Aaah, maaf kalau update ini telaaat banget -.- Soalnya akhir-akhir ini aku sibuk XD Udah naik kelas 12 jadi yah gitu deh *malah curhat* Oke, makasih kalau memang masih ada yang nungguin fic ini XD Langsung aja ^_^
Warning: AU, gaje, mungkin typo, mungkin OOC, alur maksa, dll
Pairing: SasuSaku
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Disclaimer: Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
"Mulai sekarang Sakura akan tinggal di rumah ini" ucap Mikoto dengan tenang.
"APAAAAAAAAAAA?!" jerit Sasuke memenuhi ruangan.
"Berisik sekali" gumam Shion seraya menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Tidak usah histeris begitu, Ibu tahu kau sangat bahagia" Mikoto tersenyum jahil.
"Apa-apaan ini?! K-kenapa dia jadi tinggal disini?" tanya Sasuke dengan nada tinggi.
"Kau bilang kalau kau tidak mau pindah. Sementara suami dan istri itu harusnya tinggal bersama, jadi tinggal disini adalah pilihan satu-satunya" jelas Mikoto.
Sasuke menghela napasnya. Ia memijat keningnya sebentar.
"Ah terserahlah" ucapnya tidak mau ambil pusing.
Ia segera meninggalkan keluarganya dan masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur king-sized nya.
"Kenapa hal seperti ini harus terjadi? Apa yang selanjutnya akan aku lakukan?" batin Sasuke lirih.
Sementara itu Mebuki ternyata sudah menyiapkan koper milik Sakura, lengkap dengan semua perlengkapannya. Mulai dari pakaian casual, pakaian formal, sepatu, sendal, make-up, buku-buku sekolahnya, sampai seluruh perlengkapan sekolahnya. Sakura sendiri terkejut karena tidak diberi tahu mengenai hal ini sebelumnya.
"Itachi, tolong kau bawakan tas-tasnya" perintah Mikoto.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa bawa sendiri" ucap Sakura merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Sakura, sini aku bantu" ucap Itachi seraya mengangkat koper Sakura dan beranjak menaiki anak tangga.
"Kau ikuti Itachi menuju kamarmu yang baru ya!" ucap Mikoto dengan riang.
"Baiklah"
Sakura segera menuruti perkataan Mikoto. Ia terus mengikuti setiap langkah Itachi sampai mereka berhenti di depan pintu sebuah kamar yang akan menjadi kamar barunya itu.
"Nah, disini kamarmu. Mulai hari ini anggap saja rumah ini sebagai rumahmu sendiri" ucap Itachi sambil tersenyum.
"Iya, terima kasih banyak" ucap Sakura membalas senyumannya.
Itachi segera membuka pintu kamar itu. Sakura pun membelalak melihat isinya.
"I-Ini…" Sakura menggantungkan kata-katanya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya seseorang dari dalam kamar.
"B-bukannya ini kamar Sasuke-kun?!" ucap Sakura agak terkejut.
"Ya, dan ini juga akan menjadi kamarmu" ucap Itachi dengan tenang.
"APA?!" lagi-lagi teriakan itu terdengar. Sepertinya perkataan 'apa' sedang populer di rumah ini.
"M-maksudmu aku t-tidur sekamar dengan Sasuke-kun?!" tanya Sakura.
"Tidak! Apa maksudmu kak? Jangan bertindak seenaknya!" omel Sasuke.
"Siapa yang bertindak seenaknya? Ini adalah ide Ibu, jadi protes saja padanya" balas Itachi santai.
"Aaaah, kenapa orang tua begitu menyebalkan?!" batin Sasuke.
"Nah, karena sudah agak larut, sebaiknya kalian segera tidur. Masuklah Sakura" Itachi mendorong tubuh Sakura agar ia mau masuk ke dalam kamar barunya.
"Eh, t-tapi "
"Oyasumi" ucap Itachi seraya menutup pintu kamar Sasuke dan beranjak ke kamarnya sendiri.
Sakura hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tua mereka. Ia segera meletakkan kopernya di pojok kamar Sasuke. Sementara Sasuke hanya mematung di depan pintu.
"Maafkan aku…" ucap Sakura lirih.
"Lupakan saja" jawab Sasuke dingin.
"Kalau begitu… aku akan tidur di sofa" ucap Sakura seraya mengatur posisi bantal di atas sofa.
"Tidak, kau tidur di kasur" ucap Sasuke.
"Lalu, kau tidur dimana?" tanya Sakura terkejut.
"Tentu saja di sofa"
"T-tapi…"
"Tidak usah banyak bicara, kalau sampai orang tua kita tahu kalau kau tidur di sofa, aku yang akan disalahkan. Minggir sana, aku mau tidur" ucap Sasuke sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Sakura mau beranjak dari sofa.
Sakura merasa tidak enak pada Sasuke. Mana mungkin ia tidur di kasur sementara pemilik kasurnya malah tidur di sofa.
"Bagaimana kalau… kau juga tidur di kasur?" ucap Sakura dengan polos.
Sasuke sedikit terkejut dengan ucapan Sakura. Tetapi ia kembali tenang dan menghela napasnya.
"Sudah sana minggir, aku mau tidur disini" Sasuke menarik lengan Sakura agar ia mau bangkit.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Ia pun mengalah dan beranjak menuju kasur. Dan Sasuke segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya, kemudian ia memejamkan matanya dan terlelap.
"Apakah tidak apa-apa?" batin Sakura.
Ia pun segera mengambil baju tidurnya dan mengganti pakaiannya di kamar mandi yang berada di dalam kamar Sasuke. Setelah selesai, ia segera membaringkan tubuhnya di kasur empuk milik Sasuke. Ia sedikit menoleh dan memandangi wajah suami barunya itu. Sebelumnya Sasuke terlihat begitu lelah, tetapi kini ia terlihat begitu tenang. Sakura menarik kedua sudut bibirnya, semburat merah menghiasi pipinya.
