'You Should be Mine, Sasuke-kun'

Disclaimer: Masashi Kishimoto Sensei

Haruno Sakura x Uchiha Sasuke

Rate: M

Warning: AU, typo, cerita gaje, missing word, OOC dll.

Summary: 'Hah~... Sebutkan apapun keinginanmu kali ini agar kau tidak marah lagi kepadaku, Sakura?/Aku ingin kau menjadi kekasihku selama dua minggu keberadaanmu disini/Kau gila?! Jangan bercanda Sakura! Kau bahkan tahu jika aku sudah memiliki seorang kekasih! Kenapa tiba-tiba kau meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu, Huh?!"/

Author by: Hikaru Sora 14

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read

Pemuda berhelaian dark blue itu tampak berjalan tenang menyusuri sebuah lorong menuju ke arah sebuah kamar di kediaman Haruno. Kedua tangan kekarnya tampak menyangga sebuah kue tart ulang tahun yang begitu cantik bernuansa musim semi, khas gadis yang menjadi fokusnya saat ini.

Pendar cahaya lilin yang turut melengkapi kesempurnaan kue ulang tahun itu, semakin memperjelas adanya lengkungan tipis yang tercipta pada wajah rupawan sang bungsu Uchiha. Sungguh ia merasa tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada sahabat merah mudanya, yang menurut Haruno Mebuki masih betah bergelung dalam selimut tebalnya.

Salah satu tangannya meraih kenop pintu kamar putri tunggal Haruno tersebut dan membukanya dengan mudah karena memang sang empunya tak pernah mengunci kamar pribadinya, itulah yang sebelumnya dikatakan oleh Ibu Sakura.

Suasana di kamar itu tampak begitu redup karena tirai jendela yang belum tersingkap dari tempatnya. Hanya bermodalkan cahaya dari lampu tidur yang terpasang di atas meja kecil tepat di samping ranjang sang gadis musim semi.

Kekehan pelan menguar dari bibir tegasnya tatkala mendapati sebuah gulungan besar berwarna merah muda di atas ranjang queen size di hadapannya. Sasuke tak habis pikir, kenapa Sakura kuat mengubur seluruh tubuhnya dalam balutan selimut tebal seperti ini.

Padahal jika dipikir-pikir bukankah hal tersebut akan membuat kita merasa tidak nyaman dan pengap, karena kurangnya cadangan udara yang masuk ke dalam paru-paru. Ah, entahlah. Mungkin setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-beda akan kenyamanan yang dirasakannya.

"Hei, Hikui bangun!" Seru Sasuke dengan suara yang sengaja ia tinggikan, berharap sahabat masa kecilnya itu dapat mendengar suaranya.

Hening. Tidak ada respon sama sekali dari gadis yang terkenal akan sifat manjanya tersebut. Oke, ini tidak berhasil!

Sasuke pun akhirnya menyingkapkan selimut tebal yang tengah dikenakan oleh Sakura, membuat gadis berhelaian merah muda itu menggigil kedinginan karena pakaian tidur yang ia kenakan begitu minim dan tipis.

Semburat merah tipis tampak menghiasi kedua pipi sang bungsu Uchiha, tatkala mendapati penampilan sahabatnya tersebut. Rupanya Sakura benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan menawan. Tidak salah lagi, jika gadis itu pasti selalu menjadi pusat perhatian bagi para kaum pria.

Memikirkan hal tersebut, entah mengapa Sasuke merasa jijik membayangkan jika pria-pria di luar sana melayangkan tatapan nakal kepada Sakura-nya. Hei, bolehkah jika ia memanggilnya seperti itu?

Ya, tentu saja boleh. Karena menurut Sasuke, Sakura merupakan satu-satunya sahabat perempuan yang ia miliki, baik dulu maupun sekarang. Hm, Apa kau yakin jika ia hanya kau anggap sebagai sahabatmu saja eh, Sasuke?

Oke, kembali pada tujuan semula untuk membangunkan gadis bubble gum yang masih setia berbaring di ranjangnya.

"Tsk, Sakura! Apa seperti ini cara penyambutanmu terhadapku setelah kita lama tidak bertemu, eh?" Suara baritone milik Sasuke kembali menguar dengan nada yang lebih tinggi. Hal tersebut rupanya berhasil mengusik indera pendengaran sang gadis musim semi tersebut.

