Cerita sebelumnya :
"Ada apa tamu istimewaku, apakah kalian terganggu dengan pembicaraan kami?" kata Yahiko dengan nada dingin.
"Aku hanya merasa bosan berada disini selama beberapa tahun disini, mengapa kau tidak membunuh aku saja biar diriku bebas" sahut wanita itu dengan nada lebih dingin.
"S-sakit… dengar aku ini orang yang baik, aku akan membunuh kalian saat mengetahui potensi kekuatan Nen kalian yang luar biasa terungkap. jadi tak perlu terburu-buru bagi kalian untuk mati cepat Minato-san, Kushina-san"
"Aku sudah tahu semuanya, Uzumaki Naruto adalah anak kalian berdua bukan. Ini akan menjadi pertemuan nostalgia beberapa tahun dan akan kubunuh anak kalian dihadapan kalian berdua"
Mereka berdua terdiam terpaku mendengar tuturan kata Yahiko, yang mengintimidasi mereka berdua. Perasaan sedih tersirat dari wajah mereka berdua.
"Jackpot, tepat sesuai dugaanku" tersenyum dingin dengan santai melihat ekspresi kedua orang itu khawatir kepada anak semata wayangnya.
Masashi kishimoto
Naruto x Hinata dll
Rated : T
Genre : action, romance, slice of life, school. dll
Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.
Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.
Chapter 5 : Tipe X Pengenalan X Nen
Remake
Diruangan persembunyian didalam hutan, bangunan yang sudah rusak dan tak digunakan kembali. dua orang tahanan yang merupakan Hunter crime berpangkat double itu terdiam mendengarkan ucapan sang pemimpin kelompok penjahat Akatsuki.
"Ada apa? Jadi benar ya, tak kusangka kalian memiliki umur yang panjang untuk bertemu dengan anak kalian. bagaimana jika kusuruh salah satu bawahanku untuk-…" perkataan Yahiko terhenti terdengar gemericing rantai yang mencoba melepaskan diri tapi tak berhasil.
"Jika kau menyentuh anakku, akan kubunuh kau!" ancam Kushina dengan nada marah.
"Ckckck… menyedihkan sekali" menarik rambut kushina yang mengerang kesakitan, Minato yang berada disitu pun sudah sangat kesal dengan orang dihadapannya saat ini.
"Yahiko, lepaskan tangan kotormu itu-… akh"
"Minato-… agh"
"Aku sangat tak suka dengan orang yang menentangku, apalagi musuh. Tenang saja. Aku memiliki rencana sendiri untuk membuat hidup anak kalian menderita" ujar Yahiko dengan santai kepada mereka berdua yang mengerang kesakitan.
Suasana yang begitu cerah bagi mentari yang menyinari sesisi kota Tokyo, semua orang menikmati hari weekend saat ini yang tidak mau terlewatkan oleh setiap orang, beberapa orang lainnya menghabiskan waktu dengan bersantai dirumah.
Dua sahabat berbeda gender itu sudah berada dirumah yang cukup besar dan terlihat modern, sebuah ketukan pintu beberapa kali membuat langkah kaki dalam rumah menghampiri tamunya, knop daun pintu itu dibuka dan menghadirkan sosok wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik diusiannya yang menginjak 30 tahun.
"Masuklah" sapa Kurenai dengan lembut, mereka berdua pun mengangguk mengerti dan mengikuti punggung gurunya dari belakang.
"A-ano, s-sensei, dimana Uzumaki-kun?
"Mungkin ditempat latihan"
"Begitu" jawab Hinata pelan, pintu geser rumah itu telah sampai diruang latihan, pemuda surai kuning blonde spike duduk melakukan meditasi disana. aliran Nennya begitu tenang dan damai. Itulah yang dirasakan Kurenai saat ini.
"Tennya benar-benar luar biasa" Kagum kepada muridnya itu dan menepuk tangannya sekali. Untuk memanggil Naruto. Membuka matanya dan segera dirinya menghampiri ketiga orang tersebut, mata Naruto masih terlihat ragu dan enggan menatap kedua temannya bukan karena takut, melainkan karena masih belum menerima mereka sepenuhnya menjadi teman.
"Sesuai dengan janjiku, aku akan mengajari kalian semua Nen" mereka bertiga mengangguk siap.
