Cerita sebelumnya :

"Semuanya kita kedatangan murid baru. Kalian bertemanlah dengan baik! Mengerti"

"Baik…" jawab mereka bersama.

"Aku ingin tahu apakah perempuan atau laki-laki kah, kuharap perempuan cantik tidak kuharap laki-laki keren " candaan murid-murid yang tak malu memikirkan siapa yang akan masuk kelas ini.

"Baiklah uzumaki-san, silahkan masuklah." Menyuruh orang itu masuk kedalam kelas.

"Dia!" batin hinata terkejut, bukan main karena mereka bertemu kembali.

"Uzumaki Naruto desu, yoroshikune" ucap naruto datar sambil ojigi. Orang yang sebelumnya hinata temui di taman hiburan akhirnya bertemu kembali di sekolah ini.

Masashi kishimoto

Naruto x Hinata dll

Rated : T

Genre : action, romance, slice of life, school. dll

Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.

Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.

Chapter 3: Seseorang itu X Dia yang X Menyelamatkanku

Remake

Pembicaraan yang cukup ribut didalam kelas itu, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak bisa diam memikirkan murid pindahan baru tersebut. ya seorang pemuda misterius dengan kumis 3 garis seperti kucing dengan surai blonde jabrik yang membuat pria itu sangat tampan.

"Kyaa… dia sungguh keren!"

"Uzumaki-kun!"

"Cih, dia pria yang benar-benar beruntung sekali!"

Beberapa pujian dan gerutu bagi beberapa orang yang memperhatikan Naruto. Hinata masih terdiam terkejut karena benar-benar tak habis pikir bahwa orang yang menolong dirinya dan sahabatnya akan bertemu kembali disekolah ini. Gadis itu memanggil sahabatnya yang berada di depan bangku duduknya. Menarik baju putihnya.

"Ada apa Hinata?"

"S-sasuke-kun, d-dia orang yang menolong kita pada saat di taman bermain yang aku ceritakan sebelumnya!" bisiknya sambil menjelaskan apa yang terjadi pada saat pria itu terluka sebelumnya, merasa diawasi pria blonde itu melihat dua orang yang berbisik-bisik sesuatu, melirik Naruto. Merasa kepergok mereka pun menjadi gugup.

"Mereka berdua yang waktu itu kan!" pikir pria itu mencoba mengingat kedua orang yang sebelumnya dia temui.

"Baiklah, sudah cukup mengobrolnya. Apa ada yang ingin ditanyakan kepada Uzumaki-kun?" sela sang guru menyuruh semua orang untuk tenang dan mengajukan pertanyaan kepada murid yang ingin bertanya tentang Naruto.

"Uzumaki-kun, boleh ku minta nomormu?"

"Kau tinggal dimana?"

"Dan kau-…"

"Sudah cukup pembicaraan yang bersifat pribadi. Nanti kalian bisa menanyakan ketika istirahat, Nah Uzumaki-kun, kau bisa duduk disebelah sana. Tolong angkat tanganmu Jo-chan!"

"Aku Yamanaka Ino desu!" mengangkat tangan kanan gadis itu untuk mengetahui teman disampingnya pria itu yang akan menjadi teman.

"Kau bisa duduk disana"

"Un, Arigatou, Yuhi-sensei!" balasku mengangguk dan menuju tempat dudukku. Salah satu murid yang tidak menyukaiku. Mengerjaiku dengan menyelengkat kakinya dengan sengaja. Aku yang masih memperhatikan kedua orang yang kutolong sebelumnya, membuatku tak focus untuk berjalan. Membuatku terjatuh disana karena perbuatan anak jahil surai hitam jabrik tersebut. semua mata murid laki-laki menertawakanku, sedangkan para wanita memarahi pria itu karena suka sekali menganggu orang lain.

"Rasakan itu!" senyum kemenangan dalam benak pria itu yang puas mengerjaiku.

Kemarahanku pada pria itu tak terbendung, aku pun berdiri kembali dan menarik kerah baju pria yang mengisengiku sebelumnya. Tanpa sadar aku yang tak bisa mengontrol emosiku sendiri menggunakan Nen dan mencoba memukul pria tersebut, Sensasi aura yang mengintimidasi dan menakutkan membuat semua orang yang berada dikelasku diam tak mampu berkata maupun berbicara untuk menahanku.

"Apa ini rasanya tubuhku berat sekali!" perasaan pemuda bernama Uchiha itu merasakan ada kekuatan yang aneh pada murid pindahan tersebut.

