Hai readers XD Akhirnya author bisa update fic ini juga XD Maaf ya kalo kelamaan. Oke, ini dia balasan review sebelumnya

IndahP: Ini udah lanjut XD Soal itu masih menjadi sebuah misteri *dihajar*

guest: Iya ini udah diusahain supaya lebih jelas alurnya XD

tafis: Udah lanjut XD Iya dong, harus seru XD *digiles*

Hyuuga Dekita: Kalo bikin penasaran kan jadi seru XD Soal sekolah Shion udah dibahas di chap ini. Makasih banyak atas pujiannya :)

GaemSJ: Hn... tidak kuduga kalo ini menarik XD Ini udah lanjut :)

dianarndraha: Ini udah lanjut :)

Terakhir, terimakasih udah review :) review lagi yaa XD Dan makasih juga buat yang jadi silent reader, yang udah follow atau fav fic ini, atau yang cuma baca summary nya aja atau bahkan cuma judul aja terimakasih XD Langsung aja deh, selamat membaca :)

Warning: AU, gaje, mungkin typo, mungkin OOC

Pairing: Akan diberitahu di chapter 3 XD *dichidori* bisa di lihat di cover kok XD

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Disclaimer: Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T READ

Sasuke hanya terdiam menatap tamu-tamu itu dengan wajah datar. Batinnya berkata

"Mereka…."

Sesaat kemudian ia sedikit terkejut. Tapi kemudian ekspresinya kembali berubah menjadi ekspresi bingung.

"Mereka siapa?" tanya Sasuke dengan polosnya.

Itachi hanya sweatdrop melihat adik kesayangannya itu.

"Sasuke, ayo kemari…" ucap Mikoto.

Dengan malas, Sasuke menuruni tangga dan berjalan menuju keluarganya. Ia berhenti disamping Mikoto yang sedang duduk di sofa.

"Ada apa?" tanyanya datar.

"Kenalkan, mereka teman lama ibu dan ayah. Kizashi dan Mebuki Haruno. Dan gadis cantik itu adalah anak mereka, Sakura" ucap Mikoto dengan riang.

Sasuke hanya menatap Sakura dengan tatapan dingin. Sementara yang ditatap hanya bisa menunduk dengan wajah merona, meskipun ia berusaha mati-matian untuk menyembunyikannya.

"Aku Sasuke Uchiha" ucapnya setelah menghela napas.

Ia segera berbalik badan dan berjalan menjauh. Sontak, Mikoto berdiri dan mengalihkan pandangannya kepada anak bungsunya.

"Sasuke, mau kemana?" tanya ibunya.

"Kamar" ucapnya santai.

"Tunggu dulu! Ibu masih ada tamu, kau ini…" Mikoto menghela napasnya.

"Lalu?" Sasuke berbalik menatap Ibunya.

"Aku ingin bicara dengan Kizashi dan Mebuki, jadi kau temani Sakura" perintah Mikoto.

"Apa? Kenapa aku? Kenapa tidak Shion saja?" ucap Sasuke malas.

"Dia sudah pulang" balas Mikoto.

"Hah? Kapan?" Sasuke menatap Ibunya bingung.

"Baru saja. Sudah, kenapa jadi membicarakan Shion? Sana temani Sakura! Ajak dia keliling-keliling atau kemana saja lah…" ucap Mikoto seraya kembali duduk di sofa.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura, ia memandangnya dengan pandangan datar. Yang dipandang hanya bisa menunduk karena gugup.

"Cepat ikut aku" perintah Sasuke seraya meninggalkan ruang tamu.

Mendengar hal itu, Sakura segera bangkit dari sofa dan mengikuti Sasuke. Ia terus mengikutinya sampai ke sebuah taman di belakang kediaman Uchiha. Sasuke segera duduk di kursi panjang yang terletak di dekat kolam ikan. Setelah itu ia mengeluarkan handphone dari sakunya.

"Kupikir ia mau mengajakku bicara…" gumam Sakura setelah melihat Sasuke yang malah sibuk dengan handphone.

