sore ini. Sasuke kembali melirik Naruto lewat ujung matanya. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya pelan. Dari ekspresinya dia tahu jika Naruto sedang memikirkan sesuatu.
Naruto melirik ke arah Sasuke yang berjalan di sisinya. "Apa terlihat jelas jika aku sedang memikirkan sesuatu?" dia balik bertanya. Nada suaranya terdengar ringan, namun Sasuke bisa menangkap kegelisahan dalam sikap gadis remaja itu.
Sasuke berjalan dengan satu langkah lebar untuk mendahului Naruto. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat, hingga posisi keduanya saling berhadapan saat ini. "Kau terlihat gelisah," katanya dengan mimik wajah datar andalannya. Sasuke mengumpat dalam hati. Kenapa ekspresi datar andalan keluarganya harus menurun pada dirinya. Sasuke ingin memperlihatkan ekspresi khawatir dan cemas. Namun apa daya, hanya ekspresi datarnya yang bisa dia perlihatkan pada Naruto. "Ada sesuatu yang mengganggumu, iya-kan?"
Naruto tersenyum kecil, lalu mengamit tangan kanan pemuda di depannya. Ah, sekarang pemuda itu bersyukur karena bisa mengontrol ekspresinya dengan baik. Tidak lucu jika dia harus meloncat kegirangan hanya karena Naruto berjalan seraya mengamit tangannya. "Kita baru saling mengenal," ujar Naruto pelan, pandangannya menerawang. "Tapi kau bisa membaca bahasa tubuhku dengan baik. Bagaimana kau bisa melakukannya?"
Sasuke berdeham untuk menjaga nada suaranya agar terdengar senormal mungkin. Semoga Naruto tidak mendengar debaran jantungku yang bertalu keras, mohonnya dalam hati. "Tidak sulit untuk membaca isi pikiranmu, Dobe!" ujarnya, menjaga nadanya tetap datar.
Naruto mengerucutkan mulutnya, lucu. Pura-pura tersinggung karena panggilan yang disematkan Sasuke untuknya. "Itu bukan jawaban," sungutnya ketus.
Sasuke menyeringai senang. "Kenyataannya seperti itu." Ujarnya. Sasuke menarik tangan Naruto untuk merapat kearahnya saat keduanya bersiap menyebrang bersama ribuan pengunjung kota itu. Sasuke tidak habis pikir, darimana orang-orang itu berasal? Kenapa jalanan Shibuya tidak pernah sepi dari pejalan kaki. Seolah tidak ada habisnya, kota ini tidak pernah sepi pengunjung.
Sekarang mereka berjalan menuju Center Gai, tempat makan dan minum murah di Shibuya. Gadis di sampingnya itu memutar kedua bola matanya, berjalan semakin cepat untuk mengimbangi langkah kaki Sasuke. " Jalanmu cepat sekali," keluhnya. Namun Sasuke tidak ambil peduli. Dia mengeratkan genggaman tangannya dan berjalan semakin cepat. "Lalu, kenapa kau meminta ijin pulang lebih awal? Dan kenapa kita harus ke sini?" sambung Naruto lagi.
Sasuke menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, membuat Naruto sedikit kaget karenanya. "Bukankah kau bilang jika kau bosan di rumah?" jawabnya sambil mengangkat bahu ringan. "Aku akan mengajakmu makan lalu membawamu keliling kota agar kau tidak bosan," lanjut Sasuke dengan sikap cool. "Dan kau belum menjawab pertanyaan pertamaku, Naruto." Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, menyempitkan mata dan memasang ekspresi galak.
Naruto mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Ucapan kakakmu membuatku berpikir."
"Maksudmu?" Sasuke kembali bertanya dengan kernyitan dalam. "Bukankah aku sudah katakan jika kakakku itu tidak lebih dari seorang pengganggu? Kenapa kau harus memikirkan ucapannya?"
Naruto menarik tangan Sasuke ke arah kursi taman di pinggir trotoar. Sejenak beristirahat di sana sepertinya tidak buruk, pikirnya. "Apa kau memperhatikan wajah kami bertiga? Apa benar yang dikatakan kakakmu, jika aku, Kimimaro-nii dan Kyuu-nee ada kemiripan satu sama lain?" tanya Naruto penasaran saat keduanya sudah duduk di bangku taman itu. Suasana jalan cukup ramai saat ini, mungkin karena hari libur dan cuaca cerah yang mendukung orang-orang untuk berjalan-jalan. Naruto juga harus ekstra sabar karena Sasuke menjadi objek lirikan gadis-gadis remaja yang lalu-lalang di sana.
