Cerita sebelumnya :

"Tokyo, aku datang!" batinku memantapkan hati untuk datang kekota besar tersebut.

Masashi kishimoto

Naruto x Hinata dll

Rated : T

Genre : action, romance, slice of life, school. dll

Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.

Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.

Chapter 2: Dia X Orang X Yang waktu itu

Remake

Pagi dihari minggu itu semua orang mulai melakukan kegiatan pribadi masing-masing, semua aktivitas yang tidak biasa bagi pemuda itu lihat karena melihat banyak orang yang berlalu lalang, tanpa henti. Memperhatikan jam yang berada pada tangan kirinya menunjukan pukul 08.00 pagi.

"Tempat yang luar biasa, yosh aku akan mencari makan dulu. Baru mencari alamat apartement untuk ku tinggal!" gumamnya sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal.

Berjalan melihat sebuah bangunan gedung pencakar langit yang besar dan tinggi, membuat pria itu sedikit takjub, karena baru pertama kalinya dia menuju kota besar.

"Hah…aku ingin makan ramen, apa disini tidak ada yang jual ramen ya!" kesalku menginginkan makan ramen, tapi tak menemukan penjual kios ramen.

"Benar-benar menyebalkan, tahu begini lebih baik aku tidak usah datang kesini saja,… ada apa sih orang-orang berkumpul disana?" tanpa pikir panjang Naruto mendatangi rombongan orang yang ramai disana.

Suara letupan senjata api diarahkan kelangit, terjadi kejahatan disana. Seseorang menyandera wanita yang membawa sebuah pistol ditangan kanannya. Menyeret wanita itu untuk masuk kedalam mobil.

"Kubilang pergi!" ancam pria itu menodongkan pistolnya kepada polisi, semua warga disekitar situ merasa takut dan enggan untuk melawan karena takut terbunuh. Polisi pun memberikan jalan keluar dari sana bagi penjahat yang terbilang sangat muda itu

"Senpai, tolong lepaskan aku!"pekik gadis surai biru legam kehitaman itu yang memohon untuk dilepaskan.

"Diamlah!"

"Hentikan Sasori-san! jangan lukai Hinata"mohon seorang pemuda pria berambut raven. Mata onix hitamnya menandakan dirinya tidak ingin sahabatnya dilukai.

"Diam, jangan mendekat atau kutembak kepala gadis ini, buang pistol kalian"ancam sasori kepada polisi yang mencoba menolong Hinata, tapi tak bisa karena sasori menjadikan gadis itu sebagai sandera.

Menuruti perkataan pria surai merah muda itu, menjatuhkan senjata api milik anggota polisi dan menidurkan dirinya ketanah untuk tidak melawan dirinya. Membawa gadis itu dengan paksa.

"Ayo kita pergi Hinata, kita akan hidup bersama setelah ini!"memaksanya untuk masuk kedalam mobil. Melawan karena enggan untuk tidak mengikuti pria tersebut.

"A-aku tidak mau pergi denganmu Senpai!" mohonnya hinata yang ketakutan dan memberontak.

"Cepat masuk!" mulai merasa itu yang tak sebanding dengan kekuatan pria itu pun dipaksa masuk kedalam mobil

"Ini kesempatanku!" merasa ada celah Sasuke mendapat kesempatan untuk menyerang sasori ketika akan masuk mobil.

"Sasuke-kun!" pekiknya melihat Sasuke berlari menuju pria itu untuk menyerangnya karena ada kesempatan.

Bunyi letupan senjata api yang mengenai sahabatnya, membuat pria itu terjatuh ketanah, teriakan histeris ketakutan orang-orang membuat suasana disana semakin mencengkam, terkapar ditanah dengan darah yang mengalir dari lukanya dibagian dadanya.

"Sasuke-kun!" panggil hinata yang terlihat panik melihat sahabatnya terluka. Mendorong Sasori dengan kencang dan menghampiri sahabatnya yang sudah terkurai lemas.

"Sasuke-kun bertahanlah, aku mohon bertahan!" merasa kesal karena gadis yang disukainya selalu memperdulikan pria itu terus menerus, menarik rambutnya dan memaksanya masuk kedalam mobil pribadinya.

"Cepat masuk kedalam!-…huh?" terkejutnya Sasori begitupun Hinata yang melihat seseorang membawa tubuh pria surai berambut raven itu kepinggir jalan.

