'You Should be Mine, Sasuke-kun'

Disclaimer: Masashi Kishimoto Sensei

Haruno Sakura x Uchiha Sasuke

Rate: M

Warning: AU, typo, cerita gaje, missing word, OOC dll.

Summary: 'Hm, Tentu saja. Aku tidak akan pernah bisa untuk melupakan saat-saat terakhir kita dulu/Saat dimana janji itu terucap dan kau mengingkarinya/Hn. Lakukan dan katakan apapun yang kau suka terhadapku, selama hal itu tidak diketahui oleh orang lain yang mengenal kita, mengerti?/Hn. Kenapa kau meminta tolong terhadap orang lain jika kekasihmu sendiri ada disini, eh?'

Author by: Hikaru Sora 14

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read

Ueno Park merupakan salah satu taman wisata terbesar di Tokyo, dimana para warga lokal maupun warga asing datang berkunjung setiap tahun pada musim semi untuk melakukan perayaan Hanami bersama keluarga, teman maupun kekasih mereka.

Kemunculan dan keindahan bunga Sakura di Jepang ini memang tak pernah bosan untuk menarik rasa kekaguman dari setiap orang yang melihatnya. Termasuk kedua pasangan kekasih baru ini yang juga turut serta merayakan Hanami di Ueno Park tersebut.

Orang-orang di sekitar mereka tampak memperhatikan keromantisan keduanya dengan intens seraya mengulum sebuah senyuman tipis. Bisik-bisik kecil seperti 'masa remaja memang indah', 'mereka benar-benar pasangan yang terlihat sangat serasi' atau 'hah~... mereka benar-benar pasangan yang membuat iri' menyapa indera pendengaran Sasuke dengan begitu jelas, membuat sang pemuda Uchiha itu merasa tak nyaman karenanya.

Meskipun menjadi pusat perhatian sudah menjadi makanan Sasuke sehari-hari karena memiliki wajah rupawan bak malaikat yang banyak dipuja oleh kaum hawa, namun kali ini menjadi pusat perhatian ketika bersama seorang gadis yang notabene merupakan sahabat sekaligus kekasih sementaranya tengah bermanja-manja kepadanya di tempat umum, menurut Sasuke benar-benar terasa memalukan.

Pasalnya ini merupakan kali pertama Sasuke mengalaminya. Selama berhubungan dengan Karin, ia tidak pernah mau untuk mengumbar kemesraan hubungan kasih mereka di hadapan orang lain, disamping alasan karena adanya eagle eyes Naruto yang selalu mengawasi setiap pergerakan dirinya dan Karin, membuat Sasuke tak berkutik dibuatnya.

"Hei Hikui, bisakah kau duduk?!" Tanya Sasuke berbisik ke arah bawah, tepat dimana Sakura tengah membaringkan kepalanya di atas pangkuan kaki Sasuke seraya menikmati keindahan bunga Sakura dengan santai.

"Huh, Memangnya kenapa?" Tanya Sakura mengerutkan keningnya bingung.

"Hah~... Kau tidak menyadari jika semua orang memperhatikan kita sedari tadi, eh? Aku benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini, bodoh!" Keluh Sasuke seraya menyentil dahi lebar Sakura, membuat sang empunya meringis ngilu karenanya.

"Ugh~... Kenapa harus menyentil dahiku sih, anak tomat?! Ini 'kan sakit!" Gerutu Sakura seraya mengelus-ngelus dahinya yang terasa berdenyut nyeri. Sementara itu, Sasuke tampak tertegun mendengar panggilan Sakura terhadapnya, panggilan kesayangan yang dulu selalu dilontarkan oleh Sakura saat mereka masih kecil.

"Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu secara langsung darimu, Hikui. Terakhir kalinya kau memanggilku seperti itu adalah pada saat kita tengah bermain kejar-kejaran di pantai Konoha, Ne?" Ucap Sasuke seraya terkekeh pelan mengingat masa kecilnya bersama Sakura, membuat sang bungsu Uchiha itu sedikit melupakan rasa malu yang tadi sempat melandanya.

"Bukan bermain kejar-kejaran, Sasuke-kun.Aku terpaksa mengejarmu karena kau mengambil topi jeramiku, bodoh!" Gerutu Sakura mengoreksi ucapan Sasuke, membuat sang Uchiha bungsu merotasikan kedua bola matanya jengah.

Kenapa gadis itu selalu melakukan hal tidak penting seperti mengoreksi ucapannya yang sebenarnya memiliki arti yang sama, eh?

