Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: EXO Members and others with OC

Genre: Drama Life, Fantasy, Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...

Kris membuang muka, kembali menatap kelima Hyena yang masih berkumpul di depannya―sibuk dengan makanan masing-masing. Tao yang tak tahu apa yang akan terjadi tadi hanya berdiri diam terpaku, karena segerombol gagak yang sempat mengagetkannya tadi telah terbang berarak menjauh.

Tiupan angin sepoi-sepoi menyapa kulitnya, meniup halus helai rambutnya, membuat dahan-dahan pohon berderik dan binatang-binatang malam bernyanyi, beriringan dengan suara lirih tumbuhan yang bergoyang-goyang―saling bersentuhan satu sama lain.
Menciptakan nyanyian malam yang abadi di dalam keheningan.

Pemuda semampai bermata Onyx itu terhenyak kembali dari keterpakuannya saat sesuatu yang hangat dan agak kasar menyentuh tangan kanannya. Buru-buru ia menunduk, kedua matanya melebar kaget, refleks melangkah mundur karena seekor Hyena yang mencoba kembali menyentuh tangannya.

Wajah manisnya tampak pucat, jelas sekali jika ia takut.

"Hyena itu tidak akan menyerangmu, tenang saja" ujar Kris, Tao menoleh kaku dan mengangguk sekenanya. Kris mengulas senyum tipis, ia berjalan mendekat dan dengan tanpa takut sedikitpun mengusap kepala Hyena tersebut. Dan Tao tampak tegang menyaksikan hal yang tidak biasa itu.

Kris berjongkok, seperti tengah mengusap seekor anjing peliharaan.

"Dia tidak menyerang Tuan?" tanya Tao pelan, pria tampan itupun menoleh.

"Tidak, kemarilah, tenang saja Hyena-hyena ini sudah ada yang mengendalikan"

Tao mengernyit. "Yang mengendalikan?"

"Ya, ada mantra khusus. Kemarilah" Kris memberi isyarat untuk mendekat.

Tao menggerakkan kakinya antara gugup dan takut, hingga akhirnya pemuda Panda itu berjongkok perlahan di samping Kris namun agak kebelakang. Pria bersurai pirang gelap bak Pangeran itu menarik tangan kiri Tao agar mendekat ke sebelahnya, dan mau tak mau muridnya yang manis itupun berangsur mendekat meski ragu.

Kris mengarahkan tangan kiri Tao yang di pegangnya ke arah kepala Hyena di depan mereka dan si Panda refleks menarik kembali tangannya, tapi Kris cepat menahan gerakannya. Dengan takut-takut, pemuda manis itupun menurut saja saat tangan Kris yang memegangi tangannya meletakkan telapak tangan kirinya ke kepala Hyena tersebut.

Kris tersenyum samar, melepaskan tangannya dari tangan Tao.

"Sama seperti anjing dan sebangsanya, mereka suka di usap di bagian kepala" ucapnya, namun Tao terlalu tegang hingga tidak mampu berkedip atau sekedar melirik Guru biologinya itu.

"Hyena-hyena ini tidak akan menyerangmu jika kamu tidak mengusik mereka" kata Kris lagi. Tao mengangguk kaku.

"Anda sering berinteraksi dengan mereka?" tanyanya, menoleh menatap Guru biologinya itu.

"Hanya memberi mereka makan. Lihat, mereka jinak 'kan?" Kris turut mengusap-ngusap bulu Hyena tersebut. Tao mengangguk kecil.

Pemuda pemilik sepasang Onyx itu tampaknya sudah mulai rileks, terlihat dari gerakan tangannya yang tak lagi kaku membelai puncak kepala sang Hyena. Dan tepat detik itu juga, tak sengaja ia kembali melihat 2 titik hitam di tangan kanan Kris.

Ia penasaran, karena titik hitam itu sama dengan titik hitam yang ada di leher Nancy.

"Boleh saya bertanya Tuan?" Tao memalingkan wajahnya kini menatap Kris.

"Tentu"

"Uhm, tanda di tangan anda itu di sebabkan apa?"

Tangan Kris berhenti mengusap sang Hyena, obsidian coklat gelapnya memperhatikan titik hitam yang dimaksud Tao di punggung tangannya, dekat ibu jari.

"Entahlah, saat aku bangun tidur sudah ada tanda ini" Kris kembali menatap Tao. "Kenapa?"

"Tidak, saya hanya penasaran. Apakah sakit?"

"Sedikit terasa nyeri, tapi sudah hilang nyerinya"

"Kenapa bisa begitu?"

