Author (yang menulis cerita ini) dan 'author' (yang punya hajatan SUC) dalam cerita ini adalah dua entitas yang berbeda.


Chapter 5 ~ And the Winner is ...


'Mantep, dah, makar gue sepertinya dapat dukungan dari tim sebelah~ XD' batin Remilia ke-GR-an saat ia turun dari panggung.

Setelah Remilia turun dari panggung, ada peri pelayan SDM yang menunggunya.

'Ojou-sama, apa perintah Anda?' tanya mereka, yang tadi dikumpulkan Aoi (lihat lagi Bab 4O)

Remilia berbisik, 'Kau lihat cowok di situ?' lalu menunjuk Ranmaru.

'Aku udah makar dengan Nobunaga, dia sepertinya juga merasakan orang tangan kanannya jatuh cinta dengan seseorang di sisi kita. Kami sepakat untuk mempertemukan mereka di suatu meja, nanti kalian ...' kata Remilia, lalu mendemonstrasikan gerakan yang akan mereka lakukan.

'Kalau mereka tanya, bagaimana, Ojou-sama?'

'Bilang aja aku yang nyuruh,' jawab Remilia ringan.


Sementara itu~

"Komeiji ke mana?" tanya Tadakatsu.

"Mencari Yukimura. Katanya, semalam, ketika mereka patroli, Yukimura mengambil semua 'susu macan' yang mereka minum, sementara mereka terkapar mabuk," jawab Yuyuko. "Barusan aku tanya Masamune sama Hina, mereka cuma lihat tuh oni tepar."

"Maksudnya 'susu macan' apa?" Tadakatsu tidak tahu apa itu susu macan.

"Itu, lho, susu dicampur dengan minuman keras. Barangkali mirasnya dari kendi sake Suika. Heran, bagaimana bisa tuh kendi menghasilkan sake segitu banyak," jawab Eirin.

"Terus, susunya?" tanya Kanetsugu ringkas.

"Tadi yang aku dengar dari Satori, diamankan-" jawab Yuyuko, terpotong oleh jeritan Yukimura yang diseret Satori tanpa ampun: "Satori-san, jangan seret-seret dong~ T_T"

Eirin, Yuyuko, dan Tadakatsu sweatdrop di tempat. Kanetsugu juga, sih, tapi karena alasan yang sama sekali lain. Kalau mereka bertiga sweatdrop karena jeritan Yukimura, kalau Kanetsugu~

"Bukan itu, maksudku mereka dapat susu dari mana?" gerutu Kanetsugu, pertanyaannya salah dipahami oleh Yuyuko.

Belum sempat Yuyuko menjawab, "Sanada-san, susu macan yang kita amankan dari oni-oni tepar semalam kamu taruh di mana?" desak Satori.

"Bukannya semalam kita taruh di pojokan samping rak piring?" Yukimura balik bertanya.

"Kenapa nggak kalian periksa bareng aja?" saran Yuyuko. Belum sempat mereka mencerna saran Yuyuko, Kanetsugu bergumam, 'Jadi, yang aku minum tadi pagi, di pojokan rak piring, itu susu macan?'

Daiyousei mendengarnya, lalu hanya bisa "Ha?" karena ia begitu kaget. Yukimura dan Satori kompak facepalm, lalu mengumpat "Jangkrik! ;-_-"

Ternyata apa?

Ternyata, susu macan yang mereka amankan semalam 'raib' terminum oleh Kanetsugu, saudara-saudara! x_x

"Eh, Yuyu, kamu di sini ngapain?" sela Hideyoshi kemudian, sukses mengagetkan Yuyuko.

"Kebawa ngerumpi ama Eirin, Satori ^^;" jawabnya.

"Ya, kali, kan pembagian di P3K kan gitu: mereka bertiga (bertiga, dengan Kanetsugu – Pen.) tunggu pos, Ichirin (Kumoi Ichirin – Pen.) ama Eyang Masayuki (Sanada Masayuki, ayah Yukimura – Pen.) sweeping timur, Gracia (Hosokawa Gracia – Pen.) dan Raiko (Horikawa Raiko – Pen.) sweeping barat. Kita, di acara, jelas juga membaginya: Reimu, Kenshin, ama Shingen mancep jadi juri, nggak bisa diapa-apakan. Masamune, Hina, Nobuyuki (Sanada Nobuyuki, kakak Yukimura – Pen.), dan Ran patroli di empat penjuru angin, cuman tadi Hina keluar bentar. Hanbei nggak diperhitungkan karena biasanya dia sakit-sakitan, tapi karena dia agak mendingan dan sie konsumsi kekurangan orang, dia bantu-bantu di sana. Gue jaga-jaga di depan layar. Elu tanggung jawab di belakang layar. Kok ujung-ujungnya malah ngerumpi? x_x" celoteh Hideyoshi panjang kali lebar sama dengan meluas ke mana-mana. #dor

