Cerita sebelumnya :
"Aku akan ikut dengan kalian, dengan syarat tak boleh menyakiti mereka berdua dan orang yang terluka!" Yahiko yang melihat keseriusan Hinata.
"Pimpinan, maaf jika aku menyela, memang jika kita mendapatkan Uzumaki Naruto. maka Conan-san bisa hidup kembali tanpa perlu mencari manusia yang terhitung 30 orang, namun aku tak menjamin jika patung pemberi kehidupan akan bekerja dengan baik 100%, dengan kata lain jika wadah Conan-san tidak diberikan sesuai dengan energi kehidupan yang tepat. Maka akan terjadi kontradiksi yang bisa saja tidak membangkitkan Conan-san kembali. lagipula akiu belum bisa menyempurnakan eksperimen ini. resikonya terlalu tinggi" ujar Orochimaru, Yahiko yang memahami itu mengangguk mengerti dan menerima persyaratan Hinata.
"Kita berpisah disini, Hiruzen-sama, Sakura-san, sampai jumpa" ucapnya dengan nada lirih meskipun senyum palsu terukir diwajahnya, tetap ini membuat sakura tak terima.
TAK!
Tangan Sakura bergerak untuk menghentikannya, iris kesedihan terlihat dari wajahnya. Mata emerald hijau itu terlihat sendu dan mencoba menahan temannya.
"H-Hinata-san"
"Tenang saja, Sakura-san. Aku tidak akan mati dengan mudah" ujarnya melepaskan tangan Sakura dan sudah berjalan kesisi musuh. "Habisi mereka berdua!" ujar Yahiko memberikan intruksi. Sakura dan Hiruzen yang tak menyadari ada sebuah monster hitam bertopeng dibuat terdiam yang berada disamping sisi kiri dan kanan.
BOOM!
Ledakan besar terjadi disitu. Hinata yang mempercayai pernyataan Yahiko mencoba melawan, namun kekuatannya tak sebanding dengan para Akatsuki.
"Sarutobi-sama, Sakura-san!" teriak Hinata mencoba meronta melawan namun mereka semua beserta dirinya menghilang dengan cepat menjauhi lokasi orang yang mereka bunuh. Kepulan asap itu menghanguskan jalanan dan menciptakan puing-puing kerusakan.
"Kau baik-baik saja Sakura?" Hiruzen tak mendapatkan jawaban dari muridnya. Terlihat aura Nen yang membungkus melindungi dirinya.
"Syukurlah kami sempat menggunakan Ken tepat waktu jika tidak!"
Tubuh tiga orang itu sudah terselamatkan dari ledakan besar yang disiapkan musuh. Menidurkannya ketanah secara perlahan. Isakan kecil terdengar dari murid siswi itu yang tak mampu melakukan apapun untuk melindungi temannya.
"Hinata bodoh! Mengapa kau harus ikut dengan mereka. Sial… sial!" umpat Sakura yang tak mampu berbuat apapun untuk menolong Hinata. Hiruzen yang berada disampingnya hanya bisa terdiam menyesal sama seperti Sakura karena tidak mampu menghadapi musuh.
…
Masashi kishimoto
Naruto x Hinata dll
Rated : T
Genre : action, romance, slice of life, school. dll
Warning : OOC, ejaan tidak sesuai EYD, banyak kata-kata membingungkan, pengulangan dan salah.
Inspirasi : Saya pinjam dulu cerita hunter x hunternya Togashi-san.
Chapter 8 : Lubang X Hati X Penyesalan
Remake
…
Suasana pagi hari ini masih terlihat damai dan tenang. Aktivitas seluruh orang-orang sudah mulai berjalan kembali, walaupun ada beberapa sarana fasilitas umum yang masih dalam perbaikan. Karena kekacauan sebelumnya yang disebabkan oleh kelompok misterius yang dianggap berbahaya dan tidak berkemanusian.
Salah satu lokasi yang merupakan korban kekacauan para Akatsuki yang merupakan buronan Rank A itu membuat kondisi gadis remaja berusia 16 tahun itu meruntuk sedih dan sakit yang didapatnya. Bukan karena lukanya yang bersarang perban pada tubuhnya disekitar lengan kirinya. Melainkan masih menunggu beberapa orang yang berada diruangan pasien. Terduduk menyaksikan tiga orang itu masih tak sadarkan diri. Dokter yang berada diruangan itu. Meniti dan mengamati perkembangan kondisi pasien dengan teliti dan mengakhiri stetoskop yang dia gunakan sebelumnya untuk memeriksa.
"Sensei bagaimana kondisi mereka bertiga?" tanya Sakura dengan iris sedih didampingi Hiruzen disampingnya.
"Untuk saat ini kondisi mereka bisa dikatakan aman bagi Uchiha-san dan Yuhi-san, namun-…"
"Namun apa?"
"Uzumaki-san mengalami luka yang benar-benar parah. Luka bakar itu membuat beberapa bagian tulangnya mengalami keretakan dan patah. Kusarankan untuk tidak mengajak dirinya mengobrol atau melakukan aktivitas berat. Kalau begitu aku permisi" ujar dokter yang memeriksa mereka bertiga.
