Dust Grains
By: Skylar.K
Pair: Kristao/Taoris
Cats: EXO Members and other with OC
Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt
Rating: T
Warning: TYPO(S)!
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke samping mu
Masa lalu seperti asap, hilang tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun di cari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...
.
.
.
.
Wednesday, 02.00 am.
"YIFAN!"
Tubuh pemuda bermata Panda di kamar itu menghentak cepat hingga bangkit duduk. Nafasnya tersengal berat, matanya membulat takut, bulir-bulir keringat luruh ke dagunya.
Bola matanya bergerak acak menelusuri ke seluruh kamar, ada binar ketakutan di manik Onyx itu. Namun setelah beberapa detik, pemuda manis bersurai sehitam arang itu pun menghela nafas berat, meredam detak jantungnya yang berdetak abnormal.
Tao memijit-mijit kepalanya pelan yang mendadak terasa berat. Entah karena apa.
"Apa aku mengatakan sesuatu tadi?" gumamnya serak. Ia memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat kalimat apa yang keluar dari mulutnya. Tapi semakin ia berusaha untuk mengingat, tetap nihil, dirinya tidak bisa mengingat apapun.
Tao menghela nafas lagi dan tak sengaja melihat sarung tangan hitam yang membungkus tangannya. Pemuda Panda itu menautkan alisnya, dan memperhatikan seluruh tubuhnya yang ternyata masih mengenakkan seragam lengkap serba hitam―yang khusus.
Ia pun turun dari ranjang, tepat saat itu juga ia melihat seseorang yang berada di tempat tidur. Keningnya mengerut dalam melihat Jongin yang tidur di ranjang yang sama dengannya, ia lalu mendongak cepat keatas pada kamarnya, dan ternyata memang dirinya lah yang tertidur di ranjang Jonginーsahabatnya yang berkulit eksotis.
Tao menggaruk rambutnya kasar lalu beranjak menaiki tangga ke kamarnya sendiri yang ada di atas. Ia melepas semua atribut yang melekat di tubuhnya termasuk seragam yang di kenakannya dan memakai piyama berwarna biru yang telipat rapi di atas tempat tidur. Sepasang Onyx cemerlangnya menatap jam dinding antik yang menggantung di dinding depan ranjang, satu alisnya terangkat melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ia pun menyimpan seragam dan mantel jubah hitamnya ke lemari kecil yang berada di dekat tempat tidur lalu mengunci lemarinya kembali. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas, duduk di pinggir ranjang menatap dinding kamar yang beraksen batu bata merah, dan pikirannya pun melayang ke beberapa jam yang lalu, tepat saat ia dan anggota Dewan Siswa yang lain ke pemakaman.
Sampai saat ini ia masih tidak percaya jika Guru biologinya, Tuan Bryan, telah meninggal Dunia. Dan yang membingungkan adalah tidak adanya penjelasan penyebab kematian Tuan Bryan yang sangat mendadak. Sulit di percaya memang, tapi memang seperti ini adanya. Di sisi lain, beban pikirannya bertambah akan kabar dari Dunia Tengah yang cukup mengejutkan untuk kedua kalinya.
Bagaimana pun juga kedua hal itu sangat tiba-tiba. Tanpa sebab yang tidak pasti, kalaupun ia tidak mendapat kejelasan dari meninggalnya Tuan Bryan, setidaknya ia dapat mengetahui penyebab Unicorn yang mati di bunuh di Dunia Tengah.
Memang bukankah seharusnya seperti itu?
Tao meraih jam saku yang ada di meja lampu baca, dan tak sengaja melihat perkamen kuno yang kemarin di pinjamkan oleh Tuan Siwon padanya. Masih ada lain hari mempelajari isi perkamen itu, yang penting saat ini adalah ia harus 'pulang' ke Dunia Tengah untuk mencari informasi, apa yang tengah terjadi disana.
Tao menyimpan jam sakunya di saku piyama dan menuruni tangga dengan sangat pelan, agar tidak menimbulkan bunyi yang dapat membuat kedua temannya terbangun. Tanpa mengenakkan mantel, ia nekat keluar dari kamar, menyusuri lorong asrama padahal cuaca cukup dingin saat malam.
