Dust Grains

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Taoris

Cast: EXO Members and other with OC

Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

.

.

.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...


Brak!

Pintu kayu bercat coklat itu berdebam keras saat sook Leeteuk berdiri di depan pintu, tangan kanannya memancarkan cahaya keperakkan.

Sepasang matanya yang berwarna abu-abu bergerak memburu ke seluruh ruangan yang kosong, tak banyak barang-barang di dalamnya, hanya 2 buah lukisan abstrak yang tergantung di dinding, seperangkat meja kerja dan kursi, lemari rak buku besar, dan terdapat 2 lubang ventilasi di atas lemari.

Udara yang ada terasa agak dingin dan berat, seolah ruang kerja tersebut sudah lama tidak di huni dan di gunakan. Cahaya perak di tangan Leeteuk berangsur-angsur lenyap.

"Dia sudah tidak disini lagi" ucapnya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja tersebut.
Jongin yang berjalan mengikutinya juga tak ketinggalan memperhatikan keseluruh ruangan. Tidak ada yang aneh, dan tidak ada yang mencurigakan.

"Pastinya dia tidak akan tetap disini Tuan" kata pemuda tan tersebut.

Leeteuk menghela nafas, matanya masih berkeliaran ke seluruh ruangan, hingga perhatiannya tertuju pada sebuah peti kayu yang bercat hitam yang tidak terlalu besar, yang bersebelahan dengan lemari buku dan gantungan mantel.

"Peti apa itu?" tanyanya, berjalan mendekat.

"Biar saya yang membuka Tuan" kata Jongin.

Leeteuk berdiri mengambil jarak dari peti tersebut, sementara Jongin memegangi bagian atas peti. Mulutnya bergerak samar, merapal mantra seiring dengan tangan kanannya yang diatas peti mengeluarkan cahaya putih, lalu terdengar bunyi 'Klak' dari peti tersebut.

Dengan sigap Jongin membuka peti, dan Leeteuk bergerak mendekat. Untuk beberapa detik mereka tak bersuara saat melihat isi peti yang penuh akan tumpukan bangau kertas.

"Apa ini?" pria manis itu mengernyit.

Jongin mengambil satu dari sekian banyak bangau kertas itu dan membuka lipatannya. Goresan tangan yang rapih menyapa matanya, sebuah rangkaian kalimat yang di tulis dengan tinta hitam. Kai mengangkat satu alisnya saat membacanya.

"Ini..." ia menggumam ragu. Leeteuk menoleh.

"Kau tahu?"

Jongin tampak tengah mengingat-ngingat, kemudian mengangguk kecil.

"Saya ingat, Tao sering bercerita jika dia selalu mimpi buruk" ujar Jongin.

"Ada hubungannya dengan kertas-kertas ini?"

"Ya, silahkan Tuan baca. Saya rasa mimpi buruk Tao itu di kirim dari bangau-bangau kertas ini" Jongin memberikan kertas yang di bawanya.

Leeteuk pun membaca tulisan tangan di kertas tersebut.

"Tao bilang mimpinya selalu absurd, seperti yang ditulis di kertas itu"

― Gelap, pekat dan kabut ―

"Tao sering bercerita padamu?" Leeteuk beralih menatap Jongin dan memberikan kertas tersebut.

"Setiap hari Tuan"

Pria manis itu menghela nafas kecil. "Kalau begitu terjawab sudah. Dae yang mengirim mimpi-mimpi itu selama ini"

Jongin terdiam, menatap sedih pada setumpuk burung kertas di dalam peti. Ia tidak menyangka jika semua masalah itu kini bermuara pada satu hal, yang tidak ia mengerti.

"Kita kembali ke ruangan Siwon" ujar Leeteuk.

Ya, mereka harus segera melapor akan ruang kerja Kris yang telah di tinggalkan pemiliknya.


...in the jungle...


"Disini juga tidak ada Nona" suara lembut Luhan memecah keheningan di hutan belakang sekolah siang hari ini.

Sandara yang berdiri di dekat pohon mahoni yang berukuran paling besar tak bergeming. Semilir angin memainkan rambut hitam ikalnya, dengan mata menerawang seolah jiwanya tak beradi di dalam raganya, satu tangannya berpegangan pada pohon.

