[ Beberapa hari setelah pertemuan tersebut… ]
Tampak seorang wanita muda yang berdiri dengan gugup di depan sebuah gedung berlantai dua yang berdiri dengan kokoh di sebelah gedung utamanya. Hoodie berwarna putih kebesaran itu dikenakannya; ia tak mau sosoknya ketahuan oleh mahasiswa-mahasiswi yang lalu lalang di sekitarnya. Lantas ia melirik sekelilingnya; hampir saja tidak ada yang mengunjungi gedung yang berada di belakang papan berbahankan batako yang bertuliskan 'School of Agent and Intelligence' tersebut.
Apa dia benar-benar bekerja sambilan di sini…?
Melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan pagi, ia merasakan bahwa nyaris mustahil bagi pemuda itu untuk berada di sana. Meski ia meragukan perkataan pemuda itu beberapa hari yang lalu, pemuda itu tampaknya bisa dipercaya. Apalagi, ia sendiri yang mengatakan bahwa ia 'bekerja sambilan' di sana bersama Theodoré yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Tapi… Dia itu memang Add, tetapi di saat yang juga sama, bukan Add… Apa yang harus aku lakukan…?
Gadis polos ini tak menyadari, bahwa beberapa ratus meter jauhnya dari gadis tersebut, di dekat gerbang, seorang anak berambut sewarna lavender serta bermanik mirip dengan sang dosen muda itu, berlari bagai dikejar sang waktu. Pada tangan kanannya, tampak sebungkus bento yang dibalut kain berwarna pink dan bermotif kotak-kotak yang minimalis. Anak yang berseragamkan SMA Swasta Regendoullis ini takkan menyadari bahwa ia akan memiliki sebuah cerita yang berkaitan dengan El Group…
.
.
.
Elsword ~ Lullaby of the Memories
Disclaimer : Elsword © KoG
Warning : OOC banget, AU, ada OC, greget bikin pengin gigit Authornya (?), dan semacamnya.
Characters : IS, DW, WS, BM, C:BS, DC, SD, BH, DE dan Ch/DL. Ada juga OC sih.
Pairing : Amnesia!DE x SD, ada kemungkinan muncul threesome (dan threesome-nya akan Anda temukan di sini mushishishishi~)
Note : LP – Bernhard Kim, MM – Alaude Kim, DE – Add Kim, OC (fem!basic!Add) – Aone Kim.
Happy reading~
.
.
.
"Hah?! Kau memberikan kartu namaku ke dia?!" pekik Theodoré, syok.
Sang dosen muda—si Add—lantas menggangguk dengan tenang, dan menjelaskan duduk perkaranya, "Gini, Pak, karena dia itu orangnya agak aneh—katakanlah, dia bahkan ingin bertemu denganku lagi segera setelah pertama kalinya bertemu denganku—jadinya terpaksa memberikan kartu namamu. Toh, aku juga kadang-kadang mengajar di sini, jadinya lebih mudah untuk kabur ke kelas. Atau ke perpustakaan juga boleh, sekalian bertemu dengan 'mereka'."
Sang senior—Theodoré—lalu menggangguk pelan, "Hmm, kalau begitu ya sudah. Lagian, lebih mudah sih—jika saja dia membutuhkan informasi tentang Black Lotus."
Si dosen muda—Add—lalu terpekur sesaat begitu nama organisasi ilegal itu disebut.
Black Lotus ya… Organisasi keji yang berani-beraninya membunuh dan merusak berbagai data menarik…
Mau tidak mau, ia akrab dengan nama itu. Bukan apa-apa, pemuda itu bahkan sudah lama mengenal kelompok itu semenjak ia jatuh cinta dengan ilmu sains dan penelitian yang berhubungan dengan misteri alam semesta tersebut. Nama itu seolah menjadi semacam 'kode rahasia' dan juga salah satu dari beberapa kata 'tabu' diantara ayahandanya dengan ia bersama 'mereka'. Bahkan tidak terkecuali, wanita yang berjasa melahirkannya—sang ibu kandungnya sendiri.
"Oh, maaf… Kau kan—."
"Sudahlah, aku mau ngajar dulu. Sebentar lagi waktunya kelasku."
"O-Oke—."
