Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Xi Luhan, and EXO Members and other with OC

Genre: Drama Life, Romance Fantasy, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

.

.

.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...


At room, friday 22.27 pm

Udara dingin yang menusuk, berputar ke penjuru kamar yang cukup besar. Heningnya malam, menghantar sang penghuninya ke alam bawah sadarnya, bersama makhluk malam yang senantiasa bernyanyi. Nyanyian abadi dari malam ke malam, saat serigala melolong dan para Hyena berburu.

Sayap-sayap hitam gagak menghiasi langit malam, membelah udara yang dingin, membawa pesan kecil yang mungkin berarti untuknya.

Seekor burung gagak yang berukuran lebih besar dari gagak lain di luar sana, meliukkan tubuhnya dengan lincah melewati celah jendela yang terbuka dan dengan kedua kaki rampingnya mendarat di pundak seseorang di dalam sana.

Seseorang yang memakai baju serba hitam, sehitam langit malam, menopang pipi tirusnya dengan satu tangannya yang bertumpu pada lengan sofa single, kedua matanya terpejam, meski begitu wajah pucatnya yang dingin seolah menjadi kesatuan di antara heningnya malam.

Sang gagak mengepakkan sayapnya, sepasang mata yang tertutup itu terbuka perlahan. Pupil matanya yang berwarna emas kecokelatan berkilau seiring sinar bulan diluar sana yang masuk tanpa permisi melewati celah jendela kamar.

Angin berbisik, menyapa kulit pucat sang empunya, memainkan helai rambut pirangnya dan membuat sang pemilik tersadar sepenuhnya.

Ia mengangkat kepalanya, gagak yang berada di pundak kirinya itu turun ke lengannya dan kini berdiri di baku tangannya―berhadapan.

Sang pria menatap dalam diam, gagak tersebut mengepakkan sayapnya kemudian kembali berdiri tenang. Angin bersambut, seolah bicara.

"...dia akan bangun" suaranya yang dalam terasa kelam.
Ia menggunakan tangan kirinya mengusap kepala gagak, membuat burung berbulu hitam itu menunduk menikmati belaian kecil di kepalanya.

"...sudah semakin dekat, aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan semuanya"

Sang gagak mengepakkan sayapnya, kakinya yang kecil menghentak baku tangan sang pria, dan sosok burung itupun menghilang dalam pekatnya malam.

Hembusan angin malam yang semakin kencang tak mengusik kesendirian pria itu dengan segala pikirannya. Perlahan, ia meraba pipi kanannya, mengelus pelan, seperti sedang merasakan sesuatu yang spesial. Matanya menerawang menatap lemari kaca besar di depannya. Angannya kembali terlempar ke masa lalu yang silam. Kembali mengingat usapan lembut di pipinya.

Dulu.

.

.

.

At school medical room, saturday 07.08 am


1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin...


"Kumohon...berhenti..."

Pemuda manis bermata ala Panda itu merintih dalam tidurnya. Lelehan air mata membasahi pelipisnya dan mengalir turun ke permukaan bantal.

Ia bergerak gelisah, meracau. Ia harus segera bangun, mungkin jika tidak, ia dapat terjebak dalam mimpinya sendiri.

"Berhenti!" pintanya berteriak dengan hentakan cepat tubuhnya yang kini bangkit duduk dengan mata basah.
Matanya terbelalak nyalang menatap dingin, udara seolah tertahan di dalam paru-parunya. Untuk beberapa detik selanjutnya, sepasang pupil Onyx cemerlang itu menyempit, kembali pada fokus.

Tao mengerjap beberapa kali, menghela nafas yang tertahan, dan mengusap wajahnya. Pemuda manis itu tertegun saat merasakan basah di pipi dan di sudut matanya, iapun mengusapnya lalu menatap telapak tangannya yang kini basah.

Air mata.

Tao terdiam. Sudah berapa lama ia terbangun dengan air mata? Rasanya ia tidak ingat lagi, sejak kapan dan sudah berapa hari berlangsung seperti ini. Ia menghela nafas kecil melewati mulut, tatapan matanya menerawang. Sepertinya ia teringat sesuatu.

"...melewati sungai perak, apakah aku bisa bertemu denganmu?..." ia menggumam, lalu menghela nafas lagi.

Lagu yang ada di dalam mimpinya, membuatnya berada di ujung kebingungan. Rasa penasaran itu kian tumbuh tak terbendung. Jelas sekali, Tao masih dapat mengingat mimpinya dengan jelas.

Mimpi yang berbeda setelah sekian lama, namun dengan nyanyian yang sama.

Tao menunduk, memperhatikan dadanya, dan dengan ragu meletakkan telapak tangan kanannya ke dada. Tidak ada yang aneh, detaknya normal, tapi entah kenapa terasa hangat.

