Disclaimer: Haruskah ane bicara soal Touhou Project atau Samurai Warriors? They're not mine, nuff said.

Author (yang menulis cerita ini) dan 'author' (yang punya hajatan SUC) dalam cerita ini adalah dua entitas yang berbeda.


Kalau ada yang tanya, penjemputan Remilia dan Nobunaga ane pisah jadi dua paruh-bab (makanya nomor babnya 2S dan 2O – penjelasannya, lihat lagi bab 2S). Problem? *trollface*


Chapter 2-Oda ~ Teki wa Honnou-ji ni Ari!


Kuil Honnou-ji, Kyoto
Target: Oda Nobunaga

Begitu mereka tiba di Kuil Honnouji, Marisa langsung berkata dengan takjub, "Jadi, ini Kuil Honnou-ji, yah? Kok kalah gede dengan Kuil Hakurei atau Moriya, yah?"

"Kamu nggak terbalik, nih, Marisa?" tanya Alice sambil mengeluarkan ajiannya untuk mengeluarkan sejumlah boneka untuk mencari keberadaan sasaran mereka: siapa lagi kalau bukan Nobunaga? Tidak diketahui apakah Alice pernah menyambangi Kuil Moriya, berhubung kuil itu baru belakangan ini berdiri di Gensokyo, tapi mereka telah beberapa kali – berkali-kali, mungkin! – menyatroni (!?) Kuil Hakurei, dan mereka tahu ukuran Kuil Hakurei tidak ada apa-apanya dibandingkan ukuran kompleks Kuil Honnou-ji yang sedang mereka sambangi.

"Oh, iya, ya," ucap Marisa pelan, Temon-style, kepalanya miring ke kanan. :p

"Emang situ pernah ke Kuil Moriya?" tanya Marisa balik. Alice hanya angkat bahu, acuh tak acuh dengan pertanyaan itu.

"Eh, Alice, bonek sebanyak itu muncul dari mana?" Marisa keheranan melihat Alice memunculkan beberapa boneka tanpa asal-usul, dengan sebuah salah ucap yang tak sengaja terjadi.

"Bonek? Sori ya, ini Viking!" jawab Alice main-main.

"Oh iya, ya, katanya Bonek-Viking satu hati. Arema-Jak?" lanjut Marisa makin nggak keruan. Bagaimana bisa Alice dan Marisa mengikuti perkembangan bola Indonesia dari Gensokyo, di mana listrik pun tak bisa didapat, tanyakan saja pada Eyang Ngawur (-_-;).

"Teman sejati. Kamu ini, boneka, kok bonek!" jawab Alice.

"Kamu juga, tau salah kok kamu ladeni!" balas Marisa dengan tawa.

Tak lama kemudian, Mori Ranmaru – cowok (!?) bishounen yang *digolok Ranmaru*

eh, salah naskah~

Tak lama kemudian, Mori Ranmaru – bodyguard kepercayaan Oda Nobunaga – yang sedang patroli memergoki dua cewek pirang yang bertindak mencurigakan (siapa, hayo? :v).

"Ente pade ngapain di situ!?" bentaknya dengan logat Betawi (!?) yang kental. Belum sempat keduanya buka mulut,

BLARRR~!

Sebuah ledakan besar mengguncang kuil itu. "Ada apa nih?" tanya Alice dan Marisa bersamaan, saling menatap satu sama lain.

"Teki wa Honnou-ji ari~! (Musuh kita ada di Honnou-ji!)" seru seseorang di luar.

"Lapor! Sisi selatan Kuil Honnouji diduduki pasukan berpanji Akechi!" seru seorang prajurit terengah-engah, berlari menghadap Ranmaru.

"'Akechi?'" tanya Ranmaru tak percaya.

"T-tidak salah lagi! Jika dibiarkan, mereka akan mengepung kuil ini!" jawab si prajurit.

"Orang tua itu~! Kalian bertiga, tunggu di sini, aku akan menghadap!" kata Ranmaru panik – karena kelabakan – dan kesal – karena pengkhianatan Akechi.

'Jadi, kita diturunkan pada hari-H, nih?' tanya Alice pada Marisa.

