Tittle : The Stone of Heaven

Main Cast : Byun Baekhyun and Park Chanyeol

Rate : T

.

.

.

Baekhyun berlari, segera meninggalkan tempat itu. Perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang dirinya membuat pelipisnya berdenyut hebat. Sekeliling kepalanya sakit, seolah ditindas perlahan-lahan. Baekhyun berlari menuju ruang inapnya, ia berhenti di depan ruang inapnya, kemudian membuka pintu ruangan itu dengan perasaan yang tak menentu.

Hanya tersisa sensasi lemas yang samar di dalam tubuhnya, pandangannya mulai meremang.

Chanyeol,

Park Chanyeol,

Yang baru saja ia temui di ruang inapnya dengan keadaan koma itu…

Berdiri di depannya sembari membawa batu kerikil di genggamannya.

"Baekie?" panggil Chanyeol ketika menyadari seseorang telah masuk dalam ruangan itu.

Baekhyun terdiam, kaki pendeknya membeku di tempat. Ia tak bisa bergerak sama sekali.

"Aku menunggumu dari tadi. Kau kemana saja?" tanya Chanyeol tersenyum renyah. Langkah kaki Chanyeol mendekat ke arah Baekhyun.

"Kau…" Baekhyun menggigit ujung bibir bawahnya, "Siapa kau sebenarnya?" lanjutnya.

Chanyeol membisu ditempatnya ia berdiri.

"Siapa kau sebenarnya, Park Chanyeol?"

.

.

The Stone of Heaven

.

.

Chanyeol menoleh pada Baekhyun, "Baekhyun apa kita bisa berangkat sekarang?" tanyanya.

Laki-laki mungil bergeming. Kakinya mundur selangkah ketika Chanyeol mendekat ke arahnya. Rasa takut Baekhyun semakin menjadi ketika ia melihat sesuatu yang hitam dan kecil melintasi angkasa di luar jendela dengan cepat. Baekhyun menebak, jika itu seekor burung, atau nyawa seseorang yang di terbangkan ke ujung dunia. Hal-hal aneh yang di alaminya membuatnya bingung. Ia mengingat bagaimana suara-suara aneh saat dirinya berjalan keluar dari lorong ruang inapnya. Suara-suara yang kabur dan tidak jelas pelafalannya.

"Baek…"

"Tidak! Jangan mendekat." Baekhyun menutup kedua telinganya rapat-rapat. Namun, suara Chanyeol kembali terdengar dengan sangat jelas.

"Baekie…"

"Diam disitu. Katakan, siapa kau sebenarnya, Park Chanyeol?"

.

.

Ketika jarum jam sudah melewati angka 8, saat Baekhyun dan Chanyeol tetap pada posisi semula dengan keheningan yang mereka ciptakan, telepon genggam Nyonya Byun berdering.

Deringan berasal dari ibunya yang tiba-tiba masuk ruangan dan mengangkat panggilan itu. Saat Nyonya Byun mengangkat ponselnya, terdengar di telinga Baekhyun suara ayahnya yang menyiratkan nada khawatir. Ibunya sedang memandangi tempat tidur dimana Baekhyun selama ini terbaring.

Ayahnya…

Baekhyun merindukan ayahnya…

Sudah 3 bulan mereka tak saling bertemu…

Ayahnya…

Adalah pekerja kasar di kapal pesiar.

Terdengar oleh indera pendengaran Baekhyun, musik piano secara perlahan dari balik suara ayahnya yang bergetar saat berkata di balik telepon. Suara piano yang menggaung di seberang. Ia menggelengkan kepala, mengusir suara-suara aneh yang kembali terdengar di indera pendengarannya.

Chanyeol tersentak. Dengan satu kali gerak, tubuh besarnya merengkuh Baekhyun yang sedang merosot ke lantai. Tangan dinginnya bergerak naik turun di punggung Baekhyun. Kata-kata untuk menenangkan Baekhyun terus terucap dari mulut Chanyeol.

'Maafkan aku tidak bisa pulang saat ini.'

'Aku akan mencoba menerima apapun keputusan Doktor.'

'Mereka bilang, Baekhyun tidak ada harapan lagi.'

'Aku akan mengirimkan uang untuk semua biaya Baekhyun.'

'Aku janji… Aku akan berusaha datang di upacara pemakaman anak kita.'

Perkataan kedua orang tuanya yang terlibat percakapan beberapa menit dalam ponsel itu membuat Baekhyun semakin tak mengerti.

.

.

Bukannya menyerah. Baekhyun sudah berjuang hingga sampai titik ini, demi menemukan keajaiban. Nyonya Byun yang selalu di dekat Baekhyun tidak berhasil mendapatkan kartu keajaiban itu. Sambil berjuang melawan sakit, semua kemungkinan sudah dicoba Baekhyun. Segala perjuangan melawan sakit selama ini tidaklah sia-sia.