Hah~... Biarkan saja gadis musim semi itu berbuat semaunya sendiri, toh Sasuke benar-benar malas jika harus mulai berdebat dengan Sakura.

"Hn. Dan kau ingat, kau menangis tak henti-hentinya di saat-saat terakhir kita akan berpisah," Sasuke menyeringai mengejek ke arah Sakura.

"Hm, Tentu saja. Aku tidak akan pernah bisa untuk melupakan saat-saat terakhir kita dulu," tatapan mata Sakura tampak sendu, spontan melunturkan seringaian yang terukir pada wajah tampan Sasuke. "Saat dimana janji itu terucap dan kau mengingkarinya," lanjut Sakura berbisik lirih seraya menatap ke arah sang onyx dengan tatapan terluka, yang entah mengapa membuat hati kecil sang Uchiha bungsu tersebut seketika merasa tertohok dan sebagian dari dirinya merasa bersalah karenanya.

Sasuke ingat perbuatannya dulu yang menjahili Sakura dan membuat gadis musim semi itu terpaksa mengejarnya untuk mengambil topi jerami yang ia ambil. Ia juga ingat saat Sakura terjatuh dan menangis keras saat mereka benar-benar akan berpisah dalam jangka waktu yang sangat lama. Namun, Sasuke tidak benar-benar mengingat seluruh perkataannya dulu terhadap Sakura. Sebenarnya janji apa yang telah mereka buat dan ia lupakan, eh?

Sasuke hendak menanyakan dan meminta penjelasan mengenai janji yang diucapkan oleh Sakura tadi. Namun, gadis musim semi itu sudah terlebih dahulu beranjak dari pangkuan Sasuke dan bergegas memakai flat shoes-nya seraya pergi meninggalkan Sasuke begitu saja.

.

.

.

"Sakura, sebenarnya jan-..."

"Sasuke-kun, kita harus segera bergegas pergi ke Disneyland. Kau tahu 'kan kalau sekarang sudah memasuki musim liburan, pasti banyak sekali yang berkunjung ke sana. Ugh~... Aku tidak mau jika harus mengantri dan berdesak-desakan saat akan menaiki wahana-wahana unggulan di sana," ucap Sakura memotong perkataan Sasuke, berusaha mengalihkan perhatian Sasuke mengenai topik janji yang mereka buat di masa lalu.

Ya, Sakura tahu jika Sasuke tidak mengingat janji kecil yang telah mereka buat dulu dan Sakura sama sekali tidak berniat untuk memberitahu Sasuke mengenai janji mereka waktu itu. Bahkan ucapannya tadi saat di taman, spontan begitu saja meluncur dari mulutnya tanpa bisa ia cegah.

Sakura ingin jika Sasuke sendiri yang mengingat janji mereka di masa lalu dan menyadari perasaan Sakura yang sebenarnya terhadapnya, dan Sakura akan menunggu dengan sabar sampai saat itu benar-benar tiba kepadanya.

Ah, tidak tidak! Sakura tidak hanya akan menunggu saja, tapi ia juga akan berusaha untuk segera mewujudkan hal tersebut!

"Huh, Bukankah kita bisa membeli tiket VIP! Jadi kita tak perlu repot-repot untuk mengantri dan berdesak-desakan bersama pengunjung yang lain, bodoh!" Cibir Sasuke kepada Sakura.

Berhasil! Pemuda Uchiha itu tidak lagi mengungkit-ngungkit mengenai janji itu kepada Sakura.

Sakura menepuk singkat jidatnya seraya menunjukkan cengiran lebar ke arah Sasuke. "Astaga, kau benar Sasuke-koi! Aku lupa jika ada kau yang akan membeli tiket VIP Disneyland nanti," seru Sakura antusias dengan tatapan mata berbinar penuh kesenangan.

"Huh, Sasuke-koi?" Sasuke mengernyit saat mengulangi panggilan yang dilayangkan oleh Sakura.

"Hm, Kenapa? Apa kau merasa keberatan dengan panggilan itu, eh? Bukankah sekarang kita merupakan sepasang kekasih, aku rasa wajar saja jika aku memanggilmu dengan panggilan seperti itu, Ne?" Gadis musim semi itu tampak memicingkan tajam kedua matanya ke arah Sasuke.

Sasuke menghembuskan nafasnya gusar, berpikir apakah ia benar-benar harus mengikuti setiap alur cerita yang Sakura ciptakan dalam hubungan kasih sementara mereka selama dua minggu ini, eh?