"Arigatou gozaimasu, sensei"
Mereka berdua pun terduduk kembali dibangku kamar pasien. Menunggu mereka bertiga sadar dari tidurnya. Kurenai mulai mengerjapkan matanya secara perlahan bersama Sasuke yang tidak jauh beberapa menit dari pingsannya. Mencoba menormalkan penglihatan mereka yang masih belum begitu jelas.
"Sarutobi Taijou, Yuhi-sensei sudah sadarkan diri"
"A-Apa yang sebenarnya terjadi? Sakura, Hiruzen-sama. Mengapa kalian ada disini-… lalu Akatsuki dimana-…"
"Tenanglah Yuhi-kun. Mereka sudah pergi"
"Begitu. Lalu Uchiha-san dan Naruto-kun dimana?"
"Disebelah sana!" Tunjuk Kurenai di hordeng yang didepannya.
"Aku sudah baik-baik saja. Sensei, Namun Naruto masih belum tak sadarkan diri" ucap seseorang menyadarkan mereka bertiga. Sasuke sudah sadarkan diri.
"Yokatta" gumam Hiruzen merasa lega. Karena mendapati kondisi muridnya baik-baik saja.
"Yuhi-kun, Aku mendapatkan pesan dari Asosiasi Hunter bahwa Ten Godfather akan mengadakan pertemuan 2 minggu lagi untuk memburu Akatsuki. Tak kusangka bahwa korbannya benar-benar tidak kuduga 1000 orang didalamnya masyarakat sipil dan militer dihabisi oleh mereka. Untuk saat ini sekolah aku liburkan untuk beberapa saat sampai keadaan kembali normal, apa kau bisa ikut denganku dalam pertemuan itu Yuhi-kun?" ujar Hiruzen mengajak Kurenai untuk ikut kepertemuan Asosiasi Hunter.
"Aku mengerti, aku akan ikut" Kurenai mengangguk mengerti dan akan ikut serta menemani Hiruzen.
"Ngomong-ngomong dimana Hyuuga-san, aku tak melihatnya?" tanya Kurenai angkat bicara tak melihat muridnya
Pertanyaan Kurenai membuat kedua orang itu langsung menegang dan bersedih dengan keadaan Hinata saat ini. entah apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Pikiran Sakura dan Hiruzen terus berkecamuk dan tidak tenang.
"Ada apa? mengapa Sarutobi-sama diam dan Haruno-san terlihat tegang?" kini Sasuke merasakan keganjilan kepada dua orang tersebut.
"Yuhi-kun, Uchiha-kun. Hyuuga-san dia… menyerahkan dirinya kepada Akatsuki!"
"A-Apa? Mengapa kalian berdua tidak menghentikan dirinya. Kalian mengetahuinya bukan Akatsuki adalah buronan yang sangat berbahaya dan-…"
"Sensei!"
"Sakura, biar aku saja yang menjelaskannya!"
"Aku tahu ini sulit diterima oleh kalian berdua, namun pada saat itu dia menyerahkan dirinya atas kemauan dirinya sendiri untuk melindungi kami dan kalian. Target yang dia incar sebelumnya adalah Naruto. namun kondisi tertentu entah apa yang mereka bicarakan pada saat itu memaksa Hyuuga-san menjadi target mereka. Kami benar-benar minta maaf tidak bisa menahan dirinya!"
Air mata mengalir membasahi wajah wanita berusia 30 tahunan. Kesedihan yang dia rasakan saat ini. karena gagal melindungi muridnya menjadi cambuk pada dirinya sendiri. Begitupun Sasuke yang ikut merasakan sedih karena merasa lemah tak bisa melindungi temannya. Baik Sakura dan Hiruzen hanya bisa menyesal karena tidak mampu berbuat apapun pada saat Akatsuki menyerang mereka.
…
HINATA POV
Gadis itu masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Matanya mulai mengerjapkan beberapa kali menyesuaikan penglihatan diruangan aneh yang berisikan penerangan lilin-lilin disetiap sudutnya. Dirinya yang terkejut segera membangunkan diri untuk berdiri. Sialnya kali ini tangannya terikat dibelakang punggung.
"Kau sudah sadar?"
Hinata yang menyadari suara baritone berat yang terdengar dingin dan tidak bersahabat itu menyadari satu hal. Dirinya kini menjadi tawanan musuh. Irisnya masih serius dan marah melihat ke tiga orang yang menangkapnya. Pria surai panjang yang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya sebelumnya. orang berkulit putih seperti salju. Dipimpin oleh ketua mereka bersurai spike orange yang memandang dingin dirinya saat ini dan satu lagi orang yang tidak disukainya, pria surai merah muda sepantaran Hinata hanya 1 tahun diatasnya yaitu Akatsuna Sasori.
"K-kalian pembohong dan melukai teman-temanku, aku tidak akan memaafkan kalian?!" ujar Hinata dengan nada tidak bersahabat.