Begitu si dosen yang terkenal atas prestasinya yang sangat menakjubkan ini hendak mengambil map dan tas berisi laptopnya, ia samar-samar menyadari adanya gerombolan orang-orang yang menghiasi pintu masuk headquarter tempatnya bercokol bersama dosen senior tersebut. Penasaran, sang calon professor ini lantas menghampirinya dan melihat dua anak perempuan yang saling tatap-menatap dengan sengit bagaikan dua musuh yang baru saja berpapasan.
Satunya bersurai sewarna rambutnya serta ber-twintail, dan lainnya berambut hitam legam dengan dua sisi kecilnya dikepang dan disatukan di bagian belakangnya, dan ditutupi oleh hoodie berwarna putih kebesarannya.
… Anjir, kenapa ini lagi… Mau tidak mau, si dosen muda itu sangat mengenal dua gadis tersebut. Malah terlalu 'erat'—menurutnya.
Kemudian ia menyuruh para dosen kenalannya yang bergumul di pintu masuk, untuk bubar. Dan tanpa disadari oleh mereka berdua, si dosen jenius ini lalu berdiri sekitar tiga meter dari mereka berdua, dan kemudian bertanya dengan heran dan jengkel, "Oi, Aone, Haan, kalian ngapain?"
Sebuah kalimat pertanyaan yang bernada jengkel dan kesal itu rupanya telah memancing perhatian dua gadis yang sedang dibakar amarah tersebut…
.
.
[ Flashback, beberapa menit yang lalu ]
"HAH! KAKAK SIALAAAAAN!"
Tampak seorang gadis muda yang berambut twintail yang berwarna seperti lavender, terengah-engah berlari diantara 'bukit' yang menjadi pijakannya. Mau tidak mau, ia harus 'berolahraga' untuk mencapai headquarter yang menjadi tempat mangkal si kakaknya. Jam tangannya menunjukkan pukul tujuh lebih lima puluh delapan menit. Meski jam masuknya masih lama—pukul sembilan—tetap saja ia harus bersegera mendatangi sekolahnya usai mampir ke universitas terkenal tersebut.
Pertama, jarak dari universitas dan sekolahnya adalah sekitar 3 kilometer; dari rumahnya adalah 3,5 kilometer. Seandainya ia bergerak ke sekolahnya dari rumah, mungkin saja masih aman. Lantas, karena universitas sang kakanda tercintanya berada di jalur yang padat, ia harus buru-buru datang tepat waktu. Kedua, mengenai shuttle yang tersedia gratis di wilayah Elder. Shuttle gratis baru saja diluncurkan oleh Hoffman tiga bulan yang lalu—jadi wajar saja sarana dan prasarananya masih belum memadai. Ini berarti, ia harus bersaing dengan sekitar lima ratus anak untuk dapat menaiki shuttle dengan tujuan SMA Regendoullis. Ketiga, jam penutupan pagarnya adalah sekitar pukul delapan lewat empat puluh menit, dan jarak dari universitas ke sekolah lewat shuttle bisa mencapai 30 menit atau lebih.
Itu pun belum termasuk halte terakhir dari shuttle itu yang berjarak sekitar lima ratus meter dari sekolahnya. Sungguh apes.
Ia pun mengutuki kakaknya yang lupa membawa bekal makanan.
Hah, kakak sialaaaan!
"KAK ADD—."
Setelah bersusah payah mencapai headquarternya dengan sisa energi yang benar-benar terkuras habis, ia melihat sesosok gadis yang mengenakan hoodie serta celana selutut berwarna hijau muda, berdiri tepat di depan headquarternya. Ia dengan mudah menebaknya; ia bukan orang yang biasa belajar atau ngajar di universitas kakaknya. Ia bisa melihat gadis ber-hoodie itu sampai celingak-celinguk saking bimbangnya. Tambahan, nggak ada tas atau apapun yang berindikasi diisi dengan buku atau semacamnya.
Ini orang siapa ya… Jika dia stalker, kudu kuusir!
Anak bau kencur—ehem, baiklah, anak SMA ini, lantas menghampiri gadis ber-hoodie itu dan menghardiknya dari belakang—tanpa menyentuh tubuh gadis ber-hoodie tersebut, "Oi! Kamu itu siapa?! Jika kau mengincar Kak Add, minggir sana!"