"Oyasumi Sasuke-kun" ucap Sakura sebelum memejamkan matanya.
-#-
"Sakuraaa! Kemana saja kau?" tanya Ino saat sahabatnya itu masuk sekolah setelah satu minggu izin.
"Ada urusan keluarga pig" jawab Sakura tenang.
"Lama sekali sampai satu minggu" ucap Ino.
"Itu… karena urusannya panjang jadi memerlukan waktu yang panjang juga" balas Sakura.
"Kupikir kau tidak masuk karena sedih memikirkan idolamu yang ternyata sudah memiliki kekasih itu" goda Ino.
"Huh, tentu saja tidak pig. Untuk apa aku memikirkan hal itu sampai tidak masuk sekolah?" ujar Sakura.
"Lagipula, Sasuke-kun tidak hanya memiliki kekasih, tapi…"
Pipinya memerah memikirkan hal itu. Ino yang menyadari keanehannya pun memasang wajah bingung.
"Kau kenapa?" tanyanya.
"Ti-tidak apa-apa" ucap Sakura dengan cengiran.
Tak lama kemudian, Kurenai memasuki kelas mereka dan memulai bimbingan wali kelas. Mereka membicarakan program-program sekolah yang akan dilaksanakan.
"Jadi, di awal semester kedua nanti, akan ada program study tour. Dan juga, akan ada kelas gabungan dengan KIHS untuk memperkuat hubungan kedua sekolah. Program ini selalu ada setiap tahunnya, dimulai dari semester kedua tahun pertama. Jadi murid terbaik masing-masing sekolah akan digabung di kelas yang sama. Soal letak kelasnya, itu sesuai dengan keputusan kepala sekolah. Jadi untuk kalian yang berminat, belajarlah dengan serius. Nilai kalian di semester pertama ini yang akan menentukan" jelas Kurenai.
"Kelas gabungan?! Apa aku sedang bermimpi? Sakura, cubit aku!" ucap Ino tak percaya.
Tak hanya Ino, murid-murid lain, termasuk Sakura juga terkejut. Mereka tak pernah mendengar program ini sebelumnya. Kebingungan itu menciptakan kegaduhan di kelas.
"Aku yakin kalian baru mendegar program ini. Sebenarnya ini program lama, tetapi ini dirahasiakan agar menjadi kejutan. Hanya murid-murid KIHS dan KHS saja yang tahu mengenai hal ini" ucap Kurenai ditengah kegaduhan. Beberapa murid pun mengangguk paham.
"Baiklah, karena program ini masih cukup lama, kita lanjutkan pembahasan ini di lain waktu" lanjut Kurenai.
-#-
"S-Sasuke-kun" panggil seorang gadis bersurai indigo.
"Ada apa Hinata?" jawab Sasuke yang sudah mengenali suara itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"N-Naruto-kun bilang d-dia tak bisa menghubungimu beberapa hari ini. K-Kau juga sudah tak masuk sekolah selama semingu, apakah a-ada masalah?" Hinata memasang ekspresi bingung.
"Tidak ada apa-apa" jawab Sasuke.
"Eh, apa kau yakin?" ucap Hinata.
Sasuke berpikir sebentar dan kemudian menoleh kearah Hinata.
"Aku tak bisa memberitahumu sekarang. Tapi, aku baik-baik saja. Katakan itu pada Dobe" ucap Sasuke datar.
"B-baiklah" ucap Hinata seraya beranjak menuju kursinya karena bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai sudah berbunyi.
"Aku ragu kalau aku bisa menyembunyikan hal ini dari Dobe" batin Sasuke.
Selang beberapa saat, Yamato, guru sastra di KIHS segera memasuki kelas itu dan memulai pelajarannya.
-#-
"Akan lebih baik kalau kau bersama dengan Itachi saja" ucap Sasuke seraya mengaduk-aduk jusnya.
"Tapi dia selalu sibuk, kau tahu kan? Urusan perusahaan, tak ada waktu untukku" ucap Shion sebal.
"Tapi dari yang kulihat, hubungan kalian terlihat baik-baik saja" balas Sasuke.
"Ya memang, hanya kurang interaksi saja. Aku sih tidak terlalu mempermasalahkan kesibukkannya. Tapi disaat dia pergi, aku tak punya pilihan lain selain mengobrol denganmu" jelas Shion.
"Seperti tidak punya teman saja…" keluh Sasuke.
"Ada Konan sih, tapi dia sedang disibukkan dengan urusan pindah rumah" balas Shion.
"Tapi dia tidak selalu sibuk dengan urusan itu kan?" tanya Sasuke.
"Iya sih, karena itulah kalau ada dia, aku tidak kemari. Kau sepertinya tidak suka sekali kalau aku ada disini" ucap Shion kesal.
"Bukan begitu maksudku…" balas Sasuke.
"Lalu apa? Kau takut Sakura cemburu hah?" goda Shion.
"Tentu saja tidak" jawab Sasuke.
"Sudahlah mengaku saja…" Shion menyeringai jahil.
"Tidak" ucap Sasuke dingin.
"Sasuke, aku boleh ikut bergabung denganmu kan?" ucap seseorang tiba-tiba.
Sasuke segera menoleh keasal suara. Ia dapat menemukan sesosok gadis dengan helaian merah menyalanya sambil membawa nampan berisi beberapa makanan.
"Karin? Mau apa kau disini" ucap Sasuke yang tidak menyukai kehadirannya.
"Tentu saja aku mau makan" balas Karin yang langsung mengambil tempat duduk disamping Sasuke. Sontak, Sasuke bergeser beberapa centi untuk membuat jarak dengan Karin.
"Masih banyak kursi yang kosong kan? Kenapa harus disini" Shion pun mulai angkat bicara.
"Terserah padaku mau duduk dimana" balas Karin ketus.