"Orochimaru, Lakukan persiapan pengorbanan dirinya untuk Conan! Aku akan bicara dengan rubah kecil ini" Orochimaru menurut dan pergi meninggalkan kedua orang yang masih berada disana. ruangan tertentu yang sudah sangat berantakan dan tidak terawat. Menarik rambut gadis itu. sakit itulah yang dirasakan Hinata saat ini ringgisan dan pekik yang dia rasakan sekarang. Hanya memandang kesal dan marah pada pemimpin mereka.
"H-hentikan!"
"Kau wanita yang pemberani, pantas saja kau masih saja tetap angkuh dan tak merasa gentar saat bertemu denganku!" ujarnya, Yahiko pemimpin mereka segera berjalan keruangan yang lain, Sasori hanya menurut dan mengikuti ketua mereka. Menyeret gadis itu untuk bergerak.
"Mau dibawa kemana aku!?"
"Diam!" ancaman Sasori kepada Hinata bukan menambah takut dirinya, namun semakin membuat emosi dirinya membuncah meninggi dan memandang Senpainya dengan tatapan kemarahan. Mereka bertiga tetap berjalan menuju ruangan lain dan ditemukan sebuah ruangan aneh yang berisikan kendi-kendi disisi kanan dan kirinya beserta jasad wanita dewasa terkujur diam dan estalase kaca. Hinata masih tak mengerti mengapa dirinya dibawa ketempat yang menurutnya tidak menyenangkan. Didorong, Hinata yang tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya terjatuh ketanah dengan cara yang kasar.
"Duh…" keluh Hinata yang diperlakukan tidak baik oleh Sasori.
"Sasori tinggalkan kami berdua!" perintah mutlak itu, membuat dirinya meninggalkan ruangan yang mereka masuki. Pandangan pria surai orange spike itu terlihat sedih. Menyentuh pipi gadis itu namun gadis itu memapiknya enggan disentuh oleh orang jahat yang menyakiti dan membunuh orang-orang tak bersalah.
"Hn, kau benar-benar manis"
"A-Apa yang kau inginkan dariku?" Hinata gemetar hebat mendapati senyum licik dari pemimpin buronan Rank A.
"Mengorbankan dirimu dan menghidupkan orang yang kucintai! Kemudian membunuh orang-orang yang menghalangiku. Termasuk Uzumaki Naruto" ujarnya mengeratkan tangannya.
"K-Kau sudah berjanji tidak akan membunuh teman-temanku bukan, kalian penghianat. Jangan libatkan mereka semua, terutama Naruto-kun-…Ittai!"
"Penderitaan yang kami dapatkan lebih dalam dibandingkan denganmu!" Sela Yahiko menjambak rambut gadis itu dan menundukkan kelantai. Sakit, lemah dan tak berdaya itulah yang dirasakan Hinata saat ini dirinya hanya bisa bungkam.
"Kami bekerja untuk Asosiasi Hunter, namun kamilah yang dikhianati oleh mereka dan Pemerintah menyebut kami sebagai pemberontak dan yang tidak kusuka adalah orang yang kucinta dibunuh oleh keluarga Hyuuga dan Shimura!" ujar Yahiko sudah tak bisa menahan diri kembali. mendengar nama marganya. Hinata memberanikan diri untuk melawan, melepaskan genggaman pria itu dan memandang marah ke musuh dihadapannya.
"Apa maksudmu, Hyuuga?"
"Hoh, masih berpura-pura bodoh ya! ujar Yahiko dengan ringannya menampar gadis itu hingga terhuyung kebelakang. Darah segar mengalir dari bibirnya.
"Akan kuberitahu kebenaran apa yang terjadi sebenarnya. Sebelum kau mati!" kini Yahiko mulai mengaktifkan Nennya dan menyentuh kepala Hinata, dirinya hanya menegang mematung tak mampu bergerak. Hingga seperti melihat sebersit peristiwa kejadian.
FLASHBACK_PERISTIWA_10 TAHUN_SEBELUMNYA_ON
Hujan mulai membasahi seluruh wilayah, sebuah kelompok yang berisikan 9 orang, terkepung oleh beberapa kelompok dari Asosiasi Hunter. Kelompok yang terdiri dari Shimura dan Hyuuga. Berhasil memojokkan beberapa orang itu yang sudah tak mampu kabur kembali.
"Menyerahlah, kalian sudah terkepung!" ujar pria paruh baya dengan mata kiri yang terbalut perban.
"Mengapa anda mengkhianati kami?! Danzo-sama!" tanya Yahiko yang merupakan ketua dari kelompok itu. iris sang ketua itu tak percaya bahwa atasannya telah mengkhianati kami. "Mengapa?"
"Kalian semua sudah tak dibutuhkan lagi, kalian terlalu banyak misi rahasia. Ditambah ada yang mengetahui kebenaran dari misi. Aku dan Hiashi akan mengambil alih peran kalian mulai dari sekarang!" ujar Danzo menerangkan. Wanita yang satu kelompok dengan Yahiko tak mampu berbuat apa-apa, menjadi tahanan memang sangat menyedihkan. "Bunuh mereka!" perintah Hiashi, tanpa ragu semua pasukan Asosiasi Hunter mulai menyerang ke 9 orang itu tanpa ragu.
