Tittle : The Stone of Heaven

Main Cast : Byun Baekhyun and Park Chanyeol

Rate :T

.

.

A/N:

Mungkin ada yang bingung kenapa saya nggak beri tanda flashback dengan garis miring atau tulisan flashback. Saya hanya memberi keterangan waktu, seperti tanggal, hari dan tahun. Jadi, baca cermat ya,

.

.

.

"Kau bahkan lebih menjaga teori-teori dalam hidupmu dan kau selalu menerapkan teori itu pada orang sekitarmu." Kata Baekhyun, "Sepertinya perkataan teman-teman lamamu benar. Sikapmu…."

Baekhyun mencari kata-kata yang tepat tapi ia tak menemukannya,

"Sungguh memuakkan." Lanjut Baekhyun

Chanyeol membenci hari dimana Baekhyun meninggalkan secangkir espresso yang masih bersuhu panas. Park Chanyeol melihat punggung Byun Baekhyun di bawah butiran salju yang turun di pertengahan akhir tahun. Tubuh mungil Baekhyun terbalut dengan mantel tebal berwarna biru tua dan syal rajut hitam yang menenggelamkan dagunya juga beberapa helai rambutnya.

Sejak saat itu, Chanyeol membenci bulan Desember beberapa hari sebelum natal dan perayaan tahun baru 2014, tepat sejak Baekhyun meninggalkannya karena secangkir kopi.

.

.

The Stone of Heaven

.

.

Jumat, 31 Mei 2013.

Setiap Jumat sore, suasana kantin kampus memang cukup sepi. Para mahasiswa biasanya hanya makan siang seadanya dan segera meninggalkan kampus untuk menyambut akhir pekan. Seharusnya, Baekhyun juga begitu. Namun, ia tak mungkin meninggalkan tugas untuk hari Senin esok.

Tidak ada seorangpun di kantin kampus hari ini. Para pegawai kantin sudah meninggalkan kantin sejak setengah jam lalu. Jemari Baekhyun berlomba untuk menekan keyboard dan sesekali matanya bergantian melirik sebuah buku yang tebal di sebelah kanan laptop miliknya. Sinar matahari yang biasanya memenuhi gedung berkaca tinggi itu perlahan tertutup oleh awan.

"Sepertinya tempat ini terlalu sunyi untuk seorang diri."

"Astaga!"

Baekhyun terkejut setengah mati melihat bayangan hitam yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Suara yang familiar, sosok yang asing. Lelaki itu. Padahal ia pikir ia tidak akan bertemu dengan orang ini lai. Kenapa tiba-tiba ia muncul di tempat ini? Baekhyun memengangi dadanya yang terkejut dan memandang lelaki itu dengan tatapan curiga. Lelaki yang kali ini muncul di bawah sinar matahari yang terbias kaca itu terlihat lebih besar dan menakutkan.

"Kenapa kau terkejut seperti itu?"

"Kau bercanda ya? Mana ada orang yang tidak terkejut kalau kalu kau tiba-tiba muncul seperti itu?"

"Ternyata kau ini bukan sainganku."

"Apa?"

Baekhyun mengerutkan dahinya melihat laki-laki yang menurutnya kasar ini. bukannya minta maaf karena telah mengejutkannya melainkan malah bergumam seorang diri.

"Kenapa kau ada disini?"

Baekhyun bertanya padanya. Chanyeol memandang laki-laki yang menatapnya dengan penuh curiga dan waspada itu.

"Kau ini percaya dengan 'kebetulan' tidak?"

"Tidak mungkin."

Baekhyun mendengus pelan mendengar pertanyaan laki-laki itu. Ia memang pernah mengalami beberapa kebetulan dalam hidupnya, tetapi ia ingin menghindai kebetulan dengan laki-lak ini sebisa mungkin.