'Woi, Nyet, keluar bentar apa 'keluar bentar' sih? Tadi kamu kerjain gitu lho~ -_-' gunjing Kanako di belakang Hideyoshi.


Omong-omong, siapa yang menjadi pembawa acara, ya?

"Baik, sembari kita menunggu dewan juri kita menentukan pemenang, selanjutnya, kita tampilkan-" seru Tsukumo Yatsuhashi, pembawa acara yang 'dipinjam' dari sie perlengkapan, "-seorang biduanita yang tidak asing lagi bagi kita. Kita sambut bersama- penampilan dari- Julia Serep, masih bersama- NEW PALA-aduh duh, ngapain kepalaku dijitak, Kak?" teriak Yatsuhashi bersemangat, di panggung, sampai ia dijitak pembawa acara yang lain.

"Kita nggak mengundang dangdut orkes dari luar Penghalang Besar Hakurei, kali! Dangdut orkes di sana lebih sering menaikkan rok penyanyinya daripada menaikkan kualitas suaranya! Mereka lebih sering mengandalkan penyanyi yang pupuler, padahal penyanyi pupuler belum tentu bagus suaranya, juga kelakuannya! -_-" jawab Tsukumo Benben, kakaknya yang dipinjam dari sie operasional.

Yatsuhashi lalu menyela, "Tunggu, Kak, kok pupuler, bukan populer?"

"Kamu ngerti, nggak, pupuler itu apa, Yat-chan? Pupuler itu pupu di-ler-ler, pamer paha menjual seksualitas~" jawab Benben.

"Woi, Kak, ngomongin dangdut orkes kampung sih nggak masalah, tapi tolong, jaga omongan, jangan sampai naskah ini naik rating hanya gara-gara nila sebelanga," nasihat Yatsuhashi.

"Untuk apa mengumpulkan nila sebelanga? :/ " Benben merasa ada yang tidak beres dengan omongan Yatsuhashi.

"Lho, kan kata pepatah, karena susu setitik rusak nila sebelanga,' karena kagetnya Yatsuhashi, ia sampai tak sadar bahwa ketika ia tadi mengingatkan Benben, ia salah mengingat pepatah; yang mestinya 'karena nila setitik rusak susu sebelanga' malah jadi 'karena susu setitik rusak nila sebelanga.'

"Minum sendiri tuh nila, getah kayu, putih kayak susu tapi beracun -_-;" semprot Benben.

"Lho, maksudnya apa, Kak?" Yatsuhashi hanya melongo.

"Karena nila setitik rusak susu sebelanga," semburnya lagi. "Maaf, ya, orang satu ini kurang lengkap. Selanjutnya, kita tampilkan- seorang biduanita yang tidak asing lagi bagi kita. Kita sambut bersama- penampilan dari- Rin- Ka~ kampret, mati mic-nya x_x" umpat Benben ketika mikrofon yang dia pegang mati mendadak.

Tak lama, Reimu keluar. Karena dia salah satu dari empat dewan juri, banyak yang kemudian bertanya siapa yang menang SUC tadi. Padahal, keluarnya ... untuk sesuatu yang sama sekali lain: ke bagian P3K, menghubungi seseorang.

Ia meminta Sakon, yang ia lihat ketika ia celingukan dari ruang juri, untuk 'menjadi perisai manusia' dari seribu satu pertanyaan yang ia pikir bakal menimpanya. Untungnya, tatapan teror (?) Sakon lebih dari cukup untuk membuat kebanyakan takut melanjutkan pertanyaan mereka.

Untungnya lagi, ia bertemu Horikawa Raiko, yang juga sie P3K. "Wah, Raiko, kamu ngapain?"

"Sweeping. Kalau-kalau ada yang mendadak sakit atau apa. Ichirin dan Gracia juga sweeping, kok, cuman kalo Ichirin di sisi timur, kami di sisi barat," jawabnya.