"Apa maksud mimpi itu...apa hubungannya Tuan Kris dan nyanyian itu?" gumamnya frustasi.

Semua itu semakin membuat kepalanya penuh. Rasanya kabut yang perlahan telah memudar seiring dengan terdeteksinya keberadaan buku yang di carinya, kini kembali merapat, dengan hal lain yang membuatnya semakin tidak bisa berpikir jernih.

"Kau sudah bangun Tao!" suara lega bercampur senang itu mengalihkan perhatian sang empunya.

Pemuda bermata Panda itu mengerjap beberapa kali saat seseorang menubruknya―memeluknya erat. Ia tertegun, meski begitu balas memeluk pemuda bersurai hitam dan bermata bulat yang kini terisak kecil di pundaknya.

Tao menepuk pelan punggung Kyungsoo, dan tak lama pemuda bertubuh tanggung itupun melepas pelukannya dan menyeka air matanya.

"Ku pikir kau tidak akan bangun Panda" kata Kyungsoo dengan suara sengau. Tao sadar, jika saat ini dirinya berada di Ruang Kesehatan sekolah.

Pemuda itu mendesis pelan, merutuki keterlambatannya menyadari situasi.

"Aku ingat...jadi aku ada di Ruang Kesehatan?" tanyanya, memperhatikan sekeliling. Kain putih yang tergerai di sisi kanan-kiri ranjangnya, memberi batas antar ranjang yang lain, membuatnya tidak dapat melihat keseluruhan ruangan.

"Kau pingsan di lorong dan Tuan Kris yang membawamu kesini" kata Kyungsoo, membantu Tao untuk mengingat kejadian sebelum ini.

"Beliau bilang kalian menemukan Chanyeol-hyung. Kita semua kaget Yeol-hyung di temukan dengan keadaan seperti itu" ujarnya murung. Tao mengangkat kepalanya, mendengar penjelasan Kyungsoo membuatnya teringat akan sosok seniornya malam itu.

"Hyung" desisnya. Menyibakkan selimutnya dan turun.
Kyungsoo mengikut di belakang saat Tao berjalan dengan tergesa, membuka kain putih yang menjadi pembatas. Tepat di ranjang di sisi kanannya, matanya terpaku pada sosok pucat Chanyeol yang terbujur diam diatas ranjang.

Ia melangkahkan kakinya perlahan, mendekati ranjang besi. Menatap nanar sosok senior yang paling suka menjahilinya itu, yang kini menutup matanya rapat.

"Apa yang terjadi?" tanya Tao dengan suara bergetar, agak berbisik. Kyungsoo beranjak berdiri di sampingnya.

"Kata Kai, The Shadow mengambil kekuatan telekenesisnya. Karena kekuatan Yeol-hyung itu murni bakat, jadi sebagian jiwanya juga terambil" jawab Kyungsoo, kesedihan yang dalam juga terpancar di matanya.

Wajah tampan itu pucat pasi, rapuh seperti kertas dan mulai terdapat lingkaran hitam disekitar matanya.

Itu adalah berita buruk. Jiwa Chanyeol terancam. Saat ini pemuda itu berada di ujung tebing, terperangkap dalam alam bawah sadarnya. Kalaupun ia dapat sadar, ia tidaklah lebih hanya sebatas raga yang hidup, tanpa jiwa.

"Tuan Jongdae juga sudah di temukan, mau lihat?" tawar pemuda manis itu, menatap wajah gamang Tao.

Pemuda Panda itu menoleh, wajahnya tertekuk bingung.
"Tuan Jongdae?" ulangnya pelan. Kyungsoo mengangguk.

"Beliau menghilang secara bersamaan dengan Yeol-hyung waktu itu, ada Baekie-hyung juga disini"

Mata Tao melebarーmenoleh cepat menatap Kyungsoo. Pemuda itu memberi isyarat agar mengikutinya, ia menuju ranjang di sisi kanannya dan menunjukkan pada Tao sosok mungil Baekhyun yang terbaring diatas ranjang tersebut.

"Dia menatap mata The Shadow, itu yang di katakan Kai" kata Kyungsoo menjelaskan.

Tao tertegun memperhatikan wajah cantik Baekhyun yang tidak sepucat Chanyeol. Namun tetap saja membuatnya takut.

"Lalu Tuan Jongdae bagaimana?" Tao menoleh kesisi kanannya menatap Kyungsoo.

"Sama seperti Baekie-hyung, hanya shock, tapi belum juga bangun, sudah sehari"

Tao kembali berkutat dengan pikiran di kepalanya. Ia mengerti kenapa tadi Kyungsoo sampai menangis saat dirinya terbangun.

Ah, memikirkan itu membuatnya kembali teringat akan mimpi yang menghampirnya.

