PART END!
.
.
Dust Grains
By: Skylar.K
Pair: Kristao/Taoris
Cast: Wu Yifan, Huang Zitao, Xi Luhan, EXO Members and other with OC
Genre: Drama Life, Fantasy Romance, Fluff, Hurt
Rating: T
Warning: TYPO(S) everywhere!
.
.
.
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu
1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu,
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah...
School medical room, Monday 11.08 am
"Bagaimana keadaan anda Tuan?"
Suara ramah Siwon menciptakan suasana yang lebih ringan di dalam ruangan pada hari yang beranjak siang ini.
Jongdae yang masih berbaring di ranjang beralih menatap pria tampan itu yang berdiri di samping ranjangnya, di sebelahnya berdiri sosok tinggi Zhoumi.
"...lumayan, kepala saya terasa pusing" katanya lemas.
"Kau Bakehyun?" Siwon memutar kepalanya menatap pada pemuda mungil yang duduk bersandar pada ranjang―di belakangnya. Karena saat ini ia berdiri membelakangi ranjang pemuda cantik itu.
Pemuda bersurai brunette itu mengangguk lemah.
"...lumayan Tuan" sahutnya pelan.
"Tuan Jongdae dan Baekhyun masih membutuhkan istirahat Tuan" kata Zhoumi.
"Ya, memang. Bagaimana keadaan Chanyeol, Yixing?" Siwon sengaja mengeraskan suaranya, agar Lay yang duduk di samping ranjang Chanyeol mendengarnya.
Pemuda berlesung pipi itu menatap sendu pada wajah tampan Chanyeol yang sepucat dinding.
"Tidak ada tanda-tanda Chanyeol akan bangun Tuan" jawabnya.
"Lalu Tao?" tanya Siwon pada Kyungsoo yang berdiri di samping ranjang pemuda bermata Panda itu.
"Tidak ada tanda-tanda juga Tuan" ucapnya, terpancar jelas kecemasan yang amat sangat pada sorot matanya.
Siwon menghela nafas, memandang satu persatu wajah yang ada di Ruang Kesehatan. Sosok Joonmyun yang telah pulih tampak berdiri gamang di samping Luhan dan Xiumin.
"Tuan" panggilnya, bola matanya bergerak menatap sang Direktur Sekolah.
"Apa?"
"Kapan semua ini akan berakhir?" tanyanya, ekspresi wajahnya sulit di tebak.
Siwon terdiam, begitu pula dengan semua orang yang ada disana, terkecuali Jongdae yang sudah menutup matanya dan telah berada di alam mimpi. Ya, pria itu membutuhkan cukup istirahat.
"Kita tidak tahu, Dae sudah mendapatkan apa yang dia inginkan atau belum. Tidak ada yang tahu" sahut Sandara, wajah cantiknya tampak sedih.
"Semoga dengan bangunnya Tao nanti, semua ini akan dapat segera di akhiri" sahut Leeteuk, yang berdiri bersandar pada pintu dengan mendekap kedua tangannya di dada.
"Maaf jika saya lancang" Jongin buka mulut, kini perhatian semua orangpun beralih padanya, tak terkecuali Baekhyun yang menyimak obrolan mereka dengan wajah yang masih pucat.
"Ada apa Kai?" tanya Siwon.
"Apa Tao akan bangun?" tanyanya getir.
"Apa maksudmu?" Sandara menyahut, memicingkan mata menatap pemuda tan itu.
"Maksud saya..." Jongin meremas tangannya gugup.
"Bukankah Dae mengincar Tao? Kalau saat ini dia berhasil membawa Tao ke dimensi yang lain apa mungkin Tao dapat bangun?" kata Joonmyun melanjutkan kalimat Jongin yang terhenti.
Sandara beralih menatap pemuda itu, sorot matanya melunak. Ya, ia menyadari hal itu.
"Kalau begitu kita harus membuatnya bangun, apapun caranya" desis Siwon, memalingkan tatapannya keluar jendela yang tepat berada di tengah-tengah ranjang Jongdae dan Baekhyun. Menatap langit biru, tepat saat beberapa Sunbird terbang mengarungi angkasa.
"Saya rasa semua ini tidak akan berjalan lancar" kata Kyungsoo, tak lepas menatap wajah tidur Tao yang damai.