"Bagaimana jika aku menjawab 'Ya'?"
Naruto menundukkan kepala, matanya menekuri trotoar di bawahnya. "Entahlah," jawabnya pelan. "Apa boleh jika aku merasa senang?" gadis itu melirik ke arah Sasuke dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Sasuke mengacak sayang rambut pirang Naruto, mencoba mengenyahkan awan mendung yang menggantung di kedua bola mata milik Naruto. "Kau berharap jika mereka keluargamu?" tanyanya hati-hati.
"Bolehkah aku berharap seperti itu?" Naruto kembali bertanya dengan sungguh-sungguh. "Tapi, itu sangat tidak mungkin. Keajaiban seperti itu terdengar sangat mustahil." Naruto tersenyum miris.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini," sahut Sasuke tenang. "Apa kau tidak bahagia dengan keluargamu yang sekarang?"
"Tentu saja aku bahagia," jawab Naruto cepat. "Nenekku adalah nenek terbaik di dunia. Begitupun dengan Dei-nii, dia kakak terbaik yang aku miliki. Mungkin aku tamak karena ingin memiliki Kimimaro-nii dan Kyuu-nee sebagai keluarga kandungku."
Pemuda itu terdiam. "Kau tidak tamak," sahutnya pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, dan membelai anak rambut pirang milik Naruto sambil bicara. "Wajar jika kau menginginkan keluarga kandung. Tentu saja bukan berarti kau tidak mencintai keluarga angkatmu. Bagaimanpun, nenek dan kakakmu adalah orang-orang yang selalu menemanimu selama ini. Mereka juga sangat menyayangimu, kan?".
Di depan Sasuke, Naruto tersenyum lembut. Kedua matanya berbinar, air mata menggenang di pelupuk matanya dan secara spontan Sasuke memeluk tubuh gadis pirang itu penuh kasih lalu berbisik lembut tepat di telinga kanan Naruto. "Memilikimu dalam keluarga adalah suatu kebahagian besar, Naruto. Dan semoga kau selalu bahagia."
"Terima kasih, Sasuke." Sahut Naruto pelan tanpa mampu menyembunyikan perasaan harunya. Keduanya berpelukan untuk beberapa waktu, tanpa menyadari jika ada empat pasang mata yang mengawasi gerak-gerik keduanya.
.
.
.
Ada yang berbeda di dalam rumah keluarga Namikaze sore ini. Rumah yang biasanya tenang atau lebih tepat jika disebut sepi itu kini terdengar begitu ribut karena suara Kyuubi dan Kimimaro. Keduanya masih saling melemparkan argumen mengenai tempat dimana seharusnya Naruto tinggal.
Kushina dan Minato saling melempar pandang. Sama sekali tidak mengerti akan apa yang diributkan oleh kedua anaknya. Minato tidak habis pikir kenapa putra sulungnya bisa bersikap begitu kekanakkan seperti saat ini. Biasanya Kimimaro selalu bersikap dewasa, Minato bahkan hampir tidak mempercayai mata dan telinganya saat melihat dan mendengar pertengkaran putranya.
"Dia akan tinggal bersamaku!" tukas Kyuubi entah untuk yang keberapakalinya.
Kimimaro tertawa mengejek dan membalas ketus. "Dia sama sekali tidak mengenalmu. Kenapa kau berpikir jika dia akan mau untuk tinggal bersamamu?"
Kyuubi melotot marah. "Dia juga tidak akan mau untuk tinggal dengan pria mesum sepertimu!" teriaknya kekanakkan.
"Aku tidak mesum!" raung Kimimaro tidak terima.
"Kau mesum!" sembur Kyuubi tetap ngotot.
"Tidak!" balas Kimimaro lagi. Wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti. Napas keduanya memburu karena marah.
"Apa yang kalian ributkan?" Kushina akhirnya mengambil tindakan. Dijewernya telinga keduanya hingga meringis kesakitan.
"Ampun... ampun, Kaa-san!" mohon keduanya kompak.
Kushina melepaskan jewerannya dan menatap keduanya yang kini duduk saling memunggungi. "Jadi, apa yang kalian ributkan?"
Kimimaro dan Kyuubi berbalik menghadap Kushina dalam hitungan detik yang sama dan bicara dalam waktu yang bersamaan. "Berhenti!" teriak Kushina menghentikan ucapan kedua anaknya yang sama sekali tidak bisa dimengerti. "Kalian tahu jika kami sangat mencemaskan kalian. Kenapa kalian baru pulang? Bukankah pesawat Kyuubi mendarat siang tadi?" tanyanya beruntun.
