Firdha858: siapa ya? Kris bukan ya? :Da

celindazifan: hohohohoho :3

Aiko Michishige: udah nih ^^

Kirei Thelittlethieves: klo di lihat2, kayaknya itu berubah wujud(?) deh *ngurut dagu*

Dandeliona96: si cahyo jadi saksi mata tuh :3

AmeChan95: udah nih ^^

Hyuieyunnie: yang ngomong sama Sehun pasti pihak yang sama2 jahatnya *smirk*

syifa: udah nih ^^


Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: EXO Members and others with OC

Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S)!

.

.

.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke samping mu
Masa lalu seperti asap, hilang tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun di cari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...


.

Wednesday, after school at class room 12.45 pm

"Kerjakan dengan benar"

Suara tegas tanpa kompromi tersebut semakin membuat Chanyeol menciut karena takut.

Pemuda tampan itu kini harus rela tinggal lebih lama di kelas meski jam sekolah telah usai 30 menit yang lalu. Hukuman dari Chen cukup membuat Chanyeol kembali berkutat dengan kertas dan penanya, karena pemuda yang memiliki tatapan tajam itu harus menulis kalimat 'saya berjanji tidak akan membolos lagi' sebanyak 5 lembar.

"Lima belas menit harus sudah kau serahkan padaku, mengerti?" titah Chen, tak sedikit pun ada ekspresi khusus di wajahnya.

"Mengerti" sahut Chabyeol agak pelan.

Pemuda jangkung itu sesekali melirik pada sang Guru yang menyibukkan diri dengan membaca buku sembari tanpa menghentikan gerakan penanya diatas kertas, menulis dalam tempo yang cukup lambat. Dengan harapan guru sejarahnya itu bosan menunggu lalu menyuruhnya untuk mengerjakan di asrama.

Namun meski tangannya sibuk menggerakkan pena, pikirannya sedang tidak berada disana. Ia masih memikirkan peristiwa ganjal yang terjadi beberapa jam yang lalu saat ia 'mengikuti' Kris di lorong selatan sekolah yang relatif sepi.

Antara Kris-Marie-Nancy.

Entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres dengan ketiga orang itu, saat ia secara tidak sengaja mengikuti guru biologinya hanya untuk mengembalikan buku yang di pinjamnya tempo hari, yang ternyata membuatnya melihat hal yang janggal dan tidak masuk akal.

Bagaimana bisa sosok Guru biologinya tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis bernama Marie? Ia yakin tidak salah melihat orang, lalu bagaimana bisa? Apa mungkin Kris juga ahli sihir seperti beberapa anak yang ia tahu memang 'berbeda'?

Tapi...apa ada sihir merubah diri? Lagipula untuk apa Gurunya itu berubah menjadi Marie dan kenapa Nancy yang tiba-tiba pingsan?

Chanyeol menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal dengan agak kasar, dan Chen yang kebetulan melemparkan tatapannya dari buku yang di bacanya ke arah Chanyeol, menatap muridnya yang berwajah tampan itu.

"Kau kesulitan mengerjakannya?" tanyanya. Pemuda bersurai gelombang itupun mengangkat wajahnya cepat, cenderung kaget karena di ajak bicara tiba-tiba.

"Tidak Tuan" jawabnya kikuk.

"Lalu kenapa?"

Chanyeol diam, bingung harus menjawab apa. Sekalipun ia mengatakan kebingungannya saat ini, apa iya Guru sejarahnya itu mau mendengar? Atau malah hukumannya akan di tambah karena bicara yang tidak-tidak?

"Eh...itu...tadi saya―"

"Permisi" suara berat yang yang berasal dari arah pintu kelas itu menyela kalimat Chanyeol.

Chen dan Chanyeol menoleh kompak ke arah pintu, dimana sosok tinggi Kris berdiri membawa buku, dan senyuman tipis tercetak di bibir keringnya. Chen bangkit berdiri.

"Apa saya mengganggu Tuan?" tanya Kris, melihat sosok Chanyeol yang tampak tengah 'sibuk' dengan pena yang di genggamnya.

"Tidak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Chen balik.

"Saya hanya mau memberikan buku daftar yang saya pinjam kemarin" Kris masuk menghampiri meja guru.
Chen menerima buku yang di sodorkan oleh Guru baru biologi itu dan meletakkannya ke meja.

"Terima kasih atas pinjamannya" Kris tersenyum ramah.