"Mohon kerjasamanya Uzumaki-kun"
"Mohon kerjasamanya"
Bersikap acuh dan tak menjawab perkataan mereka, membuat kedua orang itu merasa sedih, Kurenai hanya menghela nafas, karena harus sabar mengawasi Naruto.
"Baiklah lakukan Ten sekarang, untuk kalian berdua caranya sama seperti yang kuajarkan kemarin malam sebelumnya" beberapa atmosfir aura Nen membentuk Ten tanpa adanya masalah.
"Bagus tidak ada masalah bagi mereka berdua" benak kurenai memperhatikan Hinata dan Sasuke.
"Selanjutkan pertahankan Ten kalian seperti itu, aku akan menjelaskan tentang pengenalan tipe Nen kalian, seperti yang kalian lihat dalam papan tulis ini. diagram Nen terbagi menjadi 6 tipe yaitu, Kyouka, Henka, gugenka, Hoshutsu, Sousha dan Tokushitsu, aku sudah menjelaskan secara teori, sekarang kita mulai prakteknya, untuk melihat Hatsu kalian" mendekatkan tangannya yang diselimuti oleh Ren dan daunnya terbentuk menjadi dua, membuat mereka bertiga terkagum akan kemampuan Nen milik Kurenai.
"Daunnya menjadi dua"
"Hebat"
"Daun menjadi dua, menandakan aku bertipe Tokushitsu. Ini menunjukkan auraku bertipe Tokushitsu. Hyuuga-san kau yang pertama, silahkan"
"Baik" Tak ada perubahan apapun baik didaun maupun diair, membuat Hinata khawatir.
"Sensei, mengapa tidak ada perubahan? Apakah aku telah melakukan hal yang salah atau aku tidak berbakat" Kata Hinata sinis.
"Tidak, tidak. Kau tak perlu sedih dan kau sudah melakukan hal yang benar, coba kau celupkan jarimu kedalam air dan rasakan" mencelupkan jarinya kedalam gelas dan mencoba rasa airnya.
"Sedikit manis bagaimana bisa? bukankah ini hanya air putih biasa Yuhi-sensei?"
"Benarkah Hinata?"
"Benar cobalah kalian rasakan sendiri airnya Uchiha-san, Naruto-kun" menuruti perkataan sang guru, mencicipi rasa airnya.
"Benar, sedikit manis" gumamnya senang kepada Hinata yang hebat, Naruto hanya mengangguk mengerti.
"Berubahnya rasa air merupakan tipe Henka, tipe Nenmu adalah Henka. Selamat" Hinata hanya mengangguk mantap dengan perasaan senang, akan hasil latihan kerja kerasnya.
"Selanjutnya aku" Sasuke mengarahkan tangannya dan tak ada perubahan apapun baik maupun daun
"Daun tidak bergerak berarti tipe Henka, kau memiliki Nen yang sama seperti Hyuuga-san, Uchiha-san, selamat"
"Arigatou, sensei"
"Naruto-kun, giliranmu" mengangguk mengerti dan mendekatkan tangannya kedekat gelas yang berisi air didepannya, perlahan air meluap sangat banyak, perlahan-lahan benda kaca itu mulai retak, karena tak mampu menahan kekuatan Nen Naruto.
"Cukup… Naruto-kun, cukup!" perintah gurunya, yang melihat gelas kaca itu retak, beberapa retakkan menandakan Nen milik anak muda itu cukup kuat.
"Hebat gelasnya sampai retak"
"Nen Uzumaki-kun berbeda dengan kami berdua?"
"Dasar, kau tak perlu berlebihan menggunakan Nen mu itu Naruto-kun" kesal Kurenai kepada Naruto.
"Tipe Kyoukamu sudah sangat terlihat sangat jelas, tapi pengendalian dirimu masih kurang baik" Hela wanita itu harus ekstra bersabar menghadapi murid yang satu ini.
"Aku tak ingin berbasa basi akan hal ini Sensei!" tukasnya meninggalkan ruangan latihan, membuat kedua temannya kebingungan, Kurenai yang melihat itu memarahinya dan menyuruhnya berhenti, beberapa teriakan perintah untuk membuat pemuda itu tak bergerak lagi dari tempatnya. Namun diabaikan.
