Yohaa~ Sudah seminggu nih~ Makanya sekarang diriku update chapter terakhir. Okelah, tidak banyak yang dapat kukatakan, selamat membaca~ Sampai jumpa di bawah~
::
::
::
::
"Sudah kuduga akan terjadi hal seperti ini." dikala bercerita pada teme, inilah hal yang dikatakannya pertama kali. "Ayahnya Hinata terkenal keras, pasti Hinata dilarang memiliki kekasih sebelum lulus." aku semakin merasa lemas dikala mendengar hal itu. Ayah Hinata yang keras, Hinata yang selalu patuh pada ayahnya, mungkin akan sulit membuatnya menjadi milikku.
"Makanya aku memberitahukan langkah terakhir ini. Barangkali akan terjadi, tapi ternyata benar-benar terjadi." teme menyilangkan tangannya. Memang aku tidak dapat membantah bahwa aku bisa sampai sejauh ini karena dia. Tapi untuk langkah terakhir, tidak ada salahnya 'kan jika aku meminta saran lagi padanya?
"Jadi, kamu minta petunjuk lagi 'kan dobe?" aku menganggukkan kepalaku. Aku sudah cukup pusing dikala harus mengikuti langkah membuat nyaman, membuat menyukai, dan kali ini membuat menjadi milikku. Tapi aku tidak akan menyerah karena apa yang kuinginkan sudah ada di depan mataku.
"Sederhana saja." aku menyiapkan ponselku dan siap mencatat point pentingnya. "Temui ayahnya." tanganku langsung berhenti mengetik dikala mendengar kalimat itu.
Temui ayah Hinata. Temui orang tua Hinata yang terkenal keras. Yang benar saja! "Kalau kamu menginginkan dia mau menjadi milikmu, lakukan itu." aku menarik napas-ku, membuat tekad bulat. Menundukkan kepalaku dan berpikir keras.
Aku sangat menyukai Hinata, sangat, sangat dan sangat. Bahkan perasaan Hinata padaku sama entah kenapa bisa begitu. Tapi sayangnya, kami belum bisa saling memiliki. Jadi.. Langkah terakhir ini, harus kulakukan sebaik mungkin. Karena..
Perasaan kami yang sama, bisa menjadi tumpul kalau tidak diberi ikatan yang jelas 'kan?
Next Step
Make You Love Me
- Last Step-
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
Next Step Make You Love Me © Haruta
Pairing : Uzumaki Naruto & Hinata Hyuuga
Genre : Romance
Rated : Teen
Warning : Full Naruto P.O.V.
::
::
"Hinata, boleh aku bertanya?" dikala istirahat, aku menuju atap sekolah dan kebetulan Hinata juga ada disini. Jadi, kami dapat berbicara sementara dikala waktu yang sedikit ini.
Aku hanya ingin memastikan kejadian kemarin, benar tidak sih Hinata menyukaiku? "Apa benar kamu menyukaiku? Aku ini bodoh dan suka bertingkah seenaknya sendiri. Aku jadi tidak yakin kalau kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku." aku sedikit meragukan perasaan Hinata, soalnya hal seperti ini terjadi sih. Tapi tidak baik ya bila meragukan Hinata.
Hinata menatapku dengan wajah sedih. Apa aku berbicara hal yang salah? "Naruto-kun." aku menatapnya, menerima panggilannya padaku. "Walaupun kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih, tapi percayalah pada perasaanku." Hinata memegang tanganku, mungkin Hinata merasa tidak enak dengan kata-kataku sebelumnya.
"Aku menyukaimu, dengarkanlah kata-kataku ini dengan jelas. Itulah fakta dari lubuk hatiku yang terdalam." rasanya perasaanku sedikit tersentuh. Mau menangis, tapi tidak mungkin. Rasanya kemarin seperti merasakan hal yang sama seperti ini.
"Aku tidak peduli dengan kekurangan yang dimiliki Naruto-kun. Karena setiap orang pasti memiliki kekurangan itu." aku pun membalas genggaman tangannya. Syukurlah aku menyukai orang yang benar dan sudah sepatutnya aku merasa sangat bahagia.
