Firdha858: yosh! Fight!
Aiko Michishige: ini udah lanjut~
LVenge: bukan, sekolah di cerita ini sekolah biasa(sekolah manusia). Tapi setting di cerita ini emang masa2 lampau, jaman dulu gitulah, dan di jaman itu banyak makhluk ga hanya manusia yang tinggal di Dunia. N karena itu banyak 'makhluk' yang juga sekolah disana, sebagai manusia karena mereka udah lama tinggal di Dunia manusia ^^ klo soal Baekie, dia emang dari keluarga penyihir tapi bukan kayak Harpot, dia lebih ke mantra tanpa tongkat
Kirei Thelittlethieves: ini istilahnya ga gw pake semua padahal xDd
HyuieYunnie: nah, kenapa Tao selalu ngerasa aneh tiap ngeliat Kris, ini masih ada hubungannya sama cerita If We Never Meet Again, kan di ending cerita itu Tao menyadari satu hal tapi ga tau apa itu n nelangsa pas sadar dia ga bakal ngeliat Kris lagi(di cerita itu). Itulah kenapa di cerita ini ada perasaan ganjil itu, mereka semua reinkarnasi, tapi cuma beberapa tokoh aja yang menyadari kalau mereka bereinkarnasi ^^
celindazifan: Kris pawang gagak xD #plak
Ammi Gummy: seru loh belajar bahasa Elf, ekekekekek :3
Flywithbaek: Legolas emang cakep! X3 Kris itu misterius, sampai beberapa chapter ke depan identitasnya masih rahasia :3
Xyln: ini udah di lanjut~ :3
Dandeliona96: maaf juga klo bikin bingung, gw kebanyakan posting ff -_- *bow* nih di chapter ini ada Tanya jawab antara Kris ma Tao, wkwkwkwk
Selamat membaca dan jangan lupa review! Hehehe
.
.
.
Dust Grains
By: Skylar.K
Pair: Kristao/Taoris
Cast: EXO Members and other with OC
Genre: Drama Life, Romance Fantasy, Hurt
Rating: T
Warning: TYPO(S)
Word with bold its meaning something
.
.
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke samping mu
Masa lalu seperti asap, hilang tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun di cari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...
.
.
Tuesday, 10.30 am.
Pemuda semampai bersurai sehitam arang tampak mempercepat larinya menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi, karena ia telah keluar dari area umum sekolah. Ia mendekap erat tumpukan berkas di dadanya yang membuatnya kesusahan untuk berlari, mengejar sosok menjulang Kris yang berjalan cukup jauh beberapa meter di depannya, hendak berbelok di ujung koridor.
"Tuan Kri―"
Tao menutup kembali mulutnya, wajahnya tampak agak pucat dan dengan tatapan menyelidik serta waspada ke sekitar koridor, seperti tengah mencari sesuatu.
Ia yakin jika sayup-sayup mendengar nyanyian yang suaranya sangat mirip dengan suara nyanyian di mimpinya. Tao menelan ludah, ia tidak melihat siapa pun di koridor, terlebih pencahayaan di koridor tersebut sangat minim karena berjarak beberapa meter dari koridor terbuka yang memisah taman belakang.
"Kau memanggil ku tadi?" tanya suara baritone yang terkesan angkuh namun lembut, membuat Tao menoleh seperti anak kunci, matanya melebar kaget dan refleks melangkah mundur. Kris yang sadar akan reaksi muridnya itu buru-buru menenangkan.
"Maaf-maaf, aku tidak bermaksut mengagetkanmu" ucapnya menyesal, Tao mengangguk kecil.
Pemuda pemilik Onyx cemerlang itu menarik-hembuskan nafas berkali-kali, menenangkan detak jantungnya yang serasa akan melompat keluar. Bukannya berangsur normal, yang ada jantungnya malah semakin cepat berdetak saat menyadari betapa tajam dan hangatnya tatapan mata Guru biologinya itu. Rasa hangat yang aneh menjalari leher dan merambat ke wajahnya.
"Ada perlu dengan ku?" tanya Kris, menatap wajah Tao yang terdapat rona merah muda yang tipis.
