Dust Grains
By: Skylar.K
Pair: Kristao/Taoris
Cast: Huang Zi Tao, Kris Wu, Xi Luhan with EXO members and others OC chara
Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt
Rating: T
Warning: TYPO(S)!
.
.
.
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...
"Apa yang anda lakukan Tuan?"
Jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dadanya mendengar suara berat yang khas itu. Ia mengangkat kepalanya, hingga kini matanya di hadapkan dengan sepasang mata berwarna emas kecokelatan yang berkilat.
Wajah yang dingin, tidak tampak kehidupan di wajah tampan pria di depannya itu. Dan waktu seolah mendadak berhenti.
Matanya tak dapat terpejam, siluet wajah pria di hadapannya tersebut mendadak pudar, di gantikan asap abu-abu pekat yang melilitnya. Fokus matanya hilang, hanya tampak pandangan kosong, asap abu-abu itu menuntunnya, melayang-layang di udara menggerakkan tubuh lemasnya dan berdiri beberapa langkah dari sosok pemuda berambut hitam yang terbaring dengan wajah pucat.
Bruk!
Tubuh tegap pria berhidung mancung itupun ambruk dengan wajah pucat pasi. Menyisakan asap abu-abu yang menari-nari di langit-langit lorong yang hening.
… at the same time, in the garden...
Helaan nafas meluncur dari mulut pucat tersebut. Kedua matanya terpejam, saat angin sepoi-sepoi bertiup memainkan helai rambut hitamnya, menyapa manja kulit pucatnya. Tak terusik sedikitpun meski dahan pohon yang menjadi tumpuan tubuhnya saat ini mulai mengeluarkan derit, akibat angin dan berat tubuhnya.
Cuaca cerah hari ini amat sangat membuatnya tidak nyaman, terlebih sengatan hangat sinar matahari yang sanggup membuatnya muak, belum lagi desiran dedaunan yang saling berbisik nakal. Membuat pemuda tampan tersebut mengasingkan diri ke sebuah pohon beringin besar, yang sangat kokoh.
Selalu, ia akan berdiam diri disana dan menciptakan 'Dunia'nya sendiri. Karena sampai kapanpun ia tidak akan bisa beramah-tamah dengan cuaca cerah.
"Sudah dimulai ya" gumamnya dengan mata masih terpejam.
Giginya bergemelatuk, kakinya bergerak-gerak gelisah.
"Argh! Sialan!" ia bangkit duduk dengan cepat, sorot matanya tampak kesal.
Sehun―mengacak-acak rambutnya gusar dan lengan panjang kemeja putihnya pun luruh beberapa senti, menampakkan tanda bulatan yang terbentuk dari bintang-bintang berukuran kecil dan berwarna hitam.
Ia mendengus memperhatikan 'cetakan' di pergelangan tangan kanannya itu.
"Aku harus menonton tanpa melakukan apa-apa? Yang benar saja" eluhnya kesal.
"Kenapa mereka selalu bergerombol? Menyusahkan saja" monolognya.
Sehun masih mengajak bicara tanda 'cetakan' di tangannya tersebut.
"Kalau bukan Tuan Heechul yang memerintahkan ku, sudah ku telan hidup-hidup mereka. Cih!" Sehun masih dirundung kekesalannya yang berhubungan dengan tanda di pergelangan tangan kanannya itu.
Tanda yang 'mengikat'nya dan membuatnya patuh pada hukuman yang diberikan oleh Sang Pemimpin Kelompoknya. Mau tak mau ia harus puas menjadi penonton dalam permainan yang di ciptakan musuhnya.
Namun kesendiriannya terusik saat suara orang bercakap-cakap menusuk gendang telinganya. Sehun memalingkan wajahnya menatap ke bawah pohon, pada jalan setapak taman. Raut wajahnya sangat datar memperhatikan 2 orang guru yang berjalan beriringan dengan mengobrol.
Tatapannya terlihat sangat tajam pada sosok guru berambut pirang disana.