Dahan-dahan bergoyang ribut, menciptakan angin kencang, serangga-serangga berbicara, dan bunga-bunga berbisik. Fokus mata Sandara pun kembali, sosok cantik itu menghela nafas samar.

"Mereka juga tidak tahu" ucapnya lesu.

Luhan menatap berkeliling, pada pepohonan besar yang kokoh, banyak sunbird singga pada dahannya, kicauan kecilnya seolah membawa berita, lalu mereka kembali terbang mencari dahan lain untuk di hinggapi.

"Mereka juga tidak melihat apapun di sekitar hutan" ucapnya, memalingkan wajah menatap pemimpin rasnya.

"Kira-kira kemana Dae pergi?" tanyanya lirih.

"Nona..." ada keraguan di wajah Luhan.

"Apa?"

"Sebenarnya apa yang terjadi antara Dae dan..." Luhan menggantung kalimatnya, namun Sandara cukup mengerti.

Wanita itu menghela nafas kecil, mendongak memandang langit yang berangsur menjadi jingga. "Takdir yang terulang kembali" ucapnya, menatap menerawang.

"Maksud anda?"

Sandara mengalihkan tatapannya pada Luhan. "Kau akan mengerti nanti"

Pemuda cantik itu mengangguk, memutuskan untuk tidak lagi bertanya. Sandara melangkahkan kakinya meninggalkan pohon besar itu dan Luhan mengikuti.

Sepanjang jalan setapak di hutan itu, pepohonan dan bunga-bunga bergoyang menyapa mereka, Dryad-dryad mengiringi langkah mereka, sementara sunbird yang terbang rendah menyanyikan lagu yang merdu, membuat Sandara mengulas senyum melihatnya.

Namun suasana hangat yang menyenangkan itu mendadak lenyap saat mereka memasuki kawasan yang kering, pepohonan yang mati, tanpa kehidupan, seolah seperti semua jiwa telah tersedot habis.

Tampak rona sedih di wajah cantik Sandara, begitu pula Luhan yang menatap miris. Sungguh pemandangan yang menyakitkan.

"Bau busuk" komentar Sandara.

Mereka berdua mempercepat langkah, hari sudah semakin sore dan akan sangat tidak aman berada di dalam hutan yang banyak akan ancaman, baik dari hewan buas, dan makhluk malam lainnya.

Saat burung-burung terbang berkelompok mengarungi langit sore dengan suaranya yang khas, Sandara dan Luhan tiba di halaman belakang asrama Jade Dormitory, melewati taman dan berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu bulat yang mencabang menjadi dua karena tepat di tengah taman terdapat kolam ikan. Namun tiba-tiba langkah Sandara terhenti saat hendak melewati kolam ikan tersebut.

"Kau merasakannya Lulu?" tanya Sandara, tak lepas memandang pada kolam―di atasnya―padahal tidak ada apapun disana. Luhan mengangguk.

"Ya Nona"

Sandara membalikkan tubuhnya menghadap kolam dengan kening berkerut. "Besar sekali energi disini" ia menggumam.

"Tapi kolam ini 'kan pintu keluar-masuk kami Nona"

"Aku tahu, tapi kurasa tidak sekuat ini energinya. Kalau dibuka, bukankah ada pohon Oak disini?"

"Benar"

"...aku harus memberitahu Siwon" Sandara menggumam.

Wanita cantik itu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda, dan Luhan mengikutinya.

Gagak berkoar di antara hembusan angin sore, menjadi musik pengiring penyambut malam yang serasi. Malam yang sebentar lagi akan menyambut hari, malam yang pekat, sepekat sepasang mata hitam kelam yang mengawasi dari atas atap bangunan kastil asrama.


At class room, monday 10.23 am


Helaan nafas meluncur dari mulut Kyungsoo. Pemuda mungil yang biasanya ceria dan selalu bersemangat itu kini sudah 4 hari tampak selalu lesu, bahkan apa yang Gurunya terangkan saat ini di depan kelas tak benar-benar di dengarnya.