Sasuke merasa sedikit tidak nyaman dengan perubahan kecil yang sedikit demi sedikit terjadi dalam hubungan dirinya dengan Sakura, atau lebih tepatnya Sasuke belum terbiasa untuk menghadapi sikap Sakura yang berstatus sebagai kekasihnya saat ini.

Tapi, mau bagaimana lagi? Sasuke sudah terlanjur menyanggupi permintaan gadis musim semi itu untuk menjadi kekasih sementaranya dan mau tidak mau ia harus menerima setiap konsekuensi yang ada.

"Hn. Lakukan dan katakan apapun yang kau suka terhadapku, selama hal itu tidak diketahui oleh orang lain yang mengenal kita, mengerti?" Ucap Sasuke pasrah seraya menjawil kecil hidung mancung Sakura.

"Ugh~... Kau pikir aku gadis yang bodoh!" Gerutu Sakura seraya menepis kecil tangan Sasuke yang masih bertengger pada hidungnya. "Tentu saja aku mengerti dimana dan kapan aku harus bersikap sebagai kekasihmu ataupun sebagai sahabatmu, Sasuke-kun!" Lirih Sakura seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil milik Sasuke, membuat sang bungsu Uchiha menatap penuh keheranan akan perubahan sikap Sakura saat ini.

.

.

.

Sasuke dan Sakura tampak bersiap untuk menunggu giliran mereka menaiki wahana roller coaster. Ini merupakan wahana unggulan kelima yang mereka naiki dan Sakura tampak begitu antusias.

Drrtt Drrtt

Sasuke merasakan ponselnya bergetar dalam tas kecilnya. Segera saja ia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Ah, Karin rupanya.

"Hei, Aku ada urusan sebentar. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri, Hikui?"

"Huft~... Memangnya urusan apa, eh?" Tanya Sakura menatap penuh selidik ke arah Sasuke.

"Hn. Kau tidak perlu tahu," ucap Sasuke seraya mengacak pelan surai merah muda Sakura.

"Tsk, Menyebalkan! Ya sudah sana pergi!" Sakura berdecak sebal seraya mendorong tubuh Sasuke untuk keluar dari barisan antrian khusus member VIP.

.

.

.

"Hn. Karin, ada apa?" Tanya Sasuke menjawab panggilan telepon dari kekasihnya seraya memperhatikan Sakura yang mulai menduduki kursi depan roller coaster disusul oleh seorang pemuda bersurai merah bata yang duduk di sebelahnya.

"Sasuke-kun, apa kau sudah tiba di Jepang?" Tanya Karin to the point kepada sang bungsu Uchiha tersebut. Sasuke dapat menangkap dengan jelas nada kekhawatiran dalam pertanyaan kekasihnya tersebut, membuat sebuah kekehan geli menguar dari bibir tegasnya.

"Sudah sejak tadi pagi. Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal dan membuatmu khawatir, Karin," ucap Sasuke penuh penyesalan.

"Hah~... Syukurlah jika seperti itu, Sasuke-kun," tampak Karin menghela napas lega di seberang sana seraya mengulum sebuah senyuman yang tentunya tak dapat Sasuke lihat.

"Bagaimana hari pertama liburanmu?" Sasuke membalikkan tubuhnya, membelakangi roller coaster yang perlahan-lahan mulai melaju. Pemuda Uchiha itu berjalan menuju ke arah bangku kayu panjang yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini.

"Sangat membosankan, kau tahu! Kushina Baa-san dan Minato Jii-san pergi ke London untuk urusan bisnis. Sementara di rumah, lagi-lagi aku ditinggal bersama Naruto-kun. Dia bilang aku tidak boleh pergi kemana-mana hari ini, menyebalkan bukan?"

"Hn. Tapi rasanya kali ini aku setuju dengan Naruto. Lebih baik kau tinggal di rumah bersamanya, menurutku itu jauh lebih aman. Terkecuali jika Naruto menemanimu saat kau akan pergi ke luar," ucap Sasuke seraya mendudukkan dirinya dengan nyaman pada bangku kayu taman.

"Huft~... Kalian berdua terlalu berlebihan! Aku 'kan sudah dewasa dan tidak perlu ditemani terus jika ingin berpergian kemana-mana!"

"Bukan berlebihan. Kami hanya mengkhawatirkanmu, Karin," koreksi Sasuke atas perkataan Karin seraya terkekeh pelan.

"Tsk, Kalian sama saja!"

"Kau marah?!"

"..."

"Karin?"

"..."

"Hah~... Baiklah kalau begitu. Aku akan membujuk Naruto agar mengijinkanmu untuk pergi berlibur dan memintanya untuk menemanimu, bagaimana?" Ucap Sasuke berusaha membujuk Karin.