Semua orang yang ada disana mendengarnya, namun karena Kyungsoo berdiri di dekat ranjang Tao yang berada paling ujung di ruangan tersebut, tidak ada satupun yang dapat melihatnya.
"Saya rasa setelah ini semuanya akan menjadi berat, terutama untuk Tao" ucapnya lagi.
Tentu pemuda bermata bulat itu tidak lupa akan pertanyaan Tao tempo hari tentang apa yang di rasakannya.
"Saya mendapat firasat buruk" desisnya, lalu menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
Hening. Ruang Kesehatan itu mendadak sunyi, detak jarum jam menguasai ruang. Sosok manis Lay menghela nafas, ia pun berdiri dan mengulurkan tangannya menggenggam tangan kanan Chanyeol yang terkulai lemas di sisi tubuhnya.
Cahaya keemasan muncul dari tangannya, sinar putih yang mengalir dari tangan dan menjalar ke tangan Chanyeol tampak seperti aliran listrik. Untuk saat ini, hanya inilah yang dapat ia lakukan. Membagi sedikit energinya agar raga pemuda itu tidak kosong.
Namun samar ia merasakan jari-jari panjang itu bergerak lemah, Lay terdiam menatap jemari Chanyeol yang kini bergerak.
"Tuan! Jari Chanyeol bergerak!" serunya memalingkan wajah kearah tirai putih dan kembali menatap pemuda tampan itu dengan harap-harap cemas.
Wajah pucat pasi itu berangsur-angsur memudar, saat Siwon menghambur ke samping ranjang, berdiri tepat di sebelah Lay. Semua orang di Ruang Kesehatan berkumpul di ranjang Chanyeol, tegang melihat kelopak mata pemuda itu yang kini bergerak-gerak.
Waktu seolah berjalan lambat ketika kelopak mata itu terbuka dan pupil mata berwarna hitam menatap langit-langit kamar dengan samar, karena sudah terhitung beberapa hari mata elang itu tertutup rapat.
"Tao!" suara Kyungsoo membuat Siwon menatap pada kain putih yang menjadi pembatas.
Leeteuk yang berada paling dekat menyibak kain tersebut dan membuat orang-orang yang berkumpul di ranjang Chanyeol dapat melihat pada pemuda manis pemilik sepasang Onyx itu yang kini membuka kedua matanya perlahan.
"Tao..." desis Kyungsoo, harap-harap cemas menatap sahabatnya itu. Ada kelegaan luar biasa yang dirasakannya saat berkantung mata itu memalingkan wajahnya perlahan dan kini menoleh pada kain putih yang masih setengah menutupi.
"Yeol-hyung..." desisnya, meremat lemah batu Sapphire di tangannya.
"Chanyeol baru saja sadar" kata Kyungsoo.
Tao mengulum senyum tipis dibibir pucatnya, terlalu lemah untuk mengartikan jika itu adalah sebuah senyuman.
Dia menepati janjinya...
.
.
.
22.36 pm
"Jadi...kau bertemu dengannya?" tanya Siwon, suara renyahnya mengurai suasana canggung yang aneh.
Mata aquamarinenya tak lepas menatap murid kesayangannya yang baru beberapa jam yang lalu terbangun dari mimpi panjangnya. Tao mengangguk kecil, masih menunduk menatap tangannya yang berada di pangkuannya, ia duduk bersandar dengan nyaman di sandaran ranjang, dengan takut-takut sepasang Onyxnya miliknya melirik pada Siwon berdiri di sisi kanan ranjangnya.
"Dia mendapatkan apa yang dia inginkan?"
Tao mengangkat wajahnya, bola matanya bergerak menelisik wajah tampan Siwon.
"Maksud Tuan?"
"Dia mengincarmu 'kan? Apa dia mendapatkannya?"
Tao kembali terdiam, bibirnya seolah merekat kuat. Ia kembali menunduk, karena tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan pemimpinnya itu.
Hening kemudian. Siwon menghelap nafas pendek, ia menengok pada kain pembatas di belakangnya dan membuka sedikit kain tersebut, menatap sosok Chanyeol yang sudah terlelap sejak tadi. Begitu pula dengan Chen dan Baekhyun, itu artinya tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kami semua mengkhawatirkan mu" ucapnya, menutup kembali kain pembatas itu dan menatap Tao.
"Apapun yang di katakannya padamu, tidak akan ku biarkan hal itu terjadi. Dia akan berhadapan denganku" tegasnya masih dengan suara lembut.