"Sensasi ini, sama seperti waktu!" pikir hinata yang mengigil ketakutan.

Sebuah tangan menahanku, tangan putih dan kuat yang menahanku untuk tidak melukai orang tersebut. mata merah rubynya menyuruhku untuk berkata diam dan jangan bergerak lagi lebih dari ini.

"Uzumaki Naruto!, sesudah ini temui aku diruang guru. Mengerti!"

"Baik, sensei, Aku minta maaf atas perbuatanku ini!" ucapku meminta maaf kepada pria surai hitam itu yang menjahiliku sebelumnya.

"Baiklah, buka buku kalian. Halaman 3 tentang penggunaan pola kalimat!" kata kurenai menyuruh semua murid membuka buku mereka dan mulai belajar seperti normal biasanya. Diriku duduk dibangku itu dan mulai mengambil buku paketku, kubuka halaman yang disuruh sensei sebelumnya, sebuah kertas terlempar dari arah kananku dan kulihat wanita yang mengangkat tangan sebelumnya. Gadis itu menyuruhku membaca isi suratnya. Tanpa rasa ragu aku pun membaca isi kertas tersebut.

"Hei, maafkan temanku yang sebelumnya mengisengimu, dia memang anaknya jahil, tapi sebenarnya Kiba orangnya sangat baik kok. Nanti akan kumarahi dia. Yamanaka Ino" membalik surat itu dan mulai menulis kembali dibagian belakangnya dan kulempar kepadanya kembali.

"Hn, Arigatou" mengangguk dengan senyum yang tergambar dari pria itu, membuat Ino menjadi kikuk antara senang atau bingung.

Pelajaran dikelas itupun berakhir, lonceng bel berbunyi menandakan istirahat jam pertama telah dilakukan. Guru wanita itu pun mengakhiri tulisan dipapan tulis dan meletakkan kapurnya di rak penghapus dan kapur yang berada didepan mejanya.

"Pelajaran cukup sampai disini, tugas buat kalian buatlah karangan tentang cita-cita yang ingin kalian capai ketika dewasa nanti, minggu depan dikumpulkan. Mengerti!"

"Baik sensei"

"Minna-san, Kiritsu ,Rei!"

"Arigatou Yuhi-sensei" jawab semua murid bersama.

"Kalian boleh istirahat sekarang! dan untuk Uzumaki-kun temui aku diruang guru setelah ini!" perintah guru wali kelas mereka para siswi yang tadinya mau mengajakku kekantin dan mengenalkan tempat-tempat yang berada disekolah pun harus mengurungkan niat mereka. Karena diriku terkena hukuman.

"Hai, sensei" balasku mengerti, membereskan semua buku pelajaran sebelumnya dan beranjak pergi meninggalkan kelas tersebut, tanpa melihat semua orang.

Gadis itu yang penasaran terhadap pria blonde itu, mencoba mengikutinya. Mendapatkan tangannya ditahan seseorang, Hinata pun mendongkak melihat siapa yang menahan dirinya. Seseorang yang dikenalnya. Sahabat bersurai hitam raven itu tak mengerti mengapa gadis itu mencoba mengikuti murid pindahan tersebut.

"Dia pria yang berbahaya! Jangan diikuti Hinata!"

"Tapi! Dia sudah menolong kita, lagipula ada sesuatu yang aneh!"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bisa menjelaskan dengan pasti, kau pasti merasakannya bukan Sasuke-kun. Sensasi dan tekanan sebelumnya! Aku merasa dia orang bukan biasa, maka dari itu aku ingin menyelidikinya-…"

"Kalau begitu aku ikut denganmu! Kitakan teman, aku akan melindungimu jika terjadi apa-apa!" sela pria itu menandakan ingin tahu juga seperti sahabatnya.

"Arigatou, Sasuke-kun. Ayo!" mereka pun mencoba menguntit secara hati-hati untuk mengikuti murid pindahan tersebut.

"Ada apa dengan Hinata dan Sasuke ya, mereka kelihatan bersemangat sekali?" tanya Ino yang melihat sifat aneh kedua temannya.

"Tidak tahu, ayo kita kekantin saja" sahut Kiba yang tak mengerti, mereka bertiga pun pergi kekantin.

