'You Should be Mine, Sasuke-kun'

Disclaimer: Masashi Kishimoto Sensei

Haruno Sakura x Uchiha Sasuke

Rate: M

Warning: AU, typo, cerita gaje, missing word, OOC dll.

Summary: 'Kenapa kau tidak meminta Itachi-Nii saja untuk menjadi kekasih sementaramu eh, Sakura? Aku rasa kalian terlihat nyaman satu sama lain?/Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga sudah memiliki kekasih? Kenapa kau tak berpikiran hal yang sama terhadapku Hikui?/Aku mengerti. Kalau begitu hubungan kita berakhir sampai disini saja,Sasuke-kun.'

Author by: Hikaru Sora 14

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

"Rupanya kau belum tidur Karin," ucap Naruto seraya mengetuk pelan kepala merah sepupunya yang tengah asyik menonton tayangan televisi di ruang tamu kediaman Uzumaki.

Karin menolehkan wajahnya ke arah Naruto seraya menunjukkan cengiran lebarnya, tatkala pemuda blonde tersebut telah mendudukkan dirinya tepat di sebelahnya.

"Aku belum mengantuk, Naruto-kun. Lagipula, aku sedang menunggu kabar baik darimu," ucap Karin antusias. Kedua manik ruby-nyatampak menatap penuh harap ke arah Naruto.

"Aa," gumam Naruto mengerti maksud dari ucapan sepupunya tersebut. "Berkemaslah! Besok pagi kita akan berangkat ke Jepang," ucap Naruto mengacak gemas surai merah maroon Karin, seraya mengulum sebuah senyuman tipis sarat akan perasaan terluka.

Alih-alih merasa kesal karena Naruto telah menghancurkan tatanan rambutnya. Karin justru balas memeluk erat tubuh putra tunggal pasangan Minato dan Kushina itu, seraya bersorak penuh keceriaan.

"Yeay, Arigatou Naruto-kun!" Pekik Karin seraya mengecup singkat pipi Naruto. "Kau adalah satu-satunya sepupuku yang paling baik dan pengertian, Naruto-kun! Aku sangat mencintaimu," ucap Karin meluapkan perasaan bahagianya saat ini kepada Naruto.

Naruto tampak tertegun atas perbuatan dan perkataan Karin terhadapnya tersebut. Namun, sorot matanya seketika meredup tatkala menyadari bahwa ucapan terakhir Karin tersebut tidaklah bermakna sama dengan apa yang selama ini ia harapkan terhadap perasaan gadis cantik itu.

Kedua tangan kekarnya balas memeluk erat tubuh Karin, seolah tak ingin kehilangan kehangatan yang jarang sekali diberikan oleh sepupunya tersebut.

"Aa. Aku tahu, Karin," ucap Naruto berbisik lirih di telinga Karin.

.

.

.

SASUKE POV

Aku terdiam menatap langit-langit kamar pribadiku setelah beberapa saat yang lalu aku selesai menghubungi sahabat blonde-ku, Naruto Uzumaki. Aku mencoba untuk memejamkan kedua mataku, namun suara berisik yang berasal dari luar kamarku benar-benar sangat menganggu ketenanganku saat ini.

Perlahan aku berjalan ke arah pintu kamar pribadiku selama dua minggu aku tinggal di kediaman Haruno. Melalui lubang kecil yang terdapat pada pintu kamarku, aku mencoba untuk mengintip keadaan di luar sana atau mungkin lebih tepatnya mengawasi keadaan kamar sahabat sekaligus kekasih sementaraku, Sakura, yang memang letaknya berseberangan dengan kamarku ini.

Sejak tadi rasanya telingaku terasa begitu panas mendengar suara-suara tawa nyaring yang bersumber dari kedua orang terdekatku itu, yang saat ini tengah asyik bercengkrama dan bersenda gurau di seberang sana.

Bahkan, setelah aku mengalihkan perhatianku dengan menelepon Naruto pun, sama sekali tak mengubah keadaan hatiku yang terasa begitu kacau karena interaksi yang berakhir kurang menyenangkan antara aku dan Sakura saat pulang dari taman bermain tadi.

Tch, Bagus sekali! Kekasih sementaraku itu benar-benar mengabaikan keberadaanku setelah kehadiran Itachi-Nii disini, eh?

Sejak kepulanganku dan Sakura ke kediaman Haruno, saat acara makan malam berlangsung sampai acara makan malam bersama selesai, Sakura benar-benar tampak menempel erat pada Itachi-Nii! Huh, Aku benar-benar tidak suka diabaikan seperti ini! Terlebih lagi pelakunya adalah kekasihku sendiri dan kakak kandungku.

Seharusnya jika Sakura merasa lebih nyaman bersama dengan Itachi-Nii, lantas kenapa ia justru memintaku untuk menjadi kekasih sementaranya dan tidak meminta Itachi-Nii saja yang menjadi kekasih sementaranya?

Dengan begitu, aku tidak akan merasa bersalah terhadap Karin karena telah berselingkuh dibelakangnya. Benar 'kan?

Namun, entah mengapa memikirkan hal tersebut, membuat perasaan tak nyaman yang menggelayuti hatiku semakin bertambah besar saja. Tsk, Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku sendiri!

Aku menyadari jika perasaan tak nyaman ini selalu muncul tatkala bersinggungan dengan kedekatan Sakura bersama pemuda lain, termasuk kakakku sendiri. Hal ini aku simpulkan dari kejadian tadi siang saat Sakura ditolong oleh seorang pemuda berambut merah di taman bermain, yang namanya tidak begitu jelas aku ingat.

Seharusnya aku merasa senang, karena dengan berdekatan dengan pemuda lain, Sakura mungkin saja akan mendapatkan kekasih dan aku terbebas dari permintaan gilanya itu!

Hanya saja, sebagian dari hati kecilku tampaknya menyangkal semua pemikiranku itu dan menempatkanku dalam posisi yang sulit.