"Mungkin di gigit ular atau hewan sejenisnya, entahlah. Menurut mu?" Kris meneliti raut wajah muridnya itu. Tao menggelengkan kepalanya pelan.

"Saya melihat tanda yang sama di leher Nancy, karena itu saya penasaran"

"Benarkah?" Tao mengangguk. "Sudah kau katakan pada guru-guru yang lain?"

"...pasti mereka sudah tahu, tidak mungkin kalau mereka tidak tahu"

"Yah, kau benar. Tapi apapun itu, ini masalah para Guru jangan terlalu di pikirkan"

Tao mengangguk kecil, ia menarik tangannya dari kepala Hyena yang tengah di usap-usapnya.

"Ng, kalau begitu saya kembali ke asrama Tuan" ucapnya, bangkit berdiri. Kris mendongkak lalu mengangguk, turut bangkit.

"Tidur yang nyenyak"

"Anda juga, permisi" Tao membungkukkan tubuhnya sedikit.

Pemuda manis bertubuh semanpai itupun membalikkan tubuhnya, dan melangkahkan kaki berjalan meninggalkan Kris yang kini bangkit berdiri menatapnya.

"Tao!" panggil Kris, membuat muridnya itu berhenti dan menoleh.

"Ya Tuan?" mata kucingnya menatap polos.

"Aku ingin bertanya"

"Silahkan Tuan"

"Apa kamu percaya love at the first sight?"

Tao terdiam, entah kenapa wajahnya memerah mendengar pertanyaan Guru tampan tersebut.

"...entahlah, saya tidak tahu tentang hal itu. Kenapa Tuan?" suara Tao terdengar gugup. Kris mengangkat bahu ringan.

"Sepertinya aku sedang mengalami itu" jawabnya santai, namun lekat menatap kedalam sepasang Onyx cemerlang milik Tao. Pemuda manis itu cepat-cepat menunduk, terlihat salah tingkah.

"M-maaf, saya permisi Tuan" pamitnya terburu-buru.

Kris masih memaku tatapannya pada sosok tinggi muridnya itu, kemudian berpaling, menatap jauh ke arah taman, tepat pada sebuah pohon beringin besar.
Bibir plumnya tertarik membentuk seringai samar.

"Mengintiplah selagi kau bisa" desisnya. Seolah berbicara pada angin yang berhembus.

Lolongan nyaring serigala menjawab keheningan malam ini. Seolah memberitahukan suatu hal pada sosok tinggi bersurai hitam yang berdiri bersandar pada pohon beringin, sepasang matanya yang hitam pekat tak lepas menatap langit malam yang cerah.

.

.

.

At Jade Dormitory, 23.35 pm

"Buku apa itu Kyungie?" suara Jongin membelah keheningan kamar.

"Entah, aku pinjam dari Baekie-hyung"

"Oya, aku penasaran, akhir-akhir ini kalian akrab ya, sudah baikan nih?"

"Hanya sementara, siapa juga yang betah akrab-akrab dengan penyihir mengerikan itu?"

"Yakin? Atau sedang ada proyek yang kalian kerjakan berdua?"

"Menurut mu?"

Tao yang berada di lantai atas hanya menghela nafas mendengar percakapan kedua temannya. Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi, tapi saat akan menutupi kepalanya, gerakan tangannya terhenti di udara saat tak sengaja melihat gulungan perkamen yang tersimpan di pinggir meja bacanya.

Ia urung menyelimuti tubuhnya dan bangkit duduk. Di raihnya perkamen itu, seolah ada yang menarik di gulungan kuno tersebut.

"Tidak bisa tidur baby Panda?" tanya Jongin yang melihat surai hitam sang sahabat menyembul dari pembatas rendah kamar diatas. Tao menoleh dan melongok ke bawah.

"Begitulah, kalian berdua?"

"Sama" Jongin hanya rebahan di ranjang Kyungsoo, sementara sang empunya tidak menyahut. Terlalu serius membaca buku.

Kening Tao mengerut ketika melihat cover buku yang dibaca sahabatnya yang bermata bulat itu, ia tidak tahu memang buku apa itu, namun ia tahu isinya hanya dengan melihat covernya saja.

"Kai, buku itu..." Tao tidak menyelesaikan kalimatnya.

.

.

.

Saturday, at Jade Dormitory 06.08 am

"Sekarang berikan buku itu padaku!"

"Tidak Tao! Aku meminjam ini dari Baekie-hyung, jadi minta saja padanya!"

"Serahkan saja buku itu!"

"Bagaimana kalau kau serahkan saja bukunya dan nanti kita bicara pada Baekie-hyung, hm?" Jongin mencoba mempermudah. Kyungsoo yang kekeuh mempertahankan buku di dekapannya itu tampak berpikir sejenak.