"Hei, hentikan itu kau benar-benar memalukan melukai seseorang tanpa senjata, ditambah memaksa wanita mengikuti perintahmu! Benar-benar menjijikan!" ujar pria blonde itu dengan santai yang berjarak sekita 15 meter saat ini dari mereka berdua.

"Jangan ikut campur, dasar bocah. Mati kau!" geramnya mengarahkan pistolnya kepada Naruto tanpa ragu, Hinata yang berada disana hanya bisa memejamkan matanya, sedangkan semua warga sipil dan polisi tak bisa berkutit untuk menolong pemuda blonde tersebut.

Melepaskan letupan senjata apinya, membuat beberapa orang yang berada disana teriak histeris ketakutan, karena aka nada warga sipil yang menjadi korban kembali

"Mati kau bocah" batinnya merasa senang bisa menghabisi pemuda blonde yang berlagak sok menjadi pahlawan.

"Mengapa kau masih hidup!?" seseorang berjaket hitam memperhatikan pria blonde tersebut dan meninggalkan wilayah tersebut.

Dengan cepat bergerak menuju sasori dan mengambil gadis itu dalam pelukannya. Melompat diudara. Betapa terkejutnya Hinata sudah berada dalam pelukan pria tersebut.

"B-bagaimana bisa dia merebut Hinata!"pikir Sasori tak mempercayai bahwa pria blonde itu sudah merebut wanita tersebut dan berada diudara saat ini.

"Kau tidak apa-apa?" mengangguk menandakan dirinya baik-baik saja dengan semu merah diwajahnya. Sudah sampai kakinya menyentuh tanah dan menurunkan gadis bersurai biru legam tersebut

"Cepat panggil ambulan kesini, segera. Aku akan menanggani orang ini!"

"H-hai"

"Dasar tukang ikut campur akan kubunuh kau!" Kesal Sasori kepada Naruto menembakkan peluru pistol itu berulang-ulang. Mengarah kepada pria blonde itu dengan cepat. Semua teriakan untuk mencegah Naruto.

"Ren!" Naruto pun mempertegas Nennya dengan aura yang besar. Membuat letupan beberapa senjata peluru yang mengarah kepada dirinya itu terhenti, jatuh ketanah satu persatu. Tubuhnya memiliki ketahanan yang kuat seperti tameng baja.

"T-tak mungkin!, Sial kali ini akan kuhabisi kau-… huh?" Terkejut karena pria itu sudah berada didepannya, memegang pistolnya dan mencengkram pergelangan tangan Sasori dengan kuat hingga pria itu merintih kesakitan.

"Hentikan! Aku menyerah!"

"Jika kulihat kau menyakiti orang lain lagi akan kuhancurkan hidupmu! Haa…!" ancam Naruto memukul pria itu dengan kekuatan Nen yang dikurangi, terlempar cukup jauh hingga menabrak tembok yang berada disana. Menghilangkan nennya dan segera menghampiri gadis yang dia tolong sebelumnya.

"O-onisan" suaranya terdengar parau melihat kondisi temannya yang terlihat cukup parah pendarahannya tidak berhenti.

"Darahnya tidak berhenti keluar, terpaksa aku akan menggunakannya!" batin Naruto tak punya pilihan.

"Ambilkan aku pisau lipat atau sejenisnya yang tajam, perban medis dan korek gas"

"Aku punya pisau lipat"

"Gunakan korek api gas ku juga"

Semua ucapan untuk membantu pria itu. Mengerti dan mengangguk menerima semua bantuan dari semua orang yang membantunya kali ini. Memanaskan pisai lipat itu diatas korek api gas yang dia genggam dan akan memulai operasi yang dilakukan dengan perhitungan kecil untuk hidup bagi Sasuke.

"Tahan sebentar ini sedikit sakit! kau tahan dan tekan pergelangan tangannya dan kau suruh temanmu ini diam!" perintahku menyuruh orang-orang menahan sasuke dan menyuruh gadis itu juga agar menyuruh temannya untuk tidak memberontak ketika diambil peluru yang menancap didalam dadanya.

Memberontak luar biasa, menahan sakit yang diterimanya saat ini. Pria itu tak bisa diam.