"Tidak!" pekik Conan mencoba menolong.
DOR!
Letupan senjata api terdengar ditengah perlawanan kelompok Yahiko dan kelompok dari Asosiasi Hunter. Kemarahan membuncah kepada pria surai orange itu. sosok wanita itu terkapar tak bergerak mendapatkan luka tembakan tepat didadanya.
"Huaaa!" kemarahan Yahiko membuatnya menyerang musuh tanpa ampun dan mencoba meraih wanita itu namun seseorang menghalangi mereka.
"Minggir Itachi. Aku akan membunuh mereka-…"
"Pimpinan lihatlah, rekan-rekanmu. Mereka semua sudah hampir kehabisan tenaga. Kita harus mundur sekarang!" sela pria nan tampan surai hitam panjang itu memberikan saran. Yahiko yang kesal pun mengurungkan niatnya dan memberikan perintah.
"Kita mundur!" perintah mutlak Yahiko, membuat mereka berpisah dan melarikan diri kedalam hutan.
"Kejar mereka-…"
"Hentikan!" teriak Hiashi menghentikan semua pasukan.
"Kenapa kau menghentikannya Hiashi. Ini waktu yang tepat untuk menghabisi mereka?!" tanya Danzo tak mengerti.
"Mereka tidak akan selamat!"
"Apa maksudmu?"
"Didepan sana hanya berisikan lautan tak berpenghuni dengan ombak dahsyat dan terlebih lagi didalam hutan sana berisi hewan-hewan buas yang akan menerkam mereka. Dengan kata lain. Mereka sama saja menjemput ajal mereka sendiri dengan tenaga yang mereka saat ini" ujar Hiashi. Menerangkan kepada Danzo, dirinya yang memahami itu memahami dan mulai menarik pasukan mereka mundur untuk kembali.
…
Ditempat Persembunyian
Kelelahan dan terluka itulah yang diterima kelompok perlarian yang sebelumnya diincar menjadi buronan oleh Asosiasi Hunter yang menginginkan ke 9 orang ini mati.
"Ha… Ha… kalian tidak apa-apa? Yahiko bagaimana denganmu-…"
"Aku baik-baik saja!" Yahiko menampik tangan Nagato, perasaaan sedih menghantui mereka semua.
"Sial… Sial… Sial! Danzo dan Hiashi, kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan ini, lihat saja!" geram pria surai orange itu, sudah tak bisa menahan emosinya.
"Yahiko, kami akan selalu bersamamu. Bukan begitu semuanya!" ujar Nagato, semua orang setuju. Tersenyum itulah jawaban dari mereka semua bersama. Pria itu yang dihadapkan masalah pada kelompoknya. Mengangguk memahami penderitaan itu. mulai saat itu
"Sumanai, Minna" Yahiko memahami tujuan kebaikan para anggotanya.
5 tahun berlalu, Yahiko beserta kelompoknya mulai menemukan tujuan, balas dendam terhadap kelompok yang membuat mereka menderita. Mengumpulkan Nen dan menghabisi semua orang-orang dari organisas Asosiasi Hunter. Merupakan tujuan mereka saat ini. keberadaan mereka yang selalu berpindah-pindah tempat menyebabkan mereka sulit dilacak dan ditemukan, seperti laba-laba yang selalu berpindah-pindah tempat.
…
AGH!
TIDAK!
Teriakan kematian, jeritan para bawahan musuh yang mereka bunuh tanpa belas kasihan. Seseorang menatap dirinya dengan perasaan gemetaran dan takut. Kini nyawanya dipertaruhkan saat ini didepan hadapan orang yang dulu dia ingin habisi, namun keadaan sekarang berbalik.
"Maafkan aku,… aku memohon jangan bunuh diriku! Oh ya kita bisa bicaraka ini dengan kepala dingin!" ujar Danzo saat ini meminta belas kasihan kepada seseorang.
"Danzo, kau salah tentang satu hal, kedamaian tidak dibuat oleh Asosiasi Hunter. Tapi kami bertarung untuk melindungi apa yang menurut kami benar dan yakini, sehingga kami siap mempertaruhkan hidup untuk segala apapun yang terjadi. Tapi waktu itu kami lemah dan aku bisa katakana bahwa diriku akan membersihkan pemerintahan dari oknum yang kotor sepertimu!"
"Tunggu,… Aku bisa memberikanmu uang-…"
"Sampai sekarang, kau tak akan memahami rasa sakit kami!" ujar Yahiko mengakhiri pernyataannya, beserta kepala Danzo yang terputus dari lehernya.
Semua kenangan itu berjalan dengan penderitaan orang-orang yang menghalangi jalan Akatsuki. Beserta kematian yang tergambarkan dalam ingatan yang Hinata lihat. Ayah dan Neju dibunuh dengan cara dipenggal seperti halnya Danzo.