Berusaha membuka kedua matanya yang terasa begitu berat, samar-samar Sakura dapat melihat sosok tinggi tegap yang berdiri di sebelah ranjangnya. Sakura menyipitkan kedua matanya guna meneliti lebih jelas wajah sang pelaku yang dengan sangat berani mengganggu aktivitas tidurnya pagi ini.

"Kau siapa, eh? Kenapa kau ada di kamarku?" Tanya Sakura dengan suara serak khas bangun tidur, masih belum menyadari jika sosok itu adalah Sasuke, sahabat masa kecilnya yang ia cintai.

"Tsk, Cepat bangun Nona manja!" Seru Sasuke tak sabaran seraya menarik tangan Sakura untuk bangun.

Sakura pun dengan malas-malasan menuruti perkataan pemuda yang masih belum ia kenali dengan begitu jelas tersebut. Sasuke spontan menyentil keras dahi lebar Sakura, membuat sang gadis Haruno itu berteriak kesakitan.

"Hei, Apa yang kau ..." Kedua emerald-nya terbelalak kaget menyadari sosok Uchiha Sasuke di hadapannya.

"Hn. Aku kembali, Sakura," Sasuke menyeringai tipis mendapati ekspresi terkejut Sakura.

"Sa-Sasuke-kunnnnnnn~..." Seru Sakura antusias dengan kedua matanya yang tampak berkaca-kaca. Tubuhnya secara otomatis bersiap untuk merengkuh tubuh pemuda yang begitu dirindukannya tersebut.

"Eits, Tahan Nona! Kau bisa menghancurkan kue yang tengah aku bawa jika melakukan hal itu," cegah Sasuke, menahan keinginan sang gadis musim semi tersebut untuk memeluknya.

Sakura berdecak sebal mendengar perkataan Sasuke, namun di sisi lain ia juga merasa senang karena kedatangan pemuda itu yang sama sekali diluar dugaannya.

Datang membangunkannya seraya membawa kue ulang tahun, meskipun hari ulang tahunnya telah dua hari berlalu. Hal ini sungguh terasa begitu romantis bagi Sakura, yang baru pertama kali mengalami hal seperti ini.

Sasuke menyodorkan kue tersebut ke hadapan Sakura. Spontan Sakura memejamkan kembali kedua matanya guna mengucapkan sebuah permohonan kepada sang pencipta.

'Kami-sama, aku ingin agar Sasuke-kun segera menyadari perasaanku kepadanya selama ini. Aku ingin agar dia mencintaiku seperti aku yang mencintainya sejak dulu, dan aku ingin agar dia hanya menjadi milikku saat ini sampai selamanya.'

Sakura meniup lilin angka tujuh belas itu dengan begitu antusias. Sebuah senyuman manis tampak mempercantik wajah mulusnya. Sementara itu, Sasuke tampak mengukir sebuah seringaian jahil pada wajah rupawannya.

Diarahkannya kue yang telah terbebas dari lilin tersebut pada wajah Sakura, dan krim-krim kue itu seketika sukses menghancurkan wajah cantik Sakura.

"Ugh~... Apa yang kau lakukan, Sasuke-kun?!" Maki Sakura kesal kepada Sasuke seraya menggembungkan kedua pipi chubby-nya yang tampak begitu menggemaskan karena terlapisi oleh krim-krim kue.

"Tentu saja melakukan tradisi ulang tahun, Sakura. Memangnya apa lagi, eh?" Ucap Sasuke seraya mengendikkan bahunya acuh, tak terpengaruh akan sikap kesal sahabat merah mudanya tersebut.

Sakura memutar kedua bola mata hijaunya sebal, rupanya sifat jahil Sasuke sama sekali tidak berubah, pikir Sakura sweatdrop.

"Huh, Ini sama sekali tidak lucu, Sasuke-kun!" Gerutu Sakura sinis seraya mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya yang masih tertutupi oleh tirai. Gadis itu sama sekali tak berniat untuk membersihkan krim-krim kue yang mengotori wajahnya.

"Hei, Kau marah, eh?" Tanya Sasuke yang merasakan aura buruk menguar di sekitar gadis musim semi tersebut.

"..."