"E-Eh?! A-Anda tahu dimana Add?" Tiba-tiba si gadis berhoodie ini, balik menoleh ke belakang dan bertanya begitu menyadari ada suara keras dan hardikan yang tampaknya dialamatkan kepadanya dari seseorang yang berada di dekat—tidak, di belakangnya.
"HAH?! DIA NGGAK ADA DI SINI! PERGI KAMU, STALKER!" bentak gadis berseragam itu, kasar. Ia bahkan mendorong gadis ber-hoodie itu, menjauhi pagar dan papan yang mengindikasikan bahwa gedung itu adalah headquarter yang dituju oleh gadis berhoodie tersebut.
"Ta-Tapi saya butuh—." Masih berkukuh, si terbentak itu lalu berusaha menerobos masuk
"Nggak ada somasi! Pulang sana! Anak macam kau mending sekolah sana!"
"Ta-Tapi Anda—."
"SAYA MENGANTARKAN BARANG INI! LAH KAMU? NGGAK ADA TUH!"
Satu urat di pelipis gadis berhoodie ini, mulai putus. Ia kemudian kembali menghardiknya dengan ekspresi khasnya, "Ka-Kamu siapanya Tuan Add? Be-Berani-beraninya kamu main hardik dengan saya! Saya cuma mampir untuk bertatap muka dengan Tuan Add-sama, dan Anda membawa box itu, bisa jadi yang kita temuinya justru berbeda. Ja-Jadi, tolong beritahukan dimana Tuan Add-sama, saya ada perlu dan ingin menentukan jadwal pertemuannya!"
Gadis ber-twintail itu lantas mendecih sinis—sesekali ia melirik si terduga stalker sang kakandanya, "Hah, dikiranya mahasiswa kelas akhir?! Kamu bahkan bukan orang sini! Dan lagi kamu sok-sokan kenal sama Kak Add! Kamu itu siapanya dia?! Pake titel 'Tuan' dan '-sama' lagi!"
Sang lawan bicaranya mencoba meluruskan kesalahpahamannya—sudah begitu dengan suara serak dan setengah mati pula, "Saya memang bukan mahasiswa kelas akhir! Saya itu kenalan Tuan Add-sama, dan mengapa Anda menyebut-nyebut 'Kak' pula?!"
SIIING—.
Crap… Kalo dia memang stalker, ga boleh gue kasih tahu kalau aku adalah—.
"Oi Aone, Haan, kalian ngapain?"
.
.
Demikianlah duduk perkaranya. Dua gadis yang sedang berseteru di depan pagar headquarter si dosen yang kelewatan jenius ini, lalu berteriak kepada si dosen muda dengan lantang—tidak lupa saling menunjuk wajah satu sama lain, "OI KAK ADD/TUAN ADD-SAMA, SIAPA ORANG INI?!"
Add—si dosen muda itu—lalu mengisyaratkan kerumunan penonton untuk bubar. Berterimakasihlah kepada tampang 'preman' dan 'sadis' yang sudah menjadi ciri khasnya sejak lahir, akhirnya para penonton mencapai kata mufakat untuk bubar. Jarang-jarang mereka mendapatkan sinetron yang asyik untuk diikuti—dua gadis yang saling berebut cowok idamannya. Benar-benar pagi yang sangat 'ceria', dalam artian lain. Lalu Add menghela napas dan melirik kedua gadis yang sedang baper tersebut.
Haaahh… Benar-benar 'encounter' yang cukup buruk… Gue jadi kasihan sama Haan…
Seraya mengambil box yang ternyata berisi lunch boxnya, Add memperkenalkan mereka berdua, "Haan, perkenalkan… Dia itu Aone Kim, adikku. Aone, jangan ngasarin orang itu. Dia itu Ara Haan, salah satu heroine El Group yang sangat terkenal itu."
"Oi! Jangan sebut aku pakai 'itu' dong, Kak!"
… Apa…? Mustahil…! Mustahil Add yang saya kenal itu punya adik—.
"… Tuan Add-sama… Anda anak keberapa?" Tanpa sadar—dan dengan lancang pula—Ara bertanya dengan ekspresi hampa. Meski ia memperlihatkan ekspresi hampa dan sedikit terkejut, bukan berarti ia pintar menyembunyikan shock yang dahsyat—bahkan sang lawan bicara juga tampaknya sudah menyadarinya pula.