"Cepatlah buka topengmu" desisnya tajam.
.
.
.
Friday, at director's room 11.48 am
Udara segar menerobos masuk melewati jendela yang terbuka, melambaikan ringan tirai berwarna putih, memberi hawa segar yang menyenangkan. Seolah memperbarui udara di dalam ruangan yang cukup luas ini.
Siwon berdiri dari kursinya, membenahi dasi yang di kenakannya dan merapikan setelan jas resmi yang sangat elegan di tubuhnya. Pria tampan itu memutar kepalanya melihat pada jam dinding kayu antik yang bertenger manis di atas dinding.
"Sudah waktunya" ia menggumam.
Siwon beranjak dari meja kerjanya, membuka pintu ruangannya dan 2 sosok cantik menyapa pupil matanya begitu pintu ruangannya dibuka lebih lebar. Pria itu mengulum senyum pada sosok cantik berambut ikal, mengenakkan gaun putih yang minimalis. Sosok cantik itu balas tersenyum tipis.
"Kami baru saja akan mengetuk pintu, ya 'kan?" kata sosok cantik itu, memalingkan wajah menatap pria imut yang berdiri di samping kirinya. Pria itu hanya mengangguk kecil.
"Silahkan masuk, maaf kalau agak berantakan" kata Siwon, melangkah mundur memberi akses masuk bagi kedua tamunya.
"Ruanganmu luas juga hyung" ucap sosok cantik itu, memperhatikan keseluruh ruang kerja.
"Silahkan duduk" ucap Siwon seraya menutup pintu kembali.
Pria tampan itu berjalan ke meja kerjanya saat kedua tamunya duduk pada kursi yang telah di sediakan.
"Aku masih tidak habis pikir, kenapa tidak kau saja yang ke Dunia Tengah? Disini terlalu berbahaya" pria manis disana angkat bicara, menatap Siwon dengan bingung.
"Aku terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan Dunia ini" ujarnya, membuka laci paling atas mejanya.
"Tidak ada tempat yang aman lagi, tidak masalah 'kan? Lagipula ruangan ini cukup 'steril' " sosok cantik itu tersenyum pada pria manis di sebelahnya.
"Tenang saja Leeteuk, tidak ada yang berani menjamah ruanganku. Ini bukunya" Siwon meletakkan sebuah buku usang di hadapan kedua tamunya.
"Wow" si cantik mendesis. Di raihnya buku itu dan di bolak-baliknya.
"Apa lagi yang harus di cek Sandara?" Leeteuk menatap malas pada sosok cantik itu.
"Theripley Scroll palsu. Siapa yang memilikinya?" Sandara membaca title di cover buku dan mengalihkan tatapannya dari buku yang di pegangnya pada Siwon.
"Murid tingkat dua, berasal dari keluarga penyihir hebat"
"Pantas kalau muridmu memiliki buku ini" sahut Leeteuk.
"Kau mau aku yang memusnahkannya?" tanya Sandara sambil membuka-buka halaman buku tersebut.
"Ya, kalau aku yang melakukannya tidak akan aman untuk sekolah ini. Bisa-bisa makhluk-makhluk diluar sana mendeteksi sihirku"
Sandara mengangguk-anggukkan kepalanya ringan.
"Melelahkan juga ya, buku yang seharusnya sudah di musnahkan ternyata memiliki banyak salinan" ia menggumam sendiri.
"Ku dengar sekolah ini mendapat teror, apa benar?" Leeteuk mengganti topik pembicaraan. Siwon menatap pria manis itu lalu mengangguk.
"Sudah dua korban, gejala yang sama dan tanpa penyebab yang pasti" jawabnya, sorot matanya tampak menerawang.
"Seperti apa?" Sandara tampaknya tertarik.
"Tubuh membiru, membusuk dan terdapat titik hitam di bagian tertentu..."
"Penghisap jiwa?" kata Sandara dan Leeteuk bersamaan, kekagetan jelas terpancar di wajah mereka. Siwon mengangguk.
