Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: Wu Yifan, Huang Zitao, Xi Luhan, and EXO Members and other with OC

Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

.

.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...


Sekelompok Hyena-hyena berbulu cokelat bertambah semakin banyak mengepung Heechul dan Sehun yang kini berdiri saling memunggungi.

Sinar mentari mendadak redup, gumpalan awan abu-abu berarak melingkupi langit luas, membuat udara menjadi dingin, menyapa pohon-pohon dan tanaman tak berjiwa. Menimbulkan derit lirih laksana rintihan tak terucap, memberi perintah pada sekelompok Hyena kelaparan yang tak sabar untuk mengoyak tubuh musuh―tamu yang tak di undang dirumah mereka ini.

"Kami datang tidak mengganggu kalian" Heechul berkata tenang, terkesan angkuh.

Hyena-hyena masih mengeram kelaparan, semakin bergerak maju.

"Sebaiknya kalian pergi sebelum tubuh kalian terbagi dua"

Bagai angin lewat. Hyena-hyena itu tidak akan mengerti apa yang di katakannya.

"Percuma Tuan, mereka tidak akan mengerti" kata Sehun, tak lepas memperhatikan Hyena-hyena itu.

Heechul masih dengan wajah dingin tanpa ekspresinya, seperti tak merencanakan apapun saat sekelompok Hyena mendekat. Sementara Sehun yang waspada, mengepalkan tangannya, siap untuk menyerang kapan saja.

"Tidak ada gunanya menghabisi mereka" ucap Heechul.

"Tapi Tuan, mereka―"

"Mereka hanya lapar"

"...lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita sudah tidak punya urusan lagi ditempat ini"

"Saya mengerti"

Sedetik kemudian Hyena-hyena buas itu menyerbu kearah mereka, seiring dengan hembusan angin kencang yang merontokkan daun-daun kering. Sosok semampai Heechul melompat ke sebuah pohon beringin paling besar, berdiri di ujung pohon, sementara Sehun mendarat pada 2 dahan di bawahnya.

Para Hyena berusaha memanjat pohon dengan kuku-kuku tajam mereka, tapi apa daya, kedua Drow itu sudah menghilang di telan angin sebelum mereka mendapat kesempatan untuk menyerang.

Serigala mengaum, angin menghantarkan gemanya ke penjuru hutan, menyampaikan pada penghuni malam yang senantiasa tunduk padanya.


...at class room, 12.15 pm...


Angin berhembus kencang, membuat kaca jendela berderik pelan mengundang perhatian Guru biologi yang berdiri di belakang meja guru―baru membuka buku materi―yang kini memperhatikan kaca jendela yang bergetar samar.

Sepasang obsidian yang berwarna coklat gelap menatap jauh keluar jendela. Sekelebat kawanan gagak bermanuver di depan jendela, terlihat gelisah. Bahkan di cuaca yang mendadak mendungpun, burung-burung itu tak pernah bertingkah hyperactive seperti ini.

Apa ada yang membuat mereka takut?

Pria bersurai pirang gelap itu menatap tajam pada sekawanan gagak diluar sana, dan sedetik kemudian sorot matanya melembut, bersamaan dengan angin lirih yang berhembus keluar membuat gagak-gagak itu berbaris rapi dan mulai terbang menjauh dengan posisi membentuk baricade―mengosongi bagian tengah―yang seolah mengawal sesuatu yang kasat mata di tengah-tengah mereka.

Bel usai sekolah berbunyi nyaring, mengurai hal kecil yang tak disadari oleh para murid.


At meeting room, saturday 12.18 pm


Suasana tegang bercampur hening di ruangan ini membuat suasana hati para Quendi tak nyaman. Xiumin yang duduk di dekat Lay di meja rapat mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya dimeja―tanpa suara―sementara menunggu para pemimpin kelompok mereka yang sepertinya tengah berkutat dengan pikiran masing-masing.