"Huh, Dasar keras kepala. Hyuuga-san, Uchiha-san. Kalian sudah menguasai Ten dengan baik, aku ingin kalian belajar Ren, selama yang kalian mampu mempertahankannya. Aku akan kembali lagi kesini, mengerti" meninggalkan kedua muridnya dan menyusul Naruto diruangan yang berbeda.
Kurenai membuka pintu geser dan membukanya, sosok yang dikenalnya hanya terdiam disana memperhatikan daun-daun yang gugur dari sebuah jendela ditempat latihan. Mendongkak dan memperhatikan orang yang dikenalnya.
"Maafkan aku"
"Kau orang yang sangat keras kepala sekali ya, tipe Kyouka memang sangat mudah sekali ditebak, ya aku tidak bisa menyalahkanmu. Kau tetap ingin latihan atau tidak?" tanya Kurenai kembali, mengangguk kecil tanda menginginkannya.
"Baiklah, ayo kita mulai latihan pengembangan Nen, dalam hal akan menjelaskan 7 hal yaitu, Gyo, In, Ryu, Ko, Ken, Shu dan En.
"Kau membantu dan menyelamatkan Uchiha-san yang terluka merupakan teknik dari pengembangan Nen yaitu Shu, lalu saat menolong Hyuuga-san ketika musuh memiliki kemampuan yang tidak diketahui merupakan Gyo. Kau sudah menggunakan kedua ajaran tersebut dengan baik melalui Tsunade-sama, sekarang aku tinggal mengajarkan sisanya. Kita akan belajar Ryu, Ken, In, En dan Ko" ujar Kurenai menjelaskan.
"S-sensei? Bisakah kau ajarkan sisanya hal itu, soalnya a-aku kurang paham dari sini" sahut Naruto dengan malu.
"Kupikir kau sudah tahu, terlalu jujur dan polos memang hal ciri khas karakter Kyouka" Kurenai terkekeh geli mendengar jawaban Naruto.
"D-diam, ayo kita mulai saja Sensei"
Belajar mempertahankan Ren mereka, waktu berjalan cukup lama disana yang dirasakan kedua teman Naruto. Pikiran gadis itu masih tergiang dan berpikir, mengapa Naruto meninggalkan kami berdua, berjalan kesana kemari membuat, sahabatnya mulai kesal tak tahan melihat Hinata seperti setrikaan.
"Hinata tenanglah, kau mengganggu konsentrasiku tahu!" decak Sasuke memarahi Hinata yang masih terduduk meditasi dilantai.
"Habisnya! Aku ingin bisa membantu Uzumaki-kun dengan kekuatan ini dan aku ingin bisa melindungi diriku sendiri, dia sudah melindungiku begitupun Sasuke-kun jugakan"
"Huh,.. Hinata kau terlalu berlebihan, apa kau menyukai Uzumaki?"
"A-apa yang kau bicarakan S-sasuke-kun, a-aku hanya kagum saja dan tidak menyukainya kok" kata Hinata dengan nada yang terdengar gelagapan dan ragu.
"Jadi, benar kau menyukainya ya"
"Sasuke-kun" kesal Hinata yang sudah merona hebat, seperti kepiting rebus yang siap santap.
"Maaf… maaf, menjahilimu lucu juga ya, tapi aku rasa rasa kau harus sedikit berusaha lebih keras dalam hal ini apalagi tentang cinta, menyadarkan seseorang yang memiliki karakter dingin dan tertutup itu sangat sulit loh"
"Kenapa kau berbicara seperti itu, Sasuke-kun?"
"Entahlah, aku merasa janggal saja dengan orang itu dan sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari kita berdua" jawab Sasuke terdengar ragu, membuat Hinata pesimis.
Dua orang sedang berada diruangan latihan yang berbeda dengan kedua murid lainnya, terlihat Naruto tertatih dilantai kayu rumah khas modern milik Kurenai, beberapa keringat mengalir dari tubuhnya, nafasnya tak beraturan menahan rasa lelah yang melandanya saat ini. berdiri dihadapannya guru wanita itu dengan sangat santai. Terlihat masih bugar dan tenang.