'Kayaknya sih, iya,' jawab Marisa pelan. Kertas yang diberikan si author memang menunjukkan kalau mereka akan diturunkan 'beberapa waktu sebelum Insiden Honnouji meletus.' Hanya saja, tidak ada yang memberitahu kalau 'beberapa waktu' itu berarti beberapa menit sebelum Akechi mulai menyerbu Kuil Honnou-ji. Terang saja, Alice dan Marisa kelabakan gegara mereka belum siap rencana.

"O-orang tua siapa?" tanya Marisa pada si prajurit – sebut saja Aoi Sora.

"Akechi Mitsuhide, salah satu bawahan Oda. Nampaknya, ia tidak berniat baik," jawab Sora.

'You don't say, Sora~ kalo berniat baik masa' teriak-teriak kalo musuhnya ada di sini!? -_-'gerutu Alice dan Marisa.


Sementara itu, di studio...

"Fuuma! Kau berhasil membawa Remilia?" tanya si author.

"Berhasil, sih, berhasil, tapi, liat tuh~" jawab Fuuma Kotarou.

"WADUHH~" seru semua panitia yang kebetulan berada di dekat portal Yukari, Sketsa-style. Mereka melihat Fuuma dikejar bukan hanya oleh Remilia, tapi seisi puri – Flandre, Meiling, Sakuya, Patchouli, dan bahkan sejumlah pelayan peri penghuni Scarlet Devil Mansion, setidaknya 20-an. Di belakang mereka, menyusul Koakuma, yang tertinggal dalam pengejaran.


Beberapa saat kemudian, di Kuil Honnou-ji ...

Sekembalinya Ranmaru, Alice dan Marisa diminta untuk ikut dengannya menghadap Oda Nobunaga. Aoi Sora diminta untuk tetap di tempat menjaga "gawang pintu yang ia rasa bermasalah itu" (baca: portal Yukari) dari orang Akechi.

Tapi, tak lama kemudian, Sora dipanggil gara-gara pasukan Oda – yang memang tak seberapa di Kuil Honnou-ji karena terpakai untuk ekspansi militernya di berbagai penjuru negeri – perlu bantuan di bagian timur kuil. Mitsuhide, yang memimpin sendiri serangan itu di selatan, tanpa sadar masuk portal Yukari. Dus, yang pertama masuk studio dari Kuil Honnou-ji bukan Alice, bukan Marisa, bukan pula bolo-bolo Nobunaga yang ada di sekitar kuil, namun malah bawahannya yang berkhianat untuk alasan yang takkan tercatat secara pasti oleh sejarah.

'Ada keramaian apa, nih~' pikir Akechi begitu, tanpa sadar, ia masuk studio.

"Hah? Ente siape?" tanya si author kaget melihat orang pertama yang masuk bukan Alice, bukan Marisa, bukan pula bolo-bolo Oda Nobunaga yang ada di sekitar kuil, melainkan Akechi Mitsuhide, biang kerok Insiden Honnou-ji.

"Akechi. Akechi Mitsuhide. That old bastard has yet to find his way here, I suppose?" jawab Akechi.

"Siapa 'Bajingan tua' yang kau maksud?" tanya Remilia geram, meski pokerface masih menghiasi wajahnya. Remilia sendiri udah berumur sekitar setengah milenium (!), sehingga wajar ia tersinggung kalau ada yang menyebutnya 'bajingan tua.' Tapi, sepertinya tidak ada yang menyebutnya demikian, setidaknya di Gensokyo, setidaknya karena dua alasan: mukanya yang sepintas mirip bocah dan ... memang tak ada yang berani menyebutnya demikian. :V

"Kakek-kakek, sih ^^;" jawab Mitsuhide keder. Remilia hanya bisa memasang okayface karena dia, tentu saja, bukan seorang kakek-kakek. :v

'Elu sendiri bukannya udah kakek-kakek? XD' gumam Meiling geli melihat muka Mitsuhide yang lumayan tua. (FYI, saat pecahnya Insiden Honnou-ji, Mitsuhide udah berumur sekitar 54 tahun. – Pen.)

"Kau bisa bicara bahasa asing itu selancar itu dari mana!?" tanya Hideyoshi.