"Hah? Saya anak ke tiga dari empat bersaudara. Dia ini adik bungsu, satu-satunya perempuan diantara kami."
Dan Ara terdiam seribu bahasa. Lalu ia menunjuk Aone dan Add secara bergantian tanpa mampu berkata-kata. Harus Ara akui, wajah mereka sekilas memang mirip. Punya wajah yang oke, rambutnya senada pula—apalagi alami, terus kedua matanya juga senada. Tingginya ideal, benar-benar seperti 'artis' walaupun mereka memang terang-terangan tidak terlalu jago ngartis. Hebatnya, mereka berdua itu sudah cukup lama akrab dengan yang namanya ilmu sains.
… Ta-Tapi… Saat kejadian itu, ia sama sekali tidak bercerita tentang keluarganya… Seingatku, ia selalu menyebut 'Ibu' terus…
Manik oranye Ara lalu melihat keributan yang belum pernah ia lihat di 'dunia'nya—seorang Add Kim yang mengomeli adiknya dan suasana yang hangat layaknya kakak-beradik. Ia merasakan bahwa suasana tersebut terlalu tidak biasa untuk pemuda eksentrik yang ia kenal sebelumnya; dari sosok yang dingin, manipulatif dan berbahaya menjadi seseorang yang nyaris mendekati kriteria 'kakak laki-laki idaman' bagi setiap anak perempuan. Apakah dunia ini yang salah atau akunya yang…?
Memendam rasa curiganya, sang heroine ini lalu bertanya dengan melirik mereka berdua—dia diam-diam menarik telunjuknya saking tak percayanya, "A-Anoo… Tuan Add dan Aone-san… Apakah ibu kalian masih hidup? Dan bagaimana dengan Black Lotus yang menyerang kalian dan membunuh hampir semua anggota keluargamu, Tuan Add…?"
"OI! KAU NGOMONG APA?! KAU—."
Keburu sang kakandanya menyetop mulut adiknya yang nyaris saja mengeluarkan kata-kata kebun binatang—dengan menggunakan salah satu telapak tangannya untuk mengunci mulut sang adik. Add lalu menatap sinis sang heroine dan balik bertanya dengan nada curiga, "Apakah kau adalah tipe chuunibyou—delusional? Kami memang mengenal Black Lotus, tetapi mereka tidak membunuh keluargaku. Dan pertanyaan macam apa itu? Ibuku tentu saja masih hidup."
… Jangan ngomong…
"… Dan apakah kau mempercayai teori ruang dan waktu?" Ara lalu melanjutkannya, dengan suara yang kali ini lebih lirih.
Pemuda tampan itu tertegun sesaat, dan kemudian memasang ekspresi sarkas yang kentara, "Pertanyaanmu itu yang sangat lucu. Teori ruang dan waktu itu hanya omong kosong."
DEG.
Jadi… Add yang di sini… Hasil dari kejadian itukah…?!
… Begitu… Dia benar-benar berhasil mengunci rapat path-nya…
Gadis itu bisa merasakan bahwa kepalanya terasa berdenyut dengan sadisnya, membuatnya merasakan ada sesuatu yang tidak baik, sedang mengintainya dari belakang dan kegelapan. Begitu menyimpulkan praduga atas 'error'nya dunia ini—entah, gadis itu bahkan tidak tahu mana yang salah dan menyimpang—ia samar-samar bisa melihat sesosok asing dan dibayangi kegelapan, yang tersenyum keji kepada 'kegagalan'nya membuat pemuda itu mengenalinya.
… Siapa ya, yang 'menyimpang'…?
.
.
.
"… Ra! Ara!"
Perlahan namun pasti, gadis ini mengumpulkan pikirannya yang terpencar entah kemana setelah mendengar fakta tersebut. Begitu manik madu berwarna terang itu mulai sanggup memfokuskan pandangannya, ia merasakan bahwa ia sedang dalam posisi terbaring. Ketika ia memicingkan kedua matanya, ia melihat dua laki-laki yang sedang berada di dekatnya—salah satunya tampak sedang berdiri dan hendak menaruh botol minuman air bening kemasan di atas laci mini yang ada di sisi kanannya.
