Holaa semuanya~ gw ga bales review karena bentar lagi ff ini bakal tamat, jadi stay tune aja yaw, hehehe :3

Oh iya, buat pertanyaan yuikitamura91 soal fanpage gw 'Otsu Kanzasky', fanpage itu Cuma posting cerita2 ori chara aja, khusus, klo Kristao ya posting disini :3

Makasih buat yang udah like fanpage gw ya, big hug buat semuanya!

.

.

Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: Wu Yifan, Huang Zitao, Xi Luhan, and EXO Members and other with OC

Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

Hatiku tidak pernah menyesal,

Semuanya hanya untukmu

1000 burung kertas,

1000 ketulusan hatiku,

Beterbangan di dalam angin

Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,

Melewati sungai perak,

Apakah aku bisa bertemu denganmu?

Tidak takut berapapun jauhnya,

Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,

Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,

Menambah kerinduan di hatiku


"Tao!"

Joonmyun mengguncang tubuh semampai juniornya yang kini tergolek tanpa daya di lengannya. Tak ada jawaban dari bibir kucing berwarna merah muda itu, kedua matanya terpejam erat, nafasnya naik-turun teratur seperti orang yang sedang terlelap.

Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba pemuda manis itu tertidur?

"Sial" ia mengumpat pelan.

"Ada orang didalam?! Kenapa pintunya terbuka?!" suara berat Zhoumi menyapa dikamar tersebut.

"Mr. Zhoumi!" panggil Joonmyun, nada suaranya terdengar lega.

"Ada apa? Kenapa kau ada disini?" tanya Pria tampan itu yang memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Kini pria bertubuh tinggi itu berdiri di depan tangga mini menuju 'kamar' Tao.

"Tao pingsan lagi Tuan!" kata Joonmyun di atas.

"Eh?! Bagaimana bisa?!"

"Ceritanya panjang! Mungkin Tuan bisa menolong saya?!"

"Katakan saja apa yang bisa ku bantu!"

"Tolong katakan pada Tuan Siwon kalau Tao pingsan lagi! Saya akan membawanya ke Ruang Kesehatan!"

Tanpa menyahut lagi, Zhoumi buru-buru keluar dari kamar tersebut, tergesa menuju Ruang Rapat. Sementara Joonmyun yang berusaha mengangkat tubuh Tao, dan tak sengaja melihat buku tulis yang terbuka, memperlihatkan deretan tulisan rapih yang ia yakini sempat dibaca oleh sang junior.

Ia tak tahu pasti apa yang sudah membuat Elf polos itu tiba-tiba terlelap setelah sempat histeris. Bagaimanapun juga Elf bukanlah makhluk yang dapat dengan mudah terpengaruh meski mereka 'rapuh'.

Entah bagaimana caranya, pemuda tampan itu berhasil membawa turun Tao yang kini di panggulnya. Namun tepat saat ia berbalik sembari menurunkan tubuh Tao dan membopongnya, dirinya di kejutkan oleh kehadiran Kris yang berdiri tepat di dekat tangga.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, mengernyit cemas menatap Tao.

"...tadi, tiba-tiba Tao pingsan" jawab Joonmyun kaku. Mendadak ia merasa tegang.

"Biar aku yang bawa ke Ruang Kesehatan" kata Kris, tanpa persetujuan muridnya mengambil alih tubuh Tao dari pemuda bertubuh tanggung itu.

"Tapi Tuan―"

Kris sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamar asrama, dan mau tak mau dengan perasaan kacau balau, Joonmyun mengikuti Guru biologinya itu menuju Ruang Kesehatan.


...in the same time, at The Director's room...


"Ingatlah, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya"

"...meski anak itu tidak menyadarinya, tapi makhluk itu merasakannya..."

"...dia akan datang, untuk menuntaskan urusannya di Dunia ini"

"Bagaimanapun caranya, sembunyikan anak itu, untuk saat ini ia memang tidak berharga, tapi di kehidupan lanjut, ia akan menjadi sosok yang kuat bagi kelompoknya"

"...kekuatan yang suci dapat memudarkan kegelapan, bahkan makhluk sejenis Dae pun akan tertarik padanya"

"Apapun yang terjadi, jangan biarkan makhluk itu membawanya, jangan hancurkan hidupnya...berjanjilah"

"Aku berjanji" desis Siwon, memejamkan mata menundukkan kepalanya yang kini menempel di kedua tangannya yang mengepal.