"Tidak perlu sungkan, saya senang bisa membantu" Chen membalas senyuman yang tipis.

Kris menoleh pada Chanyeol yang sejak tadi tanpa sadar telah memperhatikan Guru biologi itu dengan tatapan aneh, seperti menyelidik.

"Kau Park Chanyeol-ssi 'kan?" Kris membuka obrolan. Pemuda tampan itu hanya mengangkat satu alisnya.

"Benar Tuan" responnya singkat.

"Ku dengar kau memiliki kemampuan Telekenis, apa benar?" Kris berjalan mendekat ke meja dimana pemuda yang di juluki Happy Virus itu duduk. Pemuda itu refleks menegakkan punggungnya.

"Benar...Tuan" jawabnya ragu-ragu.

"Bisa kau tunjukkan padaku?"

Chanyeol menatap Chen seolah mencari jawaban dari Guru sejarahnya itu, tapi karena pria bersurai brunette itu tidak merespon akhirnya ia hanya menghela nafas lalu mengangguk.

Di letakkannya pena yang di genggamnya di atas kertas, matanya menatap tajam pada pena tersebut dan secara ajaib pena itu bergerak dan melayang di udara.

"Ini benar-benar hebat" celetuk Kris, menatap kagum pada pena yang kini melayang turun dan jatuh ke atas meja.

"Terima kasih Tuan" Chanyeol menjawab seadanya.

Kris memiringkan tubuhnya menatap Chen yang berdiri di belakangnya.

"Sekolah ini benar-benar hebat, ada Elf, penyihir, peramal dan orang-orang berkemampuan khusus seperti anda dan Chanyeol-ssi" kata Kris kagum.

"Tanggung jawabnya juga semakin besar" Chen merespon ramah. Kris mengangguk-angguk setuju.

"Mungkin lain waktu anda mau mengajarkan kemampuan Pyrokenesis anda pada saya Tuan Kim?"

Chen terdiam untuk beberapa detik.

"Hal seperti itu tidak bisa di ajarkan pada orang yang tidak berkemampuan khusus Tuan" ucapnya kemudian.

"Atau anda juga 'khusus' Tuan?" Chanyeol tidak tahan untuk tidak bertanya. Pria tampan bersurai pirang gelap itupun menoleh.

"Mungkin? Saya akan sangat senang kalau kau dan Tuan Kim mau mengajari saya" ia tersenyum tipis.
Chen hanya diam, tak urung beberapa pertanyaan muncul di kepalanya.

.

.

.

Wednesday, at Jade Dormitory 20.00 pm

Sudah hampir 1 jam lamanya, Tao berkutat dengan perkamen yang terpampang di atas tempat tidur dengan menggenggam pena dan buku yang tersedia di depannya. Guratan-guratan hitam tercetak di dahinya, sebuah tanda jika pemuda mungil itu tengah memakai kekuatannya, karena tanpa menggunakan kekuatan ia tidak akan bisa membaca isi perkamen yang di tulis dengan huruf China kuno tersebut.

Meski banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini, ia harus tetap mengerjakan 'tugas' yang di berikan Tuan Choi beberapa hari yang lalu. Beberapa kali keningnya berkerut samar mempelajari isi perkamen itu.

"Mau kemana?" suara Jongin di bawah memecah keheningan di kamar tersebut.

"Ke kamar teman" jawab Kyungsoo.

"Tumben?"

"Ada yang mau ku pastikan"

"Soal?"

"Rahasia" terdengar suara pintu yang di tutup kemudian.

Tao masih tak terganggu dengan obrolan kecil kedua temannya itu, ia terlalu fokus menerjemahkan isi perkamen yang nantinya harus ia pelajari. Bahkan suara langkah kaki Jongin yang menaiki tangga pun tak di hiraukannya.

"Tugas lagi?" tanyanya, duduk di pinggir ranjang. Tao hanya mengangguk samar.

"Tuan Choi benar-benar perhatian ya padamu" kini Tao mengangkat wajahnya.

"Karena aku masih harus banyak belajar Kai" ucapnya, melas.

"Yah...kau memang Quendi yang paling polos Tao" Jongin menoleh, menyeringai kecil yang di respon Tao dengan memanyunkan bibirnya.

"Boleh aku lihat?"

Tao mengangguk. Jongin meraih buku tipis milik sahabat kecilnya itu dan membaca tulisan tangan Tao, tak lama keningnya mengerut samar.