"Dasar pengganggu!" ucap Shion kesal.
"APA KATAMU?!" bentak Karin seraya menggebrak meja. Beberapa pandangan matapun tertuju pada mereka.
"CIh, sekarang keadaan malah semakin buruk" batin Sasuke yang merasa tidak nyaman.
"Aku bilang pengganggu! Apa masalahmu? Hah?" balas Shion.
"Seharusnya aku yang berkata begitu, apa masalahmu?!" balas Karin.
Dan kemudian terjadi pertengkaran diantara mereka berdua. Sasuke yang semakin merasa terganggu dengan hal itupun segera menghabiskan santapannya dan pergi menjauh dari mereka berdua.
"Mengganggu saja" batinnya seraya melangkah meninggalkan kantin.
Saat berjalan di koridor sekolah, ia dikagetkan oleh sosok yang sangat dikenalnya.
"Terimakasih banyak" ucap gadis dengan helaian merah muda yang sangat menawan.
"Ayo kita kembali Sakura" ajak seseorang disebelahnya.
"Tunggu sebentar pig, lagipula jam masuk masih lama kan?" balas gadis yang dipanggil Sakura itu.
"Tapi entah kenapa, rasanya disini kita seperti orang asing" ucap sahabatnya yang merasa sedikit tidak nyaman.
"Itu hanya perasaanmu saja Ino" balas Sakura.
"Tapi, aku benar-benar ingin kembali, kita makan di kantin sekolah saja ya…" pinta sahabatnya yang dipanggil Ino itu.
"Ah, baiklah, ayo kita kembali kesekolah" ucap Sakura yang akhirnya menuruti perkataan sahabatnya.
"Itu kan Sakura, mau apa dia disini?" batin Sasuke yang melihat dari kejauhan.
"Bukankah dia begitu cantik?" ucap seseorang seraya menepuk pundak Sasuke.
"Oh ternyata kau Sai. Siapa maksudmu?" ucap Sasuke yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Gadis berambut pirang itu" jawab seseorang bernama Sai itu santai.
"Oh" jawab Sasuke singkat. Entah kenapa Sasuke merasa sedikit lega dengan jawaban Sai.
"Tumben sekali kau mau menjawabku. Bahkan bertanya seperti itu, jangan-jangan kau menyukainya ya?" goda Sai.
"Apa?! S-siapa maksudmu?" ucap Sasuke yang agak panik (?).
"Tentu saja gadis berambut pirang itu, kau pikir siapa lagi? Gaara?" balas Sai sweatdrop.
"Hah? Gaara?" tanya Sasuke bingung.
"Jangan bilang kalau kau tidak tahu siapa Gaara" ucap Sai semakin sweatdrop.
"Tidak bukan itu maksudku. Kenapa kau malah membicarakan Gaara?" tanya Sasuke yang juga semakin bingung.
"Gadis itu dan temannya kan baru saja berbicara dengan Gaara" jawab Sai.
"Benarkah?" ucap Sasuke agak terkejut.
"Mungkin kau harus memeriksa matamu Sasuke" ucap Sai seraya meninggalkan Sasuke.
"Enak saja kau bicara begitu!" omel Sasuke dari kejauhan.
"Mau apa Sakura dengan Gaara? Ada urusan apa?" batin Sasuke penasaran.
-#-
"Tadaima" ucap Sasuke dengan malas saat masuk kedalam rumahnya.
Ia segera menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia pun membuka pintu kamarnya dengan malas. Rasanya ia ingin sekali segera tidur setelah tugas-tugas sekolah yang membuatnya mengerjakan semua itu hingga malam.
"K-kenapa kau ada disini?!" ucap Sasuke yang seakan lupa ingatan saat melihat Sakura yang berada di dalam kamarnya.
"Kau pikun ya? Ini kan sudah menjadi kamarku juga, wajar saja kan?" ucap Sakura yang sudah mulai berani melawan sikap menyebalkan Sasuke.
Sasuke hanya mendecih pelan. Ia pun segera masuk kedalam kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Sakura yang sedang duduk di pinggir kasurpun terkejut melihat kelakuan Sasuke.
"M-mau apa kau?" tanya Sakura gugup.
"Nenek-nenek bunting juga tahu kalau aku mau tidur" balas Sasuke ketus.
"Ukh dasar menyebalkan" gumam Sakura pelan.
"Apa katamu?" ucap Sasuke yang mendengar gumaman Sakura.
"B-bukan apa-apa! Lagipula, kenapa kau malah tidur di kasur?" tanya Sakura.
"Kenapa? Memangnya aneh kalau aku tidur di kasurku sendiri" balas Sasuke datar.
"Lalu aku tidur di mana?" tanya Sakura polos.
"Di sofa" jawab Sasuke santai.
"Apa? Kenapa malah aku yang tidur di sofa?" ucap Sakura sebal.
"Hari ini aku lelah, kau saja yang tidur di sofa. Lagipula ini kan kamarku" ucap Sasuke seenaknya.
Sakura memandang sebal kearah Sasuke.
"Apa? Mau protes?" ucap Sasuke ketus.
"Tidak" balas Sakura sebal.
Akhirnya Sakura lah yang mengalah dan memilih tidur di sofa. Sakura sadar bahwa sebenarnya ia tak punya hak untuk melawan Sasuke. Apalagi Sasuke adalah suaminya. Ya meskipun kenyataan itu masih terasa seperti mimpi.
"Sampai kapan dia akan bersikap seperti itu?" batin Sakura.
Ia segera menepis pikirannya dan memilih untuk terlelap di atas sofa yang lumayan empuk.
-#-
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" pekik seseorang dari kamar Sasuke.
"Berisik sekali! Pagi-pagi saja sudah membuat kerusuhan" keluh Sasuke.
"T-TAPI, K-KENAPA KAU ADA DISINI?" ucap Sakura panik.