"Oleh sebab itu, jika Naruto-kun benar-benar menyukaiku, tolong perjuangkan aku ya." perkataan Hinata membuatku tersadar. Kenapa selama ini aku harus bingung? Sedangkan Hinata sendiri, dia memintaku untuk memperjuangkannya.
Jadi, bolehkan aku memperjuangkannya? Menutup mataku, mengumpulan tekadku, "Maafkan aku Hinata." aku memeluknya. "Aku pasti akan memperjuangkanmu." dan lebih membahagiakan lagi dikala Hinata membalas pelukanku.
"Maka dari itu, bisakah kamu memberitahu kapan waktu luang ayahmu?" aku melepaskan pelukanku padanya. Aku akan memulai langkah terakhir ini. Tidak akan kusia-siakan kepercayaan yang Hinata berikan padaku.
"Iya." Hinata mengangguk padaku. Sedikit air mata keluar dari matanya. Kami memang masih anak-anak, tapi tidak ada salahnya 'kan memperjuangkan cinta kami?
Kami sebagai anak-anak pun hanya berharap yang terbaik untuk kami. Tidakkah itu yang terpenting dikala memperjuangkan kepentingan yang kami miliki?
::
::
Perjuangan langkah terakhirku yang sebenarnya pun baru saja akan dimulai. Setelah Hinata memberitahukan waktu luang ayahnya padaku, aku akan segera melakukan langkah terkahir ini.
"Membuatmu menjadi milikku, tidakkah itu kesannya terlalu memaksa?" aku tertawa kecil dikala mengucapkan hal itu. Sedangkan Hinata, dia hanya merona dengan kata-kataku.
"Rasanya kata-kata itu terlalu dewasa." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tersenyum, rasanya manis sekali. Tapi jika dipikir, bagian mana yang terkesan dewasa ya?
Tapi.. "Kira-kira kapan ayahmu punya waktu luang?" aku memang meminta Hinata memberitahukan padaku jika ayahnya memiliki waktu luang, tapi aku belum menanyakan kira-kira kapan waktunya. "Atau setidaknya? Biasanya kapan ayahmu memiliki waktu luang?" setidaknya dalam seminggu pasti memiliki hari yang selalu menjadi waktu luang 'kan?
"Maaf Naruto-kun, aku kurang tahu. Nanti akan kutanyakan pada ayahku kapan tepatnya." jawab Hinata. Tapi kalau menanyakan hal itu saja, pasti ayah Hinata tidak akan menduga bahwa aku, orang yang akan memperjuangkan Hinata, akan datang menghampirinya.
Untuk berjaga-jaga saja.. "Aa.. Hinata. Supaya lebih ke inti maksud yang sebenarnya, katakan pada ayahmu, orang yang menyukaimu mau memperjuangkanmu. Supaya ayahmu ada persiapan." ya.. Hanya perkiraanku saja sih. Kalau tiba-tiba aku datang dan langsung mengatakan hal itu, entah mengapa aku membayangkan bahwa tatapan tajam kemudian setelahnya pukulan akan melayang padaku.
Tapi jika sebelumnya Hinata telah menceritakan pada ayahnya, mungkin ayahnya akan bisa sedikit meredam kekerasannya dalam mendidik. Atau lebih tepatnya, sedikit meredam rasa sangat sayangnya pada anaknya sehingga sangat keras tentu dalam hal laki-laki. Tentu saja ayah Hinata juga pasti memikirkan kebahagiaan anaknya 'kan? Oleh sebab itu dikenallah ayah Hinata yang sangat keras.
Mendengar saranku, "Benar juga ya." sepertinya Hinata pun menyetujui perkataanku. Jadi, dikala mataku bertemu pandang dengan mata ayah Hinata, aku akan benar-benar siap menyelesaikan langkah terakhir ini.
Tapi kalau ditelaah lagi, rasanya ayah Hinata terlalu berlebihan dalam menjaga anaknya sampai untuk menjadi kekasih Hinata saja sampai sesulit ini. Tapi, aku tidak boleh berpikiran yang aneh terhadapnya karena aku tahu setiap orang tua memiliki caranya sendiri dalam melindungi anaknya. Seperti yang tadi kupikirkan sebelumnya.