Di satu sisi aku ingin memutuskan status baru yang terjalin di antara aku dan Sakura, karena aku tidak ingin mengecewakan Karin. Namun, di sisi lain ada sedikit perasaan tidak rela jika melihat Sakura berdekatan dengan pemuda lain.

Jujur saja aku baru pertama kali merasakan hal semacam ini. Bahkan ketika Karin berdekat-dekatan dengan pemuda lain, seperti Naruto, Suigetsu dan Juugo, perasaanku tenang-tenang saja. Tapi, kenapa hatiku terasa bergemuruh tak nyaman jika itu menyangkut tentang Sakura?

Tsk, Sebenarnya apa yang sudah dilakukan gadis pendek itu padaku, sampai-sampai aku tak bisa berhenti memikirkannya?! Bahkan kami baru bertemu kembali hari ini dan dia benar-benar sukses membuat perasaan dan pikiranku kacau balau.

Aku fokuskan lagi salah satu onyx-ku untuk mengawasi Sakura dan Itachi-Nii di seberang sana. Mereka benar-benar tampak dalam keadaan yang ceria, sungguh berbanding terbalik dengan suasana hatiku saat ini!

Kali ini aku melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kiriku dan aku cukup tercengang mengetahui bahwa waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Huh, Mau sampai kapan mereka mengobrol seperti itu terus? Sepertinya aku harus mengingatkan mereka!

Segera saja aku memutar kenop pintu kamar pribadiku dan membuka pintu itu secara perlahan-lahan. Spontan, aku pun langsung menyandarkan punggungku pada daun pintu kamarku seraya menyilangkan kedua tanganku dengan angkuh di depan dada.

Aku pun berdeham agak keras karena sepertinya mereka sama sekali tidak menyadari keberadaanku disini.

"Apa aku mengganggu acara kalian?" Tanyaku sinis seraya mengukir sebuah seringaian tipis yang aku tujukan kepada Sakura dan Itachi-Nii, yang mulai memberikan atensinya terhadapku.

Aku dapat melihat ekspresi kebingungan di wajah cantik Sakura tatkala mendapati aura yang kurang menyenangkan menguar dari tubuhku.

"Hn. Tentu saja tidak. Ada apa Sasuke?" Tanya Itachi-Nii tenang seraya mengulum sebuah senyuman ke arahku.

"Hn. Aku rasa kau cukup mengerti untuk tidak tinggal lebih lama lagi di dalam kamar seorang gadis saat malam semakin bertambah larut, Itachi Nii-san," ucapku seraya mengangkat tangan kiriku dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kananku pada kaca jam tanganku.

Spontan, Itachi-Nii langsung melirik ke arah jam tangan miliknya sendiri. Begitupun dengan Sakura yang ikut melihat jam dinding kamarnya. Ekspresi keterkejutan sekilas tergambar pada wajah keduanya, sebelum akhirnya tergantikan oleh suara tawa lepas yang menguar dari bibir keduanya, membuat aku kesal karenanya.

Huh, Apanya yang lucu?

"Astaga! Kita berdua terlalu asyik mengobrol dan bercanda, sampai-sampai lupa waktu seperti ini, Sakura," Itachi-Nii tampak mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu puas tertawa.

"Um, Kau benar, Itachi-Nii. Habisnya kau itu orang yang sangat menyenangkan! Aku jadi merasa nyaman untuk menghabiskan waktu bersamamu seperti ini," tsk, kata-kata Sakura ini semakin menyulut emosiku saja.

Seharusnya saat ini Sakura menghabiskan waktu malamnya bersamaku, karena waktu yang kami miliki sebagai sepasang kekasih tidaklah banyak? Bukankah tadi pagi Sakura juga mengatakan hal seperti itu? Lantas, kenapa justru ia sendiri yang menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang kami miliki saat ini?

"Hahaha ... Kau bisa saja, Sakura," Itachi-Nii beranjak dari ranjang queen size milik Sakura. "Baiklah, kita lanjutkan obrolan kita lain kali, oke?" Itachi-Nii mengetuk pelan dahi lebar Sakura, persis seperti yang selalu ia lakukan terhadapku untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya.

"Tentu," timpal Sakura seraya mengerlingkan sebelah matanya dengan jenaka kepada Itachi-Nii. Huh, Sakura terlihat kekanak-kanakkan sekali bukan?

Itachi pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sakura dan berjalan menghampiriku yang masih setia berdiri di depan kamar Sakura.

"Sebelumnya terima kasih karena telah mengingatkan kami, Sasuke," Itachi menepuk pelan pundak kiriku seraya tersenyum tipis. "Selamat malam," salam Itachi sebelum benar-benar pergi dari hadapanku.

"Hn," gumamku datar seraya menatap ke arah perginya kakak sulungku tersebut. Nah, saatnya memberikan pelajaran kepada kekasih sementaraku itu!

.

.

.

"Puas bersenang-senang bersama pangeran masa kecilmu itu, Hikui?" Sindirku seraya menyeringai sinis ke arah Sakura, setelah sebelumnya aku menutup pintu kamar pribadi Sakura.

"Ya, begitulah. Kau bisa melihatnya sendiri tadi 'kan, Sasuke-kun?" Sakura mengulum senyuman manisnya yang tampak seperti dibuat-buat kepadaku. Ah, Sepertinya ia belum bisa melupakan kejadian kurang menyenangkan saat perjalanan pulang tadi, eh?

"Hn. Tentu saja, kau dan Itachi-Nii puas bersenang-senang sampai-sampai kalian pun mengabaikan keberadaanku sedari tadi," Sakura tampak mengernyitkan dahinya dalam mendengar perkataanku dengan nada yang kurang bersahabat.

"Hm, Ada apa denganmu Sasuke-kun?" Tanya Sakura bingung, begitu aku sudah mendudukkan diriku tepat di hadapannya, di atas ranjang pribadi Sakura.

"Kau tahu, kalian berdua tampak terlihat begitu serasi seperti sepasang kekasih jika tengah bersama seperti tadi," alih-alih menjawab pertanyaan Sakura, aku justru kembali melontarkan kalimat sindiranku dengan nada kekaguman yang aku buat-buat didalamnya.