Pemuda tinggi nan manis itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar tetap hangat, namun saat ia akan berbelok tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa disana, hanya lorong yang sunyi, hembusan angin melolong seperti serigala, di hutan-hutan yang ada di Zircon.
Tao kembali melanjutkan langkahnya menuju taman belakang, mempercepat langkahnya, tak menghiraukan sekelebat bayangan-bayangan yang berseliweran di sepanjang lorong, dan yah...hal itu bukanlah hal yang menakutkan baginya.
Ia merogoh saku piyamanya, meremat jam sakunya dan membuat jam antik itu bercahaya keemasan seperti kunang-kunang. Namun saat ia berbelok, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria tinggi yang berjalan dari arah berlawanan, beberapa meter jauhnya. Tao mengernyit memperhatikan sosok yang semakin mendekat itu, berkat cahaya bulan yang cukup terang malam ini, menerangi sosok pria berambut pirang gelap itu.
Ah, itu Guru biologinya. Tapi kenapa pria itu berkeliaran pada dini hari seperti ini?
Tao melepaskan jam sakunya, dan sinar keemasan itupun lenyap. Sekitar tubuhnya kembali gelap pada sedia kala.
"Tuan?" panggilnya ragu, menatap selidik pria berbaju serba hitam tersebut.
Kris yang tengah mengelap pipinya dengan punggung tangan kirinya pun mendongak, tampak kaget melihat salah satu muridnya yang berdiri tak jauh darinya.
"Tao-ah? Kenapa ada disini?" tanyanya, mengangkat satu alisnya. Tao melanjutkan langkahnya perlahan, bersamaan dengan Kris.
"Ah, saya hanya..." Tao tidak menemukan alasan yang tepat.
"Menikmati cahaya bulan?" tebak Kris, tersenyum miring. Tao yang mengerti maksut kata-kata Gurunya itu buru-buru mengangguk cepat.
"Maaf, anda sendiri?"
"Tadi sebenarnya aku sudah tidur tapi karena aku dengar sesuatu dari taman belakang jadi aku kesana" ujar Kris. Tao mengangguk-angguk kecil, mengerti.
"Sebaiknya cepat kembali ke kamar, bisa gawat kalau pengawas asrama melihatmu di luar seperti ini" ucapnya, tersenyum tipis.
Pipi gembil Tao bersemu, entah karena udara yang dingin atau karena senyuman dari Guru biologinya.
"S-saya akan segera kembali" Tao berkata gugup, menghindari tatapan tajam Kris dan malah terperangkap menatap bibir pria super tinggi itu . Disana, di bawah bibi plumnya terdapat bercak kebiruan seperti air di dekat dagunya.
"Kalau begitu aku duluan ya" Kris mengusap kecil kepala Tao, membuat surai coklat pemuda itu agak berantakan.
Tao hanya mengangguk kecil dan Kris kembali berjalan. Ia memperhatikan punggung pria tampan itu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di ujung lorong. Kemudian ia pun kembali melanjutkan 'perjalanan' kecilnya menuju taman belakang.
Tao memasuki taman yang sangat asri dengan sebuah kolam ikan di tengahnya. Dengan lincah ia melompat di atas tapakkan yang mengarah ke kolam. Taman itu di pagari oleh tumbuhan merambat hijau yang di bentuk menjadi pagar. Ada bermacam-macam tumbuhan dan bunga, serta bangku-bangku kayu yang tersebar di beberapa sudut. Ia menghentikan langkahnya di batu tapakkan yang terakhir dan berjongkok seraya merogoh saku piyamanya mengeluarkan jam sakunya.
Di bukanya jam saku tersebut dan dengan mudah membuka kaca pelapisnya, jarinya memutar jarum jam panjang sebanyak 3 kali, lalu kedua jarum di arahkannya pada angka 12 dan di tutupnya kembali kaca tipis itu. Ia memasukkan jam unik tersebut ke dalam kolam ikan, dan cahaya keemasan berpendar cantik di dalam kolam.
