Ditengah kesibukanku *halah* akhirnya aku bisa lanjut ini fic X'D Balas review dulu yaaa...
GaemSJ: Loh? Baguslah kalo suka XD Soal cepat aku usahain ya, kalo words tergantung mood XD
dianarndraha: Yeaaay berhasil berhasil hore *nyanyi ala dora* Oke ini udah lanjut
VEDG: Ini udah lanjut ^^
ryskanurfitri: Yaaah udah ketahuan ya pairingnya XD Makasih atas pujiannya, soal Shion itu dibahas di chap ini ya...
misakiken: Oke udah lanjut XD
japanloveyou: Ini udah lanjut, aku ikut seneng deh kalo kamu suka XD
Dan buat semua yang udah review, terimakasih banyak atas reviewnya, jangan bosen review yaa XD Oke, biar gak penasaran langsung aja ke fic nya...
Warning: AU, gaje, mungkin typo, mungkin OOC, alur maksa, dll
Pairing: SasuSaku :')
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Disclaimer: Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
"APA?!" teriak Sasuke.
Ia tampak begitu terkejut dengan perkataan Mikoto, begitu juga Itachi. Sementara kedua orang tuanya hanya memasang wajah datar dan menatap putra bungsu mereka dengan tatapan serius.
"Sudah jelaskan?" tanya Fugaku.
"T-tidak bisa begitu! Apa-apaan ini! Aku tidak bisa menerima ini begitu saja! Pokoknya aku tidak mau!" omel Sasuke.
"Tidak ada penolakan!" ucap Fugaku dengan tegas.
Itachi menepuk pundak adiknya dan memberinya isyarat agar ia menenangkan dirinya.
"Jangan bilang kalau kau setuju dengan mereka Kak!" ucap Sasuke pada Itachi.
"Yah, sebenarnya aku juga terkejut. Tapi kalau dipikir-pikir lebih baik begitu" balas Itachi.
"A-apa? Tidak bisa begitu! Seharusnya kau membelaku! Apa-apaan ini, aku tidak mau! Pokoknya tidak!" Sasuke mulai kesal.
"Mengapa kau menolak dengan keras? Jangan-jangan kau sudah punya kekasih?" tanya Fugaku.
"Tidak, itu―"
"Pokoknya Ayah tidak mau tahu! Kau tidak boleh menolak apapun yang terjadi. Keputusanku sudah bulat, kau akan menikah dengan Sakura Haruno bulan depan. Selesai" potong Fugaku seraya meninggalkan keluarganya.
Sasuke memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong. Batinnya masih tidak percaya terhadap apa yang baru saja dikatakan orang tuanya.
"Menikah? Aku masih SMA! Ini gila!" batin Sasuke kesal.
"Sasuke, Ibu tahu kau pasti terkejut. Maafkan kami, tapi keputusan kami sudah bulat" ucap Mikoto dengan lembut pada anaknya.
"Tapi, aku tidak mau! Menikah muda? Yang benar saja, pokoknya tidak!" tolak Sasuke.
"Sakura itu gadis yang baik, dia juga cantik, kau tidak akan menyesal" balas Mikoto.
Sasuke menunduk dengan pandangan kosong. Lama-kelamaan ia terlarut dalam lamunannya. Tangannya mengepal, perasaannya campur aduk dan pikirannya kacau.
-#-
Sasuke menerawang langit-langit kamarnya. Di dalam kepalanya terus terbayang perkataan orang tuanya barusan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sekeras apapun ia menolak, ayahnya tak akan merubah keputusannya. Sasuke tahu betul akan hal itu, karena itulah ia merasa putus asa.
"Sasuke, boleh aku masuk?" suara Itachi tiba-tiba terdengar dari luar.
Karena tak ada respon dari Sasuke, Itachi memutuskan untuk langsung masuk saja ke kamar adiknya. Ia berjalan mendekati adik kesayangannya itu.
"Maaf aku tak bisa membelamu…" ucapnya penuh sesal.
Sasuke sama sekali tidak mempedulikan perkataan maupun keberadaan Itachi.
"Lagipula percuma saja kan? Kalau pun aku membelamu, Ayah tetap akan menjodohkanmu…" lanjut Itachi.
"Tapi kau mengerti kondisiku kan?" tanya Sasuke dengan kesal.
"Ya aku tahu" ucap Itachi.
"Kalau begitu bantu aku! Hal itu tidak boleh terjadi! Bagaimanapun caranya, aku harus menolak perjodohan itu…" ucap Sasuke lirih.