"Kau tidak tahu buku apa itu 'kan? Berikan padaku Kyungie" pintaTao untuk yang kesekian kalinya dan kali ini suaranya lebih tenang.

"Sejak kapan kau tidak mempercayai kami hah?" Jongin berkacak pinggang, sedikit kesal menghadapi sifat keras kepala teman sekamarnya itu. Padahal sudah berlangsung semalaman, tapi pemuda mungil bermata bulat itu sungguh sangat keras kepala.

"...ok, tapi kalian sendiri yang bicara pada Baekie-hyung, soalnya dia bilang kalau buku ini agak―hey! Aku belum selesai bicara!" penjelasan Kyungsoo menjadi sebuah protes karena Tao sudah lebih dulu merebut bukunya.

Pemuda Panda itu tampak tak sabar membuka halaman demi halaman, matanya melebar saat melihat tulisan barisan rapih yang tercetak di kertas meski di lihat dari usangnya buku tersebut. Sejenak ia menahan nafas, lalu menutup buku dengan cepat.

"Aku ke ruangan Tuan Siwon! Kau beritahu yang lain Kai!" ujar Tao mengkomando sembari keluar dari kamar dengan tergesa.

Pemuda bermata Panda itu berlari di sepanjang lorong, tak menghiraukan tatapan aneh siswa-siswa yang berlalu lalang di lorong asrama. Meski membuat banyak siswa bertanya-tanya, hal itu tetap tidak menghambat 'perjalanan kecil'nya, untungnya tidak banyak orang berada di sekolah, jadi ketergesaannya saat ini tidak menimbulkan tanda tanya bagi staf sekolah yang lain.

Tao mengetuk pintu kayu di depannya dengan tak sabar, sayup-sayup terdengar sahutan dari dalam. Tanpa mengkonfirmasi lagi, ia pun membuka pintu tersebut.

"Ada apa? Kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanya Siwon heran melihat murid kesayangannya yang bersikap tidak biasa.

"S-saya menemukan ini Tuan" ucapnya, meletakkan buku yang di bawanya ke atas meja.

Raut wajah tenang di wajah tampan Siwon luntur, di gantikan keseriusan di wajah rupawannya. Di raihnya buku yang tidak seberapa tebal tersebut, dan membolak-baliknya.

"Saya mendapatkan buku itu dari Do Kyungsoo" kata Tao, Siwon beralih menatap muridnya itu. "Kyungsoo meminjamnya dari Baekie-hyung" sambungnya kemudian. Siwon menghela nafas.

"Anak itu memang harus di perhatikan, riwayat keluarganya bukan dari penyihir biasa-biasa saja" Siwon berkata tenang.

"Apa saya harus mencari tahu Tuan?"

Pria tampan itu membenahi posisi duduknya, sambil mengusap-ngusap bibirnya.

"Serahkan hal ini pada Suho dan Quendi yang lain. Aku yakin, tidak hanya kita yang sedang melaksanakan misi pencarian ini"

Tao mengangguk patuh. "Baik"

Siwon memamerkan senyum tipis di bibirnya. "Sudah kau selesaikan perkamen yang ku pinjamkan?" tanyanya. Tao menggeleng pelan.

"Belum Tuan, tapi akan segera saya selesaikan"

"Ok, sekalian katakan pada Suho untuk menghadapku setelah mencari tahu soal anak bernama Byun Baekhyun"

"Baik"

"Dan untuk sementara ini jangan terlalu sering berinteraksi dengan orang asing, waspadalah dalam segala situasi"

"Saya mengerti"

Tao membungkukkan tubuhnya sedikit dan keluar dari ruangan yang cukup luas tersebut. Siwon sempat menghela nafas saat pintu ruangannya kembali tertutup.

Sementara itu, Tao yang berjalan menyusuri lorong dengan pikiran yang melayang entah kemana. Namun saat ia hendak berbelok di ujung lorong, tiba-tiba berhenti di tempat dan menoleh ke belakang punggungnya.

Keningnya berkerut samar saat pupil matanya melihat sosok tinggi nan tampan Sehun―berdiri bersandar di dinding dengan kedua tangan berada di dalam saku celana.

"Kau mengikutiku?" Tao menatap curiga, Sehun menoleh.

"Aku kasihan padamu"

Tao mengernyit. "Maksut mu?"

"Jangan mudah percaya pada orang lain"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan"

Sehun memiringkan tubuhnya dengan masih menempelkan sisi tubuh kirinnya ke dinding.