Mereka berdua tak kunjung menemukan murid pindahan tersebut. mencari kesana kemari, mereka mencoba untuk memeriksa dilantai atap bangunan sekolah. Filling pria surai hitam itu benar, karena dua orang yang mereka kenal ternyata berada disana. Guru wanita itu menamparnya dengan kuat. Pipi anak muda itu merasakan panas akibat yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu tanpa ragu memarahi muridnya.

"Kita sembunyi disini Hinata, untuk saat ini kita awasi saja dahulu!" saran pria itu untuk lebih hati-hati, gadis itu hanya mengangguk mengerti dan memperhatikan dari balik pintu gudang atas bangunan sekolah.

"M-maafkan aku, Kurenai-sensei!"

"Minta maaf padaku pun tak ada gunanya, apa yang sebenarnya ada didalam kepalamu itu! Salah sedikit saja kau tidak mengontrol emosimu menggunakan Nen. Kau bisa saja membunuh temanmu. Haa… Apa kau ingin masyarakat umum mengetahui hal ini, orang dari Asosiasi Hunter bisa saja mengincarmu, karena kau telah melakukan tindak kejahatan dan para penjahat tentunya akan memburumu juga. Apa kau mengerti!" Kesalnya memarahi pemuda itu tanpa belas kasihan.

"A-aku benar-benar minta maaf-…"

"Tidak! tidak akan kumaafkan!" Selanya memarahi pria itu layaknya orang berkepala besar yang memegang pinggang dengan gaya seperti mengintimidasi seseorang.

"Eh?" Sweatdrop melihat sifat kurenai sensei berbeda dari biasanya.

"Huh,… baiklah mulai sekarang kau dilarang menggunakan Nen, kecuali jika dalam keadaan terdesak! Kalaupun kali ini kau melanggar dan tidak mengikuti peraturanku, tak ada lagi yang kuajarkan tentang Nen mengerti!" Ujar Kurenai memperingatkan ku sekali lagi untuk tidak melanggar janji.

"Aku berjanji tidak akan melanggarnya!"

"Berikan kelinkingmu! Perintah wanita paruh baya itu, diriku yang mengerti maksud dari wanita paruh baya itu merasa malu karena harus melakukan sumpah kelingking dengan orang lain yang tidak dekat denganku.

"Cepatlah!"

"B-baik, aku mengerti!" raguku untuk menerima kelingking guru tersebut.

"Aku bersumpah bahwa aku tidak akan menggunakan Nen, kecuali dalam keadaan darurat! Jika melanggar aku akan menelan ribuan jarum! Sumpah kelingking, Chuu… sekarang janji sudah tercipta, Eh? Naruto-kun, kau kenapa?!" Tanya wanita itu sesudah membentuk sumpah, diriku hanya merona malu seperti kepiting rebus.

"Ahahah… Kau benar-benar lucu sekali Naruto-kun-…"

"Dasar! Kurenai-sensei no baka!" sela ku menahan malu.

"Maaf, maaf. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Ingat jangan menggunakannya jika kau benar-benar dalam keadaan darurat. mengerti!"

"Aku tahu!"

Kurenai pun pergi meninggalkan diriku yang masih berada diatap. Beberapa penguntit memperhatikanku dari jauh. Mereka seseorang yang kukenal tapi kucoba acuhkan inderaku untuk tidak menanggapinya. Berbisik-bisik yang tidak-tidak membuatku sangat kesal, aku pun berdiri dari tidurku dibawah lantai atap bangunan tersebut.

"Mau berapa lama kalian selalu menguntitku, apa yang kalian inginkan dariku!" Sergahku langsung the point saja.

"Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kau sudah menolongku pada waktu itu, kalau tak ada kau. Mungkin aku sudah tewas dan maafkan teman kami Inuzuka, karena dia sudah menganggumu!"ucap Sasuke mengatakan terima kasih kepadaku.

"Hanya itu saja?... tak perlu dipikirkan, memang sudah kita untuk saling membantu!" deliknya ingin mengetahui lebih, ternyata hanya seperti itu pikirku.

"A-aku juga ingin berterima kasih kepadamu U-uzumaki-kun, karena sudah menyelamatkanku. B-bolehkah aku mengetahui apa itu Nen dan Asosiasi Hunter-… ups, m-maksudku!" ucapan Hinata yang polos membuatku curiga.

"Kalian tidak perlu tahu!"

"Dimana dia!"

"Dia menghilang!"

"Kalaupun kalian mengetahuinya yang didapatkan hanya sebuah penyesalan!" kataku memperingati mereka berdua, terdiam dan tak mampu bergerak sama sekali. Pikiran kedua orang itu hanya bisa berkata dalam hati sejak kapan dirinya ada dibelakang mereka membelakangi dan pergi meninggalkan kedua orang itu tanpa ragu sama sekali.