"Apa maksudmu?!" Emerald indah Sakura tampak mendelik tajam ke arahku. Tapi itu sama sekali tak membuatku gentar untuk melayangkan sindiran-sindiran lain yang akan semakin memojokkannya. Ya, itulah balasan karena telah mengabaikan keberadaanku, Uchiha Sasuke.

"Kenapa kau tidak meminta Itachi-Nii saja untuk menjadi kekasih sementaramu? Aku rasa kalian terlihat nyaman satu sama lain," Ucapku dengan berani mengutarakan pemikiran yang tadi sempat terlintas di kepalaku, sekalipun mulutku terasa begitu kurang nyaman saat mengatakan hal tersebut.

Sakura tampak membulatkan kedua mutiara hijau indahnya setelah mendengar kata-kataku tersebut.

"Tsk, Sebenarnya apa maksudmu berkata seperti itu, Sasuke-kun?! Aku hanya menganggap Itachi-Nii sebagai seorang kakak, tidak lebih! Lagipula, Itachi-Nii sudah memiliki kekasih, bodoh!" Sakura melakukan pembelaan karena sepertinya ia tidak terima dengan kata-kata yang baru saja aku ucapkan terhadapnya.

Seringaian sinis kembali terukir di wajahku. "Hn. Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga sudah memiliki kekasih? Kenapa kau tak berpikiran hal yang sama terhadapku, Hikui?" Onyx-ku menatap penuh tuntutan dan keseriusan kepada kekasih sementaraku itu, yang semakin menguarkan aura ketegangan dari tubuhnya.

Lagipula, aku juga merasa penasaran dengan alasan Sakura yang tiba-tiba saja memintaku sebagai kekasih sementaranya tadi pagi. Sakura baru saja mengatakan jika ia tidak memilih Itachi-Nii karena ia sudah menganggap Itachi-Nii sebagai seorang kakak, tidak lebih.

Apa itu artinya ... Sakura memilihku karena sebenarnya ia memiliki perasaan lebih dari sekedar hubungan kami sebagai seorang sahabat?

Lantas jika dugaanku itu memang benar, apa yang nanti akan aku lakukan terhadap Sakura?

"Aku mengerti," suara Sakura terdengar begitu lirih, yang entah mengapa seketika saja menghantarkan perasaan tidak enak ke dalam relung hatiku.

Sakura memutuskan kontak mata kami dan menundukkan kepalanya ke arah bawah, sebelum akhirnya gadis merah muda itu kembali mengangkat wajahnya dan mengucapkan kalimat yang membuat lidahku kelu seketika.

"Kalau begitu hubungan kita berakhir sampai disini saja Sasuke-kun," putus Sakura tiba-tiba seraya tersenyum tenang ke arahku.

Deg!

Astaga! Kenapa hatiku terasa seperti tersengat arus listrik setelah mendengar keputusan Sakura tersebut?

Kejadian ini sama sekali diluar perkiraanku. Aku hanya ingin mengetahui alasan Sakura memilihku sebagai kekasih sementaranya dan aku tidak bermaksud meminta Sakura untuk mengakhiri hubungan kasih sementara kami. Sepertinya Sakura sudah salah paham!

"Urusan kita sudah selesai 'kan, Sasuke-kun? Kalau begitu, kau bisa kembali ke kamarmu," ucapan Sakura berhasil membawaku pada kenyataan yang tengah aku hadapi saat ini.

"Sakura, ak-..." aku terpaksa menghentikan ucapanku karena ternyata Sakura telah terlebih dahulu bersembunyi, mengubur seluruh tubuhnya di balik selimut tebal miliknya. Sepertinya Sakura tengah berusaha untuk menghindariku malam ini.

Hah~... Aku sudah membuat keadaan menjadi semakin kacau! Mungkin besok aku akan berbicara baik-baik kepada Sakura, membujuknya agar tidak marah dan tidak bersikap menghindariku seperti ini karena aku tidak suka jika Sakura bersikap mengabaikanku, baik itu sebagai sahabat maupun sebagai kekasih sementaranya.

"Selamat malam Hikui. Beristirahatlah dengan baik," pesanku kepada Sakura, sebelum aku benar-benar pergi dari kamar bernuansa musim semi itu dengan berbagai macam hal yang membebani pikiranku.

END OF SASUKE POV

.

.

.

SAKURA POV

Dering ponselku bergema di setiap sudut kamar kesayanganku ini, mengusik indera pendengaranku seolah memaksaku untuk terbangun dari kegiatan tidurku yang tidak tenang sejak semalam.

Ya, kejadian semalam benar-benar membuatku shock. Perkataan Sasuke-kun yang dengan begitu mudahnya membalikkan alasanku yang tak memilih Itachi-Nii sebagai kekasih sementaraku, benar-benar membuatku tak berkutik karenanya.

Aku pikir Sasuke-kun tengah merasa cemburu terhadap Itachi-Nii, karena aku dapat merasakan aura yang sama menguar dari tubuh Sasuke-kun tatkala dirinya mendapati diriku bersama pemuda yang menolongku tadi siang di taman bermain.

Dan rupanya dugaanku salah besar karena ternyata Sasuke hanya tengah berusaha untuk lepas dari status baru kami-yang memang sebelumnya tidak ia kehendaki-dengan cara memanfaatkan keintiman yang terjalin diantara aku dan Itachi-Nii!

Huh, Ternyata ia pintar juga untuk mencari alasan agar terlepas dari permintaan gilaku itu!

Semalam aku memang memutuskan untuk mengalah dan akhirnya memutuskan ikatan kasih diantara kami yang terbilang sangat singkat itu. Aku benar-benar tidak dapat berpikir jernih dalam keadaan tersudut seperti semalam.

Namun, bukan berarti aku menyerah untuk merebut Sasuke-kun dari kekasihnya itu-entah siapa namanya, aku malas untuk mengingatnya-dan menjadikan Sasuke-kun milikku seutuhnya.

Ya, aku harus mencari cara lain untuk membuat Sasuke jatuh hati padaku dan berpaling dari gadis merah itu.