"Benarkah?" Tanya Karin antusias.

"Hn. Memangnya kau ingin pergi berlibur kemana?" Tanya Sasuke seraya memperhatikan wahana roller coaster yang sudah menemui bagian terekstrimnya. Dapat Sasuke dengar teriakan-teriakan kesenangan dan ketakutan dari para penumpang roller coaster tersebut.

"Aku ingin pergi untuk menemuimu di Jepang, Sasuke-kun! Padahal baru satu hari kita berpisah, tapi aku merasa sangat merindukanmu, kau tahu?!"

"Kau serius?" Sasuke merasa terkejut atas ucapan Karin tersebut. Jika seperti itu Karin dan Sakura pasti akan bertemu nantinya. Apakah hal itu tidak akan menjadi masalah, eh? Entahlah, semoga saja semuanya dapat berjalan baik-baik saja, Ne?

Sasuke percaya jika Sakura mampu menjaga rahasia hubungan mereka di hadapan Karin nantinya.

Onyx-nya menatap ke arah roller coaster yang sudah berhenti melaju, spontan pemuda Uchiha itu mencari keberadaan sang gadis musim semi.

"Kau tidak suka?" Tepat saat pertanyaan Karin terlontar kepadanya, Sasuke dapat melihat Sakura yang hampir terjatuh dari tangga, jika saja seorang pemuda tidak bertindak gesit untuk menangkap tubuh mungilnya. Seketika saja, perasaan tak nyaman menyusup ke dalam hatinya. Ia tidak suka melihat Sakura dipeluk oleh pemuda asing bersurai merah bata tersebut! Sekalipun hal itu adalah ketidaksengajaan!

"Hn. Tidak. Kalau begitu kau tunggu saja, sementara aku meminta izin pada Naruto, Ne?" Ucap Sasuke tergesa-gesa seraya bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat ke arah Sakura dan pemuda yang tidak ia kenal itu.

"Baiklah, sampai jumpa nanti Sasuke-kun," pamit Karin tersenyum senang sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.

"Hn," Sasuke lekas memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.

.

.

.

"Kau baik-baik saja Nona?" Tanya pemuda bersurai merah bata kepada Sakura yang kini tengah berada dalam dekapannya.

Gadis musim semi itu hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat dirinya tengah menuruni tangga setelah turun dari wahana permainan roller coaster. Entah mengapa, tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing.

"Ah, aku hanya merasa pusing saja," ucap Sakura meringis kesakitan seraya menjauhkan tubuhnya dari pemuda tersebut, namun tangan pemuda itu masih setia bertengger pada masing-masing lengan Sakura, bermaksud untuk menopang tubuh gadis musim semi tersebut. "Sebelumnya terima kasih karena telah menolongku um ..."

"Gaara," ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya.

"Aa~... Gaara-san," Sakura tersenyum tipis ke arah Gaara.

"Hn. Kau bisa menuruni tangga ini sendirian Nona ...?"

"Sakura," kini giliran Sakura yang memperkenalkan dirinya. "Apa kau keberatan untuk menuntunku, Gaara-san?"

"Tentu saja ti-..."

"Tidak, biar aku saja yang menuntunmu, Hikui!" Sela Sasuke yang tiba-tiba datang dari arah belakang Sakura dan Gaara. Pemuda Uchiha itu tampak menatap tak suka ke arah Gaara yang masih memegang lengan kekasihnya.

"Sa-Sasuke-kun!" Seru Sakura terkejut menatap ke arah Sasuke.

"Hn. Kenapa kau meminta tolong terhadap orang lain jika kekasihmu sendiri ada disini, eh?" Tanya Sasuke datar seraya berjalan mendekat ke arah Sakura dan memeluk posesif pinggang ramping sang kekasih sementaranya tersebut.

Onyx-nya tampak menatap tajam ke arah pemuda bertato 'Ai' tersebut. Ah, Sepertinya Sasuke tengah mengabaikan prinsipnya yang tak ingin mengumbar kemesraannya bersama sang kekasih di hadapan orang lain, eh?

Sementara itu, Sakura tampak terpaku atas ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Sasuke. Hatinya terasa begitu hangat dan perutnya terasa bergejolak penuh sensasi kebahagiaan.

Hei, Apakah ini adalah mimpi yang selalu Sakura alami setiap malam, dimana Sasuke selalu bersikap posesif dan juga menganggap bahwa dirinya adalah milik Uchiha Sasuke seorang?