"Apa maksudmu, sejak kemarin aku memang ada disini" ucap Sasuke malas.
Sakura pun teringat kejadian kemarin malam. Ia ingat bahwa Sasuke seenaknya tidur di kasur dan menyuruhnya tidur di sofa, dan akhirnya ia terlelap di atas sofa itu. Sakura pun membelalakan matanya.
"SASUKE SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" pekik Sakura lagi.
Sasuke pun spontan menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, dasar cerewet" ucap Sasuke kesal.
"T-tapi bukannya kemarin aku tidur di sofa? Kenapa sekarang aku malah ada di kasur, t-terlebih lagi, bersamamu?!" ucap Sakura histeris.
Sasuke pun melirik malas kearah istrinya yang sedang histeris disebelahnya. Ia pun memutar bola matanya.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Kau hampir saja jatuh saat tidur di sofa, jadi aku memindahkanmu ke kasur, karena aku juga lelah, jadi aku tidur saja di kasur, ya bersamamu" ucap Sasuke datar.
"APA?!" lagi-lagi Sakura menjerit.
"Kalau kau berteriak begitu, orang tuaku bisa berpikir yang macam-macam tahu!" ucap Sasuke mulai kesal.
"M-memang kau melakukan yang macam-macam" ucap Sakura seraya menjauhkan dirinya dari Sasuke.
"Tadi kan sudah kubilang, aku hanya memindahkanmu, itu saja. Aku tidak melakukan apapun padamu. Lagipula aku juga tidak ingin" balas Sasuke.
"Kau pikir aku percaya?" ucap Sakura yang masih saja panik.
"Kalau aku melakukan sesuatu padamu kau pasti akan menyadarinya" balas Sasuke sebal.
"Bisa saja kau memberikan obat bius atau semacamnya…" ucap Sakura.
Sasuke pun menghela napasnya.
"Sepertinya kau ingin sekali aku melakukan sesuatu padamu" ucap Sasuke menyeringai.
"TUH KAN BENAR, KAU PASTI MELAKUKAN SESUATU!" pekik Sakura lagi.
Ia segera bangkit dari kasur dan berjalan mundur beberapa langkah, memastikan jarak yang cukup besar antara ia dan Sasuke. Sementara Sasuke hanya bisa sweatdrop di atas kasur.
"Cih, kau periksa saja sendiri, aku hanya memindahkanmu, itu saja. Pakaianmu saja masih rapih" ucap Sasuke santai.
Sakura pun melihat kearah dirinya sendiri. Memang benar sih, Sasuke sepertinya tidak melakukan apa-apa padanya. Meskipun ia agak curiga, tapi dengan melihat ekspresi Sasuke, sepertinya ia mengatakan hal yang sebenarnya. Sakura pun merasa lebih lega.
"Awas saja kalau kau berani macam-macam, akan kuadukan kau pada orang tuamu" ancam Sakura dengan percaya diri.
"Silakan saja. Jika aku melakukan 'itu' padamu, meskipun kau adukan pada orang tuaku, kau pikir mereka akan marah?" balas Sasuke sebal.
"T-tentu saja mereka akan marah. Mana mungkin mereka akan diam saja mengetahui anaknya melakukan hal seperti itu" balas Sakura.
"Sepertinya dia yang sudah pikun" batin Sasuke.
Tiba-tiba ide jahil masuk ke dalam otak jeniusnya. Sasuke pun mendekatkan dirinya kearah Sakura. Tangannya segera melingkari pinggang Sakura. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Mata Sakura membelalak dan ia pun membatu.
"Aku bisa melakukan 'itu' padamu kapan saja jika aku mau, karena aku kan suami mu" bisik Sasuke pelan.
Wajah Sakura pun memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana bisa ia lupa akan hal itu. Ia benar-benar merasa bodoh. Tapi tak berapa lama, Sasuke segera menjauhkan tubuhnya lagi dan kembali memasang ekspresi datar.
"Tapi sayangnya aku tidak ingin" ucap Sasuke.
Sasuke segera mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Meninggalkan Sakura yang masih membatu akibat perbuatannya barusan.
"M-Menyebalkan" batin Sakura.
-#-
Sakura terus memandang kearah jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya dipenuhi dengan kejadian pagi tadi.
"Bagaimana bisa aku melupakan hal itu?" batin Sakura sebal.
"Forhead! Sedang apa kau?" ucap Ino yang dengan sengaja mengejutkan sahabatnya.
"Tidak bisakah kau tidak mengejutkanku?" keluh Sakura.
"Akhir-akhir ini kau sering sekali melamun. Jangan-jangan kau sedang memikirkan Uchiha itu kan?" goda Ino.
"A-APA?! T-tidak, aku sama sekali tidak memikirkannya" elak Sakura.
"Yang benar? Kau pasti sedang memikirkannya melakukan sesuatu denganmu, seperti berkencan, makan siang bersama, atau bahkan hal yang lebih dari itu" Ino semakin menggoda Sakura.
"C-cukup Ino! Aku tidak sedang memikirkan hal yang seperti itu!" balas Sakura dengan cepat.
"Hahaha, baiklah baiklah. Jangan ngambek begitu Sakura" ucap Ino diselingi tawa.
"Kau tahu, ada kabar baik untukmu!" ucap Ino antusias.
"Kabar apa?" tanya Sakura datar.
"Kau ingat Shion? Orang yang digosipkan berpacaran dengan idolamu itu? Ternyata dia adalah tunangan Uchiha Itachi! Jadi dia dekat dengan Uchiha Sasuke karena dia tunangan kakaknya" jelas Ino.
"Oh itu, aku sudah tahu" ucap Sakura datar.
"Eh? A-Apa? Kau tahu dari mana?" tanya Ino bingung.
"I-itu, y-yah aku kan fansnya, tentu saja aku tahu" jelas Sakura dengan ekspresi sedikit panik.