Laki-laki yang menyebalkan itu beberapa minggu lalu membuat ulang tahunnya menjadi ulang tahun terburuk yang pernah ia rasakan dalam 20 tahun ini. Bagaimana tidak, jika ada seorang yang jenis kelamin sama dengan Baekhyun, menyatakan cinta pada Baekhyun di lobby fakultas Baekhyun. Tentu saja, Baekhyun menolak mentah-mentah dan menyumpah serapahi laki-laki bodoh itu. Baekhyun menyukai dada besar wanita, bukan penis panjang pria. Dan, berita itu menyebar seantero fakultasnya dengan perkiraan penggosip yang tidak-tidak. Dan satu lagi, Baekhyun tak menyukai saat Chanyeol memberinya segelas kopi espresso lima hari setelah mereka bertemu hingga pertemuan-pertemuan berikutnya.

"Kupikir kau berubah pikiran. Karena itu, kau datang ke kantin fakultasku."

"Maaf sekali. Tapi hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menyerahkan diriku pada laki-laki idiot seperti mu."

Baekhyun berkata dengan sungguh-sungguh dan di luar dugaannya, laki-laki itu mengangguk-angguk setuju.

"Bagaimana kau kita berbicara sebentar?"

"Tidak ada yang perlu kubicarakan lagi denganmu."

.

.

Sabtu, 1 Juni 2013.

Ciuman yang mengejutkan hari Jumat kemarin tetap membuat Baekhyun bingung sampai keesokan harinya. Ia terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Sekujur tubuhnya penuh dengan peluh yang menetes. Ia menepuk kedua pipinya,

Bukan, bukan mimpi. Jadi, ciuman kemarin itu, nyata?

Sebuah ciuman. Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu? Sepertinya ia tak pernah mempermainkan lelaki bernama Chanyeol itu. Tapi kenapa, bibir yang sama sekali belum pernah mencium bibir ranum wanita harus menjadi sasaran empuk bibir lelaki bodoh yang selalu mengejarnya beberapa bulan belakangan ini. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran itu dari otaknya.

Ini bulan baru, kenapa aku mengalami kejadian aneh kemarin?

Sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan orang lain.

Ia menyingkap selimut tebalnya dan berjalan menuju meja belajarnya. Beberapa jenis pil yang berada dalam toples kecil, ia ambil dan memelannya sedetik kemudian.

"Astaga! Park idiot itu membuat kepalaku semakin pusing." Baekhyun mengumpat, "Jangan-jangan… ini adalah pertanda bulan ini penuh kesialan?"

.

.

Embusan angin dingin mala mini membuat bahu Baekhyun tersentak. Dengan hanya mengenakan pakaian pasien dari Rumah Sakit yang tipis, ia menerobos angin dingin musim ini dengan Chanyeol yang berada tak jauh di dekatnya.

Lampu-lampu terang koridor Rumah Sakit menyala, menerangi jalan berlantai yang bersih tak jauh di tempat mereka berada sekarang.

"Aku dapat mendengar suara yang tidak bisa orang lain dengar…" ujar Baekhyun yang terdengar agak hampa. Chanyeol menggelengkan kepala kecil,

Baekhyun diam selama beberapa detik.

"Suaramu…" ujarnya, setelah beberapa kali menghembuskan nafas beratnya Baekhyun berkata, "Aku satu-satunya yang bisa mendengarnya." Bisik Baekhyun dengan suara lirih.

"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti." Logat wilayah barat kentara dari pengucapan Chanyeol.

"Aku sekarang tau kenapa aku bisa mendengar suaramu." Kata Baekhyun. Ia membisu beberapa saat. "Karena kau dan aku sama."

"Ini tak bisa di percaya."

"Aku tidak percaya. Aku tidak mempercayai ini."

"Tapi ini kenyataan."

Baekhyun kembali menatap Chanyeol setelah beberapa saat. Kepalanya hendak memberi penjelasan. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Chanyeol menundukkan kepalanya dan menahan bibir Baekhyun. Ia menciumnya dan mendekapnya erat sampai-sampai Baekhyun rasanya tidak bisa beranafas.

Ketika Chanyeol merasa nafasnya sudah hampir habis karena mencium Baekhyun dengan kasar, ia melonggarkan pegangan tangannya pada kepala Baekhyun yang selama mereka berciuman terus menekan kepala itu supaya bibir Baekhyun lebih dalam saat ia mencium Baekhyun.