Suara-suara leluhurnya kembali terngiang di dalam kepalanya, mengingatkannya kembali pada suatu hal yang penting. Nyaris ia melupakan hal ini, andai saja beberapa jam yang lalu di Ruang Rapat, Jongin tidak mengungkapkan kejanggalan dalam masalah yang sedang mereka hadapi.

Pria bermata abu-abu itu menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke belakang.

"Semoga anak itu sudah mempelajari isi dari perkamen yang ku pinjamkan" gumamnya, tersirat kekhawatiran di binar mata aquamarinenya.

Bukan tanpa alasan saat itu ia menyuruh Tao untuk mempelajari isi perkamen yang di pinjamkannya, ia ingin pemuda itu mempelajari dan mengambil hal penting akan isi dan perihal apa yang berlaku di kehidupan ini. Dan saat ini ia hanya bisa berdo'a supaya murid kesayangannya itu menyadari isi perkamen tersebut dan apa yang akan 'menimpa'nya nanti, meski ia sendiri tidak menginginkan hal itu dan berharap perkiraannya meleset.

Kebisuan Siwoni teralihkan saat pintu ruangannya diketuk. Ia menegakkan duduknya dan mempersilahkan seseorang diluar untuk masuk.

Sosok Zhoumi masuk dengan tergesa, raut wajahnya terlihat panik.

"Ada apa Tuan?" tanya Siwon, heran melihat Kepala Sekolah bertubuh tinggi itu.

"Tadi saat saya mengecek Jade Dormitory, saya menemukan Suho di kamar Tao, anak itu pingsan lagi" ujar Zhoumi cukup tenang. Mata sipit Siwon melebar.

"Bagaimana bisa?" raut wajahnya mengeras.

"Saya juga tidak tahu Tuan. Sebaiknya kita ke Ruang Kesehatan, Suho membawanya kesana"

Siwon bangkit berdiri, wajahnya tampak tegang, binar matanya tergambar jelas kekhawatiran yang besar. Namun saat ia hendak menutup pintu, gerakan tangannya terhenti, pupil matanya melebar ketika ia merasakan hawa berat yang gelap menguar di sekitarnya.

Ia menatap sekitar, seperti sedang mencari sesuatu, dan Zhoumi yang bingung turut memperhatikan kesekitar mereka. Yang ada hanya lorong yang sepi, dengan suara lirih hembusan angin yang berbisik.

"Akan ada sesuatu yang buruk, ada kekuatan gelap disini" ucap Siwon, rahangnya mengeras, mengeratkan giginya.

Ya, ia mengenali hawa berat itu dan ia tahu siapa yang memilikinya.

.

.

.

At school medical room, 12.26 pm


"Luhan-sunbae, aku mau ke toilet sebentar" ucap Kyungsoo, pada Luhan yang tengah melipat kertas―duduk di samping ranjang Chanyeol― menjadikannya sebuah karya seni berbentuk burung bangau.

Tanpa mengangkat wajahnya, pemuda cantik itu mengangguk sekenanya sebagai jawaban, dan tanpa babibu lagi Kyungsoo berjalan tergesa menuju pintu, baru ia mengulurkan tangannya untuk memegang handle pintu, pintu tersebut sudah lebih dulu dibuka dari luar.

Sosok tinggi Kris masuk membopong si manis Tao, membelalakan mata Kyungsoo yang kaget bercampur bingung.

"Apa yang terjadi Tuan?" tanyanya ketakutan. Luhan yang mendengar menoleh ke belakang dan langsung bangkit berdiri melihatnya.

"Tao pingsan di kamarnya" jawab Kris sembari membaringkan tubuh Tao di ranjang yang kosong.

"Bagaimana bisa?! Tadi dia sudah sadar 'kan?!" kecemasan yang amat sangat terpancar di wajah cantik Luhan.

"Aku ke toilet sebentar!" pamit Kyungsoo sudah tidak tahan lagi.

