Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: EXO Members and other with OC

Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S)!

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...

BRAK!

Tubuh kecil Baekhyun terdorong menabrak lemari di belakangnya karena hentakan kuat Joonmyun yang semakin menghimpitnya kebelakang. Di antara dingin yang pekat di kamarnya, ia dapat merasakan hawa yang aneh, begitu pula dengan gumpalan asap hitam yang kini menari-nari diatas mereka, berusaha untuk menerobos masuk perisai tipis buatan Jongin yang pemuda itu ciptakan secara spontan.

Ini tidak baik. Itu yang ia tahu.

Tubuhnya mendadak kaku, kedua matanya tak dapat terpejam saat asap hitam itu berubah bentuk menjadi kepala ular yang sangat besar, dengan dua matanya yang merah menatapnya beringas seolah akan melahapnya.

"Tutup matamu!" perintah Joonmyun menggelegar, menggeser tubuhnya kini menutupi Baekhyun.

Terlambat. Pemuda cantik bersurai madu itu telah terdiam dengan tatapan kosong, tak ada reaksi, seolah jiwanya terhisap oleh ular asap itu.

"Galäd!"

Joonmyun mengepalkan kedua tangannya. Tiba-tiba cahaya putih yang lembut melingkupi tubuhnya.

Ular asap itu terhentak mundur, tubuhnya yang semu meliuk-liuk, namun kembali bergerak maju perlahan.
Tapi saat Jongin hendak menyerang ular asap itu, tiba-tiba angin berhembus kencang. Ular itu bergerak gelisah mengitari seluruh kamar, semakin lama semakin kencang dan menyeret ular itu keluar, tersedot kearah pintu. Suara serak yang aneh dan berat melolong sebelum sang ular lenyap dari kamar tersebut.

Jongin menurunkan tangannya dan perisai ciptaannya pun lenyap. Dirinya dan Joonmyun menatap lega kearah pintu―pada sosok tinggi Siwon. Gurat hitam yang sama di keningnya memudar, seiring terkendalinya kekuatan yang telah ia keluarkan.

Entah sejak kapan pria itu berada disana. Jongin dan Joonmyun tidak perlu menanyakan tentang angin kencang yang tiba-tiba muncul tadi.

"Kenapa...makhluk itu ada disini?" tanyanya, raut wajahnya sangat kaku, menatap kedua Quendi di depannya dengan tajam. Ada ketakutan di rona wajahnya.

"Kami juga tidak tahu Tuan" jawab Jongin, ikut tegang.

"...The Shadow tidak akan menyerang tanpa alasan. Apa yang terjadi?"

Pemuda berkulit tan itu menelan ludah, menoleh pada seniornya yang memasang wajah tenang meski ketakutan dan kekalutan tampak di sorot matanya. berdiri di sebelahnya-agak kebelakang.

"Kami sedang menggeledah kamar Baekie-sunbae dan menemukan beberapa buku salinan, lalu―"

"Maafkan saya Tuan" Joonmyun tiba-tiba menyahut. Siwon beralih menatap pemuda tampan itu.

"Tapi saat ini ada yang lebih penting, Baekhyun terlanjur menatap matanya" lanjutnya, wajahnya terlihat agak pucat.

Ya, Siwon melihatnya, pemuda cantik itu terduduk dilantai dengan tatapan kosong, tepat dibelakang Joonmyun.

Siwon menyerbu masuk, dan Joonmyun menggeser tubuhnya agar pria tampan itu dapat dengan leluasa mengecek keadaan Baekhyum. Ia berlutut di dekat pemuda berparas cantik itu, menarik kepalanya dan melihat ke dalam mata hazel Baekhyun.

Kosong.

Dengan berat hati ia memegang tengkuk leher Baekhyun, entah apa yang di lakukannya, pemuda kurus itu mendadak lunglai dengan mata terpejam. Siwon menahannya, menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan.

"Kumpulkan semua Quendi, jangan membuat murid lain curiga. Aku akan membawa anak ini ke Ruang Kesehatan" kata Siwon, dengan mudah mengangkat tubuh mungil Baekhyun.

"Baik Tuan" sahut Joonmyum dan Jongin bersamaan. Mereka saling pandang, sorot cemas dan takut di pancarkan keduanya.

...at the same time, in another place...

"AWAS!"

Tao tidak bisa menutup matanya dari sosok pucat Chanyeol yang menatapnya dengan mata berkilat merah, melompatーmenyerbu cepat kearahnya. Namun sebuah hentakan keras menyeret tubuhnya mundur kebelakang, pandangannya terhalang oleh sosok tegap Gurunya.

BRAK!