"Tsk, Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu, Sakura!" Kesal Sasuke karena Sakura mengabaikannya.

"..."

"Baiklah, Aku minta maaf, oke?!"

"..."

Sasuke berdecak kesal seraya mengusap surai dark blue-nya kasar. Lagi-lagi Sakura menghiraukannya. 'Tsk, Rupanya sifat keras kepalanya saat merajuk tidak pernah berubah, eh?' Keluh Sasuke di dalam hati.

Sasuke menghela napas pasrah, hanya ada satu cara yang bisa ia lakukan untuk membujuk Sakura agar gadis manja itu tidak marah lagi kepadanya.

"Hah~... Sebutkan apapun keinginanmu kali ini agar kau tidak marah lagi kepadaku, Sakura?" Tanya Sasuke dengan berat hati. Lagipula menurut Sasuke, perbuatannya tadi bukanlah suatu kesalahan fatal yang mesti dibesar-besarkan seperti ini.

Bukankah wajar saja jika kau ingin mengerjai sahabat terbaikmu saat mereka berulang tahun? Bukankah itu juga merupakan wujud dari kepeduliannya dan juga ikatan persahabatan yang begitu erat diantara mereka, Ne?

Hah~... Sasuke lupa bahwa sosok yang ia hadapi adalah seorang gadis bernama Haruno Sakura dengan tingkat kemanjaan yang luar biasa tinggi, dimana setiap keinginannya adalah mutlak untuk dipenuhi. Gadis yang selalu membesar-besarkan hal kecil yang tidak terlalu penting sebenarnya, namun Sasuke harus selalu mengalah dalam menghadapinya.

Seringaian kepuasan tampak tercetak pada bibir peach milik Sakura. 'Kena kau, Sasuke-kun!'

"Kau serius?!" Sakura sedikit melirik Sasuke melalui ujung mata indahnya.

"Hn," gumam Sasuke malas-malasan.

"Apapun itu, eh?" Tanya Sakura lagi meyakinkan dengan begitu antusias. Tampak kedua bola matanya berbinar penuh arti, membuat sang bungsu Uchiha tersebut merasakan sebuah firasat buruk.

"Tsk, Jangan banyak bertanya dan sebutkan saja keingin-..."

"Aku ingin kau menjadi kekasihku selama dua minggu keberadaanmu disini!" Sela Sakura cepat, memotong perkataan Sasuke. Ya, sebelumnya Sasuke memang mengatakan kepada Sakura bahwa ia akan tinggal di Tokyo selama dua minggu. Namun, pemuda itu tidak benar-benar memberitahu kapan tepatnya ia akan kembali ke Tokyo.

"Apa?!" Tanya Sasuke merasa terkejut atas apa yang telah Sakura katakan.

"Sasuke-kun, kau mendengar ucapanku!" Sakura memutar manik hijaunya jengah.

"Kau gila?! Jangan bercanda Sakura! Kau bahkan tahu jika aku sudah memiliki seorang kekasih! Kenapa tiba-tiba kau meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu, Huh?!" Ucap Sasuke gusar, merasa tidak nyaman atas permintaan yang diajukan oleh Sakura.

Sakura sudah memperkirakan jika Sasuke akan bereaksi seperti ini. Menolak permintaannya! Namun, tetap saja hatinya terasa kebas saat mendengarnya secara langsung dari mulut orang yang ia cintai tersebut.

"Ya sudah kalau kau tidak mau, Sasuke-kun. Aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu pergilah, kau tidak perlu lagi menemuiku," ucap Sakura datar seraya mengibas-ngibaskan jari-jari mungilnya ke arah Sasuke, seolah tengah mengusir sang bungsu Uchiha tersebut dari kamar pribadinya.

Sasuke menggeram kesal karena sikap Sakura tersebut. Berusaha menekan emosinya agar tak meledak, Sasuke mencoba untuk berbicara baik-baik kepada Sakura.

"Kita berdua sudah bersahabat sejak kecil dan aku sudah merasa nyaman dengan hal ini, Sakura. Terlebih lagi, sekarang aku juga sudah mempunyai kekasih. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk merusak hubungan yang telah terjalin dengan siapapun saat ini," sekilas Sasuke dapat menangkap raut sendu pada wajah Sakura yang masih terlapisi oleh krim kue, namun dengan cepat gadis musim semi itu kembali memasang wajah datarnya.