Kaki mereka yang digunakan untuk berdiri angkuh pun, akhirnya tumbang ketanah merasakan kekuatan aneh yang menakutkan dimiliki orang pindahan tersebut.

"H-hinata, aku rasa tidak akan mudah mengetahui ini!"

"B-benar!" jawab gadis itu yang bergidik ketakutan melihat ekspresi dingin dari pria bernama Uzumaki Naruto tersebut.

Di penjara Tokyo

Ruangan khusus terisolir, dimana para penjahat ditangkap dan dihukum disini. Seorang pria surai merah itu masih memukul tembok didepannya berulang kali, merasakan kemarahan yang tak kunjung mereda. Ucapan dalam gumaman pria itu yang membenci seseorang dan mencoba melampiaskan kepada orang itu.

"Kurang ajar, Kurang ajar. aku tidak terima ini! Aku akan orang itu!-… ada apa?" gumam Sasori yang masih mengingat wajah seorang penganggu yang menghalangi misinya. Beberapa teriakan rasa takut untuk meminta hidup tak tergubris, jeritan beberapa orang yang berhenti membuat nalar pikiran pria itu sedikit takut akan apa yang terjadi sebenarnya didalam penjara.

"Yo!" sapa orang itu dari belakang pria itu secara tiba-tiba, membuat Sasori melangkahkan kakinya mundur karena ketakutan.

"S-siapa kau, bagaimana kau bisa berada didalam?!" tanyanya dengan perasaan takut setengah mati, karena tak menyadari orang misterius dibalik tudung hitamnya.

"Aku berada dipihakmu! Aku adalah anggota akatsuki, kau tidak ingat?" Sasori mencoba mengingat kembali siapa orang misterius tersebut, menyadarinya dan baru mengingat orang didepannya saat ini.

"K-kau yang waktu itu dengan Yahiko-san dan Deidara itu!"

"Benar, apa kau ingin keluar dari sini Sasori?"

"T-tapi, bagaimana caranya? Disini banyak penjaganya-… huh?" terkejut karena pria misterius itu sudah menghancurkan jeruji besi dengan tangan kiri kosongnya.

"Aku sudah membunuh mereka semua. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini! Kau ingin balas dendam kepada anak ingusan tersebut bukan. Aku akan membantumu melawan orang itu, bagaimana kau tertarik?!" ujarnya kepada Sasori.

"T-tapi, orang itu sangat kuat dan senapan api tak berguna melawannya-…"

"Itulah sebabnya aku disini untuk membangkitkan kekuatan Nen yang berada didalamu, tapi dengan syarat kau harus melakukan tugas untuk pimpinan bagaimana?"

"Baiklah aku akan ikut! Aku ingin menghabisi anak ingusan itu dengan tanganku sendiri!" ucap Sasori tanpa keraguan, Zetsu yang melihat senyuman datar dingin pria itu hanya bisa tersenyum dalam tudung hitamnya.

Disekolah Sma Tokyo

Pelajaran dimulai kembali setelah pukul 13.00 siang, semua murid mulai belajar kembali dengan serius, angka dan rumus yang ditulis dalam sebuah papan tulis hijau tua tersebut, menjelaskan tentang alogaritma yang cukup memusingkan bagi beberapa murid yang tidak mengerti pelajaran Matematika. Guru itu pun menghentikan acara kesibukan menulis dipapan tulis dan melihat kearah para murid.

"Baiklah semuanya, aku ingin salah satu dari kalian mengerjakan latihan nomor 5 ini, acungkan tangan jika kalian mau mengerjakannya!" pikir sang guru bertanya-tanya mengapa tidak ada yang mau mengerjakan soal yang ditulisnya. Beberapa anak memilih menyibukkan diri melakukan aktivitas yang dapat membuat mereka terhindar dari tunjukkan guru wanita bersurai cokelat intens tersebut.

"Tidak ada yang mau mengerjakan?... laki-laki yang berambut kuning, daritadi kau melamun saja. Apa kau tidak memperhatikan pelajaranku!" tanyanya kepada ku dengan nada bicara tidak suka.