"Hampir saja aku keceplosan" batin Sakura.
"Oh ya Ino, jam istirahat nanti, kau mau ikut ke KIHS?" tanya Sakura.
"Eh? Mau apa kesana? Kau mau menemui Uchiha Sasuke ya?" selidik Ino.
"Bukan. Tapi Gaara-kun" jawab Sakura.
"-kun? Wah wah wah, sepertinya kau sudah move on dari Uchiha Sasuke ya?" Ino mulai menggoda sahabatnya lagi.
"A-apa maksudmu Ino?" ucap Sakura gugup.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti Sakura. Dulu kan kau memanggilnya dengan suffix –san. Sepertinya sekarang sudah berubah. Tapi aku akan mendukungmu kok, daripada kau mengharapkan orang yang tak mengenalmu" balas Ino.
"Aku dan Gaara-kun tidak seperti itu" ucap Sakura.
"Halah, tidak usah berbohong segala. Atau mungkin kau belum menyadari perasaanmu sendiri?" Ino semakin menjahilinya.
"Ino! Ukh, sudahlah, mau ikut atau tidak?" ucap Sakura sebal.
"Iya iya aku ikut. Tapi apa aku tidak mengganggu hubungan kalian?" ucap Ino dengan senyuman jahil.
"Kau ini, aku tak memiliki hubungan yang seperti itu dengan Gaara-kun" gerutu Sakura.
"Hubungan yang seperti itu? Seperti apa maksudmu? Tadi aku hanya mengatakan 'hubungan' saja loh. Jangan-jangan memang benar ada sesuatu diantara kalian" kini Ino menyeringai jahil.
"Tidak! Sudahlah tidak usah membahas hal itu" ucap Sakura mengakhiri perdebatan yang baginya cukup menyebalkan itu.
-#-
"Ayolah Temeeee, tolong aku" ucap seseorang dari telepon.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa Dobe" ucap Sasuke malas.
"Sebentar saja, temani Hinata, aku mohooooon. Kau hanya perlu mengikutinya berbelanja dan memastikan ia baik-baik saja. Hanya itu" pinta orang itu.
"Kau sudah gila ya? Apakah di New York kau bergaul dengan orang gila?" balas Sasuke datar.
"Tentu saja aku masih waras! Aku masih sangat waras! Ayolah Teme, sekali ini saja" pintanya lagi.
"Kau tahu, orang-orang akan berpikir yang macam-macam jika aku menuruti permintaanmu" jawab Sasuke.
"Tidak akan! Fansmu juga tahu kalau Hinata itu pacarku, jadi tenang saja" balas orang itu.
"Tetap tidak mau. Meskipun mereka tahu kalau Hinata itu pacarmu, kemungkinan mereka akan salah paham tetap ada" balas Sasuke.
Tak berapa lama kemudian, ia segera mematikan teleponnya karena ia tak mau berdebat lebih lama dengan sahabatnya itu.
"Dasar Naruto bodoh" batin Sasuke.
"Kalau begitu, kami kembali ke sekolah dulu ya, sampai jumpa lain kali" ucap seseorang kepada salah satu murid KIHS yang cukup tampan.
"Bukankah itu Gaara? Dengan siapa ia berbicara?" entah kenapa Sasuke merasa penasaran.
Ia pun berjalan mendekat ke ujung koridor dan menoleh kearah kanan. Kini ia dapat melihat sosok yang tadinya tertutup oleh tembok.
"Sakura, mau apa dia― Tunggu dulu, kalau tidak salah kemarin juga ia bertemu dengan Gaara" batin Sasuke bingung.
"Ya, sampai jum― Ah Sasuke!" ucap Gaara yang menyadari keberadaan Sasuke.
Sasuke sedikit terkejut tapi ia berusaha menahannya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Gaara dengan ramah.
"Hanya lewat saja" ucap Sasuke dingin dan segera berjalan melalui mereka.
Sakura dan Ino sedikit melirik kearahnya saat ia berjalan melewati mereka.
"Ah! K-kalau begitu, kami pergi dulu" ucap Sakura seraya menarik lengan Ino dan melangkah keluar dari sekolah itu.
"Sakura, bukankah tadi itu idolamu?" tanya Ino diperjalanan.
"Yah itu memang dia" ucap Sakura.
"Kau tidak ingin mengejarnya?" tanya Ino.
"Jam masuk kan tinggal sebentar lagi, kurasa lain kali saja" jawab Sakura.
"Biasanya kau bahkan selalu berharap bisa melihatnya, meskipun hanya dari jauh saja sudah senang sekali. Jadi benar ya, kau sudah move on kepada Gaara" goda Ino.
"Tidak! Jangan bahas itu lagi" ucap Sakura bosan.
"Aku tak bisa memberitahumu alasannya Ino" batinnya.
-#-
'Cklek'
Suara pintu terbuka pun terdengar. Sasuke berjalan dengan malas kearah kasurnya.
"Minggir, aku mau tidur" ucap Sasuke.
"Kau pulang malam lagi?" Sakura mulai bingung dengan Sasuke yang sudah dua hari ini pulang malam.
"Apakah itu urusanmu?" ucap Sasuke dingin.
"Tentu saja, aku kan… istrimu" ia agak malu mengatakan kata-kata yang terakhir.
"Tapi kita kan dijodohkan" balas Sasuke seenaknya.
"Tapi kan tetap saja!" balas Sakura dengan cepat.
"Tetap saja apa?" tanya Sasuke.
"Tetap saja… Ah sudahlah lupakan" ucap Sakura segera memalingkan wajahnya yang dibalas tatapan bingung oleh Sasuke.
"Yasudah, kau mau tidur di sofa atau mau tidur denganku lagi, hn?" ucap Sasuke sedikit menggoda Sakura.
Sakura membelalakan matanya dan kemudian menggeleng dengan cepat.