"Misionaris yang dekat dengan si 'Bajingan tua' itu," jawab Mitsuhide.

'"Misionaris," yah? Oh, iya, kalau tidak salah, jaman buyut Reimu jadi miko (shrine maiden; mohon maaf, penulis kurang tahu padanannya dalam bahasa Indonesia ^^; – Pen.), katanya ada misionaris nyasar yang jadi buronan di Gensokyo, yah?' gumam Remilia.

"If you're looking for that old bastard, I'm here. Not alone, unlike you," yang disebut oleh Mitsuhide sebagai 'bajingan tua,' Oda Nobunaga, datang dengan beberapa kroni terdekatnya, antara lain Mori Ranmaru, Oda Nobutada, dan istri Nobunaga – tentu saja Alice dan Marisa juga tak tertinggal. Portal ke Honnou-ji ditutup, meninggalkan sekitar setengah lusin peri pelayan Scarlet Devil Mansion yang keluyuran ke Kuil Honnou-ji.

"Sayangnya, Tuan Oda, lawan anda di sini bukan tuan Akechi," terang si author balik, "melainkan Nyonya Scarlet, vampir di pojokan sana." Oda, yang mulai keder, kemudian disela oleh sesosok satori – Komeiji Satori (don't ask me why her given name is the same with her species name, OK? *angkat tangan* – Pen.) – yang tahu apa yang Nobunaga takutkan, "Tenang, ini bukan adu kekuatan, tapi adu kelucuan. Tuan dan Nyonya dilibatkan dalam lomba stand-up comedy. ^^"

"Baik, tantangan diterima," jawab Nobunaga.

Sebelum Satori sempat menanyakan kesediaan Remilia terlibat hajatan author ini, tiba-tiba ...

"TOLOOONGGG~ GUE DIKEJAR VAMPIRR~ *buakk*" Hattori Hanzou, dengan paniknya, lari dan berteriak demikian kerasnya, mengejutkan seisi studio.

"Ke mana aja, lu? Vampirnya udah ...," tanya Remilia, sweatdrop. Hanya saja, ucapannya tak sempat terselesaikan karena Hanzou menabrak Mitsuhide, yang kemudian mengakibatkan skandal hot (!?) antara Hattori Hanzou dan Akechi Mitsuhide (lihat lagi Bab 2S).


Beberapa menit setelah kasus Hot-Hanzou-on-Mitsuhide-Action ...

Seorang maid berambut putih – tangan kanan Remilia – diminta oleh Remilia menunggu siumannya seorang page muda – tangan kanan Nobunaga – yang diistirahatkan di bagian P3K setelah Remilia dan Sakuya mengamankan Flandre dari kasus tak senonoh (?) yang tadi terjadi. Sebelumnya, Remilia memberi tahu Sakuya nama bodyguard itu: Mori Ranmaru.

Tak ada orang lain yang menunggu di dalam ruang itu. "Ini di mana," erang Ranmaru.

"Hei, Mori-san, kau bisa mendengarku?" tanya Sakuya lirih, dijawab dengan anggukan lemah dari Ranmaru.

"Katanya sih, ini bagian P3K. Sudah mendingan?" tanyanya lagi, dengan suara yang lembut untuk seorang pelayan vampir yang ganas. *kabur sebelum dilempari pisau*

(Yang ganas pelayannya apa vampirnya, nih? Kalimat lo ambigu! – Nobunaga)

"Hn," angguk Ranmaru. Ranmaru yang langsung berusaha untuk berdiri tiba-tiba hampir jatuh lagi kalau tidak tertangkap oleh Sakuya. "Hati-hati dong, kalau jalan, nanti jatuh lagi. Sini, kupapah," tawarnya. Ranmaru, tersentuh oleh niat baik dan muka Sakuya (cieee-ditebas-), menerima tawaran itu. Sementara mereka jalan bersama, Sakuya memperkenalkan dirinya.

Sesaat kemudian, "Ayayayayaaa~ kalo mau berbuat lesbi jangan di sini!" sahut Shameimaru Aya, reporter tengu gagak yang kebetulan lewat bagian P3K, dengan latahnya. Ia lantas dihardik dua petugas P3K yang hendak memeriksa keadaan Ranmaru dan Patchouli.

