Dust Grains
By: Skylar.K
Pair: Kristao/Taoris
Cast: EXO Members and others with OC
Genre: Drama Life, Fantasy Romance
Rating: T
Warning: TYPO(S)!
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangam di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimana di cari
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...
Friday, hall 08.00 am
"...hari ini, pagi ini, kami berkumpul di sini untuk melepas sahabat kami tercinta. Meski berat, namun kami semua akan senantiasa berdo'a agar jiwanya selalu damai..."
Suara Lay―selaku Ketua Dewan Siswa―menggema ke seluruh aula yang luas. Dengan suara yang terdengar sedikit sengau dan mata yang memerah, ia terus membaca tulisan yang tertera di kertas yang di bawanya.
Suasana hening yang sangat kental akan rasa sedih dan duka melingkupi aula, menghinggapi tiap orang yang pagi ini mengenakkan baju serba hitam.
Karena hari ini, Lazuli School Academy kehilangan satu siswinya, menenggelamkan semua penduduk sekolah dalam kesedihan yang mendalam. Terlebih saat memandang ke depan, tepat di bawah panggung, sebuah peti kayu kokoh di letakkan dengan sosok gadis muda sebagai penghuninya.
Isak tangis kembali terdengar di antara pidato Lay pagi ini, namun dari sekian banyak raut sedih disana, sesosok pria berambut pirang gelap tampak sangat tenang dengan sorot mata sendu menatap ke arah barisan para murid yang berbaris rapi di depan panggung.
Pria tampan yang super tinggi yang berdiri di deretan para guru di sisi panggung itu memaku tatapan matanya ke sosok pemuda bersurai hitam yang memiliki mata Panda, yang terus menundukーtak berhenti menyeka air mata yang leleh ke pipinya.
Tao, pemuda semampai pemilik Onyx cemerlang itu tak kuasa menahan air matanya untuk tidak keluar. Entah sudah berapa lama ia menangis. Shock, kaget, dan sedih bercampur menjadi satu.
Siapa yang menyangka jika Nancy yang sehat-sehat saja tiba-tiba meninggal dengan kondisi tidak wajar?
Tidak ada yang menduga, terlebih gadis manis itu sudah menggores kenangan manis di hati teman-temannya. Tentu ia dan sekolah sangat kehilangan. Dan lagi―tanpa mereka tahu―para guru kembali di ingatkan oleh suatu hal yang sangat penting, kembali di ingatkan akan kematian Tuan Bryan, yang sampai saat ini tidak di ketahui kemana pria yang dulunya menjabat sebagai Guru biologi oleh seisi sekolah, khususnya untuk murid-murid umum.
Lonceng di depan gedung sekolah berbunyi nyaring, setelah Lay menyelesaikan pidato singkatnya. Tidak ada yang berbicara, hening melingkupi sampai Mr. Zhoumi menggantikan Lay di depan podium dan berkata memberi kesempatan bagi tiap siswa untuk maju bergantian membentuk barisan panjang untuk meletakkan setangkai bunga Lily yang mereka bawa ke atas penutup peti yang di letakkan setengah menutupi peti kayu tersebut.
Di mulai dengan para guru kemudian di sambung dengan barisan panjang para siswa.
Banyak di antara mereka yang tidak tega ketika melihat jasad Nancy di dalam peti, mereka hanya menangis tak percaya jika salah satu anggota Dewan Siswa yang selalu riang itu meninggalkan mereka semua dengan kondisi yang tidak wajar.
Tao menahan nafas saat gilirannya tiba, selama beberapa detik ia hanya diam menatap wajah Nancy yang membiru. Ada rasa sakit di dadanya melihat jasad temannya yang seperti ini. Ia pun meletakkan tangkai bunga Lily yang di bawanya ke atas penutup peti dan sekali lagi memandang pada wajah Nancy,namun sedetik kemudian tak sengaja ia melihat sesuatu di leher Nancy,di antara rahang. Ada 2 buah titik berwarna hitam.
Belum sempat ia melihat lebih jelas tanda apa itu, siswa di belakangnya lebih dulu menyuruhnya untuk bergeser maju.
.
.
.
At Jade Dormitory, 08.25 am
"Kita berpencar"
"Aku akan ke Carnelian Dormitory, kau?"
"Aku berkeliling disini, auranya sangat jelas di sekitar sini"
"Suho"
"Hm?"
"Apa kita tidak sedang di tipu?"
"Maksut mu?"
"Ku rasa, hal ini tidak mungkin. Kau tahu 'kan kalau selama ini kita semua tidak merasakan tanda-tanda keberadaan buku itu? Tapi kenapa semalam kita semua mendapat berita yang sama?"
Pemuda bersurai dark brown itu diam untuk beberapa detik. Hanya suara langkah mendominasi di sepanjang lorong asrama lantai 1 Jade Dormitory.
"Tidak Lu, aku yakin. Kau juga pasti dapat pemberitahuan dari Nona Sandara 'kan?" Joonmyun menoleh pada Luhan, yang berjalan di samping kanannya.
"Ya, tapi apa tidak aneh?"
"Tidak, auranya sama dengan buku Codex Seraphinianus yang di temukan Lay. Kau ingat?" Luhan mengangguk.
"Ya, sama persis. Untung saat itu Lay menemukannya lebih dulu sebelum Drow. Kalau tidak pasti Dunia kita tidak akan aman lagi, akan banyak makhluk yang mengetahui Dunia kita"
Joonmyun hanya mengangguk samar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya melihat sosok pemuda tinggi berambut hitam yang berdiri berjarak sekitar 3-5 meter di depannya dan Luhan.
"Sehun?" Luhan tampak kaget melihat pemuda tersebut tiba-tiba berdiri di depan mereka―yang bersandar pada dinding dengan melipat tangannya ke dada.
"Sedang apa disini?" ada nada tak suka pada pertanyaan Luhan. Sehun memutar kepalanya, menatap Joonmyun dan Luhan bergantian.
"Kalian sendiri?" Sehun balas bertanya dengan cueknya. Tak peduli dengan kecurigaan dan pertanyaan si cantik Luhan
"Kau belum menjawab pertanyaanku" kata Luhan mendadak sinis.
"Jangan-jangan kau kesulitan menemukan buku itu Sehun?" tebak Joonmyun, tetap dengan sifat tenangnya.
Sehun menegakkan punggungnya dan melepas lipatan tangannya di dada, berdiri mengahadap Joonmyun dan Luhan, tidak ada ekspresi khusus di wajahnya tampannya. Ia berjalan mendekat, sementara Joonmyun dan Luhan entah kenapa jadi tampak waspada, seiring dengan pemuda berkulit pucat itu yang mengangkat satu tangannya ke udara.
Tanpa komando, mendadak guratan hitam menghiasi kening ketiga pemuda disana, dan mereka telah siap akan sesuatu hal yang bisa kapan saja saja terjadi.
"Sedang apa kalian disini? Ku rasa sudah jam pelajaran sudah di mulai" suara baritone yang khas itu membuat konsentrasi ketiganya hilang. Guratan hitam di dahi mereka lenyap ketika melihat ke asal suara.
Di belakang Sehun. Pria tinggi berbaju serba hitam berdiri menatap ketiga muridnya bergantian.
"Bukankah Tuan ikut mengantar ke pemakaman?" Joonmyun menaikkan satu alisnya. Matanya menatap sosok Gurunya yang sedikit berbeda hari ini, terlebih sarung tangan hitam yang membungkus tangan pria itu.
Friday, at grave 09.08 am
"Matahari sudah agak tinggi, sebaiknya kita segera kembali"
Choi Siwon memecah keheningan di tempat pemakaman pagi ini. Beberapa guru tampak mengangguk setuju, terdengar pula isakan tangis dari kedua orang tua Nancy beserta keluarganya yang lain.
"Ngomong-ngomong Tuan Kris kemana ya?" Zhoumi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sosok tampan Kris yang tidak tampak di area makam.
"Ah, tadi Tuan Kris bilang tiba-tiba tidak enak badan, jadi menunggu di kereta" sahut pria bertubuh agak kurus.
"Kalau begitu sudah waktunya kita kembali" kata Siwon—biasa ia di panggil.
Zhoumi dan Choi Siwon yang pertama beranjak, di ikuti kedua orang tua Nancy dan keluarganya, lalu beberapa guru yang ada dan kemudian anggota Dewan Siswa, kecuali Tao.
Pemuda manis bermata Panda itu tak bergeming, menatap sendu pada nisan yang mengukir nama Nancy Rose. Ia menghela nafas berat, lalu mengangkat wajahnya menatap langit-langit. Namun keheningan di pemakaman tersebut terusik saat sekumpulan gagak terbang dengan rendah.
Tao menyipitkan mata memperhatikan gagak-gagak itu. Sekiranya apa yang membuat mereka datang?
"Tao!" panggil Lay dari kejauhan. Pemuda pemilik Onyx tersebut menoleh ke balik punggungnya, melihat Lay yang berdiri di dekat kereta kuda yang membawa mereka.
"Ayo cepat!"
Tao pun melangkahkan kakinya menuju kereta kuda yang sudah menunggunya, tapi baru beberapa langkah ia beranjak tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap gundukan tanah bernisan yang masih baru.
Mata sayunya melebar seketika melihat sosok transparan Nancy berdiri di dekat makamnya sendiri―menatapnya sendu.
"Nan..cy.." sengalnya lirih.
Namun saat ia melihat Nancy menggerakkan mulutnya seperti akan berucap, sekelompok gagak yang tadi di lihatnya terbang menyerbu ke arahnya.
.
.
.
Friday, at meeting room 15.02 pm
Hening melingkupi wajah tampan Siwon, sedikit terlihat lebih pucat dan sorot cemas terpancar di sepasang matanya yang berwarna abu-abu bening. Ada yang membebaninya, jelas.
Beberapa Guru yang duduk tenang di kursi mereka tampak seperti hanyut dalam pikiran masing-masing, membuat atmosfer di seluruh ruangan terasa sangat mu, mengingat apa yang telah terjadi di sekolah tersebut.
"Anggota Dewan Siswa dan lainnya telah datang Tuan" ujar seorang pria , di depan pintu ruang rapat.
Siwon mengangkat wajahnya, mengangguk kecil sebagai jawaban. Pria disana membuka pintu ruangan lebih lebar dan mempersilahkan beberapa murid untuk masuk. Mungkin tidak mengherankan jika anggota Dewan Siswa datang ke ruang rapat, tapi jika Kyungsoo dan Baekhyun juga turut hadir, patut di pertanyakan.
Siwon memandang keenam siswanya itu bergantian, ada Lay, Tao, Marie dan Mark sebagai anggota Dewan Siswa lalu Kyungsoo dan Baekhyun, yang duduk pada kursi yang telah di sediakan di meja bundar besar di ruang rapat tersebut.
"Apa yang akan kita bahas adalah sesuatu yang rahasia. Jadi saya harap kalian semua tidak mengatakan hal ini pada siapapun, mengerti?" suaranya membelah atmosfir berat di ruangan yang cukup luas tersebut.
"Kami mengerti Tuan" jawab keenam siswanya kompak. Siwon menghela nafas ringan, sempat menatap Zhoumi yang duduk di sebelah kanannya.
"...kalian tahu jika Tuan Bryan telah meninggal bukan?" tanyanya. Kyungsoo dan Baekhyun yang tidak mengetahui hal itu membelalak kaget atas pernyataan―pertanyaan―Direktur sekolah mereka.
"Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya memanggil kalian datang ke ruang rapat, karena hal ini berkaitan dengan kematian Tuan Bryan dan Nancy" lanjutnya.
Wajah Tao mendadak tegang, begitu pula ke lima anak lainnya.
Ada apa gerangan?
"Ada yang janggal dengan kematian mereka, tubuh yang membiru, tanpa sebab dan akibat...
Karena itu, saya memanggil anggota Dewan Siswa untuk membicarakan hal ini yang menyangkut keputusan kita semua untuk melakukan tindakan untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan"
Wajah mereka semakin tegang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Lalu Do Kyungsoo-ssi dan Byun Baekhyun-ssi" Siwon beralih menatap kedua pemuda itu. "...ada yang ingin saya tanyakan pada Baekhyun-ssi"
"A...apa itu Tuan?" Baekie terlihat sangat kaku, atau mungkin gugup?
"Apa ada sihir yang bisa membuat orang yang disihir mati dengan tubuh membiru?" tanya Siwon. Baekhyun mengatupkan bibirnya, tampak tengah berpikir.
"...maaf sebelumnya, jika anda bertanya perihal sihir gelap saya tidak tahu, kalaupun memang ada pastinya sangat sulit dan hanya bisa di lakukan oleh ahli sihir yang sangat kuat" jawabnya, setelah terdiam beberapa detik.
"Maaf saya menyela Tuan" Lay ikut bicara. Siwon mengalihkan tatapannya.
"Ada yang mau kau katakan Yixing?"
"Ya, saya ingin bertanya sesuatu"
"Silahkan, apa itu?"
"Kenapa anda tidak bertanya pada Sehun juga? Seperti yang anda tahu jika Sehun adalah Drow"
Siwon tampak memikirkan kata-kata sang Ketua Dewan Siswa tersebut. Yah, memang tidak ada salahnya, karena selama ini bangsa Drow di kenal dengan kekuatan magis hitam mereka, dan selalu bertentangan dengan kelompok Elf lain.
Tapi pertanyaannya, kalaupun Sehun atau Drow lain yang melakukannya, apa alasan mereka membunuh Nancy?
"Akan saya pertimbangkan. Lalu kau Kyungsoo-ssi?" ia beralih menatap pemuda bermata bulat itu. "Apa yang sudah kau liat?"
Pemuda manis itu menelan ludah sebelum akhirnya menjawab.
"S-sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu saya meramalkan sesuatu yang besar akan terjadi di wilayah ini" ujarnya, menahan nafas.
"Seperti apa tepatnya?" Zhoumi angkat bicara, tampak penasaran.
Pemuda bermata bulat itu tampak ragu. Ia menatap bergantian wajah keempat Guru yang ada berada di meja rapat tersebut.
"Ti...tidak tergambar jelas, yang saya lihat hanya kekacauan..." ujarnya akhirnya.
Siwon menghela nafas pendek, wajah tampannya tampak kalut.
"Baiklah kalau begitu, kita bicarakan hal ini lagi setelah keadaan lebih kondusif. Tapi saya minta, kalian semua melakukan pendekatan pada siswa yang lain demi kebaikan mereka untuk tidak berkeliaran di area hutan atau keluar dari area sekolah"
Lay mengangguk. "Baik, kami mengerti"
Siwon pun mempersilahkan mereka semua untuk keluar, termasuk para guru yang bangkit langsung berdiri. Ia sendiri berada paling akhir keluar dari ruang rapat, tepat saat setelah menutup pintu dan berbalik, langkahnya terhenti melihat Tao yang berdiri tak jauh darinya, di dekat dinding.
"Maaf Tuan, saya ingin bertanya, apa boleh?" pemuda pemilik senyuman amat manis itu meremas-remas tangannya sendiri. Ada keraguan di manik Onyx nya yang cemerlang.
"Apa itu?"
"A...apa...kejadian ini berkaitan dengan Unicorn-unicorn itu?" Tao bertanya hati-hati dan pelan.
"...aku pikir juga begitu, tapi sejauh ini tidak ada alibi ataupun bukti. Jadi kurasa ini hanya kebetulan"
Tao menunduk menatap lantai, dan seakan mengetahui kegelisahan muridnya tersebut, Siwon menambahkan kalimatnya.
"Apapun itu, tidak akan kami biarkan terus berlanjut" imbuhnya, berharap jika murid kesayangannya tak terlalu terbebani pikirannya. Tao mengangkat wajahnya, lalu mengangguk samar.
"Oya Tuan, soal buku, semalam―"
"Ya aku tahu, sudah ku serahkan pada Suho untuk mencarinya. Kau fokus saja pada kewajibanmu sebagai anggota Dewan"
Tao mengangguk lagi. "Baik"
Siwon sempat mengulas senyum tipis sebelum beranjak, dan Tao masih berdiri diam di tempatnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya suara berat dari sisi kanannya.
Tao mengangkat kepalanya cepat dan menoleh, entah kenapa ia jadi mematung saat melihat sosok tinggi Kris yang berdiri tak jauh darinya.
Ah...desiran aneh itu datang lagi.
Tao menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. "Te...terima kasih sudah menolong saya saat di pemakaman tadi Tuan" ucapnya menunduk. Kris tersenyum tipis.
"Sama-sama, ku pikir kau masih shock karena gagak di pemakaman itu"
Tao semakin menundukkan kepalanya, agar guru biologinya itu tidak melihat wajahnya yang mulai memerah dengan lancangnya. Namun suara ribut di luar gedung, tepat di dekat jendela lebar di lorong tersebut membuat Tao mengangkat kepalanya kembali. Satu alisnya terangkat saat melihat sekelompok gagak terbang rendah berkumpul di luar.
Gagak?
To be continue
Note:
● Codex Seraphinianus = buku yang di buat sekitar tahun 1976-1978, salah satu dari buku misterius di Dunia. Terdiri dari 11 bab, 360 halaman, berisi ensiklopedia sebuah planet imaginer di lengkapi dengan peta, gambar tanaman dan kehidupan binatang.
Maaf ga bisa bales review ya, lagi capek hehe
©Skylar.K