"Ada apa Naruto-kun, ini baru 30 menit kita latihan dan kau sudah sangat berantakan"
"Diam! Pertarungan yang sebenarnya akan dimulai" berlari dan melakukan serangan berikutnya, gerakan pola serangan Naruto yang sudah terbaca membuat Kurenai menghindar dengan sangat mudah, kehadirannya menghilang. Membuat pemuda itu kebingungan sesaat.
"Hebat, didalam pertarungan Sensei masih bisa menggunakan In dengan tenang"
"Aku berada dibelakangmu!" melakukan seragan dengan satu tangan, hit point telak mengenai belakang tengkuk lehernya, mampu bertahan dan berdiri kembali dengan cepat. Naruto berhasil melakukan Ken dengan baik walaupun tidak sempurna.
"Benar, Ken adalah keputusan yang tepat" batin Kurenai menghindari serangan Naruto kembali dengan mudah, menjaga jarak beberapa meter didepannya.
"Kau benar-benar diluar dugaanku, tapi dengan kemampuan seperti itu kau tidak akan menang melawan para Akatsuki, kau benar-benar lemah" ujar Kurenai memancing Naruto agar lebih serius.
Ucapannya membuat perkataan hal yang menyakitkan bagi dirinya, lemah merupakan kata yang yang dia benci sejak dulu hingga sekarang. Perasaan kesal kini bersarang pada pemuda surai blonde itu yang sudah tak bisa menahan diri, pergerakannya diluar dugaan membuat Kurenai tertatih kesakitan karena Naruto sudah berada dibelakangnya mengunci salah satu tangan kanannya. Meringgis kesakitan dan dilihatnya mata sapphire biru itu berubah menjadi gelap dan kosong. Pikiran rasa takut kini bersarang pada wanita berusia 30 tahun. Perasaaan khawatir dan tertekan melihat kondisi muridnya yang sudah diluar kendali.
"Akan kuberikan rasa sakit yang sebenarnya!" ujarnya dengan nada datar, mengisi Nen pada tangan kirinya Ten, Ryu, Ken, Gyo dan Ren menjadi satu membentuk Ko dengan kekuatan yang terisi pada pukulan tangan kiri yang dia akan kerahkan kepada Kurenai.
"Naruto-kun, Hentikan!"
"Hentikan!" teriak seseorang menyadarkan kedua orang itu, semua mata terbelalak melihat orang itu, gadis bersurai biru legam itu segera menghampiri Senseinya, kuncian tangan Naruto yang dilakukan pada Kurenai pun terlepas.
"Sensei kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja"
"Maafkan aku!" satu kata itu sontak membuat pria blonde itu meninggalkan mereka bertiga tanpa izin.
"Matte, Uzumaki-kun"
"Hyuuga-san… tolong kejar Naruto-kun. Huh… huh…" deru nafas masih tertekan dan kebingungan bagi Kurenai
"Tapi-…"
"Kumohon!" tanpa keraguan Hinata pun pergi mencari Naruto yang melarikan diri dari tempat latihan.
Mencari pelosok kota untuk menemukan pria bersurai blonde itu, perasaan takut dan khawatir terlihat dalam mimik wajah Hinata, beberapa waktu yang digunakan selama 30 menit tak membawakan hasil. Gadis itu tak mengetahui dimana Naruto bersembunyi.
"Kemana perginya dia?" berjalan perlahan yang kebetulan didepannya adalah sebuah taman, Lucky itulah yang dirasakan saat ini pada Hinata, senyum senang berhasil menemukan pria itu yang termenung duduk pada ayunan untuk dua orang disana. mendekatinya dan duduk diayunan satunya.
"Na-… Uzumaki-kun, ayo kita pulang. Sasuke-kun dan Yuhi-sensei mengkhawatirkanmu, ayo kita kembali-…"
"Pulanglah!" Kata Naruto dengan singkat, Hinata yang berada disitu terasa tersayat hatinya. Lagi dan lagi pria itu berkata kasar kepadanya, perasaan sedih tersirat dalam wajahnya. Menepiskan pikiran buruk itu dan mulai mengajaknya kembali dengan perlahan.
"Naruto-kun, kumohon jangan membuat semua orang khawatir lagi-…"
"Aku muak mendengar ucapanmu yang menganggu itu, kau selalu saja mengangguku dan tak mengerti sama sekali tentang hidupku-…"
"Beraninya kau-… huh?" Kini Hinata sudah tak bisa menahan dirinya kembali, perasaan bersalah karena telah menampar seseorang yang dicintainya, air mata kesedihan kini membasahi wajahnya, perasaan takut kini bersarang dalam hatinya kepada sosok pria didepannya.
