Cerita Sebelumnya:
Pertanyaan bertubi-tubi terdengar dikelas itu yang cukup gaduh, bunyi penghapus kapur yang dipukulkan kepapan tulis. Membuat semua siswa terdiam.
"Jika pertanyaan itu bersifat privasi kita lewatkan saja dan mulai belajar"ujar Kurenai sedikit kesal dengan kelas yang isinya sangat gaduh.
"Yuhi-sensei, aku tak keberatan kok untuk menjawabnya. Bolehkah aku menjawab pertanyaan temanku"
"Itu, baiklah"
"Jika ingin bertanya tentangku kalian bisa menanyakan ketika istirahat, tapi satu hal yang perlu kalian tahu, aku ini sudah bertunangan"
"Erk?... siapa orang itu Haruno-san?" kini Kiba mulai penasaran. Melihat kearah Naruto dengan semu diwajahnya, beberapa orang mulai mengikuti semua mata hingga melihat kearah sosok kuning itu yang mencoba acuh.
Beberapa detik semua murid terdiam berpikir dan mencerna perkataan Haruno.
"Eeeeh…. Yang benar saja!?" ujar para siswa dikelas sangat terkejut.
Masashi kishimoto
Naruto x Hinata dll
Rated : T
Genre : action, romance, slice of life, school. dll
Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.
Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.
Chapter 6 : Invansi X Akatsuki X Tokyo (Bagian 1)
Remake
Kelas itu yang semula tenang menjadi ricuh karena pernyataan murid pindahan tentang perasaan pria yang disukainya kepada teman masa ketika berada dijunior High School Hokaido, tatapan mata kecemburuan bagi para laki-laki yang tidak suka kepada Naruto begitupun sebaliknya bagi para perempuan yang tak menyukai murid pindahan berambut khas Sakura pink muda sesuai dengan namanya.
Pelajaran pun dimulai dan berjalan seperti biasanya, beberapa jam berlalu dalam aktivitas belajar dikelas, bunyi lonceng bel sekolah menandakan waktu istirahat telah tiba. Tanpa ragu-ragu beberapa teman sekelasnya langsung menyergap Naruto, membuat dirinya untuk tetap ditempat begitu berlaku untuk Sakura yang berada disamping pemuda surai khas blonde. beberapa pertanyaan terucap dari mulut mereka.
"Uzumaki, benarkah dia tunanganmu?"
"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Haruno-san, Uzumaki"
"Mengapa selalu saja Uzumaki-kun yang selalu memiliki banyak fans wanita"
"Iya, betul aku jadi iri"
"Kau sungguh beruntung Uzumaki-san"
"Tenanglah!" sergah Naruto yang pusing mendengarkan ucapan para manusia yang disebut teman pikir pemuda itu kesal.
"Dengar, aku tak peduli soal pertanyaan kalian, tapi aku sendiri pun tak mengerti akan semua ini. jadi tolong hentikan pertanyaan bodoh kalian, mengerti" ujar Naruto mulai berdiri meninggalkan kelas dan didepannya sudah berada seorang yang dikenalnya pemuda usil yang mengganggu dirinya 4 hari yang lalu, menunduk dan tak mampu berkata apapun.
"Inuzuka-san, apa kau sebegitu enggankah melihatku?"
"Huh,… dengar, aku sudah berkata minta maaf kepadamu. jangan dipikirkan aku sudah tak mau membahas akan hal itu, kuharap kita bisa berteman setelah ini"
"I-iya, akupun minta maaf karena perbuatanku sebelumnya, Arigatou Uzumaki" mengangkat kepalanya, memberikan sebuah senyum simpul hangat yang menandakan dia ingin berteman dengan Naruto, menepuk pundaknya dan meninggalkan semua penghuni kelas yang masih terheran-heran dan penasaran.
Sosok pemuda itu menghilang dibalik pintu, membuat bola mata emerald hijau Sakura terlihat muram dan sedih. Perasaaan bersalah masih tergiang dalam otaknya yang memaksa dirinya harus mengingat perkataan buruk yang pernah dikatakan kepada Naruto.
"Apa kau sebenci itu denganku, Naruto-kun?" batin Sakura merasa kesal dan diapun meninggalkan kelas dengan perasaan kacau.
Hinata pun ikut keluar dari kelas untuk mengetahui hubungan diantara mereka berdua, rasa penasaran terus terpikir dalam pikiran gadis surai biru legam, Sasuke hanya tersenyum datar mengikuti sahabatnya pergi kemanapun.
