Cerita sebelumnya :
Naruto yang melihat keganjilan didekat halaman itu merasakan ada yang mengawasinya. Kedua temannya menghampiri pria itu yang sebelumnya pergi dengan tiba-tiba. Halaman sekolah itu terlihat sangat berantakan dan beberapa kobaran api kini mulai melahap sebagian area tersebut.
"Naruto-kun, apa yang terjadi?"
"Hinata, kau carilah Kurenai-sensei dan evakuasi semua orang yang berada didalam kelas dan Sasuke apa kau bisa ikut denganku, aku membutuhkan bantuanmu!"
"Baiklah"
"Kenapa Naruto-kun tak membiarkan aku untuk ikut membantumu! Aku juga memiliki kekuatan sekarang! Aku ingin bertarung bersamamu-…"
"Mengertilah, Apa kau ingin mengorbankan nyawamu untuk keegoisanmu sendiri, Hinata!" sela Naruto berteriak dengan nada dingin.
"T-tapi…"
"Aku setuju dengan Naruto, kau yang sekarang belum mengetahui banyak tentang pertarungan Hinata, tolong mengertilah!" ucapan Sasuke menyadarkan gadis itu yang bersikeras ingin ikut bertarung.
"Kenapa kalian selalu melindungiku! Baka!"
"Hinata, tolong mengertilah kali ini saja" Sasuke mengerti perasaan gadis itu yang merasa kecewa dan sedih.
"Baiklah, aku akan melakukannya, Kalian harus bertahan hidup Sasuke-kun, Naruto-kun!"
"Pasti!" jawab Sasuke singkat, sedangkan Naruto hanya memberikan kode jari jempol kepada Hinata. Untuk mempercayainya. Meninggalkan mereka berdua untuk segera mengevakuasi murid sekolahnya.
"Oii, keluarlah! mau sampai kapan kalian bersembunyi!"
"Sasuke bersiaplah! Ini bukan duel. Tapi pertarungan sampai mati, berhati-hatilah!"
"Aku tahu itu. Naruto!" kedua orang berjubah hitam dengan cirri khas awan merah menjadikan mereka seseorang yang sedang dicari oleh lembaga hukum. Akatsuki buronan rank A, yang dikatakan belum ada siapapun yang dapat menghentikan mereka.
"Lama tak jumpa Sasuke" sapa pria surai merah dengan santai.
"Bocah hebat juga kau mengetahui keberadaan kami, En mu benar-benar mengesankan. Hn" Puji pria surai kuning panjang yang kagum melihat Naruto.
…
Masashi kishimoto
Naruto x Hinata dll
Rated : T
Genre : action, romance, slice of life, school. dll
Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.
Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.
Chapter 7 : Invansi X Akatsuki X Tokyo (Bagian 2)
Remake
…
Naruto dan sasuke menatap kehadiran dua orang yang muncul. Iris mereka yang serius dan penuh kewaspadaan. Terhadap orang yang membuat kekacauan di Tokyo. Beberapa bulan ini, hingga Asosiasi Hunter harus ikut turun tangan menghentikan buronan paling kejam dengan motif yang belum diketahui.
"K-kau? Bagaimana kau bisa berada disini. Akatsuna-san, apa tujuanmu kali ini?!" Sasuke terkejut melihat kedatangan orang yang berada dihadapannya.
"Kau mengenalnya?" tanya Naruto.
"Ah, dia senpaiku dan orang yang pernah mau menculik Hinata sebelumnya ditaman hiburan" jawab Sasuke.
"Oh, Jadi dia yang waktu itu" pikir pria surai kuning itu masih menatap kedua musuhnya dengan waspada.
"Sambutanmu seperti biasa, tidak ramah dan sangat kasar! Serahkan Hinata padaku dan aku akan segera pergi dari sini" ujar pria yang lebih tua 1 tahun itu kepada Sasuke.
"Kalau kami menolak?" kilah Naruto tak setuju.
"Uzumaki Naruto-san, aku benar-benar memahami pikiran ketua. Apa yang membuat dia menyukaimu, tapi target kami adalah kalian berdua jadi bersiaplah!" Ujar Deidara mulai menyerang mereka berdua dengan sebuah monster laba-laba kecil yang merayap mendatangi mereka.
"Apa itu?"
"Tetap waspada!"
"Rasakan!" Teriak Deidara melancarkan serangan.
BOOM,… ledakan besar terjadi diantara mereka berdua, Sasori dan Deidara yang melihat itu hanya tersenyum senang.
"Seperti biasa kau terlalu berlebihan Deidara-san" sahut Sasori melihat serangan yang dihasilkan oleh rekannya.