"Tuan...tahu akan hal ini?" tanya Tao nyaris berbisik.
"Para leluhur yang memberitahu ku. Karena itu aku meminjamkan perkamen itu dengan tujuan kau akan mengerti, seperti apa posisimu"
Diam lagi. Tao meremas tangannya, seolah oksigen di ruangan ini menipis dan membuat dadanya sesak.
"Kau Elf yang pintar, jadi aku tidak akan meragukanmu. Apapun itu yang sudah ia katakan padamu, aku percaya kau akan memikirkannya dengan matang" kata Siwon mengelus kepala Tao pelan.
"Sekarang istirahatlah, aku tidak mau membuatmu terlalu lelah" lanjutnya, di jawab anggukan kecil oleh Tao.
Siwon tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya beranjak dari samping ranjang Tao.
Tepat saat pria itu memegang handle pintu, Ruki mengangkat wajahnya cepat, teringat akan suatu hal yang penting.
"Tuan!" panggilnya, mencegah Siwon yang akan membuka pintu. Pria itu menoleh.
"Dae bilang, buku itu dia sembunyikan di dalam hutan" ujarnya gugup, membalas tatapan Siwon.
"Hutan?" ulangnya dengan satu alis terangkat. Tao mengangguk.
"Dia tidak mengincar buku itu"
"Karena dia sudah bertemu denganmu" desis Siwon. "...ya, baiklah kita bicarakan hal ini besok, sekarang istirahatlah"
"..baik"
Direktur Sekolah yang tampan itu melemparkan senyum tipis dan keluar dari Ruang Kesehatan. Tao menghela nafas, duduk bersandar kembali dan memejamkan matanya, mencoba untuk tidak memikirkan apapun meski jelas ia tidak dapat melakukan hal itu.
Cklek
Tao kembali membuka matanya, mendengar suara pintu yang dibuka kemudian di tutup kembali lalu suara langkah yang menuju kearahnya. Hingga sosok Kyungsoo dan Jongin muncul, mengembangkan senyum tipis di bibirnya tapi kemudian ia mengernyit melihat raut wajah Jongin yang tampak berbeda.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyanya.
Jongin meletakkan tangannya di pipi sahabatnya itu dan mencubitnya.
"Kau pikir aku tidak cemas ha? Apa saja yang kau lakukan di alam mimpi?" cerca Jongim, mencubit pipi Tao gemas sekaligus lega.
Pemuda Panda itu menepis tangan Jongin lalu mengusap pipinya dengan bibir mengerucut.
"Sakit tau" dumelnya.
"Ini pesananmu" Kyungsoo meletakkan buku bersampul hitam ke pangkuan Tao.
"Thanks" desisnya, tersenyum tipis. Kyungsoo mengangguk kecil, memperhatikan Tao yang tengah membuka buku tersebut.
"Memang ada apa di buku itu?" tanya Jongin, Tao menggeleng pelan, matanya tak lepas menatap paragraf yang tertulis dibuku.
"Ada bagian yang belum sempat kubaca" ucapnya, matanya bergerak menyusuri baris demi baris.
Kyungsoo dan Jongin saling bertatapan, entah kenapa kedua pemuda itu dengan kompak memeluk Tao yang membuat si pemuda Panda berjingkat kaget. Pemuda manis itu kebingungan menengok ke kanan-kirinya, pada Jongin dan Kyungsoo yang memeluknya.
"Kenap―"
"Apapun yang terjadi jangan pergi lagi" ujar Jongin pelan.
Untuk beberapa detik Tao terdiam mematung, namun sedetik setelahnya ia tersenyum lebar. Meski begitu matanya tidak lepas membaca paragraf yang ada pada bukunya.
Apapun itu, ia telah memiliki semua yang ia inginkan...
.
.
.
Hall, Tuesday 06.35 am
Suasana ramai aula pagi ini menghidupkan kembali semangat beberapa siswa yang sudah beberapa hari berada didalam 'masalah' yang sangat menguras tenaga, waktu dan pikiran. Banyak siswa senang melihat kehadiran Tao, Baekhyun dan Chanyeol yang pagi ini hadir untuk mengikuti sarapan bersama, tak sedikit dari mereka yang bertanya kemana mereka pergi selama 4 hari lamanya.