Bola matanya sudah beberapa kali melirik kearah bangku yang kosong beberapa hari ini, bangku yang berada barisan paling depan pada deret ke 3 dari pintu kelas. Bangku Tao. Dan 3 bangku di belakang―berdekatan dengan bangkunya―yang juga 4 hari yang biasa di tempati Chanyeol ketika pemuda tampan itu membolos dari kelasnya.

Sungguh hari-hari yang menguras tenaga. Kyungsoo kembali menghela nafas saat lonceng istirahat berbunyi nyaring, dan pelajaranpun di hentikan untuk 30 menit ke depan.

Para siswa berbondong keluar, membawa serta buku pelajaran selanjutnya sekaligus menuju kelas yang lain. Tak ketinggalan si mungil Kyungsoo, dengan tak bersemangat pemuda bermata bulat itu membuka mejanya dan mengambil beberapa buku di dalam laci.

"Kyungie!" suara berat Jongin menyapa di ruang kelas yang hampir kosong.

Kyungsoo menoleh sembari menutup mejanya kembali.

"Ada apa? Kenapa panik begitu?" tanyanya menaikkan satu alisnya.

"Ke Ruang Kesehatan! Tolong gantikan aku sebentar!" ujarnya.

"Ada apa?" ia mulai ikut panik.

"Pemimpin Drow berusaha membuka dimensi waktu yang ada di kolam ikan!"

"Tapi Kai―"

"Sekarang!"

Pemuda berkulit tan itu pun berlari menjauh dari pintu kelas, dan dengan tergesa Kyungsoo meletakkan bukunya kembali ke meja dan berlari keluar kelas.

Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi namun ia harus segera menuju Ruang Kesehatan, apapun maksud dari apa yang di katakan Jongin tadi ia yakin jika hal itu bukanlah hal yang baik.

Beberapa anak menatapnya kebingungan, berlari di sepanjang lorong bukanlah hal yang wajar. Suasana di sekitar pun semakin sepi dan hanya beberapa siswa yang berlalu lalang, memang lorong yang menuju Ruang Kesehatan tidak pernah ramai, selain letaknya yang agak ke belakang, juga banyak ruang yang tak terpakai.

Kyungsoo membuka pintu Ruang Kesehatan dengan tergesa, sosok kecil Xiumin yang berdiri di pinggir ranjang Tao, menoleh kaget. Wajah manis sahabatnya yang terbaring di ranjang tersebut terlihat agak pucat.

"Sebenarnya apa yang terjadi sunbae?" tanya Kyungsoo, mendekat ke ranjang, berdiri di sebelah Xiumin.

"Tuan Heechul berusaha membuka pintu dimensi lain yang ada di kolam ikan" kata Xiumin cemas.

"Pintu dimensi?" Kyungsoo mengernyit.

"Disana pintu untuk kami keluar-masuk, tapi semalam Nona Sandara bilang kalau ada energi lain disana, ada dimensi lain yang saling berhubungan"

"Lalu kenapa Drow itu membuka paksa?"

"Dia mencari Dae"

"Dia pikir Dae ada di dalam sana?"

Xiumin mengangguk. "Tujuannya selama ini adalah Tao, dan kami rasa dia berhasil membawa Tao ke alam bawah sadar, kami yakin kalau Dae juga ada disana"

"Itu artinya...kalau memang energi dari dimensi yang berbeda itu ada, berarti saat ini Tao ada di dalam sana?"

"Iya, akan fatal akibatnya kalau dibuka paksa. Disana Tao tidak berkekuatan, dan energi satu-satunya ada di kolam tersebut, kalau dibuka paksa energi itu akan hilang dan otomatis Tao bisa terkurung selamanya didalam sana dan tubuhnya akan mati karena tidak ada energi"

"Tapi bagaimana bi―"

"Di kolam itu terdapat pohon Oak, pohon itu keramat untuk kaumku, semua energi datang dari sana dan pohon itu menghubungkan dimensi satu ke dimensi lainnya"

Kyungsoo terdiam. Itu artinya sahabatnya sedang terancam saat ini. Pantas saja tadi Jongin sangat panik.

"Kekuatan Drow sangat besar, semoga mereka bisa mengatasinya" ucap Xiumin, Kyungsoo hanya mengangguk sebisanya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah memahami penjelasan dari senironya.