"Ahaha. Tak ada siapa pun yang mampu melawan seniku-… Cih?" perkataannya terhenti melihat Naruto sudah berhasil Sasuke menjauhi wilayah ledakan yang terjadi diposisi mereka sebelumnya.
"Terima kasih Naruto!" ucap Sasuke bersyukur karena nyawanya tertolong kembali.
"Uzumaki Naruto, ada sesuatu yang ingin kudiskusikan denganmu. Bagaimana jika kita melakukan pertukaran?"
"Sayangnya aku tak tertarik tawaranmu itu!" Tolak Naruto untuk tidak ingin tahu.
"Oh, kau yakin? Sayang sekali nyawa Kushina-san dan Minato-san. Menjadi taruhan disini. Apa kau masih mau mengabaikan kami?" Sasori menjetikan jarinya memanggil bawahannya dan membawa kedua orang dewasa yang sudah berantakan keadaannya, tubuhnya sudah luka dengan memar dan darah akibat penyiksaan yang mereka terima. Keadaanya yang tak berdaya bagi mereka berdua. Karena masih terikat benang Nen milik Sasori. Kedua mata Naruto membelalak begitupun dengan Sasuke.
"I-itu,… Kaasan, Tousan!" panggil Naruto kepada orang tua itu. Mereka berdua pun ingin mendatangi putra semata wayangnya, namun tak mampu, karena masih dalam tahanan mereka berdua.
"Naruto… ugh" mereka berdua meringgis karena tercekik benang Nen Sasori.
"Kurang ajar kau, kubunuh kau!" geram Naruto tak tahan melihat kedua orangnya diperlakukan secara tidak manusiawi seperti itu. Dirinya mulai akan melancarkan serangan namun berhenti, karena tangannya ditahan oleh Sasuke.
"Naruto, tenanglah jangan mudah terpancing!"
"Tch" desih Naruto yang tak suka melihat, kedua orangnya diperlakukan seperti mainana.
"Bagaimana? Ikut dengan kami atau berikan Hinata kepadaku, lalu kalian bisa berkumpul kembali bersama seperti sedia kala" tawarnya kembali kepada Naruto.
"Naruto, jangan dengarkan dia. Hinata adalah teman kita. Kau mengertikan!" teriak Sasuke melihat ke Naruto yang masih menunduk.
"Maaf, Sasuke" kata singkat yang terlontar dari mulutnya membuat Sasuke berpikir tidak mempercayai Naruto. Dengan cepat Naruto segera memukul kearah musuh membentuk lurus telapak tangannya. Sebuah serangan Nen berbentuk meriam api mengarah kemereka berdua.
Dengan sigap Deidara membentuk dinding Nen putih untuk menghalau serangan Naruto. serangan itu pun tertelan kedalam tanah liat putihnya yang digunakan sebagai media bertahan.
"Kurasa penawaran selesai, menolak berarti kau akan mati!" ujar Deidara mengaktifkan kemampuan Nen nya bersama dengan Sasori. Kemampuan Deidara membuat sesuatu menjadi benda, terlihatlah seekor Naga putih dan Sasori menampilkan permainan boneka manusia hidup yang melindunginya.
"Tipe Gugenka dan Shousha ya" batin Naruto menggunakan Gyo.
"Sasuke, Apa kau sudah masuk tahap latihan Ren dan Ten?" tanyanya.
"Iya, walaupun baru masuk dasar saja, kenapa?" jawab Sasuke berbisik disampingnya.
"Begitu, aku benar-benar minta maaf jika harus merepotkanmu kali ini. bisakah kau tanggani senpaimu itu untukku, aku akan menghadapi yang satunya. Aku akan memberikanmu sedikit petunjuk untuk menggunakan Nen orang bertipe Henka sepertimu. Kemampuan Hatsumu yang dihasilkan dari Ten dan Ren, mampu mengubah Nen menjadi sesuatu. Entah zat atau semacamnya. Visualisasikan apa yang ingin kau bentuk dengan Hatsumu itu. Kau mengertikan?"
"A-aku tak begitu yakin dengan saranmu, tapi akan kucoba" jawabnya terdengar ragu.
"Kita mulai!" kata Naruto singkat mulai maju bersama Sasuke, untuk melawan musuh dihadapannya.
HAAA!
Teriak mereka bersama mulai melancarkan serangan.
…
Didalam kelas
"Semuanya, tak ada yang boleh keluar dari sini. apapun yang terjadi! Disini tempat yang aman, jadi kalian tak perlu khawatir. Aku akan mencari sensei" ujar Hinata memberikan komando.