Berjalan melangkah kakinya selama beberapa menit, tibalah ditempat yang dituju. Sebuah papan nama guru tertulis diluar pintunya. Mengetuk pintunya beberapa kali untuk izin masuk kedalam dan menemui orang yang ingin ditanya. Membuka pintu dan menghampiri guru sastra jepang itu dengan perasaan menahan kesal.
"Ada apa?"
"Sensei, mengapa anda tidak mengatakan jika orang itu adalah Sakura?!"
"Dengar, Naruto-kun ini bukan mauku, tapi ini perintah Tsunade-sama. Aku tak bisa melakukan apapun, jika sudah seperti ini, lagipula Tsunade-sama yang menjodohkanmu dengan Sakura bukan aku, lagipula jika kukatakan dari awal kau pasti akan berkata tidak! Dan Sakura akan tinggal bersama denganmu dirumahku. Hari ini"
"A-apa, Sensei serius? Ya ampun, tetap saja aku tak menyukainya!"
"Kumohon, kita bicarakan ini dirumah saja ya. Aku sedang banyak tugas hari ini"
"T-tidak mungkin, N-naruto-kun akan dijodohkan?!" meninggalkan ruangan guru dengan cepat, merasa diawasi mereka berdua keluar dari ruang guru ditemuinya orang yang mereka kenal, Hinata berlari dengan cepat menjauhi tempat itu, Naruto yang baru menyadarinya dengan segera menyusul Hinata meninggalkan Kurenai yang kebingungan.
"Naruto-kun, jangan berlarian dilorong!"
"Sensei bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Sasuke menghampiri Kurenai dan mulai berkata untuk meminta waktu sementara.
"Baiklah, ayo masuk kedalam"
Sakura yang sudah tenang pun akibat perasaannya yang bersalah pun sudah mulai membaik, berjalan-jalan untuk melupakan masalahnya, disudut tikungan kiri dia menabrak seseorang disana, merasakan sakit pada bokongnya.
"Duh, jangan berlari-lari didalam lorong kelas, berbahaya tahu!"
"A-aku benar-benar minta maaf-…Haruno-san" terkejut untuk berkata, karena orang yang tidak ingin ditemuinya muncul dihadapannya.
"K-kau siapa? Kau mengenalku" Sakura bingung dengan orang didepannya saat ini.
"Maafkan aku" tukasnya meninggalkan Sakura.
"Ada apa dengan gadis itu, aneh" pikirnya masih melihat Hinata mulai menjauhinya.
Menangis terisak, memeluk kakinya yang dia lipat dan membenamkan wajahnya menunduk, perasaannya kini hancur untuk bisa bersama orang yang disukainya. Sosok pemuda yang hangat dan baik terhadap dirinya. Seseorang memberikan sebuah sapu tangan kepada gadis itu, Hinata tersentak kaget menyadari orang yang dicintainya berada dihadapannya saat ini. posisinya menyamakan dengan tinggi Hinata. Menghapus air matanya dengan cepat dan tersenyum kecut didepan Naruto.
"Kau tidak apa-apa?"
"A-aku baik-baik saja, kenapa Naruto-kun ada disini?"
"Mengejarmu"
"Hanya itu saja?"
"Aku melihatmu menangis didepan ruang guru tadi, kupikir aku telah melukaimu Hyuuga-san?"
"T-tidak, mataku hanya kelilipan saja kok-…" Pria itu menatap gadis itu dengan marah.
"Maafkan aku" Naruto yang selalu bersikap dingin kini melembut tatapannya, mata amethyst itu kini tak mempercayai pria yang dikaguminya berkata seperti itu dihadapannya. Mengalihkan matanya untuk menyembunyikan kekecewaannya.
"Aku baik-baik saja kok-…"
"Aku tidak suka dengan orang yang membohongi perasaannya sendiri, kau bukan seperti Hyuuga-san yang seperti biasanya. Orang yang selalu mudah tersenyum kepada siapapun!" Kata Naruto dengan nada dingin yang menekan Hinata.
Mata gadis itu terasa panas, air mata asin itu kini memumpuk pada matanya, menetes secara perlahan pada wajah porselen putih, kesedihannya kini dilampiaskannya kepada pria itu, tak memperdulikan apapun yang terjadi disana, memeluknya dan menangis dengan keras.
"Aku menyukaimu Naruto-kun! Aku tak ingin orang lain merebutmu! Tidak mau! dan aku tak mencintai Sasuke-kun!" ujar Hinata tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini, Naruto yang masih mematung disana menjadi ragu antara membalas pelukannya atau diam. Pikirannya kini berkecamuk untuk memilih, dengan ragu-ragu diapun memeluknya dan mengelus rambut wanita itu perlahan.