Meski Chanyeol tampak masih pucat, pemuda itu terlihat bersemangat seperti biasa, berada di tengah-tengah lingkup yang sudah seharusnya membuatnya lega dan senang, karena telah melewati masa-masa berat yang tak pernah ia bayangkan akan menimpa dirinya. Lalu Baekhyun, pemuda cantik itu pagi ini bergabung dengan 'kelompok' Tao di meja makan, duduk bersebelahan dengan Xiumin asyik membicarakan sesuatu. Seperti tidak lagi menjadi suatu masalah untuk Kyungsoo, mengingat dulu kedua pemuda itu tidak pernah akur. Di balik semua peristiwa selalu ada hal baik bukan?
Dan untuk yang pertama kalinya, anggota Dewan Siswa berada dalam satu meja dengan 'kelompok' Tao, tidak ada yang special memang namun keakraban yang terjalin pagi ini membuat suasana menjadi hangat. Terlebih untuk Tao, pemuda manis itu kembali menjadi si pemuda Panda yang apa adanya, tak sedikitpun tergambar tekanan ataupun kesedihan di wajahnya, tapi siapa yang dapat menduga jika pemuda manis itu masih harus menuntaskan masalah yang di hadapinya?
"Mr. Zhoumi dantang" desis Kyungsoo memberitahu teman-temannya, beberapa anak yang ada di deret itupun menutup mulut dan memandang pada sosok tampan kepala sekolah mereka.
Sosok Zhoumi melenggang masuk bersama seorang pria asing bertubuh tegap, berambut hitam pendek yang mengenakkan setelan hitam yang rapi. Pria bertubuh tanggung itu memalingkan wajahnya dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan Onyx Tao yang memang tengah memperhatikannya berjalan menuju mimbar.
Zhoumi mengulum senyum tipis dan dibalas senyuman pula oleh Tao, tatapan matanya seolah mengatakan 'Selamat kembali ke sekolah'.
"Apa itu guru baru?" tanya Xiumin agak berbisik.
"Mungkin" Lay menaikkan bahunya samar.
Deja vu, belum lama mereka mengalami hal ini dan kini kembali terulang dengan orang yang berbeda. Tentu, Tao tidak melupakan saat pertama mereka bertatap muka.
Akankah hal itu menjadi kenangan?
.
.
.
Classroom, 09.48 am
"Hari ini Madam Jac tidak hadir"
"Benarkah?"
"Ya, tadi saat ke toilet aku mendengar percakapan Mr. Siwon dan Tuan Earl"
"Syukurlah, aku selamat hari ini"
"Memang kenapa?"
"Aku lupa tidak membawa tugas darinya"
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa Madam Jac tidak hadir?"
"Entahlah, mungkin sakit"
"Semoga"
"Hussh!"
"Kau dengar itu Tao?" tanya Kyungsoo memalingkan wajahnya dari gadis-gadis yang asyik menggobrol itu pada Tao yang duduk manis di bangkunya―berhadapan. Karena kini ia berdiri di depan meja sahabat Pandanya itu.
"..."
"Kamu beruntung jadi tidak akan kena hukuman Madam Jac" imbuhnya.
"..."
"Tao?" Kyungsoo menaikkan satu alisnya memperhatikan Tao yang tengah melamun menatap keluar jendela kelas dengan menopang dagu.
Tidak ada jawaban dari bibir kucing berwarna segar itu, pikirannya jauh melayang ke angkasa, kembali mengulang 'kenangan' yang tercipta di alam bawah sadarnya tempo hari. Hal itu membuat Kyungsoo menghela nafas, pemuda bermata bulat itu melompat kecil untuk duduk di atas meja Tao.
"Ada yang tidak kamu ceritakan padaku?" tanyanya, menengok pada sahabat kecilnya.
Tao yang tersadar dari lamunannya mengerjap, dan memutar kepalanya kedepan, menatap Kyungsoo yang duduk di mejanya dengan tubuh serong ke arahnya.
"Kamu sudah dapat jawaban dari perasaanmu?" tanya Kyungsoo lagi. Tao duduk bersandar.
"...mungkin sudah" jawabnya pelan.
"Mungkin?"
Tao terdiam, kembali melemparkan pandangan ke langit biru di luar sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian?" Kyungsoo tampak penasaran.
Tao pun beralih menatap sahabatnya itu. "Siapa yang tahu tentang takdir?" tanyanya balik.
"Kenapa kau jadi bertanya balik?" Kyungsoo mengernyit protes. Tao terkekeh kecil.