Suara berat Kris menyadarkan Tao dari keterpakuannya. Pemuda Panda itu mengerjap beberapa kali, lalu buru-buru menunduk saat sadar tingkah bodohnya yang aneh, selalu mendadak gugup jika melihat Guru biologinya yang tampan itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kris, menundukkan kepalanya mencoba melihat wajah Tao. Pemuda manis itu mengangguk cepat.
"Baiklah, kalau begitu ada apa kau memanggil ku?" tanya pria tampan itu lagi. Tao mengangkat wajahnya perlahan, dari sorot matanya terlihat jika ia masih gugup.
"Itu...saya mengantar berkas data siswa yang di titipkan Tuan Choi untuk anda" ujar Tao akhirnya, sedikit bisa mengatasi kegugupannya.
"Oh ya, kalau kau tidak keberatan bisa bawakan sampai ke ruangan ku? Kedua tanganku juga penuh" Kris mengangkat ke 2 tangannya yang masing-masing membawa tumpukan buku. Tao mengangguk kecil.
"B-baik"
Kris tersenyum tipis, dan Tao terbengong kecil melihatnya, serasa banyak kupu-kupu sedang belajar terbang di dalam perutnya. Pria tampan pemilik obsidian dark brwon itu menarik pundak Tao pelan, agar mereka berjalan berdampingan menuju ruangannya.
"Jadi, siapa nama mu?" Kris memulai obrolan, menoleh pada Tao yang berjalan diam di sisi kirinya.
"Tao" jawab si Panda singkat. Toh memang tidak ada yang harus di perpanjang bukan?
"Ku dengar dari Mr. Zhoumi dan Tuan Choi kalau di sekolah ini muridnya beragam, boleh ku tahu apa saja mereka?"
"Apa saja yang anda ketahui?" sepertinya Tao sudah bisa mengendalikan kegugupannya.
"Mr. Zhoumi bilang kalau Tuan Choi itu adalah Elf, dan ada beberapa Elf disini. Apa itu benar?"
Ruki mengangguk. "Iya, ada tujuh Elf disini, dan delapan dengan Tuan Choi, dan beberapa anak berbakat lainnya"
"Oh? Jadi benar Tuan Choi Elf?" Kris menoleh, menatap Tao surprise.
"Beliau ketua kelompok dari ras Wood Elf" kata Tao menatap wajah tampan Kris, pria itu mengangguk-angguk paham.
"Lalu lainnya?"
"Luhan-ge, Lay-sunbae, Xiumin-sunbae, Jongin atau bisa di panggil Kai, Suho-sunbae dan saya sendiri"
Kris mengangkat satu alisnya. "Katamu tadi tujuh? Satunya?"
"Itu...Sehun" Tao tampak ragu mengucapkan nama pemuda tampan bersurai hitam yang memiliki tatapan dan ekspresi yang sama dengan Guru biologinya itu.
"Tunggu, biar aku tebak"
Tao kembali memalingkan wajahnya menatap ke depan pada lorong yang sepi, membiarkan Guru barunya itu menganalisa.
"Kau menyebutkan nama Sehun di urutan paling akhir, apa dia dari golongan yang jahat?" tebak Kris, Tao mengangguk kecil.
"Iya, Sehun dari ras Drow atau Dark Elf"
"Lalu enam lainnya?"
"Kalau Jongin dan Suho-sunbae dari ras yang sama Moon Elf, lalu Lay-sunbae, Xiumin-sunbae dan Luhan-ge dari ras High Elf"
"Kalau kau?"
"Eh...saya, campuran antara Moon Elf dan Wood Elf"
"Khusus ya?"
"Itu karena belum ada keturunan dari ras yang berbeda"
Kris mengangguk-angguk kecil, menandakan jika dirinya paham. Hening yang tercipta kemudian membuat Tao diam-diam mencuri pandang pada pria tampan tersebut, dadanya berdesir selalu, saat melihat wajah itu. Ada kemisteriusan disana, dan boleh percaya atau tidak, Elf sepertinya dapat melihat jahat atau baiknya seseorang melewati aura yang di pancarkan. Namun khusus untuk Guru biologi barunya itu, ia sama sekali tidak merasakan atau melihat apapun, yang ada dirinya selalu bertingkah aneh.