"Tunggu, tunggu, Ichirin doang? Terus Eyang Masayuki dan Unzan (Unzan adalah nyuudou 'peliharaan' Ichirin – Pen.) ke mana ceritanya? O.o" tanya Reimu.

"Unzan ya ikut juragannya, lah~! Kamu sendiri kelihatan Eyang Masayuki?" lanjut Raiko enteng.

"Ngapain tanya ke aku, orang dari tadi juri berempat nggak ke mana-mana," jawab Reimu tak kalah enteng. Sakon sendiri juga menggelengkan kepalanya.

"Oh, iya ya~ ._." kata Raiko, Temon-style.

"Oh, iya, bisa titip pesan buat Satori, nggak?" Raiko mengangguk, dan Reimu mulai berbisik.

*bisik bisik bisik bisik*

"Oh, oke," angguk Raiko. "Kasih bocoran, dong, tadi hasilnya (i.e., hasil diskusi dewan juri) gimana," bisiknya.

"Maaf, hasil diskusi bersifat rahasia sampai diumumkan," jawab Sakon pokerface.

"Lagian, tadi waktu kutinggal masih belum jelas siapa yang menang ^^;" imbuh Reimu. 'Denger aja, nih, Sakon,' pikir Reimu dan Raiko.

Dan ketiganya lalu berpisah. Raiko ke bagian P3K, sementara Reimu dan Sakon kembali ke diskusi juri.

Ketika Raiko mendekati ruang P3K, dia melihat Moriya Suwako, juga dikenal sebagai 'Kodok' di lingkaran terdekatnya (mirip dengan Hideyoshi, yang berjuluk 'Monyet'), dari sie perlengkapan, baru keluar dari situ. 'Ini kodok ngapain, coba,' pikirnya. Di depan pintu, yang dibuka ke luar, hidung Raiko terhantam pintu.

"Ah~ Horikawa-san! Kau baik-baik saja?" tanya suara itu dari balik pintu.

"Nggak apa a-Inubashiri-san?" jawab Raiko. 'Buset, sejak kapan dia tahu namaku?!' pikirnya. Inubashiri Momiji, anggota sie keamanan yang kabarnya sedang di-sepik-in Tadakatsu, sebenarnya pendiam dan selalu memasang tampang serius setengah mati. Padahal, di balik tampang serius dan tameng berhias daun maple-nya, sebenarnya dia lembut, lho.

"Ada apa?" balas Momiji singkat.

"Gimana Tadakatsu?" tanyanya, trollface menghiasi air muka Raiko.

"Yaah, kirain apa -_-' " air mukanya kecewa, seolah menahan diri untuk tidak misuh-misuh (salah satu topik yang paling tidak disukai Momiji ya itu, isu hubungannya dengan Tadakatsu), lalu melipir.

Lah, emangnya Reimu titip pesan apa sih?

Satori lalu bertanya, "Raiko, kok kamu tiba-tiba balik ke sini?"

"Reimu tadi titip pesan, yang naik ke panggung bukan Orin kucingmu," jawab Raiko.

"'Kalo kita nanggap dia, ngapain repot-repot melobinya dari luar Penghalang Besar Hakurei,' gitu kan?" lanjut Kanetsugu.

"Budug, ngerti dari mana lo? O_O" Kalau yang menyambarnya Satori, mungkin Raiko masih bisa maklum. Kanetsugu tahu dari mana, kok dia yang nyambar, pikirnya.

"Kamu kira Suwako dan Momiji tadi ke sini ngomongin apa? Ya itu, bahwa yang ditanggap anak-anak ke panggung tuh Kagamine, bukan Kaenbyou, Rin," jawab Eirin.

"Kalau mau nanggap Orin, nggak usah repot-repot lobi ke luar Penghalang Besar Hakurei, dong, lobinya cukup kepadaku dan Orin sendiri," tambah Satori.

"Lagian yang kebagian menjemput Kagamine-san siapa? Reimu-san, aku, Yukimura, Eyang Suwako, dan Momiji-san," lanjut Kanetsugu, "makanya keterlaluan kalau aku nggak tahu."

"Oh, gitu, ya~ ._." gumam Raiko, karismanya pecah berantakan.


Eh, Rin nyanyi apa sih?