Suara benturan yang amat keras menyadarkan Tao dari keterpakuannya. Ia mengerjap, sadar apa yang telah terjadi di depannya.

"Apa yang Tuan lakukan?!" ia shock. Di dorongnya tubuh jangkung Kris ke samping, dan matanya membulat melihat sosok Chanyeol yang tergeletak dilantai.

"Tadi dia hendak menyerangmu" kata Kris, menatap Tao bingung.

"B-bukankah Tuan tidak melakukan apapun? Tapi kenapa?" Tao mengalihkan tatapannya pada Kris.
Pria tampan itu diam, matanya bergerak menghindari tatapan mata Tao yang saat ini menatapnya dengan kerutan di keningnya.

"Itu...telekenesis?" Tao seperti berbisik, matanya menyipit. "Tuan memilikinya?" tanyanya penuh tanda tanya.

"Apa aku tidak pernah cerita kalau aku bisa melakukannya?" tanya Kris balik. Tidak nyaman dengan tatapan menyudutkan muridnya itu.

"Tapi―"

"Hal itu tidak penting, kita harus membawa Park Chanyeol ke Ruang Kesehatan" potong Kris, beranjak kearah muridnya yang tampan, yang tergeletak pucat tak jauh dari mereka.

Tao terdiam. Seketika banyak hal berkelebat di kepalanya. Semua ini terlalu misterius. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

"Tao?"

Deg

Pupil matanya melebar, mendadak jantungnya berdetak cepat. Suara itu, suara yang ia dengarkan di dalam mimpi.

Pemuda Panda itu berbalik, tapi tiba-tiba kedua matanya menjadi sayu lalu menutup perlahan, seiring dengan tubuhnya yang limbung ke lantai batu lorong yang dingin.

"TAO!"

.

.

.

At school, 19.38 pm

"Bagaimana?"

"Disana juga tidak ada"

Dua orang pesuruh pria itu berpandangan bingung, melihat ke sekitar sekali lagi dan salah satu dari mereka yang tak sengaja melihat kearah lorong―melihat sesosok pria tinggi, bertubuh ramping, berpakaian semi formal serba hitam.

Pesuruh itu menyikut pinggang temannya lalu menunjuk kearah yang di lihatnya dengan dagunya. Pria pesuruh yang lebih pendek itu memutar kepalanya melihat kearah yang di maksud. Dan entah kenapa udara disekitar mereka berangsur dingin saat pria asing itu berjalan semakin dekat.

Kedua pesuruh itu berdiri merapat, suara sepatu yang menapak permukaan menggema keseluruh lorong, menambah suasana menegangkan yang membuat kedua pria tersebut berkeringat dingin.

Semakin dekat, mereka tidak dapat melihat wajah pria asing berwajah tirus itu, karena sebagian wajahnya tertutupi oleh topeng putih. Wajah yang dingin, matanya yang berwarna hitam kelam sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Bola mata yang dingin.

"Orang yang kalian cari ada di sana" ujarnya sambil lalu.

Kedua pesuruh itu bertatapan, antara bingung dan kaget karena diajak bicara. Meski dengan nada datar yang berkesan tidak mau tahu.

Sosok pria bertopeng itu semakin lama menghilang di dalam lorong yang gelap. Tak ingin ambil pusing, kedua pesuruh tersebut berjalan tergesa ke tempat yang di maksud oleh pria bertopeng itu.

"Tuan Jongdae!" teriakan kaget, lega dan shock menjadi satu.

Di sambut dinginnya angin yang berhembus, menggoyangkan dahan-dahan ringkih. Membawa kabar bisu kepada pekatnya malam.

.

.

.

At director's room, 20.34 pm

"Mau berapa orang lagi yang mau kau jadikan korban ha?" suara ringan itu mengintimidasi semua orang di ruangan ini.

Pria berwajah tirus dengan surai pirang kecoklatan yang agak panjang, dengan santainya meletakkan kakinya keatas meja yang ada di depannya, menempatkan kedua siku tangannya ke lengan sofa. Wajah pucatnya―yang tak tertutup topeng―dingin menatap angkuh pada Siwon yang duduk pada sofa single di sebrang meja. Berhadapan dengannya.

Mata berwarna hitam kelam itu bertabrakan dengan sepasang mata berwarna biru jernih, sejernih batu aquamarine.

"Tidak ada yang mengundangmu kemari" kata Leeteuk, mengubah posisi duduknya. Ia sangat tidak nyaman dengan keberadaan tamu tak di undang itu.

Membuat suasana ringan di ruangan ini menjadi agak suram dan dingin.

Itulah Drow, sanggup melayukan bunga tanpa mencabutnya dari tanah.