Meskipun diabaikan, Sakura tetap merasa senang. Selama ini ia selalu mengidolakan Sasuke Uchiha. Tapi ia hanya bisa melihatnya dari layar televisi. Siapa sangka bahwa orang tuanya merupakan teman lama dari idolanya itu. Ia sangat bahagia sampai-sampai senyuman terus terlukis di wajahnya. Ingin sekali rasanya ia berbicara dengan sang idola, tapi sayangnya ia terlalu gugup untuk itu. Dan pertemuan hari itu berakhir tanpa perbincangan diantara mereka.

-#-

Meskipun pertemuan sebelumnya tanpa hasil, tetapi ia tidak menyerah begitu saja. Pada kesempatan selanjutnya, saat orang tuanya mengunjungi kediaman Uchiha, Sakura berusaha untuk menjadi lebih akrab dengan sang idola.

"Ano… Uchiha-san, ada yang bisa kubantu?" tanya Sakura.

Saat ini Sasuke, Sakura dan Itachi sedang berada di ruang keluarga Uchiha. Sasuke tampak sedang mencari sesuatu diantara tumpukkan buku-buku.

"Tidak perlu" jawab Sasuke singkat.

"Kau mencari apa sih?" Itachi mulai penasaran.

"Buku kenangan SD-ku, aku yakin itu ada disini…" Sasuke masih terus sibuk dengan tumpukkan buku.

"Ah, apa kau merindukan teman SD-mu?" tanya Sakura.

"Bukan urusanmu" Sasuke tetap bersikap dingin.

"Untuk apa kau mencari itu? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini…" Itachi pun ikut membongkar tumpukkan buku lainnya.

Melihat dua saudara itu membuat Sakura ingin ikut membantu. Ia beranjak dari sofa dan mulai membongkar buku-buku.

"Kau, tidak usah ikut campur" ucap Sasuke dengan pandangan sinis.

"Tapi aku hanya ingin membantu" balas Sakura.

"Tidak usah, aku bisa sendiri. Jangan sentuh buku orang lain seenaknya!" Sasuke menunjukkan ekspresi kesal.

Sakura terkejut dengan sikap Sasuke barusan. Mungkin ia memang salah karena telah menyentuh barang orang lain tanpa izin, tapi ia tidak menyangka bahwa Sasuke akan bersikap seperti itu.

"Sakura, maafkan sikap adikku ya. Ia sepertinya sedang badmood, jadi kau ikut aku saja" Itachi melemparkan senyuman khasnya.

Sasuke hanya memandang kakaknya dengan ekspresi kesal.

"Ikut kemana?" tanya Sakura bingung.

"Ke supermarket. Kau mau kan membantu aku berbelanja? Ibu terlalu sibuk dengan reuni nya bersama orang tua mu, jadi aku yang berbelanja. Bagaimana? Mau kan?" tawar Itachi.

"Tentu saja!" ucap Sakura dengan riang.

Itachi membalasnya dengan senyuman, kemudian ia dan Sakura pergi meninggalkan Sasuke sendirian di ruang keluarga. Sasuke hanya melempar pandangan sebal ke kakaknya itu.

-#-

Kini, Sakura berada di dalam mobil Itachi. Suasana begitu sunyi karena tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Sakura hanya menatap kantong belanjaan di pangkuannya.

"Uchiha-san…" panggil Sakura.

"Tidak perlu terlalu formal seperti itu. Panggil saja aku Itachi" ucap Itachi yang masih terfokus pada jalan raya.

"B-baiklah Itachi-san, tolong sampaikan maafku kepada Uchiha Sasuke-san. Sepertinya tadi aku sudah membuatnya marah…" ucap Sakura penuh sesal.

Itachi sedikit melirik kearah Sakura, ia kemudian menyunggingkan senyuman khasnya.

"Bukan salahmu kok. Sasuke memang seperti itu, ia benar-benar dingin dan sering kali bersikap seenaknya kepada orang lain, apalagi kalau ia sedang badmood. Jadi itu bukan salahmu kok" ucap Itachi.

"Meskipun begitu, aku tetap ingin meminta maaf. Aku ragu jika ia mau mendengarkanku jadi aku tidak punya pilihan lain selain menyampaikannya lewat orang lain. Kumohon…" pinta Sakura.

"Ya baiklah akan kusampaikan" ucap Itachi.

"Tentang Uchiha Sasuke-san, apa dia selalu bersikap seperti itu?" tanya Sakura penasaran.