Jika alat bantu ini di hentikan pun, tidak ada perubahan yang berarti pada Baekhyun. Otaknya sudah mati. Jantungnya sudah tak berdetak secara alami. Alat bantu itu membuat Baekhyun seolah manusia yang sedang terlelap dalam tidur nyenyaknya.

Ilmu kedokteran ternyata penuh dengan berbagai hal yang tidak diketahui. Semua orang mungkin mengetahui jika obat anestesi adalah penghilang rasa sakit. Namun, hingga kini belum jelas bagaimana mekanisme obat itu disuntikkan ke tubuh itu bisa membuatnya tidak merasakan sakit.

Nyawa manusia bukanlah ilmu yang pasti seperti kelompok angka-angka. Angka yang salah pun, masih mempunyai satu kemungkinan yang benar. Di dunia yang ambigu ini, pernyataan Doktor akan suatu penyakit bukanlah satu pernyataan yang pasti.

Semua orang mengira dirinya mengetahui segala sesuatu, pada kenyataannya banyak hal yang mereka tidak ketahui. Ada banyak hal yang kita tidak di mengerti bagaimana misteri dunia dan berbagai keajaiban.

.

.

Jumat, 22 Oktober 2014.

Malam itu, Baekhyun terus merasakan kesakitan yang tidak seperti sebelumnya. Tubuhnya terus bergerak bergulung-gulun menahan rasa sakit. Berkali-kali, Ibunya menekan tombol tak jauh dari tempat tidur untuk memanggil suster. Meskipun obat anestesi telah disuntikan pada tubuhnya, Baekhyun tetap merasakan sakit. Sepertinya kali ini tidak biasa.

"Bertahanlah… Baekhyun. Bertahanlah…"

Nyonya Byun tak tau lagi harus berbuat apa, suaranya sudah tak berdaya. Baekhyun berusaha menarik masker oksigen yang dia pakai. Denyut jantungnya semakin kencang. Mungkin karena rasa sakit semakin ia rasakan. Jeritannya semakin meninggi. Tubuh mungil itu tak berhenti menggulung ke berbagai arah di atas tempat tidurnya.

Dengan wajah yang berurai air mata, dia berkata, "Lebih baik aku mati saja."

"Jangan berkata yang tidak-tidak, Baekhyun."

Kulit Baekhyun membiru ketika ia menarik infus yang tertancap di tubuhnya. Dengan cepat, ibunya menahan kedua tangan Baekhyun di kedua sisi tubuh Baekhyun.

"Umma… rasanya sakit sekali." Ujarnya dengan gigitan kecil pada bibir bawahnya.

"Rasanya, aku ingin mati saja."

Inilah pertama kali Baekhyun berkata seperti itu. Selama ini, seberat apapun, sesakit apapun, dia terus bersikap optimis dan berkata jika ia hanya perlu berada di samping ibunya untuk tetap hidup. Kini, rasa untuk bertahan itu kian menjauh.

.

.

Lampu kecil yang berada di atas bantal seorang pasien laki-laki dengan rambut ikal berwarna coklat dan monitor mesin electrocardiogram yang berbunyi pelan dengan lampu hijau yang berkedip-kedip.

Di dalam ruangan yang hanya di sinari oleh cahaya itulah seorang perempuan berambut panjang dengan jepit rambut berwarna hijau sedang duduk dan memegang tangan kanan pasien dengan sesekali mengelus dengan jempol tangan kanannya. Di sebelah kirinya, ada seorang lelaki berwajah lebih muda dari sang pasien yang terus mengelus lengan pasien dengan konstan. Mereka terus memandangi wajah pasien yang tertidur lelap.

Mereka sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun saat ini. Dengan pikiran masing-masing, mereka terus berada tetap di posisi dua jam yang lalu. Tidak merasakan haus sekalipun.

Ada kehangatan yang mengalir ketika memandangi wajah pasien yang menutup mata itu, selain rasa sedih yang mereka rasakan.

"Tidurlah, Yejin-noona." Kata-kata itu terucap dari bibir tipis lelaki yang sejenak sedang memandangi perempuan itu.

"Tidak, Sehun. Kau saja yang tidur." Tolakan halus dari Yejin terdengar oleh Sehun. "Kau harus ke sekolah esok pagi."

Entah jam berapa mereka bertahan untuk menjaga pasien tersebut. Mereka tak menyadari jika saat ini angin dini hari masuk dari celah jendela ruangan itu dengan perlahan. Sehun yakin, 4 Mei tahun ini adalah tanggal terburuk dalam hidupnya.