Pemuda bermata bulat itu nyaris bertabrakan dengan Joonmyun yang baru saja datang saat ia membalikkan badan. Namun karena tuntutan alam yang membuatnya harus buru-buru, pemuda kurus itupun mengabaikan sang senior dan begitu pula Joonmyun yang seolah tak melihat Kyungsoo dan segera masuk ke Ruang Kesehatan.

Pemuda manis itu memacu langkahnya menuju toilet laki-laki, untungnya tidak terlalu jauh alhasil ia dapat melaksanakan tuntutan alamnya dengan segera. Helaan nafas lega meluncur dari bibirnya, ia menuju wastafel untuk mencuci tangan, setelah merasa cukup ia memutar kran kembali dan berbalik.

Tapi Kyungsoo mengurungkan niat melangkahkan kakinya saat melihat sebuah buku yang tergeletak di atas wastafel, tepat di sebelahnya.

Ia mengernyit, lalu menatap keseluruh penjuru toilet dan tidak menemukan tanda-tanda ada orang lain disana. Lalu darimana buku itu muncul?

Dengan ragu ia mengambil buku bersampul coklat tersebut, matanya membulat melihat sampul depannya. Buku usang yang mungkin sudah berusia sangat lama yang ia tahu milik Baekhyun. Tapi kenapa ada disini? Bukankah...

Ia pun melangkahkan kakinya, membuka pintu toilet dan menoleh ke kanan-kirinya, memastikan lagi jika ada orang yang dengan iseng meletakkan buku tua itu.

Kyungsoo tak melihat siapapun di lorong, dan ini aneh. Ia memutar kepalanya kembali, menatap lurus dan ia di kagetkan dengan seseorang berbaju hitam yang berdiri di depannya.

Kyungsoo mengangkat wajahnya. Pemuda itu mendadak gugup melihat pria asing yang mengenakkan topeng yang menutupi sebagian wajahnya, menatapnya dingin.

Entah kenapa ia bergerak mundur dan pria itu berjalan maju. Ia meremas erat buku yang dibawanya. Firasatnya mengatakan, akan terjadi sesuatu yang buruk.

"Berikan buku itu" kata suara di belakangnya.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya kaget, dan matanya menyipit menatap Sehun yang kini berhadapan dengannya.

Yah, ia tahu jika pemuda berambut hitam itu bukanlah dari golongan Elf yang baik.

"Tidak akan ku berikan" kata Kyungsoo mantap, meski tampak binar takut di matanya, pemuda itu yakin untuk mempertahankan buku yang dibawanya.

"Pilihan yang kurang bijak" komentar Sehun.

Pemuda tampan itu tiba-tiba mengangkat tangan kanannya di udara, Kyungsoo memekik refleks memegangi lehernya yang mendadak tercekik. Tubuhnya terangkat di udara, dan buku itupun jatuh tepat di bawah kakinya.

Sehun tersenyum tipis, ia memutar tubuhnya dan Kyungsoo yang kini memucat turut bergerak dan kini pemuda itu merapat di dinding toilet dengan memegangi lehernya.

"Buang-buang waktu saja" ucap Heechul. Ia menggerakkan jari telunjuknya, melayangkan buku tua itu di udara.

Buku tersebut melayang semakin dekat, ia meraihnya saat sebuah dorongan kuat melontarkan tubuhnya, namun dengan cepat pria semampai itu melompat di udara dan kembali mendarat di lantai.

BRAK!

Kekuatan magis itu menghancurkan dinding, membuat lubang yang lumayan besar.

Pupil mata Heechul yang hitam kelam mengunci sosok mungil Luhan yang berdiri didepan pintu toilet, dengan guratan hitam menghiasi keningnya, membentuk seperti akar yang menjalar hingga ke rahangnya.

"Tidak akan semudah itu" ucapnya, menatap penuh kebencian pada pemimpin ras Drow.

"U―hhh..." Kyungsoo berusaha memanggil sang senior, tapi ada daya cekikkan di lehernya membuatnya tidak dapat bersuara.

Luhan berkata 'Bertahanlah' tanpa suara.

BLHAAR!

Luhan refleks menyilangkan kedua tangannya di atas kepala dan spontan menundukkan kepala saat serangan itu mendorong tubuhnya ke belakang, membuat lantai yang di pijaknya hancur dengan bentuk memanjang.