FLASHBACK_PERISTIWA_10 TAHUN_SEBELUMNYA_OFF
Hinata yang masih menangis tanpa isak hanya menunduk sedih. Menyaksikan kematian orang yang disayanginya dibunuh dengan cara yang kejam dan tidak berperikemanusian.
"Bohong, Semua itu bohong, Otou-san dan Neji-niisan tidak akan berbuat hal yang buruk seperti itu-…" ujar Hinata menatap tidak percaya kepada Yahiko.
KUH!
"Hyuuga Hinata, kau benar-benar menyedihkan. Kau tak menyadari bahwa kejahatan keluargamu lebih biadab dibandingkan kami!" Yahiko menampar Hinata hingga terhuyung kebelakang. Kini kedua pipinya merasakan sakit dan panas dari pemimpin Akatsuki.
"Naruto-kun" gumam Hinata pelan, memanggil orang yang dicintainya.
"Tak akan ada yang menolongmu sama sekali, bukankah ironis bahwa diri kita ini sama?!"
"Kita tidak sama! Kau menyakiti orang lain dengan cara membalas dendam dan aku percaya bahwa teman-temanku akan menolongku!" teriak Hinata sudah tak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kita lihat saja!" Sasori pun masuk kembali membawa gadis itu keruangan lain. Hinata hanya memberontak tak ingin dibawa ketempat yang tidak dia sukai. Perlahan dirinya menghilang dibalik pintu yang tertutup kembali.
RUMAH SAKIT TOKYO
Senja sore matahari mulai terbenam, jam menunjukan pukul 17.00 waktu setempat. Pria surai kuning itu mulai tersadar dari tidurnya. Matanya mulai mengerjapkan secara perlahan-lahan. Dibangunkannya tubuhnya dan melihat sekelilingnya. Rasa sakit masih mengindap padanya.
"A-Apa yang terjadi?"
"Kau sudah sadar?"
"Tsunade-san, Shizune-nee. M-mengapa kalian ada disini?" Naruto terkejut disadarkan oleh kedatangan orang yang tidak diduga.
"Dasar anak tidak punya sopan santu, tentu saja untuk menjengukmu. Aku sangat khawatir padamu!" Kata Tsunade dengan nada ketus.
"A-Aku baik-baik saja, Shizune-Oneechan" tukas Naruto sedikit malu ditanya oleh kakak perempuannya.
"Hei, kenapa kau jadi malu seperti ini, Ho… aku mengerti kau sudah memiliki pacar ya" tebak Shizune santai, Naruto yang mendengar itu hanya bersemu merah. Semua orang yang berada diruang pasien ikut tertawa menyaksikan sikap Naruto yang begitu pemalu. Satu orang menatap dirinya dengan serius.
"Naruto, aku ingin bertanya padamu… Kenapa kau menggunakan Nen tanpa seizinku?!" Kata Tsunade membuat suasana menjadi canggung kembali. mendapatkan pertanyaan itu dirinya hanya menunduk lesu merasa bersalah.
"Sumimasen, Tsunade-san. I-itu karena aku tak bisa orang lain menderita dan terluka didepanku. Bukankah menolong orang lain adalah tugas kita!" jawab Naruto membenarkan perkataannya dan mulai bertanya kembali.
"Huh,… dengar Naruto, Hinata saat ini menyerahkan dirinya hanya untukmu!"
"A-apa? B-bagaimana bisa?"
"Dia menukarkan dirimu dengan dirinya, Akatsuki awalnya berusaha untuk menangkapmu namun sebaliknya dia menyerahkan dirinya sendiri untuk menolongmu dan yang lainnya" ujar Tsunade dengan nada sedih.
"K-kenapa dia selalu berbuat bodoh dan tidak masuk akal, aku sudah menyuruhnya untuk tidak ikut campur, namun-…"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat diwajah kiri pria tan coklat itu, gadis sepantarannya. Haruno Sakura memandang kesal dan marah pada temannya yang tidak mengerti situasi pada saat itu. bukannya simpati malah menghina Hinata. Luapan kekesalan sudah tak bisa terbendung pada dirinya. Menangis itulah yang dirasakan Sakura saat ini.
"Dengar Naruto-kun! Dia melakukan itu karena dia tidak ingin orang yang dicintainya terbunuh dan tanpa berpikir panjang dia siap mengorbankan hidupnya hanya menolong kami. Kau benar-benar tak memiliki perasaan sama sekali!" teriak Sakura tak menerima ucapan Naruto, hingga akhirnya meninggalkan kamr pasien.
"Kau sudah benar-beanr keterlaluan!" sahut Sasuke setuju dengan perkataan Sakura. Diapun pergi meninggalkan ruangan pasien. Tsunade, Shizune dan Hiruzen pun ikut mencari Sakura yang sudah kabur entah kemana.
Bersalah itulah yang dirasakan pria surai kuning itu saat ini. ucapan yang terlontar kali ini mungkin saja sudah berlebihan.