"Kau ingin kemana Hinata-chan, sekarang situasi diluar sedang sangat berbahaya?" tanya Tenten dengan raut wajah khawatir.
"Gomenasai. Aku berjanji akan segera kembali" Hinata hanya pergi tanpa memberikan alasan dia mau pergi.
"Hinata! Panggil Kiba dan Ino bersama untuk menghentikannya, alhasil gagal karena gadis itu sudah pergi menjauh.
Hinata masih mencari-cari dilorong setiap pintu untuk menemukan Kurenai, dengan perasaan khawatir dengan nasib nyawa Naruto dan Sasuke. Membuka setiap pintu yang ditemuinya.
BRAAAK!
Bangunan atap kayu runtuh, menyebabkan seseorang tertimpa akan puing-puing bagunan.
"Kyaaah…" teriakan Hinata menyebabkan dirinya tak mampu bangun ataupun bergerak, sebagian tubuhnya tertimpa bangunan yang cukup berat. Luka-luka memar menyebabkan seragamnya rusak dan kotor.
"Apa yang harus aku lakukan? Tubuhku tidak bisa bergerak. Bagaimana ini… Ah benar kenapa tidak terpikirkan olehku, Nen!" batin Hinata memikirkan cara untuk keluar dari puing-puing bangunan dan terpikir untuk mengaktifkan.
Perlahan bergeser, membuat Hinata senang dan dia pun terus memaksakan dirinya untuk melepaskan diri.
BOOM!
Bangunan yang sebelumnya menimpa Hinata hancur seketika, membuat gadis itu bertanya-tanya apakah sebesar itu kekuatannya. Seseorang muncul dihadapannya, seseorang yang Hinata yang tak dia percaya. Teman sekelasnya murid pindahan. Kini berada didepannya, mengulurkan tangannya untuk membantu dirinya berdiri.
"H-haruno-san, M-mengapa kau ada disini?"
"Ah, itu bagaimana aku menjelaskannya ya. Aku mencari Yuhi-sensei dan Sarutobi-Taichou, kau terluka biar aku obati" ujarnya memperhatikan luka-luka dan memar pada tubuh Hinata. Perlahan mata Sakura terlihat menjadi hijau kelam bersama sebuah tanda aneh yang membentuk tubuhnya. Pola garis hitam menyelimuti sebagian wajahnya.
"Dia bisa menggunakan Nen? Siapa wanita ini sebenarnya" batin Hinata takjub dengan penyembuhan instan milik Sakura.
"Yosh, kau sudah tidak apa-apa sekarang" Kata Sakura senang.
"Arigatou, Haruno-san, k-kau bisa menggunakan Nen juga?" tanyanya dengan hati-hati.
"Iya, aku ditugaskan untuk membantu Tsunade-san kekota ini, Ada apa memangnya?"
"Ternyata benar, padahal aku ingin melindungi semua teman-temanku. Namun nyatanya selalu aku yang dilindungi oleh orang lain. Aku benar-benar lemah" pikir Hinata menunduk menyesal karena tidak berguna sama sekali dan selalu ditolong oleh orang lain.
"Aku tak suka melihat raut wajahmu seperti itu! Dan ada satu hal yang ingin kuketahui juga sih. Hyuuga Hinata-san, mengapa kau menghindariku?" delik Sakura kini membuyarkan lamunan Hinata.
"Eh,… i-itu aku hanya terkejut saja mendengar bahwa kau dan Naru-,.. Uzumaki-kun tinggal bersama saja kok, tidak ada maksud apapun-…" sela Hinata dengan cepat.
"Mengapa banyak sekali orang yang berbohong didepanku seperti ini!" Aku mendengarnya pembicaraanmu diruang guru sebelumnya atau ketika kalian bertiga berkumpul diatas atap sekolah. Mengapa semua orang selalu saja tak mau jujur pada dirinya sendiri untuk berbicara didepanku! Haa.. haa… haa…" Marah Sakura tanpa henti dihadapan Hinata, sambil mengoyahkan tubuh Hinata berulang kali.
"S-sumimasen, a-aku-…"
"Aku sudah lelah hidup dalam penyesalan akan keegoisan yang kuhasilkan disekitarku, apakah kau juga berpikir seperti itu Hyuuga-san?!"
"Ayo, jawab aku!"
"Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan saat ini, namun melihat masalalu yang telah terjadi padamu, tak akan menghasilkan perubahan pada masa depanmu. Mengapa kau tidak mencoba membantu orang lain dengan kekuatanmu saat ini, Naruto-kun pun mengajariku akan hal itu, itulah sebabnya aku bisa seperti ini. yah walaupun aku masih lemah dari mereka bertiga dan juga dirimu Haruno-san, Tehehe…" ujar Hinata diselingi tertawa garing, karena tidak pandai menceramahi orang lain.