"Tenanglah, kau bisa menceritakannya dengan tenang, aku sama sekali tak mengerti?" gadis belia muda itu mengangkat kepalanya dan mengangguk mengerti untuk menceritakan kekacauan yang dirasakannya saat ini.
#Flash_Back_Hinata_On
Dirumah modern yang terlihat sederhana, semua orang berkumpul diruang makan. Beberapa lauk dan sayuran yang menyehatkan hadir dalam meja makan, pria paruh baya itu membuka pembicaraan diselang makan pagi mereka hari ini.
"Hinata"
"Hai' ada apa Otou-san?" tanya gadis itu masih memegang sumpit ditangan kanannya yang terhenti makan.
"Bagaimana dengan pelajaranmu? Tidak ada masalah?"
"Tidak ada sama sekali kok, soalnya aku selalu belajar bersama Sasuke-kun, jika aku bingung"
"Oh, sebenarnya ada yang ingin Tousan katakan kepadamu"
"Apa itu?" Hinata masih terlihat santai mengunyah kacang merah rebus yang hangat itu dalam mulutnya.
"Aku dan Neji kemarin berbicara dengan Fugaku, aku ingin kau menikah dengan Sasuke"
"A-apa? aku tak salah dengar?! Kau bercandakan Otou-san"
"Hinata dengar, kalian sudah lama mengenal dan berteman sejak lama bukan, aku yakin Sasuke orang yang baik untukmu"
"T-tapi aku tak memiliki perasaan apapun kepada Sasuke-kun, Niisan! Lagipula sudah ada orang yang kusuka!"
"Siapa orang itu Hinata?"
"Naruto-kun, Uzumaki Naruto. kumohon. Otou-san kumohon mengertilah aku hanya menyukainya"
"Hinata, kau menyukai orang yang baru kau kenal beberapa minggu saja, sedangkan Sasuke yang 6 tahun kau lupakan?"
"I-itu…"
"Hinata tolong mengertilah, Kana sudah lama meninggal semenjak melahirkanmu. Keluarga Uchiha adalah orang baik dan cukup terpandang, lagipula mereka kaya. Apa kau tidak memikirkan kondisi kita yang seperti ini, Aku dan Neji tak mampu untuk menguliahkanmu sesudah ini, tolong pikirkan kembali"
"Ah, sudah jam segini. Neji kita berangkat"
"Baik"
"He… Otousan dan Nii-san akan pergi lagi?"
"Maafkan aku Hinata kali ini kita akan rapat dalam waktu beberapa hari, kumohon pikirkan hal itu baik-baik"
"Jaga rumah Hinata"
"I-iya"
#Flash_Back_Hinata_Off
"Aku hanya ingin selalu bersama Naruto-kun! aku ingin pacaran dan menikah denganmu seorang! aku tak ingin orang lain! apa yang harus aku lakukan, aku takut!"
"Begitu, pasti kau akan menemukan cara menyelesaikan masalahmu itu Hyuuga-san"
Sasuke Pov
"Begitu, pantas saja Hinata terlihat sangat tertekan"
"Uchiha-san, bisakah kau memberitahukan ini ke Hyuuga-san, kulihat dia sangat sedih dan kebingungan, sebelumnya aku ingin menjelaskannya, namun dia sudah beranjak pergi. Aku tahu ini terdengar aneh! Berkat dirinya Naruto-kun sedikit lebih hangat dengan orang lain dan sudah mulai terbuka"
"Yuhi-sensei, memiliki pemikiran yang sama sepertiku, sejujurnya Hinata itu sering membicarakan Uzumaki setiap saat. Itulah yang membuatku senang saat dirinya terlihat senang dan ceria lebih dari biasanya"
"Begitukah?"
"Baiklah Sensei, aku akan mencari dia dan akan memberitahukannya. Saya izin permisi"
"Ok, Terima kasih Uchiha-san" pria berambut raven hitam itu keluar dari ruang guru dan mulai mencari Hinata, dipertigaan lorong sekolah, disana terdiam orang pindahan yang dikenal Sasuke. Mencoba menepiskan pikiran dan matanya untuk tetap mencari sahabatnya. Gadis itu terlihat shock mendapatkan tatapan dingin dari teman satu kelas pindahan, ucapannya untuk memanggil orang itu sulit untuk dikatakan.
"A-ano, A-aku minta maaf. a-apakah kau kenal dengan Kurenai-sensei?"