… Apa yang telah terjadi…?
Tampak seorang pria paruh baya yang familiar bagi perempuan itu, menjelaskannya seraya membantunya memulihkan kondisinya, "Nggak tahu. Pemuda ini bilang, ketika di depannya, kau pingsan. Ditambah lagi, kamu tampak menggigau nama kelompok itu, sepertinya tanpa kau sadar. Kau sedikit kesurupan, intinya."
A-Aku kesurupan…?
"Oh, pingsan saja kok, Pak Theodoré. Maaf membuat Anda sekalian merasa kerepotan…" koreksi gadis manis ini, menunduk lemah.
"Oh, bukan masalah. Ettoo… Maafkan kekurangajaran rekan sejawatanku ini…" pinta Theodoré seketika menjewer salah satu telinga pemuda yang bersamanya dan memaksanya membungkuk dalam-dalam.
"Oi! A-Aku ngga salah, kok disuruh beginian?!" berontak pemuda itu—Add—tidak ikhlas.
"Diamlah! Kamu sendiri yang terlalu terang-terangan menjelaskan duduk perkaranya!"
… Apa benar, ya, dunia ini sudah… Ah tidak, aku tidak boleh suudzon dulu!
Ara—si gadis berdada subur nomor dua setelah si elf itu—lalu buru-buru menyergah sebelum sang senior siap membully juniornya, "A-Ah, etto, nggak apa-apa. Suer, saya sudah nggak apa-apa. Ini bukan salah kalian, hanya saja… Mungkin saya sudah keterlaluan; memikirkan sesuatu yang muluk-muluk. Tetapi saya percaya bahwa apa yang saya saksikan ketika terjadi 'sesuatu' itu, adalah benar adanya. Ada yang salah dengan diriku—entah, diriku atau dunia ini…"
Lantas Add—si pemuda tampan dan idaman itu—menerkanya, "Kelihatannya memori kamu ada yang menyimpang. Saya kurang tahu soal itu, tetapi kurasa saya paham."
"Paham darimananya, oi?! Geez, dosen yang satu ini bikin jengkel… Ara, saya mau keluar, sudah ada yang menanti jadwal sidang denganku. Karena di sini nggak ada yang jaga selain Add, jadi kusuruh 'saudara'nya dosen ini untuk bergabung." ujar Theodoré seraya tersenyum tipis.
"E-Eh, iya… Sukses untuk sidangnya!" sahut Ara respek.
"Terima kasih, Ara. Nggak usah sungkan memanggilku kalau digangguin sama laki-laki nggak niatan itu."
"Oi Theo—."
BLAM.
Suara pintu dibanting menutup ruang UKS—yang menjadi tempat mereka berada—mengakhiri pembicaraan mereka. Merasa jengkel, Add—si dosen jurusan Manajemen Informatika yang sangar dan suka mem-PHP para mahasiswa yang ketiban sial diajar olehnya—lalu melirik gadis yang dirawat di UKS tersebut. Mau tidak mau, ia sendiri harus menjaga gadis itu; pegawai UKS satu-satunya universitas itu sedang cuti panjang, sehingga otomatis digilir jadwal jaganya.
Kadangkala, dosen yang biasa mangkal di tempat terdekat juga bisa kena musibah mendapat jadwal jaga di UKS tersebut. Antara enak dan tidak enak; enak karena sedang tidak mengajar, dan tidak enak karena harus menjaga UKS itu—apalagi jika lokasinya jauh dan kebetulan saja mangkal bersama rekan sejawatnya. Untuk kasus pemuda ini, ia berada di kasus kedua; dia diseret—secara sengaja—oleh Theodoré yang diam-diam ketiban musibah mendapat jadwal shift sementara.
Pemuda anoreksia ini lalu mendelik ke Ara, dan membuka topiknya, "Che… Ngomong-ngomong, Theo sudah bilang 'kan, akan ada satu orang lagi yang menemani kita sampai kamu pulih. Dia punya cukup banyak waktu luang, sedangkan aku nanti malam akan ada workshop dengan beberapa kolegaku, jadi kamu nggak usah khawatir ditinggal sendirian."