"Begitu kah, apakah Naruto-kun akan memaafkanku?"
"Tentu saja, aku bisa menjamin hal itu, lagipula. Kalian berdua t-tunangankan pasti kalian bisa lebih memahami sifat karakter setiap individu masing-masing. Memikirkan hal yang tidak pasti tidak akan membantu kita"
"Hyuuga-san"
"Ya?"
"Apakah kau menyukai Naruto-kun?"
"Erk,… i-itu…"
"Aku akan katakan yang sebenarnya, aku membenci pertunangan ini, Nenekku dan Tsunade-san merupakan teman partner kerja. Merekalah menciptakan aku harus terlibat dengan dirinya. Aku menerima Tunangan ini meskipun dalam hati aku merasa tidak pantas bersamanya, dengan alasan aku ingin meminta maaf saja kepada dirinya, namun dia selalu saja menghindar dan enggan untuk melihatku" ujar sakura dengan nada sedih.
"Aku benar-benar orang yang buruk" lanjut Sakura merasa benar-benar bersalah selama ini.
"Haruno-san" Hinata tak mempercayai bahwa temannya akan berbicara sejauh itu hanya untuk dirinya.
"Tapi,… aku telah menemukan cinta yang lain ditempat ini, orang yang terlihat dingin dan kata-katanya begitu kasar, namun juga membantuku untuk bertindak dan menyadari kesalahan yang telah kuperbuat, oleh sebab itu aku ingin belajar mencintai seseorang dan melindunginya dengan caraku, aku harus bisa melupakan dirinya. Mulai saat ini" lanjut Sakura tersenyum hangat untuk menghilangkan rasa sedihnya.
"Itu tidak benar! akulah yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Haruno-san , tidak seharusnya aku ikut campur masalah kalian. a-aku…"
"Kurasa aku akan menolak permintaan maafmu itu kali ini Hyuuga-san!, kaulah yang membuat Naruto-kun berubah, dia mulai mempercayai orang-orang disekitarnya. Itulah yang kurasakan saat ini, kurasa orang yang cocok bersamanya adalah kau, jadi tolong jangan kecewakan harapanku ini"
"T-tapi…"
"I-itu,.. baiklah aku mengerti" pasrah Hinata menerima permintaan Sakura yang sudah terlihat memohon.
"Katajiginai, Hyuuga-san. Uhm, i-itu apakah kita bisa berteman m-mulai saat ini?"
"Tentu saja, mengapa tidak? Aku Hyuuga Hinata desu"
"Haruno Sakura desu, yorushikune, sebenarnya aku tak suka dengan nama belakangku itu, kurasa panggil nama saja itu lebih enak didengar, ahahah… i-itu jika kau tidak keberatan" ujarnya dengan santai.
"Kalau begitu kau boleh memanggil dengan panggilan namaku juga, Sakura-san"
"Aku mengerti, ayo pergi Hinata-san. Kita harus segera mencari Yuhi-sensei dan Sarutobi-sensei"
"Uhm…"
Sasuke POV
Kedua orang itu terlihat sama kelelahan baik Sasuke maupun Sasori yang belum terbiasa menggunakan Nen dalam waktu lama dan pengendalian stamina diantara mereka.
"Ada apa, kau sudah menyerah?"
"Sayangnya aku bukan tipe orang yang akan mengalah kepada orang sepertimu!"
HAAA!
teriak mereka berdua memberikan pukulan untuk saling menumbangkan musuh. Pukulan Sasuke ditahan oleh boneka manusia milik Sasori dengan mudah. Tanpa melewatkan itu. Kini tendangan kearah dari kanannya yang mengenai perut musuh menyebabkan dirinya terlempar beberapa meter.
"Aku akan segera menghabisimu! A-apa yang terjadi tubuhku…" kini tubuh Sasuke tak bisa digerakan, seperti ada yang mengendalikannya.
"Sasuke perlu kau tahu aku ini pengguna tipe Nen Shousha, seharusnya kau segera bunuh aku dengan segera dengan kemampuan Henkamu, Ahahaha" seru Sasori tertawa penuh kemenangan.
"Aku sengaja menerima seranganmu berulang kali untuk melepaskan kemampuanku dan mengenaimu, tanpa kau sadari. Akan ku gunakan kau untuk membunuh Uzumaki Naruto" lanjut Sasori berkata, sedangkan Sasuke sudah gagal untuk membantu Naruto.