"Y...in, Ya...ng?" Jongin menggumam mengeja title yang tertulis di bagian atas halaman buku. "Apa ini?" ia kembali menatap Tao dengan wajah bingung.

"Aku juga belum tahu, aku belum selesai menerjemahkannya" Tao mengangkat bahu kecil. Jongin menggaruk kepalanya.

"Ku rasa apa yang di pinjamkan Tuan Choi padamu hal-hal yang tidak ku mengerti" Jongin menggumam, masih membaca tulisan di buku Tao. Pemuda manis bermata Panda itu sendiri tampak agak murung, jelas jika ia tengah memikirkan sesuatu.

"Kai" panggilnya.

"Hm?"

"Aku tidak tahu kenapa, insting ku bilang akan terjadi sesuatu" ujarnya dengan suara cukup pelan. Jongin menoleh, menatap Tao dengan seksama.

"Kau masih memikirkan Unicorn-unicorn itu?"

Tao mengangguk kecil. Jongin menghela nafas, meletakkan buku yang di bawanya ke tempat tidur.

"Tenang saja, itu tugas pemimpin kita untuk mencari tahu" ucapnya, menepuk kepala Tao pelan. Pemuda Panda itu hanya mengangguk kecil.


… at another room, 20.08 pm


"Ada apa?"

Baekhyun mengangkat satu alisnya setelah membuka pintu kamarnya yang sempat di ketuk dan melihat sosok musuh bisnisnya berdiri di depan pintu kamarnya.

"Yakin tidak tahu kenapa aku sampai datang ke sini?" Kyungsoo memicing tidak suka. Baekhyun menghela nafas pelan dan membuka pintu kamarnya lebih lebar.

"Yeol-sunbae ada di dalam?" tanyanya.

"Tidak, sudah cepat masuk!" sergah pemuda cantik itu tidak sabar.

Pemuda bersurai hitam dan bermata bulat itupun masuk, memperhatikan keseluruh kamar dengan kening berkerut.

Bagaimana tidak? Di kamar tersebut terdapat 2 sisi yang bisa diibaratkan dengan 'sisi hitam' dan 'sisi putih'. Sisi putih adalah area yang di duga wilayah Chanyeol yang terlihat normal-normal saja dengan barang-barang yang tertata rapi tanpa ada objek aneh. Dan sisi hitam adalah yang di duga wilayah Baekhyun yang serba bernuansa hitam, baik seprai tempat tidur, barang-barang, dan lainnya. Yang paling membuatnya ngeri adalah boneka voodoo yang tergeletak di atas meja tempat di letakkannya buku-buku pelajaran, serta pernak-pernik penyihir lainnya, dan yang paling unik adalah adanya sebuah kotak 'harta' yang berukuran besar dan berwarna hitam pula. Yah memang khusus untuk kamar ini hanya di huni 2 orang karena jumlah siswa laki-laki yang tidak sama dengan para siswi.

"Aku juga tidak tahu kenapa sihirnya tidak berfungsi" kata Baekhyun, mendekat ke meja kayu disana. Kyungsoo menoleh, melihat pemuda cantik itu―mengambil sebuah buku dari tatanannya.

"Buku apa itu?" ia mendekat, penasaran.

"Sihir" jawab Baekie singkat.

"Bukankah kau bilang sihirnya akan bereaksi kalau bulu itu sudah di ambil?" Kyungsoo masih berdiri di tempatnya. Sungguh tidak sopan berbicara seperti itu dengan seniornya.

"Ya seharusnya, mantranya tidak salah kok, kenapa ya?" Baekhyun menggaruk rambutnya, lalu meletakkan bukunya kembali ke meja dan menuju kotak 'harta' yang ada di dekat lemari.

Pemuda bersurai madu itu tampak membuka kotak 'harta' tersebut dan mengeluarkan beberapa buku yang tampak usang termakan usia.

"Memang kau pakai sihir apa?" tanya Kyungsoo saat Baekhyun duduk di tepi ranjang dan meletakkan buku-bukunya ke tempat tidur.

"Limia" ia membuka salah satu buku, seperti mencari sesuatu.

Kyungsoo yang penasaran pun mendekat, melihat-lihat buku-buku tersebut dan mengambil salah satunya, yang ukurannya lebih besar dan dengan gambar abstrak pada covernya.

"Ini juga buku sihir?" tanyanya, Baekhyun menoleh, keningnya berkerut samar melihat buku yang ada di tangan sang junior.