"Naruto-kun"
"Hn, ada apa Sensei?"
"Kau harus minta maaf kepada Sakura dan Uchiha-san. Perkataanmu tadi sudah kelewatan. Aku yakin dia akan memaafkanmu" saran Kurenai. Naruto yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti.
"Baiklah, sensei" ucap Naruto mulai bangkit dari ranjang tidurnya dan mulai berjalan dengan tertatih.
"Apa yang kami lakukan Naruto-kun, kakimu masih belum pulih bukan?" Kurenai yang melihat Naruto nekat untuk meninggalkan ranjangnya berusaha untuk mencegahnya.
"A-Aku akan minta maaf kepada mereka berdua-…"
BRUK!
Tubuhnya tersungkur dilantai rumah sakit. kakinya benar-benar mati rasa saat ini. pria itu hanya memaki dirinya yang sangat lemah saat ini.
"H-Hinata!" batin pria itu sudah tak bisa menahan kesedihannya.
TAMAN RUMAH SAKIT TOKYO
Gadis muda itu terduduk sendirian dibangku taman, tangannya dia gunakan untuk menghapus beberapa kali kesedihan yang melandanya disebabkan oleh Naruto. dirinya benar-benar tak habis berpikir bagaimana bisa dia mengatakan hal yang kasar dan dingin seperti itu dengan mudahnya tanpa memikirkan keadaan sekitarnya.
"Kau disini?" panggil seseorang, wajahnya mendongkak melihat sosok laki-laki sepantarannya, mata hitam onix itu menatap kesedihan pada gadis itu. dirinya duduk disampingnya.
"M-mengapa kau ada disini Uchiha-san?!" tanyanya balik, mendapatkan pertanyaan itu dirinya hanya mengaruk pipinya yang tidak gatal. "Aku pun merasakan hal yang sama sepertimu!" terang Sasuke berkata, Sakura terkejut mendengar jawaban darinya.
"Kau tak perlu khawatir tentang lukaku ini, aku sudah merasa baikan sekarang, lagipula. Aku merasa kesal dan lemah, karena tidak bisa membantu Naruto dan melindungi Hinata" ujarnya kembali.
"Itu tidak benar, harusnya akulah yang patut disalahkan karena membiarkan Hinata-san pergi. Kalau saja aku lebih berani menghadapi mereka-…"
"Itu ide bodoh, Hinata sudah memprediksi apa yang akan terjadi pada kami. Memang aku tidak suka cara dia mengambil keputusan, namun jika dia pun tak melakukan itu. maka kau akan terbunuh oleh Akatsuki!"
"Uchiha-san"
"Sumimasen, karena telah bersikap dingin padamu sebelumnya dan bisakah kau tak memanggil nama keluargaku, r-rasanya sedikit aneh saja, menurutku" ujar Sasuke dengan malu.
"Hee? T-tidak apa-apa memangnya?" terlonjak kaget bahwa pria itu tak suka dipanggil nama keluarganya. Anggukan mantap dari pria itu membuat Sakura tersenyum hangat dan menyetujuinya.
"Sasuke-kun, boleh?"
"Terserah kau saja" gumamnya pelan dengan rona merah malu pada Sasuke.
Mereka terdiam kembali, memikirkan pembicaraan apa yang ingin mereka katakan. Mendapatkan ide.
"Ano!" mereka terkejut karena keduanya ingin mulai berbicara.
"Sasuke-kun duluan saja"
"Sakura, maukah kau mengajariku Nen. Setelah ini? aku ingin belajar menyempurnakan kemampuan Hatsu Henkaku" Kata Sasuke memohon kepada Sakura. Dia pun menyetujuinya.
"Tentu saja, ahahaha" jawab Sakura tertawa garing. "T-tadi kau ingin bicara apa?" Kini Sasuke yang bertanya, gadis itu mengeleng pelan menandakan tidak jadi ingin bicara dan mulai berdiri, memberikan uluran tangannya ke Sasuke.
"Kita harus kembali, aku khawatir dengan kondisimu saat ini" ucap Sakura kepada pria itu, Sasuke hanya tersenyum meraih tangan wanita surai pink.
Beberapa orang sedang mencari Sasuke dan Sakura, khawatir jika mereka merasakan kesedihan yang menimpa temannya, Shizune yang melihat kearah jam 7 hanya bisa menyunggingkan senyum jahil.
"Oh, jadi kalian berpacaran ya?" tebak Shizune bersama Hiruzen dan Tsunade yang memandang mereka berdua bergandengan tangan.
"T-Tidak, kami hanya ingin kembali saja kekamar!" terang Sasuke baru menyadari tangan Sakura masih dalam genggaman. Mereka berdua pun melepaskan tautan tangan masing-masing.
"Heee? Yakin?" goda Shizune tak percaya.
"S-Shizune-Nee-chan!"renggek Sakura tak suka dijahili, muka kedua pasangan itu hanya bisa memerah seperti kepiting rebus.