"Brengsek kau!" geram Sasuke.
Naruto POV
DUAAR… DUAAR…. DUAAR…
sebuah ledakan telah terjadi dekat halaman sekolahnya yang terbakar menjadi seperti lautan api.
"Sial, dia lawan yang sangat merepotkan. Dia bersembunyi dan mengendalikan bayangan tanah litany dari kejauhan. Pertarungan ini tidak cocok denganku. Aku harus memaksa dirinya keluar, jika tidak aku bisa mati" batin Naruto berpikir keras mencoba menemukan musuhnya yang asli.
"Gyo!"Naruto segera mencari lokasi musuh dengan seksama dan cepat, menghindari setiap ledakan yang dibuat oleh Deidara. Beberapa saat mencari akhirnya ketemu diarah jam tiga didalam hutan belakang sekolah
"Ketemu, tak akan kubiarkan kau lolos kali ini!" Naruto dengan cepat menambah kecepatan larinya hingga seperti kilat yang terlihat.
"Dia mengetahui posisiku, namun kaulah yang akan mati!" senyum dingin terlihat pada wajah Deidara yang ternyata sudah memasang jebakan untuk Naruto.
BLUM!
Tanah yang diinjak Naruto menyusut kedalam dan ledakan pun terjadi.
"G-gawat!"
"Hancurlah!"
BOOM… DUAAAR… DUAAAR…. DUAAAR…
Kepulan asap dan kobaran api hampir melahap seisi area pertarungan Deidara. Deidara pun keluar dari persembunyiaanya dan melihat kearah ledakan yang ada dihadapannya.
"Aku menang!" gumamnya dengan nada santai.
"Kau berpikir sudah menang ya? maniak lilin" gumam seseorang dibelakang Deidara, pria surai panjang itu tak menyadari kehadiran Naruto yang sudah berada dibelakangnya.
"Tak kusangka, dia mampu menggunakan In dengan tenang dalam keadaan terdesak seperti itu!"
Ryu-ken! Naruto mengisi kekuatan pada tangan kanannya. Sebuah kekuatan terbentuk pada satu titik dari hasil Ten dan Ren menjadi satu. Mengarahkan kemusuh.
UGH!
"A-aku berhasil!" posisi Naruto benar-benar sudah sangat berantakan saat ini, staminanya sudah mulai berkurang drastis, namun yang menjadi masalah diterimanya adalah luka bakar hebat yang berhasil membuat kaki pria itu terasa perih dan sakit saat ini.
"B-bocah kau hebat juga, t-tak kusangka kau bisa melakukan hal yang gila seperti"
"Akan kuselesaikan kau dan kubantu Sasuke…"
UGH!
Naruto terlempar cukup jauh kebelakang, diakibatkan serangan musuh yang terduga. Perutnya merasakan sakit dari kehadiran musuh, matanya membelalak tak percaya bahwa yang menyerangnya adalah temannya sendiri bersama dengan Sasori.
"Sasuke, mengapa kau menyerangku?" tanpa peringatan apapun Naruto berusaha menghindari serangan temannya, walaupun beberapa kali terkena serangan Sasuke.
"Ada yang aneh, dengan gerakannya!"
"Gyo" tebakan Naruto membawakan hasil, terlihat sebuah benang yang mengendalikannya.
"Benang!"
"Tepat sekali, aku sudah berhasil mengendalikan tubuh Sasuke, kini dia adalah bonekaku. Nah, Sasuke ayo kita bunuh Uzumaki Naruto.
Sasuke hanya menatap sendu Naruto, menyesal karena dikendalikan oleh musuh. Matanya menyiratkan untuk memohon untuk membunuhnya. Mengambil sebuah pedang yang Sasori berikan dan mengendalikannya untuk membunuh Naruto.
"Kerja bagus, Sasori. Ayo habisi dia sekarang!" seru Deidara dengan senyum dingin.
"M-menghindar, N-naruto!" mohon Sasuke yang tak mampu mengerakan tubuhnya.
Keadaan Naruto semakin parah dan sudah tak mampu bergerak kembali untuk menghindari serangan musuh, bukan tak mau bergerak. Namun kondisi fisiknya sudah sangat berantakkan, ditambah luka bakar pada kakinya yang sudah menyerangnya hampir 70%.
"Sial, apa aku harus mati disini!" umpat Naruto sudah tak mampu bergerak kembali.
"Suman katta, Otousan, Okaasan, Hinata. Aku tak mampu menepati janjiku" batin Naruto menunduk pasrah menerima kematiannya. Katup matanya menutup menandakan dia sudah siap menerima keadaannya kali ini.