"Ugh..." rintihan lirih tersebut membuat Xiumin dan Kyungsoo menoleh serempak ke belakang punggung mereka.

"Di...mana...ini?" tanya suara parau khas bangun tidur.

"Baekie!" desis Xiumin.

Pemuda berpipi tembam itupun beranjak menuju ranjang Baekhyun. Akhirnya pemuda cantik itu tersadar.

Kyungsoo kembali memandang wajah pucat Tao saat mendengar suara Xiumin yang tengah bicara dengan Baekhyun. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kantong kecil dan mengambil sesuatu dari dalam kantong tersebut.

Sebuah batu berbentuk tetesan air mata, ukurannya kecil dan berwarna ungu yang pekat. Kyungsoo meletakkan batu tersebut ke telapak tangan kanan Tao dan menggenggamkannya.

"Kuharap Sapphire ini bisa membantumu bertahan Tao" bisiknya sedih.

.

.

.

In...

Aku melihat burung-burung cantik yang berwarna-warni itu bertambah semakin banyak, suara mereka merdu, membuat bunga-bunga yang ada disini ikut bernyanyi, dan dahan-dahan pohon bergoyang. Aku tersenyum simpul melihat mereka, aku betah berada disini, disini nyaman dan tenang.

Pohon Oak yang saat ini ku jadikan sandaran juga menyenangkan, Dryad yang mendiami pohon ini tak hentinya mengajakku bicara, Dryad yang manis. Tapi anehnya aku tidak melihat kolam ikan itu lagi, padahal masih banyak yang ingin ku tanyakan tapi kolam itu telah lenyap. Aku tidak tahu, atau mungkin kolam itu ada hanya untuk membantuku memperjelas ini semua?

Aku menghela nafas pelan, membiarkan angin mempermainkan rambutku. Sampai detik ini aku belum bertemu dengannya, apa rencananya? Entah kenapa aku juga tidak ingin terbangun, aku ingin memperjelas semua ini, aku ingin memperjelas rasa di hatiku.

Aku hendak mengangkat tanganku, dan kurasakan ada sesuatu di telapak tangan kananku, belum sempat aku melihatnya, benda itu sudah jatuh ke rumput. Aku mengernyit, ku tegakkan punggungku tak lagi bersandar pada pohon. Ku pungut benda itu, sebuah batu berukuran kecil dan berwarna ungu pekat.

Aku mendongak melihat dedaunan pohon yang lebat, apa jatuh dari atas? Tapi aku tidak merasakan apapun.
Ku perhatikan sekali lagi dengan alis bertaut. Kalau di perhatikan batu ini seperti Sapphire. Atau jangan-jangan ini memang Sapphire?

Aku tahu kegunaan batu ini dari Kyungie, tapi kenapa bisa batu ini ada disini? Atau jangan-jangan dia...

"Mereka semua menyayangimu ya" suara berat yang ku kenal.

Aku menoleh cepat ke sisi kiriku, kemudian berdiri dan ku genggam batunya erat. Dadaku berdebar mendengar suara rumput yang di pijak, aku menelan ludah karena mendadak tenggorokan ku kering. Aku menahan nafas melihat Tuan Kris muncul dari belakang pohon dan kini menatapku dengan senyuman tipis.

"Tuan..." aku mendesis. Lidahku tiba-tiba kelu saat melihatnya.

Rasa sakit dan sesak itu kembali muncul. Berkelebat bayangan saat ia di ikat pada pohon Oak, mengingatnya di serang dengan brutal dan darahnya yang mengenaiku, melihatnya sekarat di depan mataku.

Dulu.

Semua itu membuatku tidak bisa menahan air mataku.
Bagaimana bisa? Kenapa kami kembali hidup dengan sosok yang sama? Dadaku sesak mengingatnya, semakin terasa sakit karena aku mencintainya.

Sebuah tangan mengangkat daguku, membuatku menatap matanya yang tajam, jarinya mengusap air mata di pipiku.

"Kau mengingat ku?" tanyanya, aku mengangguk pelan.

"Kau tidak suka bertemu denganku lagi?"

Aku menggeleng cepat. "A-aku...aku menyukaimu, jangan pergi" kataku, kembali menangis.