"Aku memperhatikan anda"

"Kalau begitu kerjakan soal ini, sekarang!" perintah guru killer itu yang tidak menyukaiku karena mengacuhkan pelajarannya, berdiri dan aku mengikuti perintahnya. Semua siswa yang berada disana cukup hati-hati dan tidak bisa mempercayai saat melihatku mengerjakan soal itu tanpa beban. Gerakan tanganku yang kugunakan untuk menulis dalam papan hijau tua tersebut.

"Sensei"

"Benar, jawabanmu tepat!" beberapa rasa kagum dalam beberapa kelas yang melihatku cukup pintar dalam pikiran mereka dan ada beberapa orang yang merasa iri dan tidak menyukaiku. Diriku kembali keposisiku semula untuk duduk.

"Kalian harus belajar dengan giat lagi seperti Uzumaki, mengerti!"

"Hai, Sensei~"

Bunyi bel menandakan pelajaran telah usai. Selama beberapa jam. Sekarang jam menunjukan pukul 16.00 sore, semua siswa mulai bersiap-siap untuk pulang kerumah.

"Ah, Matee. Sensei diminta memberikan ini kepada kalian semua, tolong isi angket masa sepan ini dan jika sudah selesai dikumpulkan diruang guru. Ketua kelas jangan lupa simpan dimeja Yuhi-sensei Mengerti!"

"Hai, Mitarashi-sensei"

Guru bernamakan Mitarashi Anko itu pun meninggalkan kelas lebih awal dari semua siswa, beberapa orang sudah mengumpulkan angket itu dan mulai meninggalkan kelas satu persatu untuk pulang kerumah masing-masing, hanya menyisakan beberapa murid disana yang bisa terhitung oleh jari, 7 orang saja

"Hinata kau lama sekali mengisinya!"

"Iya lama sekali kau ini"

"G-gomen ne Tenten-san, Ino-san, kalian bisa pulang duluan kok" jawab gadis itu tertawa garing karena belum mengisi formulir angket masa depannya.

"Sayang sekali, kalau begitu aku pulang duluan. Dah semuanya!" jawab Kiba dengan nada mengejek dan pulang lebih dahulu, membuat kedua teman wanita itu mencoba mengejarnya.

"Eh! Tunggu kami Kiba!" kesal Ino mengejar pria itu bersama Tenten, Sasuke pun berdiri dan mulai memberikan angket itu kepada ketua kelas dan menghampiri sahabatnya.

"Hinata aku menunggumu ditempat biasa!" ucapnya kepada gadis itu dan melihat diriku yang masih melamun menatap matahari terbenam yang cukup indah. Gadis itu mencoba melihatku dengan diam-diam.

"Hyuuga-san, kau belum selesai?"

"Woah!... a-apa , i-itu sebentar ya… ini sudah. Maaf jika aku terlambat mengumpulkannya. Maaf merepotkanmu!" tukasnya terkejut dan gugup karena ketua kelas itu mengagetkan gadis itu secara tiba-tiba.

"Tidak apa-apa. Lalu bagaimana denganmu Uzumaki-kun kau sudah selesai?"

"Kau duluan saja, aku akan menyusul menaruhnya setelah ini"

"Kalau begitu aku duluan" ucap ketua kelas itu izin kepada mereka berdua untuk pamit lebih awal.

Suasana yang cukup tenang, setengah jam telah berlalu. Hinata yang gugup pun mendekati pria surai kuning itu yang masih enggan untuk mengerjakan angket tersebut dan penasaran apa yang dipikirkan teman baru pindahan.

"U-uzumaki-kun mau pulang bersama?... ah apa kau sudah mengisi angketmu, perlu kubantu, jika kau tidak mengerti, b-bagaimana-…"

"Huh, kau ini benar-benar gadis yang keras kepala dan pengganggu!"

"A-aku tak bermaksud membahas itu lagi, a-aku hanya ingin membantumu saja apa salahnya jika aku menawarkan bantuan!" Hinata yang kurang suka dibilang keras kepala dan pengganggu pun mulai kesal terhadap orang dihadapannya saat ini.

"Lantas apa maumu? Sejujurnya aku tak menyukai orang-orang disini. Tidak berbeda jauh dengan kehidupanku di Hokaido ketika aku berada di SMP. Bahkan keluargapun aku tak punya! Ini membuatku muak saja, karena itulah mereka menganggapku orang asing!" ujarku didepan Hinata menjelaskan kekesalanku kepada gadis itu dengan nada bicara malas.

"Aku benar-benar minta maaf, tapi kau sudah menjadi bagian dari kelas kami berarti kau juga teman kami!" ucap Hinata dengan tegas membuat ku terhanyut dalam kata-katanya.