"Tahan dirinya!" perintah ku membuat semua orang mengerti. Setelah berhasil mengeluarkan peluru. diperbanlah luka sasuke, pria blonde itu menyuruh semua orang mundur sejenak. Semua orang hanya menurut mengikuti perkataan Naruto. Mengalirkan Nen auranya kepada Sasuke untuk menutup lukanya.

"Selesai, hidupnya tidak dalam bahaya sekarang!" gumamku mulai beranjak pergi dari sana, karena sudah mengetahui kedatangan mobil ambulan yang akan menolong sahabat gadis tersebut. Tak mengerti ucapan pria yang menyelamatkan nyawanya. Satu hal yang pasti Hinata ketahui adalah Mata pria itu yang semula berwarna biru sapphire lautan tenang, berubah menjadi merah kepekatan seperti darah.

Sirine mobil ambulan pun tiba dilokasi dan membawa tandu untuk menolong seseorang yang terluka. Membawa tubuh pria itu menuju rumah sakit, Hinata yang ingin berterima kasih kepada orang penolong itu sudah menghilang dan membuat dirinya merasa terheran-heran tak mengerti.

"Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih keapdanya, dia orang yang keren!" Batinnya merasa senang ditolong oleh pria misterius yang tak dikenal namanya tersebut. garis kuning mulai dipasang menandakan tempat itu sudah dibatasi oleh masyarakat umum untuk menonton apalagi melihat. Hinata pun ikut kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan, karena mendapatkan beberapa luka memar.

Disebuah gang kecil

Pria itu berjalan dengan tertatih, merasakan rasa lelah yang luar biasa. Mata merahnya kembali menjadi biru kembali sesudah menggunakan Nen secara berlebihan. Rasa kantuk mulai menyerangnya membuat pria surai blonde itu pingsan ditempat. Salah satu orang membawa tubuhnya kesuatu tempat untuk mengamankannya.

"Akhirnya aku menemukanmu!" membawa tubuh Naruto dan meninggalkan tempat tersebut.

DISEBUAH RUANG RAHASIA.

Tempat yang terlihat kumuh, ruang terowongan yang sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat penggalian para pekerja berat. Beberapa orang berada disana menunggu kehadiran rekan tim mereka.

"Kau sudah datang, mana Sasori?" Tanya sang pemimpin surai orange itu ingin mengetahui mengapa dia hanya datang sendiri

"Rencana kita gagal, karena munculnya seorang pengganggu?"

"Apa maksudmu?!"

"Seseorang mengagalkan rencana Sasori untuk membawa gadis yang akan dikorbankan tersebut. seorang anak muda berumur 16 tahun berambut kuning!"

"Nagato!" mengerti perintah Yahiko, orang itu membaca semua isi pikiran deidara, membaca memori ingatan yang terjadi sebelumnya. Semua informasi tergambarkan dengan jelas. Itachi yang mengerti pun mendekatkan diri ke sang pemimpin dan memberikan ilusi gambaran apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya pada Deidara.

SKIP TIME

"Jadi apa yang akan kita lakukan, pimpinan?. Aku rasa sabitku ini sudah sangat haus akan darah manusia dan tentunya Jashin-sama akan menyukainya!" Tergoda untuk membunuh orang yang kuat.

"Kau tak boleh gegabah atas keinginanmu sendiri, Hidan. Yang terpenting aku tak mau melakukan hal yang sulit, tanpa adanya uang" sahut teman satu tim mereka yang menggunakan penutup wajah.

"Dasar maniak uang, aku ini tak suka uang. Yang kusuka adalah menyebarkan agama Jashin-sama dan mendengarkan teriakan para korban. Itu membuatku terangsang-…!" Kesal Hidan kepada Kakuzu yang tak menyukai jalan pikir rekannya.

"Diamlah kalian berdua. Deidara, Zetsu cepat cari dimana Sasori berada dan bantulah dia! Lalu Itachi aku ingin kau mencari orang bersurai kuning itu sebelumnya. Sisanya kalian boleh pergi!" Ujar sang pemimpin memberikan perintah

"Baik"

"Tch tidak menarik"

"Lalu Orochimaru, apa kau sudah menganalisa tentang dua orang itu! aku ingin tahu tentang kemampuan nen mereka berdua" tanya Yahiko.

"Belum mereka menggunakan On disaat terakhir untuk menghalangi kita mengambil informasi. Ini cukup menyulitkan!"