JLEEEB!
Darah segar berhasil membercak mengenai wajah Naruto, tak merasakan sakit sama sekali, kini matanya tak mempercayai bahwa ada orang lain yang menolong. Seseorang yang dia kenal kini meringgis kesakitan menahan mata belah pedang tajam yang bersarang pada perutnya.
"K-kurenai-sensei!, m-mengapa kau melindungiku?"
"A-aku tak bisa membiarkanmu mati, N-naruto-kun. T-tetaplah hidup dan bertahanlah!" Kurenai yang sudah tak mampu berdiri kini, terjatuh ketanah dengan menahan rasa sakit yang dialaminya saat ini.
"Sensei!"
Kedatangan kedua siswi SMA Tokyo yang berada disitu. Membuat mereka berdua tak mempercayai pemandangan mengerikan yang dialami mereka berempat saat ini. baik Sakura dan Hinata hanya bisa terlihat pucat dan sedih.
"T-tidak mungkin, Y-yuhi-sensei" Hinata tak mampu berkata apapun, tangannya hanya bisa menutup mulutnya yang tak mempercayai kejadian ini.
"Hinata-san, k-kau tidak apa-apa?"
Sasuke kini mengambil pedang dari tubuh kurenai yang sebelumnya menancap disana. kini pedang itu terarah keleher Naruto. senyum kemenangan tersungging dari mereka berdua.
"Lakukan Sasori!" perintah Deidara tanpa ada rasa iba terhadap Naruto sama sekali.
"Aku tau-…"
BUAKH!
Kini sasori terkapar mendapati, seseorang datang. Pria paruh baya berumur sekitar 50 tahun hadir dihadapan mereka.
"Sarutobi-Taijou" Sakura terkejut akan kedatangannya.
"S-sepertinya kedatanganku terlambat!" sesalnya melihat kejadian naas, yang menimpa Kurenai, Naruto dan Sasuke.
"Akan kubunuh kalian berdua!" teriak Naruto yang berlari dengan cepat hingga Deidara merasakan kekuatan aneh yang luar biasa. Ren dalam tubuhnya meluap dengan sangat besarnya.
BUAKH!
Serangan Naruto berhasil mendarat pada wajah Deidara yang merintih kesakitan disana.
"Ren yang luar biasa" Hiruzen yang menyaksikan dibuat terdiam akan kedahsyatan.
"Naruto-kun, k-kekuatan apa ini? sangat berbeda jauh dari sebelumnya" Kini Sakura mulai merasakan ketakutan.
"A-apa ini Rennya tidak normal, d-dia benar-benar kuat dari sebelumnya"
"Sasori, kita mundur. Kalau seperti ini kita bisa terbunuh olehnya!" ujar Deidara khawatir dan panik, melihat reaksi Naruto yang berbeda.
"Baiklah… huh?"
KUH!
Naruto kini sudah berada didepan mereka berdua. Tangan kanannya dengan cepat berhasil melukai Deidara.
CRASH!
Darah segar kini membasahi sebagian pergelangan tangan Naruto. kini matanya terarah ke Sasori yang masih terdiam panik.
"K-kau benar-benar monster!" Deidara pun mati ditempat.
"Sekarang, giliranmu!" ancamnya melepaskan tangannya dari tubuh Deidara yang sudah terkapar ditanah. Pandangan dingin dan menusuk kearah Sasori saat ini.
"Keparat, ku bunuh kau…!" teriak Sasori masih mengendalikan Sasuke yang tak mampu berbuat apapun.
AGHH!
Sasori terhempas cukup jauh dari lokasinya saat ini. begitupun dengan Sasuke yang sudah tak sadarkan diri. Naruto menyerang dan sekaligus melepaskan temannya dari cengkaraman musuh. Kini dirinya mendatangi Sasori kembali.
"D-dia sangat kuat dari sebelumnya… kuh!" Naruto sudah berada dihadapan Sasori dan mencekiknya tanpa belas kasihan. Kemarahan dan kebencian bercampur menjadi satu saat ini dalam mata yang terlihat dingin
"Dimana Ayah dan Ibuku sekarang!?"
"Ha… ha… ha… kami tak akan memberikannya kepadamu. mati saja kau breng-…"
CRASH!
Leher Sasori pun putus seketika. Darah segar membasahi telapak tangan kanannya. Kini dirinya tersadar akan panggilan histeris dari seseorang yang dikenalnya. Mata biru saphirenya menatap wajah gadis surai indigo yang dia kenal.
"S-sensei… Sensei… k-kumohon bertahanlah. Jangan tinggalkan kami…" teriak Hinata dalam isakan tangis
"Yuhi-kun, bertahanlah. Kami akan panggilkan ambulan segera" kata Hiruzen dengan nada khawatir.