"Menurutmu?"
"I-itu, a-aku ingin bertemu dengannya, a-apakah dia ada diruangannya?"
"Periksalah sendiri dan kau akan tahu"
"Kenapa sih dengan orang itu, tatapannya dingin sekali. Dasar!" batinnya merutuk pria sombong didepannya yang dia ajak bicara.
Mencari keseluruh area sekolah, namun tak menemukan sahabatnya. Terpikirkan satu tempat yang belum dia cari, kaki pria itu dia langkahkan menuju kelantai atap sekolah, beberapa anak tangga menuju pintu dan berjalan pelan, mendongkak wajahnya mencari Hinata, Bingo tebakannya menghasilkan jawabannya dan disana temuilah teman sekelasnya. Sosok pria blonde spike sedang duduk dengan santai disebuah kursi, beserta Hinata yang tertidur dipaha Naruto.
"Aku sangat khawatir sekali, saat melihat dia menangis seperti itu"
"Maafkan aku! Kehadiranku disini mungkin akan menyebabkan kalian semua selalu dalam bahaya, terutama dia"
"Dia terlihat manja dan lucu jika sedang tertidur. Bolehkah aku bertanya padamu? Aku tadi mendengar pembicaraanmu dan Yuhi-sensei. Apakah kau memiliki hubungan dengan Haruno-san?"
"Itu rencana Tsunade-san"
"Tsunade-san?"
"Bibiku, Sebenarnya aku ini yatim piatu, Tsunade-san sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri, entah apa yang membuat aku dijodohkan oleh Sakura. Sejujurnya aku membencinya, karena masalah pribadi-… ah maaf aku jadi terbawa suasana"
"Tidak… tidak, akulah yang seharusnya minta maaf"
"Uhm"
"Kulihat kau dan Hinata semakin dekat saja, terutama dia memanggil namamu, apa kau telah melakukan hal yang begituan padanya!"
"Baka! Aku tak akan melakukan hal seperti itu-… eh!"
"Tenanglah aku hanya bercanda, kau hampir membuatnya bangun Uzumaki!"
"Kau duluan yang memulai!" elak Naruto tak mau disalahkan.
"Huh, dasar kau ini! Sasuke, kau boleh memanggilku seperti itu. Uzumaki!" ucap teman sekelasnya memberika tangan kanannya.
"Naruto saja, akupun sudah sering merepotkan kalian berdua" meraih tangan kanannya dan berjabat tangan.
"Naruto, apa kau mencintai Hinata?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu-…"
"Pelan-pelan nanti dia bangun dasar dobe!" marah Sasuke yang tak bisa tenang dengan Naruto.
"Uhm… Okaa-san" gumam Hinata yang hampir bangun sebelumnya.
"Hampir saja dia bangun!"
"Itu salahmu teme!"
"Ok-ok, Jadi bagaimana?" tanya Sasuke memastikan.
"Entahlah, aku tak tahu apakah diriku pantas untuknya atau tidak, lagipula aku masih terlihat ragu, jika dia menyukaiku dengan kondisi seperti ini ditambah Tsunade-san pasti tidak akan begitu saja menyetujui hubunganku dengan mudah, namun aku merasa sangat damai dan tenang saat bersamanya!"
"Oh, Sejujurnya aku tak memiliki perasaan sama sekali kepada Hinata, dia hanya terlihat seperti anak kecil, sejak kematiaan ibunya dia terlihat selalu murung"
"Begitukah, pantas saja kami terlihat cukup akrab"
Teng… Teng… bunyi bel istirahat telah selesai, menandakan pelajaran akan segera dilanjutkan. Sasuke pun beranjak berdiri.
"Ayo masuk Naruto, nanti kita bisa dimarahi oleh Umino-sensei"
"Tunggu aku bangunkan dulu Hinatanya"
"Oii,… putri tidur ayo bangun, kita masih ada jam pelajaran sekarang"
"A-apa yang terjadi rasanya aku sangat nyaman sekali tidur, eh… wah, m-mengpa a-aku tidur dipangkuan N-naruto-kun dan mengapa ada S-sasuke-kun ada disini!?" Pekik Hinata terkejut karena baru bangun dari tidurnya, Arwahnya belum terkumpul.
#Dihajar_pake_Jyuuken_author-san XD (kembali ke TKP)
"Lihatlah kau menangis begitu lama, hingga membuat bajuku basah, Hinata!"
"M-maafkan aku Naruto-kun!"
"Hahaha…"
"Mengapa kalian berdua tertawa, hei, beri tahu aku apa yang terjadi!"