Mungkin Kris-songsaenim bukan manusia biasa. Atau mungkin dia seperti Chanyeol-hyung ya? ーTao sedang mengira-ngira.
Masih tidak ada yang bicara ketika Kris dan Tao berbelok di ujung lorong, dan pencahayaan pun semakin minim, udara juga terasa lebih dingin dan lembab.
"Oya, ngomong-ngomong" Kris menoleh pada Tao, begitu juga pemuda manis itu.
"Tidak akan ada asap jika tidak ada api bukan? Kenapa Elf seperti kalian ada di Dunia ini?" Kris menyatukan alisnya, tampak penasaran.
"Ah, itu..." Tao menggantung kata-katanya, berpikir sejenak.
Apa harus ia menceritakan juga perihal keberadaan mereka di Dunia ini? Tapi bukankah pria itu juga sudah tahu akan adanya Elf seperti dirinya di sekolah ini? Jadi...apa salahnya kalau bercerita sedikit?
Tao memalingkan wajahnya menatap Kris, tapi tanpa di duganya jika pria tampan itu tengah memperhatikannya. Pemuda Panda itu terdiam, tidak tahu harus bicara apa karena wajahnya sudah terasa hangat menyadari betapa tajamnya tatapan sepasang obsidian berwarna coklat gelap itu.
"Kalau tidak mau cerita juga tidak apa" kata Kris kemudian, memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.
"Ah, eh bukan, eh maksut saya..." Tao kehabisan kata-kata. Ia sudah terlanjur gugup sampai salah tingkah seperti ini.
Kenapa aku begini ya?
Kris tersenyum tipis, menyadari kegugupan muridnya.
"Sebenarnya..." Tao menarik nafas pendek, mencoba meredam detak jantungnya yang semakin aneh. Kris menoleh, menunggu kelanjutan dari mulut Tao.
"...kami datang ke Dunia ini untuk mencari sebuah buku" lanjut Tao, menatap lurus ke depan. Kris menautkan alisnya.
"Buku?" ulangnya, Tao mengangguk kecil. "Buku apa?" sepertinya Kris benar-benar penasaran.
"Buku yang menjadi rebutan banyak makhluk, sebenarnya ada tujuh buku, tapi enam yang lainnya sudah di hancurkan"
"Kenapa menjadi rebutan?"
"Masing-masing buku memegang andil penting untuk semua Dunia yang ada, akan sangat fatal jika jatuh ke tangan yang salah"
"Jadi kalian belum mendapatkannya?"
Tao menggeleng pelan, raut manisnya terlihat lesu. "Buku seperti itu pastinya di selubungi kekuatan sihir yang besar agar tidak mudah terdeteksi"
Kris mengangguk-angguk paham, tidak ada komentar lagi yang keluar dari mulutnya. "Semoga cepat kalian temukan" ucapnya kemudian, Tao tersenyum.
"Terima kasih Tuan"
"Ah, sudah sampai" Kris tampak kesulitan membuka pintu ruangannya, dan membuka pintu lebar-lebar.
"Tolong letakkan di meja" pinta Kris, Tao mengangguk dan patuh mendekati meja kayu yang berukuran cukup besar disana, sementara Kris meletakkan buku-buku yang di bawanya ke sebuah meja laci yang lain yang letaknya berada disisi kanan ruangan.
Dengan hati-hati Tao meletakkan tumpukkan berkas ke meja dan merapikan beberapa berkas yang hampir jatuh. Pemuda Panda itu menatap ke seluruh ruangan yang biasa saja, karena kastil bangunan sekolah di bangun dengan aksen batu yang kuno, maka dinding pun beraksen batu-batu, dengan langit-langit yang tinggi, dan ada beberapa pajangan di dindingnya, lalu lemari kayu antik di belakang meja―agak kepojok lekukkan dinding. Namun perhatiannya tertuju pada sebuah pot bunga kecil yang berada di jendela berbentuk segitiga―satu-satunya jendela―di ruangan itu.