"I Lìn hir..."(im leen here = aku tuan mu) gumam Tao memejamkan matanya. Suaranya yang sengau namun lembut membaur dengan angin malam yang menyapa.
Cahaya keemasan pada jam tersebut semakin terang, air kolam menjadi beriak dan terbelah dua saat sesuatu muncul dari dasar kolam.
Pemuda bermata Panda itu membuka matanya kembali, lalu berjalan masuk sejurus dengan sebuah pohon yang menjulang di depannya kemudian berhenti. Sebuah pohon Oak yang tidak seberapa tinggi dan berdaun lebat, tampak sangat tua.
Tao pun bangkit berdiri, menyimpan kembali jam sakunya ke saku piyama kemudian menjulurkan tangannya ke depan, menapakkan telapak tangannya ke udara. Tiba-tiba angin berhembus kencang saat ia menutup mata, merapal mantra dalam kebisuan, dan guratan hitam yang melingkar-lingkar muncul di dahinya, dan dalam sekejab mata sebuah cahaya putih yang menyilaukan, terpancar dari pohon Oak menarik tubuh mungil Tao dengan cepat.
Udara di sekitarnya berputar bising dan cahaya itupun meredup. Tao membuka matanya saat angir bertiup lirih menyapa, sinar jingga yang menghujani pepohonan rimbun membuat siluet yang sangat indah. Kini ia telah berada di Dunia-nya. Sebuah lingkaran berwarna perak menghiasi kepalanya, piyama birunya kini telah berubah menjadi baju berwarna coklat. Ia mendongak menatap langit sore, kicauan merdu Sunbird meramaikan hutan yang sepi. Namun saat ia hendak melangkah, suara gemrisik rerumputan membuatnya mengurungkan niat itu.
Pemuda manis itu menoleh ke sisi kanannya, sepasang Onyx nya bertemu pandang dengan mata abu-abu Siwon.
"Kau datang ya" pria itu berjalan mendekat. Tao mengangguk.
"Saya ingin tahu apa yang terjadi di sini Tuan" ucapnya sopan. Siwon menarik nafas kecil.
"Sepertinya sudah tersebar ya? Siapa yang memberitahu mu?"
"Lay-sunbae"
"...sebenarnya kita semua mencurigai Drow yang melakukan ini, kita tahu mereka tidak pernah peduli dengan Dunia ini"
"Tapi apa mungkin Tuan?"
"Apa saja bisa terjadi, aku juga sudah menyuruh Suho untuk menanyakan hal ini pada Sehun tapi hasilnya nihil"
Tao menggigit bibir bawahnya, hatinya mendadak risau.
"Ada satu Unicorn lagi yang terbunuh hari ini, mau lihat?"
Mata Tao melebar kaget, namun tak urung mengangguk cepat.
Pemuda manis bermata Panda itu berjalan mengikuti Siwon, semakin masuk ke dalam hutan hingga sinar jingga tak dapat menjangkau. Semakin dalam, tumbuhan dan pepohonan semakin lebat, suara nyanyian dedaunan bersahutan dengan suara jernih air yang mengalir. Siwon menghentikan langkahnya di depan sebuah pohon besar yang sangat rimbun, terdapat 2 Centaur pria yang berdiri di masing-masing sisi Unicorn yang tak bernyawa dengan luka koyak di lehernya.
Tao menutupi mulutnya, shock dan sedih menjadi satu. Ia pun mendekati bangkai Unicorn malang itu dan berlutut di sampingnya. Di ulurkannya tangannya mengusap pelan kepala Unicorn, tak lepas menatap luka koyak di leher kuda bertanduk itu.
Darah Unicorn yang berwarna biru pekat membuatnya teringat akan suatu hal. Sepertinya ia pernah melihat cairan biru itu sebelumnya. Tapi dimana?
.
.
.
Wednesday, school 10.25 am.
Langit di penuhi gumpalan kapas berwarna abu-abu, membawa udara dingin yang agak berbeda. Angin berhembus mengajak ranting pepohonan menari bersamanya, meliuk-liukkan bunga-bunga indah yang tertata apik di taman.