"Ahahaha,… aku bercanda. Ayo kembali!" tukasnya kembali bersama menuju kekamar Naruto dan Kurenai.
…
Pintu itu dibuka kembali, mereka berlima masuk kedalam kamar. Naruto yang berada disitu lalu menatap kedua mata Emerald dan Onix itu bersamaan.
"S-Sasuke, S-Sakura. Gomen, a-aku benar-benar tidak bisa menjaga ucapanku. A-Aku benar-benar bersalah!" sesal Naruto dengan nada tinggi gelagapan. Mereka berdua pun mendekat dan memegang kedua tangan pria itu, bersama dengan senyum ramah.
"Naruto-kun, tidak salah. Wajar jika kau saat ini sedang kacau saat ini, benarkan Sasuke-kun" tukas Sakura sambil memandang Sasuke.
"Hm"
"Katajiginai, Sasuke, Sakura"
"Syukurlah jika kalian bertiga sudah baikan sekarang. Tsunade, kita disuruh menghadiri rapat penting atas permintaan Ten Godfather di hotel Sakurami, 2 minggu lagi. Apakah kau bisa ikut denganku?" tanya Hiruzen memberitahukan info penting kepada muridnya.
"Tentu saja"
"Sarutobi-sama, aku ingin ikut dengan anda dan bergabung!"
"Lukamu kan belum sembuh total Naruto-…"
"Aku mohon!" Naruto memohon kepada Hiruzen dengan menunduk sambil mencengkram selimut putih rumah sakit dengan kuat.
"Hiruzen-sama, aku juga ingin membantu!"
"Aku juga!"
Melihat ketiga muridnya memohon dengan harap, dirinya merasa kebingungan. "Menyerah sajalah Sarutobi-Taijou. Mereka anak-anak egois dan ceroboh yang keras kepala" saran Kurenai tersenyum melihat sorot mata mereka bertiga yang serius ingin membantu.
"Baiklah, kalian bisa ikut!"
"Yosh-…"
"Untuk Naruto pengecualian, jika dalam waktu 2 minggu dia belum sembuh total. Maka kau akan digantikan oleh lain. Mengerti!" ujar Hiruzen menerangkan. Naruto hanya mengangguk mengerti.
2 Minggu kemudian
Gedung ditengah kota yang sesak dengan lalu lalang kendaraan roda dua maupun lebih, aktivitas manusia seperti biasanya, kini status mereka bertiga dikatakan belum termasuk Hunter resmi professional. Membuat mereka diawasi secara ekstra oleh setiap orang yang berada di Asosiasi Hunter.
"Suge…" kagum Sakura takjub.
"Selamat datang, ikuti kami" ucap salah satu pelayan berseragam rapih yang mendatangi rombongan Naruto. mengikuti dirinya dan mulai memasuki ruangan rahasia. Sampailah mereka disebuah pintu didepannya.
Beberapa orang hadir diruangan tersebut, beberapa pasang mata memandang kehadiran mereka dengan dingin dan tajam. Hawa seorang Hunter professional benar-benar luar biasa. menurunkan kewaspadaan akan dapat mempercepat kematian itulah yang dirasakan beberapa rombongan Hiruzen.
"Arigatou gozaimasu atas kehadiran kalian" ujar pria paruh baya tua yang berumur sekitar 50 tahun. Tsunade terkejut menyadari orang yang menyapanya dikenalnya.
"Ojii-sama, k-kenapa kau ada disini?" Tsunade dan Sasuke yang menyadari kehadiran kedua orang tua itu tak percaya.
"Tsuna kah. Ternyata kau datang juga. Bagaimana kabarmu?" tanya Hashirama dengan nada riang melihat cucunya.
"Hashirama cukup, bernostalgianya nanti saja. Sasuke kita bisa bicara setelah ini" ujar Madara dengan nada datar dan kembali fokus untuk rapat ini.
"Sepertinya kalian semua sudah berkumpul ya, baiklah kalau begitu. Sekali lagi ini permintaan dari Ten Godfather. Misinya adalah untuk menghabisi buronan Akatsuki. Ada kemungkinan mereka akan menyerang kembali dan jika mereka muncul habisi, cara-cara dan hal-hal yang dilakukan kalian boleh putuskan sendiri. Asalkan tugas berjalan dengan baik, kami tidak akan mengajukan keluhan. Ada yang ingin kalian tanyakan?" ujar Daimyo yang menerangkan permintaan ini.
"Hn! Sepertinya akan menarik" ujar pria bersurai putih bertubuh besar dengan kulit hitamnya yang tersenyum datar.
"Untuk anak muda sepertimu, kau terlalu sombong Ai. Jangan meremehkan Akatsuki mereka pengguna Nen yang luar biasa dan berbahaya" terang Hashirama menyarankan.
"Hn! Aku akan bekerja dengan caraku sendiri. Hashirama-dono. Aku tak mau bergabung dengan kelompok yang berisikan anak kecil yang tak mengetahui medan perang. Lagipula bukankah Hunter beast itu memiliki prioritas bekerja atas kehendak masing-masing!" ujar Ai melihat kedalam kelompok Sasuke, Sakura dan Naruto.