"Moshi-moshi," sahutku malas-malasan menjawab panggilan telepon yang masuk ke ponselku, entah itu siapa karena aku terlalu malas untuk melihat nama si pemanggil telepon.

"Astaga Sakura! Kenapa lama sekali kau mengangkat telepon dariku, Hah?!" Ya ampun, telingaku terasa berdengung karena suara teriakan yang berasal dari sahabat blonde-ku ini! Tsk, Tak bisakah Ino berkata sedikit tenang kepadaku yang tengah berada dalam keadaan terpuruk ini?!

"Tsk, Berisik Ino! Ada keperluan apa kau meneleponku pagi-pagi seperti ini?" Tanyaku to the point kepada Ino seraya menguap lebar, yang pastinya terdengar jelas oleh Ino dari seberang sana. Tsk, Aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak semalaman!

"Kami-sama! Kau baru bangun, Sakura? Jangan katakan, jika kau lupa dengan acara liburan kita hari ini?" Tanya Ino dengan nada suara yang terdengar horor di telingaku, seakan tidak percaya jika aku melupakan acara liburan bersama teman-temanku hari ini yang sebelumnya telah kami rencanakan jauh-jauh hari.

Tentu saja aku tidak melupakannya. Bahkan sebelumnya, aku berniat mengajak Sasuke-kun untuk ikut acara liburan bersama ke Water Park Indoor, Seagaia Ocean Dome di Miyazaki.

Namun, sayangnya kejadian tadi malam tidak memungkinkanku untuk mengajak Sasuke-kun pergi bersama ke sana hari ini dan membuatku melupakan persiapan yang seharusnya aku lakukan tadi malam.

Hah~... Terpaksa aku harus pergi tanpa Sasuke-kun dan menyiapkan semua keperluan berenangku secara dadakan pagi ini.

"Hm, Tentu saja aku tidak lupa tentang acara liburan kita hari ini, Ino! Hanya saja aku lupa mempersiapkan keperluan berenangku," ucapku tenang menjawab pertanyaan Ino.

"Tsk, Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus siap dalam waktu lima belas menit karena aku dan Sai sudah setengah perjalanan menuju kediamanmu!" Tegas Ino kepadaku yang sukses membuatku kalang kabut.

"Hei, Kau tak membiarkanku untuk mandi terlebih dahulu, Ino?!" Protesku kepada Ino seraya beranjak dari ranjang pribadiku.

"Itu'kan salahmu, sayang. Bye~..." Ucap Ino dengan nada lembut yang terdengar dibuat-buat di telingaku. Ino mengakhiri sambungan telepon kami secara sepihak, tanpa memberikanku kesempatan untuk melayangkan kembali protes kepadanya.

Huh! Sepertinya aku harus melewatkan kegiatan mandi pagi hari ini. Yah, Mencuci muka dan menggosok gigi saja sepertinya sudah cukup bagiku. Lagipula, bukankah nanti aku akan bermain sepuas-puasnya di dalam air. Jadi, tidak masalah jika aku tidak mandi terlebih dahulu, bukan?

Aku pun bergegas pergi ke kamar mandi dan segera mempersiapkan keperluan yang aku butuhkan untuk acara liburan hari ini.

END OF SAKURA POV

.

.

.

"Hn. Maaf aku tidak bisa menjemputmu dan Naruto di bandara nanti malam, Karin," ucap Sasuke sedikit menyesal kepada Karin seraya menutup pintu kamar pribadinya.

Pasalnya, Sasuke tidak memiliki mobil pribadi untuk menjemput kekasihnya dan Naruto di bandara nanti malam. Tentu saja, karena Sasuke meninggalkan mobil pribadinya di kediaman Uchiha yang berada di Amerika. Kemarin saja, Sasuke dan Sakura menggunakan mobil pribadi Sakura untuk pergi berjalan-jalan seharian.

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Lagipula, aku 'kan bersama Naruto, jadi kau tak perlu khawatir," Karin menyahuti perkataan Sasuke dengan penuh pengertian.

"Hn. Kalau begitu berhati-hatilah, Karin," pesan Sasuke seraya menatap penuh arti ke arah pintu kamar kekasih sementaranya, Sakura.

Ah, Mungkin yang kau maksud adalah mantan kekasihmu, Sasuke! Jika kau ingat bahwa kemarin malam Sakura telah memutuskan hubungan kalian.

"Tentu, sampai bertemu besok, Sasuke-kun," ucap Karin megakhiri panggilannya dengan ceria.

"Hn," Sasuke pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeans-nya.

Perlahan, Sasuke melangkahkan kaki kekarnya ke arah pintu kamar Sakura. Rasa penasaran terhadap keadaan Sakura menggelayuti pikirannya saat ini. 'Apakah Sakura baik-baik saja?' Tanya Sasuke khawatir di dalam hati.

Tangannya terulur untuk memutar kenop pintu dan tanpa ragu membuat sedikit celah terbuka untuk mengamati keadaan di dalam kamar bernuansa musim semi itu.

Dahinya mengernyit heran tatkala kedua onyx-nyamendapati keadaan ranjang Sakura yang telah kosong dan tampak rapi. 'Hn. Kemana dia? Apa dia sudah bangun dan tengah bergabung bersama keluarganya dan keluargaku di meja makan?'

Mencoba untuk memastikan dugaannya, Sasuke pun bergegas menutup pintu kamar Sakura dan berjalan ke arah anak tangga untuk turun ke lantai satu kediaman Haruno.

"Ohayou, Sasuke-kun," sapa Mikoto lembut kepada putra bungsunya yang baru saja tiba di ruang makan. Sementara itu, Mebuki yang tengah sibuk menata lauk pauk di atas meja makan, hanya tersenyum tipis mendapati kedatangan Sasuke.

"Ohayou Kaa-san," balas Sasuke seraya mengecup singkat pipi putih ibunya. "Dimana Sakura, Bi?" Tanya Sasuke penuh penasaran kepada Mebuki, karena tak juga mendapati Sakura diantara keluarganya dan keluarga Sakura, yang tengah berkumpul di meja makan.