"Tapi sejauh ini tidak ada yang bisa melakukan hal itu kecuali―"
"The Shadow. Hanya dia yang bisa melakukannya" ujar Siwon memotong kalimat Sandara.
"Tapi kalaupun benar, kenapa The Shadow mencari korban di sekolah ini? Memangnya buku itu sudah positif berada disini?"
"Itu yang masih kami cari tahu, aku sudah mendapat laporan tapi auranya timbul hilang dan terus seperti itu"
"Apa kau butuh Quendi lagi?"
"Tidak-tidak, sudah cukup, aku tidak mau membuat keberadaan mereka di Dunia ini makin terancam. Terlebih kita tidak tahu musuh seperti apa yang kita hadapi"
"Semoga kita semua cepat menemukannya dan kita akhiri permainan kejar-kejaran ini" kata Sandara di setujui dengan anggukan kepala Leeteuk.
"Apa hal ini bukan ulah Drow?" pria manis itu menatap Siwon dan Sandara bergantian.
"Kalian bisa langsung mendatangi pemimpinnya. Tapi aku yakin ini bukan ulah mereka"
"Darimana kau yakin?"
"Aku kenal cara mereka, lagipula satu Quendi terbaik mereka sedang dalam hukuman, jadi aku meragukan hal itu"
Leeteuk mengangkat bahu samar, dan hening melingkupi ruangan tersebut.
"...baiklah, kami harus kembali" ucap Sandara seraya bangkit berdiri.
"Ya, sebentar lagi juga ada orang yang datang" kata Siwon turut bangkit berdiri.
Pria tampan itu beranjak, tapi baru beberapa langkah ia berhenti dan menoleh ke balik punggungnya.
"Mungkin lain waktu aku akan menyuruhmu memanggilku kakak" ujarnya, menatap Leeteuk. Pria manis itu hanya mendengus kecil.
Siwon tersenyum masam dan kembali pada tujuan awalnya dan tidak 'mengantar' pulang kedua tamunya yang tiba-tiba menghilang dari ruangannya.
Sosok Madam Jaquelin yang berdiri di depan pintu ruangannya tersenyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Madam?" tanya Siwon lembut.
Tampak keterkejutan di wajah wanita berusia 30an tersebut, padahal dirinya belum mengetuk pintu tapi sang Direktur sekolah sudah mengetahui kedatangannya.
"Eh...ya..saya..." Madam Jaquelin mencuri pandang ke dalam ruang kerja Siwon yang sepi.
"Ya?" pria tampan itu menunggu.
"Saya sedang mencari Tuan Jongdae, saya pikir beliau ada disini" ujar wanita itu kemudian.
"Beliau tidak ada disini. Apa ada rapat Guru?"
"Benar, Guru-guru yang lain sudah berkumpul, Tuan Jongdae saja yang belum datang"
"Di ruang kerjanya sudah di cari?"
"Sudah Tuan, ke kelas terakhir yang beliau ajarkan juga, bahkan sampai ke kamarnya"
"Dan tidak ada?"
Madam Jaquelin mengangguk.
Siwon terdiam, tidak biasanya Guru sejarah sekolah tersebuat tidak datang tepat waktu dalam agenda sekolah.
.
.
.
After dinner, 19.28 pm
"Jangan sentuh-sentuh barangku!"
"Bisa diam tidak?"
"Tapi―"
"Kami tidak akan merusaknya hyung, ok?"
Brak!
Baekhyun yang hendak kembali menyahut berjingkat kaget karena suara tumpukan buku yang jatuh berdebam di lantai kamar. Jongin mengangkat satu alisnya melihat setumpuk buku usang yang kini ada di lantai, sementara Baekhyun yang melihat tatapan menusuk dari Joonmyun―yang membanting tumpukan buku ke lantai―langsung bungkam, menatap ke arah lain.
Jongin berdeham kecil, karena tidak bisa menertawakan BaekhyunーKakak kelasnya yang kini tidak berkutik. Yah, siapa yang berani melawan tatapan tajam Joonmyun yang notabenenya selalu ramah dan penuh senyum, tapi jangan pernah coba membantahnya jika pemuda itu sedang serius.