Mata wanita itu terlihat sendu menyaksikan beberapa orang yang dikenalnya berada disitu. Tersenyum kecut dan pandangannya teralihkan kepada sosok pemuda surai kuning yang mendatangi dirinya. Sakura yang masih berusaha mengobati Kurenai. Terkejut mendapati melihat Naruto yang memandang wanita itu tanpa arti.
"Sakura, bantu aku!" ujar Naruto tak mempedulikan siapapun yang berada disekitarnya.
"A-aku mengerti!" Kini Naruto mengalirkan Shu kedalam tubuh Kurenai untuk menutup luka-luka dalamnya. Beberapa menit berlalu kini. Luka yang diterima gurunya mulai sembuh kondisi Kurenai yang pada saat itu melemah kini mulai tak sadarkan diri.
"Energi kehidupan yang luar biasa" kagum Hiruzen tak menyangka Naruto mampu menggunakan Nen seperti ini.
BRUUUK!
Naruto pun sudah tak sadarkan diri karena pingsan, kehabisan energi kehidupannya.
"Na-naruto-kun, kau tidak apa-apa?" ucap hinata yang panik dan mengerak-gerakkan Naruto berulang kali.
"Tenanglah Hinata-san, Naruto-kun hanya pingsan akibat kelelahan"sahut sakura menenangkan Hinata.
"B-Benarkah itu sakura-san.?"Tanya hinata memastikan, dirinya hanya mengangguk membenarkan ucapannya.
"Benar sekali Hinata dia hanya kelelahan. Sekarang lebih baik kita bawa Uzumaki,Uchiha dan Yuhi-kun kerumah sakit dulu, untuk penanganan medis"ujar Hiruzen menelpon ambulan untuk segera membawa mereka bertiga kerumah sakit.
"Baik, Saratobi–sama"jawab hinata dan sakura bersama.
Kota yang sebelumnya kacau dan penuh ketakutan, seketika menghilang dengan cepatnya, suara kerusakan yang disebabkan oleh buronan Akatsuki menghilang seakan tidak terjadi apa-apa pada kota Tokyo saat ini, disebuah taman yang sepi seluruh anggota buronan rank-A itu berkumpul.
"Bagaimana?!" tanya pimpinan bersurai orange itu yang merupakan ketuanya.
"Kami belum bisa menemukan target, karena halangan dari para Asosiasi Hunter!" ujar zetsu berkata.
"Ditambah Uzumaki Naruto, berhasil membunuh Deidara" lanjut Zetsu berbicara, semua orang yang mendengarkan pernyataannya terkejut.
"Lalu kondisinya?"
"Dia terluka parah. Deidara melukainya cukup parah!"
"Baiklah, kita targetkan penangkapan kepada Uzumaki Naruto sekarang!" ujar pimpinan mulai bergerak menuju lokasi Naruto berada.
Perjalanan menuju rumah sakit dari Sekolah, cukup menyulitkan tim medis tiba dilokasi sebelumnya. beberapa bangunan hancur berserakan ditengah jalan. Beberapa orang ada yang mengalami luka serius dan membutuhkan penanganan medis segera. 3 mobil ambulan yang seharusnya menuju rumah sakit dan 1 mobil van sedan hitam yang berada dibelakangnya. Harus berhenti secara tiba-tiba.
CKIIIT!
Suara ban yang mengerem aspal secara tiba-tiba hampir membuat mereka mengalami kecelakaan. Semua kendaraan terhenti, ditemui orang yang tidak diharapkan oleh mereka semua. Akatsuki kini berada didepan mereka menghadang setiap mobil yang berisikan orang yang mereka cari.
"A-apa yang kalian lakukan-…."
"Waaa…."
"Tolong-…"
Dalam hitungan detik saja semua petugas ambulan tewas seketika dibunuh oleh beberapa orang yang memiliki kemampuan khusus. Hiruzen, Sakura dan Hinata yang melihat mereka membunuh manusia dengan mudah. Membuat pikiran mereka bertiga khawatir.
"A-Akatsuki kah?" gumam Hiruzen khawatir dan mengaktifkan Nennya beserta media senjatanya berupa tongkat hitam besar dengan ujung emas disetiap sisinya.
"Berikan Uzumaki Naruto!"
"Kami tidak akan memberikannya kepada kalian-…"
"Sakura, tenanglah!"
"Apa tujuan kalian sebenarnya?"
"Itu tidak penting kalian tahu, serahkan Uzumaki Naruto atau kalian mati!" ancam Yahiko menyuruh semua rekannya bersiap.