"Kau tahu Kyung?" Tao tersenyum timpang.
"Tidak, apa?"
"Hidupku sangat sempurna, aku memiliki sahabat-sahabat yang baik, banyak yang peduli padaku. Menurud mu, apa yang harus aku cari?"
Kyungsoo tampak sedang berpikir kemudian mengangkat bahu samar.
"Apa aku salah kalau aku mempertahankan apa yang ku inginkan?"
"...tidak, kita berhak memperjuangkan hal itu. Kenapa?"
Tao hanya tersenyum tipis. "Itu yang ku lakukan, memperjuangkan apa yang ada disini, karena itu aku bisa terbangun"
"Lalu...kemana dia pergi?" Kyungsoo mengecilkan suaranya.
"Siapa yang tahu dia kemana" jawab Tao tak kalah pelan.
Kyungsoo terdiam, bukannya ia berprasangka pada sahabatnya itu, hanya saja ia merasa ada yang aneh. Yang ia tak tahu apa itu, namun tergambar jelas, hatinya gelisah.
"Ta―"
"Tao!" suara nyaring di depan pintu kelas membuat Tao dan Kyungsoo menoleh kompak.
Tuan Zac yang berdiri di depan pintu memberi isyarat pada pemuda yang di panggilnya itu mendekat, Tao bangkit berdiri menuju pintu kelas. "Ya Tuan?" tanyanya setelah berdiri di hadapan pria berwajah tirus itu.
"Tuan Siwon memanggilmu ke ruangannya" kata Tuan Zac.
"Ah, baik"
Pria itupun berbalik dan meninggalkan kelas, Tao menghela nafas pendek.
Sudah waktunya...
"Tao!" Kyungsoo melompat turun dari meja, Tao berbalik.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
"Ruangan Tuan Siwon, kenapa?"
Pemuda bermata bulat terdiam untuk beberapa detik, kemudian ia merogoh saku celananya.
"Kau bawa Sapphirenya?"
Tao mengangguk kecil, lalu merogoh saku celananya, menunjukkan batu berwarna merah violet berukuran kecil. Kyungsoo mengambil batu itu dan meletakkan batu lain―di genggamannya―di telapak tangan Tao.
"Sapphirenya aku ambil, kau bawa yang ini" ujarnya, Tao mengamati batu berbentuk bulat dengan warna hijau kebiruan yang cantik.
"Itu Alexandrite, batu keberuntunganku, bawalah semoga kau juga beruntung" kata Kyungsoo, Tao beralih menatapnya lalu menggenggam batu di tangannya itu.
"Thanks" desisnya, Kyungsoo mengangguk.
"Aku ke ruangan Tuan Siwon dulu" ucap Tao seraya menyimpan Alexandrite ke saku celananya dan berbalik untuk beranjak.
"Tempatmu adalah disini, jangan lupakan itu!" kata Kyungsoo lantang pada Tao yang sudah menjauh dari kelas.
Pemuda itu menoleh, ia tersenyum tipis. Namun entah kenapa Kyungsoo merasa senyum Tao tersebut berbeda dari senyumnya yang sebelumnya.
Dengan satu tarikan nafas, ia meremas Amethyst di tangannya.
...at director's room...
"Tidak ada satupun yang akan ikut, mengerti?" Siwon menatap tajam pada kedua Quendi yang menghadapnya.
"Tapi Tuan―"
"Hal ini tidak ada hubungannya dengan kalian" potongnya cepat, kembali membungkam Joonmyun.
Pria tampan itu bangkit berdiri, berjalan melewati Joonmyun dan Lay menuju pintu dan membukanya. Tepat saat Tao yang berada di depan pintu akan membukanya, pemuda mungil itu tersentak kecil.
"T-tuan memanggil saya?" tanya pemuda Panda itu, Siwon mengangguk dan menutup pintu ruangannya.
"Kita ke hutan, Leeteuk dan Sandara sudah berada disana" kata Siwon.
"Ah...baik"
Kedua orang berbeda usia itupun melangkahkan kaki mereka menyusuri lorong, membiarkan hening melingkupi di tiap langkah, hanya suara angin dan cicitan kecil Sunbird yang tanpa lelah bermain di angkasa.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di hutan belakang sekolah yang tak terjamah oleh manusia. Dan sosok Leeteuk dan Sandara pun terlihat berada di dalam hutan, tepat di dekat sebuah bunga raksasa berwarna biru.