"Sakura? Ah, Apa sebelumnya Sakura tidak memberitahumu jika hari ini ia dan teman-temannya akan pergi ke Seagaia Ocean Dome di Miyazaki, Sasuke-kun? Baru saja Sakura berpamitan kepada kami semua," Mebuki tampak mengerutkan keningnya bingung ke arah Sasuke.

Mengingat hubungan persahabatan Sakura dan Sasuke yang sangat dekat, tidak mungkin jika Sakura tidak memberitahu Sasuke akan kepergiannya bersama teman-temannya hari ini 'kan?

"Hn. Tidak Bi. Sakura sama sekali tidak memberitahuku tentang hal ini," Sasuke berusaha untuk berkata setenang mungkin kepada Mebuki, meskipun saat ini perasaannya tengah bergejolak panas mengetahui kenyataan bahwa Sakura pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. 'Tch, Apa dia sengaja menghindariku secara terang-terangan dengan memilih pergi bersama teman-temannya?!'

"Ah, Mungkin Sakura lupa untuk memberitahumu, Sasuke-kun. Sekarang lebih baik kita semua segera sarapa-..."

"Paman, bolehkah aku meminjam mobil milikmu?" Tanya Sasuke tiba-tiba memotong ucapan Mebuki.

"Sasuke! Tidak sopan menyela perkataan orang tua seperti itu!" Tegur Fugaku tegas kepada Sasuke, membuat semua orang yang berada di meja makan tersentak karenanya.

"Maafkan aku, Tou-san," ucap Sasuke penuh penyesalan seraya menundukkan kepalanya singkat ke arah Fugaku. "Maafkan aku, Mebuki Baa-san," Sasuke melakukan hal yang sama seperti yang baru saja ia lakukan terhadap Fugaku.

Kizashi terkekeh pelan seraya menepuk pelan bahu sahabatnya, Fugaku. "Tidak apa-apa Fugaku. Jangan memarahi Sasuke-kun seperti itu. Lagipula, istriku juga tidak merasa tersinggung karena perbuatan Sasuke, Ne Hime?"

Mebuki tampak menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Kizashi seraya mengulum sebuah senyuman tipis ke arah suaminya dan Fugaku.

"Memangnya ada keperluan apa kau ingin meminjam mobil Paman, Sasuke-kun?" Tanya Kizashi meminta alasan Sasuke yang tiba-tiba ingin meminjam mobilnya.

"Aku ingin menyusul Sakura, Paman," dan jawaban tegas Sasuke tersebut sukses menciptakan raut tanda tanya pada wajah setiap orang yang berada disana.

.

.

.

The Seagaia Ocean Dome merupakan water park indoor terbesar di dunia, yang terletak di Miyazaki, Kyushu Island Jepang. Di tempat ini, semua pengunjung akan merasakan keindahan suasana sebuah pantai pasir putih murni seperti surga di musim panas.

Selain itu, suhu air di dalam pantai buatannya dijaga stabil pada suhu sekitaran dua puluh delapan derajat Celcius, sehingga para pengunjung dapat menikmati air yang hangat meskipun cuaca di luar dingin.

Para pengunjung juga akan dibuat takjub oleh keindahan interior langit-langitnya yang menampilkan warna biru cerah, persis seperti langit sungguhan.

Semua orang tampak bersenang-senang menikmati liburan musim semi mereka disini, hanya saja sepertinya kesenangan itu sama sekali tidak dirasakan oleh gadis musim semi ini, eh?

"Kau tidak berniat menghabiskan waktu disini hanya dengan melamun saja 'kan, Sakura? Kenapa tidak bergabung bersama yang lain?" Tanya pemuda bersurai merah bata itu kepada gadis musim semi yang tengah duduk memeluk kedua kakinya di atas pasir buatan seraya memandang kosong ke arah pantai buatan Seagaia Ocean Dome.

"Ah, Gaara-san," Sakura mengalihkan perhatiannya ke arah datangnya suara baritone yang berhasil membuyarkan lamunannya seraya tersenyum tipis ke arah pemuda tampan yang kini mendudukkan dirinya di sebelahnya.

Ya, pemuda tampan itu adalah Gaara yang menolongnya kemarin saat Sakura akan terjatuh dari tangga wahana roller coaster di Disneyland. Dan ternyata Gaara merupakan adik bungsu dari kekasih Shikamaru-salah satu sahabatnya-yang bernama Temari, yang sejak kemarin memang sengaja berlibur di Konoha. Ah, Benar-benar suatu kebetulan bisa bertemu dengan Gaara lagi hari ini.

Hm, Apakah kau yakin jika pertemuanmu dengan Gaara adalah suatu kebetulan semata, Sakura? Entahlah, hanya Kami-sama yang mengetahui bagaimana ikatan diantara keduanya akan berkembang ke arah mana nantinya.

"Hn. Panggil Gaara saja," ucap Gaara datar seraya menyodorkan sekaleng soda ke arah Sakura.

Sakura tampak mengernyitkan keningnya dalam. Rasa-rasanya Sakura begitu familiar dengan sikap dan nada bicara seperti yang dilakukan oleh Gaara.

Ah, Tentu saja Sakura merasa familiar! Bukankah sahabatnya-Uchiha Sasuke-juga memiliki perangai yang mirip dengan pemuda bernama Gaara ini.

Sakura terkekeh pelan tatkala menyadari hal tersebut. Diraihnya kaleng soda dari tangan kanan Gaara. "Sankyu Gaara-kun," ucap Sakura tersenyum tulus setelah sebelumnya membuka tutup kaleng soda tersebut dan sedikit meminum isinya.

"Aa," gumam Gaara singkat seraya balas tersenyum tipis ke arah Sakura. Gaara pun turut membuka kaleng soda miliknya dan meminum isinya dengan tenang. "Hei, Kenapa kau tidak mengajak kekasihmu itu? Aku kira kekasih protektif semacam dia tidak akan dengan mudah membiarkanmu pergi sendirian bersama teman-temanmu seperti ini," tanya Gaara yang menyadari adanya tatapan iri dari kedua iris emerald milik Sakura tatkala gadis musim semi itu menatap ke arah teman-temannya, yang tengah bersenang-senang bersama kekasih mereka masing-masing.