Sekian lamanya engkau hidup seorang diri
Ku inigin membalut luka hatimu~~~

Widodo~ elok bagai rembulan, oh sayang
Widodo~ indah bagai lukisan, oh sayang
Widodo~ bukalah pintu hati untukku
Widodo~ ku akan menyayangi

Anggota panitia dan penonton yang lebih tua, yang tahu kalau lagu yang dibawakan Rin aslinya berjudul Widuri, mulai ribut. Termasuk di antara mereka yang ribut adalah seisi rombongan Scarlet Devil Mansion.

Remilia menggunjing kepada Patchouli, "Lho, nggak keliru, nih? Kan mestinya lagunya 'Widuri', bukan 'Widodo'. Panitianya ini gimana, sih?" Repotnya, Patchouli ternyata hanya bisa plonga-plongo, ternganga seperti orang bego karena ia tak tahu lagunya. "Oi, Patchy?" sadar panggilannya percuma, Remilia lalu panik mencari Meiling atau Sakuya. Ketika itu, ia kebetulan melihat Marisa.

"Marisa, kamu panitia di sini?" tanya Remilia. Marisa mengangguk.

"Kalian ini gimana, sih, masak mahal-mahal bayar penyanyi dari luar Penghalang Besar kok tahunya nyanyinya nggak becus, Widuri kok jadi Widodo," protes Remilia.

"Dia tuh nggak becus apa kreatif? Ambil enaknya saja; kalau dia nyanyinya 'Widuri~' berarti dia setia sama lagunya, tapi kalau nyanyinya 'Widodo~' berarti dia tahu tuh lagu aslinya yang nyanyi cowok, buat merayu cewek. Cewek merayu cewek apa wajar? Makanya, dia ganti jadi 'Widodo', gitu~" balas Marisa enteng.

"... bisa juga, yah ._." gumam Remilia kemudian, sadar dia kalah debat.


Sementara itu, Mitsunari mengantar minuman untuk para juri. Kopi tersebut ternyata enak. Amat enak, malah, sehingga memancing perhatian dari tiga juri bahkan sebelum Mitsunari sempat keluar.

"Mitsunari," panggil Shingen, "enak bener nih. Siapa yang masak?"

"Umm ... Dai-chan, Oichi, udah," jawab Mitsunari setengah grogi.

"Iya juga, bener nih Paman Shingen. Ini kopi yang paling nikmat yang selama ini pernah kuminum," Reimu ikut nimbrung.

Bahkan Kenshin yang tidak biasanya minum kopi juga tertarik, dan setelah kesetrum oleh enaknya kopi itu, "Kapan-kapan suguhkan juga ke rombongan peserta, biar tidak hanya panitia yang kebagian enaknya," katanya.

Youmu hanya bisa plonga-plongo persis orang bego. 'Kopi apa, sih?' bisiknya kepada Reimu.

'Oh, iya, ya, nih anak 'kan belum pernah minum kopi - -;' batin Reimu, facepalm.

"Wah, bisa-bisa kasnya jebol. Kata Dai-chan, harganya sekilo bisa dua juta ^^;" kata Mitsunari.

Sontak, keempat juri kaget semua. "Kopi apa, tuh, sekilo sampai dua juta? O.o " tanya Reimu. Bagaimana tidak kaget, kopi spesial pun biasanya tidak sampai dua ratus ribu sekilonya.

"Kata Dai-chan, kopinya pake label kayak bahasa ... Arab ... sebentar, saya bacakan," kata Mitsunari sembari merogoh saku celananya. "Mereknya ... Kopi al-ladzi yakhruju min sillitil-luwak, dalam kurung kopi yang keluar dari ... pantat luwak ._." Mitsunari hanya bisa bad pokerface menyaksikan keempat juri, terutama Youmu, menahan mual.

Ternyata Oichi dan Daiyousei memberi mereka kopi luwak. XD

Tak lama setelah Mitsunari keluar, Youmu memberi isyarat kepada Reimu bahwa karena ia sudah hampir tidak tahan, ia minta diantar ke kamar mandi. Setelah Reimu mengiyakan, Shingen memberi mereka sebuah amplop tersegel, "Oh, iya, sekalian, tolong titip ini kepada pembawa acara."


Setelah Youmu sukses muntah di kamar mandi~

"Kamu kira tidak tahan kenapa? Tidak tahan mual gara-gara Insiden Kopi Luwak, bukan tidak kuat menahan syahwat. Jangan berpikiran yang tidak-tidak!" seru Youmu menembus dinding keempat.