Kedua anaknya kembali bicara bersamaan. Kushina menutup kupingnya dan berkata keras. "Stop! Berhenti bicara!" putusnya kemudian. Kushina menarik napas untuk menurunkan emosinya. Sementara Minato tersenyum lembut memperhatikan interaksi istri dan kedua buah hatinya.
"Sudahlah, Kushina. Bukankah ada hal yang lebih penting untuk kita bicarakan dengan mereka?" Minato menengahi dengan bijak.
"Kau benar," sahut Kushina. Wanita itu memijit keningnya yang berdenyut sakit. "Ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada kalian berdua." Ujarnya dengan nada serius. Kimimaro dan Kyuubi mengernyit, keduanya berpikir hal yang sama, pasti ada hal serius yang terjadi, pikir keduanya kompak.
"Jadi, apa yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan?" tanya Kimimaro membuka suara setelah keheningan yang cukup lama.
Minato menggenggam tangan Kushina yang sedikit bergetar dan berkeringat dingin. Istrinya itu mengangguk kecil dan tersenyum hambar. "Tolong ceritakan pada mereka kebenarannya!" mohonnya lirih.
"Apapun yang akan kami katakan pada kalian, ayah harap tidak membuat kalian membenci Nenek kalian."
Kyuubi mengernyit dalam, semakin tidak mengerti. "Maksudnya apa? Apa kalian bermaksud untuk rujuk?" tanyanya hati-hati. "Aku sih tidak terlalu peduli," tambahnya, pura-pura tidak peduli.
Minato tersenyum kecil, mata jernihnya mengawasi gerak-gerik Kyuubi yang kini terlihat canggung. Ah, anak gadisnya memang sangat menggemaskan, pikirnya. "Ada hal yang lebih penting dari itu," jawab Minato.
"Apa yang lebih penting daripada hal itu?" tanya Kimimaro terdengar kecewa.
"Adik kalian," jawab Minato singkat.
"Adik?" beo Kimimaro dan Kyuubi bersamaan.
Minato mengangguk pelan sebelum menjawab dengan tenang. "Adik kalian masih hidup."
Hening.
Hening lagi, bahkan suara napas keempatnya pun seolah tidak terdengar di dalam ruang keluarga itu.
"Jangan bercanda!" seru Kimimaro dan Kyuubi kompak.
"Kami tidak bercanda," Minato kembali bicara dengan nada serius. "Entahlah. Aku sendiri pun tidak tahu apa aku harus senang atau sedih saat ini. Disatu sisi, aku sangat senang saat mengetahui adik kalian mungkin masih hidup. Tapi disisi lain, aku pun sedih karena harus berpisah selama tujuh belas tahun dan hingga detik ini kami belum tahu bagaimana keadaan adik kalian itu." Minato menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh. Pria itu terlihat lelah, lingkaran matanya terlihat begitu jelas sore ini.
"Bagaimana kalian bisa tahu jika adikku masih hidup?" tanya Kyuubi setelah pulih dari keterkejutannya. Gadis itu mencengkram tepian sofa yang didudukinya erat. "Bukankah adikku meninggal saat dilahirkan. Di rumah, kita bahkan memiliki altar untuk mendoakannya. Kaa-san, jika kalian melakukan hal ini agar kami menyetujui kalian kembali bersama, maka kalian tidak perlu melakukannya. Aku pasti mendukung apapun keputusan kalian."
"Kami tidak berbohong, Sayang." Kushina menjawab dengan ekspresi sedih. Hatinya kembali hancur saat mengingat kebohongan yang dikatakan Mito selama ini. "Pada kenyataannya, adik kalian tidak meninggal saat dilahirkan."
"Kami butuh penjelasan," mohon Kimimaro. "Tolong jelaskan kepada kami kenapa hal ini bisa terjadi."
Kushina dan Minato saling melempar pandang hingga akhirnya Kushina mengangguk pelan memberi isyarat pada suaminya, dan akhirnya semua kebenaran itu pun diungkap.
"Jadi, adikku mungkin masih hidup?" Kyuubi kembali bertanya dengan suara bergetar setelah Minato selesai menceritakan kebenaran mengenai Naruto. Dadanya berdenyut sakit, napasnya mendadak sesak. Kenapa dia merasa sesakit ini? Kenapa neneknya begitu tega? Lalu bagaimana keadaan adiknya? Benarkah dia masih hidup? Bagaimana kehidupannya selama ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otaknya.