Tidak! Ini benar-benar nyata! Sakura dapat merasakan aura ketidaksukaan pemuda Uchiha itu tatkala melihat kedekatannya dengan Gaara. Apa itu artinya Sasuke tengah cemburu, eh?

Sakura mengulum sebuah senyuman penuh arti. Setidaknya kejadian ini menunjukkan bahwa Sakura masih memiliki tempat yang spesial di hati Sasuke. Perlahan-lahan Sakura pasti akan membuat Sasuke jatuh cinta sepenuhnya terhadapnya! Lihat saja!

"Lain kali kau harus menjaga dan memperhatikan kekasihmu dengan lebih baik lagi sobat," nasehat Gaara seraya melepaskan tangannya dari lengan Sakura, kemudian beralih menepuk pelan pundak Sasuke seraya menyeringai tipis.

"Hn. Tentu saja," Sasuke balas menunjukkan seringaiannya, seolah tak ingin kalah dari pemuda di hadapannya tersebut.

"Kalau begitu, aku pergi Sakura-san," pamit Gaara seraya tersenyum lembut kepada Sakura, membuat sang bungsu Uchiha tersebut mendengus kesal di dalam hati seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Sakura. Entah kenapa, hatinya terasa panas melihat pemuda itu bersikap lembut terhadap Sakura-nya.

"Um, Sekali lagi terima kasih karena telah menolongku, Gaara-san," ucap Sakura kembali berterima kasih sebelum Gaara benar-benar pergi dari hadapannya dan Sasuke.

"Kalian sudah saling mengenal, eh?" Tanya Sasuke penuh rasa ketidaksukaan. Sakura hanya mampu terkekeh geli di dalam hati tatkala menyadari hal tersebut. Wah~... Sakura benar-benar sangat senang bisa membuat Sasuke cemburu terhadapnya seperti saat ini.

Sepertinya lain kali, ia harus merencanakan hal lain agar kekasihnya ini kembali menunjukkan kecemburuannya, sekaligus untuk mencari tahu bagaimana perasaan Sasuke yang sebenarnya terhadap dirinya. Ide yang bagus bukan?

"Hm. Baru saja. Kau sudah selesai dengan urusanmu?" Tanya Sakura seraya mendongakkan wajahnya ke arah Sasuke.

"Sudah. Kalau begitu kita makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali menaiki wahana-wahana itu. Kau tahu, ini bahkan sudah lewat dari jam makan siang!"

"Ah, Pantas saja kepalaku tadi terasa begitu pusing!" Sakura mengetuk kecil kepalanya sendiri.

"Kau harus menjaga kesehatanmu, bodoh!" Sasuke menyentil pelan dahi Sakura, kemudian melepaskan pelukannya. Pemuda Uchiha itu tampak menuruni dua anak tangga, lalu ia merendahkan tubuhnya membelakangi Sakura. "Ayo, cepat naik!" Perintah Sasuke agar Sakura naik ke atas punggungnya.

Sakura mengembangkan senyumnya seraya menganggukkan kepalanya semangat. Tanpa ragu-ragu, gadis berusia tujuh belas tahun itu menabrakan tubuhnya pada punggung tegap Sasuke, membuat sang pemuda raven sedikit menggerutu karena punggungnya sedikit terasa sakit karena ulah sang gadis bubble gum tersebut.

.

.

.

"Wah~... Kencan hari ini benar-benar terasa menyenangkan~..." Seru Sakura tersenyum penuh keceriaan seraya merentangkan lebar kedua tangannya ke arah samping tatkala dirinya dan Sasuke telah keluar dari kawasan taman bermain Disneyland.

"Tsk, Apanya yang menyenangkan, bodoh?! Kau membuat lengan kiriku sakit, kau tahu?!" Gerutu Sasuke seraya memijat-mijat kecil lengan kirinya dengan menggunakan tangan kanannya.

Setidaknya hal itu dapat sedikit meredakan rasa pegal yang mendera lengan kirinya akibat perbuatan Sakura yang seenaknya saja menarik-narik tangannya saat akan menaiki wahana-wahana unggulan di Disneyland setelah mereka selesai makan siang tadi.

"Hm, Siapa suruh jalanmu begitu lambat, sehingga tadi aku harus menarik paksa tanganmu untuk mencapai wahana-wahana itu," ucap Sakura mengendikkan bahunya acuh seraya berlalu meninggalkan Sasuke untuk menuju ke arah parking area, sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatan yang telah ia lakukan terhadap Sasuke.