"Hentikan saja, omong kosongmu itu. bagaimana kau membuktikannya-…" Diriku terkejut karena gadis itu mencium dahiku dengan tiba-tiba. Membuatku merona hebat.

"A-apa yang kau lakukan bodoh! Apa kau merencanakan sesuatu lagi!" delik ku masih gugup untuk berkata.

"Tidak ada, aku hanya ingin membantumu saja! Bagaimana jika seperti ini isinya!"

"Aku akan mejadi jembatan untukmu dalam melangkah dan akan menikah denganmu"

"Jawaban yang bodoh sekali!"

"Memang, itulah kenyataanya. Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan karena kita sama, aku pulang duluan ya. Aku tak tega meninggalkan Sasuke-kun, dah Uzumaki-kun!" ucap gadis itu dengan senyum hangat dan izin lebih dahulu untuk pulang kepadaku.

Perjalanan pulang kerumah bagi kedua sahabat itu sedikit aneh bagi gadis bersurai biru legam itu, wajahnya tak berhenti merona seperti kepiting rebus. Teman pria itu yang memperhatikan sikap aneh gadis itu pun membuka pembicaraan.

"Hinata, kau tadi lama sekali dikelas? Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan Uzumaki?"

"I-itu iya"

"Kau menembaknya ya-…" tebaknya pria itu asal. Membuat Hinata merona hebat.

"Tidak! A-aku hanya, i-itu… aku hanya membantunya saja kok"

"Oh, begitu. kupikir kau menembak dia"

"S-sasuke-kun-… Eh? A-ada apa? Apa mau kalian?" Tanya hinata dengan hati-hati karena melihat sekumpulan anak berandalan preman dari sekolah lain datang menghampiri dirinya.

Beberapa preman dari sekolah lain berkumpul mengelilingi kedua sejoli itu, perasaan takut tersirat dari wajah Hinata yang khawatir, begitupun dengan Sasuke yang harus melindungi gadis itu dibalik punggungnya. 12 orang itu tersenyum

"Apa mau kalian!" sergah pria itu the point.

"Berpura-pura bodoh yah! Lakukan!" perintah salah satu pemimpin geng preman sekolah itu menarik Hinata menjauh dari sahabatnya.

"Sasuke-kun!" pekik gadis itu ditarik oleh salah satu preman, mencoba memisahkan mereka berdua.

"Hinata!" Sasuke yang kesal memberikan tendangan kaki kanan membuat salah satu anggota preman itu terjatuh ketanah akibat serangan sahabatnya. Mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri, gadis itu berada didekat pria.

"Kau baik-baik saja? Jangan jauh-jauh dariku. Mengerti!"

Serangan yang dilancarkan pria itu tak berarti membuat salah satu anggota geng itu bangkit kembali seperti tak berarti apapun serangan pemuda tersebut, Sasuke yang melihat itu tak mempercayainya. Padahal kekuatan serangannya cukup kuat untuk melumpuhkan musuh dalam pertandingan Karate yang dia ikuti.

Pertarungan pun masih berlanjut bagi Sasuke untuk melindungi temannya. Berulang kali dia mencoba merobohkannya tapi bangkit kembali dengan angkuh seperti tidak terjadi apapun.

"B-bagaimana bisa? Padahal seranganku itu seharusnya cukup kuat untuk melumpuhkan musuh, t-tubuhku sudah benar-benar sangat kelelahan-…"

"Sasuke-kun samping kananmu!" pisau lipat mengarah kepada dirinya.

"Mati kau kali ini!" ucap sang ketua geng dengan niat membunuh pria itu, bersama semua rekannya bermaksud membunuh Sasuke lebih dahulu.

"Kami-sama" batin gadis itu tak tahu harus berbuat apa. Pasrah menerima takdir yang akan menimpa mereka berdua.

Tak merasakan rasa sakit, kedua orang itu yang masih menutup mata, karena bersiap menerima takdir kematian yang akan menjemput mereka. Membuka matanya secara perlahan tak mempercayai seseorang yang dikenal dua orang itu sedang bertarung melindungi mereka berdua.

"K-kau" gumam mereka bersama tak mempercayai bahwa pemuda surai kuning itu akan menyelamatkannya kembali.

Berhasil melumpuhkan musuhnya dengan gerakan yang luar biasa, kecepatan dan pertahanannya berbeda jauh jika diukur pria bermargakan Uchiha itu.