"D-di sofa saja!" ucapnya cepat.
Sakura segera mengambil bantal dan selimutnya kemudian beranjak menuju sofa. Tetapi tangannya ditahan oleh Sasuke.
"Kau yakin? Di kasur lebih nyaman loh" goda Sasuke.
"A-aku di sofa saja" Sakura segera melepaskan tangannya yang ditahan oleh Sasuke dan bersiap untuk tidur. Di sofa tentunya.
"Baguslah kalau begitu" ucap Sasuke santai dan segera merebahkan dirinya di kasur.
"Sakura" panggil Sasuke tiba-tiba.
"Apa lagi?" tanya Sakura yang baru saja ingin tidur.
"Mau apa tadi kau datang ke sekolahku?" tanya Sasuke datar.
"Tenang saja, hanya dengan aku pergi ke sekolahmu bukan berarti aku mengenalmu kan. Akan kupastikan tak ada yang mengetahui hubungan kita" jelas Sakura.
"Ya tapi kau mau apa di sana?" tanya Sasuke lagi.
"Aku hanya minta diajari beberapa pelajaran yang tidak kumengerti" balas Sakura santai.
"Minta diajari Gaara?" tanya Sasuke dingin.
"Yah, Gaara-kun dulunya adalah teman SMP-ku" balas Sakura. Sasuke sempat terdiam sebentar.
"Teman? Apa kau yakin dia itu temanmu?" tanya Sasuke lagi, kini dengan nada ketus.
"Tentu saja aku yakin, memangnya dia siapa lagi? Musuh?" jawab Sakura yang bingung dengan tingkah Sasuke.
"Pacar… mungkin?" ucap Sasuke menebak-nebak.
"T-tidak mungkin! K-kami sama sekali tidak memiliki hubungan seperti itu, hahaha" ucap Sakura diiringi tawaan kecil.
"Kau yakin?" selidik Sasuke.
"Tentu saja, kau itu kenapa sih? Aku tidak pernah berpacaran dengan Gaara-kun!" balas Sakura.
"Lagipula mana mungkin aku memiliki pacar disaat aku sudah memiliki suami…" lanjut Sakura agak pelan.
"Tapi kita dijodohkan. Tak menutup kemungkinan bahwa kau memiliki kekasih kan?" balas Sasuke.
"Aku bukan orang yang seperti itu! Meskipun dijodohkan pun aku tidak akan selingkuh tahu!" ucap Sakura sebal.
"Tapi kau memanggilnya dengan suffix –kun" ucap Sasuke datar.
"Bukan berarti aku kekasihnya kan? Lagipula aku tak menyukainya" balas Sakura.
"Tidak usah berbohong padaku" Sasuke tak mau kalah.
"Aku benar-benar tidak menyukainya, yang aku sukai itu kan―" Sakura terdiam tak melanjutkan kata-katanya dan mengundang rasa penasaran bagi Sasuke.
"Siapa?" tanya Sasuke.
"Itu… kau sendiri kan juga sudah tau" ucap Sakura seraya menutupi dirinya dengan selimut dan terlelap.
"Eh? A-apa? Siapa?!" dan meninggalkan rasa penasaran di benak Sasuke.
Karena dihiraukan akhirnya Sasuke pun menyerah.
"Ck, terserahlah. Oyasumi" ucapnya sebelum menenggelamkan dirinya ke alam mimpi.
-#-
"Ittai!" Sakura meringis kesakitan.
Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha memperjelas pandangannya yang sedikit kabur. Rambutnya masih sangat berantakan, selimut yang sudah tak beraturan masih melekat di tubuhnya, sementara bantal yang digunakannya untuk tidur tergeletak begitu saja di lantai. Kalian bisa menebak apa yang baru saja terjadi padanya? Ya, dia terjatuh dari sofa saat tertidur.
"Uh, jam berapa ini?" ucap Sakura seraya melirik ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul enam tepat.
"Haaah, kupikir aku sudah terlambat" gumamnya lega.
"Mau sampai kapan kau disitu?" ucap seseorang memecah keheningan.
"S-Sasuke-kun?" ucap Sakura terkejut.
Sasuke sudah berdiri tegap dan menenteng tasnya, lengkap dengan seragamnya yang tertata rapih.
"Kau mau terlambat ya?" tanya Sasuke datar.
"Ah, sekarang kan masih jam 6" ucap Sakura malas.
"Apakah matamu sudah rabun? Itu jam 7, lihat baik-baik" gerutu Sasuke.
"Eh, jam 7? A-APA?!" sontak Sakura segera bangkit dan bersiap untuk mandi. Ternyata ia salah membaca jam.
Sementara Sasuke pun berjalan duluan ke ruang makan dan juga berangkat ke sekolahnya.
"Bukannya ini buku catatan milik Sasuke-kun?" ucap Sakura sambil memiringkan kepalanya.
Ia baru saja selesai merias dirinya dan bersiap berangkat, tetapi ia menemukan buku catatan milik Sasuke diatas meja belajarnya.
"Dasar. Padahal aku yang bangun kesiangan, tapi malah dia yang barangnya tertinggal. Mungkin dia sudah pikun" gumam Sakura.
"Apa aku bawakan saja ya?" pikir Sakura.
"Tapi… bagaimana aku memberikan ini padanya? Titipkan pada Gaara-kun? Tapi nanti dia tahu kalau aku mengenal Sasuke-kun. Ah sudahlah, itu urusan nanti" ucap Sakura seraya memasukkan buku itu kedalam tasnya.
Tak lama, ia turun untuk sarapan dan segera berangkat menuju sekolahnya, mengingat waktu yang ia punya hanya tinggal sedikit.
-#-
"Hari ini kita kedatangan beberapa murid KIHS untuk berbagi pelajaran kepada kita. Selain itu tujuan utamanya adalah sebagai wakil dari KIHS atas hubungan kerjasama kedua sekolah. Jadi sensei harap kalian dapat bersikap baik kepada siapapun yang akan datang nantinya, karena murid-murid itu akan belajar disini sampai pulang" jelas Kurenai di depan kelas.