"Sembarangan aja bilang lesbi, orang juga hanya memapah. Lagian, pasiennya cowok, tahu!" hardik satu suara.

"Apaan lu, latah-latah, mau dikeroyok yang tadi ngeroyok Chen?" hardik suara lain.

'Eh, Satori, kita bertiga 'kan ikutan ngeroyok. Nggak lucu, kan, kalo Aya bisa melawan dirinya sendiri,' bisik suara pertama.

'Eirin, aku pernah menyalin jurusnya, tanya aja tuh Reimu, mungkin...,' bisik Satori balik, dengan trollface terusil yang bisa ia buat. Sebenarnya, Satori tahu apa yang Eirin pikirkan, dan sekonyol apa bayangan yang ada di kepalanya – ia hanya berpura-pura tak tahu.

'Itu sih cuma senjata makan tuan, kurang greget~ ^^;' bisik si Lunarian.

"Eh? Di-dia cowok?" tanya Aya.

"Iya, cowok," jawab tiga suara – Yagokoro Eirin, Komeiji Satori, dan, yang terpenting, Mori Ranmaru sendiri – keras. Sakuya, yang saat itu tepat di samping Ranmaru, dibuat kaget oleh suara keras Ranmaru. Aya juga baru tahu kalau sebenarnya Mori Ranmaru, meskipun mukanya bishie sekali, adalah seorang cowok tulen.


Sementara itu, di bangku penonton ...

'Menurutmu, siapa yang akan maju duluan?' tanya sesosok pendekar yang sepertinya belum berumur tiga puluh tahun – Sanada Yukimura.

'Kurang tahu, sih, tapi yang saya dengar dari Youmu-chan, dewan juri sepakat kalau itu bakal diundi," jawab seorang hantu tulen – Saigyouji Yuyuko.

'Youmu?' tanya Yukimura.

'Konpaku Youmu. Paruh-manusia paruh-hantu, kau akan tahu kalau kau melihatnya,' jawab Yuyuko.

'Orangnya yang mana, sih?' tanya Yukimura.

'Lihat sorban putih di ujung kiri meja juri?' tanya Yuyuko. Yukimura mengangguk.

'Nah, di sebelah kanannya, ya itu si paruh-hantu,' lanjutnya.

'Omong-omong, separuh manusia, separuhnya lagi hantu, orang tuanya satu manusia satu hantu, kali yah?' tanya Yukimura ngawur.

Yuyuko hanya sweatdrop sambil berkata, 'Bukan, klan Konpaku memang paruh-manusia paruh-hantu semua. ^^;'


Di sisi lain ...

"Takeda Shingen ... tuh orang di mana, yah, dicariin, nih~" Cirno mondar-mandir mencari Shingen – yang, ia dengar dari seseorang, ditunggu di meja juri – sebelum ia tiba-tiba menabrak seseorang.

"WHUAA~" jerit Cirno kaget dan kesakitan.

"Oh, kau mencari Takeda, yah. Orangnya sudah di meja juri dari tadi, ke mana aja lu?," jawab orang yang tadi ia tabrak.

"Te-terima kasih, ... ^^;" jawab Cirno.

"Lihat bando kupu-kupu merah di ujung kanan meja juri?" tanya orang itu. Cirno menangguk. 'Itu bukannya Reimu, yah?' gumamnya.

"Nah, sebelah kirinya, itu yang kau cari," lanjutnya.

"T-tahu dari mana kalau ...," pertanyaan Cirno tak terselesaikan, dipotong oleh Tadakatsu yang tadi ia tabrak. "Kalau kau mencari Shingen? Yang benar saja, mana mungkin tidak terdengar kalau bicaramu sekeras itu ^^" jawabnya terkekeh sambil mengelus kepala si peri es.

To be continued.


Up next, in Battle of Demons!

Chapter 3 ~ Ada Main-Main di Balik Layar

"Jadi, enaknya yang main duluan si raja setan (Oda Nobunaga – Pen.) apa nyonya vampir (Remilia Scarlet – Pen.), nih?" tanya sebuah suara pria.