Tampak Sai dan Ino yang tengah bermain kejar-kejaran dengan begitu romantis di tepi pantai buatan Seagaia Ocean Dome. Di sisi lain, tampak Neji mengajari dengan sabar adik sepupunya yang juga merupakan tunangannya-Hinata Hyuuga-untuk belajar berenang karena memang di sekolah Hinata tidak terlalu mahir di bidang olahraga.

Sementara itu, Shikamaru dan Temari pun tampak asyik ber-surfing ria, mencoba menaklukan ombak buatan Seagaia Ocean Dome. Sungguh tak disangka jika pemuda pemalas dengan tingkat kecerdasan otak diatas rata-rata itu menyukai kegiatan menantang seperti itu!

"Hm, Dia sedang sibuk," jawab Sakura acuh seraya mengendikkan bahu mungilnya. "Lagipula, kenapa kau bisa menyimpulkan jika kekasihku itu adalah tipe kekasih yang protektif, Gaara-kun?" Tanya Sakura penuh rasa penasaran kepada Gaara.

Benarkah jika Sasuke bersikap begitu protektif terhadapnya? Tapi, bukankah Sasuke sama sekali tidak menginginkan hubungan kasih mereka yang hanya terjalin satu hari kemarin?

"Hn. Aku bisa langsung menilai sifat seseorang meski hanya dengan sekali pertemuan saja," ucap Gaara seraya mengulum sebuah senyuman yang tampak menyempurnakan wajah rupawannya. "Lagipula, siapapun yang melihat sikap kekasihmu kemarin pasti akan berpikiran sama denganku. Sikap protektif kekasihmu itu sangat terlihat mencolok sekali, kau tahu?"

"Aa~... Aku bahkan tidak yakin akan hal itu, Gaara-kun," gumam Sakura ragu seraya menyanggakan dagu mungilnya pada lipatan kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lutut kakinya. Tampak gurat kesedihan terukir di wajah cantik gadis musim semi itu.

"Hn. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!" Tanpa sadar Gaara menepuk pelan pucuk kepala Sakura, berusaha untuk menghibur gadis bubble gum tersebut. Ya, Gaara memahami jika ada yang tidak beres dalam hubungan Sakura dan kekasihnya saat ini, entah apa itu. "Bagaimana jika kita bersenang-senang sekarang?" Gaara bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Sakura.

Sakura mendongak dan menatap kedua jade milik Gaara yang terasa begitu hangat menatapnya. Tanpa sadar, Sakura tersenyum tipis seraya meraih tangan kanan pemuda bersurai merah bata tersebut.

"Kita mau bermain apa, Gaara-kun?" Tanya Sakura kepada Gaara yang tengah menuntun langkahnya di depannya. Tangan mereka masih saling bertautan, karena merasa tak ingin kehilangan satu sama lain di tengah keramaian manusia yang memenuhi Seagaia Ocean Dome ini.

"Hn. Kita akan mencoba itu, Sakura," ucap Gaara menoleh ke arah Sakura seraya menunjuk water slide dengan dekorasi gunung meletus yang terlihat begitu mengagumkan.

Sakura pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Gaara. Dan seketika sebuah senyum keantusiasan terukir jelas pada wajah cantik sang gadis musim semi tersebut.

.

.

.

"Kau yakin tidak ingin duduk di bagian depan, Sakura?" Tanya Gaara mencoba memastikan keputusan Sakura yang lebih memilih duduk di bagian belakang ban seluncur yang berbentuk seperti angka delapan itu.

"Aa~... Mungkin aku akan mencoba untuk duduk di bagian depan setelah ini," ucap Sakura menunjukkan cengiran lebarnya seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, membuat Gaara mendengus geli karenanya.

"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita mulai!" Gaara segera mendudukkan dirinya pada ban seluncur bagian depan, diikuti oleh Sakura yang duduk pada ban seluncur bagian belakang.

Gaara memberikan kode kepada petugas yang berjaga disana untuk segera mendorong ban seluncur mereka. Dan dalam hitungan detik, ban seluncur mereka telah meluncur pada arena water slide yang begitu memacu adrenalin keduanya.

Suara teriakan dan suara tawa akan kepuasan, menguar dengan begitu lepas dari bibir keduanya. Ya, setidaknya Sakura dapat bersenang-senang dan sedikit melupakan masalahnya dengan Sasuke.

.

.

.

"Cepatlah Sai-kun! Aku ingin segera bermain water slide dengan dekorasi gunung meletus itu!" Ucap Ino tidak sabaran seraya menarik paksa tangan kekasihnya agar berjalan dengan lebih cepat lagi.

"Sabarlah Ino!" Ucap Sai seraya berusaha menyeimbangkan irama langkah kakinya dengan irama langkah kaki kekasihnya yang terbilang cukup cepat. "Hei, awas!"

Bugh

"Ugh~..." Rintih Ino yang terjatuh karena tubuhnya baru saja bertabrakan dengan seseorang.

"Kau baik-baik saja, Ino?" Tanya Sai penuh kekhawatiran kepada kekasih blonde-nya tersebut.

"Hei, Apa kau tidak lihat jika kami berdua tengah berja-... Eh, Kau ... Uchiha Sasuke 'kan?!" Ino tidak meneruskan kata-kata protesnya tatkala menyadari jika seseorang yang menabrak dirinya adalah sahabat Haruno Sakura-Uchiha Sasuke-pemuda yang selama ini selalu Sakura ceritakan kepadanya.

'Sedang apa Uchiha Sasuke ada disini? Bukankah dia tinggal di Amerika? Tsk, Haruno Sakura! Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku nanti!' Gerutu Ino di dalam hatinya.

"Hn. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Alih-alih meminta maaf, Sasuke justru bertanya kepada Ino seraya mengangkat sebelah alisnya ke atas. Kedua onyx-nya tampak meneliti ke arah Ino dan Sai. Namun, sayangnya Sasuke sama sekali tidak ingat jika dirinya pernah bertemu dengan kedua orang yang kini telah berdiri di hadapannya.