"Waaah kesempatan besar! Semoga saja yang datang kemari tampan" ucap Ino antusias.
"Ah mulai lagi…" gumam Sakura pelan.
Selain Ino, murid lain juga tampak antusias dengan kesempatan besar itu. Perbincangan mendadakpun terjadi diantara para murid. Dan benar saja, siangnya beberapa murid KIHS masuk ke dalam kelas dan memperkenalkan diri. Beberapa siswi histeris, beberapa merespon biasa saja, dan ada pula yang tak tertarik sama sekali.
"Namaku Sabaku Gaara, mohon bantuannya" ucap pemuda berambut merah terang seraya membungkukkan tubuhnya.
"Ah Gaara lagi, sampai bosan aku melihatnya" gerutu Ino.
"Loh bagus kan? Kita bisa minta diajarkan olehnya tanpa perlu repot-repot pergi ke KIHS hari ini?" ucap Sakura.
"Ah, kau mau minta diajarkan atau yang lain?" goda Ino.
"Apa maksudmu?" ucap Sakura polos.
"Dimana yang lain, kalian bertiga bukan?" ucap Kurenai.
"Ah, mereka tadi ada urusan sebentar, entahlah apa yang mereka bicarakan" ucap Gaara santai.
"M-maaf kami t-terlambat" ucap seorang gadis dengan malu-malu.
Ia kemudian melangkah ke dalam kelas dan diikuti oleh seorang pemuda tampan yang mengundang teriakan histeris dari para siswi KHS.
"N-nama… namaku Hyuuga Hinata… salam kenal" ucapnya gugup.
"Aku Uchiha Sasuke" ucap pemuda itu dengan malas.
"Sakura, lihat! Itu Uchiha Sasuke! Itu idolamu!" ucap Ino histeris.
"Kenapa malah kau yang histeris?" ucap Sakura bingung.
"Ih, aku kan ikut senang untukmu. Kok kau malah biasa saja? Kau benar-benar sudah jatuh cinta pada Gaara ya?" lagi-lagi Ino meledeknya.
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!" teriak Sakura yang menarik perhatian seisi kelas.
"Haruno Sakura, apa ada masalah?" ucap Kurenai datar.
"A-ah tidak, hahaha, tidak ada. Maafkan saya…" ucap Sakura seraya membungkukkan tubuhnya.
"Dasar bodoh" batin Sasuke.
"Kalian semua dari kelas X.A ya?" tanya Kurenai kembali kepada para murid KIHS.
"Ya, setiap kelas memiliki tiga perwakilan" jawab Gaara.
"Kalau begitu, kalian bisa langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan" ucap Kurenai mempersilakan.
Akhirnya ketiga murid itu melangkah kearah kursi yang dimaksud, merekapun mengikuti pelajaran dengan normal. Begitu juga dengan waktu istirahat, mereka makan di kantin KHS dan berbicara dengan murid disana layaknya teman satu sekolah, yah setidaknya itulah yang diharapkan. Sampai akhirnya bel pulang pun berbunyi. Beberapa muridpun segera pulang kerumah, meskipun ada sebagian yang masih setia pada sekolahan mereka.
"Oh, jadi begitu ya…" ucap Sakura seraya mengangguk.
Ino yang duduk disebelahnya terus memperhatikan buku catatannya dan menatap kedua temannya sejak SMP secara bergantian.
"Jadi, sudah mengerti kan?" tanya Gaara seraya menutup bukunya.
"Un, terimakasih banyak Gaara-kun!" ucap Sakura dengan riang. Ino sedikit tersenyum jahil saat melihat sahabatnya itu.
"Ya sama-sama Sakura" ucap Gaara lembut.
"Ehm, apakah kalian melupakanku? Dari tadi kalian sibuk berdua saja? Apakah aku mengganggu hubungan kalian" goda Ino tiba-tiba.
"I-Ino apa maksudmu?!" ucap Sakura gugup. Semburat merah tipis menghiasi pipinya.
"Hahaha, aku tidak melupakanmu kok" ucap Gaara diiringi tawa.
Sementara itu Sasuke melihat mereka dengan pandangan kesal.
"Dasar pencari perhatian!" ia mendecak kesal.
"Ano… S-Sasuke-kun" panggil Hinata pelan. Sasuke pun segera menoleh keasal suara.
"Hn?" jawabnya singkat.
"Na-Naruto-kun ingin bicara denganmu…" Hinata pun menyodorkan handphonenya.
"I-ia sudah me-menghubungimu, tetapi t-tidak bisa" lanjutnya.
"Ah, ya… Handphoneku mati, aku lupa membawa charger" ucap Sasuke seraya menerima telepon dari Naruto.
"Ada apa Dobe?" tanya Sasuke malas.
"Kau sepertinya tidak senang sekali berbicara denganku…" keluh Naruto.
"Cih, sudahlah langsung ke intinya saja. Ada perlu apa?" balas Sasuke.
"Begini, beberapa bulan lagi a―"
"U-Uchiha-san!" panggil seseorang di sela-sela kegiatan telepon-menelepon itu.
"Sakura?! Kenapa dia malah mengajakku bicara?" batin Sasuke terkejut.
Sasuke mengabaikan perkataan Naruto di telepon dan menatap tajam kearah Sakura.
"Ah, i-ini… aku menemukannya di koridor. Ini milikmu kan? Kurasa ini terjatuh" ucap Sakura sambil meletakkan buku catatan milik Sasuke dan segera menjauh darinya.
Ia merasakan aura menyeramkan keluar dari tubuh Sasuke. Sasuke pun melirik kearah buku catatan itu.
"Bukannya buku ini tertinggal di rumah" batinnya bingung.