"Ba-Baiklah… Hmm… Tuan Add, apakah Anda dulunya selalu satu sekolah dengan saudara-saudaramu?" tanya Ara, sesekali meremas selimut putihnya.
"Hng? Kalau dengan dua kakakku sih, iya. Aone itu late birth; beda usia kami dengannya saja sudah pas 5 tahun. Kok kau tanya soal beginian sih?" tanya Add menatap heran Ara.
Ara seketika menggeleng dengan kikuk dan mencoba meluruskan maksud si dosen tersebut, "E-Eh bukan maksudku! Yaaaa, karena saya kepikiran dengan masalahku, jadi sekalian saja cerita-cerita. Nggak ada salahnya 'kan? Oh ya, saya juga punya kakak, sayangnya kakakku sudah ditawan dan berubah menjadi iblis secara permanen. Anda pasti mengerti siapa yang saya maksud, Tuan Add…"
Ran ya… Dengan mudah pemuda berambut sewarna lavender ini, menebak siapa gerangan yang dimaksud olehnya.
"Saya turut berbelasungkawa untuk kakakmu, Haan. Saya bisa mengerti perasaanmu, Haan." Lantas Add duduk di sisi Ara dan mengelus kepalanya, mencoba menenangkannya.
"Te-Terima kasih, Tuan Add… Anoo, saya sudah—." ucap gadis ini, menunduk malu dan jinak.
"Istirahatlah, Haan. Kau pasti lelah setelah bertemu—dan bertengkar pula—dengan adikku." bujuk si dosen itu, mengisyaratkan agar perempuan kenalannya tersebut kembali tidur.
Ara sebenarnya sudah pulih total—dan hendak protes juga—namun tampaknya perintah dari kenalannya justru lebih mampu membuatnya tidak berkutik. Elusan yang hangat serta bujukan yang tegas dipadu dengan suara kecil yang membius hati, membuatnya luluh juga untuk kembali berbaring diatas kasurnya. Sepintas manik indigo pemuda itu melihat wajah sang heroine yang selalu membawa tombak itu—yang terlihat sedikit pucat—dan kemudian menasihatinya, "Kalau kau punya masalah kesehatan, kau bisa mampir ke klinik di dekat universitas ini."
Si heroine ini lalu menggangguk pelan, menjawab nasihat Add, "O-Okelah… Kalau begitu, saya mau tidur sebentar… Selamat tidur."
"Selamat tidur, semoga cepat sehat ya."
Tap…
Beberapa saat sesudah ucapan terakhir dari topik yang tidak jelas ujungnya—baiklah, random—gadis itu keburu sudah tertidur di atas kasur yang ada di UKS. Menatap lekat wajah damai yang muncul dari ekspresi tidur si heroine itu, manik ungu yang 'berbeda' itu, sedikit menggantung, diikuti dengan helaan napas yang panjang dan berat. Telinga tajamnya yang bagai radar super sensitif, perlahan menangkap suara langkah kaki yang sangat pelan.
Langkah kaki ini…
Beranjak dari kasur tempatnya duduk dan bercengkerama dengan sang heroine, ia lalu berkata dengan dingin merespon adanya langkah kaki yang kecil itu, "Oi, kamu nggak usah jingkrak-jingkrak aneh di sini. Untung saja Haan sudah tertidur lelap, jadi keluarlah."
Dari balik bilik kayu yang dipagarkan di dekat bangsal Haan—si heroine manis itu—muncul seorang laki-laki lain. Laki-laki itu berusia sama mudanya dengan Add, dan wajahnya benar-benar mirip. Yang menjadi pembedanya adalah pada gaya rambutnya—pemuda tampan itu berambut gondrong dan diikat ke belakang ala poni kuda. Sesekali tersenyum licik—ulangi, licik—pemuda itu lalu menghampiri si dosen jenius itu seraya menggodanya, "Wah, heroine El Group toh. Nggak heran ente jadi kepincut sama dia. Cinta, yeeee?"
"Nggak sampai segitunya kali, Alaude. Dia hanya kenalanku saja." sanggah Add menatap dingin pemuda yang dipanggilnya Alaude tersebut.