"Kalian sudah mencarinya?" tanya Kimimaro serak. Wajah pria muda itu terlihat lebih pucat. Tangannya gemetar, dingin dan basah oleh keringat. "Kenapa kalian diam saja? Kita harus mencarinya! Apa dia diadopsi oleh keluarga baik? Bagaimana jika dia-"
"Kimimaro, tenang!" Minato berkata selembut mungkin. Dia tahu benar jika kedua anaknya itu pasti bingung, syok juga ketakutan saat ini. Sama seperti dirinya dan Kushina. Bagaimanapun, mereka harus memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. "Kami sudah meminta Kakashi untuk menyelidiki hal ini."
"Bukankah kita hanya harus mencari ke tempat dimana adikku diberikan untuk diadopsi? Kenapa kita tidak mendatangi tempat asuhan itu?"
"Tidak semudah itu, Kyuu." Jawab Kushina. Jemari lentik wanita itu menyeka air matanya yang kembali turun.
"Kenapa?" tanya Kyuubi lagi, tidak habis mengerti.
"Tempat asuhan yang ditempati adikmu mengalami kebakaran. Dan sekarang, di atas tanah bekas panti asuhan itu kini berdiri perusahaan milik ayah kalian." Kushina kembali terisak keras setelah mengatakannya.
"Gila!" Kimimaro menjambak rambutnya, frustasi. "Bagaimana bisa hal ini terjadi?"
Keempatnya kembali terdiam cukup lama, sibuk akan pikirannya masing-masing. Menunggu, mereka hanya bisa menunggu laporan Kakashi dan berdoa kepada Tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
.
.
.
Suara dehaman keras mengembalikan Sasuke dan Naruto ke alam nyata. Sedikit tidak rela, Sasuke melepaskan pelukannya. Mata pemuda itu berkilat tajam. Marah, kesal, jengkel bercampur menjadi satu saat matanya bersirobok dengan tatapan keempat teman baiknya. Kenapa mereka harus ada disini? Pikir Sasuke.
"Sepertinya kita mengganggu," Kiba akhirnya bicara, memutus ketegangan diantara mereka. Pemuda itu tersenyum kaku saat tatapan tajam Sasuke beralih kepadanya. Kiba mengalihkan pandangannya ke arah lain, pura-pura sibuk mengamati sekelilingnya.
"Kita belum berkenalan secara formal," kini giliran Neji yang angkat bicara. Senyumnya nampak menawan, dan suaranya terdengar begitu ramah. "Namaku Hyuuga Neji. Kau bisa memanggilku Neji." Tukasnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Hyuuga!" ralat Sasuke ketus. Pemuda itu bahkan menepis uluran tangan Neji agar Naruto tidak menjabat uluran tangannya. "Kalian baru kenal, kenapa kau mengijinkannya untuk memanggil nama kecilmu?"
Gaara dan Shikamaru hanya bisa melotot tak percaya mendengarnya. Sementara mulut Kiba sudah menganga lebar. Benarkah apa yang didengar mereka? Nada suara Sasuke jelas terdengar cemburu. Ah, ternyata Sasuke memang menyukai gadis pirang ini, pikir ketiganya kompak.
"Rambutmu indah sekali," Naruto memuji dengan tulus. Tangan kananya sudah terulur untuk menyentuh rambut Neji yang terlihat berkilau terkena mentari sore. Namun uluran tangannya itu segera ditangkap oleh Sasuke.
"Rambutmu lebih indah," pujinya dengan ekspresi dingin.
Naruto menyempitkan mata. "Jika tidak berniat memuji, sebaiknya kau tidak mengatakan apapun. Ekspresi wajahmu sama sekali tidak mendukung pernyataanmu," prote Naruto yang sedikit tersinggung karena menganggap jika Sasuke sedang mengoloknya saat ini.
Neji tersenyum bangga lalu mengibas rambutnya dengan anggun, seolah tidak terusik oleh ucapan Sasuke, dia menjawab dengan tenang. "Tidak perlu bersikap formal padaku. Kau kuijinkan untuk memanggil nama kecilku. Ngomong-ngomong, rambutmu juga sangat cantik. Sama seperti pemiliknya." Ujarnya tanpa maksud merayu.
"Kau terlalu berlebihan," sahut gadis itu. Sasuke kembali mendelik dan menatap sinis ke arah Neji yang masih bersikap tenang. Naruto menekuk mulutnya ke atas. "Namaku Senju Naruto. Kalian boleh memanggilku Naruto."