Sasuke pun memandang kearah sekitar. Ia sedikit memicingkan matanya saat menemukan sesuatu yang telah ia duga. Kemudian, ia baru teringat bahwa telepon dari Naruto masih tersambung. Dengan segera, ia mendekatkan handphone Hinata ke telinganya dan…
"TEMEEEEEEE!" teriakkan Naruto hampir saja membuat Sasuke kehilangan pendengarannya.
Untung saja ia dengan refleks menjauhkan handphone itu dari telinganya. Ia pun mengusap pelan telinga yang baru saja menjadi korban itu.
"Berisik sekali kau Dobe!" omel Sasuke.
"Habisnya, dari tadi kupanggil kau tidak menjawab? Kau dengarkan perkataanku tadi kan? Ah! Sial aku terlambat! Kalau begitu sampai jumpa!" Naruto pun segera memutuskan teleponnya.
"Eh? A-apa yang tadi dikatakannya?" Sasuke pun akhirnya bingung sendiri.
Melihat sudah banyak murid yang pulang ke rumah, termasuk Sakura, ia segera bergegas pulang. Dan tak lupa ia mengembalikan handphone milik Hinata.
"Ini, terimakasih" ucapnya.
Hinata pun membalas dengan senyuman lembutnya. Kalau ada Naruto disana, pasti ia semakin tergila-gila pada gadis Hyuuga ini.
"Sakura, aku pulang duluan ya! Ibuku sudah menungguku untuk membantunya berbelanja" ucap Ino seraya melambaikan tangannya.
"Ya, hati-hati" balas Sakura.
Sakura juga segera merapikan barang-barangnya dan bergegas untuk pulang. Disaat yang sama, Kurenai memasuki ruangan itu menemui tiga sosok yang dicarinya.
"Uchiha, Hyuuga dan Sabaku, kalian tidak keberatan untuk menghadap Kepala Sekolah terlebih dahulu kan? Kutunggu disana dalam 5 menit" ucap Kurenai singkat yang dibalas anggukkan ketiga sosok itu.
"Kalau begitu, aku duluan ya Gaara-kun" ucap Sakura lembut, Gaara membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.
Sakura segera melangkah keluar untuk kembali ke rumah Sasuke. Sementara ketiga murid KIHS segera menemui Kepala Sekolah, di sana juga sudah ada perwakilan murid KIHS dari kelas lainnya. Yah seperti biasa, hanya ucapan terimakasih dan sedikit 'ceramah'. Hanya berlangsung sekitar sepuluh menit dan mereka dipersilakan untuk pulang.
"Hinata, kau mau lewat mana?" tanya Sasuke bingung karena Hinata justru berjalan kearah halaman belakang sekolah.
"Neji-nii telah menungguku di halaman belakang, a-aku duluan" ucapnya pelan yang dijawab anggukan oleh Sasuke.
"Kau terlihat begitu akrab dengan putri sekolah, Sasuke?" ucap Gaara tiba-tiba.
"Dia kan teman SMP ku sekaligus kekasih sahabatku sejak kecil, wajar kan?" ucap Sasuke datar.
Karena perasaan kesal yang tak diketahui penyebabnya saat ia berdekatan dengan Gaara, Sasuke mempercepat langkahnya dan mendahuluinya. Di dekat loker, ia mendengar suara yang cukup aneh. Awalnya Sasuke menghiraukannya, tetapi ia terkejut melihat tiga orang siswi sedang berbincang di dekat loker dengan perbincangan yang sangat ia benci.
"Aku hanya menemukan buku catatannya, itu saja!" bela seorang gadis dengan helaian pinknya yang sudah tak beraturan karena jambakan-jambakan yang diberikan oleh kedua gadis didepannya.
"Itu hanya alasanmu untuk mendekati Sasuke kan?! Dengar ya! Jangan pernah kau mencoba mendekatinya! Ingat itu! Ya kan Tayuya?" bentak seorang gadis dengan rambut merah menyala.
"Ya, dengarkan perkataan Karin!" bela Tayuya kepada gadis bernama Karin itu.
Sasuke pun mendekat kearah mereka bertiga. Tatapannya terlihat begitu tajam. Semakin dekat, sehingga ketiga gadis itu menyadari kehadirannya.
"Sasuke?" ucap Karin terkejut.
Sasuke pun berjalan semakin dekat ke arah mereka, lebih tepatnya Sakura. Ia menatap emerald Sakura dengan tajam. Pikiran buruk pun menghantui mereka bertiga. Tak lama, Sasuke mulai membuka mulutnya.
"Kau…"
#To Be Continued#
A/N:
Yosh akhirnya chap ini selesai XD Seperti biasa, aku berusaha buat endingnya gantung biar penasaran XD Tapi gagal gak gantungnya?
Oke sekarang mau balas review dulu...
dianarndraha: Masa lalu Sasuke nanti juga diceritain kok, tapi bukan sekarang XD
bandung girl: Uwaaah ketahuan XD Silakan kalo mau pindah kesana, nanti di shannaro Sakura XD Terimakasih sudah menunggu ^_^
GaemSJ: Ah maaf gak bisa update kilat -.- Malah ini updatenya lama banget -.- Maaf...
misakiken: Disini udah tau kan Mikoto bilang apa? XD Maaf ya gak bisa update kilat
Hanami: Udah disebutin ya Mikoto bilang apa di chap ini XD Karin ikut sih, tapi entahlah bakalan banyak perannya atau dikit XD Terimakasih atas pujiannya ^_^
Yosh, terimakasih untuk semuaaaa reviewnya. Review dari kalian sangat berharga :'3 Ah, terimakasih juga buat yang udah baca, follow, fav, dan para silent reader... Terimakasih banyaaaak . aaf kalo chap kali ini kurang memuaskan. Sampai disini aja, akhir kata... Sampai jumpa di chap selanjutnya XD