Pembahasan yang sulit untuk sebuah hal besar. Tentu saja tidak mudah memutuskan tindakan apa yang akan di ambil untuk mencegah The Shadow dan sesegera mungkin mendapatkan buku yang mereka cari. Tapi seperti mencari jarum di tumpukkan jerami, sangat sulit meski mereka tahu saat ini buku itu berada di dalam lingkup sekolah namun sampai detik ini mereka juga tak kunjung menemukannya.

Buku seperti itu memang memiliki kekuatan magis yang bisa kapan saja muncul lalu tiba-tiba tak lagi terdeteksi keberadaannya. Karena itu untuk keenam buku yang telah mereka hancurkan dulu, membutuhkan waktu yang lama dan tak urung menelan korban seperti saat ini. Karena hanya bukan para Elf yang memburunya.

Diantara keheningan semu di ruangan ini, sosok Jongin tampaknya menyadari sesuatu hal. Pemuda bersurai hitam itu melirik pada Luhan yang duduk di samping kirinya lalu kembali memperhatikan ketiga pemimpin kelompok yang duduk berhadapan dengan mereka.

"Maaf Tuan" Jongin memberanikan diri untuk bersuara. Sandara dan Leeteuk beralih menatap pemuda berkulit eksotis itu, diikuti Siwon kemudian.

"Ada apa Kai?" tanya Leeteuk―pemimpin ras Moon Elf.

"Saya bingung dengan satu hal Tuan" Jongin dengan mantap balas menatap pria berwajah manis itu.

"Apa yang kau bingungkan?" tanyanya kalem.

"Itu...seandainya benar buku itu berada di sekolah ini dan The Shadow tahu, pasti tidak sulit untuknya menemukan buku tersebut bukan?"

"Tapi tetap saja dia membutuhkan 'bantuan' kita untuk mendapatkannya" kata Siwon.

Yah, karena pada dasarnya buku-buku seperti itu hanya dapat di deteksi oleh kaum Elf karena kekutan magis yang ada di dalam buku hampir sama dengan magis para Elf. Lain halnya jika buku tersebut dibuat dengan dendam atau dengan sihir hitam, maka kekuatan magisnya akan menyerupai para makhluk gelap yang bertentangan dengan para Elf 'putih'.

Namun meski begitu, Elf adalah makhluk yang suci dan mereka dapat merasakan semua kekuatan baik itu putih ataupun hitam.

"Saya mengerti Tuan. Saya pikir, pasti The Shadow sudah mengetahui siapa pemegang buku itu saat ini sejak di temukannya buku salinan Theripley Scroll milik Baekie-hyung yang dibawa Kyungsoo saat itu, dan seharusnya dia melakukan sesuatu untuk mendapatkan buku itu, tapi kenapa dia malah membuat kekacauan ini?" jelas Jongin panjang lebar, bertanya bingung pada Leeteuk yang menatapnya.

"The Shadow itu licik, dia pasti sedang membuat kita semua bingung dan akhirnya kita jadi tidak waspada" jawabnya tenang.

"Tapi apa kata Kai ada benarnya Tuan" sahut Lay, ia menyadari apa yang di jelaskan Jongin tadi.

"Apa?" Sandara angkat bicara. Pemuda pemilik lesung pipi itupun menatap sang pemimpin ras High Elf.

"Seharusnya Dae menyerang Baekhyun untuk mendapatkan buku tersebut, tapi kenapa Chanyeol yang dia serang? Menurud saya, Dae memiliki tujuan lain membuat semua kekacauan ini. Terlebih Dae itu tidak suka berbasa-basi dengan apa yang di tujunya" ujar Lay tak kalah panjang.

"Itu maksud saya Tuan. Saya yakin, buku tersebut bukanlah tujuan utamanya saat ini. Ada yang dia cari selain buku itu" Jongin mengiyakan teori Lay.

"...jadi maksud kalian berdua, Dae memiliki tujuan lain?" tanya Siwon yang sejak tadi diam mengamati penjelasan kedua muridnya.

"Benar Tuan" ucap Lay dan Jongin kompak.