"Tapi satu pertanyaanku padamu. Kenapa bisa suka padaku?" satu pertanyaanku. Kenapa Hinata bisa suka dengan orang bodoh sepertiku? Kenapa bisa suka dengan orang yang selalu tertawa dengan bodohnya sepertiku? Bahkan sebelumnya, kami saja tidak selalu berbicara seperti sekarang 'kan? Dan itu.. Baru kemarin lusa kami benar-benar berbicara.
"Naruto-kun." Hinata memulai kata-katanya. "Mungkin Naruto-kun lupa. Tapi, ada hari dimana Naruto-kun telah menyelamatkan hidupku. Kejadiannya sudah cukup lama sih." kejadian yang cukup lama apa yang telah kulakukan dan telah menyelamatkan hidup Hinata? Aku.. Sama sekali tidak mengingat akan hal itu. Sama sekali tidak mengingat hal itu.
"Makanya, kubilang kejadiannya cukup lama 'kan?" kemudian, pembicaraan antara kami pun berakhir. Walaupun masih bingung dengan kejadian apa yang dibilang Hinata, mungkin saja kapan-kapan aku dapat mengingatnya kembali.
Setelah itu, kami pun kembali ke kelas tanpa berbicara satu sama lain.
::
::
Esoknya, pagi hari saat aku baru masuk ke kelas, Hinata menghampiriku. "Hari ini." Hinata yang baru saja sampai padaku langsung mengatakan hal itu. Hari ini, ada apa dengan hari ini?
"Hari ini ayah ingin bertemu dengan Naruto-kun." sengatan listrik pelan langsung terasa pada tubuhku. Mungkin aku sedikit terkejut akan waktu yang tiba-tiba ini. Baru juga dibicarakan kemarin, tapi sudah ada waktu luang saja.
"Disaat aku berkata aku menyukai Naruto-kun dan Naruto-kun juga ingin memperjuangkanku, ayahku langsung mengosongkan jadwalnya hari ini." entah aku harus berkomentar apa tentang ini. Ayah Hinata benar-benar sayang menyayangi Hinata ya. Bahkan dia sampai mengosongkan semua jadwal pekerjaannya yang penting demi Hinata.
Memang.. Apa ya.. "Aa.. Terlalu mendadak. Tapi.." sudah kukatakan dan kutekadkan dalam diriku, "Akan kuperjuangkan." ya, aku akan berusaha. "Mendapatkan restu atas hubungan kita." tidak ada salahnya 'kan apa yang kukatakan ini? Walaupun aku masih memiliki usia yang sekarang, tidak apa 'kan memperjuangkan hal ini? Banyak yang lebih muda dibandingkan diriku yang bisa mendapatkan cinta mereka dengan mudah.
Menanggapi kata-kataku sebelumnya, Hinata tersenyum. "Jadi, pulang sekolah, katanya ayah tunggu di rumah." memang sudah kuduga bahwa tempat pertemuannya langsung di rumah sih. Lagipula, tidak mungkin 'kan melakukan pertemuan untuk hal seperti ini di tempat lain?
"Baiklah, kita tunggu sampai pulang sekolah ya." dan setelah ini, semuanya, perjuanganku akan selesai. Itu jika aku berhasil mendapat restu ayah Hinata sih. Jika belum berhasil, berapa kalipun harus mengulang, aku akan selalu berjuang.
::
::
"Memang terlalu cepat sih. Petunjuk apa lagi ya yang bisa kuberikan padamu?" kali ini, aku kembali berkonsultasi lagi pada teme. Memang dia berkata, temui ayah Hinata. Tapi, setelah bertemu dengan ayah Hinata, apa yang harus kulakukan pertama kali?
"Setidaknya.. Saat bertemu pandang dengan ayah Hinata, mengucapkan salam dengan terbata-bata, berikutnya?" aku merasa aku pasti akan merasa takut disana. Bahkan saat berbicara pasti cara bicaraku akan terbata-bata. Tapi apa boleh buat 'kan? Bertemu dengan orangtua dari orang yang disayangi lho!