"Hm… Tidak juga. Ia memang sering bersikap seenaknya tapi saat ia menunjukkan rasa perhatiannya kepada orang lain, ia adalah orang yang sangat baik" Itachi kembali tersenyum.

"Begitu ya…" Sakura mengangguk paham.

Tak lama kemudian, mereka sampai di kediaman Uchiha. Kebetulan, orang tua Sakura baru saja mau pulang. Karena itu Sakura segera pamit kepada Itachi dan kedua teman orang tuanya. Ia sebenarnya ingin berpamitan juga dengan Sasuke, tapi sepertinya Sasuke masih di dalam dan masih marah terhadapnya sehingga ia mengurungkan niatnya. Setelah keluarga Haruno pulang, Itachi segera masuk ke dalam dan menemui adiknya yang sedang duduk bersantai di depan televisi.

"Apa-apaan dengan sikapmu tadi?" ucap Itachi sambil duduk di sebelah adiknya.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu" balas Sasuke.

"Maksudmu?" tanya Itachi bingung.

"Pikir saja sendiri" ucap Sasuke sebal.

"Aku tidak mengerti" Itachi mengalihkan fokusnya ke siaran televisi.

"Kau sudah bersikap seenaknya. Kau pikir kau siapa mengajak seorang gadis pergi ke supermarket pada malam hari?" Sasuke menatap sinis kakaknya.

"Eh? Memangnya kenapa? Lagipula dia mau. Daripada dia malah jadi sasaran kemarahan mu itu" balas Itachi.

Sasuke tidak menjawab pertanyaan kakaknya, ia hanya membalas dengan tatapan sinis.

"Kenapa? Cemburu?" goda Itachi.

"Mana mungkin" ucap Sasuke datar.

"Lalu kenapa?" tanya Itachi.

"Kau harusnya sadar diri. Aku sudah muak melihatmu yang terlalu sok bersikap baik kepada wanita" omel Sasuke.

"Memangnya salah kalau aku bersikap baik?" Itachi bingung.

"Kau seharusnya sadar, kau itu sudah―"

"Sasuke, Itachi, ayo makan malam" ucap Mikoto memotong pembicaraan.

Itachi dan Sasuke segera beranjak menuruti perkataan ibunya. Sebelum keluar dari ruang keluarga, Itachi membalikkan pandangannya kearah adiknya.

"Oh ya, tadi Sakura memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu. Ia sepertinya merasa bersalah karena kelakuanmu tadi " ucap Itachi seraya meninggalkan Sasuke.

Sasuke terdiam sebentar sebelum akhirnya ia menyusul kakaknya ke ruang makan.

-#-

Beberapa hari berlalu, hari yang ditunggu-tunggu oleh para siswa KHS akhirnya datang. Hari dimana seluruh siswa KHS akan melakukan program belajar bersama dengan siswa KIHS. Para siswa KHS saat ini sudah berada di bus dan sedang dalam perjalanan menuju KIHS. Semua siswa terlihat antusias, meskipun biasanya siswa menganggap pelajaran itu membosankan, tapi kalau bersama dengan siswa KIHS akan berbeda.

"Aku benar-benar tidak sabaaar" ucap Ino dengan riang.

"Aku juga" Sakura yang duduk disebelah Ino tidak kalah riangnya.

"Hei forhead, kalau kau bertemu dengan si Uchiha itu, bagaimana?" tanya Ino tiba-tiba.

"Eh i-itu… entahlah" jawab Sakura bingung.

"Tapi pasti sulit kan untuk mendekatinya… Pasti dia popular, dan pasti banyak fansnya yang akan menghalangi siapapun mendekatinya" ucap Ino seraya meneguk air mineralnya.

"Murid-murid, perhatikan sebentar!" ucap wali kelas mereka, Kurenai.

Suara wanita cantik itu berhasil merebut perhatian seluruh murid-muridnya di dalam bus itu.

"Aku akan mengumumkan nama-nama anggota kelompok kalian. Tolong dengarkan baik-baik" lanjutnya.

"Kelompok pertama, Kiba Inuzuka dari X.B, Sai Shimura dari X.A KIHS lalu Chouji Akimichi dan Ino Yamanaka dari kelas kita" ia menyebutkan nama-nama anggota kelompok.

"Yaaah kita tidak sekelompok forhead…" keluh Ino.