"Masuk akal, coba kita ingat" Sandara mengubah posisi duduknya. Leeteuk dan Siwon menoleh padanya.

"The Shadow sudah sangat kuat melawan kita, apalagi dia sudah menghisap jiwa Nancy dan Tuan Bryan dulu, hal itu sudah pasti lebih dari cukup untuknya. Tapi kenapa dia sampai memangsa Park Chanyeol? Kita tahu kekuatan bakat yang ada sejak lahir itu sangat besar, apalagi dia tidak melakukan apapun untuk menyerang kita, itu artinya..."

"Dae sedang mengumpulkan kekuatan besar" sambung Leeteuk.

"Tepat. Yang terpenting, sekuat apapun Dae, kalau dia tidak menggunakan kekuatan yang di hisapnya, dan malah menyimpannya, berarti dia―"

"Berniat menghancurkan dirinya sendiri" potong Leeteuk.

"Dae tidak bisa hancur, dia akan lenyap karena kekuatannya sendiri" kata Siwon menerawang menatap meja, memikirkan semua ini.

"Dan pertanyaannya, untuk apa dia melakukan itu dan demi apa? Kalau memang bukan buku Nostradamus yang dia tuju, lalu apa yang di tujunya?" Sandara menambahkan.

Luhan, Xiumin, Lay dan Jongin yang diam menyimak ikut memikirkan semua ini. Kira-kira apa yang dicari The Shadow?

Siwon meremas tangannya yang terkepal di depan wajahnya―menekuk sikunya dimeja―dan tatapan matanya masih menerawang menatap meja. Pikirannya kini terbagi 2, antara tujuan sebenarnya The Shadow dan satu hal yang kembali di ingatnya, setelah sekian lama hal penting itu terlupakan dan tak pernah ia duga jikalau memang apa yang terjadi di masa lalu berkaitan dengan apa yang dilakukan The Shadow saat ini.

Tapi ia harus mencari jawaban sesungguhnya dari hal ini dan penjelasan dari Lay, Jongin dan Sandara. Memang tidak mudah.

Ketukan pada pintu ruang rapat, sedikitnya dapat mengurai suasana tegang yang tercipta. Siwon mempersilahkan masuk, dan pintu kayu itupun bergeser terbuka.

Jongin menaikkan satu alisnya melihat Kyungsoo yang masuk ke dalam ruang rapat, kini berdiri di depan meja―tepat di dekat kursinya.

"Ada apa Kyungsoo?" tanya Siwon menatap pemuda bermata bulat nan manis itu.

"Saya kemari ingin memberitahu sesuatu Tuan" ucapnya, meremas-remas tangannya.

"Soal apa?"

"Begini, soal buku yang dicari. Saya ingat jauh sebelum kekacauan ini, saya dan Baekie-sunbae menemukan satu buku yang aneh di dalam peti barangnya"

"Buku apa?"

"Saya tidak ingat judulnya, yang jelas saat Baekie-sunbae membukanya tiba-tiba ada angin kencang"

"Apa yang kau maksud itu buku yang diminta Tao tempo hari?"

"Bukan yang itu"

"Apa buku yang disita Suho dan Kai?"

"Saya tidak tahu, yang saya ingat bagian depan buku itu berwarna cokelat muda dan sudah lapuk"

"Tentang apa isinya?"

"Eh, itu...kalau saya tidak salah ingat di dalam buku ada semacam syair" Kyungsoo tampak sedang mengingat-ingat.

"Empat baris?" Siwon menegakkan tubuhnya, entah kenapa Leeteuk dan Sandara jadi saling berpandangan.

"Kurang lebih" pemuda itu menyahut ragu.

"Lalu di simpan dimana buku itu?" tanya Sandara tak sabar.

"Seingat saya Baekie-sunbae kembali menyimpannya di dalam peti barangnya"

Siwon beralih menatap Jongin. Tatapannya seolah meminta penjelasan dari pemuda berkulit tan itu.

"Tapi saat saya dan Suho-sunbae membongkar petinya kami tidak menemukan buku itu Tuan, sungguh" kata Jongin cepat, sekilas menoleh pada Kyungsoo.