Baekhyun terlonjak kaget dengan apa yang baru saja ia alami dengan cepat. Otaknya tak membiarkan ia untuk berpikir secara cepat.

Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah ketakutan. Ia meringis seperti sedang kesakitan. Mereka dalam keheningan beberapa saat sebelum Chanyeol membulatkan tekadnya.

Tangan Chanyeol menggapai telapak tangan Baekhyun. Laki-laki itu menarik Baekhyun pergi dari tempat itu.

"Ayo kita kembali ke tempat semula." Kata Chanyeol.

Baekhyun menggeleng dan beberapa kali menghempaskan tangan ke udara untuk melepaskan genggaman tangan Chanyeol yang semakin menguat. Mencoba melepas tangannya yang terkunci oleh genggaman kuat Chanyeol, tubuh kecil Baekhyun ikut terseret di belakang Chanyeol.

"Aku akan mati. Percuma kau melakukan itu." Suara itu terdengar memekik. Baekhyun mencoba melepaskan tangannya pada genggaman tangan Chanyeol, walau tubuhnya terseret beberapa meter.

Baekhyun menangis. Air matanya deras mengalir di kedua pipinya. Ia terisak.

Chanyeol tetap pada tekadnya untuk mengajak Baekhyun kembali ke tempat mereka pertama bertemu.

"Ayo kembali ke ruanganmu."

"Aku tidak mau." Jawab Baekhyun, "Aku merasa aku hidup ketika mendengar suaramu."

Lelaki di depan Baekhyun itu tampak tersentak, ia terhenti dan menatap Baekhyun. Air mukanya menunjukkan bahwa ia belum memahami apa yang di ucapkan Baekhyun. Kemudian, ekspresi Chanyeol berubah, "Kau benar. Jika aku bersamamu, aku merasa aku hidup lagi." Kata lelaki itu seolah baru saja teringat. "Maka dari itu, ayo kembali ke tempat semula. Ketempat dimana seharusnya kita berada. Kita tak boleh melawan takdir."

Baekhyun bersikeras menolak paksaan Chanyeol. Gelengan kepalanya membuat rambut coklatnya bergerak di udara. Air matanya berjatuhan.

"Aku sudah cukup merepotkan umma. Dan aku tak ingin merasakan sakit lagi."

.

.

Baekhyun kembali ke ruang inapnya dengan Chanyeol yang menggendong di bahunya. Walaupun Baekhyun terus meronta, tenaga Chanyeol cukup untuk menandinginya. Lelaki itu menjatuhkan tubuh Baekhyun di sofa yang berada di dekat tempat tidur. Baekhyun terdiam. Matanya sama sekali tak menunjukkan pergerakan.

"Anda harus berpikir realistis." Perkataan seseorang membuat Baekhyun menoleh ke arah suara. Doktor Lee Donghae. Ia melihat Doktor muda itu sedang berdiri di hadapan Nyonya Byun. Baekhyun segera mendekat, ia memeluk ibunya. Meletakkan kepala di bahu ibunya. Pelukan dari belakang yang selalu disukai ibunya karena Baekhyun selalu melakukannya setiap hari. Baekhyun mengeratkan pelukan pada ibunya. Matanya terpejam.

"Umma…" bisik Baekhyun di telinga ibunya dengan lirih.

"Baekhyun sudah mati secara fisik. Ia hidup karena alat-alat itu, Nyonya Byun."

Chanyeol terdiam di tempat mendengar perkataan Doktor yang memeriksa Baekhyun. Ia menyaksikan semua yang terjadi di hadapannya saat ini. Ia tak tega melihat Baekhyun yang memejamkan mata dan mengeluarkan air mata tak henti.

Nyonya Byun menggenggam kedua tangan Baekhyun yang sedang terbujur di atas tempat tidur. Tetesan air mata mengenai lengan Baekhyun beberapa kali.

"Tubuhnya tidak bisa merespon lagi. Ia tidak dalam keadaan persistent vegetative. Jika alat-alat pernafasan kami lepas, itu tak berpengaruh besar padanya. Pada dasarnya, jantung Baekhyun sudah tidak berfungsi lagi."