"Tapi sepertinya ada siswa KIHS dikelompokmu…" ucap Sakura.

"Sai Shimura? Benar juga sih… Semoga saja dia tampan" harap Ino.

Sakura hanya bisa sweatdrop melihat perilaku sahabatnya.

"Kelompok selanjutnya, dari kelas kita Shikamaru Nara dan Sakura Haruno lalu Gaara Sabaku dan Karin Uzumaki dari X.A KIHS"

"Selanjutnya dari kelas kita Shino Aburame lalu Suigetsu Hozuki dari kelas X.B, Hinata Hyuuga dan Sasuke Uchiha dari kelas X.A KIHS" lanjutnya yang mengundang 'perundingan' mendadak dari para siswa.

"Eh! Shino beruntung sekaliiiii" ucap Sakura kearah teman baru nya itu.

"Apanya? Tidak ada yang kukenal" ucap Shino datar.

"Ada Hinata Hyuuga juga ya?" gumam Ino.

"Ada apa pig?" tanya Sakura penasaran.

"Eh? Tidak apa-apa. Hanya saja, aku dengar Hinata Hyuuga itu salah satu gadis yang populer di KIHS. Ditambah lagi dia merupakan putri pemilik Hyuuga Corp. yang terkenal itu. Dan dia sekelompok dengan Sasuke Uchiha. Benar benar kelompok yang sempurna…" ucap Ino.

"Menurutmu… Apakah Uchiha Sasuke akan tertarik denganya?" tanya Sakura.

"Ah, soal itu entahlah. Tapi mungkin saja loh! Kudengar ia memiliki paras yang sangat cantik…" jawab Ino.

"Aaaaah… Bagaimana ini…" ucap Sakura sebal.

"Sudahlah, lebih baik kau cari pria lain saja" balas Ino.

Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di KIHS. Para siswa langsung berhamburan keluar dari bus yang mereka naiki. Setiap kelas dipimpin oleh wali kelas masing-masing untuk memasuki gedung KIHS dan berkumpul di aula. Siswa-siswa berbaris sesuai kelas kelompok yang telah ditentukan. Papan kecil dijadikan petunjuk agar setiap siswa tidak bingung. Mereka hanya perlu berbaris di belakang papan kecil yang bertuliskan nama kelompok beserta anggotanya. Tak berapa lama, kepala sekolah KIHS, Orochimaru, segera naik keatas panggung dan memberikan sambutan. Setelah sambutan yang lumayan panjang dan membosankan menurut para murid, seluruh siswa duduk di depan meja yang telah disediakan di aula. Mereka duduk sesuai kelompok masing-masing. Sakura terlihat gugup karena ia hanya mengenal Shikamaru, dan mereka juga baru berkenalan kemarin.

"Baiklah, pertama kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku Gaara Sabaku" ucap seseorang bersurai merah membuka pembicaraan.

"Aku Shikamaru Nara" lanjut Shikamaru.

"A-aku Sakura Haruno" ucap Sakura gugup.

"Aku Karin Uzumaki" ucap Karin dengan malas.

"Semuanya, harap perhatikan. Guru-guru akan membagikan beberapa lembar kertas yang berisi soal. Kalian harus menyelesaikannya bersama anggota kelompok kalian" ucap Orochimaru kepada seluruh murid.

Para guru mulai membagikan kertas-kertas itu. Para murid diberi waktu 2 jam untuk menyelesaikannya. Semuanya tampak sibuk dengan diskusi kelompok. Tujuan utama acara ini adalah agar seluruh murid menjadi lebih akrab, dan sepertinya itu bisa terwujud dengan cepat. Setelah diskusi 2 jam berakhir, para murid dipersilakan untuk istirahat selama 10 menit bersama kelompoknya dan 20 menit lagi bebas.

"Aaaaah ternyata ini masih belum berakhir" keluh Karin.

"Apa maksudmu?" tanya Gaara bingung.

"Masih ada 10 menit lagi bersama kalian, aku bosan. Aku juga ingin menemui yang lain" ucap Karin ketus.

"Hah, memangnya kami ingin bersamamu?" Gaara mulai kesal.

"Paling-paling kau ingin mendekati Sasuke lagi kan? Di kelas kau selalu begitu. Tidak, bukan hanya di kelas, tapi kapanpun…" lanjutnya.