"Yang tersisa tinggal kau! Majulah!"

"Dasar pengganggu, Haa..!" menyerangku dengan iris marah dan menebasku berulang ulang dengan kecepatan yang bertambah.

"Gerakannya tidak biasa, semakin lama rasanya, dia semakin cepat saja!" pikirku mulai menggunakan Gyo untuk mengetahui keanehan pada musuh dan melihat kemampuannya, kulihat sebuah benang kecil tipis putih yang mengendalikan orang tersebut.

"Dia dikendalikan seseorang! Siapa yang mengendalikannya?" batin Naruto masih menghindari serangan musuh.

Kedua orang itu masih memperhatikanku bertarung dengan tidak normal melompat diudara, menghancurkan tembok dan bergerak diluar kecepatan nalar manusia membuat kedua sejoli itu terkesima.

"S-sugoi. Apakah ini Nen itu Sasuke-kun?"

"Aku tidak tahu?, mungkin saja!"

"A-aku ingin memiliki kekuatan ini" batin sasuke kesal merapalkan tangannya karena merasa lemah dari orang lain.

Memasuki akhir pertarungan diriku mengumpulkan Ten dan Ren bersamaan ditangan kananku, mengepalkan sebuah tinju yang sudah diisi Nen. memasukan serangan terakhir saat musuh menyerang dengan pisaunya, menebas datar lurus, tubuhku berputar dan menyerangnya dari belakang, mengenai punggung lawan.

"Rasakan ini!" pria itu pun terlempar cukup jauh, beberapa meter menabrak dinding tembok dan pingsan ditempat. Diriku pun mulai tak sadarkan diri karena belum terbiasa menggunakan Nen untuk bertarung maksimal.

Mereka berdua yang melihat teman sekelasnya tumbang itupun datang menghampirinya dan mencoba menolongnya. Disisi lain pemuda surai merah itupun merasakan efek samping karena kelelahan dalam menggunakan Nen pertama kalinya.

"Bagaimana?"

"Ini kekuatan yang luar biasa! tapi badanku benar-benar mati rasanya!"

"Tentu saja, kau baru pertama kali menggunakannya tentu ada efek sampingnya. Kita mundur dahulu sekarang Sasori"

"Aku akan membebaskanmu kali ini, di lain hari aku akan membunuhmu!" batin Sasori menghilang bersama Zetsu meninggalkann target mereka sebelumnya.

Gadis itu yang melihatku masih tak sadarkan diri mengoyang-goyangkan berulang kali untuk menyadarkannya. Perasaan takut tersirat dari wajah Hinata yang takut kehilangan orang tersebut.

"Bagaimanaini Sasuke-kun?!"

"Tenanglah Hinata, dia baik-baik saja. Dia hanya pingsan"

"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita tak tahu dimana rumah Uzumaki?"

"Uhm… bagaimana jika membawanya kerumah Yuhi-sensei saja. Akutahu rumahnya dan lagipula sepertinya mereka berdua memiliki hubungan yang cukup dekat bukan"

"Ayo kita kesana!"

Sang pemilik malam sudah berada diatas langit menggantikan sinar matahari yang menyenangkan dan hangat, sekarang giliran sang bulan yang menenangkan dan dingin yang bertugas saat ini. dirumah yang cukup besar itu terlihat iris wajahnya terlihat khawatir, melihat jam yang menunjukan pukul 19.00 malam, tapi orang yang dikenalnya belum kunjung pulang.

"Kenapa Naruto-kun belum pulang! Apa telah terjadi sesuatu padanya!" batin kurenai yang terlihat khawatir, bunyi lonceng bel rumah berbunyi. Segera wanita paruh baya iu menghampiri pintu dan meraih daun pintu tersebut dan membukanya.

"A-apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto-kun?"

"Yuhi-sensei bicaranya didalam saja, yang terpenting Uzumaki-kun sekarang" ucapan Hinata pun membuat wanita paruh baya itu mengerti. Meletakkan pemuda itu didalam kamarnya, mereka berdua menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat iris kurenai yang mengerti mengapa dirinya tak sadarkan dri.

"Terima kasih banyak atas bantuan kalian berdua Hyuuga-san, Uchiha-san. Membawa Uzumaki-kun kesini, sisanya biar aku saja yang mengurus dirinya!" ujar kurenai untuk tak usah mengkhawatirkan Naruto kembali. Betapa terkejutnya bahwa kedua orang itu menunduk didepan guru sastra jepang itu, membuat wanita paruh baya itu tak mengerti.