"Tapi… setelah operasi pertama, tangannya bergerak, Doktor." Suara Nyonya Byun terdengar samar karena isakan tangisnya. Ia mendekatkan badannya pada kepala Baekhyun. Tangan kanannya terulur untuk mengelus surai anaknya yang semakin memanjang.

"Iya. Tapi itu tiga minggu yang lalu, Nyonya Byun. Setelah operasi kedua dilakukan, ia sama sekali tak memiliki gerakan refleks dengan rangsangan yang kami berikan." Kata Doktor Lee Donghae dengan serius dan yakin. "Ini sudah banyak terjadi pada pasien kami. Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk merelakan pergi pasien kami. Mereka tak tega melihat keluarga atau kerabatnya tersiksa dengan alat-alat bantu itu."

"Baekhyun…"

Baekhyun memeluk erat tubuh ibunya ketika ia rasa akan menerima sesuatu yang sangat menyakitkan.

"Maafkan umma, Baekie…" tangan Nyonya Byun menggenggam erat tangan Baekhyun yang masih terpasang dengan infus dan mendekatkan wajahnya. Ia mengelus pipi Baekhyun dengan pelan, merasakan bagaimana obat-obatan mempengaruhi kulit anaknya selama beberapa tahun belakangan ini.

"Aku… Aku akan mencoba merelakannya…" kata Nyonya Byun dengan terbata. Bibirnya bergetar hebat, hidungnya memerah mengeluarkan air.

"Umma!" Baekhyun memekik sedikit marah. Ia kembali memeluk ibunya dengan sangat erat. Terus bergerak dalam pelukannya, untuk menemukan posisi yang nyaman.

"Tolong cabut semua alat bantu itu."

Baekhyun terjatuh lemas. Kakinya seakan tak mampu menahan tubuhnya. Chanyeol yang berdiri tak jauh dari Baekhyun, segera menenangkan Baekhyun dengan memeluk tubuh mungil itu dan mengusapnya beberapa kali.

.

.

Hari ini hari dimana Doktor Cho Kyuhyun akan memberi penjelasan mengenai kondisi Chanyeol. ia bertemu Doktor Cho satu jam lebih cepat daripada yang dijadwalkan. Sebelum waktu tersebut, ia sudah berada di ruangan Doktor Cho. Beruntung, tak ada pelajaran tambahan hari ini. sehingga, setelah jam pulang sekolah berlalu, ia bergegas menuju Rumah Sakit.

Doktor Cho tampaknya memikirkan suatu hal yang sangat serius, sehingga berkali-kali ia mengangkat hasil rontgen di depannya.

Tidak tampak seperti Doktor Cho yang tenang seperti biasa, ia ini tampak begitu gelisah. Membuat Sehun cemas bahkan sebelum Doktor itu mengatakan sesuatu.

"Seperti yang sudah diketahui, kakak anda mengalami koma."

Meski sudah mendengar dari mulut Doktor Cho berkali-kali, mendengar itu berkali-kali dari mulut Doktor tetap terasa berat.

"Apakah ada kemajuan?"

"Tidak. Operasi sebelumnya sudah mengurangi penimbunan darah. Tapi, penimbunan darah dalam otak kakak anda menyebar luas. Sudah ada sedikit jaringan otaknya yang hancur. "

Mendengar berita buruk tersebut, yang kenyataannya bahkan lebih buruk lagi, membuat Sehun tak bisa berkata-kata. Laki-laki itu terlalu muda untuk menjadi seorang penjamin di Rumah Sakit untuk kakaknya. Ia tak mempunyai keluarga dari kedua orang tuanya. Ia hanya mempunyai Yejin. Perempuan lebih tua 4 tahun diatasnya itu berstatus sebagai tunangan kakaknya. Namun sepertinya akhir-akhir ini Yejin jarang menemui kakaknya. Semenjak orang tua Yejin memutuskan untuk membatalkan pernikahan anak perempuannya dengan Chanyeol, Yejin tak pernah menampakkan batang hidungnya di Rumah Sakit itu. Dua perusahaan yang dulunya di kelola oleh ibu dan ayahnya, kini beralih ke tangan pengusaha lain. Sehun menjual kedua perusahaan itu tanpa pikir panjang ketika ia mengetahui kondisi kakaknya beberapa hari setelah kecelakaan pesawat itu.