Tao berjalan mendekat, mengamati tumbuhan di pot tersebut, dan ia mengenali tumbuhan itu.
"Itu milik Tuan Bryan" ujar Kris, memergoki Tao yang menatap lekat pada pot di jendela. Pemuda manis itu menoleh.
"Kenapa bisa ada di ruangan anda?" tanyanya. Kris menghela nafas kecil.
"Mr. Zhoumi menyuruh ku untuk merawat tanaman itu setelah Tuan Bryan meninggal"
Mata Tao melebar kaget mendengar hal itu. "Me-meninggal?" ia menatap tak percaya.
"Iya, bukankah kau anggota Dewan Siswa? Seharusnya kau ta―"
Tok tok tok
"Permisi Tuan" suara Nancy membuat Kris menghentikan kalimatnya. Tao menoleh ke arah pintu.
"Ya?" kini pandangannya tertuju pada seorang gadis bersurai pirang yant berdiri di depan ruangannya.
"Maaf, saya ingin memanggil Tao, karena ada rapat Dewan Siswa" jawab Nancy.
"Oh ya, silahkan, maaf tadi aku meminta bantuannya sebentar"
Nancy mengangguk, mau tak mau Tao harus meninggalkan ruangan tersebut, walau ia masih sangat terkejut dan bertanya-bertanya akan perihal meninggalnya Tuan Bryan dari mulut Guru barunya itu. Setelah berpamitan ia dan Nancy meninggalkan ruang kantor Kris, pria tampan itu berdiri diam di pinggir meja, menatap lekat pada pintu ruangannya yang terbuka lebar.
Kris tak sedikit pun terusik akan suara berisik sekelompok burung gagak yang ada di luar, gestur wajahnya berubah sangat kaku dan dingin. Sedingin sepasang obsidian miliknya yang kini berwarna cokelat keemasan.
.
.
Sementara itu di koridor lain... 10.32 am.
"Luhan!"
Suara nyaring di koridor tersebut membuat sang empunya melambatkan langkahnya dan menoleh ke balik punggungnya. Pemuda cantik itu memutuskan berhenti menunggu Xiumin yang sedang berlari kecil ke arahnya.
"Kenapa lari-lari?" tanyanya setelah Xiumin berdiri di depannya.
"Kau sudah dengar?" nada cemas, wajahnya tampak agak pucat.
"Dengar apa?" Luhan menaikkan satu alisnya.
"Tadi aku tahu dari Joonmyun, kalau ada Unicorn di Valinor yang mati!" kata Xiumin panik.
"Apa?!" mata rusa Luhan melebar sempurna. Xiumin mengangguk cepat, ia meremas-remas tangannya gelisah.
"Kita cari Suho!" kata Luhan ikut panik, lari menyusuri koridor kembali.
"Eh, tunggu-tunggu!" Kyungsoo yang berlari dari arah berlawanan buru-buru menyetop ke 2 pemuda itu.
"Kami buru-buru!" bentak Luhan, menyingkirkan Kyungsoo dari hadapannya.
"Iya-iya tapi aku cuma mau tanya―" Kyungsoo terpaksa tidak melanjutkan kalimatnya karena kedua seniornya, Luhan dan Xiumin sudah melesat meninggalkannya.
Pemuda bertubuh kecil itu mendesis kesal, menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Aku 'kan mau tanya dimana ruangan Tuan Kris" gumamnya dengan bibir di manyunkan
Ia menghela nafas pelan, membuka genggaman tangan kanannya yang terdapat sehelai bulu hitam.
"Itu bulu gagak 'kan?"
Kyungsoo menoleh cepat ke pundak kanannya. Wajah cantik Baekhyun menyapa matanya.
"Kau mengikuti ku ya?!" tuding pemuda bermata bulat itu. Memang tidak pernah suka dengan pemuda cantik yang memiliki senyuman manis tersebut.
Baekhyun melipat tangannya ke dada. "Darimana kau dapat bulu gagak itu?" tanyanya, tak menghiraukan tudingan sang junior.
"Mau apa tanya-tanya?" nada bicara Kyungsoo selalu sengit.
"Kau tahu 'kan kalau gagak identik dengan kekuatan magis hitam?"