"Apa kau punya masalah dengan itu? Kau juga ingin ku dekati? Jangan bermimpi!" balas Karin.

"Cih, lebih baik aku seharian bersama dengan Orochimaru-sensei dibandingkan denganmu" balas Gaara kesal.

Sakura hanya sweatdrop melihat perdebatan di hadapannya. Sementara Shikamaru sudah tertidur pulas.

"Lagipula, kupikir kau sudah menyerah…" lanjut Gaara.

"Kenapa harus menyerah?" tanya Karin bingung.

"Bukankah Sasuke sudah memiliki kekasih?" ucap Gaara.

Sakura terkejut, kekasih? Apa maksudnya?

"Oh itu, itu kan hanya gosip. Lagipula Sasuke sendiri tidak pernah berkomentar apapun tentang itu, jadi…." Karin tampak bingung melanjutkan kata-katanya.

"Itu memang gosip tapi menurutku itu benar. Kalaupun bukan kekasih, pasti ada sesuatu diantara mereka. Meskipun ia tidak berkomentar, ia juga tidak membantah kan? Bahkan wanita itu selalu mendatangi Sasuke meskipun ia dari sekolah yang berbeda. Ia terlihat begitu dekat dengan Sasuke dan Sasuke sendiri tidak menjauh. Tidak biasanya kan Sasuke begitu" jelas Gaara.

"Mungkin saja wanita bernama Shion itu hanyalah salah satu fans yang sok dekat dengan Sasuke" bantah Karin.

"Bukannya itu kau? Lagipula, kalau memang ia hanya fans, mengapa perlakuan Sasuke berbeda terhadapnya? Sasuke tidak terlihat menolak setiap kali wanita itu mendekatinya. Tapi kuakui, selera nya bagus juga. Wanita yang bernama Shion itu sangat cantik. Bahkan bisa menyaingi 'putri' sekolah ini, Hinata. Meskipun aku tidak tertarik pada keduanya" balas Gaara.

"Shion? Rasanya aku pernah mendengar nama itu" batin Sakura.

Ia teringat saat pertama kali ia ke rumah Sasuke. Saat Mikoto sedang berbicara dengan Sasuke di ruang tamu.

"Aku ingin bicara dengan Kizashi dan Mebuki, jadi kau temani Sakura"

"Apa? Kenapa aku? Kenapa tidak Shion saja?"

"Dia sudah pulang"

"Hah? Kapan?"

"Baru saja. Sudah, kenapa jadi membicarakan Shion?"

Sakura baru menyadarinya. Jadi wanita yang dibicarakan Sasuke itu adalah kekasihnya? Apakah itu benar.

"Dilihat dari pembicaraan itu sepertinya Shion sudah sering mengunjungi rumah Uchiha-san, bahkan orang tuanya juga mengenalnya, jangan-jangan yang mereka katakan itu benar…"

Sakura terlihat murung mengingat hal itu. Sementara kedua anggota kelompoknya masih sibuk berdebat.

"Apa maksudmu? Menurutku Shion itu tidak apa-apanya, bahkan aku lebih cantik dibandingkan dia" ucap Karin percaya diri.

"Berhentilah mengkhayal" balas Gaara sweatdrop.

"Itu benar! Dan juga, menurutku Hinata lebih baik! Setidaknya dia tidak tua" ucap Karin.

"Apa maksudmu tua? Ia masih muda, apa kau rabun?" tanya Gaara heran.

"Tapi tetap saja ia lebih tua. Ia itu siswi Universitas Konoha kan? Itu saja sudah jelas kalau dia lebih tua dari kita" jawab Karin.

"Mungkin Sasuke menyukai wanita dewasa. Itu artinya kau sudah kehilangan harapan" ledek Gaara.

"Tidak! Tidak mungkin, belum tentu mereka benar-benar pacaran!" Karin terus menyangkalnya.

"Tapi sudah jelas kan? Mereka benar-benar akrab dan Sasuke sama sekali tidak menolak. Sasuke itu biasanya kalau sudah didekati sedikit saja pasti dia menjauh. Sementara Shion, mereka makan bersama, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama tanpa penolakan. Apalagi yang mau kau sangkal? Sudah kubilang, meskipun bukan kekasih sekalipun, aku yakin ada sesuatu diantara mereka yang entah apalah itu" balas Gaara panjang lebar.