"Dan apa pedulimu?" Sandara menatap jengah pada pria kurus itu. Sementara sang pria itu sendiri tak terusik dengan kata-kata Leeteuk dan Sandara yang terkesan menyudutkannya.

"Apa yang kau kerjakan disini? Kau tidak akan datang tanpa alasan 'kan?" tanya Siwon, akhirnya setelah cukup lama diam. Tidak ada ekspresi khusus, suaranya juga masih santai.

"Kau tahu untuk apa aku datang kesini" jawab pria bertopeng itu.

"Tadi...hanya kebetulan―"

"Setelah kematian murid dan guru di sekolah ini kau masih bisa berkata kebetulan? Apa kau sedang mengorbankan mereka untuk memancing Dae keluar?" nada suara yang memuakkan. Siwon menghela nafas samar.

Dae―sebutan untuk The Shadow bagi para Elf.
"Siapa yang mengorbankan siapa?"

"Kau tahu buku itu ada disini, dan kau tidak melakukan apapun. Apa kau mau menunggu sampai anak kesayangan mu itu jadi makanan Dae?"

Leeteuk yang hanya diam menyimak, beralih menatap sang kakak―Siwom. Pria tampan itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Kau tahu siapa Dae?" tanya Sandara, menyipitkan mata memperhatikan pria berwajah tirus yang duduk disofa sebelah kirinya―disebuah sofa single.

Tak ada jawaban, bahkan melirikpun tidak.

"Mudah untukmu menebak semua ini, tapi kau lelet. Aku tidak ikut campur, ingat itu. Aku hanya ingin bilang kalau buku itu aku yang akan menemukannya" ujarnya tajam.

"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku Chulie" Sandara mulai kesal. Heechul―pria dengan topeng yang menutupi sisi kanan wajahnya itu melirik tajam, tak menggubris Sandara.

Ia menurunkan kakinya dari meja, memegangi pinggiran meja dan dengan satu ketukan kecil pada jari telunjuknya tiba-tiba membuat meja yang terbuat dari jati itu terangkat cepat dan...

BRAK!

Sandara dan Leeteuk yang spontan berdiri sudah bersiap akan serangan, namun hanya meja itulah yang terbelah dan hancur. Heechul menyunggingkan seringai aneh, berdiri menatap Siwon yang masih duduk dengan goresan tipis di pipinya, mulai mengeluarkan sedikit darah.

Apa yang di pikirkannya? Bisa saja ia menghindari meja itu, tapi kenapa dia diam saja?

Dengan tanpa beban Heechul melenggang kearah pintu, yang terbuka dengan sendirinya dan keluar. Leeteuk yang memperhatikannya melihat sosok tinggi Sehun yang berjalan di belakang sang Pemimpin.

Jadi sejak tadi pemuda tinggi itu ada didepan ruangan ini?

"Ada yang datang" Sandara menggumam. Leeteuk mengangguk, mengiyakan.

Seperti sihir saat kedua sosok itu menghilang tepat kehadiran seseorang di depan pintu.

"Tuan Cho..." Zhoumi yang baru saja masuk tak menyelesaikan kalimatnya.

Ia tampak kaget melihat meja yang tak lagi berbentuk, sementara Siwon yang duduk diam tanpa ekspresi menatap pada puing meja yang berserakan dilantai.

Diantara sepinya ruangan, pria tampan itu hanya diam membisu―sendiri di ruangannya, Zhoumi dapat merasakan jika ada hal besar yang sedang terjadi.
Apa ia harus menunda memberitahu tentang kondisi ketiga muridnya di Ruang Kesehatan? Dan juga Chen yang sudah ditemukan?

.

.

.

POV

Aku tidak tahu tempat apa ini, sejak kapan aku ada disini dan kenapa. Saat terang tiba-tiba aku sudah ada di tengah-tengah taman, menginjak rerumputan basah yang terasa geli di kakiku, sepertinya baru saja turun hujan.

Aku melihat ke sekeliling taman yang luas dan asri ini, tidak ada siapa-siapa. Aku bingung, ku lihat ada beberapa tanaman yang banyak tumbuh di Dunia Tengah, ada juga Dryad yang mendiami pohon sakura dan pohon-pohon lain yang ada disini, kupu-kupu dan beberapa jenis binatang lainnya.

Aku yakin tidak sedang berada di Dunia Tengah, tapi ini dimana? Kenapa tiba-tiba aku ada disini?

Aku ingin berjalan, tapi kakiku tidak bisa di gerakkan, apa yang terjadi? Atau jangan-jangan aku sudah mati? Tidak-tidak, aku belum mati.