"Ya aku rasa, untuk hal ini seharusnya berjalan secara alami tanpa petunjuk dariku." kembali menyilangkan tangannya dan menatapku, "Tapi tentu saja kamu harus berkata bahwa kamu akan memperjuangkan Hinata. Ya tentu supaya lebih memperjelas kata-kata Hinata pada ayahnya sebelumnya." Teme pun mengambil pensilnya dan membuka buku halaman belakang.
"Nih ya, kalau digambarkan. Ini kamu." dia memulai menggambar siluet yang dimaksud sebagai aku. "Lalu di seberangmu ada Hinata." dia pun kembali menggambar siluet yang dimaksudkan sebagai Hinata. Selanjutnya, teme menggambar persegi panjang di antara kami.
"Yang di tengah itu ayah Hinata." nah.. Kenapa ayah Hinata digambar dengan persegi panjang tidak dengan siluet wajah seperti kami? "Ayah Hinata diibaratkan dinding yang lebar, tinggi, dan kokoh. Untuk bisa menemui Hinata, kamu harus melewatinya dulu." pada akhirnya, aku pun mengerti maksud teme. Dinding yang sangat tinggi, lebar, dan kuat ya.. Memang terdengar sulit untuk dilewati sih.
"Jadi.. Kau berniat melewati dinding itu 'kan?" meletakan pensilnya dan menutup buku tulisnya, teme kembali menatapku. Aku merasa, teme sangat serius membantuku, aku harus banyak mengucapkan terima kasih apabila langkah terakhir ini berhasil. Karena selalu dia yang memberiku saran, dan semangat walaupun tidak dikatakan.
Kembali membulatkan tekadku, aku menjawab pertanyaan teme sebelumnya. "Sudah pasti." tentu saja aku akan melewatinya. Waktu yang tersisa ini, malam hari ini setelah pulang sekolah, aku akan berjuang sebaik mungkin. Ya berharap saja semoga aku tidak mengeluarkan kata-kata yang salah.
::
::
Hari keempat aku memperjuangkan cintaku, diakhiri dengan pertemuanku dengan ayah Hinata. Memang inilah hal sulit yang harus kuhadapi setelah melewati langkah pertama dan kedua, tapi aku tak akan menyerah begitu saja.
Aku mempersiapkan hatiku, menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, aku menatap lurus ke depan. "Ayo kita sekarang ke rumahmu." ya, inilah waktunya. Waktu yang paling menentukan, apakah aku bisa memperjelas hubungan antara aku dan Hinata. Apakah aku dapat memberi ikatan yang disebut 'kekasih' antara aku dengan Hinata.
"Iya." dan Hinata pun menganggukkan kepalanya. Maka, dimulailah perjalanan kami menuju rumah Hinata.
Dipersingkat saja, sekarang aku sudah berada di depan rumah Hinata. Aku meneguk ludahku, menyeka keringat yang keluar dari pelipisku. "Kalau begitu aku masuk." aku mengangguk menanggapi kata-kata Hinata. Tapi bukankah seharusnya tamu dibiarkan masuk terlebih dahulu?
"Ayo Naruto-kun masuk juga." lupakan soal kata-kataku sebelumnya, aku pun memasuki rumah Hinata dengan langkah hati-hati. Hinata pun mempersilahkan diriku duduk di ruang tamu. Akhirnya tiba bagiku untuk menunggu sampai kehadiran ayah Hinata di ruang ini.
"Aku ke kamar dulu ya. Setelah itu akan kupanggilkan ayah. Naruto-kun tunggu sebentar ya." aku menganggukkan kepalaku, dan kemudian Hinata menghilang dari hadapanku. Menatap sekitar ruangan ini, aku kembali teringat bahwa hari ini adalah hari yang penting.
"Jadi kau yang namanya Naruto."