"Tapi Sasuke, menurutku inilah jalan yang terbaik…" balas Itachi.
"Terbaik katamu? Kau harusnya mengerti, mereka seenaknya memutuskan hal ini, padahal selama ini aku sudah ber―"
"Justru karena aku mengerti itulah aku tidak membelamu Sasuke!" Itachi memotong perkataan adiknya dengan cepat.
"Aku tahu kau masih belum bisa melupakan masa lalu mu itu…" lanjut Itachi.
"Dengan perjodohan ini, kupikir kau bisa sedikit demi sedikit melupakan hal yang kelam itu" Itachi mengelus kepala adiknya dengan lembut.
"Mana mungkin bisa! Tidak mungkin aku bisa lupa akan hal itu…" ucap Sasuke kesal.
"Ya aku tahu, kau masih sangat mencintainya kan? Tapi mau sampai kapan kau terus menyesali masa lalu? Kau juga harus melihat kedepan, Sasuke" balas Itachi.
"Coba kau pikirkan hal ini baik-baik, jangan terlarut dalam emosi. Kalau saranku sih lebih baik kau terima saja, aku juga menginginkan yang terbaik untuk adikku. Aku tidak mau melihat adikku selalu terlarut dalam masa lalu itu" ucap Itachi seraya meninggalkan kamar Sasuke.
Sasuke membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia mencoba memejamkan matanya agar dapat mengalihkan pikirannya dari kejadian barusan. Meskipun begitu, hal itu terus terbayang di pikirannya.
"Apakah yang dikatakan Kakak itu benar?"
"Ah mana mungkin, tapi… aku tidak bisa menolak. Apa yang harus kulakukan?" batin Sasuke lirih.
-#-
Sakura masih shock mengingat perkataan orang tua nya semalam. Ia berjalan menuju gedung sekolahnya sambil melamun.
"Menikah dengan Uchiha-san? Apakah ini mimpi?"
"Tapi, masa aku menikah muda?"
"Apa yang dipikirkan Uchiha-san tentang ini ya?"
"Oh ya, bukankah ia sudah punya kekasih?" batin Sakura.
"Forhead! Selamat pagi!" sapa Ino tiba-tiba.
"Se-selamat pagi! Pig, kau mengagetkanku!" gerutu Sakura.
"Habisnya kau pagi-pagi malah melamun. Ada masalah?" tanya Ino.
"Eh? Ti-tidak ada apa-apa…" sangkal Sakura.
"Yakin?" tanya Ino lagi.
"Ya, aku yakin" balas Sakura.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kelas" ucap Ino seraya menarik lengan Sakura.
Sebenarnya ia ingin sekali bercerita pada Ino tentang perjodohan ini. Tapi ia merasa bahwa waktunya belum tepat. Jadi ia memutuskan untuk merahasiakan hal ini sedikit lebih lama lagi.
"Baiklah, selesaikan tugas kalian di rumah. Sekian pelajaran hari ini…" ucap Ibiki mengakhiri pelajaran Matematika.
"Akhirnya istirahat" ucap Ino girang.
"Ayo ke kantin!" ajak Sakura.
Mereka berdua pun berjalan menuju kantin dengan riang. Di perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang yang pernah mereka lihat sebelumnya.
"Sakura, bukankah itu Shion yang digosipkan berpacaran dengan Uchiha idolamu itu?" ucap Ino setengah berbisik.
"I-iya, sepertinya itu memang dia…" ucap Sakura.
Shion terlihat sedang berjalan bersama dengan seorang gadis sebayanya.
"Konan, kenapa kau malah kesini? Aku kira kau mau ke KIHS" ucap Shion pada gadis disebelahnya.
"Kau lupa? Jiraiya-sensei kan sekarang mengajar di KHS bukan di KIHS lagi. Tadi aku sudah bilang kalau aku mau menemuinya, ya tentu saja kesini" ucap gadis bersurai ungu yang bernama Konan itu.
"Ah, aku kan lupa. Kau sih tidak mengingatkanku. Kalau begitu setelah ini aku mau ke KIHS ya…" ucap Shion.
"Pasti mau menemui Sasuke lagi" balas Konan.
"Yah, semalam dia meneleponku" ucap Shion.
"Sepertinya dia sedang ada masalah" lanjutnya.
Ino menatap sahabatnya, sementara Sakura hanya terdiam mendengar percakapan itu.
"Uchiha-san sedang ada masalah? Apakah karena perjodohan itu?"