Kakiku tetap tidak mau bergerak, aku sampai tidak tahu harus melakukan apa. Angin bertiup, menghantar hawa sejuk ke tubuhku. Ku dengar suara gemrisik rerumputan, ku angkat wajahku cepat, melihat ke sekitar taman luas ini.

"Ada orang?!" teriak ku. Angin kembali berhembus, kali ini lebih kencang.

"Disini"

Suara berat itu membuatku menoleh cepat seperti anak kunci.

Tubuhku mendadak kaku melihat Tuan Kris berdiri di sebelahku, dia menoleh dan tersenyum tipis padaku. Dadaku bergemuruh, ku harap suara detak jantungku tidak di dengarnya.

Sampai sekarang aku belum menemukan jawaban atas kegelisahanku yang selalu muncul saat berdekatan dengannya, dan ku harap itu bukanlah sesuatu yang buruk.

"Sendiri itu tidak menyenangkan bukan?" tanyanya, aku menoleh dan mengangguk pelan.

"Mengerikan" jawabku singkat. Debaran jantungku tak kunjung berhenti.

"Itulah yang kurasakan dulu sampai sekarang"

"Dulu?" aku bingung. Apa maksudnya?

"Bisa kamu bayangkan, sepanjang hidupmu kamu habiskan seorang diri?" dia menoleh menatapku,aku menggeleng. "Saat aku bertemu seseorang yang baik, tapi semuanya mendadak lenyap"

"Orang yang Tuan sukai?"

Dia menggangguk, kembali menatap ke depan. Dadaku mendadak nyeri, sakit, ada orang yang di sukainya? Siapa?

"Tapi itu dulu"

"Sekarang?"

"Aku kembali bertemu dengannya, tapi kurasa dia tidak mengenaliku lagi"

Sakit. Rasanya sakit.

"Apa yang terjadi Tuan?"

Dia tidak menjawab, malah menoleh padaku dan tersenyum.

"Apa dadamu terasa sakit?" tanyanya. Eh? Kenapa bisa tahu?

Aku mengangguk ragu. "Sedikit"

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu"

Aku menunduk, bingung. Aku tersentak saat tiba-tiba tangan besarnya berada di dadaku, aku menatapnya, wajahku hangat, dia tersenyum lembut.

"Detaknya cepat sekali. Kamu baik-baik saja?"

Aku mengangguk cepat. Dia mengangkat tangan kananku dan di letakannya di dadanya. Wajahku mendadak panas, aku tidak bisa berpikir.

Tapi...kurasakan jantungnya juga berdetak cepat. Kenapa?

"Sama bukan?"

Aku mengangguk kaku.

Aku tidak bisa menghindar saat dia mendekatkan wajahnya padaku, aku spontan menutup mata. Rasanya jantungku mau meledak!

Tapi hembusan angin kencang membuatku membuka mata kembali, ku lihat langit berubah gelap, kenapa mendadak sekali?

"Bahkan mereka pun tidak suka aku mendekatimu" ujarnya, wajahnya terlihat sedih. Apa maksudnya?

'Tu―'

"Kamu bisa lihat kolam itu?" ia menunjuk kedepan.

Aku mengangguk, melihat kolam kecil yang di huni oleh dua ekor ikan koi dengan dua warna berbeda, satu berwarna hitam dan satu berwarna putih. Eh, koi berwarna hitam?

Dua ekor koi itu berenang membentuk lingkaran.

"Mereka sama, sejenis, tapi mereka tidak akan bisa bersatu" ujarnya, aku menoleh.

"Kenapa?"

"Karena mereka berbeda, lihatlah, mana ada koi berwarna hitam gelap seperti itu, bahkan bola matanya juga hitam"

Benar juga.

"Mereka ada untuk saling mengisi, menemani. Kalau mereka bersatu, akan merusak gen yang ada. Hasilnya jadi tidak seimbang"

Aku terdiam. Entah kenapa penjelasannya membuatku menyadari sesuatu.

"Seperti langit dan bumi, seperti Yin dan Yang"

"Tapi..."

Aku urung berkata karena mendengar nyanyian itu. Ku lihat ke sekitar, tidak ada siapapun, Tuan Kris juga tiba-tiba menghilang.

Kemana dia?

Nyanyian itu semakin keras, suara laki-laki, terdengar sangat sedih.

Untuk siapa kau bernyanyi? Ku mohon berhenti, nyanyianmu membuat dada ku sakit, aku jadi ingin menangis. Kumohon...

To be continue

Bentar lagi end kok ini, jadi sabar ya, hehe :3

Note:
Galad(gah-lahd) = light
Dae(die) = shadow
Dryad = peri pohon
(sebenernya aku bingung soal ikannya itu, jadi aku pake koi, maaf klo rada aneh *bow* )

Skylar.K