"Meskipun mereka memang terlihat seperti sepasang kekasih! Meskipun begitu... akan kubuat mereka putus" ucap Karin licik.

"Cih, seperti biasanya kau memang licik" ucap Gaara.

"Ah! Sudah sepuluh menit! Aku akan mencari Sasuke ku" ucap Karin girang.

"Sejak kapan dia menjadi Sasuke mu?" ucap Gaara ketus.

Tak berapa lama, tiba-tiba ada suara teriakan yang kencang dari arah pintu aula.

"SASUKEEEEEEEEEEEE" ucap seorang wanita dari depan pintu.

Sementara yang dipanggil namanya hanya menghela napas.

"Shion lagi…" ucap Sasuke.

"S-Sasuke, kalau begitu a-aku ingin menemui kak Neji dulu" ujar gadis bersurai indigo.

"Hn" jawab Sasuke singkat.

Sang gadis segera meninggalkan kelompoknya. Dan kehadirannya digantikan oleh gadis yang baru saja berteriak.

"Sasukeeee, ayo temani aku makan siang" ajak gadis itu seraya menarik lengan Sasuke.

"Haaah, baiklah" ucap Sasuke pasrah dan mengikuti gadis yang bernama Shion itu ke kantin.

Mereka kini menjadi sorotan seluruh murid. Beberapa hari ini mereka berdua digosipkan berpacaran, meskipun tidak ada konfirmasi maupun bantahan dari keduanya. Tapi mereka terlihat begitu akrab dan sangat jarang ada orang yang begitu akrab dengan bungsu Uchiha itu.

"Kau telah memulai masalah" ucap Sasuke datar.

"Biarkan saja! Apa peduliku pada mereka?" Shion masih terus menarik lengan Sasuke.

"Aku tidak menyangka kau bisa bertahan dari serangan gadis-gadis aneh itu" puji Sasuke.

"Hah tentu saja! Itu karena mereka duluan yang membuat masalah. Sepertinya mereka selalu begitu saat ada seorang gadis yang mendekatimu, apalagi yang sudah dekat denganmu. Tapi kalau mereka berurusan denganku, akan kuhajar mereka" ucap Shion bangga.

Ekspresi Sasuke tiba-tiba berubah menjadi ekspresi kesal. Ia hanya terdiam merenung.

"Sasuke? Ada apa?" tanya Shion yang menyadari perubahan ekspresi pada Sasuke.

"Tidak apa-apa, jadi kau mau makan apa?" ucap Sasuke setelah sadar dari lamunannya.

Kini mereka telah sampai di kantin. Suasana lebih ramai dari biasanya karena hari ini siswa KHS juga berada di sini. Shion sibuk memilih makanan yang akan ia beli sementara Sasuke hanya sibuk mengikutinya.

"Kalau begitu aku mau kare dan jus jeruk. Kau apa Sasuke?" tanya Shion setelah memutuskan.

"Samakan saja" jawab Sasuke singkat.

Setelah memesan makanan, mereka berdua segera duduk di kursi yang jauh dari keramaian, di pojok kantin.

"Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah datang ke rumah? Biasanya setiap hari kau pasti berulah" sindir Sasuke.

"Kenapa? Kau merindukanku, eh?" goda Shion.

"Tentu saja tidak" ucap Sasuke sweatdrop.

"Ya akhir-akhir ini tugasku sangat banyak jadi aku tidak bisa meninggalkannya. Aku benar-benar berharap itu semua cepat selesai. Membuatku lelah saja…" keluh Shion.

"Kenapa kau tidak gunakan waktu istirahatmu untuk mengerjakan tugas sambil makan siang?" tanya Sasuke.

"Ah, tugas itu memuakkan. Setidaknya aku butuh refreshing…" ucap Shion santai.

"Kenapa tidak di sekolahmu saja?" tanya Sasuke datar.

"Untuk apa? Aku selalu diacuhkan dan itu menyebalkan. Memangnya aku ini apa? Seenaknya saja dia bersikap seperti itu padaku. Menyebalkaaaaaaaaaaaaaan" Shion mulai marah-marah sendiri.

"Aku benar-benar tidak mengerti masalah kalian berdua…" ucap Sasuke.