"Terserah! Aku sama sekali tidak memintamu untuk memberikan sebuah alasan untuk menolakku, Sasuke-kun! Pergilah!" Ucap Sakura acuh, kembali mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke.

"Kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu, Sakura?" Tanya Sasuke penasaran, masih belum menyerah untuk meredakan emosi Sakura yang benar-benar membuatnya jengkel.

"Tentu saja karena aku ingin mencoba rasanya memiliki seorang kekasih, Sasuke-kun! Teman-temanku yang lain telah memiliki pasangannya sendiri, sementara aku hanya bisa iri melihat kebahagiaan dan kebersamaan mereka," ujar Sakura lirih seraya menundukkan kepalanya, menatap sendu selimut tebal bercorak bunga sakura miliknya.

Sakura tidak mengatakan alasan yang sebenarnya bahwa ia menyukai, menyayangi dan mencintai Sasuke lebih dari sekedar hubungan persahabatan.

Selama ini ia selalu menolak pemuda-pemuda tampan yang menyatakan cinta kepadanya, hanya demi menunggu Sasuke kembali dan memberitahu pemuda itu akan perasaan cintanya yang telah tertanam sejak dulu. Namun, semua impiannya hancur seketika karena kehadiran gadis bersurai merah maroon dalam kehidupan Sasuke saat ini.

"Tapi kenapa harus aku, Sakura?! Kau bisa memilih seorang pria baik-baik untuk kau jadikan kekasihmu, bukan? Kau itu gadis yang sangat cantik, Sakura. Aku yakin jika banyak pemuda yang tertarik padamu, Ne?" Sekilas Sasuke merasakan ketidaknyamanan dalam ucapannya sendiri.

"Sudahlah Sasuke-kun! Lebih baik kau pergi saja!" Sakura menghela napasnya lelah seraya beranjak dari ranjangnya, mengabaikan Sasuke yang tengah memandang penuh tanya ke arahnya.

Sakura hendak masuk ke dalam kamar mandi, namun tangannya telah terlebih dahulu tertahan oleh tangan Sasuke.

"Ada apa lagi?" Tanya Sakura seraya membalikkan tubuhnya malas menghadap Sasuke.

"Hanya dua minggu 'kan?" Sasuke tampak ragu saat mengatakannya.

"Hm."

"Kau tahu, aku benar-benar tidak suka jika kau bersikap acuh padaku seperti ini, Sakura! Oleh karena itu, aku akan menuruti keinginan gilamu ini!" Ucap Sasuke mengutarakan keputusannya dengan pasrah.

"Wahhhh~... Terima kasih, Sasuke-kun," mood Sakura seketika berubah menjadi lebih baik, membuat sang pemuda raven tersebut sweatdrop karenanya.

"Hei, Asalkan kau berjanji satu hal padaku!"

"Apa itu?"

"Jangan sampai ada orang lain yang tahu mengenai hubungan kita, terutama Karin. Aku sama sekali tidak ingin membuatnya bersedih karena aku berselingkuh dibelakangnya," Sakura tampak mengepalkan kedua tangannya pada kedua sisi tubuhnya, berusaha meredam rasa sesak yang mendera hatinya tatkala pemuda yang dicintainya begitu mempedulikan kekasihnya, Uzumaki Karin.

Lagi, Sakura berusaha untuk mengubah ekspresi wajahnya. Sebuah senyuman lebar sarat akan kebahagiaan dan kepuasan terukir di wajah manisnya. Ya, tunggu saja! Dalam waktu dua minggu ini, Sakura akan menaklukan hati Sasuke dan membuatnya berpaling dari gadis berkacamata itu.

"Baiklah! Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Sasuke-kun! Di mata mereka, kedekatan kita hanya akan terlihat sebagai kedekatan diantara seorang sahabat saja," ucap Sakura berusaha meyakinkan Sasuke.

"Hn."

"Kalau begitu hari ini kita kencan yah, Sasuke-kun! Aku ingin sekali ber-hanami di Ueno Park, lalu menghabiskan waktu sepuasnya bermain di Disneyland. Dan malamnya kita akan makan malam di res-..."