"Kalau Shion-san mengetahui hal ini, apakah ia akan membenciku?" batin Sakura.
Sementara kedua orang itu masih terus berbicara tanpa menyadari ada yang memperhatikan mereka.
"Kau sudah tanya Itachi?" tanya Konan.
"Bertanya padanya? Menemuinya saja hampir tidak bisa. Aku sudah mulai muak dengannya" balas Shion.
"Eh? Apa kau yakin? Awas saja kalau aku menerima undangan ya…" goda Konan.
"Hah? A-Apa maksudmu?" ucap Shion berpura-pura tak mengerti.
"Apa maksudnya undangan?" ucap Ino yang salah fokus.
"Eh? Apa?" tanya Sakura.
"Ah sudahlah lupakan saja, ayo ke kantin" ucap Ino mengalihkan.
"I-iya, ayo" balas Sakura.
Sepulang sekolah, Sakura segera masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur. Ia masih memikirkan tentang Shion dan Sasuke.
"Apakah aku perusak hubungan mereka?" batin Sakura.
"Sakura, cepat bersiap-siap" teriak Mebuki dari luar kamar.
"Bersiap-siap untuk apa?" tanya Sakura bingung.
"Kita akan segera pergi ke rumah Mikoto untuk membicarakan perjodohannya" ucap Mebuki.
"Eh? A-Apa?! Sekarang?" ucap Sakura terkejut.
"Tentu saja! Cepat ya, Ayah sudah menunggumu di bawah" ucap Mebuki seraya meninggalkan kamar putrinya.
"Aah… Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menolak? Bagaimana ini…" Sakura mulai panik.
Akhirnya Sakura memutuskan untuk menuruti kata orang tuanya. Ia segera mandi dan mencari pakaian yang cocok. Ia memilih dress selutut tanpa lengan yang berwarna putih di bagian pinggang keatas dan maroon di bagian pinggang kebawah. Setelah siap, ia segera menuruni anak tangga dan keluar rumah menemui kedua orang tuanya yang sudah menunggu.
"Ayo berangkat" ucap Mebuki dengan ceria.
Mereka segera menaiki mobil milik Kizashi dan melesat menuju kediaman Uchiha. Kedatangan merekapun disambut dengan baik oleh Mikoto. Selagi mereka mengobrol, Sakura dipersilakan untuk masuk duluan ke kediaman Uchiha. Sebenarnya ia agak sungkan tapi karena Mikoto memaksa, ia tak punya pilihan lain. Ia menyusuri halaman depan rumah idolanya itu, rumput hijau, bunga yang indah, pohon rindang, taman ini benar-benar terawat. Selagi melihat-lihat, ia menangkap sosok yang tak asing lagi baginya.
"Mereka, Uchiha-san dan Shion-san" gumamnya pelan.
Wajah Sasuke terlihat muram sementara Shion seperti berusaha menghiburnya. Bahkan ia mengelus pelan kepala Sasuke. Sasuke sendiri tidak terlihat menolak. Melihat hal itu rasanya hati Sakura seperti ditusuk. Ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan terus, berpura-pura tidak melihat mereka.
"Kau sudah datang" sapa Itachi tiba-tiba.
"Itachi-san!" ucap Sakura terkejut.
"Dimana Ibuku?" tanya Itachi.
"Ah, dia sedang berbicara dengan Ibuku di depan gerbang" jelas Sakura.
"Oh, begitu. Lalu Shion…" Itachi melihat ke sekeliling mencari sosok yang dimaksud.
"Ah! Itu mereka! Oi, Sasuke… Shion" panggilnya kepada dua orang tersebut.
Yang dipanggil segera menoleh keasal suara. Shion segera bangkit dan bermaksud mengajak Sasuke menghampiri Itachi. Tapi Sasuke sepertinya menolak dan memilih untuk tetap berdiam diri di kursi taman. Karena itu, Shion menariknya dengan paksa menuju ke arah Itachi dan Sakura.
"Kau pasti Sakura ya? Kenalkan, aku Shion" ucap Shion dengan ramah.
"Eh, i-iya… salam kenal" ucap Sakura gugup.
Sementara itu Sasuke hanya memasang wajah kesal.
"Kalau begitu ayo masuk!" ajak Shion seenaknya seakan-akan ia sedang berada di rumahnya sendiri.
Ia berjalan duluan sambil terus menarik Sasuke secara paksa. Itachi yang sudah terbiasa dengan sifat Shion itu memaklumi.