"Kemana yang lain?" tanyanya, menatap sekitar. Tidak ada siapa-siapa disana.

"Tadi ada Luhan-hyung dan Kai disini, tapi karena ada rapat khusus mereka memintaku untuk menjaga"

"Rapat apa?"

Kyungsoo mengangkat bahu kecil. "Sepertinya berhubungan dengan semua kekacauan ini, buktinya cuma Elf saja yang datang rapat"

Apa Tuan Kouki dan yang lainnya sudah memutuskan?

"...Kyungie"

"Apa?"

"Ada yang ingin ku pastikan"

"Apa itu?"

Tao menoleh. "Apa kau pernah berdebar saat berdekatan dengan seseorang?" tanyanya.

"Maksud mu?" Kyungsoo mengerutkan keningnya.

"Maksud ku...kau jadi gugup, lalu wajahmu mendadak hangat, jantung berdetak cepat, yang seperti itu. Pernah?"

Kyungsoo menyipit menatap Tao. "Kamu sedang jatuh cinta Panda?" tanyanya balik.

"Ha? Apa?" mata Tao melebar. Kaget atas tuduhan atau tebakan? yang keluar dari mulut sahabatnya.

"Jatuh cinta, itu yang kau alami. Masa begitu saja kau tidak tahu?"

Tao menggeleng polos. Kyungsoo menghela nafas.

"Jatuh cinta, kau suka pada seseorang" imbuhnya.

"Aku..suka?" Tao menunjuk wajahnya sendiri, Kyungsoo mengangguk.

Yah, pemuda itu tak habis pikir untuk hal ini, ia tidak mengira jika sahabat Elfnya itu amat-sangat polos.

"Memang kau merasakan itu saat berdekatan dengan siapa?" tanya Kyungsoo penasaran.

"...Tuan Kris" jawabnya polos.

"MWOYA?!" Kyungsoo membelalakan matanya sempurna. Tao mengangguk kecil.

"Kenapa reak―"

"Tuan Kris itu laki-laki Panda!"

"A..aku juga tidak tahu! Mungkin itu bukan seperti yang kau katakan!"

"Tapi―"

Cklek

Kyungsoo harus menelan kembali kata-katanya karena pintu Ruang Kesehatan yang dibuka. Kedua pemuda itu menoleh kompak kearah pintu dan melihat sosok tanggung Joonmyun masuk. Pemuda bersurai coklat gelap itu tersenyum senang melihat si manis Tao.

"Syukurlah kau sudah bangun" ucapnya, seraya menutup pintu kembali dan beranjak mendekat.

"Kata Kyungsoo kalian sedang ada rapat sunbae?" tanya Tao.

"Memang, tapi Tuan Siwon menyuruhku untuk kemari, berjaga-jaga"

"Rapat tentang apa?"

Joonmyun menarik nafas, mengalihkan tatapannya pada sosok Baekhyun yang terbaring di ranjang sebelah kirinya.

"Kyungsoo pasti sudah menceritakan apa yang terjadi pada mereka 'kan?" Tao mengangguk.

"Tuan Siwon, Nona Sandara dan Tuan Leeteuk memutuskan untuk segera mengakhiri ini"

"Maksutnya?"

"Kita akan melakukan sesuatu agar The Shadow tidak semakin menjadi"

"Dengan cara?"

"Itu yang sedang di rapatkan, dan lagi kita semua juga harus mengungkap sosok The Shadow di sekolah ini"

"Eh?" Tao terkejut. "The Shadow ada di sekolah ini?"
Joonmyun mengangguk singkat.

"Dari semua kejadian ini mengarah pada satu hal yang ada didalam sekolah. Tapi sayangnya Tuan Jongdae yang menjadi saksi juga dalam kondisi tidak stabil"

"Tuan Jongdae saksi?"

"Ya, tapi kita masih mengira-ngira, karena di tempat di temukannya beliau, ditemukan barang milik Chanyeol. Kemungkinannya, Tuan Jongdae melihat sesuatu sedang terjadi dengan Chanyeol saat itu"

"Lalu bagaimana?"

"Tuan Siwon bilang, kita harus menyisir dari hal-hal janggal di sekolah ini"

"Contohnya?"

"Apapun, hal-hal aneh yang kau lihat pada seseorang mungkin?"

Tao terdiam. Ia ingat, beberapa kali ia merasa ada yang janggal saat ia bersama dengan...

"Boleh aku bercerita?" Kyungsoo akhirnya bersuara. Joonmyun dan Tao menoleh.

"Tentu saja, ada apa?"

"Sebenarnya jauh sebelum kekacauan ini, aku dan Baekie-hyung menemukan buku aneh di dalam peti barangnya"

"Buku?" Joonmyun mengulang.

"Apa judulnya?"