Luhan mengatur nafasnya, menurunkan tangannya perlahan, memandang sosok angkuh Heechul. Ia melihat buku Nostradamus kini tepat berada di tengah-tengah mereka.

Luhan mengepalkan tangannya, api berwarna biru kini melingkupinya. Bola matanya bergulir, menggerakkan api biru menjadi bola-bola berukuran sedang yang menghambur cepat kearah Heechul.

Kekuatan Luhan beradu dengan pedang besar Heechul yang terbentuk dari magis hitamnya, menimbulkan suara berdesing di udara. Tak sedikit pula bola-bola api berwarna biru itu menghantam dinding.

Namun konsentrasi Luhan terpecah saat buku tersebut melayang di udara dan dengan cepat terlembar ke sisi kanannya. Luhan menoleh tegang, tapi sedetik kemudian ia lega karena Joonmyun lah yang mengambil buku itu.

"Buku ini tidak akan jatuh ke tangan―"

BRUAGH!

Tubuh tanggung itu terhempas maju dan menabrak pilar penyangga.

"SUHO!" konsentrasi Luhan lenyap, api yang melingkupinya hilang.

Heechul menatap tajam pada segumpal asap hitam yang menari-nari di udara, tepat di atas tubuh Joonmyun yang terkapar di lorong, merintih pelan.

"Kau―" geram Luhan, meremas udara kosong.

Sang asap lah yang telah menghantam temannya.

The Shadow.

Buku tersebut melayang di udara, di lingkupi oleh asap hitam tebal yang berputar searah, menggulung buku ke dalamnya.

"NAR!"

Teriakan penuh amarah itu di ikuti oleh anak panah besar yang terbentuk dari api. Belum sempat Luhan menoleh, anak panah tersebut melesat cepat menuju gumpalan asap.

BLHAAARR!

Dengan cepat, baik Heechul maupun Luhan menciptakan perisai transparan melindungi diri dari ledakan kuat saat anak panah menghantam asap yang berputar-putar di udara. Kekuatannya yang besar sampai menghantam dinding dan membuat susunan bata itu rontok seketika.

Namun asap itu telah lenyap sebelum Siwon―yang menciptakan anak panah itu―sempat kembali menyerangnya.

"DAE!" teriaknya penuh amarah.

"Suho!" panggil Luhan panik.

Pemuda cantik itu menyerbu kearah Joonmyun yang terbaring di lorong, darah keluar dari mulutnya akibat serangan The Shadow yang tak ia duga.

"Cih! Kita pergi Sehun!" ucap Heechul meredam kembali kekuatannya. Sehun menurunkan tangannya dan otomatis membuat Kyungsoo terhempas jatuh ke lantai dan bernafas lega.

"Suho!" Luhan menepuk pelan pipi tirus Joonmyun, pemuda itu membuka matanya, nafasnya naik-turun dengan berat.

Joonmyun berusaha bangkit duduk, memegangi dadanya yang nyeri, menatap pada Siwon yang kini duduk berlutut di dekatnya.

"Tuan...Dae..." nafasnya tersengal. Sungguh, tubuhnya hebat dapat bertahan dari serangan The Shadow.

"Dae...itu...Tuan Kris" ucapnya tersengal.

Mata Luham membulat, menoleh pada Siwon yang terdiam mengepalkan tangannya erat.

"Makhluk terkutuk..." geramnya mendesis.

Sedikit lagi, butiran debu itu kembali tertiup angin. Mempertemukan dua dimensi yang berbeda, dan menghancurkan dirinya dan dia...

.

.

.

In...

Perlahan ku buka mataku, dan ku harap aku tidak berada di tempat yang menyeramkan. Cahaya redup menyapa pupil mataku, udara dingin berhembus membuatku membuka mata sepenuhnya, melihat tanah yang kupijak, aku sedang bersimpuh dengan lutut menempel di tanah.

Aku menoleh ke samping kananaku, terdapat semak belukar dan tumbuhan, ada beberapa pohon besar yang sering ku lihat di Dunia Tengah.

Dimana aku? Kenapa tempat ini sama dengan di Dunia Tengah?

Ku putar kepalaku kedepan, mendongak melihat pohon Oak besar yang berada tepat di depanku. Pohon ini...rasanya aku pernah melihatnya, tapi dimana?