.

.

"Apakabar?"

Itu yang terucap dari mulut Chanyeol saat bertemu Baekhyun. Tak ada basa-basi lainnya. Setelah berkata seperti itu, dia langsung menuju konter Angel-in-us Coffee yang berada di kawasan Hongdae. Baekhyun terdiam ketika beberapa saat kemudian Chanyeol kembali ke meja Baekhyun dengan sebuah cangkir kopi di tangannya.

Chanyeol menyodorkan kopi yang telah teraduk rata kepada Baekhyun tanpa mengatakan apa-apa. Chanyeol lalu memegang tangan Baekhyun kemudian meletakkan cangkir kopi itu di tangan Baekhyun.

"Aku tidak cocok dengan kopi." Ujar Baekhyun dengan meletakkan cangkir kopi di atas meja yang berada di hadapannya.

Ekspresi Chanyeol ketika melihat cangkir kopi itu di letakkan oleh Baekhyun itu terlihat tidak senang. Dia tidak suka kebiasaan Baekhyun yang selalu menghindari kopi yang dia bawa untuk Baekhyun.

"Ini adalah kebiasaan. Aku tidak menyukai espresso. Itu pahit. Sangat pahit. Tapi espresso akan pahit ketika kau tidak belajar bagaimana cara menikmatinya."

Baekhyun mendengus kesal. Ia meletakkan beberapa lembar kertas yang beberapa saat lalu ia coret-coret dengan menggunakan pulpen.

"342 espresso. Kau sudah memberiku 342 espresso, setiap hari hingga hari ini. Dan aku tetap tidak merasakan espresso itu menjadi sedikit manis ketika aku meminumnya." Kata Baekhyun. Ia memijit pelan-pelan pelipisnya dengan telunjuk tangan kanan.

"Kau perlu hal-hal yang mendasar dari kebiasaan. Dan espresso adalah hal yang mendasar untukku."

"Itu untukmu, Chanyeol." sergah Baekhyun. Matanya yang tajam masih menatap Chanyeol dengan tatapan serius.

"Kau selalu mempermasalahkan espresso setiap harinya. Tak bisakah kau duduk diam dan meminum kopi dengan tenang? Kau lebih menyukai strawberry daripada kebiasaanku ini." Chanyeol berkata dengan suara yang meninggi.

"Lalu kenapa kau mempermasalahkan kebiasaanku?" tanya Baekhyun.

"Karena kau juga mempermasalahkan kebiasanku meminum kopi." Balas Chanyeol.

Chanyeol pandai untuk memutarkan kata-kata yang Baekhyun pikir telak akan membuat temannya itu terdiam.

"Aku menyukai hal-hal yang manis. Aku tidak menyukai rasa pahit seperti espresso. Kau selalu mempermasalahkan bagaimana aku bersikap, bagaimana aku berpakaian, dan bagaimana aku melakukan hal-hal yang kusukai. Tak bisakah kau menerimaku yang seperti ini?" Baekhyun akhirnya dapat mengeluarkan kata-kata yang panjang dalam satu kali hembusan, "Ku pikir mudah untuk berteman denganmu, Chanyeol. Ternyata…"

"Kau bahkan lebih menjaga teori-teori dalam hidupmu dan kau selalu menerapkan teori itu pada orang sekitarmu." Kata Baekhyun, "Sepertinya perkataan teman-teman lamamu benar. Sikapmu…."

Baekhyun mencari kata-kata yang tepat tapi ia tak menemukannya,

"Sungguh memuakkan." Lanjut Baekhyun

Chanyeol membenci hari dimana Baekhyun meninggalkan secangkir espresso yang masih bersuhu panas. Park Chanyeol melihat punggung Byun Baekhyun di bawah butiran salju yang turun di pertengahan akhir tahun. Tubuh mungil Baekhyun terbalut dengan mantel tebal berwarna biru tua dan syal rajut hitam yang menenggelamkan dagunya juga beberapa helai rambutnya.

Sejak saat itu, Chanyeol membenci bulan Desember beberapa hari sebelum natal dan perayaan tahun baru 2014, tepat sejak Baekhyun meninggalkannya karena secangkir kopi.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N:

Untuk Flashback, saya nggak kasih tanda khusus. Saya hanya mencantumkan tanggal dan tahun. Saya nggak tau kalian bingung atau enggak. Hehehe

Sebelumnya, saya minta maaf untuk 'neli amelia' yang PM beberapa wktu lalu, karena saya belum bisa menepati untuk update FF Chanbaek sebelum ini, dalam dua minggu lalu. Jadi, Chapter ini saya dedikasikan untuk dia untuk mengurangi kekecewaannya.

Terimakasih yang sudah baca, review, favorite dan follow !