"Um, Tidak. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, Sasuke-san," ucap Ino yang mempertegas ingatan Sasuke bahwa dirinya memang tidak pernah bertemu dengan Ino.

Kali ini Sasuke mengernyitkan keningnya bingung. Lantas, kenapa gadis itu mengetahui namanya, eh?

Seolah dapat membaca raut kebingungan pada wajah pemuda di hadapannya, Ino pun spontan memberikan penjelasan mengapa ia mengetahui nama Sasuke.

"Aku tahu namamu dari sahabat baikku, Haruno Sakura," ucap Ino seraya tersenyum penuh arti ke arah Sasuke.

Ino merupakan teman curhat terbaik yang dimiliki oleh Sakura. Tidak ada yang tidak Ino ketahui tentang Sakura, karena gadis musim semi itu selalu bersikap terbuka terhadapnya, termasuk menceritakan tentang perasaan cinta bertepuk sebelah tangan yang dimiliki oleh Sakura terhadap sahabat masa kecilnya, Uchiha Sasuke.

Sekilas Ino dapat melihat raut keterkejutan pada wajah tampan Sasuke tatkala dirinya menyebutkan nama Sakura, sebelum akhirnya pemuda itu kembali memasang wajah datarnya.

"Hn. Lalu apa kau mengetahui dimana sekarang dia berada, Nona?" Tanya Sasuke meminta petunjuk keberadaan Sakura kepada Ino.

"Tentu! Aku bahkan berniat untuk pergi bersama kekasihku dan menyusul Sakura ke water side dengan dekorasi gunung meletus yang berada disana, jika saja kau tidak menabrakku tadi," jawab dan keluh Ino disaat yang bersamaan kepada Sasuke.

Ya, sebelumnya Ino sempat melihat Sakura yang pergi bersama Gaara ke arah water side gunung meletus yang berada di bagian paling ujung dari pantai buatan Seagaia Ocean Dome ini.

"Dan sepertinya saat ini Sakura tengah bersenang-senang bersama Gaara-kun, bukan begitu Sai-kun?" Ino mencoba untuk menggoda Sasuke dan melihat bagaimana reaksi dari sahabat Sakura itu.

Sedikitnya Ino ingin membantu Sakura untuk mengetahui bagaimana perasaan pemuda Uchiha itu terhadap gadis musim semi itu. Ya, Ino juga tidak tega membiarkan Sakura terus menerus bertahan dalam perasaan cinta sepihaknya terhadap Sasuke.

Sasuke kembali mengernyit saat nama Gaara terlontar dari bibir Ino. Sepertinya ia tidak asing dengan nama itu.

"Ya, aku rasa mereka cocok jika menjadi sepasang kekasih. Merah dan merah muda, menurutku tidak terlalu buruk," ucap Sai jujur seraya mengulum sebuah senyuman tipis ke arah Ino.

Dan perkataan dari Sai kali ini berhasil memicu gelombang emosi pemuda berambut raven tersebut. Rahang tegasnya tampak mengeras. Sorot kedua onyx-nya semakin tajam, memancarkan suatu rasa kebencian yang terlihat begitu kentara sekali. Kedua tangannya pun tampak terkepal dengan begitu kuat pada kedua sisi tubuhnya.

Aura tubuh Sasuke berubah menjadi tidak bersahabat tatkala menyadari jika pemuda bernama Gaara yang dimaksud oleh Ino adalah pemuda yang telah menolong Sakura kemarin di taman bermain Disneyland.

Tanpa berniat untuk melanjutkan pembicaraan dengan Ino dan Sai, Sasuke pun membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi ke tempat dimana Sakura tengah bersenang-senang bersama pemuda bersurai merah itu.

Sasuke tidak dapat membayangkan apa yang akan ia lakukan nantinya, setelah ia bertemu dengan Sakura dan Gaara. Mengingat bagaimana sikapnya yang begitu menyebalkan tadi malam tatkala mendapati kedekatan Sakura bersama Itachi, yang mengakibatkan putusnya hubungan kasih sementaranya dengan Sakura.

Ah, rupanya kau ingat jika hubungan kasihmu dengan Sakura sudah berakhir eh, Sasuke?

Sementara itu, Ino tampak menyeringai penuh kepuasan mendapati reaksi Sasuke yang sesuai dengan harapannya. Pemuda Uchiha itu cemburu!

.

.

.

"Hahaha ... Menyenangkan sekali Gaara-kun!" Sakura tertawa riang setelah dirinya dan Gaara terhempas dari arena water slide ke dalam kolam renang. Gaara hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Sakura seraya mengacak-ngacak rambut merahnya yang basah kuyup. "Ayo, kita lakukan untuk kedua kalinya, Gaara-kun!" Ajak Sakura bersemangat seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Gaara, membuat Gaara terkekeh geli karenanya.

Tangan mungil Sakura menggapai tangan kekar Gaara dan menuntun pemuda itu untuk mengikutinya berjalan keluar dari kolam renang, bermaksud untuk kembali menaiki undakan tangga yang akan membawa mereka pada puncak water slide gunung meletus ini.

Namun, sayangnya belum sempat mereka sampai di depan undakan tangga tersebut, tubuh Gaara telah terlebih dahulu tertarik dan terhuyung ke belakang.

Dan tanpa sempat memahami keadaan yang tengah terjadi saat ini, sebuah pukulan keras telah melayang bebas meninju wajah tampan Gaara, menyebabkan pemuda bersurai merah bata itu jatuh terjengkal di atas pasir dengan salah satu sudut bibirnya yang tampak mengeluarkan darah.

"GAARA-KUN!" Teriakan histeris penuh kekhawatiran Sakura yang memanggil nama pemuda lain selain namanya, entah mengapa membuat hati pemuda raven itu terasa begitu sesak.