"Begitu, sebagai Blacklish Hunter mereka berdua benar-benar mengesankan!" pikir Yahiko dengan hati-hati

"Ditambah dia mampu mengalahkan Kisame, aku tak boleh meremehkan mereka!"

SKIP TIME.

Dilihatlah kedua orang itu yang menjadi tawanan. Darah hampir membasahi seluruh kujur tubuh mereka berdua. Luka-luka penyiksaan yang dilakukan para buronan kelas A itu tanpa belas kasihan. Mereka berdua pun meninggalkan kedua orang itu yang tak mampu bergerak maupun melawan.

"M-minato, apa kau mendengarnya?"

"Iya. Pengguna nen yang kuat berhasil menghalangi rencana mereka"

"Apakah itu Naruto?"

"Entahlah, aku pun tidak tahu Kushina!"

"Sampai saat ini kita beruntung karena menggunakan On untuk menghalangi Akatsuki menggali informasi tentang kita. Naruto aku ingin bertemu denganmu" batin wanita surai merah panjang itu yang berharap ingin bertemu dengan anak semata wayangnya.

RUMAH SAKIT TOKYO

Diruangan pasien itu terlihat sangat tenang. Gadis surai biru legam itu terlihat khawatir karena melihat sahabatnya belum tak sadarkan diri dari insiden mengerikan tadi pagi sebelumnya. Jam menunjukan pukul 13.00 siang.

"Sasuke-kun!" gumam gadis itu melihat sahabatnya masih tak sadarkan diri.

Ketukan beberapa kali terdengar dari balik pintu, mengizinkan seseorang untuk masuk kedalam. Terlihatlah seorang dokter yang ingin meminta izin memeriksa kondisi pasien. Hinata yang mengerti pun mengizinkan dan memberikan waktu kepada orang itu untuk melihat kondisi Sasuke.

"Hyuuga-san, boleh kita berbicara sebentar diluar?" ajak sang Dokter meminta waktu kepada gadis itu jawaban anggukan kecil tanda dia mengerti. Merekapun berbicara diluar ruangan pasien sambil duduk dikursi rumah sakit.

"Hyuuga-san, apakah anda yang telah membantu mengeluarkan peluru yang bersarang pada dada Uchiha-san?" sergah sang dokter ingin mengetahuinya.

"Itu bukan aku Sensei, tapi seseorang yang menolongku dan Sasuke-kun. Aku hanya membantu menahan Sasuke-kun pada saat itu, Karena orang itu mengeluarkan peluru yang berada pada dadanya. Ada apa memangnya?"

"Begitu yah, sebenarnya Uchiha-san sudah divonis akan tewas. Karena mengenai area organ vital yang terluka. Tapi saat ku rontgen daerah yang terluka itu menutup mengikuti kestabilan tubuhnya.

"Begitu, aku sama sekali tidak tahu Sensei"

"Baiklah itu saja yang ingin kutanyakan kepada anda. Maaf mengganggu waktu anda" Hinata hanya mengeleng kecil tanda tidak apa-apa dan mulai memasuki ruangan temannya kembali.

Di sebuah rumah modern yang cukup besar.

Tak sadarkan diri pria itu tertidur di bangku sofa merah. Matanya mulai mengerjapkan sedikit demi sedikit untuk bangun dari pingsannya sebelumnya. Kepalanya masih merasakan rasa pusing yang masih belum jelas mengingat semuanya.

"Uhm, dimana aku?"

"Kau sudah sadar nak!"

"A-anda siapa?"

"Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kurenai Yuhi. Aku menemukanmu ketika sedang pingsan, jadi aku membawamu kesini. Bolehku tahu namamu?" Tanyanya duduk sambil menuangkan teh dalam teko poci kecilnya.

"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto. Terima kasih telah menolongku Yuhi-san, aku akan pergi sekarang. Maaf jika aku merepotkan anda!" jawabnya mengambil tas dan jaketnya dan akan beranjak pergi dari rumah wanita bermatakan ruby merah indah tersebut.

"Sayangnya aku tak mengizinkanmu pergi semau hatimu. Kau melanggar menggunakan Nen secara bebas tanpa mengerti konsukuensi yang diterima!"

"B-bagaimana kau tahu tentang Nen?!"