Glek. Aku merasa kaku dikala mendengar suara seseorang dari belakangku. Keringat dingin mulai bercucuran padahal sekarang sama sekali tidak terasa panas. Aku yakin, pasti ini ayah Hinata deh. Dengan kaku, aku menengokkan kepalaku ke belakang, bangkit dari dudukku dan.. Benar saja. "Aa.. Se.. Selamat sore pa.. Man." ucapku sebagai awal permulaan dari pertemuan antara aku dan ayah Hinata.
Setelah aku mengucapkan hal itu, ayah Hinata pun berjalan mendekat ke arahku. Aku sungguh merasa takut karena wajah seram dan tatapan mengancam yang dilemparkan oleh ayah Hinata. Tapi aku berusaha mengatur ketakutanku supaya aku terkesan baik di mata ayah Hinata.
Ayah Hinata pun duduk di seberang kursi yang sebelumnya kududuki. "Duduk." kembali aku duduk sesuai dengan perintahnya. "Jadi.. Mau apa kau datang kemari?" ayah Hinata pun menyilangkan tangannya dan menyandarkan badannya. Padahal Hinata belum kembali dan padahal Hinata mau memanggil ayahnya. Jadi.. Aku harus berjuang sendirian, tapi tidak apa. Itu malah membuatku terlihat lebih serius dan tidak seperti ingin memamerkan sesuatu pada Hinata.
Aku mulai menjawab pertanyaan ayah Hinata sebelumnya. "Seperti yang Hinata katakan kemarin, aku datang untuk memperjuangkan Hinata." inilah awalnya. Permulaan dari langkah terakhirku. Semua petunjuk yang diberikan oleh teme pun sama sekali tidak dapat kuingat karena kegugupan ini.
"Kenapa harus anak saya?" kenapa harus anak paman? Kenapa harus Hinata?
Itu karena "Hinata gadis yang baik. Saya menyukai sifatnya." aku menjawabnya secara singkat. Apakah jawabanku sudah benar? Dan bukankah seharusnya aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukai Hinata? Tapi bukankah ini jawaban yang tepat untuk sekarang ini?
"Hanya itu?" eh? Hanya itu? Apa jawabanku masih kurang? "Hanya karena sifat anak saya tidak cukup untuk membuatmu menyukainya." benarkah? Apakah itu tidak cukup untuk membentuk perasaan ini?
"Tapi itulah sebenarnya paman. Ya.. Memang sih, awalnya saya berpikir saya tidak tahu kenapa saya bisa menyukainya. Tapi, cinta tidak butuh alasan 'kan?" aku menatap serius ayah Hinata. Aku tidak tahu, apakah perkataanku sudah benar. Tapi, setidaknya, aku sudah menjawab sesuai apa yang ada dalam pikiranku 'kan?
"Memang tidak butuh alasan. Saya kemarin sudah mendengar langsung cerita mengenaimu dari anak saya." kalau memang seperti itu, bisakah paman segera memutuskan apakah Hinata boleh menjadi milikku atau tidak? Aa.. Maksudku kekasih..
"Kalau begitu apakah paman merestui hubungan kami?" aku bertanya. Habisnya, sekarang aura ayah Hinata tidak begitu menyeramkan. Lalu, ayah Hinata juga tidak berteriak-teriak karena aku dan Hinata saling menyukai. Kurasa hal ini tidak sesulit yang kubayangkan.
"Belum."
"Eh? Kenapa belum?" aku sudah bertanya hal yang pasti. Tapi kenapa diberikan jawaban belum oleh ayah Hinata? Apakah aku gagal?
"Kamu belum membuktikan bahwa kamu benar-benar tulus menyukai anak saya." kalau soal itu, aku sangat tulus! Bahkan karena menerima kebaikan Hinata, rasanya aku seperti ingin meneteskan air mataku. Tidakkah itu sudah dapat dikatakan tulus daru hati yang terdalam?
"Jadi, apa yang harus saya buktikan pada paman? Saya.. Saya benar-benar menyayangi putri anda." tidakkah seharusnya sudah cukup? Aku sudah mengeluarkan kalimat yang sebenarnya. Aku sudah mengatakan hal yang realita. Tapi apa lagi yang harus kubuktikan supaya ayah Hinata merestui hubungan kami dan membiarkan kami menjadi kekasih?