Sementara Sasuke hanya mampu mendesah lelah seraya menatap nanar ke arah punggung mungil sang gadis musim semi tersebut.

Hah~... Tentu saja tadi Sasuke merasa sangat malas untuk melanjutkan menaiki wahana-wahana itu akibat perutnya yang masih terasa begitu kenyang, karena ia menghabiskan satu porsi makanannya dan separuh porsi makanan yang dipesan oleh Sakura juga. Tsk, Jadi siapa yang salah disini, eh?!

.

.

.

"Moshi-moshi, ada apa Kaa-san?" Salam Sakura menjawab panggilan masuk dari ibunya, Haruno Mebuki.

"Sakura-chan, bisakah kau dan Sasuke-kun membatalkan acara makan malam kalian berdua malam ini?" Pinta Mebuki terhadap putri tunggalnya tersebut.

"Hm, Memangnya kenapa? Kami baru saja membicarakan mengenai restoran yang akan kami kunjungi saat ini, Kaa-san," Sakura mengernyitkan dahinya tidak mengerti akan maksud dari permintaan ibunya tersebut, seraya melirik ke arah Sasuke yang tengah fokus menyetir di sebelahnya.

"Paman Fugaku, Bibi Mikoto dan Itachi-kun baru saja tiba di kediaman kita, dan ibu ingin mengadakan acara makan malam spesial untuk menyambut kedatangan mereka saat ini, bagaimana Sakura-chan?" Ucap Mebuki mengutarakan alasannya kepada Sakura.

"Ah, Aku mengerti Kaa-san. Kalau begitu kami akan segera kembali ke rumah, Ne?" Ucap Sakura menyetujui permintaan ibunya seraya tersenyum tipis.

"Ne, Hati-hati di jalan sayang," pesan Mebuki sebelum benar-benar menutup sambungan telepon mereka.

"Apa yang Mebuki Baa-san katakan?" Tanya Sasuke setelah sebelumnya menyimak percakapan sepihak diantara Sakura dan Mebuki.

"Kaa-san bilang keluargamu sudah datang ke kediamanku dan Kaa-san ingin mengadakan acara makan malam spesial untuk menyambut kedatangan mereka," jawab Sakura seraya memasukkan kembali i-phone-nya ke dalam tas kecil miliknya.

Tampak bibir mungilnya tak henti-hentinya mengulum sebuah senyuman dengan kedua matanya yang tampak berbinar senang. Kedua tangannya pun saling menggenggam dengan gemas di depan dadanya, seolah merasa tak sabar untuk menunggu sesuatu.

"Hn. Kau terlihat sangat senang, eh?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya tatkala mendapati ekspresi kekasihnya saat ini.

"Tentu saja, Sasuke-koi! Aku 'kan sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Aku benar-benar merindukan mereka, kau tahu?!" Jawab Sakura antusias.

"Huh, Bilang saja jika sebenarnya yang kau rindukan itu adalah pangeran masa kecilmu 'kan Hikui?!" Cibir Sasuke seraya mendengus kecil kepada Sakura.

"Tsk, Kenapa tebakanmu itu sangat tepat sekali eh, Sasuke-koi?" Sakura berdecak kagum seraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dan bertepuk tangan kecil ke arah Sasuke, membuat sang Uchiha bungsu itu memutar kedua bola matanya jengah karena sikap Sakura tersebut.

Sasuke kemudian terdiam, sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Sakura yang menurutnya sangat tidak penting dan Sakura pun sama sekali tidak mempedulikan jika Sasuke mengabaikan pujiannya tersebut. Pemuda raven itu pun memutar balik arah mobilnya tatkala mendapati celah taman pembatas jalan untuk menuju ke kediaman Haruno.

"Hah~... Aku berharap jika sikap Itachi-Nii terhadapku masih sama seperti dulu," ucap Sakura memecah keheningan yang beberapa saat lalu menguar diantara dirinya dan Sasuke.

"Aku rasa hal itu akan terlihat menggelikan dengan usia kalian yang sekarang," cibir Sasuke seraya menyeringai mengejek atas ucapan Sakura.

"Aish, Bilang saja jika kau hanya merasa iri terhadapku karena Itachi-Nii lebih memanjakanku daripada adiknya sendiri 'kan?" Ledek Sakura seraya menjulurkan sedikit ujung lidahnya ke arah Sasuke, tak ingin kalah dengan ejekan yang baru saja dilontarkan oleh kekasih raven-nya tersebut.