"Bagaimana?" Siwon menatap kedua pemimpin itu bergantian.
"Kami tidak merasakannya" sahut Sandara, sibuk memperhatikan pepohonan sekitar.
"Kau yakin dia tidak berbohong padamu?" tanya Siwon menengok ke sisi kirinya menatap Tao.
"Saya yakin, dia menepati janjinya membebaskan Chanyeol-sunbae" jawab Tao dengan suara pelan.
Membebaskan?
Siwon mengangkat satu alisnya. Murid kesayangannya itu melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak yang dibuat secara alami oleh hewan-hewan penghuni hutan. Dan ketiga pemimpin itupun mengikuti Tao yang terus berjalan, semakin memasuki hutan lebih dalam.
Sunbird terbang berputar di atas pepohonan, mengiringi langkah mereka, para tumbuhan bergoyang menyapa ketiga pemimpin yang ada disana. Jalan setapak itu menuju pada sebuah pohon Sakura yang sangat besar, bunganya lebat dan akar pohonnya sampai merayap keluar.
"Sakura?" desis Leeteuk, mengernyit memandang pohon itu.
"Buku itu ada disini?" tanya Siwon, kembali menoleh pada Tao. Pemuda itu mengangguk.
"Ada yang menghuni, energinya besar sekali" Sandara menggumam, menatap takjub pada pohon cantik di depannya.
"Pantas kalian tidak merasakannya" ucap Siwon seraya berjalan mendekat.
Tao menelan ludah, ia mendadak tegang melihat Siwon yang kini berdiri di depan pohon sakura. Pria tampan itu meletakkan tangannya pada pohon, merasakan energi besar yang mendiami pohon tersebut dengan mata terpejam.
Siwon membuka matanya kembali dan seketika tubuhnya mematung, matanya tak berkedip melihat sebuah tombak transparan tepat berada di depan mata kanannya dengan jarak beberapa mili. Bayangan seorang berambut panjang, wanita yang menghuni pohon sakura, menatapnya tajam dengan kedua matanya yang berwarna violet.
"Hanya Tao yang boleh mendekat" geram sosok transparan itu.
Siwon memundurkan wajahnya perlahan, melirik pada Tao dan memberi isyarat agar pemuda itu mendekat. Dengan langkah perlahan ia bergerak mundur, masih mengawasi wanita berambut panjang yang sebagian tubuhnya berada di dalam pohon.
"Tuan?" panggil Tao ragu.
"Mendekatlah" kata Siwon.
Tao mendekat dengan wajah tegang, dan Siwon berdiri dengan jarak sekitar setengah meter dari pohon. Pemuda manis itu kini berdiri berhadapan dengan jiwa pohon sakura, yang tengah menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan tajam.
"Kau Tao?" tanya jiwa pohon sakura itu. Tao mengangguk pelan.
"Iya, aku Tao"
Jiwa pohon sakura itu tersenyum, tombak yang dibawanya pun lenyap.
"Baumu manis, seperti apa katanya"
"Katanya?" desis Siwon, menautkan alisnya.
"A..apa yang harus aku lakukan?" tanya Tao gugup pada jiwa pohon sakura itu.
"Letakkan kedua tanganmu di pohon dan pejamkan matamu"
"Itu saja?"
"Ya"
Tao memutar kepalanya, menatap Siwon yang berdiri di belakangnya. Pria itu mengangguk kecil dan Tao kembali menghadap ke depan.
Ia mengulurkan tangannya ragu, memegang pohon dan dengan menghembuskan nafas pelan ia memejamkan mata. Yang ada angin bertiup kencang, gumpalan kapas berwarna abu-abu menghiasi langit luas. Sandara menengadah menatap langit yang mendadak mendung dengan alis bertaut.
Bukanlah pertanda baik.
"Ta―"
BLHAAAARRR!
Petir menyambar pohon sakura itu, membelanya menjadi 2, membuat ketiga pemimpin yang ada disana refleks melindungi diri dengan menciptakan perisai transparan. Dan Tao refleks melindungi kepalanya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas kepala, matanya terpejam erat, namun sedetik kemudian ia membuka mata perlahan.