"Shion-san tidak terlihat marah… Kalau dia tahu namaku, kemungkinan dia juga sudah tahu tentang perjodohan ini kan?" batin Sakura bingung.
Di dalam, Fugaku sudah menunggu mereka. Tak lama, Kizashi, Mebuki dan Mikoto datang.
"Silakan duduk" ucap Mikoto.
Kizashi, Mebuki dan Sakura duduk bersampingan. Sementara Mikoto duduk berhadapan dengan mereka, disamping suaminya. Itachi segera mengambil tempat duduk disebelah Ibunya. Lalu Shion duduk di samping Itachi dan Sasuke dipaksa duduk di sebelahnya.
"Baiklah, langsung saja ke intinya" ucap Mikoto membuka pembicaraan.
"Jadi, kita sudah sepakat untuk menjodohkan kedua anak kita, dan sepertinya mereka juga sudah menye―"
"Aku tidak bilang begitu" potong Sasuke seenaknya.
"Sasuke…" gumam Mikoto pelan.
Fugaku sudah siap menyemprot putra bungsunya itu kalau bukan karena Sasuke meneruskan kalimatnya.
"Tapi, aku akan menerimanya dengan syarat" ucap Sasuke datar.
"Apa itu?" tanya Fugaku.
"Pertama, aku tak mau ada satupun orang kecuali yang berada di sini dan orang-orang yang kuizinkan untuk mengetahui perjodohan ini" ucap Sasuke.
"Kenapa begitu? Ini harusnya menjadi acara besar!" ucap Mikoto.
"Tidak mau! Pokoknya kalau satu saja persyaratan tak bisa dipenuhi aku tak akan mau!" gerutu Sasuke.
"Kita dengarkan dulu saja seluruh persyaratannya" ucap Itachi menenangkan suasana.
"Baiklah yang kedua, berdasarkan persyaratan pertama, pernikahan diadakan secara rahasia"
"Yang ketiga, aku dan Sakura harus berpura-pura tidak saling mengenal" Sasuke mengucapkannya dengan tenang.
"Tunggu dulu, persyaratannya semakin kacau!" ucap Mikoto.
"Dengarkan dulu!" ucap Sasuke.
"Keempat, aku tidak ingin pindah. Aku tahu kalian telah merencanakan sesuatu tentang itu. Tapi jika aku pindah, orang akan curiga dan menelusuri hal ini. Dan aku tak akan membiarkan siapapun mengetahuinya!" jelas Sasuke.
"Tapi… yang namanya suami dan istri itu harusnya tinggal bersa―"
"Pokoknya tidak! Aku tidak mau pindah apapun yang terjadi" potong Sasuke.
Mikoto yang mulai kesal itupun memasang wajah cemberutnya, tetapi itu tak mempengaruhi Sasuke.
"Kelima, tidak ada kencan, berangkat ataupun pulang sekolah bersama, mengantarnya kemana-mana, dan hal-hal sejenis lainnya"
"Hei! Bukankah kau terlalu kejam?" kali ini Shion yang mulai protes.
"Berisik!" balas Sasuke sinis.
Shion menatap Sasuke dengan deathglare-nya yang tak digubris sedikitpun oleh bungsu Uchiha itu.
"Keenam, pokoknya semua hal yang menyebabkan terbongkarnya hubungan APAPUN antara aku dan Sakura tidak diperbolehkan. Selesai" akhirnya Sasuke menyelesaikan persyaratan sepihaknya itu.
"Tidak bisa begitu! Itu semua terlalu egois! Itu hanya menguntungkanmu saja tahu! Kau tidak memikirkan perasaan Sakura?" protes Shion.
"Pokoknya kalau persyaratannya tidak dipenuhi aku tidak akan mau. Meskipun Ayah membunuhku sekalipun, aku tidak mau. Intinya kalian tidak bisa memaksaku, itu saja!"
Ucapan Sasuke membuat emosi Fugaku semakin memuncak. Ia sudah menyiapkan berbagai macam balasan untuk putra bungsunya itu. Tapi lagi-lagi hal itu tertahan.
"Itu, sama sekali bukan masalah" ucap Sakura membela Sasuke.
Sasuke sempat melirik kearahnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi.
"Itu kan terlalu kejam! Jangan mau menurut begitu saja Sakura" ucap Mikoto.
"Tidak apa-apa, hal ini pasti akan membuat heboh. Maksudku Uchiha-san kan terkenal, jadi mungkin ia akan merasa risih kalau hal ini sampai ketahuan publik. Aku bisa memahami itu kok" Sakura memberikan senyuman tulusnya.