"Huh, Untuk apa aku merasa iri karena hal semacam itu! Lagipula, aku juga tidak sudi jika harus dimanjakan olehnya. Apa kau lupa jika kini aku sudah memiliki seseorang yang akan selalu memanjakanku kapanpun aku mau, Heh?" Sasuke tersenyum penuh kemenangan seraya membayangkan wajah cantik kekasihnya,Uzumaki Karin, yang entah mengapa tiba-tiba saja berubah menjadi wajah cantik Sakura, membuat sang Uchiha bungsu tersebut tersentak karenanya.

Deg

Sesak! Dada gadis musim semi itu seperti tengah diremas dengan begitu kuat tatkala pemuda Uchiha itu dengan tanpa beban mengatakan hal semacam itu terhadapnya! Tak bisakah bungsu Uchiha itu sedikit melupakan kekasihnya saat tengah menghabiskan waktu bersamanya, eh?

Emerald-nya ia gulirkan ke arah Sasuke, tatapannya terasa begitu dingin namun rapuh. "Aku lupa mengatakan suatu hal kepadamu, Sasuke-kun," ucap Sakura datar.

"Hn?" gumam Sasuke seraya mengangkat sebelah alisnya karena menyadari perubahan nada bicara Sakura. Onyx-nya sedikit melirik ke arah Sakura, karena dalam kondisi menyetir tak memungkinkan Sasuke untuk menatap intens wajah kekasihnya tersebut.

"Selama kau menjadi kekasihku dan selama kau bersama denganku, aku harap kau tidak mengungkit-ngungkit hubunganmu dengan gadis bernama Uzumaki Karin itu. Setidaknya hargailah posisiku saat ini sebagai kekasihmu juga, Sasuke-kun," lirih Sakura seraya mengalihkan pandangannya ke arah samping, menatap pantulan wajah Sasuke pada kaca jendela mobil.

Sakura dapat melihat perubahan ekspresi wajah Sasuke yang tampak begitu terkejut atas ucapannya tersebut.

Tanpa bisa Sakura cegah air mata lolos dari celah matanya dan mengalir pada sisi wajahnya yang tak terlihat oleh sang onyx yang tengah melirik gusar ke arahnya. Sasuke benar-benar dibuat bingung dengan pikiran dan perasaannya sendiri saat ini.

Kenapa ia begitu tidak suka saat Sakura berdekat-dekatan dengan seorang pemuda lain saat di taman bermain tadi?

Kenapa ... kenapa justru wajah Sakura muncul disaat ia tengah memikirkan wajah Karin?

Lalu, kenapa hatinya terasa begitu sakit saat Sakura mengucapkan bahwa ia tak boleh mengungkit hubungannya dengan Karin di hadapan sang gadis musim semi itu?

Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi padanya? Apa yang terjadi pada Sakura?

Sasuke benar-benar bingung dengan semua hal yang telah terjadi hari ini!

.

.

.

Gadis cantik itu tampak terburu-buru ketika membuka pintu mobil Sasuke, begitu mereka telah tiba di halaman depan kediaman Haruno.

Alih-alih menunggu Sasuke turun dari mobil, gadis musim semi itu justru melangkahkan kaki-kaki jenjangnya dengan begitu cepat menuju ke pintu kediaman Haruno, meninggalkan Sasuke yang lagi-lagi masih menatapnya dengan pandangan gusar.

Pikiran pemuda itu masih terpaku pada perkataan terakhir yang diucapkan oleh Sakura beberapa saat yang lalu. Ia bingung dan sama sekali belum menemukan jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikirannya selama dalam perjalanan pulang ke kediaman Haruno.

"Itachi-Niii~..." Seru Sakura ceria seraya melambaikan tangan kanannya kepada Itachi yang tampak tengah berkomunikasi dengan seseorang melalui telepon selulernya.

Sang sulung Uchiha tersebut mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sosok gadis yang tampak berlari kecil ke arahnya. Itachi mengulum sebuah senyuman seraya mengangkat sebelah tangannya yang terbebas untuk sekedar menyapa kedatangan sang gadis musim semi tersebut.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali menghubungimu nanti, Konan. Jaga dirimu baik-baik selama aku berada di sini, aku mencintaimu," ucap Itachi mengakhiri sambungan teleponnya terhadap kekasihnya.

"Aku juga mencintaimu, Itachi-Nii," timpal Sakura yang tak sengaja mendengar ucapan terakhir sang Uchiha bungsu tersebut, seraya menyeringai jahil tatkala dirinya sudah berada tepat di hadapan Itachi.

Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu tampak tertawa renyah mendengar ucapan Sakura tersebut.