"Aku tidak ingat, tapi waktu Baekie-hyung membukanya, tiba-tiba ada angin kencang"

"...sepertinya kau harus mengatakan itu pada Tuan Siwon dan yang lain" kata Joonmyun.

"Kalau begitu aku mau ke Ruang Rapat sebelum aku lupa" kata Kyungsoo, beranjak kearah pintu.

Tao dan Joonmyun memperhatikan pemuda itu sampai akhirnya menghilang di balik pintu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pemuda tampan itu, meniliti tubuh tinggi sang junior.

"Lumayan sunbae. Aku mengkhawatirkan mereka"

"Baekhyun dan Tuan Jongdae mungkin akan sadar dalam waktu dekat"

"Semoga saja"

"Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Kenapa kau bisa pingsan?"

Tao menggeleng pelan. "Entahlah, aku mendengar suara lalu tiba-tiba aku menjadi ngantuk"

Joonmyun mengerutkan keningnya. "Aneh" ia menggumam.

Tapi saat ini ada yang lebih mengusik pikiran Tao dibanding hal itu.

"Sunbae" panggilnya ragu.

"Ya?"

"Aku...aku mau menceritakan sesuatu sunbae" wajahnya tampak kalut.

Sepasang Onyx cemerlang itu menatap pada mata berwarna cokelat gelap milik Joonmyun.


At jungle in front off school, Saturday, 12.09 am

"Kita tidak bisa mencari kekuatan di hutan ini Tuan"
kata Pemuda bersurai hitam kelam yang berdiri di depan sebuah pohon beringin tua yang telah mengering dan tak lagi berwarna cokelat, melainkan telah berubah warna agak kehitaman. Pohon besar yang sangat tua itu tak lagi memiliki 'jiwa'.

"..."

Tuan―yang di ajaknya bicara tak memberi tanggapan. Sehun pun menoleh ke belakang punggungnya, melihat Heechul yang berdiri di depan telaga yang telah mengering.

"Kita tidak mencari kekuatan di tempat ini" ujarnya datar, matanya yang berwarna hitam kelam tak lepas menatap tanah telaga yang kering, seolah tak pernah terjamah oleh air.

"Hutan ini memiliki kekuatan besar, The Shadow tidak bodoh" ujarnya, beranjak menuju ke sebuah pohon mahoni yang berada di dekat telaga.

"Jadi kita kesini untuk mendeteksi keberadaannya?" Sehun memperhatikan gerak-gerik Heechul yang kini menuju pohon yang lain.

"Untuk melihat seberapa besar kekuatan yang sudah di hisapnya" Pria itu mengusap badan pohon beringin―yang lebih kecil―dengan jari telunjuknya.

Sehun memutuskan untuk diam, karena ia tahu jika pria yang menutupi sebagian wajahnya dengan topeng itu pasti memiliki tujuan dan rencana atas kehadiran mereka di hutan ini.

Sebenarnya cukup mudah bagi mereka mendeteksi atau mengenali The Shadow karena kekuatan magis hitamnya memiliki kesamaan dengan para Drow. Tapi tetap saja The Shadow adalah mimpi buruk bagi siapa saja yang berurusan dengannya.

"Kita sudah memasuki rumah mereka" Heechul berbalik, menatap dingin pada segerombol Hyena, yang entah sejak kapan mengepung mereka.

Sehun ikut melihat kesekitar, Hyena-hyena itu bergerak maju dengan mulut terbuka dan air liur yang menetes.

To be continue

Oke, gw mau ngaku klo ff ini emang bikin bingung, tapi suer, gw ga berniat bikin kalian bingung xD

Tapi emang bener nih ff bikin yang baca ga punya celah buat nebak? Emang iya? Masa' sih? Beneran? *di tabok sampai galaxy*

And yes, Sehun n Heechul sebenarnya tahu siapa The Shadow, itu karena mereka di aliran(?) yang sama, sama2 menguasai sihir hitam, tapi karena Sehun n Heechul ga ada urusan sama The Shadow, jadi mereka adem ayem aja(ngapain juga beritau elf yang lain, wong ga ada urusan ma mereka. Gitu). Dan sebenarnya in cerita ini sama sekali ga terletak sama apa yang mereka cari(read: buku), tapi lebih kepada hubungan 2 orang(you know who) yang mereka tidak ketahui.

Jadi apa yang akan terjadi pada Tao dkk itu adalah 'jalan' untuk The Shadow meraih tujuannya.

Dan tebakan yuikitamura91 bener, sebenarnya alasan buku itu cuma alibi buat The Shadow, dan soal chapter, klo ga salah(?) ff ini sampai 15 part ^^

Well, sorry udah bikin kalian bingung. Saran gw jangan terlalu di pikirin, hehehe *kabur naik nagaman*

Skylar.K