"Sini ku lihat" pintanya, mengambil alih buku tersebut dan membaca tulisan pada covernya.

"Nostradamus In Ovual..." gumamnya berbisik, membaca title di cover buku tersebut. Kerutan di keningnya semakin dalam.

"Kurasa bukan" ucapnya, dan membuka buku tersebut perlahan.

"Lalu?"

"Entah, aku mendapat semua buku-buku ini dari nenek―"

BRAK!

Pintu kamar yang terbuka dan berdebam keras membuat Kyungsoo dan Baekhyun menoleh kaget. Hembusan angin yang kencang masuk ke dalam kamar, membuat pemuda cantik pemilik kamar berdecak kesal dan mau tak mau bangkit berdiri menutup untuk pintu kembali.

.

.

.

Thursday, 06.00 am

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan nyaring yang berasal dari Carnelian Dormitory mengawali pagi cerah hari ini. Seperti gong yang di tabuh, sukse menyedot perhatian banyak orang. Teriakan tersebut membuat hampir seluruh Guru yang ada berlomba mendatangi asal teriakan, dan kini kamar yang terletak di lantai 2 asrama telah di kerumuni banyak siswi yang ingin tahu apa yang telah terjadi.
Suasana tegang dan dingin mendadak melingkupi ke seluruh kamar dan lorong asrama, bisik-bisik siswi-siswi disana terdengar seperti lebah.

"Bubar! Kembali ke kamar masing-masing!" perintah Mr. Zhoumi lantang. Para gadis serempak menoleh ke sisi kiri mereka, cukup kaget melihat kehadiran beberapa Guru dan Direktur sekolah yang terkenal jarang 'menampakkan diri' di sekolah.

"Kalian semua kembali ke kamar, ayo cepat" titah Chen, membubarkan gerombolan siswi yang ada.

Dan mau tak mau gadis-gadis disana harus membubarkan diri meskipun tidak rela. Chen dan Kris tak ikut masuk ke dalam kamar. Mr. Zhoumi dan Tuan Choi yang baru saja masuk ke dalam kamar sudah di bingungkan dengan seorang gadis yang berdiri menghadap tempat tidur yang lain dengan wajah pucat menatap shock apa yang ada di atas tempat tidur.

"Ada ap..a...ya Tuhan..." Zhoumi terperanjat melihat sosok gadis yang lain, yang ada di atas tempat tidur, terbaring dengan kulit yang membiru dan tampak dingin.

"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Kris, menyusul masuk ke dalam.

Tidak ada jawaban, namun apa yang menjadi pusat perhatian di kamar itu sukses membuatnya kaget.

"Tolong anda bawa keluar Katy" pinta Choi Siwon, menoleh pada Kris.

"Baiklah"

Pria tampam itu pun menggiring gadis bernama Katy yang pucat pasi, belum tersadar dari keterkejutannya. Tuan Choi mendekati tempat tidur, menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh Nancy yang membiru. Pria tampan dengan marga Choi itu sampai menahan nafas melihat kondisi siswinya tersebut.

Zhoumi memutar kepalanya menatap Tuan Choi yang berdiri di belakangnya dengan raut yang sulit di tebak.

"Tuan...i-ni..." Zhoumi tidak melanjutkan kata-katanya.

"Saya tahu, kita urus dulu jasadnya setelah itu kumpulkan Guru dan staf" kata Siwon, tak lepas melihat jasad Nancy yang terbujur kaku.

Ia tidak pernah menduga sebelumnya, jika hal seperti ini kembali terjadi di sekolah miliknya.

To be continue

Note:
Telekenesis = kemampuan menggerakkan benda tanpa menyentuh(kekuatan pikiran)
Pyrokenesis = kemampuan menciptakan api secara supranatural(biasanya saat marah atau di saat yang di kehendaki)
Quendi = sebagian Elf menyebut diri mereka Quendi(Elf), tergantung jenis bahasa yang mereka pakai(bahasa Elf bermacam-macam)
Limia = sihir paling mematikan kaum Gipsy.
Nostradamus In Ovual = buku tentang ramalan masa depan. Yang di tulis oleh Nostradamus, yang berisi syair 4 baris dan ayat-ayat aneh yang akan terjadi di masa depan. Buku ini benar-benar ada, sempat di cetak dan di jual di suatu negara dan sampai saat ini belum ada satu orangpun yang bisa menerjemahkannya.

©Skylar.K