"A-ada apa Uchiha-san,Hyuuga-san kenapa kalian menundukkan kepala seperti itu?"

"Yuhi-sensei! Kumohon ajarkan aku Nen! Angkatlah aku jadi muridmu aku mohon!"

"Aku juga, kumohon Yuhi-sensei!"

"Apa yang kalian bicarakan, aku sama sekali tak mengerti-… huh" pasrah Kurenai melihat kedua anak muda itu yang terlihat serius dari iris wajahnya. Membuat dirinya tak bisa lagi membohongi mereka berdua.

"Ikutlah denganku!" ajak Kurenai membawa mereka kesebuah ruangan kosong, hanya tersedia buku diatas meja dan sebuah baskom kecil yang didalamnya terdapat gelas berisikan air dengan sebuah daun diatasnya. Ruangan yang berukuran 8x8 meter persegi. Dan mulai bertanya kepada kedua insan tersebut.

"Perhatikanlah baik-baik!" Mengambil sebuah kertas selembar dari buku yang berada disana memegangnya dengan menjepit kertas itu diantara jari telunjuk dan jari tengah. Melemparnya dengan kesebuah tembok yang berada didepannya, hingga kertas itu menancap disana. kedua orang itu dibuat diam tak berkutik mengetahui kekuatan tersebut.

"Inilah Nen senjata pembunuh yang mematikan, Sekarang aku tanya apa alasan kalian ingin mempelajari Nen? Uchiha-san, Hyuuga-san" delik wanita paruh baya itu ingin mengetahui alasan sebenarnya.

"Awalnya sih tujuanku, hanya ingin berterima kasih kepada Uzumaki, karena dia sudah menolongku sebelumnya saat aku terluka terkena senapan api dan saat beberapa anak berandalan dari sekolah lain mencoba membunuhku sebelumnya, tapi semakin kesini aku membutuhkan kekuatan ini untuk melindungi diriku sendiri dan untuk melindungi Hinata!"

"Sasuke-kun" tersenyum senang mendengar perkataan sahabatnya.

"Lalu denganmu, Hyuuga-san?"

"Alasanku sama seperti Sasuke-kun sebelumnya. Kami diselamatkan oleh Uzumaki-kun dua kali, tapi alasan pribadiku adalah ingin mempelajari Nen yaitu aku ingin menjadi wanita yang kuat agar tidak menyusahkan orang lain disekitarku dan aku ingin bisa berguna untuk membantu Uzumaki-kun!"

"Hinata" kagum pria itu mendengarkan perkataan temannya.

"Seperti dugaanku, dia menyukai Naruto-kun" batin Kurenai merasa senang atas jawaban muridnya, tersenyum datar hampir tak terlihat bagi kedua orang tersebut.

"Baiklah, Sekarang aku tanya apa yang kalian rasakan saat ini?!"

"Seperti ada sebuah tekanan, tapi seperti tidak ada yang menganggu" jawab pemuda bermata onix hitam itu berkata, Hinata hanya mengangguk menyetujui ucapan Sasuke.

"Karena aku tak memiliki niat jahat kepada kalian. Kepekaan yang luar biasa padahal caranya saja tidak tahu, mereka pasti bisa merasakannya dengan insting. Nen adalah energi yang terpancarkan dalam tubuh manusia, karena itu efeknya akan terasa jika digunakan kepada manusia. Dalam arti buruk ataupun baik, jika seseorang yang tanpa persiapan hanya dengan aura saja bisa membunuh orang itu dengan seketika! Kita juga harus menjadi pengguna Nen juga"

"Berarti Nen harus dilawan dengan pengguna Nen juga ya?" tanya Hinata memastikan.

"Benar, untuk melindungi tubuh kalian dari serangan lawan, kalian Harus memiliki Ren yang kuat berasal dari tubuh kalian, kalau tidak!" ujar wanita bermata ruby merah itu yang meletakkan tangan kanannya didinding. Seketika dinding hancur retak dengan kerusakan yang cukup besar. Mata mereka berdua yang menyaksikan kekuatan Nen sebenarnya dibuat bungkam dan tak berkutik akan dahsyatnya kekuatan yang mengerikan tersebut.

"Tubuh kalian akan hancur berkeping-keping seperti ini, bagaimana apa kalian masih ingin mempelajari Nen?" tersenyum kecil didepan kedua muridnya.

To be continue

~Nyuwun tanggapi~