"Kau baik sekali" ucap Shion dengan mata berbinar-binar.
"Tapi, kau jangan memanggil Sasuke dengan nama keluarga. Masa kau memanggil calon suamimu dengan sebutan seperti itu. Uchiha juga sebentar lagi akan menjadi namamu…"
Seketika pipi Sakura merona saat mendengar perkataan Mikoto. Ia bahkan tak tahu mau merespon apa.
"Iya benar, panggil saja dia Sasuke, atau Ayam, atau Alien, atau chicken butt, atau es batu, a―"
Shion menghentikan ocehannya saat menyadari tatapan mematikan dari Sasuke.
"Ahahaha, sebaiknya Sasuke saja" ucapnya salah tingkah.
"Ba-baiklah. Tapi ada yang ingin kutanyakan tentang Sasuke-san" ucap Sakura gugup.
"Jangan dengan suffix-san, itu terlalu formal" balas Shion.
"K-kalau begitu… Sasuke-kun" rona merah kembali menjalar di pipinya saat menyebut panggilan itu.
Sementara Shion tersenyum puas mendengarnya.
"Nah begitu kan lebih baik, iya kan Aya―maksudku Sasuke?"
"Terserah" ucap Sasuke sinis.
"Jadi apa yang mau kau tanyakan?" ucap Shion antusias.
"Itu… Beberapa hari yang lalu, ada acara gabungan antara KHS dan KIHS. Di KIHS aku tidak sengaja mendengar gosip tentang Sasuke-kun yang memiliki kekasih" jelas Sakura.
"KAU MEMILIKI KEKASIH?!" pekik Mikoto emosi.
"Haaah, salahkan orang ini" ucap Sasuke sambil melirik kearah Shion.
"Eh itu? Ahahaha… Itu hanya gosip kok! Tidak benar. Bibi Mikoto juga jangan emosi dulu, itu tidak benar kok. Si Ayam suram ini mana bisa punya kekasih" jelas Shion yang dibalas deathglare oleh Sasuke.
"Lalu mengapa bisa ada gosip seperti itu? Dengan siapa dia di gosipkan?" Mikoto mulai bingung.
"Yah sebenarnya itu, dengan aku…" ucap Shion pelan.
"APA?!" ucap Mikoto dan Itachi serempak.
"Kompak sekali kalian…" gumam Shion.
"Ta-tapi bagaimana bisa?" Mikoto semakin dibingungkan dengan hal ini.
"Itu awalnya karena aku sering mengunjungi Sasuke. Bibi tahu lah aku memang sudah biasa begitu. Tapi fans-fans Sasuke yang menyebalkan itu sepertinya salah paham, dan berhubung karena aku kesal dengan mereka yang sok jadi aku panas-panasi saja mereka. Ahahahaha…" Shion tertawa seenaknya sementara yang lain hanya bisa sweatdrop.
"Nah Sakura, jadi begini ceritanya. Aku dan Sasuke itu sudah saling kenal sejak Sasuke masih kelas 6 SD. Aku sering main kesini. Bagiku Sasuke itu sudah seperti adikku sendiri sih, jadi aku sering curhat padanya kalau ada masalah. Makanya kadang kalau sekolah membosankan aku pergi ke KIHS untuk curhat. Jadi tenang saja, Sasuke tak memiliki kekasih kok" jelas Shion panjang lebar.
"Oh begitu…" Sakura mengangguk paham.
"Jadi ini hanya salah paham. Sasuke itu sudah kuanggap seperti adik sendiri jadi wajar saja kalau aku terlihat dekat dengannya…" lanjut Shion.
"Ya, dan sebentar lagi akan menjadi adik ipar" goda Mikoto.
Wajah Shion langsung memerah saat mendengar kata-kata itu.
"I-itu kan masih l-lama!" Shion berusaha mengelak.
"Kenapa? Kau mau dipercepat? Mau lebih dulu dari Sasuke?" kini giliran Itachi yang menggodanya.
"APA-APAAN KAU INI! J-jangan bicara hal yang aneh-aneh atau kuhajar kau!" Shion semakin salah tingkah.
Seisi ruangan minus Shion, Fugaku dan Sasuke tertawa melihat tingkah laku Shion. Fugaku hanya tersenyum dan Sasuke memasang wajah datar.
"Apakah… Shion-san adalah kekasih Itachi -san?" tanya Sakura disela-sela tawa.