"Kau menemukan apa saja Jongin-ah?" tanya pemuda tampan itu, raut wajahnya berangsur lembut.
"Ada dua buku yang ku temukan, kalau kau hyung?"
Joonmyun menatap ke seluruh kamar yang lumayan berantakan berkat misi penggeledahan saat ini, kemudian menoleh pada Baekhyun yang berdiri di dekat tempat tidur.
"Kau dapat ini semua dari Nenek mu?" tanyanya, pemuda cantik itu mengangguk kecil.
"Buku-buku di peti itu di turunkan dari generasi ke generasi, begitulah" jawabnya.
"Kau Gipsy?"
"Bukan, keluargaku tidak masuk ke kelompok tertentu, kami bergerak sendiri"
"Secara nomaden?"
Baekhyun mengangguk. "Banyak yang mengincar keluargaku, aku tidak tahu kenapa"
"Jelas karena buku-buku ini" sahut Jongin cepat.
"Memang apa yang kalian cari? Aku sudah men―"
"Ngomong-ngomong, mana Chanyeol?" tanya Joonmyun, beralih menatap kesisi kanannya.
"Entahlah, dari tadi siang dia belum kembali" Baekhyun turut menatap ke tempat tidur Chanyeol yang rapih. Teman sekamarnya.
Joonmyun kembali menelisik keseluruh kamar, menghampiri sebuah meja kayu yang dibuat menyimpan buku-buku pelajaran dan pernak-pernik penyihir yang ia tidak tahu apa kegunaannya, dan ia tak menemukan buku yang di cari-carinya dan kaumnya di kamar ini.
Yah, tentu saja. Mana mungkin Baekhyun memiliki buku itu sekalipun dia berasal dari keluarga penyihir hebat. Tapi atas buku-buku yang di temukannya malam ini tidak menutup kemungkinan jika pemuda cantik itu memiliki buku tersebut, meski kecil kemungkinannya.
"Eh eh, mau dibawa kemana?" Baekhyun menahan tangan Joonmyun yang baru mengangkat tumpukan buku usang miliknya.
"Kusita" Joonmyun bergerak mundur, bermaksut melewati sang pemilik kamar. Baekhyun.
"Tapi itu―"
BRAK!
Jongin dan Baekhyun berbalik kaget menatap pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Mereka bertatapan bingung, sementara Joonmyun menatap pintu yang terbuka seolah sesuatu akan muncul di depan pintu.
Hembusan angin bertiup kencang, membuat Baekhyun dan Jongin refleks melindungi mata mereka.
"Berdiri di belakangku Baek" perintah pemuda berwajah angelic itu tiba-tiba, tak lepas menatap pintu dan wajahnya berubah serius. Jongin menoleh.
"Hyung?" nada ragu.
"Cepat ke belakangku!" bentak Joonmyun.
Baekhyun yang tidak tahu kenapa dan mengapa akhirnya pasrah saja saat Joonmyun menarik tangannya.
"Sebenarnya apa yang―"
Baekhyun terpaksa menelan kembali kata-katanya saat segerombol asap abu-abu memasuki kamarnya. Jongin yang berdiri paling dekat dengam pintu spontan mengangkat tangan kanannya ke udara saat asap abu-abu tersebut bergerak cepat, dan kilatan seperti listrik keluar dari jemari tangannya saat ia menghentakkan jari-jarinya.
… at other room, in the same time...
"Le..."
Pemuda mungil disana menoleh cepat ke bawah―pada pintu kamarnya yang tertutup―tanpa sebab. Kyungsoo yang melihat gelagat Tao dari atas tempat tidurnya, ikut menoleh ke arah yang di tatap teman sekamarnya itu kemudian kembali menatap si pemuda Panda.