"Apakah bisa di operasi?"

"Tidak. Tidak mungkin lagi di operasi. Selain mempertimbangkan kondisi tubuh kakak anda, pendarahan pada arteri pada tulang tengkorak sudah menyebar dengan cepat di seluruh bagian kepala dan mulai menyerang bagian lainnya."

"Lantas, pengobatan seperti apa yang mesti hyung jalani, Dok?" desak Sehun.

"Tinggal penggunaan cairan hiperosmoler yang bisa dilakukan…"

"Seberapa besar kemunkinan berhasilnya, Dok?"

"Tiap orang berbeda-beda, tapi kemungkinan hasil yang signifikan tidak terlalu besar. Selain itu, begitu pengobatan tersebut selesai, tubuh pasien akan merasakan efek yang berat, gangguan lokomotor, keterampilan tangan, gangguan bicara, gangguan koordinasi, gangguan sensorik dan… kajiwaan."

Kata-kata yang keluar dari mulut Doktor Cho di telinga Sehun seperti ini;

Karena pasien ini sudah memasuki tahap akhir yang tak bisa diapa-apakan lagi, maka daripada memaksakan pengobatan dan membuatnya menderita, mengapa yak dibiarkan seperti ini saja lalu menunggu saat untuk melepasnya pergi?

Pemikiran sepeti itu bisa saja dimiliki seorang Doktor. Daripada menunggu kematian dalam kesakitan, akan lebih baik jika berusaha sebaik mungkin untuk merasa damai saat kematian menjemputnya.

Tetapi Sehun tetap tidak merasa puas. Ia lebih menyukai kemungkinan 0.1% bisa di selamatkan.

Sehun bertanya lagi pada Doktor, "Apakah operasi sudah tak mungkin dilakukan lagi?"

"Ya. Operasi sudah tak bisa lagi"

Meskipun Sehun merasa tidak puas dengan Doktor itu, namun tidak ada jalan lain selain pengobatan tersebut. Meskipun tubuh Chanyeol akan mengalami penderitaan, namun ia tak menyiakan harapan tipis yang ada disana.

"Saya mohon Doktor melakukan pengobatan tersebut."

Doktor Cho menghela napas panjang.

.

.

Ramalan menakutkan yang dipercayai orang-orang di akhir abad baru berlalu ternyata terbukti dan hari-hari berjalan seperti biasa memasuki abad 21. Ramalan-ramalan tentang datangnya tahun baru yang disiarkan di salah satu saluran Nasional TV Korea selalu menjadi perbincangan yang tak ada habisnya. Seakan menjadi ketakutan besar tentang perkembangan hidup mereka. Tak jarang bagi mereka yang mempercayai ramalan itu bertahun-tahun, mereka memilih untuk menghindari kata kunci yang disebutkan oleh peramal tersohor dari Negara mereka sendiri.

Saat itu, di awal bulan Januari tahun ini, seseorang pernah berkata, pertengahan tahun, ada pesawat yang akan jatuh di salah satu pergunungan di Korea. Akan ada banyak korban yang tidak diketemukan dan semua korban akan mengalami luka berat hingga meninggal.

Dan benar. Tak lama setelah pernyataan peramal itu, Korea Selatan di gemparkan dengan jatuhnya pesawat yang membawa 510 penumpang jatuh di atas Gunung Seorak. Pesawat yang terbang dari Jepang akan kembali ke Korea Selatan itu hancur karena menabrak tebing di dekat Gunung yang terletak di provinsi Gangwon. Tidak ada penumpang dalam keadaan baik-baik saja saat itu. Korban meninggal berjatuhan di sekitar kepingan badan pesawat. Tak lebih dari 10 orang yang selamat pada kecelakaan itu. Termasuk Chanyeol.

Belum cukup dengan berita dari telepon kepolisian dan rumah sakit yang Sehun terima saat di asrama sekolahnya, ia mendapat berita jika karena Tuan dan Nyonya Park menjadi korban meninggal dalam peristiwa itu. Ayah dan ibunya.