"Dengar ya nak," aku menatap ayah Hinata. "Cinta tidak cukup hanya diucapkan dengan kata-kata." ya.. Lalu? "Buktikan dengan tubuhmu. Lakukan dengan serius jika kamu benar-benar menyayangi anak saya." kembali menyerap kata-kata ayah Hinata.
Buktikan dengan tubuh? "Apa yang harus saya lakukan?" tanyaku. Akan kubuktikan, karena aku benar-benar menyayangi Hinata. Tidak salah 'kan aku harus berjuang dengan badanku juga?
"Di kota ini ada legenda. Bunga tujuh warna sebagai tanda cinta sejati yang tertanam pada puncak bukit di kota ini. Carilah dan temukanlah." aku menatap ayah Hinata dengan tatapan tidak percaya. Benar tuh ada legenda yang seperti itu di kota ini? Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya?
Paling tidak kalau benar-benar ada, pasti sudah heboh di kalangan murid perempuan di sekolah. Tapi, kenapa ini sama sekali tidak ya? Sedikit tidak percaya, aku pun belum menjawab perkataan ayah Hinata.
"Tidak percaya? Tidak berminat mencari? Jadi hanya segitu rasa sayangmu pada putri saya?" mendengar hal tersebut, aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak! Saya akan lakukan." aku pun bangkit dari dudukku dan segera keluar dari rumah Hinata. Tapi sebelumnya, sudah pasti aku memberi salam terlebih dahulu kepada ayah Hinata. Pada akhirnya, di waktu yang menunjukkan pukul lima sore ini, aku akan mencari bukti keseriusan cintaku.
::
::
Tidak lama untuk mencapai puncak bukit, kini aku telah menatap bukit kotaku yang dipenuhi dengan bunga dan pepohonan. Bunga tujuh warna ya. Aku tidak pernah tahu itu. Tapi jika ayah Hinata menginginkanku untuk menemukannya, akan kutemukan sebisaku.
Aku membuka vest sekolahku, menggulung lengan kemejaku, dan melonggarkan dasi yang kukenakan, sip aku siap. Dimulai dari menggunakan mata terlebih dahulu, karena warna bunga disini cukup bisa dilihat dengan mata telanjang. Kalau memang tidak ketemu dengan cara itu, mungkin saja ukurannya lebih kecil dan harus kucari dengan cara menyeka bunga yang ada disini.
Memang sedikit repot, tapi tidak ada salahnya mencoba. Tapi aku kembali berpikir, memangnya ada ya legenda seperti itu? Ah.. Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh memikirkan hal itu. Aku harus segera menemukannya sebelum malam hari tiba walaupun mungkin akan sulit.
Waktu berlalu, menatap jam tanganku, waktu menunjukkan pukul enam sore. Langit sudah mulai menggelap dan sedikit membuatku sulit untuk mencarinya. Tapi, kalau kutunda sampai esok hari, aku takut kesempatan ini tidak akan datang lagi.
Langit malam yang menemaniku, diterangi dengan cahaya bulan dan bintang, akankah bunga tujuh warna itu menampakkan dirinya padaku? Aku menghela napasku, menatap langit, menyeka keringatku, aku berpikir, apakah bunga itu bersinar dikala malam hari? Ah.. Tidak mungkin.
Aku kembali menunduk dan mencari. Mungkin ini akan berakhir pada malam hari. Untung saja aku sudah mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok. Ya tepatnya saat hari dimana aku menyatakan perasaanku dan saat itu juga Hinata membantuku mengerjakan tugas. Kalau dipikir-pikir, saat itu juga banyak bintangnya seperti ini.
Waktu terus berlalu tanpa kusadari, aku kembali menatap jam tanganku. Sekarang sudah pukul sembilan malam tanpa kusadari. Kenapa ya.. Aku merasa aneh. Waktu selama ini pasti kalau di rumah aku akan merasa bosan dan dihabiskan untuk bermain game. Tapi untuk sekarang, kenapa waktu yang berlalu dengan cepat sekali?