"Aku juga, aku mencintaimu, karena itu aku kembali" sorot matanya melembut.

Kris menarik tubuhku dan kini aku berada dalam pelukannya. Aku menangis, memeluknya erat. Aku merindukannya, dan aku masih mengingatnya dengan jelas, saat tubuh yang ku peluk ini tercabik. Dulu.

Ku rasakan kecupan di kepalaku, pelukannya semakin erat. Hangat. Aku ingin terus seperti ini.

"Jangan menangis" ucapnya, melepas pelukannya dan mengusap air mataku.

"Ke-kenapa...kau menyakiti mereka?" tanyaku, pandanganku agak buram karena air mata.

"Aku hanya ingin membuat pemimpin mu itu tidak sadar akan tujuanku. Karena pasti dia akan menghalangiku untuk mendapatkan mu" ujarnya tajam, ku lihat ada keinginan yang besar di matanya.

"Tapi tidak harus melukai mereka 'kan?" tanyaku getir, bagaimanapun juga aku tidak terima dia membuat Chanyeol-hyung, Baekie-sunbae dan Tuan Jongdae tak sadarkan diri. Kris tersenyum tipis.

"Park Chanyeol hanya ku jadikan tawanan, aku sama sekali tidak berminat memakan jiwanya"

"Lalu kenapa?"

"Untuk membuka identitasku padamu, tapi kau tidak menyadarinya"

Aku terdiam menatapnya. Itu karena aku yang terlalu lamban, sama saat aku melihatnya di di pohon itu. Aku lambat, sampai melihatnya mati di depanku pun aku tidak juga menyadari perasaanku.

"...saat itu, aku tidak bermaksud melukaimu, aku hanya ingin mendapatkanmu, tapi mereka lebih dulu menyerangku" ujarnya dengan suara lebih lembut. Sorot matanya tidak lagi angkuh.

"Lalu bagaimana dengan buku itu?" tanyaku.

"Ada padaku, tapi percayalah bukan buku itu yang ku inginkan"

Aku mengangguk kecil, ku tundukkan kepalaku tidak kuat menatap matanya lebih lama.

"Akan ku berikan buku itu padamu, dan jiwa Chanyeol akan ku lepas" ia membelai pipiku lembut, ku tegakkan kepalaku cepat.

"Sungguh?"

Kris mengangguk. "Dengan satu syarat"

Syarat?

"Apa?"

.

.

.

...at park dormitory...


BLHAAR!

Sosok semampai Heechul terhempas kuat hingga menabrak sebuah pohon besar di taman itu.

Siwon berusaha mengatur nafas yang ngos-ngosan, mata aquamarinenya berkilat tajam, kedua tangannya bercahaya dan mengeluarkan kilat. Heechul bangkit berdiri dengan memegangi dadanya, menatap Siwon dengan penuh kebencian. Pria itu meludahkan darah di mulutnya, lalu menghentakan kakinya ke tanah, sosoknya pun hilang.

Siwon menghela nafas, cahaya di kedua tangannya lenyap. Ia memutar kepala, memandang kolam ikan di belakangnya yang kini di lingkupi lingkaran transparan berwarna putih pudar yang di ciptakan oleh Luhan dan Jongin yang menyatukan kekuatan.

"Cepatlah kembali..." gumamnya, menatap sedih pada kolam ikan.

To be continue

Nb: gw pake Sapphire soalnya itu batu kelahiran Tao(2 Mei/Taurus) :]

■ Info ■

● Taurus(20April-20Mei)
- Batu kelahiran: Sapphire, Amber, Turqouise/Pyrus, Blood Coral, Emerald/Zamrud
- Batu Planet: Emerald/Zamrud, Aventurine
- Batu Keberuntungan: Sapphire, Diamond/Intan

● Sapphire: Dapat menjernihkan pikiran, meningkatkan kedamian, kebahagiaan serta meningkatkan motivasi. Dipercaya dapat menolak bala.

Daaaannn…maaf buat yang nungguin Adore, gw belum bisa update Adore karena gw belum bikin draf next partnya, gw kurang afdol klo posting ff yang belum dibikin next partnya. So, sabar ya, gw juga lagi bikin ff lain soalnya, ngebet pengen bikin tuh ff :3

Skylar.K