"Aku tahu"
"Kau sedang mencari tahu pemilik bulu itu 'kan?"
"Kalau iya? Ada masalah?"
Baekhyun tersenyum miring. "Kau bisa tahu siapa pemiliknya dengan sihir, bagaimana?"
"Ha? Maksut mu?"
"Aku sedang mempelajari mantra baru, bagaimana kalau di coba lewat bulu itu? Kita akan tahu siapa pemiliknya tanpa susah payah" Baekhyun tersenyum manis, tersirat sesuatu di dalam senyumnya itu.
.
.
Tuesday, at Jade Dormitory 18.26 pm.
"Tao kemana sih? Kenapa Rapat Dewan sampai jam segini?" gerutu Jongin melihat jam sakunya.
Ia menutup kembali jam saku berwarna emas miliknya dan di simpannya di atas nakas, perhatiannya kini tertuju pada sosok Kyungsoo yang sejak seusai sekolah lebih banyak diam di kamar, menyibukkan diri dengan sebuah buku tebal yang tampak usang.
"Hei" panggilnya, heran melihat sifat 'pendiam' teman sekamarnya itu yang sangat tidak biasa.
"..." tidak ada respon.
Jongin pun turun dari ranjang, menghampiri Kyungsoo yang khusyuk membaca buku.
"Apa yang kau baca?" tanyanya, duduk di sebelah Kyungsoo, melihat ke halaman buku tersebut.
"Sihir Untuk Pemula?" Jongin mengangkat satu alisnya, lalu menatap Kyungsoo yang sama sekali tidak terganggu.
"Kau sudah ketularan Baekie-hyung ya?"
"..." masih tidak ada komentar dari mulut Kyungsoo. Jongin mencibir, karena teman sekamarnya tak menghiraukannya.
Pintu kamar yang tiba-tiba di buka membuat Jongin menoleh cepat. Sosok semampai Tao masuk dan tak lupa menutup pintu kembali.
"Darimana saja jam segini baru datang?" tanyanya, dan bukannya menjawab, pemuda Panda itu langsung merubuhkan tubuhnya tengkurap ke tempat tidur Kyungsoo tanpa melepas mantel jubah hitam dan segala atribut yang di kenakkannya.
"Tao?"
"Hnn?" ia memejamkan mata karena lelah.
"Kau sudah tahu berita dari Dunia Tengah?" Pemuda bermata Panda itu mengangguk samar, namun Jongin dapat melihatnya.
"Tadi Lay-sunbae cerita" jawabnya menggumam.
"Apa kau tidak merasa aneh?"
Tao membuka matanya kembali dan bangkit dari rebahannya, duduk dengan wajah kuyu. Kentara sekali jika ia sangat lelah.
"Hanya makhluk biadab yang membunuh Unicorn" ucapnya menahan emosi. "Ini di tiga tempat sekaligus, bayangkan, siapa yang tega membunuh hewan suci seperti Unicorn?" imbuhnya kemudian.
Kyungsoo yang asyik membaca buku pun mengangkat wajahnya, satu alisnya terangkat menatap Jongin.
"Unicorn hewan mitos bertanduk itu?" tanyanya, tampak tertarik. Jongin mengangguk samar.
"Dari yang ku baca di buku, kalau meminum darah Unicorn akan mendapat kekuatan yang sangat besar dan akan berumur panjang?"
"Memang, tapi setimpal dengan akibat yang akan menimpa. Intinya siapapun yang membunuh Unicorn akan di kutuk" kata pemuda tan itu.
Tao menghela nafas, memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam obrolan Jongin dan Kyungsoo, dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang begitu saja, menutup mata karena kantuk telah merayapinya. Karena ia butuh untuk tidur saat ini juga, tak peduli jika ia masih memakai baju lengkap.
To be continue
.
.
Note:
● Valinor = tempat tinggal ras Elf bangsawan, di luar Dunia Tengah
● Unicorn = hewan mitos dengan fisik menyerupai kuda dan memiliki satu tanduk di bagian dahinya.
Ada yang mau di tanyakan lagi?
© Skylar.K