"Mengapa kau menanggung semuanya ini seorang diri! Aku tak suka dengan orang yang selalu menderita akan masalalunya! Aku pun tertekan, sedih dan marah, saat Ibuku tiada. Mengapa kau tidak mau mengerti dan bersikap keras kepala, Ha… M-mengapa? Bodoh, tidak tahu diri, Sok kuat!" Kata Hinata melampiaskan semua kesedihannya kepada Naruto dengan emosi yang memuncak, perasaan itu kini membuka luka lama Hinata yang tak mampu kuat untuk menutupinya. Pelukan itu membuat gadis itu terdiam, matanya terbelalak mengenal orang yang melakukannya adalah Naruto, tanpa adanya rasa malu dan gugup. Untunglah taman saat ini sedang sepi, sehingga tidak menjadi tontonan yang kurang baik.
"Maaf"
"Kumohon jangan bersikap egois dan keras kepala lagi, Naruto-kun" mohonnya kepada pria itu dengan isakan tangis yang tak bisa terbendung. Mengangguk mantap dan mengerti jawaban Naruto saat ini tanpa ragu.
Kedua orang itu tak menyadari bahwa seseorang memperhatikan mereka dari jauh, menghilangkan hawa keberadaan dengan Zetsu. Senyuman yang sangat sulit dideskripsikan terbenak dari orang misterius itu yang kemudian menghilang.
"Ayo kita pulang-… kenapa?" Naruto tak mengerti mengapa Hinata menahan kaos orangenya, mata gadis itu terlihat ragu-ragu untuk berbicara.
"Ada apa lagi?"
"U-uzumaki-kun, a-aku minta maaf sebelumnya"
"Maaf? Untuk apa?"
"K-karena aku sudah menamparmu, aku t-takut jika kau membenciku-…"
" Lupakan saja!"
"L-lalu, bolehkah aku meminta sebuah permohonan?"
"Apa?"
"B-bolehkah aku memanggil namamu?" tanya Hinata ragu, Naruto hanya beranjak pergi dan berkata.
"Lakukan sesukamu" jawab Naruto dengan singkat.
Mereka berdua kembali kerumah Kurenai, perasaan bersalah bersarang pada hati pemuda itu. Hal yang tidak bisa dia hindari saat ini, Hinata yang melihat Naruto tertunduk ragu pun mulai membuka pintunya, berjalan menuju tempat latihan dan ditemuilah dua orang yang menunggunya.
"Sensei, Aku membawa Naruto-kun kembali" sontak ucapan gadis itu membuat Sasuke dan Kurenai terperangah diam, memanggil temannya dengan nama aslinya dan berakhiran Kun, membuat mereka bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"L-lalu dimana dia?"
"Eh? Dimana dia? sebentar Sensei!" meninggalkan ruangan latihan dibalik pintu dan terlihat pemuda itu merasa sedih dan ragu untuk menemui gurunya. Terdengar adu cekcok kata-kata diantara mereka, membuat Sasuke dan Kurenai Sweatdrop, pemuda itu mengalah dan mengikuti langkah temannya.
"A-ah, i-itu. Maafkan atas perbuataku Kurenai-sensei. Aku siap menerima hukuman apapun darimu!" tukasnya pasrah menerima apapun marahan gurunya. Sebuah pukulan kecill mendarat pada kepala Naruto. mata pria itu membelalak karena kini Kurenai menyamakan tingginya dengan pemuda itu dan memegang pundaknya.
"Tidak apa apa, akulah yang salah karena terlalu memaksamu dan mengetes perasaanmu, kau mau memaafkan aku?"
"Tentu"
"Sensei, bagaimana dengan latihan kita?"
"Untuk hari ini latihan kita cukupkan sampai disini, besok kita akan melatih dan membentuk Hatsu kalian sesudah pulang sekolah, mengerti"
"Hai"
mereka berdua pun izin pamit pulang, meninggalkan rumah gurunya. Wanita paruh baya itu masuk kembali kedalam dan duduk bersama diruang tamu disamping Naruto. tergiang dalam pikirannya bahwa dia memiliki sebuah informasi yang harus disampaikan.