'Buset, dah, gitu aja 'Insiden Kopi Luwak' ^^;' gumam Reimu.

Dan setelah mereka berdua keluar, "Yuk, mengantar titipan Paman Shingen ^^" kata mereka bersamaan. Mereka lalu tertawa. Reimu lalu memanggil Yatsuhashi ke WC dengan radio itu, "Reimu ke Yatsuhashi, Reimu ke Yatsuhashi. Ya? Bisa ke WC sebentar? Ada yang perlu kami bicarakan."

Lima menit kemudian, dia datang. Sebuah amplop yang masih disegel kemudian berpindah tangan. Tak lama, Yatsuhashi kencing beneran. Omong-omong, segelnya bertulisan sbb:

Bila Benben kawin lagi mohon hubungi HP: 0813 2517 8281

dan segel itu yang menulis sebenarnya Shingen sendiri. :V

Setelah Yatsuhashi kembali ke belakang panggung, Benben lalu bertanya, "Dik, ada apa? Kok mukanya lega gitu?"

"Habis buang air," jawabnya. "Oh, iya," ia lalu berbisik bahwa ia sudah memegang nama pemenang, masih tersegel dalam amplop Shingen.

"Gila aja, nih, yang menulis nomer sembarangan di sini. Itu nomer orang, woi~" kata Benben setelah ia melihat tulisan gila Shingen.

"Lha apa, orang kata Reimu tuh nomer udah terlanjur menyebar di luar Penghalang Besar Hakurei," balas Yatsuhashi.

Tiba-tiba, "Eiki kepada Benben, Eiki kepada Benben. Kami atas nama sie kesekretariatan perlu menyampaikan sebuah pernyataan publik yang bersifat mendesak," bunyi HT yang mereka bawa.

Benben membalas, "Benben kepada Eiki, Benben kepada Eiki. Penghibur tamu terakhir sudah hampir selesai."


Setelah si penghibur turun, Benben berkata kepada para penonton, "Para penonton yang terhormat, sebelum kami mengumumkan nama pemenang acara ini, kami harus memberikan sebuah pengumuman. Apa isinya, saya dan Yat-chan sebagai pembawa acara tidak tahu apa isinya. Kepada Shiki Eiki, selaku ketua seksi kesekretariatan, dipersilakan."

Lalu, Eiki hendak memberi pernyataan soal apa?

Eiki memberikan pernyataan terkait ulasan (review) anonim yang menyebutkan bahwa patokan bagus tidaknya suatu naskah adalah jumlah review semata. Si anon juga meminta author dan kawan-kawannya untuk berkaca sebelum mereka berkoar masalah RPF, karena 'naskah RPF yang banyak ulasannya itu dikarenakan ceritanya bagus ... kalau masalah tokoh, situ (i.e., author dan rekan-rekannya yang getol ngebom naskah RPF) dan orang-orang FFn yang sok-sokan' sebelum ujung-ujungnya mengirimkan umpatan ("Ulasannya bisa Anda baca sendiri di kolom review, si author tidak ada niat untuk menghapusnya, kok." – Eiki).

Dan apa pernyataannya?

"Kalau sejak awal pihak FFn memperbolehkan naskah RPF masuk di server mereka, yakinlah, kami tidak akan memburu kalian. Asal tahu saja, pihak FFn melarang adanya naskah RPF di server mereka lantaran dulu mereka pernah terkena kasus hukum yang disebabkan oleh adanya naskah fanfik yang mencomot nama mereka. Saya yakin pihak admin belajar dari pengalaman, lalu melarang naskah yang melibatkan artis sebagai tokoh utamanya sekalian.

Masih untung, lho, author bukan orang yang tidak memburu naskah RPF secara aktif; paling ketika dia menyambangi fandom yang dia setidaknya tahu ceritanya bagaimana, kelihatan RPF, baru dibom. Dia juga tidak pernah mengebom fandom Screenplay, yang peenuh naskah RPF. Fandom Screenplay menurutnya seperti lokalisasi, sebuah necessary evil, sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar bukan karena ia bagus, tapi agar masalah tidak menyebar tak terkendali. Lagipula, ketika masih ada lokalisasi bernama FSP pun masih ada saja naskah RPF yang disasarkan di fandom terpencil, apatah lagi ketika SP ditutup, bisa-bisa tidak terkendali ke mana mereka menyebar.