-TBC-

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Hah~... Akhirnya Hika bisa menyelesaikan chapter ini XD Senangnya~... meskipun Hika gak yakin bagus atau gak ceritanya Hehe

Maaf ya klo semakin aneh ceritanya dan banyak bertele-tele, tapi Hika selalu berharap kalian akan suka dengan kelanjutannya #wink

Yosh, Hika gak akan bosan-bosan buat bilang terima kasih kepada kalian semua, readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini XD

Dan Hika juga berharap kalian gak akan bosan untuk R&R fic ini yahhhh~... Karena itu akan menjadi sumber utama semangat Hika untuk melanjutkan fic ini #plakkk

Yosh, selamat membaca~... XD

Salam Hangat,

Hikaru Sora 14.

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Balasan Review

exofujo12: Maaf Hika baru bisa update lagi exo-san ^^ Huwaa, makasih yah udha bilang seperti itu #nangisterharu Yosh, kalau begitu jangan ketinggalan lagi yahh buat baca kelanjutannya exo-san #wink Hehe Makasih banyak udha berkenan R&R #muachh

Prissa Armstrong: Hika juga bingung sama perasaan sebenarnya Papa Sasu ke Mama Saku #plakk Maafkan kelabilan Hika yang tertular pada Papa Sasu yahh Prissa-san #puppyeyes Yosh, Pastinya Hika banyakin buat moment Papa Sasu cemburu sama Mama Saku #wink Aaaa~... Makasih banyak buat pengertian dan semangatnya #muachh

Spring Oh Shasha: Yeayy, akhirnya perlahan-lahan Shasha-chan menunjukkan akun ffn-nya XD Makasih banyakk yahh karena udha ngingetin Hika dari sejak awal akun tanpa nama, akun non log in sampai akhirnya menggunakan akun log in XD Gak terharu gimana coba Hika XD

Um, sepertinya iya tapi Papa Sasu belum menyadari sepenuhnya #plakk Iyaa, Hika juga berharap bisa membuat alur yang seperti itu jika saja ide Hika tidak selalu meleset saat menulis kelanjutannya #plakk Aa~... Jawabannya udha ada 'kan di chapter ini Naruto suka sama siapa Hehe Yosh, sesuai permintaan Gaara sebagai pihak ketiga hubungan SasuSaku XD Sekali lagi makasih banyak yahhh Shasha-chan #muachh

azizaanr: Ano, maaf Hika belum bisa memunculkan Karin di chapter ini azizaanr-san #bungkuk-bungkukbadan Tapi, pasti di chapter depan Hika munculin Karinnya kok #wink Makasih banyak yahhh udha berkenan R&R #muachh

chacha L/sakura sweetpea: Maaf baru bisa update fic-nya chacha-san #senyumtigajari Wah, maafkan Hika karena gak minta izin dulu buat bawa suami chacha-san untuk main di fic ini #wink Iyaa, disini Papa Sasu banyak cemburunya Kkkk~... Semoga chacha-san gak ikut-ikutan cemburu yahh karena kedekatan Gaara sama Sakura #wink Makasih banyakkk #muachh

zeedezly clalucindtha: Hehe jawaban janjinya ada di chapter satu zeedezly-san #wink Aish, Hika benar-benar lagi jatuh cinta sama crack pair SakuGaara, eh? Hihi tapi disini Mama Saku tetap jadi milik Papa Sasu kok #wink Yosh, ini udha lanjut! Makasih udha berkenan R&R yahhh #muachh

Manda Vvidenarint: Um, Iya Papa Sasu nyebelin! Mesti kita apakan nih Manda-san biar Papa Sasu ingat sama janjinya ke Mama Saku? Hehe Maaf baru bisa di update fic-nya, semoga suka sama kelanjutannya XD Makasih udha berkenan R&R yahhh #muachh

Cherio Erald Deneuve L: Aaaaa~... Hika harus bilang apa athu sama review Cherio-san yang begitu berkesan buat Hika #nangisterharu

Makasih banyak yahh karena udha bela-belain menunjukkan diri untuk fic Hika #hiks hiks hiks Padahal Hika kurang percaya diri dengan gaya bahasa yang Hika pakai di fic-fic Hika selama ini Hehe

Jujur Hika payah dalam menggunakan diksi yang tepat dan bagus, tidak seperti Author-Author berpengalaman lainnya Hehe

Iyaa, Hika coba pertahankan gaya bahasa Hika dalam membuat fic yahh #wink Apakah di chapter ini gaya bahasa Hika tetap atau berubah? Kasih tahu yahh klo gak nyaman sama gaya bahasanya #wink

Wahh, Makasih banyak buat semangat dan doanya Cherio-san XD Hika juga senang karena Cherio-san suka dengan fic Hika XD Salam kenal juga #muachh

uchiha della: Wahh, Makasih udha bilang fic ini keren della-san #nangisterharu Hihi Hika juga penasaran gimana galaunya Papa Sasu menghadapi perasaannya sendiri yang mulai beralih haluan XD Maaf, tapi chapter ini Karin belum sampai ke Jepang Hehe Mungkin akan Hika hadirkan di chapter depan, Ne? Makasih banyakk yahhh #muachh

dinda adr: Yosh, Maaf baru di update lagi fic-nya dinda-san #senyumcanggung Makasih yahh udha berkenan R&R fic ini #muachh

alzenardsmr: Wahh Makasih udha suka sama fic ini alzenardsmr-san XD Nah, sejujurnya ide awalnya memang seperti itu Hihi Tapi Hika berubah pikiran karena gak tega buat Sakura jadi psikopat. Hika gak mau buat image Sakura jelek nantinya #plakk #alasan Iyaa ini udha lanjut, semoga suka yahhh #muachh

kocchan: Maaf baru bisa lanjut yahh kocchan-san #wink Hehe Makasih banyak udha R&R dan berkenan nunggu kelanjutan fic ini #muachh

sakura uchiha stivani: Maaf baru bisa di lanjut fic-nya sakura-chan #senyumtigajari Ne, gak apa-apa baru nemu juga, yang terpenting akhirnya sakura-chan berkenan R&R fic ini XD Makasih banyak #muachh