"Sasuke-kun, tahan dirimu!" gumam sakura yang mengerti perasaaan Sasuke geram tak tahan menerima penghinaan dari orang tua tersebut.
"Aku juga setuju dengan usulnya. Aku dan Hashirama. Akan bekerja dengan cara kami sendiri, namun berbeda ceritanya jika yang kita hadari adalah buronan Rank A. aku akan berpikir dua kali untuk melawan mereka, jadi kuputuskan lebih baik tim dengan beberapa orang yang kalian akui" ujar Madara dengan hati-hati.
"Kurasa itu ide yang lebih baik. Aku menyetujui apa yang dikatakan Uchiha-san, tapi setidaknya setiap tim itu jika bisa terdiri 1 hingga 3 orang tim didalamnya. Kita belum mengetahui secara pasti kemampuan Hatsu mereka, Naruto-kun. kami butuh informasi darimu dari daftar foto disini dan kemampuannya" usul Kurena berkata. Naruto pun maju kedepan dan mulai menjelaskannya. Beberapa orang mulai memandang tak suka akan sosok pria surai blonde itu yang mulai menjelaskan kemampuan anggota Akatsuki.
"Ternyata kau memiliki kemampuan yang hebat, Bakayaro, Konoyaro" ujar salah satu rekan disamping Ai dengan tubuh besar, menggunakan kacamata hitam dengan nada bicara ala pemusik Repper.
"Mendokusai. Kurasa ini pekerjaan yang terlihat berat. Hoam…?" Kata pria berambut nanas hitam menguap dan mulai fokus. Tepukan tangan menyentuh bahunya dan mendongkak melihat kebelakang. Wanita surai kuning yang dikepang kanan dan kirinya.
"Ayo kita lakukan"
"Tentu saja"
"Baiklah, karena beberapa orang disini bertugas sesuai dengan keinginan aku tak akan menahan kalian. tentukan partnermu" Kata hashirama menerima keinginan pendapat masing-masing orang.
"Aku akan bersama dengan Ohniki"
"Kami akan satu tim!"
"Yeeey. Saatnya menghabisi musuh bakayaro, konoyaro-…"
BLETAK!
"Bisakah kau diam, Bee!" Marah Ai memukul kepala adiknya hingga benjol sebesar kepalan tangan. "B-Baik, Aniki" jawabnya pasrah.
"Aku dengan Temari"
"Aku akan satu tim dengan temanku. Walaupun dia belum bisa hadir kali ini. aku akan mengabarinua. Jadi tidak perlu khawatir. Karena dia adalah rivalku. Cliiing!" ujar pria paruh bayah berambut seperti mangkuk hitam dengan memamerkan deretan giginya yang bersih. Sesisi ruangan hanya Sweatdrop melihat tingkah lakunya.
"lalu bagaimana dengan kalian?" tanya hashirama sisanya melihat rombongan orang itu yang belum berkelompok.
"Aku akan bergabung dengan Shizune" terang Tsunade.
"Aku akan bergabung satu tim dengan Hiruzen-san"
"Lalu kalian bertiga?"
"I-itu, kurasa kami akan-…"
"Aku akan bekerja sendiri!" ujar naruto menyela. Semua orang yang berada didalam ruangan terkejut.
"Naruto. apa yang kau pikirkan, jangan bertindak seenaknya saja-… Ojii-sama" perkataan Naruto dihentikan oleh Hashirama.
"Bagaimana menurutmu tentang Akatsuki, nak?" tanya Muu merasa tertarik dan mulai berbicara dan bertanya.
"Menurutku kerja kelompok yang tidak bisa mempercayai rekan tim satu sama lain hanya akan menimbulkan kekacauan dan kematian, kalau ada yang membutuhkan bantuan bukankah lebih baik dibuat tim sekitar 3-5 orang untuk saling melindungi. Dengan bekerja sendiri-sendiri perselisihan tidak akan terjadi bukan. Itulah sebabnya aku memilih bekerja sendiri" kata Naruto menerangkan, membuat beberapa orang yang berada disitu tak bisa menebak pola pikir remaja tersebut.
"Pancaran aura anak ini sangat besar, sama seperti Hashirama-dono dan Madara-dono. Dia mampu seimbang" pikir Muu tersenyum dari balik perban yang membungkus kepalanya.
"Kurasa aku tak bisa melarangnya"
"Ojii-sama, k-kau yakin?"
"Sudahlah Tsuna. Dia sudah memutuskannya sendiri. Aku tak berhak melarang dirinya. Misi yang diberikan Daimyo juga sebelumnya dikatakan boleh memakai cara apapun, bukan?"
"Baiklah, kita akan bertemu kembali 1 minggu lagi ditempat ini" ujar Daimyo.
"Naruto-kun, apa yang kau rencanakan dan sembunyikan dari kami?" pikir Kurenai tak mengerti pola pikir remaja itu yang sudah pergi beranjak keluar ruangan rapat.
To Be Continue…