Sehun mulai bergerak dengan kecepatan yang masih belum terbiasa. Sambil bergerak dengan berat, ia menuju ke satu titik dengan pasti. Setiap kali masuk rumah sakit, perasaannya selalu sama. Ia membenci Rumah Sakit, dimana ia menemukan kedua orang tuanya telah menjadi jasad pada tanggal dimana kakaknya berulang tahun. Ia membenci Rumah Sakit yang menahan kakaknya berbulan-bulan tanpa ada kepastian.

Pemandangan yang sama seperti biasa. Di dalam ruangan VIP itu ada kakaknya, Chanyeol, yang jauh lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu. Namun, kesibukan akan Doktor dan suster hilir-mudik di sekitar tempat tidur Chanyeol. Setelah menandatangani surat kesepakatan untuk melakukan pengobatan, Doktor dan suster yang menangani Chanyeol segera memberi pengobatan awal.

.

.

Kesepian terjadi saat orang mabuk oleh perasaan sentimental dan kecemasan yang samar. Hari-hari berjalan tanpa jeda. Pergantian empat musim yang melelahkan. Dengan muak mengamati hal-hal yang berulang tanpa henti.

Kurang lebih, sepuluh menit kemudian, tanpa ada peringatan, pintu sebuah ruangan perawatan terbuka. Sehun terdiam di dekatnya. Ia mengamati pergerakan dari balik pintu yang berada tak jauh dari lorong dimana Chanyeol dirawat. Seorang wanita tua muncul dari balik pintu dengan menyeka air mata menggunakan sapu tangan yang beberapa kali di lipat hingga berukuran kecil.

Pandangan Sehun tertarik untuk mengamati wanita tua yang mengenakan sweater hijau di atas kemeja putih dan celana wol abu-abu tua di dekatnya. Wanita tua itu berjalan keluar ruangan memunggungi Sehun. Rasa penasaran Sehun muncul ketika pintu ruang perawatan di dekatnya itu belum tertutup. Dengan langkah ragu dan hati-hati, ia mendekat ke arah ruang perawatan itu.

Seorang Doktor sedang meneliti tubuh pasien yang tertutup kain putih hingga ke ujung leher. Di monitor electrocardiogram, tampak garis lurus merah yang berbunyi panjang, seperti adegan dalam drama televisi. Isi dan bentuk ruangan itu sama persis dengan ruangan Chanyeol, penuh dengan peralatan bantu yang terpasang di dekat tempat tidur pasien. Doktor memeriksa mata pasien dengan lampu senter kecil. Sambil memasang stetoskop, Doktor tersebut kemudian memeriksa denyut nadi dan melihat jam di pergelangan tangannya. Kepalanya di tundukkan.

"Waktu kematian pukul 21.06."

Suster yang berada di samping kanan kiri tempat tidur pasien itu mencatat sesuatu yang diinstruksikan oleh Doktor muda itu.

Sehun mematung. Membayangkan kejadian di depan matanya itu akan terjadi pada Chanyeol, anggota keluarga satu-satunya yang tersisa.

Tak lama, tubuhnya terdorong dari belakang membuat tubuh kurusnya ikut maju beberapa centi ke depan. Punggung wanita tua yang tadi di lihatnya keluar itu berlari menuju tempat tidur pasien. Ia mengguncang-guncangkan badan pasien yang tak merespon lagi. Ia terus memanggil nama pasien itu. Bahkan, setelah Doktor dan para perawat meninggalkan ruangan tersebut, ia masih memanggil-manggil pasien yang sudah terbujur kaku.

"Baekhyun… Baekhyun…"

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N:

Mungkin ada yang bingung kenapa saya nggak beri tanda flashback dengan garis miring atau tulisan flashback. Saya hanya memberi keterangan waktu, seperti tanggal, hari dan tahun.

Terimakasih untuk reviewnya!

Viana . Ling – Kkaebsong0605 – Nxjungie – Frozenxius – Ririn Cross – Huang Zi Lien – Aquariusbaby06 – Meliarisky7 – Neli Amelia – Yoona – Guest 1 – ChanKai Love – Parklili – KrissBaekk – Juhaee – Hana Byun