"He-Hei! Kau benar-benar sama sekali tidak membiarkan aku untuk beristirahat hari ini, eh? Bahkan aku baru tiba di Tokyo dini hari tadi, dan sekarang kau memintaku untuk menemanimu berjalan-jalan seharian ke tempat yang berbeda-beda, Huh?" Protes Sasuke merasa keberatan dengan keinginan sang gadis musim semi tersebut.

"Kencan, Sasuke-kun!" Koreksi Sakura atas perkataan Sasuke.

"Heh, Sama saja bodoh! Setidaknya biarkan hari ini aku beristirahat dulu, Ne?" Sasuke mencoba untuk membujuk Sakura agar memberinya waktu bersantai hari ini.

"Tapi ... bukankah jika kau menolaknya, waktu yang aku miliki sebagai kekasihmu akan berkurang, Ne?" Tanya Sakura menatap sendu ke arah sang bungsu Uchiha di hadapannya, membuat Sasuke tak berkutik karenanya.

"Hah~... Baiklah kalau begitu," Sasuke mendesah lelah, lagi-lagi dirinya tak dapat menolak keinginan sang gadis cherry tersebut. "Cepatlah mandi dan bersiap-siap! Aku akan menunggumu dibawah sambil sarapan pagi."

"Wahhh~... Terima kasih banyak Sasuke-kun!" Seru Sakura ceria seraya berjinjit dan tanpa ragu mengecup sekilas bibir tegas sang pemuda raven tersebut, meninggalkan krim-krim kue pada bibir Sasuke.

Sakura segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi seraya menyenandungkan sebuah lagu yang bernada ceria. Sementara itu Sasuke tampak tak berkutik di tempatnya, pikirannya seolah tengah mencerna apa yang baru saja terjadi.

Sakura ... Menciumnya, eh?

Pikirannya berkata bahwa hal yang dilakukan oleh Sakura ini adalah salah. Memang ia menerima status yang diajukan oleh Sakura sebagai kekasihnya selama dua minggu ini. Hanya saja apakah mereka juga akan melakukan skinship layaknya sepasang kekasih sungguhan, eh?

Bahkan selama dirinya berhubungan dengan Karin pun, mereka hanya pernah berciuman sebanyak dua kali dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi pula.

Hal itu dikarenakan karena sahabat Sasuke, Uzumaki Naruto, yang juga merupakan sepupu kekasihnya, bersikap sangat protektif terhadap Karin. Pemuda pirang itu bahkan tidak pernah absen di setiap acara kencan mereka, benar-benar pemuda kurang kerjaan menurut Sasuke.

Alih-alih merasa kesal karena Sakura yang tiba-tiba mencuri ciuman darinya, Sasuke justru merasakan sebuah desiran hangat pada tubuhnya. Entah kenapa jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan saat berciuman dengan Karin pun ia hanya merasa senang namun tidak benar-benar menimbulkan getaran pada hatinya. Sepertinya ada yang salah pada dirinya, pikir Sasuke.

Tanpa sadar, sang bungsu Uchiha itu menjilat bibirnya sendiri yang terlapisi krim kue karena ulah Sakura tadi. "Manis," gumamnya seraya mengukir lengkungan tipis pada wajah rupawannya.

-TBC-

Ano ... Maaf Hika baru bisa update fic ini lagi :( Hika sebenarnya bingung mau lanjut fic ini atau gak Hehe ... Tapi rasanya sayang juga klo dihapus Kkkkk~... #labilmodeon# Yah, semoga masih ada yang berminat untuk baca dan review fic ini XD #butuhasupansemangat#

Sebelumnya terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini ^^

Salam Hangat,

Hikaru Sora 14

Balasan Review

azizaanr: Hehe iyaa pastinya gak sad ending kok Aziza-san ^^ Oh, Sasuke tidak akan bersikap macam-macam kok sama Karin, karena Hika juga gak suka mengenai hal itu Kkkk~... ^^ Makasih yahh udha R&R ^^

Cherryma: Makasih banyak yah Cherryma-san udha R&R^^ Maaf baru bisa update lagi Hehe

undhott: Makasih udha R&R ^^ Maaf juga baru bisa dilanjut lagi fic-nya ^^

Guest: Hehe Maaf baru dilanjut lagi ^^ Makasih udha ngingetin Hika sebelumnya ^^ Makasih juga udha R&R ^^