"Jika aku menolak!"
"Kau seharusnya sudah tahukan!"
"Aku tak akan mampu melawan mereka semua, bertarung dan melindungi itu sangatlah sulit! Apa yang harus aku lakukan?" pikir Hiruzen mencari akal untuk melawan Akatsuki.
"Jangan bunuh mereka berdua, bawalah aku sebagai tahanan kalian!" Semua iris mereka kini menatap Hinata, Hiruzen dan Sakura yang mendengarkan perkataannya tak percaya.
"Apa yang kau katakan Hyuuga-san, kau tidak mengerti ya mereka ini-…"
"Hinata-san, kau pasti bercandakan-… huh, iyakan-"
"Aku tahu!" sela Hinata dengan nada masih serius.
"Sejak awal yang mereka cari adalah aku! Aku bisa mengerti mengapa Naruto-kun dan Sasuke-kun menyuruhku pergi untuk tak membantu mereka. Karena mereka mencoba melindungiku dan sekarang giliranku untuk melindungi orang yang kusayangi!" ujar Hinata tetap tenang dan serius memandang Akatsuki dengan iris marah.
"Lagipula, anda tak perlu memaksakan diri untuk bertarung Hiruzen-sama. Aku tahu anda terlihat ragu dan khawatir saat ini, itulah sebabnya sekarang aku akan menolong kalian!" Hinata sudah berdiri dihadapan depan Sakura dan Hiruzen.
"Hinata-san"
"Aku akan ikut dengan kalian, dengan syarat tak boleh menyakiti mereka berdua dan orang yang terluka!" Yahiko yang melihat keseriusan Hinata.
"Pimpinan, maaf jika aku menyela, memang jika kita mendapatkan Uzumaki Naruto. maka Conan-san bisa hidup kembali tanpa perlu mencari manusia yang terhitung 30 orang, namun aku tak menjamin jika patung pemberi kehidupan akan bekerja dengan baik 100%, dengan kata lain jika wadah Conan-san tidak diberikan sesuai dengan energi kehidupan yang tepat. Maka akan terjadi kontradiksi yang bisa saja tidak membangkitkan Conan-san kembali. lagipula akiu belum bisa menyempurnakan eksperimen ini. resikonya terlalu tinggi" ujar Orochimaru, Yahiko yang memahami itu mengangguk mengerti dan menerima persyaratan Hinata.
"Kita berpisah disini, Hiruzen-sama, Sakura-san, sampai jumpa" ucapnya dengan nada lirih meskipun senyum palsu terukir diwajahnya, tetap ini membuat sakura tak terima.
TAK!
Tangan Sakura bergerak untuk menghentikannya, iris kesedihan terlihat dari wajahnya. Mata emerald hijau itu terlihat sendu dan mencoba menahan temannya.
"H-Hinata-san"
"Tenang saja, Sakura-san. Aku tidak akan mati dengan mudah" ujarnya melepaskan tangan Sakura dan sudah berjalan kesisi musuh. "Habisi mereka berdua!" ujar Yahiko memberikan intruksi. Sakura dan Hiruzen yang tak menyadari ada sebuah monster hitam bertopeng dibuat terdiam yang berada disamping sisi kiri dan kanan.
BOOM!
Ledakan besar terjadi disitu. Hinata yang mempercayai pernyataan Yahiko mencoba melawan, namun kekuatannya tak sebanding dengan para Akatsuki.
"Sarutobi-sama, Sakura-san!" teriak Hinata mencoba meronta melawan namun mereka semua beserta dirinya menghilang dengan cepat menjauhi lokasi orang yang mereka bunuh. Kepulan asap itu menghanguskan jalanan dan menciptakan puing-puing kerusakan.
"Kau baik-baik saja Sakura?" Hiruzen tak mendapatkan jawaban dari muridnya. Terlihat aura Nen yang membungkus melindungi dirinya.
"Syukurlah kami sempat menggunakan Ken tepat waktu jika tidak!"
Tubuh tiga orang itu sudah terselamatkan dari ledakan besar yang disiapkan musuh. Menidurkannya ketanah secara perlahan. Isakan kecil terdengar dari murid siswi itu yang tak mampu melakukan apapun untuk melindungi temannya.
"Hinata bodoh! Mengapa kau harus ikut dengan mereka. Sial… sial!" umpat Sakura yang tak mampu berbuat apapun untuk menolong Hinata. Hiruzen yang berada disampingnya hanya bisa terdiam menyesal sama seperti Sakura karena tidak mampu menghadapi musuh.
To be continue…