"Naruto-kun, bacalah"
"I-ini pesan Tsunade-san dan Shizune Onee-chan akan datang kemari, memangnya ada apa?"
"Mungkin, akan terjadi sesuatu diTokyo dan juga beliau ingin memperkenalkan teman lamamu ketika berada di Hokaido, Naruto-kun"
"Teman lama? Siapa setahuku aku tidak memiliki teman disana?"
"Entahlah, siapa yang tahu" elak Kurenai terkekeh, melihat Naruto yang bingung.
"Beritahu aku Sensei, aku mohon"
"Besok saja, aku lelah ingin tidur. Selamat istirahat" jawab Kurenai dengan santai.
"Tch, dasar sensei pelit! Tapi kira-kira siapa?" berpikir keras ingin tahu orang misterius yang dikenalnya ketika berada di Hokaido, memikirkannya membuat kepala pria itu semakin sakit, ditepiskannya pikiran tersebut dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
Beberapa orang berkumpul ditempat bangunan yang terlihat rusak dan berantakan, beberapa dari mereka terlihat tenang, untuk menunggu sang pimpinan. Keluarlah orang yang terlihat masih muda, rambut orange dan pedang yang tersimpan pada pinggang kirinya.
"Saatnya kita memulai Invasi untuk menghancurkan kota Tokyo"
"Hai"
Pagi itu semua orang kagum dengan kehadiran murid pindahan yang akan bersekolah diTokyo, diruangan itu terdengar pembicaraan hangat akan kehadiran murid cantik dari Hokaido. Semua mata laki-laki yang terpesona dengan wanita muda dengan ciri khas rambutnya pink daun Sakura sekaligus mewakili namanya, mata hijau emerald yang terbalut onix itu menambah kesan indah, kulitnya yang putih seperti salju, menambah kesan manis baginya. Kehadirannya biasa saja bagi Sasuke dan Hinata, tapi untuk sosok pemuda surai blonde, merupakan kekecewaan sekaligus malas.
"Jadi ini orang yang dimaksud sensei ya" pikir Naruto masih menahan kesal, karena dibohongi Kurenai.
"Dan lagi, mengapa dia harus duduk disampingku!" decaknya kepada Kurenai dengan perempatan siku-siku pada kepala Naruto, Kurenai hanya tersenyum jahil melihat ekspresi muridnya.
FLASHBACIK_NARUTO_ON
"Perkenalkan nama saya Haruno Sakura, saya murid pindahan dari sekolah Hokaido, mohon bimbingannya, teman-teman" Kata sakura dengan sopan dan kalem, semua mata laki-laki mulai berbisik-bisik tentang kehadirannya dan para perempuan hanya merasa iri akan kehadiran murid pindahan baru dari Hokaido.
"Ok, Ada yang ingin ditanyakan kepada Haruno-san? Sebelum kita mulai belajar?"
"Kamu tinggal dimana, Haruno-san?"
"Boleh kuminta nomor emailmu?"
"Laki-laki seperti apa yang kau suka?"
Pertanyaan bertubi-tubi terdengar dikelas itu yang cukup gaduh, bunyi penghapus kapur yang dipukulkan kepapan tulis. Membuat semua siswa terdiam.
"Jika pertanyaan itu bersifat privasi kita lewatkan saja dan mulai belajar"ujar Kurenai sedikit kesal dengan kelas yang isinya sangat gaduh.
"Yuhi-sensei, aku tak keberatan kok untuk menjawabnya. Bolehkah aku menjawab pertanyaan temanku"
"Itu, b-baiklah"
"Jika ingin bertanya tentangku kalian bisa menanyakan ketika istirahat, tapi satu hal yang perlu kalian tahu, aku ini sudah bertunangan"
"Erk?... siapa orang itu Haruno-san?" kini Kiba mulai penasaran. Melihat kearah Naruto dengan semu diwajahnya, beberapa orang mulai mengikuti semua matanya, melihat kearah sosok kuning itu yang mencoba acuh.
Beberapa detik berpikir dan mencerna perkataan Haruno.
"Eeeeh…. Yang benar saja!?" ujar para siswa dikelas sangat terkejut.
To be continue…