"Bisa pinjam tanganmu? Pipiku gatal" suara berat itu bicara denganku?

Aku cepat menunduk, tersentak melihat Tuan Kris duduk bertelanjang dada di depanku, kedua tangannya terikat ke pohon, keadaannya berantakan. Mata yang tajam itu menatapku lembut.

A-apa yang terjadi?

Tangan kananku bergerak sendiri memegang pipinya. Tunggu! Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku!

"Tanganmu dingin" komentarnya dengan mata terpejam.

Aku ingin bicara tapi mulutku tertutup rapat.

"Bisa pinjam tanganmu yang satu lagi?" pintanya membuka mata kembali.

"Bisa saja setelah ini kita tidak bertemu lagi"

Lagi-lagi tangan kiriku bergerak sendiri, dan aku tidak tahu kenapa!

Tapi tunggu, kata-katanya itu seolah dia tidak mengenalku. Apa-apa'an ini? Kenapa dia bicara seperti itu? Apa ini mimpi masa lalu ku?

Tolong siapa saja katakan padaku!

"Mereka datang" desisnya.

Siapa?

Aku melihat kesekitar. Aku tidak tahu sejak kapan banyak orang disini, mereka bersayap tipis, begitu juga aku, dan aku melihat Luhan-ge dan Jongin berdiri di antara orang-orang ini, menonton kami.

Sebenarnya apa yang...

"Terima kasih sudah mengajakku bicara" kata Tuan Kris, aku kembali menatapnya.

"Kenapa kau tidak kabur saja?"

Apa yang ku katakan? Mulutku bergerak dengan sendirinya, sungguh!

Sungguh, bukan itu yang ingin ku tanyakan!

"Kau bisa pergi Tao" seseorang menyuruhku pergi.

Tubuhku bangkit berdiri dengan sendirinya, padahal aku belum bertanya ini dimana dan kenapa. Tapi tiba-tiba aku tidak bisa menggerakkan kakiku, yang maku seperti batu, dan aku mendengar suara tawa. Siapa?

Aku menoleh, ternyata Tuan Kris yang tertawa. Apa yang dia tertawakan?

"Kau―apa yang kau―"

Tubuhku terdorong kuat dan terhempas ke tanah. Sakit, rasanya badanku remuk!

Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

"Sakit?"

Ku buka mataku. Aku terbelalak melihat Tuan Kris menindihiku. Ku dengar beberapa orang berteriak.

"Tao!" suara itu aku kenal, itu suara Luhan-ge.

Suara desingan tak terelakkan, mereka menyerang Tuan Kris bertubi-tubi. Dan aku tidak bisa bangkit, baru saja terangkat sedikit dari tanah, tubuhku kembali di hempaskan olehnya.

"Apa yang kau la―"

Pertanyaanku terhenti melihat kuku tangannya yang panjang dan tajam tepat berada di atasku. Tangan itu mengayun cepat. Aku menutup mata takut, tapi apa yang ku takutkan tidak kunjung tiba. Dan aku mencium bau anyir darah, siapa yang terluka?

Ku dengar teriakan pilu, suara erangan. Siapa itu? Kenapa mataku tidak bisa dibuka? Apa yang sedang terjadi?

Kemudian aku tidak mendengar apapun. Sunyi, hening, yang kurasakan tiupan angin menyapa wajahku, dan ku buka mataku perlahan, rasa berat yang tadi mengunci mataku tiba-tiba hilang.

Aku mengerjap beberapa kali, memandang langit biru dengan awan putih yang berarak, langit yang cerah tanpa matahari. Aku pun bangkit duduk, memandang sekitar. Kini aku di tempat yang berbeda, yang ku lihat hanya rerumputan, berbagai macam bunga bunga, binatang, dan pohon Oak yang tepat di sebelah kiriku, hanya berjarak sekitar setengah meter dariku.

Tapi ku rasakan tubuhku basah, aku menunduk dan kaget melihat diriku berada di tengah-tengah kolam yang dangkal, ada dua ikan koi berenang secara melingkar di dekatku.

"Apa yang..."

"Syukurlah kau sudah bangun" kata seseorang.

Ku edarkan pandangan kesekitar, menatap waspada, tapi aku tidak melihat siapapun.