"Sudah kau pastikan?"

"Tentu Tuan, bahkan kami sudah mencari ke seluruh kamar, tapi tidak ada"

"Apa mungkin buku itu 'bersembunyi'?" kening Sandara mengerut bingung. Leeteuk menoleh.

"Maksud mu?"

"Bisa saja buku itu muncul pada orang tertentu yang 'tepat' memilikinya" ia menatap kakak-beradik itu bergantian.

"Ya, itu masuk akal" Siwon menggumam.

"Kalau begitu sebaiknya kau kembali ke Ruang Kesehatan, Luhan ikutlah dengan Kyungsoo" suruh pria tampan itu.

"Baik" Luhan bangkit berdiri.

Kedua pemuda itu beranjak kearah pintu, tapi saat hendak membukanya, Kyungsoo ingat sesuatu.

"Ah Tuan" ia berbalik, Siwon kembali menatapnya.

"Tao sudah sadar" ucapnya.

"Baguslah, tolong untuk saat ini jaga mereka"

"Baik, saya permisi"

Luhan dan Kyungsoo pun keluar dari Ruang Rapat, tepat saat jam sekolah usai karena saat ini lorong ramai akan siswa yang berlalu-lalang. Mereka berjalan berdampingan menuju Ruang Kesehatan, tak tahu jika seorang pria bermata coklat memperhatikan mereka jauh di belakang.


...at the same time, in school medical room..


"...jadi maksud mu, Tuan Kris mendadak bisa telekenesis setelah Chanyeol seperti ini?"

Suara Joonmyun memecah keheningan singkat di Ruang Kesehatan siang hari ini. Tao mengangguk ragu.

"Bukankah itu aneh sunbae? Selama aku dekat dengan Tuan Kris aku tidak pernah melihat telekenesisnya" Tao mengecilkan suaranya.

"Tapi bisa saja 'kan Tuan Kris memang memilikinya?"

"A..."

"Tapi beliau memang aneh" lanjut Joonmyun. "Kau ingat saat pemakaman Nancy?" Tao mengangguk.

"Tuan Kris ada di pemakaman 'kan? Tapi disaat yang bersamaan dia juga ada di gedung asrama"

"Aku juga sebenarnya menaruh curiga pada Tuan Kris"

"Karena apa?"

"Saat kematian Nancy aku melihat ada tanda bekas gigitan di leher, lalu sehari setelahnya aku melihat tanda yang sama di punggung tangannya"

"Bukankah Nancy di hisap jiwanya?"

"Iya, dan Yeol-hyung..."

Mereka bertatapan, dan beranjak cepat ke ranjang Chanyeol, dengan hati-hati Tao membuka kerah seragam pemuda itu dan melihat tanda yang sama di tengkuk lehernya.

"Sudah ku duga" desisnya.

"Kita harus mengatakan ini pada Tuan Siwon" kata Joonmyun.

"Ada lagi"

"Apa?"

"Saat kita mengobrol selalu ada sekawanan gagak"

"Menurudmu Tuan Kris selalu di ikuti gagak-gagak itu?

"Dia pernah memberitahu ku, kalau bisa saja gagak-gagak itu memiliki Tuan dan selalu mengikuti Tuannya"

"Tuan Kris memang aneh, kita juga tidak bisa merasakan auranya 'kan?"

Tao mengangguk pelan. Tak dapat di pungkiri jika perasaan takut dan sedih kini tersemat di dadanya, atas semua keanehan yang mengarah pada Guru biologi itu dan menjadikannya terdakwa tunggal untuk saat ini.

Tidak sampai disitu, keanehan itu juga muncul di dalam mimpinya, ia tidak tahu kenapa dan mengapa. Apa benar ia suka pada pria berambut pirang itu?

"Sebenarnya tadi di dalam mimpiku aku mengobrol dengannya sunbae" ucap Tao. Joonmyun menoleh.

"Mengobrol apa?"

"Tentang kesendirian, dia bicara seolah dia suka padaku" suara Tao semakin pelan.