"Kenapa?" tanyanya, menatap antara pintu―Tao, terus seperti itu. Pemuda manis itu menggeleng pelan, dan beralih menatap Kyungsoo yang ada dibawah.
"Kau dengar tadi?" tanyanya balik, Kyungsoo mengangkat satu alisnya.
"Dengar apa?"
"Suara tadi, ada yang berbisik"
Alis Kyungsoo menyatu, ia menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup.
"Tidak ada suara kok" ucapnya bingung.
"Tapi tadi 'kan..."
Tao tak melanjutkan kalimatnya dan tampak merenung memikirkan sesuatu.
"Aku rasa kau harus istirahat, jangan terlalu serius menerjemahkan perkamen itu" ujar Kyungsoo, kembali berkutat dengan kartu tarot yang berjejer di ranjang―di depannya.
Tao tidak berkomentar, ia kembali menghadap meja―menatap buku di depannya meski pikirannya tak berada disini saat ini.
Tidak, ia tidak salah mendengar tadi. Ia yakin ada yang berbisik tadi.
"Oya, Kai kemana sih? Selesai makan malam dia langsung kabur tadi, kau tahu?" tanya pemuda bermata bulat itu, membuka satu kartu tarot di depannya dan membuat keningnya mengerut saat melihat gambar di kartu tersebut.
"..."
Tao sepertinya tidak mendengar, dan Kyungsoo sendiri keasyikan membaca hasil ramalan tarotnya.
Tiba-tiba pemuda manis berkantung mata itu bangkit berdiri, turun dengan cepat dan menuju pintu kamar.
"Kemana Panda?" Kyungsoo menoleh sekilas dan kembali menyimak ramalan tarotnya.
Tidak ada jawaban, Tao keluar dari kamar, membuat Kyungsoo manyun karena tak di tanggapi oleh teman sekamarnya itu.
Tao mempercepat langkahnya, entah kenapa mendadak ia gelisah, terlebih Jongin belum kembali dari kamar Baekhyun sejak usai jam makan malam. Apa sedang terjadi sesuatu?
Namun langkah kakinya melambat saat ia melihat sesosok pemuda tinggi bersurai gelombang yang berjalan pelan memunggunginya. Terdapat kerutan samar di keningnya.
"Yeol-hyung?" panggilnya ragu.
Kenapa seniornya itu ada disini? Padahal kamarnya ada di lantai bawah dan penghuni lantai bawah sangat jarang berada di lantai dua ini.
Pemuda tinggi itu berhenti di tempat, Tao kembali melanjutkan langkahnya namun urung karena seseorang menepuk pundaknya.
"Sedang apa di luar?"
Tao berbalik cepat―kaget. Sedetik kemudian menghela nafas lega.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu" kata Kris―pelaku tunggal dari tepukan kecil di pundak Tao.
"Tidak Tuan" sahut Tao sambil memegangi dadanya.
"Sedang apa diluar?" tanya Guru tampan itu lagi.
"Ng,itu..."
Ah, gawat, apa yang harus di katakan?
"Itu Park Chanyeol bukan? Kenapa dia ada disini?" Kris beralih menatap ke arah sosok yang di duga Chanyeol―masih memunggungi mereka. Tao kembali menatap pada pemuda tinggi itu.
"Kenapa dia?" Kris memelankan suaranya dan sejenak bertatapan dengan Tao. Pemuda Panda itu menggeleng pelan.
Namun kebingungan yang melanda mereka terjawab saat pemuda tinggi tersebut menoleh perlahan dan berbalik.
Tao merasa tubuhnya kaku saat melihat wajah pucat Chanyeol dengan mata merah yang berkilat-kilat. Udara mendadak terasa dingin, dan waktu seolah bergerak lambat saat pemuda tampan itu melesat cepat ke arahnya.
"AWAS!"
To be continue
Note:
● Theripley Scroll = buku tentang ramuan keabadian.
● Nomaden = hidup secara berpindah-pindah seperti yang dilakukan kaum Gipsy.
● Le(read: lay) = you
update darurat, ga sempat bales review, hehe :3