"Bagaimana rasanya berada di tengah-tengah kehidupan lampau mu?" tanya suara itu.

Aku termenung. Kehidupan lampau? Berarti...yang tadi itu kehidupanku sebelumnya? Jadi aku sudah mengenal Tuan Kris?

"Kalian di ciptakan kembali dengan takdir yang sama, mengerikan bukan?"

"Siapa itu? Kau ada dimana?" tanyaku, mataku memburu ke seluruh padang rumput ini.

"Aku disini" sahutnya.

Aku mengernyit, suara itu berasal dari dalam kolam. Hanya ada ikan disini, mungkinkah...

"Ya, aku yang bicara" sahut ikan koi berwarna putih yang berenang bersama ikan koi berwarna hitam. Aku membelalak kaget.

"Kau―"

"Apa kau ingat nyanyian itu?",tanyanya. Aku mengangguk samar. Agak ragu menjawabnya.

"Tentu saja"

"Coba nyanyikan" suruhnya.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku menuruti ikan koi itu.

Suaraku menggema ke seluruh padang rumput ini, pepohonan bergoyang dan angin menyambut, seolah mereka semua ikut bernyanyi bersamaku. Dan yang kurasakan adalah sedih, dadaku sesak sampai membuatku menangis.

"Kau merindukannya" koi itu bicara lagi.

"Siapa?"

"Makhluk itu. Kau mencintainya"

"Tidak!" aku menggeleng cepat, ku seka air mata di pipiku.

"Kau mencintainya dan dia mencintaimu. Itu sebabnya kalian berdua lahir kembali dengan sosok yang sama, dengan tujuan agar kalian merasakan apa yang Yin Yang rasakan dulu"

Aku terdiam. Apa maksudnya?

"Ini hukuman, karena dulu kalian telah jatuh cinta satu sama laIn"

"Aku tidak―"

Mulutku mendadak terkunci, mataku terbelalak melihat bayangan-bayang yang berseliweran di pelupuk mataku. Hentikan! Aku ingat! Kumohon hentikan!

Aku tidak kuasa menahan air mataku, aku terisak. Sakit, dadaku sakit dan sesak. Kumohon, jangan hukum aku lebih dari ini. Aku mencintainya...aku ingat...

"Tangismu tidak akan membuka jalan untuk kalian berdua"

"Apa...yang ha..rus...ku lakukan?" tanyaku terisak. Aku tidak bisa menghentikan air mataku.

"Perbedaan tidak harus diubah, terkadang perbedaan juga harus di tentang"

"Apa...mak...sudmu?" ku seka air mata di pipiku.

"Pilihlah jalan hidupmu sendiri. Jangan pernah mengulang apa yang sudah Yin Yang lakukan dulu"

"Tapi bukankah...hal itu sangat besar resikonya?"

"Ingatlah, kalian bukan mereka"

"Tapi..."

"Yin yang hitam dan Yang yang putih. Keduanya tak selalu harus bersanding"

"Mereka di ciptakan untuk saling mengisi..." lirihku.

"Ya, tapi mereka juga menyatu di dalam diri semua makhluk. Jika Yin dan Yang tidak menyatu, maka tidak akan ada Surga dan Neraka yang di dirikan untuk Adam dan Hawa"

"Bukankah hanya akan berakhir menyakitkan?"

"Memang, tapi rasa sakit itu dapat teratasi. Bedakanlah antara ego dan nafsu. Sakit yang kalian hadapi akan ada saatnya menjadi kebahagiaan yang tidak Yin Yang dan Adam Hawa rasakan"

"Apa yang harus ku lakukan?" tanyaku putus asa.

"Tanyakan pada hatimu, pilihlah jalan hidupmu sendiri. Jangan munafik, karena kemunafikan hanya akan membawamu pada penyesalan"

Aku menghirup nafas dalam, dan ku pejamkan mataku. Ku biarkan sisa air mataku mengering tertiup angin.

Aku sadar, kini aku berada dalam posisi Yang dan dia dalam posisi Yin.

Yifan...Yin...nama yang ku teriakkan di dalam tidurku saat itu. Aku mengingatnya.

Apa yang harus ku lakukan?

To be continue

Note:

Nar(nahr) = fire