"Lebih tepatnya tunangan. Jadi kau tidak perlu cemburu kalau dia dekat-dekat dengan Sasuke ya" ucap Mikoto.
"Eh, i-iya aku tidak begitu kok" ucap Sakura salah tingkah.
"Tapi Sasuke, apakah persyaratanmu itu tidak bisa dikurangi? Satu saja" Mikoto memohon dengan puppy eyesnya.
"Tidak" tapi itu tidak mempan dengan Sasuke.
Mikoto kembali memasang wajah cemberutnya. Sesaat kemudian sebuah ide terbesit di otaknya, ia pun membisikkan sesuatu ke telinga Fugaku dan dibalas dengan anggukkan.
"Baiklah, karena Sakura tidak keberatan, aku dan Fugaku menerima persyaratanmu. Itu artinya kau dan Sakura akan menikah bulan depan, atau lebih tepatnya 2 minggu lagi" ucap Mikoto dengan riang pada anak bungsunya.
Sasuke tetap memasang wajah kesalnya itu. Meskipun persyaratan egoisnya itu diterima, ia tak terlihat puas dengan hal itu. Sakura yang menyadari hal itu hanya menunduk sedih.
"Meskipun pernikahannya dirahasiakan, bukan berarti tidak ada pesta" ucap Mikoto bersemangat.
"Pernikahan dan pestanya akan dilangsungkan disini dan di hadiri oleh orang-orang yang sudah tahu. It artinya Sakura harus menyiapkan gaun pernikahannya dari sekarang" lanjut Mikoto.
"Sekarang?" Sakura melongo mendengar keputusan mendadak itu.
"Serahkan padaku…" ucap Shion seraya menarik Sakura keluar.
Shion terus menarik Sakura sampai ke garasi. Ia segera mengeluarkan kunci mobil pribadinya dan membuka pintu mobil itu. Ia memberi isyarat kepada Sakura untuk masuk ke dalam. Sakura segera menuruti Shion. Tak perlu berlama-lama, Shion segera menyalakan mobilnya dan melesat menuju sebuah tempat yang terbayang olehnya saat ini.
"Kita mau kemana?" tanya Sakura polos.
"Mencari gaun untukmu" jawab Shion tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jadi ini serius?" Sakura benar-benar terkejut sekarang. Bukankah reaksinya terlambat?
"Tentu saja, 2 minggu itu cepat loh. Hidupmu akan berubah dalam waktu sesingkat itu…" ucap Shion seraya mengedipkan sebelah matanya.
Sakura terdiam. Berubah? Akan jadi seperti apa hidupnya? Ditambah lagi sikap Sasuke yang jelas-jelas tak menyukai perjodohan ini. Apakah ini adalah hal buruk? Sakura mulai dihantui oleh perasaan takutnya.
"Tak usah khawatir, kalau kau perlu bantuan aku siap membantu kapan saja" seakan-akan Shion dapat membaca pikiran Sakura. Ia berusaha menenangkan calon adik iparnya itu.
"Terimakasih…" ucap Sakura diiringi senyuman.
Tak terasa, mereka telah menempuh perjalanan selama 20 menit lamanya. Mobil Shion berhenti di depan sebuah boutique yang cukup terkenal.
"Ayo masuk!" ujar Shion mendahului Sakura.
Sakura membuntutinya dari belakang. Ia memasang tatapan bingung sekaligus gugup. Di dalam, mereka di sapa oleh pemilik boutique dengan sangat ramah. Kemudian Shion meminta catalog design dari berbagai macam gaun pengantin. Shion menyodorkan catalog itu kepada Sakura.
"Kau cari yang kau suka, nanti Sasuke akan menyesuaikan pakaiannya dengan pilihanmu" ucap Shion.
Sakura terlihat bingung, semua design itu terlihat sangat indah. Kalau disuruh memilih, design manapun juga tidak apa-apa. Tapi yang jadi permasalahannya adalah harga untuk gaun itu. Ia memang berasal dari keluarga yang mampu, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya belanja barang mahal. Tentu saja ia merasa tidak enak.
"Apakah tidak apa-apa dengan harganya?" tanya Sakura ragu.
"Bibi Mikoto sendiri yang menyuruhku untuk membeli gaun disini. Sudah tak usah pikirkan harganya, pilih saja" ucap Shion.
Setelah lama memilih, akhirnya mereka dapat menemukan gaun yang cocok. Setelah itu mereka memberitahukan designnya pada Mikoto agar Sasuke bisa memilih bagiannya.