Semakin lelah dengan pencarian ini, aku menyandarkan badanku sementara pada bukit kota ini. Menutup mataku yang lelah dengan lenganku, aku merasakan sepoian angin yang cukup membuatku nyaman. Sedikit mengantuk, ya, rasanya aku seperti ingin tertidur.
"Naruto-kun."
Eh?
Aku langsung membuka mataku dan bangkit dari tidurku. Yang kutemukan, Hinata yang sudah berada di depanku. "Hi.. Hinata." ucapku. Kenapa Hinata bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia tidak boleh keluar pada waktu sekarang?
"Aku ingin mengatakan.. Kenapa Naruto-kun sampai seperti ini?" Hinata menatapku sedih. Mungkin dia sedih karena aku berusaha terlalu keras seperti ini. Tapi seperti yang dia tahu,
"Ini untukmu 'kan?" aku tersenyum menanggapi perkataan Hinata. Tapi jujur deh, "Rasanya seperti mencari sesuatu yang tidak pernah ada." aku sedikit tertawa pelan. Awalnya seperti ada rasa ingin menyerah. Tapi dikala mengingat senyum Hinata, keinginan itu langsung lenyap.
Mungkin sebaiknya aku harus segera mencari lagi. Karena "Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membuat ikatan denganmu." aku tersenyum pada Hinata. Jika ini jalan satu-satunya, oke! Akan kulakukan. Jika itu apa yang ayah Hinata inginkan, oke! Akan kusanggupi itu!
"Tapi.. Naruto-kun.. Sebenarnya bunga itu.."
"Sudah cukup."
Aa..? Barusan. "Pa.. Man.." aku menatap sisi lain yang tiba-tiba saja ayah Hinata muncul dari sana. Dia datang menghampiriku dan Hinata. Menatapku yang sekarang sudah kotor bercampur dengan sedikit debu dan lumpur.
Tersadar akan lamunanku, aku harus menceritakannya. "Maaf om, sampai sekarang saya tidak dapat menemukannya. Ta.. Tapi akan saya cari lagi setelah ini." iya, aku belum menyerah kok! Siapa bilang untuk mencari hal kecil seperti ini aku mudah menyerah? Tentu tidak!
"Sudah cukup." eh? Aku tidak boleh mencari bunga itu lagi? Aku tidak diberi kesempatan untuk membuktikan keseriusanku lagi? Apakah aku.. Gagal?
"Pa.. Paman! Dengarkan aku dulu! Aku masih belum menyerah! Aku masih ingin membuktikan bahwa.." aku menundukkan kepalaku. Kenapa sekarang aku merasa ini benar-benar hal tersulit yang kuhadapi dalam hidupku?
"Aku ingin membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh.."
"Dengarkan saya dulu." aku mengangkat wajahku. "Saya berbohong." ber.. Bohong? Tunggu sebentar! Apa maksud dari kata berbohong? Berbohong soal bunga atau berbohong soal berhenti mencari?
"A.. Apa maksud paman?" aku pun bertanya. Jujur aku tidak mengerti sama sekali.
"Ini tentang bunganya. Saya berbohong untuk melihat keseriusanmu."
Mendengar hal itu, aku terkejut. "A.. Apa?" yang benar saja? Jadi.. Usahaku selama ini mencari bunga itu sia-sia? Jadi dari tadi.. Aku seperti orang bodoh yang mencari sesuatu yang tidak ada di dunia ini? Awalnya memang aku ragu, tapi ternyata keraguanku itu benar? Tapi..
"Dan sekarang, saya telah melihat keseriusan itu." mendengar kalimat ini, rasanya sekarang aku mengalami sedikit debaran dalam hatiku. Menunggu kelanjutan dari kalimat ayah Hinata..
"Ja.. Jadi..?" aku berkomentar. Ayah Hinata telah melihat keseriusanku, tapi bukan berarti kami direstui 'kan?
"Saya merestui hubunganmu dengan putri saya."
Bagaikan badai bunga yang mengelilingi tubuhku, hatiku pun ikut berbunga-bunga karenanya. "Be.. Benarkah?" aku sungguh tidak percaya. Benarkah ini bukan mimpi? Sekali lagi aku memastikan.