Sekarang saya tanya, mengapa kalian masih kekeuh mengepos di Screenplay dan tak mau pindah ke lain media? AO3 misalnya? (AO3 tidak melarang naskah RPF dipos di server mereka – Pen.) Blog pribadi, misalnya? Note Facebook, katakanlah?

Takut tidak ada review? Percayalah, kalau kalian memberikan alamat kontak ke mana pembaca kalian bisa memberikan umpan balik mereka, akan ada review yang datang. Atau jangan-jangan kalian menulis hanya demi review? Jumlah review memang dipengaruhi oleh kualitas naskah, tapi lebih dipengaruhi oleh berapa banyak orang yang mungkin menyambangi naskah itu. Kalau naskah dipos di fandom yang tidak mainstream, tidak umum dikenal, jangan mimpi meraup review yang banyak dalam waktu singkat. Dan jumlah review tidak menggambarkan kualitas, titik. Apalah gunanya 30 review dalam naskah one-shot kalau isinya rata-rata mencelamu gara-gara salah tempat atau one-liner (mis. 'Lanjutkan!' atau 'Ditunggu update-nya!')?

'Tapi, kan, kalau di tempat lain tidak bebas?' Tidak bebas apa, justru kalau di blog pribadi, di AO3, dan lain-lain, bisa lebih bebas, tidak dikejar-kejar orang yang memburumu karena kamu melanggar peraturan.

Sekian dulu dari saya, terimakasih. Kalau ada saran, kritik, dan lain-lain, sampaikan lewat PM atau signed review agar bisa dibalas dan dibahas secara pribadi. Begini jadinya kalau kau hanya berani mengumpat (mengumpat, yah, bukan kritik konstruktif pedas) melalui unsigned review, jangan mengumpat balik kalau author menjadikan review-mu bahan bulan-bulanan."


Up next, in Battle of Demons!

Chapter 6 ~ !?

Yang menang siapa belum dibaca, dan judulnya tergantung siapa yang menang.


A/N: Well, unek-unek Eiki tadi secara umum menggambarkan stance ane terhadap naskah RPF yang berseliweran di FFn. Jujur, karena ane nggak in-the-fandom, ane nggak ngeh dengan fenomena RPF.

Ane bukan mencela RPF, tidak juga membela, hanya saja ane terpaksa mencela karena kalian melanggar tata tertib tempatmu ngepos. Masih untung ane mendiamkan Screenplay.

Udah lah, capek gue memanfaatkan Eiki untuk menceramahi penulis RPF yang membandel. *kabur sebelum diapa-apakan Eiki*


How about some writer's cut?


RPF aside, ane menyelipkan beberapa lelucon favorit ane dalam naskah ini.

Satu contoh, kau memperhatikan keseluruhan cerita mengenai 'yang ditanggap bukan Kaenbyou "Orin" Rin, tapi Kagamine Rin?' Ane menunggangi metode FFn untuk menandai karakter naskah. Tag-nya sih lumayan konsisten (nama diri dan inisial nama marga, dengan urutan demikian, kecuali Meiling, dan kasus Meiling pun ane rasa berbau perkecualian dari perkecualian). Cuman, menunggu cerita crossover Touhou/Vocaloid yang melibatkan Orin dan Kagamine Rin bakal lama (dan ane belum dapat ide untuk mewujudkannya sendiri), padahal potensi rusuhnya bakal segunung, tuh: 'kok ada dua Rin K., nih?' XD *kabur sebelum diapa-apakan Orin, Rin, dan Len*

Dua, pupuler (pupu di ler-ler, mengumbar paha – Pen.) adalah istilah yang dipopulerkan oleh Bayu Skak, seorang artis youtube. Kau mau menikmati karyanya? Silakan saja ... kalau kau paham bahasa Jawa vernakuler (dia orang Malang). Ada beberapa sketsanya yang disajikan dalam bahasa Indonesia, tapi mayoritas mutlak dalam bahasa Jawa, so~


Disclaimer: Widuri (c) Bob Tutupoly. [coret] Kaenbyou [coret] Kagamine Rin ane pinjam dari fandom Vocaloid.

Author hanya menyumbangkan ide naskah pada cerita ini. Yang terbukti mengkopas naskah ini tanpa seizin penulis bakal ane jatuhin kresek berisi muntahan Youmu. (gimana, itu, ngambilnya~ o.O) Dijamin hasilnya tidak akan baik~ :v