Ia mematung melihat gumpalan asap yang bergerak berputar melingkupinya, menjadi dinding antara ia dan ketiga pemimpin ras Elf―di luar gumpalan asap. Tao menunduk menatap tangan kanannya yang kini telah mencengkram buku tua bersampul cokelat yang selama ini mereka cari-cari.
Tepat saat ia akan mengamati buku itu, kehadiran seseorang yang berdiri di depannya membuatnya mengangkat wajah cepat. Sepasang Onyxnya menatap pria tinggi bersurai pirang gelap yang sangat tampan, yang kini berdiri berhadapan dengannya.
"Kris..." desis Tao, ada kelegaan yang luar biasa menatap wajah tampan pria yang di cintainya itu.
"Aku datang menjemputmu" suara baritone yang tenang dan lembut, tak mengalahkan gemuruh suara langit dan angin yang berhembus kencang.
Hari yang di katakan telah tiba, Tao kembali mengulang ingatan saat mereka bicara di dimensi yang lain.
.
.
"Akan ku berikan buku itu padamu, dan jiwa Chanyeol akan ku lepas"
"Sungguh?"
"Dengan satu syarat"
"Apa?"
"Kamu ikut denganku"
"Ikut denganmu?"
"Aku akan membawamu ke tempat yang tidak satu orangpun dapat menentang kita"
"...aku harus meninggalkan mereka?"
"Bukankah kamu mencintaiku?"
"Tentu saja aku mencintaimu"
"Kalau begitu ikutlah denganku"
"...disana, tidak akan ada yang menentang kita?"
"Ya"
"Aku ikut, aku ingin bersamamu"
"Kalau begitu datanglah ke hutan, pada pohon sakura satu-satunya yang di hutan belakang, buku itu ku simpan disana, dan saat itu aku menjemputmu"
.
.
Kini pria pemilik obsidian coklat gelap itu telah berada di hadapanny, menatapnya lembut dengan seulas senyum tipis menghiasi bibir plumnya.
Kris mengulurkan tangan kanannya, Tao beralih menatap tangan kokoh itu, dan tanpa ragu menyambutnya―mengulurkan tangan kirinya. Siwon yang melihat hal itu membelalakan mata, menatap geram pada sosok Kris.
"HADAPI AKU!" teriaknya marah.
Tak ada jawaban, mereka―Kris―seolah tak mendengar apapun. Dan sekeras apapun Leeteuk dan Sandara mencoba menghancurkan gumpalan asap yang terus berputar seperti badai itu, tetap tak membuahkan hasil, yang ada kekuatan mereka tertelan lenyap.
"TAO!"
Angin berhembus melenyapkan suara Siwon.
Tao menunduk saat Kris menggenggam tangannya erat, menarik tubuhnya kini merapat pada pria tinggi itu. Sejurus ia mengangkat wajah menatap Siwon yang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lihat aku" ucap Kris, menyentuh pipi Tao yang membuat pemuda manis itu menatapnya.
Tao mengulum senyum manis, memegang tangan besar Kris yang berada di pipinya.
"Aku mencintaimu Yifan" desisnya.
"Aku juga" Krisーatau Yifan, menarik Tao dalam pelukannya.
Angin semakin kencang berhembus, gumpalan asap tersebut semakin cepat berputar, langit bergemuruh hebat menunjukkan taringnya yang mengerikan.
"TAOO!"
BLHAAAAAARRRR!
Gumpalan asap itu meledak, membelalakan mata ketiga pemimpin, memendarkan pasir yang berkilau cantik. Kedua sosok itu lenyap di gantikan oleh butiran debu yang beterbangan di udara...
.
.
Tek!
Perhatian Kyungsoo teralihkan pada Sapphire yang sengaja ia letakkan di atas meja―di dekat bukunya. Sapphire yang retak menjadi serpihan kecil berkilauan.
Sorot matanya menjadi kosong, suara Guru yang sedang menerangkan pelajaran mendadak lenyap, di gantikan angin yang berhembus lirih membungkam cicitan Sunbird di luar sana.
Gagak berkoar, kepakan sayapnya bersorak riang di langit mendung. Seolah tengah bernyanyi sumbang, menertawakan jiwa yang telah abadi, memurungkan wajah-wajah Quendi yang ada, berkat sang gagak yang kini menari-nari di angkasa.
Saat lorong waktu terbuka, butiran debu tertiup jauh menuju ke dimensi yang berbeda. Debu yang menghubungkan satu dimensi ke dimensi lain bagai kunci terselubung.