Seisi taman seolah hidup, suara gaduh angin semakin menjadi, pohon-pohon dan tanaman lain bergoyang-goyang, dan seorang pemuda tinggi bersurai hitam pekat seolah tak terusik dengan keanehan di taman.
Pemuda itu tak bergeming, masih menutup matanya dengan guratan hitam meliuk-liuk yang menghiasi keningnya, tangan kanannya yang terangkat terdapat gumpalan asap hitam yang menyerupai bola, sesekali ia meremas gumpalan itu dan membuat pepohon dan tumbuhan disana bergoyang-goyang menciptakan angin yang seolah berteriak sakit.
"Jangan berbohong padaku, kalian tahu aku bisa berbuat apa saja pada kalian" ujar pemuda tinggi itu, kembali menggerakkan jari-jari tangannya meremas gumpalan asap. Tapi lagi-lagi pepohonan disana bergoyang hebat, pemuda itupun membuka matanya dan bola asap yang ada di tangan kanannya pun lenyap.
Taman pun kembali tenang, ia menghela nafas kecil, memperhatikan pepohonan di sekitarnya, namun suara berisik sekelompok burung gagak mengalihkan perhatiannya. Ia mendongak menatap burung-burung berwarna hitam yang terbang berputar di dekat bangunan sekolah.
"Tidak bisa menemukannya Sehun?" tanya suara berat di sana.
Sehun―pemuda tinggi berwajah datar―tak bergeming, tanpa menoleh ia tahu siapa yang mengajaknya bicara.
"Kau mengikuti ku eh?"
Terdengar suara tawa pelan.
"Aku mulai berpikir untuk menghabismu lebih dulu" kata suara itu santai.
"Kau merasa terancam denganku?"
"Dalam cerita ini hanya dibutuhkan satu penjahat, dan yang lemah harus di singkirkan"
Sehun meremas udara kosong, tangan kanannya mendadak di selimuti kobaran api berwarna hitam pekat. Ia pun berbalik, namun sekelompok gagak di langit lenyap entah kemana dan seiring dengan menghilangnya sosok yang tadi mengajaknya bicara.
.
.
.
Wednesday, at class room 11.08 am.
"Selamat siang, sampai berjumpa besok" ucap Kris seraya menutup buku materi pelajarannya, tak lupa tersenyum tipis pada murid-muridnya. Sontak saja hal itu membuat para siswi memekik tertahan dan semakin mengagumi Guru biologi mereka yang tampan.
Namun saat ia menumpuk buku-bukunya menjadi satu, sehelai bulu hitam yang jatuh berayun dengan pelan dan mendarat di sisi kanan mejanya, sukses menghentikkan gerakan tangannya yang merapikan buku-buku. Sejenak ia diam memperhatikan bulu tersebut, beberapa detik kemudian ia mengambilnya dan menyelipkannya di dalam buku.
Pria tinggi nan tampan itu pun melenggang pergi dari kelas, di ikuti tatapan Kyungsoo yang sejak tadi mengamati Guru biologinya itu.
Sementara itu pemuda tampan berhidung mancung yang duduk di bangku dengan Kyungsooーyang seharusnya tak berada disana karena memang bukan kelasnya, tampak santai-santai saja bermain-main dengan gumpalan kertas yang cukup ia gerakkan dengan tatapan mata. Ia mengangkat satu alisnya, ajaibnya bola kertas itu melayang ke udara dan tiba-tiba terlempar ke arah Tao yang berjalan di depan kelas hendak keluar.
"Yeol-hyung!" teriak pemuda bermata Panda itu kesal. Terlampau hafal dengan apa yang di lalukan seniornya itu, dan mengusap-ngusap kepalanya dan bibir kucingnya di poutkan lucu. Chanyeol cepat menatap ke arah lain sambil bersiul.
Tao semakin mengerucutkan bibirnya dan keluar membawa buku, menuju ke kelas selanjutnya. Kyungsoo yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan mengikuti jejak Tao.
Tidak ada yang tahu kenapa pemuda dengan julukan Happy Virus itu betah berada di kelas para juniornya, dan para Guru yang mengetahui hal itupun tidak memberi sangsi. Karena mungkin Chanyeol adalah salah satu siswa yang pintar.