"Jadilah Quendi yang peka, kalau tidak dia tidak akan sungkan menghabisi orang-orang yang ada di sekelilingmu. Belajarlah membaca situasi" ujar Sehun sambil lalu. Berjalan kearah yang berlawanan, meninggalkan Tao yang kebingungan menatap sosoknya.

"Kalau kau mengetahui sesuatu, kenapa kau tidak bertindak?" pertanyaan Tao membuat Sehun berhenti di tempat.

"Kenapa harus?" ia berbalik. "Permainan ini akan menyenangkan"

Tao meremas udara kosong, tak harus beradu argumen dengan 'makhluk' di depannya itu.

"Satu lagi" ― "Aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Kau suka dia?"

Kerutan di kening Tao semakin dalam.

Suka? Apa maksudnya? Lagipula siapa yang siapado maksut Drow tampan berwajah datar itu?

.

.

.

Break time 10.06 am

"Kau ikut 'kan Suho?" Xiumin menoleh pada teman sebangkunya. Joonmyun yang sedang merapikan buku-bukunya pun mengangguk.

"Tentu saja, kurasa kita harus mencari tempat lain untuk membicarakan hal ini"

"Yah, memang harus"

"Apalagi Baekie itu anaknya type yang meledak-ledak, jadi..." Joonmyun menggantung kalimatnya, tak sengaja melihat ke arah pintu kelas―di koridor―dimana Chanyeol berjalan beriringan dengan Guru biologi mereka, membawa tumpukan buku dan tanpa sengaja tatapan matanya beradu dengan obsidian coklat gelap sang Guru.

"Suho?" panggil Xiumin bingung. Penasaran, ia mengikuti arah pandang temannya.

Tanpa menyahut, Joonmyun tiba-tiba bangkit berdiri, mengambil langkah lebar keluar dari kelas tak mendengar panggilan lantang Xiumin. Dan entah kenapa, pemuda tampan itu malah mempercepat langkahnya mengikuti jejak Chanyeol dan Kris yang berjalan beriringan, mungkin menuju ke ruang kerja Guru bersurai pirang gelap tersebut.

Ada yang aneh, ya. Ia paham akan hal itu. Tapi ia tidak tahu apa, karena suara-suara yang ada di dalam kepalanya memberi perintah pada tubuhnya untuk bergerak―mengikuti kedua orang itu. Terlebih, sedikitnya ia penasaran akan perubahan atmosfer yang terasa berbeda di sekeliling Guru biologinya itu.

Atmosfir yang sama saat sebelum Unicorn-unicorn di Dunia Tengah terbunuh.

Tapi Joonmyun harus menghentikan langkah kakinya pada tikungan yang ada di tengah-tengah lorong, karena ia tidak melihat siapapun disana. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan ia menyadari jika situasi di sekitarnya tergolong sepi dan hening. Sepertinya tanpa di sadarinya ia telah berjalan menjauh dari lingkup umum sekolah.

Meski kebingungan akan 'lenyap'nya sosok Chanyeol dan Kris di lorong itu, ia memutuskan untuk berbalik, kembali ke kelas sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Seperti sihir kemudian, angin berhembus memudarkan lorong yang seolah tertutupi perisai tembus pandang, menampilkan sosok Chanyeol dan Kris yang berjalan beriringan.

Guru tampan itu mengulas senyum tipis, dan tepat saat Chanyeol menoleh, satu alisnya terangkat karena tak melihat sosok tegap Gurunya.

"Tuan?" panggilnya menatap ke sekitar.

Keningnya mengerut, ia tak menemukan sosok Gurunya. Tepat saat ia akan kembali memanggil, tumpukan buku yang di bawanya jatuh seiring kedua tangannya yang spontan mencengkram lehernya yang tiba-tiba tercekik.

Mata sayu membulat, mulutnya terbuka lebar berusaha menghirup oksigen. Asap berwarna abu-abu berarak membungkus pemuda tampan itu. Tak ada rintihan, tak ada suara, dan semuanya terjadi begitu cepat.

Sepasang mata lain yang berwarna hitam kelam terpaku menyaksikan gumpalan asap abu-abu itu, seperti racun yang menjerat pemuda tampan yang entah sengaja atau tidak menjadi sang korbannya.

Dalam diam dadanya bergemuruh, tangannya meremas udara, pikirannya kacau.

"Anda sedang apa Tuan?"

Suara berat yang khas itu membuat pria berambut pirang gelap tersebut mengangkat wajahnya, membelalak kaget.

To be cotinue

Maaf ga bisa bales review lagi, virus males n ngantuk menyerang gw beberapa hari ini #plak

Oya, soal Kris POV, sayangnya ga ada, gw emang niat banget bikin readers bingung di ff ini, wkwkwkw *bow*

©Skylar.K