Melihat anggukan dari ayah Hinata, kegembiraanku pun tumpah ruah. "Asyik!" aku meninju udara sebagai tanda kesenanganku ini. Rasanya seperti mendapatkan kemenangan terbesar dalam kompetisi yang sangat mendunia.
"Oleh sebab itu, saya titip putri saya padamu. Tapi.. Kalau ada keluhan dari putri saya mengenaimu.. Saya tarik kembali kata-kata saya." setelah mengucapkan itu, ayah Hinata pun menghilang dari hadapan kami.
Bukankah itu artinya langkah terakhir ini sudah kuselesaikan? Buat dia menjadi milikku..
Aku menatap Hinata, Hinata membalas tatapanku dengan senyumnya. "Selamat Naruto-kun." aku tersenyum lebar. Dengan cepat kumendekatinya dan memeluknya erat.
"Aku berhasil Hinata!" ya, aku memeluknya dan mengangkat tubuhnya kemudian kami berdua berputar dengan bahagianya di atas bukit yang ditemani oleh bintang. Keberhasilan ini, bukankah itu artinya kami sudah memiliki ikatan sebagai 'sepasang kekasih'?
"Jadi.." menghentikan aksiku dan menurunkan Hinata, "Kita sudah memiliki ikatan yang jelas 'kan?" tanyaku memastikan pada Hinata. Aku menatapnya, menunggu kata-kata darinya.
"Jadi kita.." saling menatap satu sama lain, "..sepasang kekasih 'kan?" kami tertawa dikala kami sama-sama mengucapkan hal itu. Dengan ini, langkah terakhir ini, ini memang akhir dari langkah mendapatkan Hinata. Tapi disini, dari sini, barulah awal hubunganku dengannya.
Dari membuat dia nyaman denganku, membuat dia menyukaiku, kini membuat dia menjadi milikku, semuanya sudah kulakukan. Aku kembali menatap Hinata. "Jadi.. Ikatan kita sudah jelas 'kan?" dan Hinata pun mengangguk.
Memang disaat bahagia ini, aku tidak dapat memikirkan hal lain. Kembali memeluk Hinata, kami menikmati malam kami dengan memandang bintang. Ya, kurasa, cukup sampai disini ketiga langkah itu kulakukan.
Berikutnya, mungkin aku harus membuat langkah untuk mengetahui hal apa yang telah kulakukan dan telah menyelamatkan hidup Hinata. Tapi untuk saat ini.. Aku sangat bersyukur.
"Semua step yang kulalui pun, telah berakhir."
End
(Last Step)
Akhirnya cerita singkat ini pun berakhir~ Maafkan diriku karena telah menghasilkan kisah yang aneh ini~ Soalnya diriku jarang banget bikin cerita yang singkat~ Otak ini terlalu penuh(?) untuk membuat cerita bersambung yang panjang dan tentu saja aneh~ Tapi sayangnya diriku lagi mengalami writter blok sementara di beberapa fic yang lagi diriku proses. Jadi-nya ya pasti akan lama untuk menyelesaikan sebuah fic~
Sedikit bocoran, fic NaruHina-ku berikutnya bertemakan tentang "Angel" atau "Malaikat". Genre-nya tentu saja Romance dan sedikit Fantasy.
Ini Summary yang sudah kubuat tentang fic NaruHina-ku berikutnya~
::
Ada ilmuan yang mengatakan bahwa cinta itu seperti malaikat dengan satu sayap. Untuk dapat terbang, malaikat itu membutuhkan seorang teman. Dengan memeluk, mempercayai satu sama lain dan membentang lebar sayap mereka, mereka akan terbang menuju sebuah dunia baru... / "Karena.. Malaikat tidak dapat terbang hanya dengan sebelah sayap." /
::
Ya begitulah.. Tapi itu publish-nya akan sangat lama karena kapastitas di otak lagi error~ Oke, sampai berjumpa lagi di fic-ku berikutnya~
Terima kasih kepada kalian yang sudah mereview, favorite, dan membacanya~
::
::
Haruta Hajime
Next Step Make You Love Me (Last Step)
Kamis, 17 September 2015