"Bagaimana kalau kita hom-pim-pah saja?" tanya sebuah suara wanita.

"Setuju!" jawab tiga suara yang tersisa.

"HOM-PIM-PAH ALAIHUM GAMBRENG!" seru keempatnya.

"Tunggu, emang kita hom-pim-pah mau ngapain, yah?" suara seorang perempuan. Tiga orang lain jawsdrop di tempat.

"ELU YANG NGUSULIN, KOK ELU YANG LUPA DULUAN, SIIH~!?" teriak ketiga juri yang lain. Tak lama kemudian, terdengar tiga pukulan melayang.


A/N: OK, biarkan keempat dewan juri kita menentukan siapa yang maju duluan, Remilia ataukah Nobunaga.

Di sini, ane mengambil Ranmaru sebagai cowok, sesuai dengan sejarah. Kisruhnya, dalam Samurai Warriors, jenis kelaminnya nampaknya sengaja dikaburkan.

Aduh, mamen~ bisa-bisa naskah ini tercemar fluff Ranmaru/Sakuya, deh. #mulaingawur


How about some writer's cut?


Mengenai alasan di balik Insiden Honnou-ji, tak ada alasan pasti. Ada berbagai teori, sih, mulai dari dendam kesumat, ambisi, dipengaruhi orang (dan kemungkinan orang yang mempengaruhi, berdasarkan laman wikipedia mengenai Mitsuhide, konon termasuk Kaisar Ogimachi, Ashikaga Yoshiaki (shogun ke-15 dan terakhir dari Keshogunan Muromachi, aka Keshogunan Ashikaga), Mouri Terumoto, Tokugawa Ieyasu, Toyotomi Hideyoshi, sampai istri Nobunaga sendiri (!):/), ketidaksukaannya atas kekejaman Nobunaga, menjalankan amanah (menurut suatu legenda, Nobunaga meminta Mitsuhide untuk menghentikannya jika ia terlalu keji), dan lain-lain.

Satu hal yang menarik perhatian adalah sebuah sesi renga (kurang lebih serupa dengan berbalas syair) antara Akechi dan dua penyair lain sebelum ia bergerak ke Kyoto. Bunyi syair biang keroknya kira-kira begini.

ときは今 / あめがしたしる / 皐月かな
toki wa ima / ame ga shitashiru / satsuki ka na

Salah satu tafsirnya, sih, kira-kira begini.

時は今 / 雨がした滴る / 皐月かな
toki wa ima / ame ga shitashiru / satsuki ka na
Kinilah saatnya, waktu untuk hujan turun seiring datangnya
satsuki (ini terjemahan kasar penulis; satsuki merupakan bulan kelima pada kalender lunisolar tradisional Jepang – Pen.)

Kelihatannya jinak, yah?

#off-scenario

Semua berubah ketika Negara Api menyerang

*di-deathglare Grup 18, terutama Hideyoshi*

"Hoi, Nyet, gue salah naskah, nih!" teriak author.

"Huu~ apaan, nih, si Monyet, ente PJ acara kok sebar naskah Hari H bisa salah sih~" merupakan sampel dari cemoohan beberapa suara lain, di dalam dan di luar Grup 18.

~piiip layar diturunkan, muncul gambar Kawashiro Nitori dan Shima Sakon, PJ dan wakil PJ bagian operasional, memegang papan bertulisan "Technical difficulties ~ Please stand by" di samping, masing-masing, kiri dan kanan layar~


Udah, udah, kembali ke naskah asli, anak-anak!


Kelihatannya jinak, yah? Semua berubah karena ternyata marga leluhur Akechi adalah Toki (土岐), dan (ame, hujan) homofon dengan (ame, Langit); dengan tafsir demikian, syair tadi menjadi

土岐は今 / 天が下治る / 皐月かな
Toki wa ima / ame ga shitashiru / satsuki ka na

Kinilah saatnya, [Klan] Toki menguasai alam di bawah Langit (baca: Jepang) seiring datangnya satsuki

Can't get much more obvious than this, Mitsuhide? :p


UPDATE ~ 13 Sept 2013: Gile lu ndro~ baru sadar kalo urutan nama Kotarou terbalik :o