Tak terasa satu minggu pun berlalu, bahkan sampai hari ini Sakura masih tak percaya akan perjodohannya dengan Sasuke. Selain karena ia akan menikah dengan idolanya itu, ia juga akan menikah di usia yang sangat muda. Ia teringat perkataan orang tuanya saat memberitahukan hal itu.
"Sasuke tak pernah menunjukkan ke tertarikkannya kepada para gadis, jadi Mikoto agak khawatir pada putra bungsunya itu. Selain itu, kalaupun kekhawatiran Mikoto itu tidak benar, Sasuke memiliki banyak fans. Itu menyebabkan Mikoto khawatir Sasuke akan direbut oleh fans-fansnya. Karena itulah Mikoto memutuskan agar Sasuke menikah secepatnya"
Bahkan alasan itu sendiri masih sulit dipercaya olehnya. Rasanya kejadian ini bagaikan mugen tsukuyomi. Entah apakah ia harus pasrah atau menolak. Karena sebenarnya ia senang dengan hal ini, tetapi tidak dengan Sasuke. Sasuke secara terang-terangan menolak perjodohan ini dan itu membuat Sakura merasa tidak enak. Ia takut ia malah dibenci oleh Sasuke. Tapi Shion selalu mendukungnya dan berkata "Jangan pedulikan ayam itu!" dengan santai. Kini yang bisa ia lakukan hanya menunggu, menunggu sampai pernikahan itu datang. Karena di hari itulah hal ini akan ditentukan.
"Sakura, kenapa melamun?" tanya Shion yang memecah lamunan Sakura.
"Eh? Ah, tidak apa-apa kok" Sakura mencoba mengelak.
"Benarkah? Kalau ada apa-apa ceritakan saja padaku" ucap Shion sembari menyunggingkan senyumannya.
Dalam beberapa hari ini, Sakura menjadi sangat dekat dengan Shion. Meskipun teman-teman Sakura yang lain tak mengetahui hal ini karena Shion juga dipaksa untuk berpura-pura tidak mengenal Sakura. Sasuke beralasan kalau sampai Shion dekat dengan Sakura maka hubungan Sakura dengan Sasuke bisa-bisa ketahuan juga. Sepertinya Sasuke benar-benar serius mengenai hal itu. Ia bahkan benar-benar marah saat Shion mencoba melanggarnya. Sasuke terlihat begitu menyeramkan pada saat itu, sehingga Shion sekalipun tak berani lagi melanggarnya. Dan itu juga menyebabkan Sakura tak berani menceritakan hal ini pada siapapun termasuk sahabatnya, Ino. Padahal ia ingin sekali meminta pendapat sahabatnya itu. Tapi, apa boleh buat, Sasuke pasti marah besar kalau Ino sampai tahu.
"Sepertinya aku akan hidup dalam kehidupan yang penuh rahasia…" batin Sakura.
"Sakura, kemari!" sahut Shion tiba-tiba.
Sakura pun segera bangkit dan menghampiri Shion.
"Ada apa?" tanya Sakura bingung.
"Lihat ini, kau suka yang mana?" tanyanya antusias seraya menunjukkan sebuah catalog kue pernikahan.
"Eh, ini kan masih satu minggu lagi" ucap Sakura.
"Meskipun begitu harus dipesan dari sekarang" balas Shion.
"Sasuke, cepat kemari!" sahutnya pada sosok yang sedang duduk santai di sofa.
Yang dipanggil segera bangkit dan menghampiri Shion dan Sakura.
"Ada apa?" ucapnya dengan malas.
"Kau suka yang mana?" tanya Shion.
"Tidak ada" jawab Sasuke datar.
"Apa-apaan kau ini…" gumam Shion.
"Kau tahu kan kalau aku tidak suka manis. Suruh saja Sakura yang pilih, aku juga tak akan memakan itu" Sasuke kembali lagi ke sofa dan melanjutkan aktivitasnya, berkutat dengan handphone.
Sakura dan Shion sweatdrop melihat kelakuan si bungsu Uchiha itu. Akhirnya Sakura dan Shion lah yang memilih kue pernikahan itu.
Hari demi hari terlewati, aktivitas bernama menyiapkan pernikahan itu membuat Sakura menjadi lebih dekat dengan keluarga Uchiha. Terkecuali Sasuke. Sasuke selalu menutup dirinya. Hanya sesekali saja ia mau berbicara dengan Sakura, itu juga dipaksa.