Chanyeol terkekeh pelan, menumpuk buku-bukunya yang ia bawa ke kelas juniornya dan berdiri, namun sebuah buku bercover merah gelap yang berada di dekat tempat pensilnya mengingatkannya akan sesuatu yang terlupakan. Pemuda tampan bersurai gelombang itu mendesah pelan, menyadari kebodohannya.
"Bodoh, aku lupa mengembalikannya ke Tuan Kris" rutuknya.
Chanyeol mengangkut buku-bukunya dan setengah berlari keluar kelas menyusuri koridor, berniat mengejar Kris yang mungkin saja belum jauh. Dan dugannya tepat, ia melihat guru biologinya itu berjalan sekitar 15 meter darinya. Chanyeol mempercepat larinya, dan melihat Kris yang kini berbelok, tapi keningnya berkerut saat ia ingat jika belokan tersebut menuju ruang penyimpanan sekolah.
Mau tak mau ia pun berbelok dan menuju gang kecil yang ada di sisi kanan, berdiri di dekat dinding menunggu Kris keluar dari ruang penyimpanan tersebut, meski ia sendiri bingung kenapa guru biologinya itu masuk ke ruang penyimpanan.
Setelah beberapa detik, ia mendengar suara pintu yang di buka, namun yang sosok yang keluar bukanlah sosok Kris, tapi seorang gadis bernama Marie yang ia tahu salah satu anggota Dewan Siswa.
Chanyeol mengernyit bingung, Marie mengambil jalan di sisi kiri dari ruang penyimpanan, yang itu berarti berjalan membelakangi Chanyeol.
Pemuda tinggi itu pun mendekati pintu ruang penyimpanan dan membukanya, tapi tidak ada siapapun di dalam.
"Kok bisa?" Chanyeol menggaruk kepalanya bingung. Ia menutup kembali pintu tersebut dan buru-buru mengikuti sosok Marie yang sepertinya menuju toilet wanita. Langkahnya terhenti saat ia akan membuka mulut hendak memanggil gadis berambut hitam bergelombang itu, karena Marie tampak tengah mengobrol dengan Nancy yang baru keluar dari toilet.
Entah kenapa Chanyeol cepat-cepat bersembunyi saat Marie menoleh, menatap ke koridor lalu kembali mengobrol dengan Nancy. Ia yang masih bersembunyi, diam-diam mengintip ke balik dinding, mata sipitnya membelalak kaget melihat hal yang sangat aneh dan sangat janggal.
"Apa yang...ya Tuhan..." desisnya tak percaya. Mata sipitnya yang sendu membulat sempurna.
Tanpa sadar ia menahan nafas melihat sosok Nancy yang mendadak luruh ke lantai. Pemuda tampan bersurai coklat gelap itu berpikir keras. Sebenarnya apa yang tengah terjadi?
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya suara berat disana.
Chanyeol memalingkan wajahnya cepat, dengan sangat tegang. Ia mengerjap beberapa kali melihat sosok pria tinggi bertubuh tegap.
"Tuan Jongdae..." ia mendesis canggung.
"Sedang apa kau disini? Mau bolos dari pelajaran ku?"
Chanyeol menggeleng cepat.
"Bukan, saya sedang me―" kalimatnya terhenti saat menoleh ke balik dinding. Keningnya mengerut dalam, karena tak lagi melihat Nancy dan Marie disana.
"Sedang?" Chen menunggu.
Chanyeol menelan ludah, kembali menghadap Guru sejarahnya itu. Chen mengangkat satu tangannya yang entah sejak kapan muncul kobaran api.
"Kau bolos Park Chanyeol?" nada yang mengintimidasi.
Chanyeol mengangguk pasrah, toh ia tidak bisa membela diri karena apa yang tadi di lihatnya sudah tidak ada.
TBC
Bahasa asing disini aku pake Tengwar, bahasa Elf(tapi bahasa Elf juga banyak macamnya), n maaf fa bisa bales review, buru2 postingnya :3
Sampai ketemua sehabis lebaran ne! mohon maaf lahir dan batin! X3
©Skylar.K