"Itu ra-ha-sia, benarkan Naruto!"
"Iya"
"Sasuke-kun, Naruto-kun. Sebenarnya apa yang terjadi, ayo ceritakan padaku!?"
Pelajaran berlanjut kembali, kini guru laki-laki rambut kuncir surai hitam, menerangkan tentang pelajaran Fisika yang berada dipapan tulis, semua murid serius memperhatikan pelajarannya. Naruto masih terlihat lesu dan malas untuk memperhatikan pelajaran didepannya. Terlihat kepulan asap hitam diberbagai kota, api mulai berkobar dibeberapa bagian. Dirinya merasakan khawatir, pemandangan yang tidak normal.
"Jika gaya gesekan lebih besar daripada berat maka, bla… bla… bla…" Ujar Umino-sensei masih menerangkan pelajaran.
"Ada apa dengan langitnya? Mengapa perasaanku sangat khawatir!?" pikiran Naruto berkecamuk tidak tenang.
Terdengar ledakan dihalaman sekolah, membuat beberapa siswa terkejut begitupun Naruto, beberapa benda berwarna putih berbentuk roket mengarah kesekolah Tokyo. Benda itu semakin lama semakin mendekat.
"Benda apa itu? Gyo!"
"I-itu… Semuanya cepat pergi dari sini!" perintah pria surai kuning itu, namun tak berhasil roket itu melesat menghantam bangunan sekolah dan sekitarnya. Ledakan besar menyebabkan bangunan sekolah menjadi rusak.
"Kyaaa…"
"Keluar dari gedung ini segera!"
"A-aku takut, Tousan, Okasan!"
"Terlambat!"
"Naruto-kun!"
"Naruto!"
"Kau tidak apa-apa?"
beberapa orang berkumpul diatas sana dan mulai melakukan invasi besar-besaran dipusat kota Tokyo, bunyi beberapa ledakan api yang berkobar besar, suara ketakutan para warga dan beberapa sirine mobil ambulan dan pemadam kebakaran yang berusaha untuk menghentikannya.
"Suara yang sangat indah, Saatnya berburu!" mereka semua bergerak mulai mengacau dengan kekuatan yang diluar perkiraan manusia, beberapa anggota polisi dan tentara bersenjata tak mampu menghentikan kesepuluh orang bertudung hitam misterius. Beberapa korban mulai berjatuhan disana, darah mulai membanjiri lantai bumi.
Naruto yang melihat keganjilan didekat halaman itu merasakan ada yang mengawasinya. Kedua temannya menghampiri pria itu yang sebelumnya pergi dengan tiba-tiba. Halaman sekolah itu terlihat sangat berantakan dan beberapa kobaran api kini mulai melahap sebagian area tersebut.
"Naruto-kun, apa yang terjadi?"
"Hinata, kau carilah Kurenai-sensei dan evakuasi semua orang yang berada didalam kelas dan Sasuke apa kau bisa ikut denganku, aku membutuhkan bantuanmu!"
"Baiklah"
"Kenapa Naruto-kun, tak membiarkan aku untuk ikut membantumu! Aku juga memiliki kekuatan sekarang! Aku ingin bertarung bersamamu-…"
"Mengertilah, Apa kau ingin mengorbankan nyawamu untuk keegoisanmu sendiri, Hinata!" sela Naruto dengan nada dingin.
"T-tapi…"
"Aku setuju dengan Naruto, kau yang sekarang belum mengetahui banyak tentang pertarungan Hinata, tolong mengertilah!" ucapan Sasuke menyadarkan gadis itu yang bersikeras ingin ikut bertarung.
"Kenapa kalian selalu melindungiku! Baka!"
"Hinata"
"Baiklah, aku akan melakukannya, Kalian harus bertahan hidup Sasuke-kun, Naruto-kun!"
"Pasti!" jawab Sasuke singkat, sedangkan Naruto hanya memberikan kode jari jempol kepada Hinata. Untuk mempercayainya. Meninggalkan mereka berdua untuk segera mengevakuasi pada murid.
"Oii, keluarlah! mau sampai kapan kalian bersembunyi!"
"Sasuke bersiaplah! Ini bukan duel. Tapi pertarungan sampai mati, berhati-hatilah!"
"Aku tahu itu. Naruto!"
"Lama tak jumpa Sasuke" sapa pria surai merah dengan santai
"Bocah hebat juga kau mengetahui keberadaan kami, En mu benar-benar mengesankan. Hn" Puji pria surai kuning panjang yang kagum melihat Naruto.
To be continue…