"Tentu saja aku tahu, aku pun pengguna nen sepertimu! Tsunade-sama memberikan informasi lewat telegram yang dikirimkan kepadaku sebelumnya. Aku bertugas sebagai pengawasmu sekarang. Jika kulihat kau pasti bertipe Kyouka. Apa aku benar?" tebaknya menanyakan hal ini kepada Naruto.

"Naruto-kun, aku bisa mengerti mengapa kau bisa sampai kesini. Nen yang kau gunakan sebagai peranan untuk melawan pembunuh gelap, perampok dan penjahat lainnya adalah syarat utama untuk diakui sebagai Hunter professional, tapi kau belumlah diterima sebagai Hunter resmi sepertiku, Jika saja ada orang dari Asosiasi Hunter atau Penjahat gelap mengetahuimu. Kau bisa dibunuh, apa kau bisa mengerti sekarang. Mengapa kami para Hunter selalu bersembunyi dalam bayangan masyarakat umum!"

"Aku minta maaf!" gumamku merasa bersalah karena menggunakan nen secara tidak hati-hati. Kurenai pun mendekati pria itu dan memegang kedua pundakku.

"Kau masih harus belajar banyak tentang pendalaman diri dan pengembangan Nen. Aku akan menjadi gurumu, lalu kau bisa tinggal disini jika kau mau. Bagaimana?" Tawar Kurenai kepada Naruto, berpikir sejenak dan mengiyakan tanda mengerti, mengangguk menyetujuinya dengan mantap ingin menjadi murid wanita dewasa berumur 35 tahun tersebut.

"Baiklah, Aku mau"

"Baiklah. Aku Kurenai Yuhi. Crime Hunter. Single, Salam kenal!"

"Uzumaki Naruto desu"

"Mulai sekarang kau adalah murid yang berada dibawah pengawasanku. Aku akan memberitahukan kapan kau bisa mengikuti ujian resmi Hunter! Sekarang istirahatlah kau bisa memilih kamar yang kau sukai dan oh ya. Aku sudah mendapatkan berkas-berkas dari Tsunade-sama, mulai besok kau sudah bisa masuk sekolah Naruto-kun!"

"He… secapat itukah?"

"Tokyo itu pusat ibukota. Jadi waktu liburnya tidaklah sama dengan sekolah lain. Kau keberatan?"

"B-baiklah, selamat istirahat Naruto-kun. Oyasuminasai"

"Arigatou, Yuhi-san. Un, Oyasumi"

Menutup kamar pria itu dan beranjak menuju kamar miliknya sendiri. Dijatuhkanlah tubuhnya yang berkulit putih porselen tersebut. Mata rubynya melihat kelangit-langit plafon kamarnya. Irisnya menandakan keseriusan pada mimik wajah wanita tersebut.

"Jadi benar dia anak Minato-san dan Kushina-san kah! Tak kusangka akan secepat ini akan bertemu dengan dirinya. Aku akan melindungi Naruto-kun kali ini agar dia tidak mengetahui keberadaan Akatsuki!" batin wanita itu tak menyangka-nyangka.

"Gara-gara mereka Asuma! Tidak, tidak boleh gegabah, aku dalam bertindak kali ini. Aku harus menunggu perintah dari Hiruzen-sama" lanjutnya mulai tertidur menghilangkan pikiran buruk tentang masalah pribadinya.

Keesokan harinya.

Semua makanan sudah tersedia dalam satu meja tersebut, beberapa sarapan sudah tersaji disana.

"Yosh! Naruto-kun cepat turun nanti kau bisa terlambat dihari pertamamu sekolah!"

"Iya~… aku datang, eh!" jawabnya dengan nada malas karena masih sangat pagi tapi disuruh bangun sangat pagi.

"Ada apa, um?

"E-eto, Yuhi-san seorang guru? A-anda benar-benar cantik" ucapan Naruto yang gugup membuat wanita itu bersemu kecil pada pipinya yang cantik penampilan Kurenai yang memakai blazer hitam dengan kacamata putih yang digunakan saat ini. Rok hitam sampai dengkul menambah kesan anggun bagi wanita tersebut.

"S-sudah ayo makan, nanti kita terlambat!" duduk dimeja makan dan berdoa kepada kamisama atas makanan yang diberikan hari ini.

"U-um, Itadakimasu" menyetujui ucapan Kurenai dan ikut makan disana dengan tenang.