"Heeee… Nggak buruk tuh. Oh ya, katamu kau curiga dengan perempuan ini?" tanyanya seraya mengeluarkan stetoskop berwarna hitam metalliknya dari balik jaket laboratoriumnya. Ia lalu mendekati si gadis itu dari sisi yang berseberangan dengan si dosen jenius itu dan memulai pemeriksaannya—ditandai dengan menempelkan kedua telapak tangannya secara khidmat.
"Ya, bisa dikatakan begitu." jawab Add seraya kembali duduk di bangku satu-satunya yang berada di dekat bangsal perempuan tersebut.
Alaude—pemuda gondrong yang tampan itu—lalu menggangguk dan kemudian memeriksa kondisi kesehatan perempuan itu. Selagi pria itu masih mengecek kondisinya, ia—Alaude—lalu menjelaskan kondisi si heroinenya selagi tangan kanannya—yang berbalutkan sarung tangan steril—bersentuhan dengan dahi gadis tersebut, "Hmmm… Nggak ada yang gawat soal kesehatannya. Tetapi lewat tangan ini—kekuatan psikometri—aku bisa membaca dengan jelas memorinya. Entah bagaimana… Aku nggak bisa menelusuri gambaran apa yang dipikirkannya."
"… Jadi, dia ini semacam alien, gitu?" ujar Add mencoba menjawab kebingungan sang kakanda kembarnya.
"Ya kaga lah, Add. Lihat saja dia, dia itu manusia, bukan Nasod macam Eva Series atau iblis. Mungkin di dalam memorinya, terdapat suatu penyimpangan yang aneh… Sama seperti 'orang itu'." ujarnya memasang ekspresi bingung dan stress.
"Eh? 'Orang itu'?"
"Siapa lagi kalau bukan Marciello Bernandelli…"
.
.
.
[ To be Continued~ ]
A/N (Mun) : Aiyaaah aiyaaah maafkan daku yang suka 404 not found— *ditabok* ehem, ada yang penasaran dengan siapa gerangan Marciello Bernandelli? Kepo? *ditabok lagi* oke maafkan diksi saya yang kadang suka ngilang kemana saking 404-nya, antara lain dikepung oleh tugas, fangirlingan yang tiada habis, ngurus packing pindah kapal-kapalan (?) dan sebagainya. Huwah. Bahkan nggak sempat gue berfangirling tentang si cewek manis dari Shooting Girls a.k.a Uguisu Oogihara-chan—. *Mun meracau* *abaikan*
Jadi jadi jadi, jika ada yang penasaran yang mana yang kakak diantara tiga bersaudara satu iman beda kenistaan (?), MM sebenarnya anak sulung. LP anak kedua. DE anak ketiga, baru deh fem!basic!Add anak keempat. Belum kepikiran mau nambah dengan tiga remaja jahil dan uwow abis— *Mun ditabok lagi*
Ya, ke ripiu ripiu~~~!
nanashimai : Haloh, makasih ya udah nyambut daku di arsip Add x Ara :''' maafkan daku kalo cuma DE x SD, belom kepikiran mau dibikin harem SD dengan semua path Add— *Mun disumpel* oke langsung ke intinya ya. Oke maafkan gayaku yang berasa norak abis (?), habis, ya, hallelujah, dikejar dedlen (baca : jadwal bangun pagi demi ngejer kelas DKV Ani*asi). Asli mabok gue menulisnya waktu itu; sampai kepengaruh di ff haduhhh *Mun ngumpet* lain kali kalau mau rikues diksi yang lebih sopan dan lebih uwow (?), akan saya pertimbangkan untuk diedit ulang. Mengenai typo, ya, maafkan, dikerjakan suntuk jauh-jauh sebelum tanggal 21. Terima kasih atas point-nya, sekalian saya edit ulang di lain waktu. Threesome itu ga cuma Add x Ara doang... *dancoretsayaterimakokharemSDdenganMMLPDEcoret* *woi* who knows? Syukrooonnn~~
Guest : Alright, I will consider your request… and coughIamstillnotdoneyetwithmyBirthdayfanficwhatanawfulauthoramIcough ;;w;;
orang yang nista : Sis, silakan pergi ke RSJ— *Mun diborgol* *yha* Silakan menikmati suasana coretkepaksacoret Add x Ara-nya ;;;;;;;)))
Last but not least, c'ya in next chapter~