"Bagaimana bisa kau mengijinkan mereka memanggil nama kecilmu?" Sasuke nyaris putus-asa. "Setelah Kimimaro dan Itachi, sekarang kau mengijinkan mereka memanggil nama kecilmu?" ujarnya tak percaya.
Ekspresi Naruto terlihat lucu sekarang. "Memangnya kenapa? Tidak ada salahnya, kan. Lagipula kau juga memanggilku dengan panggilan kecilku."
"Ini Jepang!" ujar Sasuke dengan rahang mengeras. "Dan itu dua hal yang berbeda. Aku berhak memanggil nama kecilmu. Bukankah aku sudah mengatakan jika hanya orang-orang terdekat saja yang bisa memanggil nama kecilmu. Kenapa kau tidak mengerti juga?"
"Tapi mereka temanmu," kata Naruto ringan. "Kenapa kau harus keberatan?"
"Ya!" timpal Kiba penuh semangat. "Kenapa kau harus keberatan?" tambahnya dengan ekspresi geli. "Ngomong-ngomong, namaku Inuzuka Kiba."
"Aku, Sabaku Gaara."
"Aku, Nara Shikamaru."
"Senang bertemu dengan kalian." Naruto membungkuk kecil. "Kalian mau kemana?" tanya Naruto mengabaikan Sasuke yang mulai merajuk marah.
"Makan," jawab Gaara pendek.
"Ah, kebetulan kami juga mau cari tempat makan yang enak." Seru Naruto senang. "Bukan begitu, Sasuke?"
Sasuke diam seribu bahasa. Keempat teman baiknya berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa keras saat ini. Kapan lagi mereka bisa mengganggu dan mengerjai Sasuke, pikir keempatnya kompak.
"Kenapa kita tidak jalan bersama-sama?" tawar Shikamaru dengan nada ringan. "Bukankah akan lebih menyenangkan jika ramai?"
"Kau benar!" Naruto mengangguk setuju. "Semakin banyak orang, akan semakin menyenangkan." Serunya senang.
Ah, sepertinya hanya satu orang yang sama sekali tidak setuju akan ide Shikamaru ini. Lihat saja aura hitam dan bermusuhan yang keluar dari tubuh Sasuke saat ini. Waktu berkualitas bersama Naruto yang direncanakan Sasuke pun kembali gagal hari ini.
.
.
.
Waktu berlalu, malam pun tiba dengan cepat. Kyuubi bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidurnya. Matanya tidak mau dipejamkan. Ya, Tuhan. Adiknya mungkin masih hidup. Seharusnya dia memikirkan bagaimana nasib adiknya, tapi kenapa dia malah memikirkan Naruto?
"Apa mungkin karena keduanya memiliki nama yang sama, jadi dalam otakku berputar wajah Naruto?" gumam Kyuubi. "Kenapa aku tidak menanyakan keluarganya secara rinci. Ck, dasar bodoh!" umpatnya kesal. Gadis itu mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. "Eh, kenapa aku tidak meminta bantuan Itachi untuk mengorek keterangan dari Sasuke? Sasuke pasti tahu silsilah keluarga Naruto. Iya-kan?" Kyuubi tertunduk, merasa tidak yakin. "Akan terasa aneh jika tiba-tiba aku datang berkunjung dan menanyakan hal ini pada Naruto. Bagaimana jika dia tersinggung?" Kyuubi mengacak rambutnya karena frustasi. "Aish... Kenapa aku malah berharap jika Naruto yang kukenal adalah adikku yang hilang? Apa aku harus menceritakannya pada Tou-san dan Kaa-san? Atau sebaiknya aku membicarakan hal ini pada Kimimaro-nii?"
Kyuubi menghela napas panjang untuk menenangkan diri. Dia kemudian mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dalam mimpinya sekalipun Kyuubi tidak pernah berkhayal untuk bisa menempati kamar ini lagi. Bolehkah dia berharap jika keluarganya akan kembali utuh? Bolehkah dia berharap jika adiknya masih hidup, sehat, bahagia dan bisa kembali berkumpul dengannya secepat mungkin?
"Tuhan. Apa permohonanku terlalu banyak?" bisik Kyuubi sedih.
.
.
.
TBC
Hello! Kali ini updateannya juga lama. Akhir-akhir ini saya memang sedang sibuk. Terima kasih untuk yang masih bersedia menunggu, membaca dan meninggalkan jejak di kotak review karya saya ini. Ah, ngomong-ngomong, ceritanya sudah mendekati klimaks. Semoga pembaca semua masih bersedia menunggu kelanjutannya. Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