"Suka?" pemuda tampan itu menaikkan satu alisnya. Tao mengangguk.

"Yang tidak ku mengerti, dia bicara soal perbedaan, langit dan bumi, dan..." Tao terdiam, teringat hal kecil yang terlupakan.

"Dan?" Joonmyum menunggu.

"Yin dan Yang...itu dia! Perkamen yang di pinjamkan Tuan Siwon!" pekiknya tiba-tiba menyadari suatu hal.

"Hey!" Joonmyun memanggil pemuda Panda itu yang kini sudah membuka pintu Ruang Kesehatan.

Tepat dengan kedatangan Kyungsoo dan Luhan, kedua pemuda itu sampai terheran-heran melihat Tao yang beari tergesa, Joonmyun yang hendak menyusul di tahan oleh Luhan.

"Aku ke kamar!" teriak Tao dari jauh.

"Kenapa dia?" Kyungsoo menggumam heran.

Tao tak mempedulikan tatapan aneh yang ditujukan padanya di sepanjang lorong. Ia sudah nyaris menabrak beberapa siswa, tapi untungnya tidak ada yang tersinggung dan memudahkannya menuju kamarnya saat ini. Karena ada yang harus ia pastikan.

Pintu kamar berdebam keras saat ia membukanya, menyerbu ke 'kamarnya' yang ada diatas tanpa menutup pintu kembali. Tao meraih buku tulisnya yang ada di atas meja tempatnya belajar dan membuka halamannya dengan tergesa.

"Yin Yang..." desisnya, jemarinya menyimak deretan tulisan rapi tangannya di halaman kesekian.

Matanya bergerak cepat menelisik tulisan dibuku, dan pada paragraf terakhir jemarinya terhenti, ia terpaku membaca tulisan yang ada.

Sebuah puisi yang ditulis oleh Yang pada Yin, dimana pada bagian kedua elemen berlawanan itu di gambarkan sebagai laki-laki dan wanita.

"...beterbangan di dalam angin...menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...melewati sungai perak...apakah aku bisa bertemu denganmu?"

DEG

Tao merasa jantungnya berhenti berdetak detik ini juga. Sebenarnya ada apa antara dirinya dan Kris?

"..masa lalu seperti asap, hilang dan takkan kembali...menambah kerinduan di hatiku...bagaimanapun dicari...jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah..." Tao menyanyikannya―membaca puisi dibukunya.

Tanpa sebab air matanya menetes. Suaranya dan suara nyanyian di mimpinya, sama. Bagaimana bisa? Lalu apa maksud dari puisi Yang pada Yin dengan dirinya dan Kris? Apa yang sudah terjadi?

"Tao!" suara Joonmyun terdengar panik.

Pemuda tampan itu menyerbu kearah Tao yang terduduk dilantai―menunduk―dan memegangi pundaknya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas, berusaha melihat wajah Tao.

"...Yin...Yang..mereka..." tatapan Tao menerawang.

"Yin Yang?" Joonmyun mengernyit.

"Kami bukan mereka, bukan" Tao menggelengkan kepalanya, air matanya kembali jatuh.

"Hey Ta―"

"Bukan!" teriak Tao parau, menutupi telinganya rapat.

Nyanyian yang kembali terdengar. Semakin rapat ia menutup telinga, semakin keras pula nyanyian itu. Nyanyian yang hanya terdengar olehnya, nyanyian tentang harapan dan do'a, nyanyian yang kembali membawanya ke alam bawah sadarnya. Bagai sebuah film yang kembali diputar.

Memberitahunya hal penting tentang 'yang menciptakan' dan 'yang menghancurkan'...

To be continue

Btw, kisah Yin Yang yang di lambangkan wanita dan laki-laki itu cerita modern, lagunya itu dibuat YANG(laki-laki) untuk YIN(wanita) yang meninggal dunia. YIN YANG sendiri itu perlambangan 2 elemen filosofi China: YIN yang buruk dan YANG yang baik)

Skylar.K