Membuka jalan yang kasat, mempertemukan dua dimensi yang berbeda, yang pada akhirnya akan menghancurkan apa yang ada, binasa. Menjadi serpihan, butiran debu yang tak bersisa...
Terikat oleh benang merah yang di namakan takdir...
Butiran debu yang tertiup angin, di hilangkan, di ciptakan, dan di tuliskan kembali pada kehidupan yang akan datang...
Karena semua itu semata adalah sebuah hukuman yang tak pernah usai mempermainkan rasa yang di sebut cinta, atas kesalahan yang pernah terjadi.
END
.
.
[EPILOUGE]
"Semoga mereka bahagia di kehidupan lanjut" Kalimat itu keluar dari bibir kucing berwarna merah muda segar, sembari menutup buku tebal bersampul hitam.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi pada kita ge" sorot matanya meredup, menerawang menatap keluar jendela di depannya pada angkasa yang luas.
"..."
"Gege?" pemuda pemilik Onyx cemerlang itu memutar kepalanya ke samping kananya, dan keningnya mengernyit melihat pemuda yang di panggilnya 'Gege' itu tengah asyik membaca manga.
Pemuda cantik itu mendengus dan dengan kesal memalingkan wajahnya sembari mempoutkan bibir kucingnya. Kesal karena tidak di dengarkan.
"Aku tidak percaya nama kita berdua sama dengan mereka" ucapnya dengan bibir mengerucut.
'Gege', pemuda yang membaca manga itupun mengangkat kepalanya, melihat buku yang dibaca sang kekasih telah tertutup tanpa ada skat pembatas buku.
"Sudah selesai membaca novelnya?" tanyanya dengan suara baritone nya yang manly.
Pemuda berbibir kucing itu mengangguk, memandang pada judul cover buku yang baru saja selesai dibacanya.
"Dust grains..." desisnya. "..ku harap kisah kita tidak seperti mereka" lanjutnya.
Pemuda bersurai pirang kecoklatan yang lebih tua darinya, yang duduk di sebelahnya pun menutup manga yang dibacanya.
"Tidak akan sama peach" ujarnya, membuat pemuda manis bermata ala Panda di sebelahnya menoleh.
Dan sebuah kecupan kecil menyambut bibirnya. Pemuda berkantung mata itu terbelalak dan sebelum sang kekasih berbuat lebih jauh, ia mendorong pundaknya cepat, mematahkan ciuman mereka.
"Kita ada di perpustakaan sekolah ge!" desisnya dengan wajah memerah dan sok melotot garang.
Pemuda bersurai pirang kecoklatan mengedarkan tatapan ke penjuru perpustakaan, antara rak-rak buku yang tinggi dan kembali pada sekeliling meja baca yang sangat sepi.
"Tidak ada orang disini jadi tidak masalah" ujarnya tersenyum aneh.
Belum sempat kekasihnya yang manis itu menghindar, ia sudah lebih dulu merekatkan bibir mereka kembali. Meski awalnya pemuda berbibir kucing itu menolak dan berusaha mendorong bahu kekasihnya, toh akhirnya ia menikmatinya.
Ciuman yang hangat namun panas, membuat dorongan kecil pada mereka untuk memperdalam ciuman dan membuat kalung berliontin batu berwarna ungu pekat yang di kenakan sang pemuda Panda itu bergoyang kecil memendarkan kilaunya yang cantik, seolah menyimpan sejuta kenangan di dalamnya.
Butiran debu selamanya akan tetap menjadi butiran debu yang abadi...
Meski terbawa angin dan lenyap, butiran-butiran itu akan kembali pada pada jalannya, yang berbeda.
Tak ada yang bisa menebak kemana angin menerbangkan butiran-butiran itu dan apa cerita yang tercipta...
END
Selesai~!
Hayo tebak~ sebenernya kisah mereka tuh sekedar cerita yang dibaca Tao di dalam novel atau mereka reinkarnasi dari Yifan dan Tao yang di ceritakan? Silahkan di tebak~ muahahahahahaha #disodoktongkatwushu
Lega kan udah tamat? Gw juga XD dan jangan tabok gw karena ending macem ini, hohohoho :3
Mohon bersabar untuk lanjutan Adore dan Wonderfilled ya. Mood gw lagi kacau balau, belakangan ini ga tau kenapa pengen bikin oneshoot :3
Mind to review? :3
©Skylar.K