"Dia selalu sibuk sampai-sampai mengacuhkanku. Dan kemudian meninggalkanku sendirian. Sudah tugas membuatku kesal, ditambah sikapnya itu…" ucap Shion kesal.

"Kalau kau butuh refreshing, mengapa kesini?" tanya Sasuke bingung.

"Melihat reaksi kesal fans mu itu termasuk refreshing, hahaha…" ucap Shion diselingi tawa.

Sementara itu dari kejauhan, Sakura dan Ino yang kebetulan sedang berada di kantin secara tidak sengaja melihat keakraban Shion dan Sasuke.

"Sepertinya gosip itu benar forhead" ucap Ino pada sahabatnya.

Sakura terlihat murung melihat 'pemandangan' itu.

"Oh ayolah Sakura, masih banyak pria lain di dunia ini. Jangan terpaku pada satu orang saja" Ino berusaha membujuk sahabatnya.

"Tapi aku tidak tertarik pig" ucap Sakura dengan pelan.

"Lalu kau mau apa? Menghancurkan hubungan mereka?" tanya Ino.

"Ya tidak begitu juga…" balas Sakura.

"Lalu kau mau murung seperti itu terus? Lebih baik kau cari yang lain saja forhead!" ucap Ino.

"Aku tidak bisa, itu tidak semudah yang kau pikirkan" keluh Sakura.

"Sakuraaaa, aku tidak mau melihat sahabatku terus seperti ini. Dia bahkan tidak mengenalmu dan mengapa juga kau peduli padanya. Sudahlah lupakan saja, dia juga sudah punya kekasih" omel Ino.

Tidak mengenal? Itu dulu, sekarang Sasuke sudah mengenalnya. Karena itu Sakura sempat berpikir bahwa masih ada kesempatan. Tapi melihat keakraban Sasuke dengan Shion membuat harapan Sakura pupus. Ia tak ingin merusak kebahagiaan idolanya itu tapi disisi lain ia juga tak ingin melihat idolanya bersama wanita lain. Egois memang, tapi ia tak bisa menyangkal perasaannya.

"Mungkin kau benar, lebih baik aku lupakan saja" ucap Sakura pelan.

Tapi keinginannya untuk melihat idolanya bahagia melebihi perasaaan egoisnya itu. Karena itulah ia memilih untuk menjauh dan tidak mengganggu mereka. Meskipun berat, tetapi ia tetap melakukannya demi sang idola.

Istirahat berakhir, kegiatan demi kegiatan kembali dilaksanakan. Sakura mulai cemburu melihat keakraban Ino dengan teman barunya. Andai saja ia bisa seperti itu, mengalihkan seluruh perhatiannya dari Sasuke. Tetapi kenyataan berkata lain. Sedari tadi yang ia perhatikan hanyalah Sasuke Uchiha. Setiap kali ia menangkap sosok Sasuke, ia tak dapat mengalihkan pandangannya. Semakin lama ia memperhatikan Sasuke, ia menyadari bahwa sepertinya Sasuke juga lumayan dekat dengan Hinata Hyuuga. Gadis yang dibicarakan dan diidolakan banyak pria.

"Jadi ia tidak hanya dekat dengan Shion saja? Lalu kenapa ia digosipkan dengan Shion bukan Hinata? Mungkin karena ia lebih akrab dengan Shion?" batin Sakura bingung.

"Ah, aku mulai sebal dengan Hinata…" gerutu Karin.

Sakura dan Gaara menoleh kearah gadis bersurai merah itu.

"Semua orang juga kau benci..." balas Gaara.

"Kecuali Sasuke" lanjutnya.

"Tidak juga! Hinata semakin lama semakin dekat saja dengan Sasuke, dan itu menyebalkan" omel Karin.

"Wajar saja, mereka itu bersahabat sejak SMP. Dan Hinata itu kekasih Naruto, kau lupa? Kau sendiri tahu kalau Sasuke dan Naruto bersahabat. Wajar saja kalau ia dan Hinata juga dekat. Tidak ada alasan untuk cemburu, Hinata sudah memiliki kekasih" balas Gaara lagi.

"Tapi tetap saja menyebalkan, aku benar-benar berharap Naruto segera pulang dari Australia dan menjaga kekasihnya agar tidak mendekati Sasuke ku" keluh Karin.