"Bagaimana kabar tuan puteri kecilku ini, eh?" Tanya Itachi seraya merangkul Sakura ke dalam dekapan hangat dada bidangnya dan mengecup sekilas dahi lebar sang gadis musim semi tersebut, membuat Sakura tersenyum senang karena harapan akan sifat Itachi yang hangat seperti dulu tak pernah berubah terhadapnya.

"Um, Sedikit tidak menyenangkan, pangeranku. Tapi karena kini aku sudah bertemu denganmu, aku rasa mood-ku akan berubah menjadi lebih baik," ucap Sakura mendongakkan wajahnya ke arah wajah Itachi seraya menunjukkan cengiran lebarnya.

"Hahaha ... Senang mendengarnya kalau begitu," ucap Itachi seraya mengacak gemas surai merah muda Sakura. "Ayo kita masuk! Kaa-san dan Tou-san sudah menunggu kedatanganmu dan Sasuke sedari tadi," ajak Itachi kepada Sakura seraya melepaskan pelukannya dan berganti dengan menggenggam tangan mungil Sakura.

"Hum, Tentu!" Ucap Sakura menyetujui dengan begitu bersemangat seraya merapatkan tubuhnya ke arah Itachi dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada lengan kekar sang sulung Uchiha, membuat hati seseorang yang berjalan tidak jauh di belakang mereka bergemuruh tak nyaman karena menyaksikan keintiman kekasihnya dan kakaknya sedari tadi.

-TBC-

Wahhh~... Hika gak nyangka masih ada yang berkenan buat baca kelanjutan fic gaje ini hiks hiks hiks #nangisterharu :) Review kalian benar-benar buat Hika jadi semangat lagi buat lanjutin fic ini ^^

Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini ^^ #kecupsatu-satu

Salam Hangat,

Hikaru Sora 14

Balasan Review

Shasha: Wahh~... Justru Hika yang harusnya bilang makasih sama Shasha-san ^^ Dengan begitu Hika jadi terdorong untuk melanjutkan fic ini (Hika memang harus agak dipaksa biar otaknya cepat berpikir buat dapat ide untuk chapter selanjutnya Hehe #plakkk)

Sekali lagi makasih banyak yahh karena udha penasaran sama kelanjutan fic ini ^^ Hika sangat terharu Hehe

Sasuke hanya belum menyadari saja perasaannya yang sebenarnya terhadap Sakura ^^ Bersabar yahh Shasha-san ^^ Akan ada saatnya nanti Sakura menemui kebahagiaannya bersama Sasuke Hehe

kyuaiioe: Wahh~... Arigatou Kyuaiioe-san udha R&R ^^ Ini udha lanjut semoga suka ^^

dinda adr: Hehe ... Ne, Hika gak akan hapus kok Dinda-san ^^ Makasih yahh buat dukungannya ^^ Semoga gak bosan dengan ceritanya ^^

azizaanr: Panggil Hika aja, Ne? ^^ Hehe ... Hika usahakan yah buat update gak terlalu lama Azizaanr-san ^^ Soalnya mood menulis suka hilang timbul #plakk

Sebelumnya Makasih banyak udha R&R ^^

Manda Vvidenarint: Wahh~... Makasih udha suka sama jalan ceritanya Manda-san #terharu ^^ ... Ne, Hika usahakan seperti itu ke depannya Hehe ^^ Semoga suka dengan chapter ini ^^

Amanda R Skolaye: #prokprokprok ... Yeayy, iya memang seperti itu Amanda-san Hehe ^^ Sasuke perlu diberi sedikit pelajaran agar menyadari perasaannya terhadap Sakura Kkkk~... ^^ Makasih yahh udha R&R ^^

rereuchiha: Um, Jawabannya ada di beberapa chapter ke depan Rere-san Hehe ^^ Semoga tetap berkenan untuk mengikuti fic ini yahh Hehe #modus ^^ Makasih sebelumnya udha R&R ^^

misakiken: Ini udha lanjut Misakiken-san ^^ Semoga suka, makasih udha R&R ^^

CherryAsta: Hika gak akan banyak-banyak buat moment Sasuke-Karin deh ^^ Karena Hika juga gak suka buatnya #plakkk ^^ Ini udha lanjut, Makasih udha R&R yahh ^^

Prissa Armstrong: Salam kenal juga Prissa-san ^^ Wahh~... gak apa-apa kok, Hika senang Prissa-san berkenan baca fic ini ^^ Maaf gak bisa update kilat Hehe Tapi semoga suka dengan kelanjutannya yahhh #muachhh juga ^^