Kedua orang itu sudah sampai didepan halaman sekolah Tokyo. Kabar sekolah yang cukup terkenal karena rata-rata yang sekolah disini adalah orang kaya dan orang pintar membuat rumor sekolah ini nomor satu terbaik dijepang. Mereka berdua pun berjalan menuju ruang guru. Beberapa murid memperhatikan anak surai kuning itu yang mengikuti wanita dewasa surai hitam itu tanpa berkata apapun. Berbisik dan bergosip tentang murid baru tersebut. sampailah dilokasi ruang guru.

"Naruto-kun. Tunggulah sebentar disini. Aku ingin bicara dengan kepala sekolah dahulu!" sebuah jawaban angguk mengerti sebagai tanda memahami wanita tersebut, Naruto pun menunggu disana dengan tenang.

Lonceng masuk kelas telah berbunyi Murid-murid satu persatu memasuki kelas dari acara sebelumnya upacara dilapangan dan mencari tempat duduk masing-masing sesuai nama dan absensi mereka, seorang gadis tengah melamun akibat kejadian yang menimpanya ketika berada ditaman bermain sebelumnya. Membayangkan wajah pria itu tanpa henti. Membuat gadis itu tersenyum sendiri.

"Ohayou hinata" Panggil seseorang temannya yang terdengar taka sing ditelinga gadis itu.

"K-kalian berada dikelas ini juga Ino-san, Tenten-san dan Kiba-kun?!" jawaban mengangguk mantap dari mereka bertiga.

"Kau melupakan aku, Hinata!"

"S-sasuke-kun, kau sudah masuk sekolah. Lalu lukamu? Jadi kita satu kelas nih?!"

"Ah, aku baik-baik saja, itu semua berkat Hinata!"

"T-tapi aku sangat takut sebelumnya mendengar Hinata diculik oleh Akasuna-senpai! Kalian benar-benar beruntung!" Kesal Ino kepada seniornya yang telah berbuat buruk kepada temannya.

"I-iya, Aku juga berpikir seperti itu awalnya, tapi kami diselamatkan oleh orang itu!" jawab Hinata menyangkalnya dan memuji pria surai blonde sebelumnya yang menyelamatkan nyawa mereka berdua sebelumnya.

"Apa maksudmu Hinata?"

"Iya beritahu kami dong!"

"I-itu…"

"He… Sepertinya Hinata-chan menyukai orang itu!" tebak Tenten poker face, membuat gadis surai biru legam itu memerah seperti kepiting rebus.

"Eh!….benarkah itu Hinata?!" sergah mereka berdua ingin tahu.

"Tenten-san, d-dasar!" marah Hinata karena digoda oleh tenten dan yang lain pun ikut tertawa karena melihat tingkah hinata yang lucu.

Kehadiran guru baru memasuki kelas, berdiri dan membungkuk member salam kepadanya.

"Berdiri! Beri salam!"

"Konnichiwa Sensei"

"Konnichiwa, gomenasai. Karena aku sedikit terlambat memasuki kelas ini. Aku akan memperkenalkan diri. namaku Kurenai Yuhi, guru bahasa sastra jepang mulai sekarang aku akan menjadi wali kelas kalian selama 1 tahun di 10-2. Kalau begitu duduklah kita akan memulai pelajarannya, tolong buka halaman-… tunggu sebentar" ucapan sang guru terhenti karena ada sebuah ketukan pintu dari luar yang ingin izn masuk kelas mereka. Sang kepala sekolah itu tersenyum didepan para muridnya.

"Maaf, aku pinjam sensei kalian sebentar" ucap sang kepala sekolah memanggil wanita itu menunggu beberapa menit, akhirnya dia pun masuk kembali.

"Semuanya kita kedatangan murid baru. Kalian bertemanlah dengan baik! Mengerti"

"Baik…" jawab mereka bersama.

"Aku ingin tahu apakah perempuan atau laki-laki kah, kuharap perempuan cantik tidak kuharap laki-laki keren " candaan murid-murid yang tak malu memikirkan siapa yang akan masuk kelas ini.

"Bailklah uzumaki-san, silahkan masuklah." Menyuruh orang itu masuk kedalam kelas.

"Dia!" batin hinata terkejut, karena mereka bertemu kembali.

"Uzumaki Naruto desu, yoroshikune" ucap naruto datar sambil ojigi. Orang yang sebelumnya hinata temui di taman hiburan akhirnya bertemu kembali di sekolah ini.

To be continue