"Nanti juga kalau sudah menikah kalian akan menjadi lebih dekat"
Itulah kalimat penghibur yang dikatakan Mikoto kepada calon menantunya itu. Semua orang di keluarga Uchiha termasuk Shion, mendukungnya. Memang hanya Sasuke saja yang menolak keberadaannya. Ia sendiri bisa memahami karena Sasuke dipaksa untuk menikah di usia yang begitu muda, karena itu pasti ia merasa kesal. Tak hanya Sasuke, sebenarnya Sakura juga merasa kesal akan hal itu, tapi kekesalannya hilang saat mengetahui bahwa orang yang dijodohkan dengannya adalah idolanya sendiri. Terkadang ia merasa bahwa ia memiliki perasaan yang egois.
-#-
Hari pernikahan pun tiba. Sakura sendiri tak menyangka bahwa hari ini benar-benar terjadi. Kini ia telah mengenakan gaun pernikahannya. Lengkap dengan riasan sederhanan di wajahnya. Ia benar-benar terlihat cantik hari ini. Terimakasih pada Shion yang telah mengurus make-upnya, tapi bukan berarti Sakura tak terlihat cantik apabila tak memakai make-up. Hanya saja, hari ini adalah hari yang spesial sehingga ia juga perlu tampil spesial di hadapan orang yang spesial pula. Sementara Sasuke hanya tampil seperti biasanya, hanya pakaiannya saja yang berbeda. Yah, Sasuke itu benci riasan, dan ia tak memiliki alasan untuk tampil berbeda hari ini. Meskipun begitu, Sakura tetap tertegun atas ketampanan sang pangeran KIHS ini. Dan kalau mau jujur, sebenarnya Sasuke cukup terpesona melihat penampilan Sakura hari ini, tapi tentu saja ia berusaha menyembunyikan hal itu sebisa mungkin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Sasuke sinis. Padahal sebenarnya ia juga terus memandangi Sakura.
"Ti-tidak apa-apa" Sakura yang salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya.
Kini mereka hanya menatap keluarga mereka yang sedang bersenang-senang dengan acara rahasia ini. Tak ada yang membuka pembicaraan. Bahkan sampai acara selesai, tak ada obrolan penting yang keluar dari mulut mereka.
"Sasuke, apa yang akan kau lakukan dengan Sakura di malam pertama mu?" bisik Itachi dengan nada menggoda.
Sasuke memalingkan wajahnya.
"Tidak ada malam pertama!" ucap Sasuke sinis.
"Loh, tapi kalian kan sudah menikah?" tanya Itachi lagi.
"Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau pindah, artinya aku dan Sakura tetap tinggal di rumah masing-masing. Hal nista yang kau pikirkan itu tidak akan terjadi!" omel Sasuke.
"EH?! M-memangnya begitu?" teriak Itachi nyaring.
"Kau berisik sekali Aniki!" Sasuke meninggalkan Itachi dan berjalan menuju kamarnya.
"Sasuke, tunggu sebentar…" Mikoto menahan putra bungsunya itu.
Ia mengukir seringai jahil di wajahnya.
"Aku punya pengumuman"
Aksinya itu menarik perhatian semua orang di kediaman Uchiha yang baru saja menghadiri pernikahan.
"Cih, aku bahkan belum mengganti pakaian…" gerutu Sasuke.
"Dengarkan dulu!" omel Mikoto.
Ia menarik napasnya dalam-dalam, sementara yang lain menatapnya dengan tatapan penasaran, kecuali Fugaku. Kepala keluarga Uchiha itu sepertinya sudah tahu tentang hal ini.
"Mulai sekarang…."
Mikoto menggantungkan perkataannya, ia kembali memperlihatkan senyuman jahilnya itu. Kemudian ia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Sasuke membelalak. Satu detik, dua detik, tiga detik kemudian…
"APAAAAAA?!"
Terdengar teriakan dari anak bungsu klan Uchiha memenuhi ruangan itu.
~To be continued~
Author's note:
Maaf banget kalo chap ini alurnya maksain, aku ga ada inspirasi *pundung*
Gimana menurut readers tentang chapter kali ini? Gaje ya X'D
Disini konflik utamanya sama sekali belum dimulai loh XD Lama banget ya...
Makasih banyak buat yang udah mau baca sampe sini, buat yang udah review, fav atau follow, dan silent readers...
Akhir kata, tanggapan kalian untuk fic ini akan sangat berarti, so review please... ^^
See you next chap ^^!