"Terserah kau saja lah" ucap Gaara.

"Maaf ya, orang ini memang sering marah-marah. Dia memang tidak jelas dan terlalu percaya diri, maaf juga kalau kami jadi sering membicarakan gosip di sekolah ini" lanjut Gaara pada Shikamaru dan Sakura.

"Tak apa, aku juga tidak peduli karena itu merepotkan" ucap Shikamaru.

"Ya tidak apa-apa kok" ucap Sakura dengan senyuman.

"Jadi Hinata adalah kekasih sahabat Sasuke…" batin Sakura.

Entah mengapa Sakura merasa lega mendengar hal itu. Meskipun masih ada hal lain yang mengganjal hatinya.

-#-

Hari yang melelahkan hampir berakhir. Semua siswa KIHS maupun KHS telah menyelesaikan rangkaian kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan bungsu Uchiha yang satu ini. Sepertinya hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Ia segera membaringkan dirinya di kasurnya dan menutup matanya. Tapi ketenangannya lagi-lagi diganggu oleh kakaknya itu.

"Sasuke kau dipanggil ayah" ucap Itachi setelah memasuki kamar Sasuke seenaknya.

"Aku capek" ucap Sasuke singkat.

"Ayah bilang ini penting, cepat sana. Temui ia di ruang keluarga" perintah Itachi.

"Malas" ucap Sasuke santai.

"Cepat Sasuke, atau ayah akan marah pada kita" ucap Itachi.

"Ah, baiklah"

Akhirnya Sasuke memutuskan untu beranjak dari kamarnya. Ia menuju ruang keluarga didampingi oleh Itachi. Di sana Mikoto dan Fugaku sudah menunggu kedatangannya.

"Duduklah, ada yang ingin kami bicarakan padamu" ucap Fugaku, ayah Sasuke dan Itachi.

Sasuke segera duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya, disusul Itachi yang duduk disebelahnya.

"Apa itu?" tanya Sasuke.

"Ibu dengar kau memiliki banyak fans di sekolah" ucap Mikoto.

"Entahlah" jawab Sasuke santai.

"Apa mereka selalu mendekatimu?" tanya Mikoto.

"Hn" jawabnya singkat.

"Sesuai dugaanku. Aku dan ayahmu sudah mendiskusikan ini. Tadinya kami merencanakan ini untuk bertahun-tahun lagi, tapi sepertinya keadaan memaksa kami untuk melakukannya sekarang" jelas Mikoto.

"Melakukan apa?" tanya Sasuke bingung.

-#-

Seorang gadis bersurai pink tampak terkejut dengan omongan orang tuanya. Manik emeraldnya membulat tanda tak percaya.

"A-apa aku tidak salah dengar? Apa kalian serius?!" tanyanya dengan nada terkejut.

"Kau tidak salah dengar dan kami sangat serius. Kami akan menjodohkanmu" ucap Mebuki pada putrinya.

"T-tunggu, ibu tidak bisa begitu! Aku tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak ku suka…" ucap Sakura.

"Soal perasaan itu akan tumbuh sendiri" balas Mebuki santai.

"Tetap saja aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau, aku tidak suka…." keluh Sakura.

"Kau harus mau! Kami sudah berjanji akan menjodohkanmu dengannya" ucap Mebuki.

"Tidak mau ibu, aku tidak mau" Sakura terus menolak.

"Nanti juga kau akan jatuh cinta padanya, dia itu pria yang tampan" balas Mebuki.

"Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada orang yang tidak ku kenal" gerutu Sakura.

"Kau mengenalnya kok" ucap Kizashi.

"Siapa dia?" tanya Sakura bingung.

"Putra bungsu dari teman lama kami..." jawab Kizashi.

Kemudian Kizashi menyebutkan nama yang sudah tak asing lagi bagi Sakura. Mata Sakura membelalak mendengar nama itu. Seketika jantungnya berdegup sangat kencang.

"Apa ini mimpi?"

~To be continued~

Author's note:

Gimana, apakah chap kali ini masih gaje? XD Alurnya kecepetan gak? Tapi fic ini emang sengaja author bikin agak gajelas gajelas gitu biar penasaran XD Ditunggu reviewnya ya. Kritik dan saran sangat diterima asalkan memakai bahasa yang baik dan benar :) akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya...