Maaf buat semuanya yang ngikutin cerita ini, maaf kalau cerita ini membingungkan n terlalu serius *deep bow*. Ceritanya emang kayak gini, serius, tapi percaya deh, semua kekacauan ini itu hanya untuk satu tujuan, dan soal siapa Kris itu, identitas dia masih sama seperti di cerita If We Never Meet Again. Jadi, mohon maaf ya kalau terlalu serius n berbelit, cerita aslinya emang gini ^ ^)"

.

.

.

Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao

Cast: EXO Members and others with OC

Genre: Drama School Life, Fantasy Romance, Mystery(maybe)

Rating: T

Warning: TYPOS everywhere!

.

.

.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimana di cari
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...


"Ada apa?" Kris mengikuti arah pandang Tao yang menatap ke luar gedung, pada sekumpulan gagak yang terbang sangat rendah—entah kenapa.

"Akhir-akhir ini banyak gagak di wilayah sekolah dan asrama" ucap Tao, tak mengalihkan pandangannya dari sekelompok burung pemakan bangkai itu.

"Menurut mu kenapa mereka sering berada di sekitar wilayah sekolah?" Kris memalingkan wajahnya, kembali menatap Tao. Pemuda Panda itu memiringkan kepalanya sedikit, kemudian menggeleng pelan.

"Saya tidak tahu" ucapnya, menatap Kris polos. Pria tampan itu tersenyum tipis melihat sorot mata Tao yang sangat lugu dengan ekspresi yang tampak ingin tahu.

"Bagaimana kalau kita bicara sambil berjalan? Hari sudah semakin sore" ucapnya, tersenyum miring melihat gelagat salah tingkah Tao yang lucu di matanya.

Pemuda manis itu menggangguk pelan, dengan rona merah muda yang mulai merambati pipinya. Kris mengulurkan tangannya menepuk pelan kepala Tao dan melangkahkan kakinya lebih dulu, Tao pun mensejajari langkah Kris.

Suasana di lorong tersebut terasa agak dingin dan sedikit mencekam karena hari semakin sore, sinar jingga matahari telah mendominasi dan menyuguhkan siluet-siluet menarik di sepanjang lorong.

"Anda memakai sarung tangan Tuan?" tanya Tao, tak sengaja saat menoleh pada sang Guru yang berjalan di sisi kanannya, dan melihat tangan pria tampan itu.

Pria bersurai pirang gelap itupun menoleh, dan mengangkat satu tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam.

"Oh ini, kulit tangan ku melepuh jadi aku pakai sarung tangan"

Tao membulatkan bibirnya, Kris kembali menatap muridnya yang bertubuh semampai itu.

"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?"

Kris mengangguk. "Tentu, soal apa?"

"Saat di pemakaman tadi siang, kenapa gagak-gagak itu menyerbu ke arah saya?" tanya Tao dengan kening mengerut samar.

"Mungkin ada yang mengirimnya?"

"Mengirim?"

Kris mengangguk.

"Maksud Tuan?"

"Yah, siapa tahu ada yang tidak suka padamu lalu mengirimkan gagak-gagak itu untuk mencelakaimu?" Kris mengangkat bahu kecil.

Kerutan di dahi Tao semakin dalam. "Siapa?" lirihnya pada dirinya sendiri.

"Jangan terlalu di pikirkan" imbuh Kris, mengusap surai hitam Tao yang lembut.

Meski ia tetap penasaran dengan apa yang di katakan gurunya tersebut, tak urung ia mengangguk.

"Bagaimana, apa kau dan teman-temanmu sudah menemukan buku yang dicari?" tanya Kris, Tao menggelengkan kepalanya pelan.

"Kami sudah menemukan tanda-tanda keberadaan buku itu, tapi sepertinya lebih sulit menemukannya, karena ini buku terakhir" Tao berkata lesu.

"Tetaplah semangat untuk mencarinya, sebelum musuh menemukannya lebih dulu"

"Iya, kami semua akan berusaha mati-matian untuk mencarinya"

"Kalau boleh tahu, setelah menemukannya buku itu akan di apakan?"

"Di lenyapkan, seperti keenam buku sebelumnya" Kris mengangguk-angguk kecil, paham.

"Tapi bukankah ada kemungkinan ada buku yang di pasarkan secara umum?"

"Ya memang, tapi sejauh ini kami semua sudah bekerjasama untuk melenyapkannya"

"Pasti butuh waktu lama"

"Memang, tapi untuk kepentingan Dunia Tengah dan semua Elf, kami rela melakukannya meski membutuhkan waktu lama sekali pun"

"Lalu apa buku-buku 'palsu' itu juga menjadi ancaman bagi bangsa kalian?"

"Iya Tuan, bagaimanapun juga isinya tetap sama namun bedanya tidak ada kekuatan magis yang ada di buku-buku 'palsu' itu"

"Memang apa perbedaannya?"

"Setiap buku memiliki kekuatannya masing-masing, kekuatan yang melingkupi buku-buku tersebut"

"Tapi masih bisa di gunakan 'kan?" Tao mengangguk kecil.

"Jadi, tugas kalian semua benar-benar berat ya. Tapi jangan sampai mempengaruhi fokus belajar mu" Kris kembali menoleh pada Tao.

"Tidak Tuan, kata Tuan Siwon tadi saya tidak perlu ikut mencarinya"

"Kenapa?"

"Karena saya harus fokus dengan kegiatan Dewan Siswa, lagipula Tuan Siwon sudah meminta pada Suho-sunbae untuk mencari buku itu"

"Oh...tapi bukan berarti kau tidak membantu Joonmyun-ssi 'kan?"

Tao mengangguk kecil. "Tentu saja, saya juga akan membantunya"

"Saranku, jangan terlalu memikirkannya. Memangnya tidak ada hal lain yang kau pikirkan?"

Tao menoleh, menaikan satu alisnya bingung. "Maksud Tuan?" Kris memalingkan wajahnya, balas menatap murid manisnya itu.

"Orang yang di suka mungkin? Tidak mungkin kalau tidak ada orang yang kau sukai 'kan?" ia menaikkan satu alisnya, menahan tawanya melihat wajah Tao yang memerah dan cepat-cepat berpaling.

Kris menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya, menyamarkan gurat bibirnya yang tertarik lebar―menahan kegeliannya agar tidak tertawa lepas karena tingkah Tao yang menurutnya menggemaskan.

Tao semakin menundukkan kepalanya, meremas-remas seragam abu-abunya karena salah tingkah. Tak terasa mereka telah berada di ujung lorong, membuat Kris harus menghentikan langkahnya dan menoleh pada Tao yang ternyata ikut berhenti, tapi tidak menatap Guru biologinya itu. Tidak, ia masih terlalu malu dengan ucapan Guru biologinya tadi, meski seharusnya ia tahu jika pria tampan itu hanya asal bicara.

Tapi tidakkah pria tampan itu tahu atas reaksi Tao selama ini?

"Baiklah, kita berpisah disini" kata Kris, Tao mengangguk kecil.

"Saya kesana Tuan" ucapnya pelan.

"Ne, aku ke sebelah sini" Kris menepuk puncak kepala Tao pelan, menyematkan senyuman tipis di bibir plum nya.

Pria tampan itu pun mengambil langkah di sisi kirinya, berbelok di lorong yang langsung menuju ke asrama para guru. Namun saat Tao akan melangkahkan kakinya juga, ia teringat sesuatu yang sepertinya di lupakan oleh Guru biologinya tersebut.

"Tuan!" panggilnya. Kris berhenti berjalan kemudian berbalik.

"Ya?"

"A-anda belum memberitahu saya kenapa gagak-gagak itu ada di wilayah sekolah" ucapnya, agak gugup. Kris menaikkan satu alisnya, lalu tersenyum miring. Ya, dia mengingatnya.

"Oh, jadi apa yang ingin kau dengar?" tanyanya.

"Jawaban dari anda?" Tao menggigit bibirnya kecil.

"...setahu ku, gagak identik dengan kekuatan sihir gelap, magis, dan hal buruk. Kau tahu?" Tao mengangguk kecil.

"Bisa di bilang gagak juga sahabat 'dekat' para penyihir gelap, bisa juga di hubungkan dengan hal yang tidak kasat mata. Mungkin saja ada yang memiliki gagak-gagak itu, dan mereka enggan meninggalkan wilayah sekolah, 'kan?" Kris tersenyum tipis.

"Kalau begitu aku duluan" imbuhnya kemudian, kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Tao masih terdiam di tempatnya berdiri. Tak urung memikirkan apa yang di katakan Kris.

Apa itu benar? Tapi siapa yang memiliki gagak-gagak itu? Kalaupun ada pasti pemilik gagak-gagak itu berada di pihak yang berbeda dengannya.

.

.

.

Friday, at Jade Dormitory 20.08 pm

"Jadi, menurut kalian?"

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Hei"

"...kurasa kecurigaan kita tidak beralasan Lu"

"Tidak beralasan bagaimana? Sudah cukup jelas 'kan?"

Jongin menghela nafas melihat para seniornya, menatap Luhan dan Joonmyun bergantian yang entah sejak kapan berkumpul di kamar asramanya, berserta kedua teman 'sebangsa'nya yang lain.

"Apa benar?" Lay buka mulut.

"Sunbae yakin?" Tao tampak ragu.

"Itu tidak masuk akal" Jongin berkomentar.

"Tapi memang agak aneh sih" Xiumin berceletuk.

Kelima pemuda yang berkumpul di tempat tidur Jongin tersebut menoleh kompak pada Xiumin, yang tampak tengah memikirkan sesuatu.

"Aneh apanya hyung?" si tan meminta penjelasan. Pemuda manis berpipi layaknya bakpao itupun memperhatikan satu persatu wajah disana.

"Kalian pasti sadar 'kan kalau tidak ada aura sama sekali? Sedikit pun tidak ada" kata Xiumin kemudian.

"Xiumin-sunbae benar" sahut Tao, membuat perhatian kini teralih padanya.

"Terlalu tenang, dan hal itu sangat aneh" Xiumin menambahkan.

"Tapi mungkin saja Tuan Kris juga memiliki kemampuan seperti Tuan Jongade atau Chanyeol-hyung 'kan?" Jongin tampak tak setuju dengan kecurigaan Luhan dan Joonmyun, namun pemuda bersurai dark brown itu lebih cenderung diam mendengarkan pendapat teman-temannya.

"Sehebat-hebatnya manusia berkemampuan khusus, tidak akan sama sekali tidak memiliki aura. Apa kalian tidak sadar kalau ada yang aneh sejak dia menggantikan Tuan Bryan?" kata Luhan menyipitkan mata, menatap lekat Jongin.

"Yang aneh?" Xiumin mengerutkan keningnya dalam, menoleh pada Lay yang duduk di sebelahnya.

"Mungkin yang seperti Lulu bilang, Tuan Kris berada di dua tempat dalam waktu yang sama" kata Lay, kembali mengingatkan.

"Aku ingat" Tao menyahut pelan, dan perhatian pun tertuju padanya.

"Saat di pemakaman, Tuan Kris tidak ikut ke makam Nancy karena dia bilang sedang tidak enak badan dan lebih menunggu di kereta kuda" lanjutnya, menatap Lay. Pemuda yang memiliki lesung pipi itu mengangguk.

"Tao benar" sahutnya.

"Dan di saat yang sama, dia ada di asrama memergoki aku, Joonmyun dan Sehun di lorong asrama"

"Sehun?" ulang Jongin dan Xiumin kompak. Luhan mengangguk kecil.

"Kurasa dia juga tahu sesuatu"

"Pasti, dia 'kan Drow" dengus Jongin tidak suka.

Dan diskusi 'kecil' itu terus berlanjut, namun tampaknya Tao tak ikut serta di dalamnya. Pemuda manis itu menopang dagu di atas bantal yang di pangkunya, menerawang menatap dinding.

Perbincangan ini entah kenapa membuatnya kembali teringat akan hal aneh tentang dirinya yang akhir-akhir ini sangat mengganggunya.

Bagaimana tidak? Ia selalu saja salah tingkah, gugup atau bertingkah aneh lainnya saat berhadapan dengan guru biologinya yang tampan itu. Entah kenapa selalu merasa terbang ke langit saat gurunya tersenyum atau menepuk kepalanya. Ada yang menggeliat di perutnya dan seolah ia dapat mendengar darahnya yang berdesir saat rasa senang itu merayapinya.

Atau mungkin kecurigaan Luhan ada benarnya? Bahwa pria tampan tersebut di duga sosok yang patut di waspadai karena keanehannya? Karena bisa saja 'kan guru biologinya itu menguasai ilmu sihir yang dapat membuatnya seperti ini?

Tao menghela nafas pelan. Jujur saja ia merasa sangat asing saat ini, karena ia tidak pernah bingung seperti ini dan bersikap seperti ini pula. Apa harus ia menanyakan hal ini pada Kyungsoo? Pemuda itu 'kan selalu bisa meramalkan apapun dengan tepat.

Yah, tidak ada salahnya bukan?

Tiba-tiba Tao bangkit berdiri, membuat Luhan yang duduk di sebelahnya sampai menoleh ke arahnya.

"Mau kemana Tao?" tanya Jongin, mengikuti sosok Tao yang kini berjalan ke arah pintu kamar.

"Keluar sebentar cari angin" kata Tao tanpa menoleh pada teman-temannya, ia membuka pintu dan keluar.

Hawa dingin lorong asrama menyambut tubuh mungilnya yang terbungkus piyama berwarna biru muda. Tao berjalan menyusuri lorong yang tidak seberapa ramai karena para siswa sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, dan hanya segelintir anak yang berada disana.

Suara ranting pohon yang berderik, lolongan serigala yang merdu tak menggentarkan langkah Tao untuk mengurungkan niatnya yang menuju kamar Baekhyun, dimana Kyungsoo berada saat ini. Meski ia sendiri tidak tahu kenapa pemuda itu bisa akrab dengan senior yang notabenenya adalah musuhnya.

Tapi tak dapat di pungkiri jika ia senang dengan perubahan sikap keduannya. Hal yang bagus bukan?

Lorong semakin sepi, bisikan angin menemani tiap langkahnya yang kini hanya berjarak beberapa meter dari pintu kamar Baekhyun dan Chanyeol. Tapi saat ia hendak mengetuk pintu, hawa dingin yang mencekam di sertai udara yang mendadak berat. Gerakan tangannya terhenti di udara, sejenak nafasnya terhenti, menatap lekat pada pintu kamar yang bercat cokelat gelap.

Aura itu...ya, tidak salah lagi.

Ada binar lega di matanya, raut wajahnya melunak, dan hendak kembali mengetuk pintu, tapi lagi-lagi tangannya terhenti di udara.

Tao menoleh ke belakangnya punggungnya cepat. Tidak ada siapa-siapa. Lalu menoleh ke kanan-kirinya, memastikan jika tidak ada siapapun disana kecuali dirinya, dan tidak ada yang sedang memperhatikannya diam-diam.

Namun meski lorong sangat sepi dan hening, Tao tetap tidak tenang, entah kenapa ia merasa ada yang sedang memperhatikannya. Pemuda Panda itu pun mengurungkan niatnya, dan dengan mata terpejam ia merapal mantra dalam heningnya malam.

Sosoknya tiba-tiba memendarkan cahaya perak yang lembut, lalu meredup dan kembali membuka mata. Tao menghela nafas pendek, dan memutuskan untuk beranjak, kembali ke kamarnya. Mungkin sebaiknya ia mencari waktu yang tepat untuk mendatangi kamar seniornya, Baekhyun.

Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba ia berhenti, tepat di depan tikungan kecil yang menuju pada taman belakang asrama; salah satu jalan alternatif lainnya yang ada di asrama. Ada suatu energi aneh yang ia rasakan dari arah sela sempit itu. Dengan penasaran Tao pun masuk ke dalam sela, menuruni tangga yang membawanya ke taman belakang asrama.

Untuk sesaat ia hanya berdiri diam tak berkedip di bawah tangga, melihat sosok tinggi Kris yang berdiri membelakanginya, sibuk memberi makan beberapa Hyena yang tampak sangat kelaparan.

Sosok tegapnya berkilau di tempa cahaya temaram rembulan, seperti memendarkan cahaya yang lembut. Tapi kenapa malam-malam seperti ini pria itu justru berada di taman bahkan sedang memberi makan Hyena?

"Tuan?" panggilnya ragu. Kris menoleh, dan menatap kaget melihat keberadaan Tao. Meski tak terlalu jelas di tunjukkan di wajah tampannya yang dingin.

"A-anda sedang apa?" tanyanya, gugup.

"Memberi makan Hyena, kau sendiri?" Krid meletakkan wadah yang di gunakannya sebagai tempat makanan Hyena ke rumput.

"Eh, s-saya sedang jalan-jalan, iya" Tao menjawab gugup. Tak bisa mencari alasan lain, selain 'berjalan-jalan'. Dan yah itu bukan alasan yang tepat.

"Mau mendekat?" tawar Kris. Terdengar cukup gila bagi Tao. Dan seakan tahu ketakutan muridnya itu, Kris cepat menambahi.

"Mereka tidak akan menyerang mu" ia mengulum senyum tipis.

Tao mengangguk ragu, dengan dada berdebar entah karena gugup atau takut, ia mendekat perlahan, tepat di sebelah Kris.

"Anda yang memelihara?" tanyanya, menatap Kris.

"Bukan, aku hanya di tugaskan untuk merawat mereka, Tuan Siwon sendiri yang mengumpulkan mereka"

"Untuk apa?" Tao mengernyit.

"Hanya untuk berjaga-jaga" kata Kris memperhatikan lima Hyena di depannya.

Tao mengangguk kecil. Mengedarkan tatapannya ke sekeliling taman karena ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Meskipun begitu sesekali ia mencuri pandang ke arah Gurunya, dan tak sengaja melihat tangan Kris yang tak terbungkus sarung tangan. Dan alisnya naik sebelah saat melihat 2 titik hitam di punggung tangan kanan Kris, di dekat ibu jari.

"Tuan tidak memakai sarung tangan?" tanyanya, beralih menatap wajah Kris.

Pria itu menoleh, mengangkat tangannya lalu mengusap-ngusapnya.

"Ku lepas tadi sore" jawabnya santai. Tao hanya mengangguk-angguk samar.

"Tidak tidur?" Kris menatap wajah Tao, pemuda manis itu buru-buru memalingkan wajahnya, lalu menggeleng pelan. "Tidak baik tidur terlalu larut"

"...akhir-akhir ini saya tidak bisa tidur nyenyak" kata Tao pelan, kembali teringat akan kegelisahannya.

"Aku juga tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini" Kris melemparkan pandangannya ke depan, Tao menoleh.

"Ada yang bernyanyi dalam mimpiku, tapi tidak ada sosok yang muncul. Mimpi yang aneh, bagaimana dengan mu?" ia menoleh pada Tao, menatap lekat sepasang mata si Panda yang selayaknya mutiara hitam yang berkilau.

Pemuda berkantung mata itu termenung, tak bereaksi. Kaget? Tentu saja. Ia tidak menduga sebelumnya jika ada yang mengalami hal yang sama dengannya. Apa mungkin sama persis? Apa nyanyiannya sama dengan yang ia dengarkan di dalam mimpinya?

Tao menahan nafas saat Kris mengulurkan tangannya menyentuh pipinya. Lidahnya kelu, mendadak ia lupa bagaimana caranya bernafas ketika Guru tampan itu mendekatkan wajahnya. Perlahan, semakin dekat, sangat dekat...

Krssk!

Kris urung menempelkan bibirnya, memalingkan wajahnya ke arah lain, karena Tao mengangkat kepalanya cepat―kaget, melihat sekumpulan burung gagak yang keluar dari pohon yang berada paling dekat dengannya.

Gagak? Lagi? Kenapa selalu muncul saat ia berada searea dengan Guru biologinya?

To be continue